Home > Riset Reksa Dana, Saham, Strategi Investasi > Berapa Jumlah Kepemilikan Reksa Dana Saham Yang Ideal?

Berapa Jumlah Kepemilikan Reksa Dana Saham Yang Ideal?

Number and Figures

Dengan produk reksa dana yang semakin beraneka ragam dan banyak jumlahnya, pilihan investor juga semakin banyak. Ada reksa dana yang mengusung strategi mengikuti indeks seperti produk ETF dan reksa dana indeks, ada juga yang menggunakan strategi investasi aktif seperti rotasi sektoral mengikuti kondisi pasar, kombinasi antara growth dan value investing, atau investasi yang terkonsentrasi dan pengelolaan secara aktif seperti Panin Dana Ultima yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini.

Dengan jumlah investasi minimum yang semakin kecil, tentu bukan hal sulit untuk memiliki beberapa reksa dana saham sekaligus. Pertanyaan muncul, berapa banyak reksa dana yang ideal untuk dimiliki? Dalam konteks ini, yang saya maksud adalah reksa dana saham.

Pertanyaan serupa sebenarnya juga sudah pernah ditanyakan oleh para ahli dan investor pada masa lalu. Namun pertanyaannya lebih mengarah ke saham. Dalam buku “Modern Portfolio Theory and Investment Analysis” oleh Edwin J. Elton dan Martin J. Gruber seperti yang saya kutip dari investopedia, disebutkan jumlah saham yang idealnya dimiliki adalah 20.

Hasil riset dari kedua ahli tersebut adalah sebagai berikut

Dengan memiliki beberapa saham secara sekaligus, maka investor dikatakan membentuk portofolio. Salah satu tujuan dari pembentukan portofolio adalah untuk meminimalkan tingkat risiko. Jadi dengan membeli beberapa saham sekaligus, diharapkan tingkat risiko dapat berkurang. Asumsinya ketika harga saham yang satu turun, ada saham lain yang harganya bisa naik atau turun tapi dengan tingkat penurunan yang lebih kecil.

Ukuran risiko yang dinyatakan dalam riset di atas adalah standar deviasi. Semakin besar standar deviasi maka semakin besar pula risiko investasi dan sebaliknya. Dengan memperbanyak jumlah saham, standar deviasi portofolio memang semakin menurun. Meski demikian, penurunan secara signifikan terjadi ketika jumlah saham bertambah dari angka 1 ke 20. Ketika jumlah saham sudah di atas 20 bahkan hingga ke 1000 saham sekalipun, meski tingkat risiko menurun, penurunannya sudah tidak sesignifikan sebelumnya. Dari penelitian di atas lah, kedua ahli menyimpulkan jumlah saham yang optimal adalah sekitar 20 saham.

Cara yang sama juga akan saya pergunakan untuk menjawab berapa banyak idealnya jumlah portofolio yang optimal. Hanya saja, penelitian saya lakukan 2 kali. Pertama pada portofolio saham dan yang kedua pada portofolio reksa dana saham. Ingin tahu hasilnya? Silakan ikuti terus pembahasan ini.

Penelitian Pada Saham

Untuk melakukan riset di atas, ada beberapa tahapan yang saya lakukan.

1. Menentukan data saham yang akan menjadi objek pengamatan

Data yang saya pergunakan adalah saham yang masuk dalam LQ-45 untuk periode 2014. Tadinya saya mau menggunakan Kompas100 karena jumlah sahamnya lebih banyak. Namun karena keterbatasan waktu, saya gunakan LQ-45 yang jumlahnya lebih sedikit. Data yang saya gunakan adalah data return bulanan selama 5 tahun yaitu dari 2008 – 2013. Dari hasil penyaringan, ternyata dari 45 saham, baru 30 yang memenuhi kriteria usia 5 tahun. Sebagai informasi, data return bulanan tersebut tidak memasukkan unsur dividen.

2. Melakukan perhitungan standar deviasi

Perhitungan yang dilakukan antara lain menghitung standar deviasi dari data return bulanan tersebut. Kemudian data standar deviasi bulanan tersebut saya setahunkan sehingga diperoleh data standar deviasi tahunan (Annualized Risk). Dari 30 saham tersebut kemudian saya urutkan dari yang terbesar sampai ke terkecil. Hasilnya sbb:

No Kode Saham Standar Deviasi No Kode Saham Standar Deviasi
1 MLPL 89.48% 16 GGRM 42.88%
2 BSDE 82.03% 17 EXCL 41.16%
3 BKSL 72.38% 18 PTBA 38.74%
4 SSIA 66.33% 19 UNTR 36.10%
5 MNCN 63.84% 20 BMRI 35.92%
6 CPIN 61.65% 21 INDF 35.35%
7 PWON 60.48% 22 BBRI 35.14%
8 SMRA 56.10% 23 BDMN 35.01%
9 BMTR 55.07% 24 INTP 32.68%
10 ADHI 54.88% 25 AALI 32.00%
11 CTRA 54.75% 26 PGAS 31.25%
12 ADRO 46.31% 27 SMGR 30.14%
13 ITMG 45.57% 28 JSMR 29.71%
14 WIKA 43.83% 29 UNVR 28.19%
15 AKRA 43.37% 30 TLKM 24.08%

3. Menghitung Risiko Portofolio (Standar Deviasi)

Selanjutnya dari data yang tersedia dihitung besaran risiko portofolio mulai dari 1 saham, 2 saham dan seterusnya hingga 30 saham. Untuk portofolio 2 saham, diasumsikan bobotnya dibagi rata masing-masing 50%. Untuk 3 saham, berarti masing-masing 33,3%, 4 saham masing-masing 25% dan seterusnya. Saham pertama yang dihitung adalah saham dengan tingkat risiko tertinggi, kemudian 2 saham dengan risiko tertinggi hingga 30 saham. Risiko portofolio dihitung dengan cara perhitungan standar deviasi tahunan (annualized risk) dimana bobot saham diasumsikan sama.

Hasil dari perhitungan tingkat risiko portofolio berdasarkan jumlah saham tersebut jika digambarkan dalam grafik adalah sbb

Jumlah Saham Optimal

Penurunan risiko memang terjadi dengan semakin bertambahnya jumlah saham dalam portofolio. Meski demikian, tingkat penurunan semakin kecil setelah jumlah saham bertambah besar. Sebagai contoh, ketika jumlah sahamnya 1 tingkat risikonya adalah sekitar 89%. Ketika jumlah saham menjadi 5, tingkat risikonya turun menjadi sekitar 51%. Penurunan yang terjadi adalah sekitar 38% atau rata-rata risiko turun 9.58% setiap 1 saham baru. Sementara ketika portofolio terdiri dari 10 saham, tingkat risiko turun menjadi 40%. Atau turun 11% dibandingkan ketika portofolio berjumlah 5 saham (rata-rata risiko turun 2.16% setiap 1 saham baru).

Tingkat penurunan risiko yang terjadi adalah sebagai berikut:

# Saham Rata-rata penurunan Risiko Portofolio*
1 – 5 Saham -9.58%
6 – 10 Saham -2.16%
11 – 15 Saham -1.21%
16 – 20 Saham -0.89%
21 – 25 Saham -0.48%
26 – 30 Saham -0.47%
* Untuk setiap tambahan 1 saham dalam portofolio

Berdasarkan hasil riset di atas, saya bisa simpulkan bahwa jumlah saham yang optimal adalah sekitar 16 – 20 saham. Karena ketika jumlah saham sudah di atas 20, tingkat penurunan risiko yang diberikan untuk setiap tambahan 1 saham baru sudah relatif sama yaitu di kisaran 0,5%. Angka 0.89% menurut saya sudah kurang signifikan, namun karena mendekati 1%, saya masih masukkan sebagai pertimbangan.

Tentu saja kesimpulan ini bisa berbeda apabila saham yang diteliti bisa menggunakan cakupan yang lebih luas seperti Kompas 100 atau semua saham di Indonesia yaitu IHSG. Kesimpulan juga mungkin bervariasi apabila periode penilaian yang digunakan berbeda, seperti 10 tahun atau bahkan lebih panjang.

Penelitian Pada Reksa Dana Saham

Pada dasarnya, metode dan periode penilaian yang digunakan pada saham di atas diterapkan sama persis pada data reksa dana saham di Indonesia. Jumlah data ternyata yang tersedia lebih banyak dari saham yaitu 48 reksa dana. Nama reksa dana yang memenuhi kriteria memiliki data minimal 5 tahun untuk periode 2008 – 2013 adalah sebagai berikut:

No Reksa Dana Saham No Reksa Dana Saham
1 Axa Citradinamis 25 Grow-2-Prosper
2 Bahana Dana Prima 26 Lautandhana Equity
3 Batavia Dana Saham 27 Mandiri Investa Atraktif
4 Batavia Dana Saham Optimal 28 Mandiri Investa Atraktif Syariah
5 Batavia Dana Saham Syariah 29 Mandiri Investa UGM
6 BNI-AM Dana Berkembang 30 Manulife Dana Saham
7 BNP Paribas Ekuitas 31 Manulife Saham Andalan
8 BNP Paribas Infrastruktur Plus 32 Maybank GMT Dana Ekuitas
9 BNP Paribas Pesona 33 Millenium Equity
10 BNP Paribas Pesona Syariah 34 MNC Dana Ekuitas
11 BNP Paribas Solaris 35 NISP Indeks Saham Progresif
12 CIMB-Principal Equity Aggressive 36 Panin Dana Maksima
13 CIMB-Principal Islamic Equity Growth Syariah 37 Panin Dana Prima
14 Cipta Syariah Equity 38 PNM Ekuitas Syariah
15 Dana Ekuitas Andalan 39 Pratama Saham
16 Dana Ekuitas Prima 40 Rencana Cerdas
17 Dana Pratama Ekuitas 41 Schroder Dana Istimewa
18 Danareksa Mawar 42 Schroder Dana Prestasi
19 Danareksa Mawar Agresif 43 Schroder Dana Prestasi Plus
20 Emco Growth Fund 44 Simas Danamas Saham
21 Emco Mantap 45 Syailendra Equity Opportunity Fund
22 First State Dividend Yield F 46 Trim Kapital
23 First State Indoequity Sectoral Fund 47 Trim Kapital Plus
24 First State IndoEquity Value Select Fund 48 Trim Syariah Saham

Hasil perhitungan terhadap risiko portofolio dengan menggunakan data saham di atas adalah sebagai berikut:

Jumlah Reksa Dana Saham Optimal

Rata-rata tingkat penurunan risiko adalah sebagai berikut

# Reksa Dana Saham Rata-rata penurunan Risiko Portofolio*
1 – 5 RDS -1.16%
6 – 10 RDS -0.24%
11 – 15 RDS -0.18%
16 – 20 RDS -0.14%
21 – 25 RDS -0.11%
26 – 30 RDS -0.09%
31 – 35 RDS -0.09%
36 – 40 RDS -0.07%
41 – 48 RDS -0.09%
* Untuk setiap tambahan 1 Reksa Dana saham dalam portofolio

Dari tabel di atas, bisa saya simpulkan bahwa untuk reksa dana saham, memiliki banyak reksa dana saham secara sekaligus hingga puluhan sekalipun tidak memiliki efek yang signifikan untuk menurunkan tingkat risiko. Dengan pertimbangan tersebut, maka jumlah reksa dana saham yang ideal untuk dimiliki adalah antara 1 – 5 reksa dana saham.

Jika dibandingkan secara langsung, risiko portofolio antara saham dan reksa dana saham adalah sebagai berikut:

 

Saham dan Reksa Dana Saham Optimal

Hasil perbandingan di atas menunjukkan diversifikasi yang dihasilkan dari membeli 30 saham sekaligus bisa diperoleh cukup dengan membeli beberapa reksa dana saham saja. Dan karena reksa dana sendiri sudah merupakan portofolio yang terdiversifikasi, umumnya tingkat risiko tersebut tidak berbeda satu sama lain.

1 Tujuan Keuangan 1 Reksa Dana

Fakta di atas semakin memperkuat keyakinan saya bahwa cara investasi yang ideal itu adalah 1 tujuan keuangan 1 reksa dana. Kalaupun anda ingin melakukan diversifikasi, tidak perlu sampai banyak 1 – 5 reksa dana sudah cukup. Saya pribadi beranggapan 3 reksa dana untuk 1 tujuan keuangan sudah lebih dari cukup. Kalaupun seseorang memiliki banyak reksa dana, maka itu berarti orang tersebut memiliki banyak tujuan keuangan, bukan karena galau beli reksa dana apa, jadinya reksa dana dibeli semua.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Sumber Data : www.infovesta.com, www.investopedia.com

  1. hermanto
    May 22nd, 2014 at 07:56 | #1

    Dear Pak Rudiyanto,

    Saya setuju sekali pak dengan pembahasan yang terakhir. Saya pribadi menggunakan strategi itu pak, 1 reksa dana untuk 1 tujuan keuangan. Saya sendiri memiliki 2 reksa dana saham dan 1 reksa dana campuran, masing-masing saya siapkan untuk tujuan yang berbeda-beda. Ini memudahkan saya untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian target keuangan saya.

  2. sahnu
    May 23rd, 2014 at 11:56 | #2

    Pak Rudiyanto,

    Berapa besar porsi untuk masing – masing reksadana?apakah lebih baik menyebar ke berbagai jenis reksa dana (reksadana pendapatan tetap, campuran atau saham) atau hanya satu jenis reksadana saja

  3. Rudiyanto
    May 25th, 2014 at 19:52 | #3

    @sahnu
    Salam Sahnu,

    Riset di atas hanya didasarkan pada reksa dana saham saja, jadi tujuan keuangan yang dipakai adalah yang di atas 5 tahun. Untuk jenis reksa dana yang berbeda perlu dilakukan penelitian.

    Untuk bobot masing2 reksa dana saham menurut saya juga tidak perlu pusing2. Cukup bagi rata saja ke reksa dana yang menjadi pilihan. Atau kalau kamu merasa sangat nyaman dengan reksa dana tertentu, maka bobotnya bisa lebih besar dibandingkan reksa dana lain yang kamu anggap sebagai komplementer.

    Semoga bermanfaat.

  4. Palupi
    June 3rd, 2014 at 07:56 | #4

    Yth. Pak Rudi,
    Terimakasih atas sharing hasil studi ini, sangat membantu saya yang sedang belajar investasi reksadana, masing sering bingung antara fokus di 1-5 RDS atau mau agak banyakan.
    Terimakasih

  5. Siao yang
    June 16th, 2014 at 11:40 | #5

    Mantap penjelasannya

  6. isur
    July 13th, 2014 at 22:16 | #6

    Pak Rudi,
    mohon bantuannya, saya lagi mencari data Reksa Dana Saham Syariah dari tahun 2007-2012, untuk kperluan penelitian.

    dan terimakasih bukunya dan excelnya. sangat bermanfaat bagi saya, bukunya mantap pisan

  7. Rudiyanto
    July 14th, 2014 at 17:07 | #7

    @isur
    Salam Isur,

    Sudah mencoba website OJK yang memuat data reksa dana?

  8. Nik
    August 10th, 2014 at 01:00 | #8

    Salam pak Rudi,
    Satu tujuan keuangan yg di atas 5 tahun, pilihannya sudah barang tentu RD saham. Mengapa harus ‘mendiversifikasikan’ lagi ke lebih dari satu RD saham? Toh sama2 RD saham, dan resikonya pun sudah sama2 terukur dan kalaupun berbeda, tidak akan berbeda terlalu signifikan dalam kinerjanya, apalagi yg sama2 diterbitkan oleh satu perusahaan (sekuritas) yg sama. Membeli beberapa RD saham seperti itu justru menjadi beban bagi investor karena harus membayar fee lebih pada bbrp RD yg dibelinya. Bukan begitu pak Rudi? Bukankah reksa dana sendiri sudah merupakan suatu ‘diversifikasi’? Jadi kalau membeli bbrp RD saham yg diterbitkan oleh satu perusahaan yg sama menurut saya kurang tepat. Mohon masukannya dan dikoreksi apabila saya berpandangan salah.
    Terima kasih.

  9. Rudiyanto
    August 10th, 2014 at 02:12 | #9

    @Nik
    Salam Pak Nik,

    Tujuan diversifikasi adalah untuk menurunkan risiko. Definisi perbedaan yang signifikan terhadap kinerja dan risiko itu relatif. Dalam hal risiko, berdasarkan penelitian saya yang mengacu pada teori portofolio modern yang dibuat oleh Elton dan Gruber, definisi signifikan adalah penurunan rata-rata risiko portofolio minimal 1%.

    Pada tabel di atas sudah dijelaskan sudah dihitung bahwa kepemilikan hingga 5 reksa dana, masih bisa menurunkan risiko portofolio di atas 1%. Lebih dari 5, maka efek penurunannya sudah semakin kecil sehingga manfaat diversifikasi yang diinginkan sudah tidak ada. Dengan demikian membeli lebih dari 1 hingga 5 reksa dana masih wajar menurut saya.

    Perihal produk yang diterbitkan oleh perusahaan sama itu kurang tepat. Saya tidak tahu dengan jelas seperti apa reksa dana yang dikelola oleh Manajer Investasi yang lain, namun berdasarkan pengalaman saya di Panin Asset Management, reksa dana saham dikelola dengan pendekatan yang berbeda seperti yang sudah dijelaskan pada http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/06/09/panin-dana-maksima-prima-syariah-saham-atau-ultima-pilih-mana-2/

    Dengan demikian masing2 reksa dana juga memiliki karakter risiko yang berbeda. Membeli beberapa produk reksa dana yang berbeda profil risikonya akan menurunkan risiko secara keseluruhan.

    Apabila menurut anda hal tersebut kurang tepat atau ada hal lainnya yang membuat anda tidak nyaman, maka ya tidak usah dipaksakan. Anda tinggal katakan tidak sama agen penjual dan memilih produk reksa dana dari Manajer Investasi yang berbeda.

    Kalau konteksnya membeli beberapa reksa dana menjadi beban karena harus membayar fee, saya tidak mengerti dengan logika tersebut. Sebagai contoh, jika anda beli 1 reksa dana dengan senilai Rp 10 juta dan fee 2% yaitu 200 rb, itu kan sama juga dengan anda beli 2 reksa dana dengan masing-masing Rp 5 juta fee 2%. Total 10 juta dan Angka fee yang dikenakan juga tetap Rp 200 rb. saya tidak melihat hal tersebut akan menambah atau mengurangi fee ?

    Kalau misalkan tujuan keuangan anda sudah terpenuhi dengan investasi reksa dana yang pertama dan tidak memiliki tujuan keuangan lain yang membutuhkan reksa dana saham, tentunya anda juga berhak menolak apabila ditawarkan oleh agen penjual.

    Kalau saya pribadi, memiliki lebih dari 1 reksa dana untuk 1 tujuan itu biasanya karena saya menyukai 2 atau lebih reksa dana yang berbeda dan tidak bisa memutuskan mana yang paling baik. Apabila saya tidak bisa melihat dengan jelas perbedaan antara produk yang satu dengan produk yang lain, mau itu dari perusahaan yang sama ataupun perusahaan yang berbeda, maka saya setuju dengan anda untuk cukup beli 1 reksa dana saja.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  10. Ririn
    September 9th, 2014 at 16:16 | #10

    Pak Rudi, ini pertanyaan sedikit iseng. Bapak sendiri apakah membeli RD dari MI lain selain Panin Asset Management untuk tujuan diversifikasi? :-)

  11. Rudiyanto
    September 11th, 2014 at 17:20 | #11

    @Ririn
    Salam Ririn,

    Ketika saya bekerja di Infovesta dulu, untuk mengetahui service dari masing-masing Manajer Investasi saya mencoba membuka banyak rekening. Mulai dari Schroders, Manulife, Trimegah dan juga produk lainnya. Karena pada dasarnya saya bekerja di perusahaan riset yang meneliti reksa dana, maka saya butuh feeling lebih mendalam mengenai reksa dana yang diteliti bukan hanya sekedar angka di atas kertas saja.

    Saat ini reksa dana tersebut sudah saya tidak miliki, tapi bukan lantaran karena kinerjanya tidak bagus. Tapi lebih karena saya lebih nyaman membeli di perusahaan sendiri karena tidak perlu kirim2 bukti transfer lagi. Terakhir kali saya melakukan redemption saya harus menunggu 2 jam lebih di bank hanya untuk menyampaikan formulirnya. Jadi faktor kenyamanan dalam transaksi juga menjadi pertimbangan saya. Sekali lagi, setiap Manajer Investasi memiliki keunggulannya yang tersendiri.

    Memang saat ini sudah ada fasilitas transaksi reksa dana online seperti yang ditawarkan oleh IPOT dan Philip, tapi dengan prinsip 1 tujuan 1 reksa dana, rasanya saya tidak perlu terlalu banyak memiliki reksa dana.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  12. ndru
    September 15th, 2014 at 19:01 | #12

    artikel yang bagus.
    saya pemula dalam investor reksa dana (RD). saya mau tanya pak Rudi
    saya sering lihat NAB di infovesta.dalam menentukan RD mana yang baik untuk diambil, apa saja yang harus diperhatikan?
    kemudian apa tanda tanda suatu RD baik untuk dibeli atau kapan waktu yang baik untuk dilepas (Jual)?
    berapa lama waktu yang ideal untuk mempertahankan suatu RD??
    terima kasih Pak Rudi

  13. Rudiyanto
    September 18th, 2014 at 17:35 | #13

    @ndru
    Salam Ndru,

    Untuk menentukan mana reksa dana yang baik, ada satu faktor penting yang harus diperhatikan yaitu unsur Trust / kepercayaan.

    Bagaimana cara melihat kepercayaan? Menurut saya ada 3 hal.
    1. Kinerja. Anda bisa lihat bagaimana return reksa dana dibandingkan indeks pembanding atau reksa dana sejenis.
    2. Layanan. Apakah servis dari marketing cukup baik. Apakah penjelasan dari marketing bisa memberikan rasa nyaman bagi anda untuk berinvestasi di reksa dana
    3. Operasional. Apakah transaksi jual dan beli sudah nyaman dan bisa diandalkan.

    Untuk point 2 dan 3, sifatnya subjektif. Untuk point pertama, bisa dikuantifikasi.

    Tanda suatu reksa dana baik adalah 3 point yang membangun kepercayaan terpenuhi. Sementara waktu yang tepat untuk menjual adalah ketika tujuan anda sudah tercapai.

    Waktu yang ideal untuk mempertahankan reksa dana jenis saham yang ideal adalah disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/

    Sementara utk obligasi adalah di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/04/30/berapa-asumsi-return-dan-waktu-yang-wajar-pada-investasi-obligasi/

    Semoga bermanfaat

  14. paul’s
    December 3rd, 2014 at 15:50 | #14

    Dear Pak Rudi,
    Dari artikel di atas, dapat dikatakan untuk mengurangi risiko terhadap investasi yang dilakukan pada RD maka perlu diversifikasi. Pertanyaannya sekarang :
    - Apakah dengan satu tujuan/perencanaan keuangan, perlu dilakukan diversifikasi pada beberapa jenis RD. Misalnya: investasi di RD Saham, RD Campuran maupun RD PT atau semuanya di RD Saham dengan produk2 yang berbeda. Bukankah hal ini menjadi sedikit sulit untuk dikontrol?
    - Portofolio pada RD manakah manakah yang porsinya paling besar jika dilakukan diversi- fikasi?

    Salam,,,

  15. Rudiyanto
    December 4th, 2014 at 17:32 | #15

    @paul’s
    Salam Paul,

    Di paragraf terakhir, pendapat saya adalah 1 tujuan keuangan 1 reksa dana. Jadi menurut saya tidak perlu ada diversifikasi. Soal risiko, itu adalah kembali pada pengetahuan dan pemahaman akan risiko pasar modal dan memiliki dana darurat.

    Yang sudah paham akan risiko dan membeli reksa dana sesuai tujuan keuangan misalkan jenis saham untuk tujuan di atas 5 tahun, dan sudah punya dana darurat sehingga tidak akan ada kebutuhan untuk tiba2 mencairkan uangnya maka sudah terhindar dari risiko. Apabila risiko yang anda maksud adalah risiko penurunan harga, bagaimana kita tahu harganya besok akan turun atau tidak?

    Demikian pendapat saya, terima kasih

  16. James Handaja
    April 12th, 2015 at 19:46 | #16

    Selamat malam Pak Rudi,

    Jika saya membeli reksa dana saham dengan AUM yang besar (katakanlah, diatas 2 T), apakah akan memberikan manfaat diversifikasi yang lebih baik dibandingkan reksa dana saham dengan AUM yang lebih kecil (katakanlah, 25M – 100M)?

    Terima kasih untuk jawabannya.

  17. Rudiyanto
    April 13th, 2015 at 14:05 | #17

    @James Handaja
    Siang James,

    Hal tersebut harus dibuktikan dengan riset. Karena belum pernah dilakukan, saya sendiri belum tahu jawabannya. Riset di atas tidak membagi besar ataupun kecil, pokoknya semua reksa dana saham dimasukkan. Lagipula menggunakan AUM juga bukan indikator yang stabil karena bisa saja suatu reksa dana saham di atas 2 T pada satu tahun, dan di bawah 2 T pada tahun berikutnya.

    Semoga bermanfaat.

  18. ndrew
    November 24th, 2015 at 19:59 | #18

    selamat malam pak rudi,
    saya memiliki dana 100jt, rencananya saya mau LS ke RDS,
    saya berniat agar enak dipantau dan hasil maksimal, 100jt ini mau saya taro di 1 jenis reksadana saja pak, misalkan 100jt semuanya di satu pintu aja, agar tidak.terpecah,menurut pak rudy baiknya gimana ? walaupun saya sadar risikonya akan tinggi

  19. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 10:54 | #19

    @ndrew
    Selamat Siang Pak Andrew,

    Senang sekali anda memiliki rencana untuk berinvestasi ke reksa dana. Kalau menurut saya, jika anda sudah memiliki tujuan keuangan di atas 5 tahun, dengan kata lain anda baru berencana menarik uang tersebut setelah 5 tahun, maka anda bisa memilih reksa dana yang anda percaya atau yakini.

    Tapi jika anda belum yakin dengan jangka waktu 5 tahun tersebut, saran saya anda bisa memilih jenis reksa dana yang lain seperti campuran atau pendapatan tetap.

    Untuk lebih detailnya anda bisa berkonsultasi dengan agen pemasar yang memiliki kualifikasi perencana keuangan. Saya yakin mereka dapat membuat perencanaan yang komprehensif untuk rencana investasi anda.

    Semoga bermanfaat

  20. July 18th, 2016 at 16:28 | #20

    Selamat sore Pak Rudi,

    Saya ingin bertanya, apabila saya memiliki beberapa tujuan keuangan dan saya memiliki profil resiko moderate, apakah dianjurkan untuk melakukan diversifikasi? (RD saham, pendapatan tetap, campuran). Dan apabila saya melakukan diversifikasi, apakah ada keuntungan apabila saya melakukannya hanya pada satu MI, misal 5 macam RD pada 1 MI? Dibandingkan dengan 5 RD pada beberapa MI

    Terima kasih.

  21. Rudiyanto
    July 18th, 2016 at 21:28 | #21

    @Andika
    Salam Pak Andika,

    Melakukan diversifikasi atau tidak bukan didasarkan pada profil risiko tapi seberapa yakin anda dengan reksa dana yang dipilih. Kalau produk yang anda yakin lebih dari satu, maka diversifikasi tidak apa2. Diversifikasi yang dimaksud disini bukanlah beberapa jenis reksa dana, 1 jenis reksa dana yang sama. Prinsipnya dari pemilihan jenis reksa dana adalah disesuaikan dengan lama tujuan keuangan seperti yang sering yang saya bahas, 5 tahun RD Saham.

    Kalau anda baca di atas, diversifikasinya tidak masalah apakah pada MI yang sama atau MI yang berbeda. Hanya saja kalau di MI yang sama mungkin prosesnya lebih mudah krn menggunakan sistem transaksi yang sama.

    Semoga bermanfaat

  22. William Lim
    October 6th, 2016 at 23:35 | #22

    Malam Pak,

    Saya mau tanya kalau mau membeli index fund lq45 dan kompas100 dimana yang costnya paling rendah? Apa beli langsung dari bursa efek indonesia lebih murah? Dan apa saja procedure nya?

    Thank you pak

  23. Rudiyanto
    October 15th, 2016 at 19:19 | #23

    @William Lim
    Selamat malam Pak William,

    Kebetulan Panin Asset Management tidak memiliki index fund. Saran saya anda bisa mengecek ke OJK atau Infovesta, manajer investasi apa yang memasarkan jenis reksa dana ini dan bertanya langsung mengenai prosedurnya.

    Terima kasih

 


%d bloggers like this: