Home > Perencanaan Investasi, Strategi Investasi > Buy and Hold Vs Market Timing – Studi Kasus Simple Moving Average

Buy and Hold Vs Market Timing – Studi Kasus Simple Moving Average

Selama ini, semua orang baik investor ataupun calon investor meyakini bahwa saham atau reksa dana saham adalah investasi yang menguntungkan dalam jangka panjang. Sehingga pada saat ingin melakukan investasi, para agen penjual akan menyarankan investasi saham dipadukan dengan tujuan jangka panjang. Strateginya juga cukup sederhana, investasi sekaligus di depan atau lakukan investasi berkala setiap bulannya. Semua bukti transaksi dan konfirmasi, dimasukkan ke laci, kunci rapat2, dan baru buka 5-6 tahun lagi. Niscaya anda sudah semakin kaya pada saat itu.

Pada kenyataannya, banyak sekali investor yang bandel. Yang bandel itu juga macem2, mulai dari yang kondisi keuangannya kurang sehat seperti tidak memiliki dana darurat, tidak membuat rencana investasi yang jelas, cicilan hutang masih banyak dan kebanyakan konsumtif (HP, Liburan, Lifestyle), bahkan ada yang sengaja pinjam uang ke koperasi atau bank untuk investasi dengan harapan bisa untung besar tanpa modal.

Investor yang masuk kategori ini, sangat mungkin sekali akan menjadi investor saham jangka pendek. Dimana mereka akan menjual ketika keuntungan baru sedikit atau bahkan merugi karena tidak punya tujuan jelas, atau terpaksa karena harus membayar kebutuhan. Bahkan yang lebih parah, terpaksa cutloss karena sudah terjerat hutang yang lebih besar.

Dan yang bandel2 itu, tidak hanya investor yang kondisi keuangannya kurang sehat, tapi juga yang kondisi keuangannya sangat-sangat sehat karena memang berinvestasi dengan dana idle-nya. Umumnya kelompok investor ini mengganggap saham sebagai spekulasi jangka pendek. Begitu untung 10-20%, langsung mau ditarik. Karena modalnya cukup besar, katakanlah 1 Miliar, dengan keuntungan 10% berarti sudah 100 juta. Hari gini, kemana mau cari bisnis yang bisa kasih keuntungan Rp 100 juta dalam waktu singkat.

Kedua kelompok investor tersebut mungkin tidak bisa dibilang bandel. Tapi memang begitulah kondisi mereka sehingga kalaupun harus berinvestasi di saham / reksa dana saham, maka memang orientasinya jangka pendek. Dan harus diakui, meski sebagian dari kelompok ini masih belum siap menjadi investor, jumlah mereka cukup banyak. Oleh karena itu, terdapat banyak sekali pertanyaan tentang kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi selalu keluar.

Sebagai contoh, dalam kegiatan market outlook di Surabaya, ada peserta yang bertanya apakah sebaiknya investasi dilakukan sebelum atau sesudah terpilihnya Presiden? Ada juga dalam kesempatan lain, ada yang bertanya apakah sebaiknya investasi baru dilakukan setelah ada kejelasan dari Janet Yellen (Chairman the Fed) mengenai kebijakan Quantitative Easing yang tersisa 65 M USD ini. Dan sebagainya.. dsb..

Untuk itulah, dalam kesempatan kali ini, saya membuat artikel tentang perbandingan antara strategi investasi buy and hold dengan market timing.

Buy Hold and RelaxVS

Buy or SellMarket Timing dengan Analisa Teknikal

Ketika berbicara buy and hold, maka cukup sederhana. Beli, simpan dan baru dilihat setelah bertahun-tahun. Tinggal nanti hasilnya untung berapa. Namun kondisi berbeda ketika kita bicara tentang market timing. Fokus pada market timing adalah kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi dan kapan waktu yang tepat untuk menjualnya. Ada 2 hasil yang diharapkan dalam market timing. Yang pertama adalah harga pembelian lebih rendah daripada harga penjualan sehingga kita memperoleh keuntungan. Kedua, jika bisa, harga yang didapat adalah harga pembelian terendah dan harga penjualan yang tertinggi sehingga tingkat keuntungannya maksimal.

Dari zaman dulu hingga sekarang, sudah banyak uang dan waktu yang diinvestasikan untuk mencari jawaban atas hal tersebut. Metode analisa teknikal adalah salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mencari jawaban tersebut. Metode analisa teknikal biasanya mencoba mencari peluang dan harga utk beli dan jual berdasarkan tren data historis.

Ada juga yang mencoba melakukan market timing berdasarkan kejadian yang ada di pasar modal dan pasar global seperti kebijakan quantitative easing, defisit neraca perdagangan, kurs, cadangan devisa dan lain-lain. Namun menurut saya cara ini kurang tepat karena informasi makro seperti ini bisa berubah dengan cepat, efek terhadap saham tidak konsisten dan selalu bermunculan istilah baru yang tidak ada sebelumnya. Sebagai contoh saja, apakah saat ini masih ada analisis yang mengatakan kondisi saham kurang bagus karena harga minyak masih tinggi (kenyataannya selalu di atas 100 USD / Barrel) dan kondisi hutang Eropa yang menggunung (rasio hutang terhadap GDP Eropa tidak pernah membaik, yang membaik itu pertumbuhan ekonominya. Hutangnya tetap banyak bukan) ??

Jadi analisa teknikal dengan data historis adalah metode yang paling konsisten karena menggunakan angka dan data historis yang bisa dibuktikan konsistensinya.

Analisa teknikal sendiri bisa dibagi lagi menjadi 2 yaitu analisa teknikal klasik dan analisa teknikal modern. Analisa teknikal klasik adalah metode analisa yang menggunakan metode tarik2 garis dan mengenali pola yang terbentuk dari garis tersebut. Sementara analisa teknikal modern adalah metode analisa yang melakukan perhitungan terhadap data historis dan menghasilkan suatu angka indikator. Kemudian dibuat batasan atau pedoman tertentu, dimana jika angka indikator mencapai angka tertentu sama dengan sinyal untuk melakukan pembelian atau penjualan. Informasi itu juga pernah saya bahas pada http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/24/analisa-teknikal-dan-reksa-dana/

Di luar negeri, bahkan sudah lebih canggih lagi. Saya pernah mambaca tentang hal yang disebut High Frequency Trading (HFT). Saya tidak tahu apakah ini masuk kategori analisa teknikal atau tidak, tapi pada dasarnya HFT adalah robot yang diberi algoritma untuk menjalankan transaksi buy dan sell dan dilakukan dengan frekuensi yang cepat dan jumlah yang besar. Saking hebatnya, data yang dianalisa sudah bukan angka saja tapi juga berita, misalkan saat ini muncul berita yang kurang baik tentang pemerintahan maka robot tersebut bisa melakukan eksekusi jual.

Versi robot yang bisa buy dan sell ini memang juga banyak terdapat di Indonesia khususnya dunia forex. Entah itu yang versi gratis atau berbayar, intinya anda akan dikasih robot yang menginformasikan kapan waktu jual dan beli yang tepat. Seringnya broker2 forex yang berusaha mendapatkan nasabah dengan memperkenalkan sistem tersebut. Ada juga versi berbayar untuk saham yang harganya tidak murah.

Simple Moving Average

Dari sekian banyak metode analisa teknikal, Simple Moving Average (SMA) adalah salah satu metode dasar yang cukup banyak diajarkan di berbagai kelas investasi. Menurut Investopedia, Simple Moving Average adalah

“A simple, or arithmetic, moving average that is calculated by adding the closing price of the security for a number of time periods and then dividing this total by the number of time periods.”

SMA adalah rata-rata sederhana (Aritmatik) yang dihitung dari total harga suatu sekuritas dalam periode tertentu dibagi jumlah waktunya. Sebagai contoh, dengan menggunakan SMA 10 dari IHSG berarti merupakan penjumlahan nilai IHSG dari 10 hari kerja terakhir yang dibagi dengan angka 10. Perhitungan SMA bisa menggunakan fungsi Average yang ada di MS Excel. Sebagai contoh:

SMA 10

Dalam prakteknya, angka perhitungan SMA itu dapat berfungsi sebagai 2 hal. Pertama sebagai alat untuk menunjukkan tren jangka pendek, menengah dan panjang. Patokan tren tersebut ditunjukkan dengan penggunaan periodenya. Umumnya periode pendek diwakili dengan SMA antara 10 – 20, menengah antara 21 – 50 dan Panjang dengan periode 200. Fungsi kedua pada SMA adalah untuk menentukan momentum (Timing) untuk melakukan pembelian atau penjualan. Timing ini biasanya diperoleh melalui titik-titik perpotongan antara garis tren yang dihitung.

Sebagai contoh, Bulkowski dalam studinya mengatakan bahwa kombinasi yang paling bisa memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko pada S&P 500 atau IHSGnya AS adalah SMA 9 dan SMA 50 hari (sumber : http://thepatternsite.com/MovingAvgs.html). Di berbagai buku tentang analisa teknikal, angka SMA 10 dan SMA 40 juga merupakan angka yang sering digunakan.

Contoh penggunaan SMA 9 dan SMA 50 adalah sebagai berikut. Pada saat angka SMA 9 (Tren Jangka Pendek) yang tadinya lebih kecil dari SMA 50 (Tren Jangka Menengah) berubah menjadi lebih besar, maka kondisi ini disebut dengan break out. Break out artinya akan terjadi pergantian tren, untuk kasus di atas maka akan terjadi tren bullish (kenaikan). Titik break out ini adalah titik untuk melakukan pembelian. Sebaliknya ketika SMA 9 yang tadinya lebih besar dari SMA 50 berubah menjadi lebih kecil, maka terjadi break out dengan arah trend bearish (penurunan). Pada titik ini, investor sebaiknya melakukan penjualan. Jika konsep ini diaplikaskan pada IHSG selama 2013, maka akan terlihat seperti gambar berikut

IHSG 2013 SMA 9-50

Dengan menggunakan tren tersebut maka investor akan melakukan 3 kali transaksi selama 2013 dengan hasil sbb:

  1. Buy 4392 Sell 4610 = Profit 4,9%
  2. Buy 4584 Sell 4398 = Loss 4,2%
  3. Buy 4457 Sell 4367 = Loss 2%

Dengan menggunakan penjumlahan sederhana, maka total loss adalah -1,3%. Bandingkan jika buy and hold IHSG selama 2013 yang berkisar di -1%, pada dasarnya metode market timing ini tidak memberikan perbedaan yang terlalu berarti.

Meski demikian, hasil selama 1 tahun mungkin tidak bisa djadikan sebagai acuan, maka saya memperpanjang periode perbandingan hingga data 10 tahun terakhir. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Date IHSG Indikator Profit / Loss
13-Apr-04 772 Buy -6.93%
11-May-04 718 Sell
6-Jul-04 768 Buy -2.80%
27-Aug-04 747 Sell
3-Sep-04 786 Buy 36.17%
20-Apr-05 1,071 Sell
6-Jun-05 1,097 Buy -0.81%
19-Aug-05 1,088 Sell
11-Oct-05 1,106 Buy -4.78%
9-Nov-05 1,053 Sell
29-Nov-05 1,082 Buy 23.25%
29-May-06 1,334 Sell
31-Jul-06 1,352 Buy 32.84%
19-Jan-07 1,796 Sell
23-Jan-07 1,809 Buy -2.61%
6-Feb-07 1,761 Sell
22-Feb-07 1,808 Buy -6.06%
5-Mar-07 1,699 Sell
16-Mar-07 1,778 Buy 14.13%
15-Aug-07 2,029 Sell
19-Sep-07 2,313 Buy -0.81%
22-Jan-08 2,295 Sell
25-Feb-08 2,752 Buy -8.30%
11-Mar-08 2,524 Sell
14-May-08 2,449 Buy -4.41%
25-Jun-08 2,341 Sell
18-Dec-08 1,352 Buy -1.56%
18-Feb-09 1,331 Sell
23-Mar-09 1,407 Buy 68.60%
2-Nov-09 2,372 Sell
20-Nov-09 2,487 Buy 0.82%
11-Feb-10 2,508 Sell
9-Mar-10 2,657 Buy 2.72%
19-May-10 2,729 Sell
18-Jun-10 2,930 Buy 23.59%
22-Dec-10 3,621 Sell
4-Jan-11 3,760 Buy -8.11%
11-Jan-11 3,455 Sell
9-Mar-11 3,599 Buy 3.41%
17-Jun-11 3,721 Sell
30-Jun-11 3,889 Buy 1.84%
15-Aug-11 3,960 Sell
28-Oct-11 3,830 Buy 2.88%
21-May-12 3,940 Sell
6-Jul-12 4,055 Buy 5.85%
6-Dec-12 4,293 Sell
7-Jan-13 4,392 Buy 4.95%
11-Jun-13 4,610 Sell
20-Sep-13 4,584 Buy -4.24%
4-Oct-13 4,389 Sell
9-Oct-13 4,457 Buy -2.02%
14-Nov-13 4,367 Sell
Total 167.60%

Jika dibandingkan dengan strategi Buy and Hold dimana beli IHSG tahun 2003 senilai 692 dan jual di akhir 2013 senilai 4274 = Profit 517%. Berdasarkan data simulasi 10 tahun terakhir, tampak jelas bahwa strategi Buy and Hold jauh lebih baik dibandingkan strategi Market Timing dengan metode Simple Moving Average.

Buat anda yang sering menggunakan angka ini, bisa jadi protes. Sebab bisa saja, kombinasi 9 dan 50 yang digunakan oleh Bulkowsky itu tidak cocok untuk Indonesia, oleh karena itu saya menggunakan kombinasi yang umumnya sering dipergunakan yaitu SMA 10 dan 40. Hasilnya sbb:

Date IHSG Indikator Profit / Loss
14-Apr-04 778 Buy -4.33%
12-May-04 744 Sell
2-Jul-04 745 Buy -0.83%
24-Aug-04 739 Sell
6-Sep-04 785 Buy 41.65%
7-Apr-05 1,112 Sell
14-Apr-05 1,108 Buy -1.08%
15-Apr-05 1,097 Sell
3-Jun-05 1,093 Buy -0.42%
19-Aug-05 1,088 Sell
7-Oct-05 1,095 Buy -2.60%
31-Oct-05 1,066 Sell
1-Dec-05 1,096 Buy 20.68%
24-May-06 1,323 Sell
11-Jul-06 1,344 Buy 30.85%
17-Jan-07 1,758 Sell
26-Jan-07 1,759 Buy 0.53%
5-Feb-07 1,769 Sell
22-Feb-07 1,808 Buy -3.61%
7-Mar-07 1,743 Sell
21-Mar-07 1,779 Buy 24.29%
13-Aug-07 2,211 Sell
13-Sep-07 2,223 Buy 22.15%
3-Jan-08 2,715 Sell
4-Jan-08 2,765 Buy -17.02%
22-Jan-08 2,295 Sell
20-Feb-08 2,689 Buy -4.95%
12-Mar-08 2,556 Sell
12-May-08 2,378 Buy -0.21%
19-Jun-08 2,373 Sell
16-Dec-08 1,343 Buy -2.40%
2-Feb-09 1,311 Sell
20-Mar-09 1,361 Buy 74.27%
2-Nov-09 2,372 Sell
23-Nov-09 2,481 Buy 0.33%
9-Feb-10 2,489 Sell
9-Mar-10 2,657 Buy 6.11%
17-May-10 2,819 Sell
18-Jun-10 2,930 Buy 23.59%
22-Dec-10 3,621 Sell
5-Jan-11 3,784 Buy -8.68%
11-Jan-11 3,455 Sell
7-Mar-11 3,562 Buy 5.02%
16-Jun-11 3,740 Sell
1-Jul-11 3,927 Buy 0.84%
15-Aug-11 3,960 Sell
25-Oct-11 3,710 Buy 1.87%
2-Dec-11 3,780 Sell
9-Dec-11 3,760 Buy 3.83%
28-Feb-12 3,904 Sell
2-Mar-12 4,005 Buy -0.94%
6-Mar-12 3,967 Sell
12-Mar-12 3,987 Buy -0.17%
16-May-12 3,981 Sell
3-Jul-12 4,050 Buy 5.43%
4-Dec-12 4,270 Sell
7-Jan-13 4,392 Buy 8.76%
10-Jun-13 4,777 Sell
30-Jul-13 4,608 Buy 0.95%
13-Aug-13 4,652 Sell
16-Aug-13 4,569 Buy -5.58%
19-Aug-13 4,314 Sell
20-Sep-13 4,584 Buy -4.43%
12-Nov-13 4,381 Sell
Total 213.89%

Penggunaan periode yang berbeda ternyata bisa mendongkrak total return dari yang tadi 167% menjadi 213% namun tetap masih kalah jauh jika dibandingkan dengan metode buy and hold yang menghasilkan lebih dari 500% dalam periode yang sama.

Berdasarkan studi sederhana yang di atas, maka bisa saya simpulkan bahwa jika anda menggunakan metode Simple Moving Average sebagai dasar dalam melakukan market timing, maka dalam 10 tahun terakhir, hasilnya masih kalah bahkan cukup telak jika dibandingkan dengan strategi buy and hold. Tentu saja, angka ini bisa berbeda jika ternyata ada kombinasi periode SMA yang memberikan hasil lebih tinggi. Namun dengan menggunakan angka yang selama ini menjadi “Rule of Thumb”, ternyata hasilnya tidak lebih baik.

Perlu diingat juga bahwa dalam menggunakan metode market timing, apabila sudah mempercayai suatu metode tertentu, maka harus dilakukan secara disiplin. Jadi meskipun sinyal buy dan sell muncul dalam waktu cepat dan hasilnya investor harus cutloss, maka hal tersebut harus disiplin dilakukan apapun kondisinya. Jika tidak, maka efektivitas dari metode tersebut sudah dipertanyakan karena dalam prakteknya, hal tersebut ditambahkan penilaian pribadi yang sifatnya subjektif.

Selain metode SMA, sebenarnya masih terdapat banyak sekali metode analisa teknikal lainnya. Saya akan membahas di kesempatan lain. Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Sumber Data : Panin Asset Management dan Yahoo Finance

Referensi : http://www.investopedia.com/terms/s/sma.asp dan http://thepatternsite.com/MovingAvgs.html

  1. Hermawan
    March 4th, 2014 at 11:29 | #1

    Selamat Siang Pak Rudy,
    Pak, saya sudah sekitar 3 tahun investasi di reksadana dengan invetasi berkala setiap bulan. Selama itu saya belum pernah melakukan redemp. Dan karena akhir-akhir ini ada kebutuhan sedikit, saya melakukan redempt sebesar sekitar 25% dari total investasi. Dana akan dieksekusi/masuk (diproses) setelah sekitar 3-7 hari dan kemudian ditransfer ke tabungan saya.

    Dalam menunggu proses eksekusi tersebut, kan NAV berubah setiap hari, dan otomatis estimasi nilai Rp investasi saya juga ikut berubah.
    Selama menunggu 3-7 hari tersebut, apakah dana investasi saya masih tetap utuh atau sudah diblok sebesar redempt saya yaitu 25%? Atau dengan kata lain, dana saya yang ikut perubahan NAV apakah masih tetap seluruhnya atau hanya yang sisanya yaitu yang 75%? Mohon penjelasannya/wawasannya Pak.
    Terimakasih sebelumnya.

  2. Rudiyanto
    March 4th, 2014 at 13:10 | #2

    @Hermawan
    Salam Hermawan,

    Untuk transaksi redemption, pada saat anda memberikan formulir redemption, maka harga penjualan (NAB/Up) sudah dibook pada tanggal tersebut. Misalkan anda bilang mau redemption tanggal 1 dan harga penutupan pada sore tersebut adalah Rp 2000. Maka anda akan mendapat uang senilai Rp 2000 x unit penyertaan yang di redeem.

    Sesuai dengan proses internal di masing2 MI dan Agen Penjual, dana tersebut akan ditransfer ke rekening anda maksimal 7 hari kerja. Nilai itu akan tetap, meskipun misalkan anda terima tanggal 5 dan pada tanggal tersebut harga reksa dana Rp 1500 atau Rp 2500.

    Nilai tersebut tidak ada hubungannya dengan porsi yang anda cairkan, apakah itu 25% atau 75%. Manajer Investasi dan Agen Penjual hanya melihat anda melakukan pencairan tanggal berapa, nilainya berapa Rupiah atau Unit, dan kemudian disesuaikan dengan nilai NAB/Up pada tanggal anda melakukan transaksi.

    Untuk informasi transaksi reksa dana juga bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/18/back-to-basic-memahami-proses-transaksi-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat.

  3. teguh
    March 4th, 2014 at 19:41 | #3

    Pak rudiyanto yang terhormat.

    Berarti bila saat ini saya mempunyai cash Rp.100.
    Dari pada saya cicil masuk dengan menunggu pasar turun atau daripada regularly mencicil melalui auto invest. Maka lebih baik saya belikan langsung 100% ke reksadana saat ini juga?

    Terima kasih pak atas penjelasannya

  4. Rudiyanto
    March 5th, 2014 at 11:52 | #4

    @teguh
    Salam juga pak Teguh,

    Tujuan investasinya apa?

  5. paul
    March 5th, 2014 at 13:44 | #5

    Selamat siang pak Rudiyanto,
    Saya tertarik dengan cara pengambilan data historis selama 10 tahun terakhir, menurut hemat saya apabila kita mau membandingkan seperti SMA9+SMA50 dengan SMA10+SMA40, sebaiknya variabel perbedaannya dibuat sedikit mungkin. Contoh pada SMA9+SMA50 start data yang diambil dari tanggal 13 Apr 2004, sedangkan SMA10+SMA40 dari tanggal 14 Apr 2004. Hal ini akan menghasilkan perbedaan perhitungan. Bagaimana bila tanggal start pengambilan datanya dibuat sama 13 Apr 2004 atau 14 Apr 2004, agar dapat dibandingkan.

    Terima kasih.

  6. Rudiyanto
    March 5th, 2014 at 13:53 | #6

    @paul
    Selamat Siang Paul,

    Pengamatan yang bagus, namun harus saya luruskan bahwa permulaan di 13 dan 14 April itu adalah kebetulan. Sebab dengan menggunakan data dari akhir tahun 2003, sinyal buy kebetulan muncul di 13 April untuk periode yang satu dan 14 April untuk periode lainnya.

    Bisa jadi dengan kombinasi yang berbeda, sinyal buy justru munculnya katakan 2 Februari dan dengan kombinasi lainnya baru muncul per akhir tahun. Yang penting data yang digunakan untuk pengukuran sama yaitu dari Akhir 2003 sampai akhir 2013.

    Kemudian, untuk perhitungan total return, itu juga seharusnya tidak benar2 tepat kalau dijumlahkan saja. Tapi harus dihitung dengan metode bunga berbunga. Bisa jadi hasilnya tidak selisih terlalu banyak.

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  7. paul
    March 5th, 2014 at 14:18 | #7

    Dear Pak Rudiyanto,
    Melanjutkan komentar saya, mungkin dapat dikatakan tabel dari data historis tsb tdk bisa dibandingkan. Karena ada lebih dari satu (1) variabel, selain variabel jangka waktu SMA , juga terdapat variabel lainnya yaitu tanggal mulainya pengambilan data. Bila dilihat lebih jauh pada tgl 13 Apr 2004 IHSG=772, sedangkan pada tgl 14 Apr 2004 IHSG=778, jelas ada berbeda.

    Demikian tanggapan saya, terima kasih pak Rudi.

  8. Rudiyanto
    March 5th, 2014 at 15:26 | #8

    @paul
    Salam Paul,

    Sepertinya ada yang miskomunikasi disini, titik permulaan dan akhir data sama yaitu 31 Desember 2003 – 31 Desember 2013. Untuk 13 dan 14 April, karena berdasarkan kombinasi yang ada, sinyal Buy pertama muncul pada tanggal tersebut. Bukan berarti tanggal tersebut merupakan tanggal permulaan pengambilan data.

    Terima kasih.

  9. erwin
    March 6th, 2014 at 06:34 | #9

    Pagi Pa Rudy,
    saya juga sangat setuju dengan ide buy n hold. Tanpa merendahkan strategi analisis teknikal, mnurut saya menentukan market timing tidaklah berhasil bagi sebagian besar orang. di sisi lain strategi buy n hold memberikan kesederhanaan, sehingga kita bisa punya lebih banyak waktu untuk kegiatan lainnya.
    have a nice day.

 


%d bloggers like this: