Home > Perencanaan Investasi, Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Berapa Lama Periode Investasi Berkala Yang Ideal?

Berapa Lama Periode Investasi Berkala Yang Ideal?

Data Angka Tahun

Metode investasi dengan cara berkala atau autodebet cukup banyak dikenal dan diterapkan investor reksa dana dalam 1-2 tahun terakhir ini. Meski tersedia berbagai jenis reksa dana, kebanyakan investor masih memilih reksa dana saham sebagai pilihan utama. Permasalahan terjadi ketika setelah 1-2 tahun berjalan, kebanyakan reksa dana saham tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Memang kondisi pasar selama beberapa 2 tahun terakhir ini tidak terlalu menggembirakan untuk investor saham. Tahun 2012, return IHSG hanya 12,94% dan bahkan -0,98% pada tahun tahun 2013. Tentu bagi investor reksa dana saham yang memiliki ekspektasi 15 – 20% per tahun merasa kecewa. Sebagian besar investor memang masih tetap komitmen dengan investasi jangka panjang atau minimal 5 tahun.

Namun menjadi pertanyaan, bagaimana jika kondisi ini terus terjadi? Apakah investor harus tetap setia pada prinsip investasi yang menganjurkan bahwa investasi saham sebaiknya di atas 5 tahun, dengan harapan dalam periode tersebut hasil investasi akan menguntungkan?

Bukankah jangka waktu 5 tahun tersebut berlaku untuk investor yang berinvestasi secara sekaligus? Bagaimana dengan investor yang melakukan investasi berkala secara bulanan, apakah timeline 5 tahun ini masih tetap berlaku?

Berangkat dari pemikiran tersebut, saya mencoba mencari tahu, sebenarnya berapa lama periode investasi berkala yang ideal pada reksa dana saham? Apakah 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun atau bahkan 10, 15 tahun? Penelitian dilakukan terhadap data IHSG dari Juli 1997 – Desember 2013.

Tahapan Penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut

Langkah Pertama, yaitu data dan simulasi data. Informasi mengenai IHSG akhir bulan dari periode Juli 1997 – Desember 2013 diambil dari website Yahoo Finance. Selanjutnya dari data tersebut dilakukan simulasi investor melakukan investasi berkala pada IHSG.

Sebagai contoh, untuk periode 1 tahun, investasi berkala dilakukan setiap akhir bulan dari Januari 1998 hingga Desember 1998. Unit investasi yang terkumpul selama periode tersebut kemudian dijual pada Akhir Januari 1999. Simulasi dilakukan secara terus menerus dari Februari 1998 – Februari 1999 dan seterusnya hingga Desember 2012 – Desember 2013. Periode simulasi dibuat dari 1 tahun hingga 15 tahun. Setiap bulan diasumsikan investor berinvestasi sebesar Rp 1 juta dengan biaya masuk 0%.

Langkah Kedua yaitu membuat angka ekspektasi. Dalam melakukan perencanaan keuangan ataupun memberikan rekomendasi kepada pada investor, para penjual dan financial planner biasanya memberikan asumsi return pada reksa dana saham yang berkisar antara 15% – 20%. Yang dimaksud dengan angka ekspektasi adalah berapa Rupiah hasil investasi yang aktual apabila asumsi tersebut benar-benar terjadi.

Sebagai contoh dengan asumsi 20%, maka hasil investasi berkala sebesar 1 juta per bulan adalah sekitar Rp 13,26 juta untuk investasi berkala selama 1 tahun, Rp 29,18 juta untuk 2 tahun, dan Rp 48,28 juta untuk 3 tahun. Hasil investasi tersebut sudah termasuk modal pokok investor. Angka ekspektasi dihitung dengan metode Future Value Annuity dengan metode pembayaran di awal. Asumsi yang digunakan adalah 15% dan 20% dengan periode waktu antara 1 sampai 15 tahun.

Langkah terakhir, adalah membandingkan antara Hasil Simulasi dan Angka Ekspektasi serta menghitung Probabilitas Tujuan Tercapai. Sebagai contoh, misalkan dengan asumsi 20%, maka angka ekspektasi yang diharapkan dari investasi berkala selama 5 tahun adalah sebesar Rp 100 juta. Kemudian berdasarkan data historis, ternyata ada 80 dari 100 kali kejadian dimana hasil investasi berkala menghasilkan di atas Rp 100 juta.

Dengan demikian, kemungkinan si investor bisa mencapai tujuannya dengan berinvestasi 5 tahun adalah 80%. Angka 80% tersebut kemudian saya sebut dengan istilah Probabilitas Tujuan Tercapai. Semakin tinggi angka tersebut, tentu semakin baik.

Berdasarkan dari langkah-langkah di atas, hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:

Simulasi Investasi Berkala Terhadap IHSG Juli 1997 – Desember 2013

Simulasi IHSG

Cara Membaca Hasil Penelitian

Dengan menggunakan data 8 tahun sebagai contoh:

  1. Investasi Rp 1 juta per bulan selama 8 tahun sama dengan total investasi sebesar Rp 96 juta
  2. Hasil simulasi pada IHSG, investasi Rp 96 juta selama 8 tahun dalam periode Juli 1997 – Desember 2013, tertinggi pernah menghasilkan Rp 401 juta dan terendah Rp 160 juta. Rata-rata adalah Rp 257 juta. Artinya jika berinvestasi selama 8 tahun, secara historis bisa dikatakan investor pasti untung karena hasil terendah yang dihasilkan masih lebih besar dari modal yang dikeluarkan.
  3. Dengan Ekspektasi 15% dan 20% per tahun, seharusnya nilai investasi Rp 96 juta setelah 8 tahun adalah sebesar Rp 177 juta dan Rp 218 juta. Jika hasilnya di bawah angka tersebut, secara teknis, Tujuan Investor tidak tercapai dan sebaliknya.
  4. Pada Probabilitas Tujuan Tercapai 15%, tertulis angka 92%. Artinya selama Juli 1997 – Desember 2013, kemungkinan investor bisa mencapai tujuannya adalah 92%. Sementara pada probabilitas yang menggunakan asumsi return 20%, probabilitasnya lebih kecil, hanya 74%.

 

Analisa dan Kesimpulan

  1. Semakin lama periode investasi, semakin tinggi pula probabilitas tujuan tercapai. Terjadi pengecualian untuk masa 14 dan 15 tahun untuk asumsi 20%, hal ini disebabkan karena data yang tersedia tidak banyak.
  2. Jika periode investasi berkala yang ideal adalah probabilitas mencapai tujuan 100%, maka asumsi yang wajar adalah 15% dengan masa investasi minimal 12 tahun. Asumsi 20% mungkin “agak tinggi” mengingat tidak ada yang berhasil mencapai probabilitas 100%. Paling mendekati adalah 95% untuk masa investasi 13 tahun.
  3. Dari perbandingan antara terendah dengan modal, ternyata untuk masa investasi berkala antara 1 – 5 tahun, investor masih berpotensi rugi karena angka terendah lebih kecil daripada modal. Untuk itu, investor harus siap jika ternyata dengan masa investasi sampai dengan 5 tahun, masih memungkinkan untuk mengalami kerugian.

Sebagai referensi, berikut juga saya tampilkan hasil simulasi dengan menggunakan reksa dana Panin Dana Maksima.

Simulasi Investasi Berkala Panin Dana Maksima April 1997 – Desember 2013

Simulasi Panin Dana MaksimaDengan menggunakan contoh Panin Dana Maksima, maka dengan ekspektasi return 15%, periode investasi berkala yang ideal adalah 7 tahun. Sementara jika anda berasumsi ingin mendapatkan 20%, maka periode investasi berkala yang ideal adalah 11 tahun dengan anggapan pada periode tersebut probilitas tujuan tercapai adalah 100%.

Demikian artikel ini saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi anda.

Mau Sekalian Promosi Buku
20130919-210339.jpg

Teman2 dan para pembaca blog yang setia, biasanya saya memberikan rekomendasi tentang buku-buku yang bagus. Kali ini saya ingin memperkenalkan buku saya sendiri. Judulnya “Sukses Finansial Dengan Reksa Dana”.

Buku ini membahas tentang segala sesuatu yang harus anda tahu tentang reksa dana, mulai definisi, peraturan, tata cara investasi, praktek reksa dana dan riset-riset berkaitan tentang reksa dana, investasi pasar modal di Indonesia dan bagaimana caranya untuk mencapai kesuksesan finansial melalui investasi reksa dana. Semua esensi, pengetahuan dan pengalaman saya selama bertahun-tahun baik sebagai investor reksa dana, konsultan yang memberikan masukan tentang investasi, hingga saat ini sebagai pelaku pasar modal yang memasarkan produk reksa dana kepada masyarakat diringkas dalam buku ini.

Menurut informasi dari penerbit, yaitu Elex Media Komputindo, buku akan tersedia di toko buku Gramedia paling lambat tanggal 25 September. Ada 2 versi yang tersedia yaitu Versi Softcover yang bisa anda peroleh di Toko Buku Gramedia dengan harga Rp 99.800.

Versi kedua yaitu Versi Hardcover, untuk yang ini hanya bisa anda beli dengan memesan langsung kepada saya. Harga versi Hardcover termasuk ongkos kirim untuk Jakarta adalah Rp 135.000

Dengan membeli edisi Hardcover, anda juga akan mendapatkan Excel yang berisi:

  • Kalkulator Time Value of Money
  • Kalkulator Biaya dan Return Reksa Dana
  • Perhitungan Sharpe, Treynor dan Jensen Alpha lengkap dengan contoh data historis dan rumus perhitungan

Apabila anda berminat dengan versi Hardcover ini, maka prosedur pembelian dan pengiriman adalah sebagai berikut:

  1. Lakukan transfer ke rekening sebagai berikut:
    • Bank BCA KCP Mall Ciputra Jakarta
    • Atas nama Vonny Susilo
    • No Rekening 466 13 58 674
    • Nominal Transfer sesuai ketentuan di bawah
    • Masukkan Berita: Nama Lengkap

    Total Transfer adalah sebagai berikut

    • Untuk pengiriman daerah Jakarta Rp 135.000
    • Untuk pengiriman daerah Jawa Rp Rp 140.000
    • Untuk pengiriman Domestik Luar Jawa Rp 150.000

     

  2. Selanjutnya Nama Lengkap, Bukti Transfer, Alamat Pengiriman Buku, dan Nomor Telepon yang bisa dihubungi bisa di Email ke vonnysusilo.zh@gmail.com
  3. Harap teman2 dapat mencantumkan Alamat Pengiriman Lengkap dengan Kode Pos dan Nomor Telepon yang aktif untuk mempermudah proses pengiriman.
  4. Selanjutnya kami akan mengirimkan email konfirmasi mengenai tanggal pengiriman buku ke alamat dan softcopy Excel Time Value of Money dan Investasi beserta Password untuk membuka file ke alamat email anda

Apabila ada yang ingin ditanyakan bisa langsung di bagian comment.

Demikian atas perhatian dan dukungannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Sumber Data : Panin Asset Management, Yahoo Finance dan www.infovesta.com

  1. arisona
    February 13th, 2015 at 13:05 | #1

    Halo Pak!

    Senang baca blognya bapak, apalagi respon kepada pembaca juga okeeee..

    Anyway, nanya dong paaakk..
    Saya baru akhir-akhir ini tercerahkan untuk menambah investasi di reksadana (sebelumnya sudah tapi jumlah nya tidak signifikan). Berdasarkan perhitungan finplan saya, sejumlah beberapa ratus juta (wuihh, gaya ya, pdhl angka boongan) mesti dimasukkan ke dalam reksadana untuk mencapai tujuan di masa depan. Nah masalahnya, angka bulk amount itu sungguh tidak nyaman rasanya (buat suami) untuk dimasukkan ke dalam reksadana yg mana suami tersayang belum menguasai sepenuhnya produk tsb (dan skill invest rd saya pun belum oke oke bgt).

    Mnurut bapak solusinya gimana doong?apa masukkinnya dispread selama beberapa tahun? apakah ada instrumen lain yg bs memberi return seperti reksadana saham, tapi risikonya kurang lebih sama?

    Demikian pakkk,, makasih banyak yaa..
    Keep on writing ya pak, trimmsss

  2. Rudiyanto
    February 13th, 2015 at 16:19 | #2

    @arisona
    Selamat Sore Ibu Arisona,

    Kalau persoalannya adalah suami anda, saya punya 2 solusi.
    Pertama, bilang sama dia, Duitku ya Duitku, Duitmu ya Duitku juga. Jadi persoalan nyaman atau tidak nyaman sudah selesai. Kemudian, sering2 ikut Workshop berdua. Karena pada prinsipnya, Kalau Suami itu WORK, Maka istri itu SHOP.

    Solusi kedua, anda bisa melakukan investasi secara berkala (autodebet) dan berdoa hasil reksa dana saham pada tahun anda melakukan investasi, positif. Bagi banyak orang SEEING is BELIEVING, ketika investasi menunjukkan hasil keuntungan, maka akan timbul niat untuk memasukkan hasil lebih banyak. Sayangnya cara ini akan back fired kalau ternyata hasil investasi negatif. Jadi penekanan jangka panjang harus ada.

    Kalau secara autodebet, anda tinggal minta Financial Planner hitung lagi, kalau tidak bulk, maka masuk secara berkala berapa setiap bulan. Anda juga bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Alternatif dari reksa dana saham, ya saham langsung. Tapi akan sedikit lebih berisiko.

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

  3. Oscar
    February 13th, 2015 at 19:26 | #3

    Selamat Malam Pak Rudy…

    Setelah melihat hasil RD di infovesta, tampaknya RD campuran jika dibandingkan dengan RD saham untuk periode tertentu (1 thn, 3 thn, 5 thn) ada yang tingkat return nya lebih baik dari RD jenis saham, bukankah RD saham mempunyai tingkat risk dan return yang lebih tinggi dari RD campuran sehingga return nya pun mesti lebih tinggi. Kebetulan saya baru 4 bulan ini membeli RDU sehingga saya berpikir apakah jika membeli RD campuran mungkin lebih baik dari pada RD saham karena toh bisa menghasilkan return yang lebih baik.

  4. Rudiyanto
    February 15th, 2015 at 14:51 | #4

    @Oscar
    Selamat Siang Pak Oscar,

    Yang namanya reksa dana campuran di Indonesia, berarti sesuai dengan peraturan berarti dalam setiap waktu harus memiliki instrumen saham, obligasi dan pasar uang serta maksimal 79% pada masing-masing instrumennya.

    Penerapan peraturan tersebut terkadang bisa berbeda antara Manajer Investasi yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, ada reksa dana campuran yang memaksimalkan komposisi saham atau obligasinya sehingga kinerjanya sudah mirip dengan reksa dana saham atau pendapatan tetap yang komposisinya di saham dan obligasi minimal 80%. Ada juga Manajer Investasi yang menyusun portofolio reksa dana campuran dengan komposisi yang benar2 berimbang.

    Dengan kondisi di atas, terkadang untuk reksa dana campuran yang komposisinya 79% di saham kinerjanya bisa sama atau bahkan lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Namun itu berarti ketika kinerja saham sedang kurang baik, maka kinerjannya juga akan turun cukup dalam sama seperti reksa dana saham.

    Ada pula kondisi dimana kinerja saham kurang begitu baik, namun di waktu yang sama kinerja obligasi malah lebih baik. Maka meskipun komposisinya berimbang, dalam suatu waktu kinerja reksa dana campuran bisa lebih baik dari reksa dana saham.

    Untuk itu dibutuhkan pemahaman akan reksa dana campuran itu sendiri, terutama di kebijakan manajer investasinya, apakah banyak di saham, obligasi atau komposisinya berimbang.

    Pada prinsipnya reksa dana campuran cocok utk tujuan 3- 5 tahun sementara reksa dana saham cocok untuk > 5 tahun.

    Semoga bermanfaat.

  5. Teguh
    March 2nd, 2016 at 10:00 | #5

    Selamat pagi Pak Rudi,

    Setelah membaca tulisan bapak, saya tertarik untuk mencoba investasi di RD

    Namun saya masih sangat awam,
    Saya seorang karyawan dengan estimasi masa pensiun sekitar 56th
    usia saya saat ini 28th,
    dana yg rencananya mau saya alokasikan tiap bulan kira2 2jt

    Menurut bapak instrumen RD apa yg cocok untuk bisa saya gunakan dalam 15th kedepan?
    dengan menganalisah resiko, apakah saya harus membagi plafon investasi ke beberapa instrumen RD?

    Mohon masukan dan sarannya

    Thanks..

  6. Rudiyanto
    March 4th, 2016 at 00:19 | #6

    @Teguh
    Selamat Malam Pak Teguh,

    Senang sekali ada calon investor reksa dana yang baru.
    Untuk instrumen yang cocok, rule of thumb menurut saya adalah jika tujuan keuangannya
    5 tahun = Reksa Dana Saham

    Dengan tujuan hari tua yang 15 tahun ke depan maka jenis reksa dana yang cocok adalah reksa dana saham.

    Mengenai analisa risiko dan pembagian ke beberapa instrumen reksa dana, sebenarnya yang harus dilakukan adalah menghitung dulu untuk mencapai tujuan pensiun anda berapa yang harus diinvestasi. Misalkan jika butuhnya 1,5 juta per bulan, maka cukup segitu di reksa dana saham sisanya baru di reksa dana lain atau bahkan bila perlu tidak diinvestasikan. Namun jika yang dibutuhkan lebih dari 2 juta, maka membagi ke beberapa jenis cuma akan menghambat pencapaian jangka panjang anda.

    Untuk referensi berapa kebutuhan pensiunya bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/03/28/panduan-mempersiapkan-pensiun-dengan-reksa-dana/

    Semoga informasi ini bermanfaat

  7. Rendy
    April 3rd, 2016 at 06:34 | #7

    Selamat Pagi Pak Rudi,
    Saya tertarik sekali dengan tulisan-tulisan Pak Rudi mengenai persiapan keuangan masa depan melalui investasi reksa dana, kebetulan saya baru memulai investasi di reksa dana sejak Februari 2016. Saat ini saya memiliki 2 produk reksa dana saham yang salah satunya adalah produk PAM. Menurut bapak, kalau saya memiliki tujuan menikah pada tahun 2020 (4 tahun lagi) dengan estimasi biaya pernikahan 100 juta apakah tepat saya memilih RD Saham?

    Kalau tidak, Produk RD apa dari panin yang cocok buat saya dan berapa jumlah investasi (berkala) yang mesti saya alokasikan?

    Terima kasih Pak Rudi

  8. Rudiyanto
    April 4th, 2016 at 17:12 | #8

    @Rendy
    Selamat Sore Pak Rendy,

    Kalau untuk tujuan keuangan 4 tahun, memilih reksa dana saham itu kurang tepat karena yang lebih sesuai adalah reksa dana campuran.

    Di Panin AM tersedia reksa dana campuran mulai dari :
    Panin Dana Prioritas dengan strategi investasi di saham maks 30%
    Panin Dana Syariah Berimbang dengan investasi di saham maks 50%
    Panin Dana Unggulan dengan investasi di saham sekitar 60 – 70%
    Panin Dana Bersama Plus dengan investasi di saham sekitar 70 – 79%

    Jadi dari campuran yang konservatif sampai dengan agresif ada. Otomatis reksa dana yang semakin agresif maka asumsi returnnya juga makin tinggi demikian pula dengan risikonya.

    Mengenai jenis reksa dana apa yang cocok, anda bisa menggunakan kalkukator keuangan dengan menghitung berapa yang dibutuhkan investasinya setiap bulan / sekaligus berdasarkan asumsi return. Sebagai gambaran saja, asumsi return untuk pasar uang adalah di 11% – 15%.

    Untuk reksa dana campuran yang konservatif, maka asumsinya bisa 11 atau 12% dan semakin agresif semakin tinggi. Anda bisa mencoba simulasinya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Alternatifnya, anda bisa menghubungi tenaga penjual untuk melakukan simulasi tersebut untuk anda.

    Semoga bermanfaat dan semoga pernikahan anda kelak bahagia dan sejahtera.

  9. June 22nd, 2016 at 08:47 | #9

    apakah bukunya masih ada pak? soalnya saya pernah baca bukunya sudah habis. kalau masih ada mohon kabari saya ke email ya pak , makasih banyak

  10. Rudiyanto
    June 26th, 2016 at 13:42 | #10

    @Lilis Tintin Fatimah
    Selamat Siang Ibu Lilis,

    Bukunya masih ada bu, bisa lihat di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/pesan-buku-rudiyanto/pesan-buku-rudiyanto-paket/

    Semoga bermanfaat

  11. darmo
    August 1st, 2016 at 11:47 | #11

    investasi tanah atau properti nilainya keuntungannya pasti lebih besar dari Reksadana, tapi kebanyakan orang gak punya modal atau uang untuk beli properti secara langsung, bagusnya kita ikut reksadana autodebet perbulan, untuk melatih kedisiplinan menyimpan uang, terlepas dari untung rugi selama 1-3 tahun, rugipun juga gak akan besar, habis itu bila cukup beli tanah bisa diambil untuk dibelikan tanah..itu pengalaman saya

  12. Rudiyanto
    August 2nd, 2016 at 20:35 | #12

    @darmo
    Salam pak Darmo,

    Terima kasih atas sharing pengalamannya

  13. adi mulyadi
    September 6th, 2016 at 10:59 | #13

    Salam pak rudi
    saya adi karyawan swasta.
    saya orang awam yg belum memahami reksadana. Saya berencana ikut investasi reksadana dengan berkala perbula 250 -300.
    Saya ingin minta pendapat dari bapak apa yg harus saya lakukan utk memulai reksadana ?

    Terima kasih,
    Salam

    Adi

  14. Rudiyanto
    September 12th, 2016 at 15:07 | #14

    @adi mulyadi
    Salam Pak Adi Mulyadi,

    Untuk memulai reksa dana cukup sederhana pak, cukup punya tabungan di bank dan KTP saja. Karena anda masih awam dan butuh penjelasan, saran saya anda bisa menghubungi tenaga pemasar untuk menjelaskan kepada anda.

    Untuk investasi reksa dana di Panin Asset Management bisa anda :
    1. Email ke cs@panin-am.co.id dan informasikan nomor kontak anda yang bisa dihubungi atau
    2. Via WA ke CS Panin AM di 081806990633 minta dihubungi untuk penjelasan tata cara menjadi investor

    Proses ini tidak dikenakan biaya dan jika lokasi anda bisa dijangkau oleh cabang, nanti akan ada tenaga pemasar yang berkunjung. Jika di luar lokasi cabang, pembelian bisa dilakukan secara online.

    Semoga bermanfaat

  15. Monik
    November 12th, 2018 at 16:14 | #15

    Selamat Sore Pak Rudi,

    Mau tanya, berapa besaran % di contoh tabel bapak, untuk tertinggi, rata2, terendah?

  16. Rudiyanto
    November 15th, 2018 at 21:37 | #16

    @Monik
    Selamat malam bu Monik,

    Pertanyaan yang bagus, kamu bisa hitung manual dengan menggunakan fungsi Rate pada Excel.
    Masukkan -Rp 1 juta sebagai Payment, angka hasil akhir sebagai FV, jumlah bulan sebagai NPER, dan 1 sebagai type (pembayaran di awal) maka akan didapat angka rate of return per bulan. Kemudian angka tersebut disetahunkan dengan metode bunga berbunga (annualized), dengan cara tambah 1, pangkatkan 12 kemudian minus 1.

    Perlu diperhatikan bahwa angka tersebut dihitung dengan menggunakan data hingga 2013 dimana kinerja saham sedang baik-baiknya. Jika memasukkan hingga 2018, kemungkinan angka rate of return tersebut akan menurun. Dengan kata lain, riset ini memang perlu dibuat lagi dengan data terbaru.

    Semoga bermanfaat

  17. Maria
    August 15th, 2019 at 10:21 | #17

    Selamat siang Pak,

    Saya sudah membeli RD di Panin Management. Saya ikut RD Saham Maxima. Ikut bulanan autodebet dg nilai tertentu misalnya 100 ribu/bulan.

    Sekarang ini saya ingin meningkatan jumlah keikutsertaan saya setiap bulannya sehingga menjadi 200 rb/bulan.

    Lalu saya menghubungi Marketingnya, dan katanya kalau saya ingin menabung di RD Maxima menjadi 200 rb/bulannya, maka account lama harus dibatalkan dan dibuat account baru. Atau solusi/opsi kedua : top up saja setiap bulannya menjadi 200 rb.

    Kalau setiap top up kan biaya pembeliannya 2% sedangkan kalau ikut autodebet biaya pembeliannya 1%.

    Pertanyaan saya : apakah nasabah harus membatalkan account lamanya bila akan meningkatkan/menurunkan tabungan bulannya?

  18. Rudiyanto
    August 15th, 2019 at 11:47 | #18

    @Maria
    Selamat siang ibu Maria,

    Sebelumnya terima kasih atas kepercayaannya dengan menjadi nasabah Panin Asset Management.

    Sehubungan dengan perubahan nominal autodebet, perlu saya jelaskan tentang cara kerjanya.

    Autodebet Panin AM bekerja sama dengan 4 bank yaitu BRI, BCA, Mandiri dan Panin. Ke empat bank tersebut bukan agen penjual, hanya menyediakan fasilitas pembayaran melalui autodebet. Agen penjualnya adalah Panin AM langsung.

    Supaya autodebet bisa berjalan, maka nasabah memberikan surat kuasa terbatas dengan instruksi yang sangat spesifik kepada Panin AM, yaitu memperbolehkan Panin AM untuk mendebet sejumlah Rp 100.000 (contoh anda di atas), setiap tanggal xx, selama xx tahun atau sampai tanggal sekian, dan ke rekening reksa dana tertentu.

    Surat kuasa terbatas itu karena memiliki kekuatan hukum, harus diserahkan dalam format asli (tidak bisa scan / fotokopi), dengan tanda tangan di atas materai. Hal ini juga demi keamanan nasabah.

    Jadi meskipun menerima surat kuasa, Panin AM hanya bisa menjalankan sesuai instruksi dalam surat kuasa saja. Itupun terkadang proses pendaftarannya bisa memakan waktu karena perlu verifikasi tanda tangan dari Bank yang menjalankan autodebet. Beda tanda tangan sedikit saja bisa dikembalikan dan ditolak.

    Nah, ketika nasabah ingin mengubah nominal dan atau waktunya, Panin AM hanya bisa menjalankan sesuai dengan surat kuasa lama. Untuk itu, perlu dilakukan pembatalan terhadap surat kuasa lama dan membuat surat kuasa baru.

    Hal ini tentu butuh proses seperti surat kuasa dengan tanda tangan materai lagi dan pengisian formulir autodebet. Sekali lagi ini demi keamanan nasabah, karena pemberian kuasa untuk debet rekening tidak boleh sembarangan.

    Idealnya memang ibu Maria melakukan perubahan surat kuasa. Atau saya bisa juga menyarankan di opsi ketiga yaitu melakukan AutoInvest dari Panin Dana Likuid.

    Jadi AutoInvest cara kerjanya seperti Autodebet, tapi sumber dananya berasal dari reksa dana pasar uang yaitu Panin Dana Likuid. Reksa dana ini pada dasarnya hampir tidak ada risiko penurunan, bisa dicairkan cepat (T+1 hari sudah masuk ke rekening), tidak ada biaya beli dan jual, dan tingkat bunganya setara dengan deposito di perbankan.

    Untuk AutoInvest, karena sumber dananya dari reksa dana pasar uang, tidak diperlukan surat kuasa dari bank. Anda bisa melakukan setting sendiri pada saat log in. Tanggalnya juga bebas, tidak ada batasan 1, 8 dan 16. Untuk fee juga kompetitif, dimana kalau Autodebet sampai dengan Rp 1 juta dikenakan 2%, di atas 1 juta baru 1%, untuk AutoInvest flat 1% untuk semua nominal.

    Jadi yang perlu dilakukan adalah melakukan penyetoran dana ke Panin Dana Likuid atau Panin Dana Likuid Syariah, kemudian setting tanggal AutoInvest setiap tanggal berapa di log in. Tidak perlu kertas dan surat kuasa. Bisa juga ke banyak reksa dana sekaligus.

    Untuk penyetoran dana ke Panin Dana Likuid atau Panin Dana Likuid Syariah, bisa dengan cara top up manual atau dengan cara autodebet dari rekening tabungan.

    Silakan ditanyakan lagi atau ada yang kurang jelas, atau bisa juga bertanya ke marketing atau Customer Service Panin AM di Whatapps nomor 0818 06990622 atau 0818 06990633 atau chatting di http://www.reksadanapanin.co.id (bagian kanan bawah ada tombol live chat).

    Semoga bermanfaat

  19. Maria
    August 16th, 2019 at 10:15 | #19

    Selamat pagi Pak….

    Penjelasan sudah cukup jelas. Beruntung sekali saya menemukan web ini, bisa bertanya2 ttg RD buat saya yang masih awam
    Walaupun penemuan saya ini agak terlambat (-:

    Rencananya saya mau beli RD lagi untuk dana pensiun saya Pak. Mohon petunjuknya ya Pak.

    Apakah pemahaman saya tepat tidak ya untuk menambah RD (apakah bila Bapak ingin membeli RD apakah pemikiran saya ini bisa juga dipakai gitu maksudnya):
    1. Memilih RD itu dilihat dari :
    * Lamanya RD itu berdiri (mis berdiri di tahun 2000 -an)? –> berarti kan setlle gitu Pak, sudah melewati beberapa waktu dan sampai saat ini masih bertahan
    Atau memilih RD berdiri baru beberapa tahun(< 5 tahun) tapi sudah masuk 5 besar RD terbaik dalam tahun ini misalnya dan menghasilkan % besar dari RD itu dipasarkan?

    * Apakah dilihat juga dari % sejak RD itu dipasarkan/perdana

    2. Apakah NAB yang tinggi itu baik ya Pak? Atau sebaiknya membeli NAB yang masih kecil?

    Demikianlah Pak pertanyaan dari saya. Dan terima kasih atas masukkannya.

  20. Rudiyanto
    August 22nd, 2019 at 10:41 | #20

    @Maria
    Selamat Pagi Ibu Maria,

    Sehubungan dengan pertimbangan anda dalam berinvestasi di reksa dana :
    1. Setelah sekian tahun berkecimpung dalam industri ini, usia suatu reksa dana memang bisa menunjukkan apakah suatu perusahaan berhasil “survive” dalam industri ini. Namun itu tidak selalu sejalan dengan kinerja. Dalam beberapa tahun itu, biasanya kinerja reksa dana pernah mengalami masa yang bagus, masa yang kurang bagus, ataupun yang biasa-biasa saja.

    Dengan semakin banyaknya reksa dana yang beredar di pasaran saat ini, tidak tertutup kemungkinan suatu reksa dana tidak mampu untuk “survive” sehingga ditutup karena dana kelolaannya kurang dari persyaratan atau dirasakan tidak ekonomis lagi bagi perusahaan sudah dilanjutkan.

    Memilih reksa dana yang “survive” dalam jangka panjang untuk tujuan jangka panjang tidak salah juga. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada jaminan kinerjanya akan selalu yang bagus. Karena “survive” dan bagus adalah 2 hal yang berbeda, meskipun ya yang survive itu kalaupun tidak bagus2 amat tapi paling tidak rata-rata.

    Terkait memilih reksa dana terbaik performanya, perlu diperhatikan bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Reksa dana yang terbaik pada saat ini, secara statistik akan sangat sulit mengulang pada tahun berikutnya.

    Sejauh ini baru ada 2 reksa dana yang mampu mengulang jawara return dalam 1 tahun. Tapi sebagai informasi, 1 dari 2 reksa dana tersebut sudah ganti nama https://rudiyanto.blog/2014/06/22/buy-and-hold-vs-market-timing-studi-kasus-mengejar-return-no-1/ nama perusahaan alias berganti manajemen.

    2. NAB tinggi atau rendah juga bukan jaminan kinerja akan baik atau buruk, tapi yang perlu dilihat itu persentase performancenya. Persentase performance juga tidak baik lihat dari awal, tapi lihat tahun per tahun. Pada saat IHSG sedang turun bagaimana dan saat IHSG sedang naik bagaimana.

    Sebab kalau lihat harga saat ini dibandingkan harga perdana, bisa saja kelihatan besar tapi tidak bisa melihat kinerja dari tahun ke tahun.

    Intinya yang bisa saya sampaikan terkait pemilihan reksa dana untuk kebutuhan pensiun itu tidak ada teori atau cara yang pasti. Saran saya anda bisa pilih 2-3 reksa dana yang berbeda untuk diversifikasi dan yang paling penting anda merasa nyaman dengan perusahaan / produk reks adana tersebut. Kemudian lakukan investasi berkala dalam jangka panjang.

    Semoga bermanfaat

Comment pages


%d bloggers like this: