Home > Perencanaan Investasi, Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Berapa Asumsi Return dan Waktu Yang Wajar Pada Investasi Obligasi?

Berapa Asumsi Return dan Waktu Yang Wajar Pada Investasi Obligasi?

Wondering in Finance

Pada kegiatan Workshop Reksa Dana dan Market Outlook di Palmerah Jakarta 26 April 2014, ada pertanyaan dari salah satu peserta.Pertanyaannya kurang lebih seperti ini, kapan waktu yang paling tepat untuk berinvestasi reksa dana saham dan kapan waktu yang keluar supaya tingkat returnnya maksimal? Jawaban saya waktu itu cukup sederhana. Saya tidak tahu. Namun namanya juga pembicara, tidak bisa memberikan jawaban begitu saja. Biasanya saya tambahkan juga fakta-fakta lain yang mendukung argumentasi saya.

Pertama, berdasarkan riset Konsistensi Reksa Dana, ternyata para Manajer Investasi dan Analis yang sudah dibayar mahal tersebut, dalam 10 tahun terakhir, tidak ada satupun yang mampu mengalahkan IHSG secara konsisten setiap tahun selama 10 tahun. Paling banyak juga hanya 7 tahun. Jadi kalau logikanya mereka tahu kapan waktu yang paling tepat untuk masuk dan keluar dari investasi, maka hanya “sekedar” mengalahkan IHSG saja tentu bukan perkara sulit.

Kedua, meski saya tidak menjawab kapan waktu yang paling tepat (timing), tapi saya bisa memberikan berapa lama (time) yang paling tepat untuk berinvestasi di saham. Berdasarkan riset asumsi return dan waktu investasi saham yang wajar, time yang paling tepat adalah minimal 7 tahun. Sebab dengan periode tersebut, kemungkinan investor merugi berdasarkan data historis adalah 0%. Jadi pasti ada untungnya, biarpun cuma sedikit.

Setelah pertanyaan tersebut, kemudian muncul 1 pertanyaan lagi, bagaimana jika investasinya di obligasi? Nah, atas dasar pertanyaan itulah saya membuat riset ini.

Namun sebelum membahas lebih jauh, apakah metode untuk menentukan asumsi return yang wajar pada saham dapat diterapkan pada obligasi? hal ini penting mengingat karakteristik yang berbeda antara saham dan obligasi.

Untuk menghitung asumsi return yang wajar pada obligasi, menurut saya ada 2 pendekatan yang bisa digunakan. Pendekatan pertama adalah berbasis data historis seperti halnya perhitungan pada saham. Pendekatan berbasis data historis (backward looking) ini mengasumsikan obligasi yang dibeli selanjutnya akan diperjual belikan, sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh tidak hanya berasal dari kupon saja tapi juga dari kenaikan harga obligasi.

Pendekatan kedua adalah pendekatan berbasis Yield to Maturity / YTM (forward looking). YTM secara sederhana adalah tingkat keuntungan tahunan yang diperoleh investor obligasi dari penghasilan kupon dan selisih harga antara harga pasar obligasi dengan harga pada saat jatuh temponya. Pendekatan kedua ini mengasumsikan investor membeli obligasi dan memegangnya hingga jatuh tempo sehingga fluktuasi harga di pasaran sudah tidak menjadi perhatian para investor. Ketika berinvestasi di Obligasi, reksa dana menggunakan pendekatan trading atau obligasinya diperjualbelikan. Sehingga pendekatan kedua ini akan dibahas pada bab lain pada buku ini. Pembahasan pada bab ini menggunakan pendekatan berbasis data historis saja.

Pendekatan berbasis Historis

Secara matematika, sepanjang ada data yang urutan yang sama, maka mau itu saham, obligasi dan reksa dana, semuanya bisa dihitung. Mulai dari uji statistik, persamaan regresi dan perhitungan yang lebih canggih lainnya. Namun cara kerja itu berlaku jika kita adalah mesin yang tidak berpikir.

Sebagai manusia, kita perlu melakukan analisa dan penyesuaian terhadap data yang dipergunakan agar hasil perhitungan tersebut valid. Perlu diketahui bahwa jika kita memiliki satu set data harga saham dan harga obligasi, perlu dicatat bahwa data tersebut TIDAK bisa dipergunakan. Mengapa?

Perlu diketahui bahwa harga saham dan harga obligasi itu karakteristiknya berbeda. Saham akan bergerak naik turun sepanjang hayatnya hingga perusahaan bangkrut / tutup / diprivatisasikan suatu hari. Jika tidak, maka usia saham bisa dikatakan selamanya.

Di sisi lain, harga obligasi berbeda karena memiliki waktu jatuh tempo. Artinya jika sudah jatuh tempo, berapapun harga obligasi, akan selalu kembali ke harga par / nominalnya. Jadi pada prinsipnya ketika kita membandingkan harga saham dan harga obligasi, maka sebenarnya kita sedang membandingkan 2 set data dimana yang satu memiliki jatuh tempo dan satunya lagi tidak.

Karena berbeda, menurut saya, agak memaksa kalau rumus2 yang digunakan dalam formulasi saham dipaksakan di obligasi tanpa dilakukan penyesuaian terlebih dahulu. Pertanyaannya seperti apa penyesuaian yang harus dilakukan?

Karena konteksnya adalah data yang ada jatuh tempo dengan tidak, maka untuk bisa menerapkan metode perhitungan saham pada obligasi, maka penyesuaian yang harus dilakukan adalah membuat data harga obligasi yang tidak memiliki jatuh tempo. Caranya adalah membuat indeks obligasi.

Seperti halnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang mencerminkan seluruh harga saham yang ada di Indonesia, maka kita perlu membuat semacam Indeks Obligasi Gabungan yang mencerminkan seluruh obligasi yang ada di Indonesia. Indeks sendiri berbeda dengan komponen penyusunnya. Sebagai contoh, katakanlah ada saham dari komponen IHSG yang perusahaannya bangkrut, apakah lantas perhitungan IHSG akan berhenti? Tidak, karena IHSG akan mengeluarkan komponen perusahaan yang bangkrut tersebut dan meneruskan perhitungannya. Kemudian, apa yang terjadi jika ada perusahaan baru yang melakukan IPO di bursa saham, apakah perhitungan IHSG akan mencerminkan perusahaan baru tersebut? Jawabannya iya, karena IHSG akan menambah saham baru tersebut dalam perhitungannya.

Dengan membuat Indeks Obligasi Gabungan yang cara kerjanya sama, maka pada prinsipnya kita sudah menciptakan suatu obligasi yang tidak ada jatuh temponya. Karena indeks tersebut akan terus menerus memperbaharui komponen-komponen di dalamnya dengan mengganti obligasi yang jatuh tempo dengan obligasi yang baru. Apabila Indeks Obligasi Gabungan tersebut sudah diperoleh, maka dengan formula yang sama, asumsi return wajar pada obligasi bisa dihitung.

Indeks Obligasi

Dalam artikel ini kita tidak membahas tentang bagaimana cara membuat indeks obligasi. Kita cukup menggunakan indeks obligasi yang sudah disediakan. Saat ini, ada beberapa indeks obligasi yang mencerminkan harga obligasi di Indonesia. Indeks tersebut dikeluarkan oleh perusahaan seperti:

  1. Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) yang terdiri dari

1.     Composite: IBPA – Indonesia Composite Bond Index (ICBX)

Indeks yang menggabung antara seluruh obligasi pemerintah dan obligasi korporasi di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.

2.     Government: IBPA – Indonesia Government Bond Index (GBIX)

Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi pemerintah baik yang konvensional maupun yang berbasis syariah di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.

3.     Corporate: IBPA – Indonesia Corporate Bond Index (CBIX)

Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi korporasi baik yang konvensional maupun yang berbasis syariah di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.

4.       Conventional: IBPA – Conventional Indonesia Bond Index (VBIX)

Indeks yang menggabungkan obligasi pemerintah dan obligasi swasta non syariah yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.

5.       Sukuk: IBPA – Indonesia Sukuk Bond Index (SBIX)

Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi syariah baik yang diterbitkan oleh pemerintah ataupun swasta di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.

  1. Asian Bond Fund (ABF) bersama Bahana TCW Investment Management

Diterbitkan dalam bentuk ETF (Exchange Traded Fund) dengan nama ABF – IBI Bond Fund (Asian Bond Fund – Indonesia Bond Index)

  1. HSBC

Diterbitkan dalam bentuk indeks dengan nama HSBC Bond Index yang digunakan sebagai salah satu acuan perbandingan pada reksa dana pendapatan tetap di Indonesia.

  1. Infovesta.com, dalam bentuk Indeks yang mencerminkan obligasi baik pemerintah, korporasi ataupun syariah sesuai namanya yaitu:
    1. Infovesta Government Bond Index
    2. Infovesta Corporate Bond Index
    3. Infovesta Syariah Bond Index

Dari seluruh indeks di atas, Indeks Obligasi manakah yang bisa digunakan sebagai alat bantu untuk menghitung asumsi return obligasi yang wajar? Menurut saya, indeks yang paling tepat adalah IBPA – Indonesia Composite Bond Index (ICBX). Hal ini karena dari definisinya sudah mencerminkan seluruh obligasi yang ada di Indonesia baik korporasi maupun pemerintah dan syariah.

Namun karena saya tidak memiliki akses pada IBPA, maka indeks yang saya pergunakan adalah Infovesta Government Bond Index (IGBI). Alasan utama saya menggunakan indeks tersebut adalah adanya akses data serta saya sendiri merupakan tim riset yang membuat indeks tersebut ketika masih berkarir di Infovesta.

Infovesta Corporate Bond Index tidak saya pergunakan karena meskipun ada reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi korporasi, jumlahnya sedikit. Selain itu, karena faktor likuiditas, terkadang harga obligasi korporasi di Indonesia tidak begitu mencerminkan nilai wajarnya sehingga indeks yang dihasilkan juga kurang valid.

Dengan menggunakan metode yang sama pada saham, saya kembali melakukan perhitungan menggunakan data indeks obligasi. Namun karena keterbatasan jumlah data, maka asumsi return dibuat hingga rentang 12 tahun saja. Perhitungan menggunakan data IGBI dari tahun 2001 – 2013. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut:

Hasil Investasi Rp 1 juta 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun
Tertinggi 1,641,729 1,932,487 2,255,897 2,488,057 2,939,202 3,254,354
Rata-rata 1,157,009 1,331,218 1,498,884 1,686,393 1,908,251 2,149,961
Terendah 821,814 940,508 1,159,575 1,225,173 1,408,686 1,543,769
Asumsi 10% 1,100,000 1,210,000 1,331,000 1,464,100 1,610,510 1,771,561
Ekuivalen Return Per Tahun
Tertinggi 64% 39% 31% 26% 24% 22%
Rata-rata 16% 15% 14% 14% 14% 14%
Terendah -18% -3% 5% 5% 7% 8%

Untuk periode 1-6 tahun, hasil investasi Rp 1 juta rata-rata berkembang menjadi Rp 1,15 juta hingga 2,14 juta. Atau dalam persentase return setara dengan 14-16% per tahun secara compounding. Suatu angka yang tidak kecil.

Namun ketika saya lihat angka terendahnya, ternyata untuk masa investasi hingga 2 tahun, investor masih bisa mengalami kerugian. Lebih tepatnya untuk investasi senilai Rp 1 juta, hasil terendah yang dialami adalah Rp 821 ribu untuk 1 tahun dan Rp 940 ribu untuk 2 tahun atau setara dengan -18% dan -3%.

Untuk masa investasi 3 tahun, hasil terendahnya sudah positif. Dalam bahasa yang sederhana, jika anda tidak mau mengalami kerugian dalam investasi obligasi, maka berinvestasilah minimal 3 tahun. Sebab secara historis, hasil investasi 3 tahun itu tidak pernah memberikan kerugian bagi investornya. Periode ini lebih cepat dibandingkan dengan saham dimana pada bab 1, secara historis membutuhkan waktu 7 tahun. Hal ini sesuai dengan karakteristik obligasi yang low risk low return.

Hasil Investasi Rp 1 juta 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 Tahun 11 Tahun 12 Tahun
Tertinggi 3,518,240 3,716,322 4,335,512 4,929,457 5,436,759 5,837,787
Rata-rata 2,405,550 2,771,961 3,205,151 3,756,104 4,557,069 5,313,024
Terendah 1,715,764 2,229,694 2,221,482 2,608,899 3,166,242 4,920,757
Asumsi 10% 1,948,717 2,143,589 2,357,948 2,593,742 2,853,117 3,138,428
Ekuivalen Return Per Tahun
Tertinggi 20% 18% 18% 17% 17% 16%
Rata-rata 13% 14% 14% 14% 15% 15%
Terendah 8% 11% 9% 10% 11% 14%

Untuk periode antara 7 – 12 tahun, rata-rata returnnya tidak berbeda jauh dengan periode 1-6 tahun yang berkisar antara 13% – 15%. Jika kita memperhatikan tingkat return terendahnya yang berada di kisaran 8% – 14%, angka tersebut sangat tinggi.

Bagi pengelola dana pensiun dan yayasan, kisaran angka itu sudah mencukupi target tahunan yang harus mereka capai tanpa harus mengambil risiko berinvestasi di saham. Oleh karena itu, tidak aneh jika ketika kita membaca koran, sebagian besar dana kelolaan dari institusi di Indonesia memang ditempatkan pada obligasi pemerintah.

Dengan menggunakan pengolahan data historis indeks obligasi dan angka rata-rata 1 – 12 tahun sebagai acuan maka asumsi return yang wajar untuk obligasi pemerintah adalah 13% – 16%. Angka ini sebenarnya tergolong cukup tinggi. Namun jangan dilupakan bahwa untuk investasi obligasi di Indonesia, investor masih harus dikenakan pajak final sebesar 15%, oleh karena itu jika dilakukan penyesuaian secara sederhana (dikalikan 0.85), maka asumsi return yang wajar untuk obligasi adalah 11% – 13,6%. Untuk periode investasi adalah sebaiknya minimal 3 tahun.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Sumber Data : www.infovesta.com

  1. January 7th, 2015 at 09:56 | #1

    SELAMAT SIANG
    PAK SAYA MAU TANYA YANG DI MAKSUD DENGAN
    YANG DIMAKSUD DNEGAN DATA KARAKTERISTIK DAN HARGA OBLIGASI ?
    TERIMA KAASIH

  2. Rudiyanto
    January 8th, 2015 at 14:07 | #2

    @rani
    Selamat Siang Rani,

    Apabila anda ingin menanyakan artinya, saran saya anda bisa mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia atau via google.

    Terima kasih

  3. hera
    March 17th, 2015 at 12:14 | #3

    selamat siang pak rudiyanto,
    saya hera seorang pelajar
    saya mau tanya kalau return yang wajar pada pendapaan tetap berapa pak ? baik itu return pendapatan tetap syariah maupun konvensional ? apakah sama seprti artikel bapak diatas ? mohon penjelasannya.

  4. Rudiyanto
    March 17th, 2015 at 16:39 | #4

    @hera
    Selamat siang hera,

    Kalau reksa dana pendapatan tetap itu investasi pada obligasi.
    Jadi obligasi menjadi acuan daripada reksa dana pendapatan tetap.
    Target reksa dana adalah memberikan hasil investasi di atas acuannya.

    Kalau untuk reksa dana pendapatan tetap syariah, harus dilakukan penelitian sekali lagi dengan menggunakan indeks obligasi yang terdiri dari obligasi syariah saja.

    Semoga bermanfaat.

  5. hera
    March 17th, 2015 at 19:13 | #5

    maksih pak rudiyanto,,
    pak kalau yang syariah disekitaran berapa ya pak return wajarnya ? soalnya saya masih bingung ,, apa sama kaya konvensional ? mphon penjelasannya :)

  6. hera
    March 17th, 2015 at 20:17 | #6

    makasih pak rudiyanto.
    pak kalau return pendapatan tetap syariah nilainya disekitaran berapa pak .. apakah di atas nilai konven apa di bwah ya pak … saya masih bingung menentukan nilai return yang wajar berapa persennya
    mohon bimbingnya pak

  7. Rudiyanto
    March 19th, 2015 at 22:48 | #7

    @hera
    Salam Hera,

    Sebagaimana yang saya kemukakan sebelumnya, nilai return wajar tersebut baru bisa ditentukan setelah melakukan penelitian terhadap Indeks Obligasi Syariah. Karena belum diteliti saya belum tahu berapa.

    Untuk kisaran return berbagai jenis reksa dana, anda bisa lihat di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Semoga bermanfaat.

  8. riza
    August 22nd, 2015 at 05:10 | #8

    selamat pagi pa rudi, apakah sama perhitungan indeks obligasi dan indk saham? dimana letak bedanya pa rudi?
    apakah bisa menentukan harga obligasi tiap perusahaan dengan data historis dari icamel karena disana yang ada hanya harga perdagangan harian perusahaan terkadang tiap bisa lebih dari 10x transaksi, bagaimana menentukan harga obligasi untuk hari itu dengan 10x transaksi. terimakasih pa rudi.

  9. Rudiyanto
    August 24th, 2015 at 11:45 | #9

    @riza
    Selamat Pagi Pak Riza,

    Anda bisa membaca cara pembentukan indeks saham dan obligasi, biasanya itu tercantum di website IDX dan IBPA.

    Mengenai harga, kalau itu konteksnya dalam menyusun skripsi bisa ditanyakan ke dosen pembimbing anda mengenai boleh atau tidaknya. Untuk harga, alternatifnya anda bisa menggunakan WAP (Weighted Average Price).

    Semoga bermanfaat.

 


%d bloggers like this: