Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Apakah Ada Reksa Dana Saham Yang (Konsisten) Mengalahkan IHSG ?

Apakah Ada Reksa Dana Saham Yang (Konsisten) Mengalahkan IHSG ?

Konsistensi Kinerja

Membeli produk reksa dana yang “Terbaik” adalah Keinginan dari banyak investor. Walaupun pada kenyataannya lebih banyak investor yang berinvestasi pada produk yang mereka “Percaya” dan mudah untuk diakses,  tetap ada “harapan” bahwa investasinya bisa menjadi produk dengan kinerja terbaik.

Untuk itu, investor biasanya akan mencari tahu produk reksa dana mana yang menjadi jawara pada tahun sebelumnya. Jika kebetulan produk yang menjadi jawara tersebut adalah produk dari perusahaan yang mereka percaya dan akses untuk membeli produk ini juga mudah, maka bukan tidak mungkin reksa dana ini menjadi incaran para investor.

Perilaku di atas juga sebenarnya terjadi dalam investasi saham. Dimana investor beramai-ramai berinvestasi pada saham tertentu yang “Hot”. Tingginya minat masyarakat akan membuat harga saham semakin melambung tinggi. Perilaku ini, dalam teori keuangan disebut dengan Herding Behaviour.

Efek negatif dari Herding Behaviour adalah ketika harapan positif yang terdapat pada saham berubah menjadi negatif, maka investor akan beramai-ramai menjual saham tersebut. Harganya akan turun jauh di bawah harga yang seharusnya karena tekanan jual yang begitu besar. Untungnya efek negatif dari Herding Behaviour ini tidak terjadi di reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena harga reksa dana saham tidak ditentukan oleh banyaknya investor yang menjual atau membeli saham tersebut.

Harga reksa dana saham ditentukan oleh isi portofolio dan kinerja Manajer Investasi yang menjadi pengelola reksa dana tersebut. Satu-satunya efek negatif dari Herding Behaviour pada reksa dana saham ini adalah investor mungkin akan sangat kecewa jika ternyata reksa dana yang dijagokan ternyata tidak berhasil mengulangi kejayaan pada tahun sebelumnya. Hal ini tidak akan sampai menyebabkan investor rugi, namun karena kecewa, maka reksa dana tersebut sudah dijual setelah investasi 1 tahun. Padahal idealnya investasi saham di atas 5 tahun sehingga tujuan keuangannya tidak tercapai.

Nah, tentu sangat menarik, apabila bisa dibuktikan bahwa jika suatu reksa dana saham bisa menjadi jawara pada suatu tahun, maka reksa dana tersebut akan kembali menjadi jawara pada tahun berikutnya. Kita tidak perlu pusing-pusing memilih reksa dana, cukup pilih reksa dana yang jadi jawara pada tahun sebelumnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya melakukan penelitian terhadap seluruh reksa dana saham dengan menggunakan data 10 tahun terakhir. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan… Tertarik? silakan baca terus artikel ini.

Tahapan Penelitian

Untuk menjawab pertanyaan di atas, beberapa langkah yang saya lakukan sebagai berikut:

1. Mendefinisikan Reksa Dana Jawara

Dari pengalaman saya bertahun-tahun di dunia investasi, hampir mustahil rasanya jika ada suatu reksa dana yang menjadi ranking satu berturut-turut selama beberapa tahun dari sisi return. Hampir setiap tahun selalu ada reksa dana yang menduduki peringkat return nomor satu dengan keunikannya masing-masing. Sedikit lebih mudah untuk menemukan reksa dana yang pada tahun ini berhasil mengalahkan IHSG, oleh karena itu saya mengganti definisi reksa dana jawara adalah reksa dana yang mampu memberikan tingkat return mengalahkan IHSG.

Reksa dana yang returnnya lebih tinggi daripada IHSG belum tentu merupakan reksa dana yang returnnya paling tinggi, namun reksa dana yang paling tinggi sudah tentu returnnya lebih tinggi daripada return IHSG. Sampai saat ini, setiap tahun selalu ada reksa dana yang returnnya lebih tinggi dibandingkan IHSG.

Jadi arah penelitiannya adalah mencari tahu apakah ada reksa dana saham yang returnnya mampu mengalahkan IHSG pada suatu tahun, juga akan konsisten mengalahkan IHSG pada tahun berikut. Reksa Dana Saham yang paling konsisten mengalahkan IHSG bisa disebut sebagai reksa dana jawara.

2. Mengumpulkan data dan mendefinisikan batasan

Dengan melakukan akses ke www.infovesta.com, selanjutnya saya mengambil data return seluruh reksa dana dari 31 Desember 2003 – 31 Desember 2013. Return tahunan yang akan saya gunakan sebagai acuan adalah data 10 tahun terakhir. Saya berharap dengan menggunakan data 10 tahun terakhir, konsistensi dari kinerja suatu reksa dana saham bisa terlihat. Saya juga mengambil data indeks pembanding yaitu return Indeks Reksa Dana Saham dan Indeks LQ-45.

Untuk reksa dana yang tidak memiliki data hingga 10 tahun ke belakang, maka tidak dimasukkan dalam penelitian. Reksa dana yang sesuai dengan kriteria di atas dan masih aktif hingga saat ini total ada 13 reksa dana yaitu:

Nama
Axa Citradinamis
BNI-AM Dana Berkembang
BNP Paribas Ekuitas
BNP Paribas Pesona
Bahana Dana Prima
Batavia Dana Saham
Danareksa Mawar
Manulife Dana Saham
Panin Dana Maksima
Rencana Cerdas
Schroder Dana Prestasi
Schroder Dana Prestasi Plus
TRIM Kapital

3. Membandingkan tingkat return reksa dana dengan IHSG

Dari data yang tersedia, kemudian dibuat perbandingan antara return reksa dana dengan return IHSG. Kemudian saya juga menghitung berapa kali suatu reksa dana mengalahkan IHSG dalam 1 tahun. Karena terdapat 13 reksa dana dengan masing-masing memiliki return tahunan 10 tahun, total terdapat 130 data (13 x 10). Jika hasilnya 100x, berarti kemungkinan reksa dana saham yang usianya > 10 tahun untuk mengalahkan IHSG adalah 100 / 130 = 77%. Semakin tinggi persentase ini semakin baik, dan sebaliknya.

Hasil perhitungannya sebagai berikut di bawah ini. Untuk mempermudah analisa, saya memberikan warna hijau pada tabel yang artinya return reksa dana / indeks > IHSG. Sementara yang polos adalah jika tingkat returnnya < IHSG pada tahun tersebut.

Konsistensi Kinerja RDS 10 Tahun

Analisa dan Kesimpulan

Berdasarkan data di atas, kesimpulan dari hasil analisa saya antara lain:

  1. TIDAK ADA reksa dana saham yang mampu secara konsisten mengalahkan IHSG karena pasti ada tahun dimana kinerja reksa dana saham di bawah IHSG.
  2. Dari total 130 data return tahunan, terdapat 65 return tahunan yang lebih baik daripada IHSG. 65 / 130 = 0.5 = 50%, artinya jika kita berinvestasi pada salah satu reksa dana yang telah berusia di atas 10 tahun, maka peluang return reksa dana tersebut mampu mengalahkan IHSG adalah fifty-fifty.
  3. Kebanyakan reksa dana mampu mengalahkan IHSG itu terjadi antara tahun 2004 – 2009. Semakin ke sini semakin sulit. Artinya tingkat kesulitan untuk mengelola reksa dana saham semakin sulit dari waktu ke waktu. Dibutuhkan effort yang semakin besar untuk bisa menghasilkan tingkat return yang tinggi bagi investor. Jadi, investor yang menginginkan hasil di atas rata-rata perlu lebih selektif dalam memilih reksa dana.
  4. Secara rata-rata baik Infovesta Equity Fund Index yang mencerminkan rata-rata reksa dana saham di seluruh Indonesia ataupun LQ-45 yang menggambarkan 45 saham paling likuid, ternyata masing-masing hanya mampu mengalahkan IHSG 3 kali dan 2 kali dalam 10 tahun terakhir. Jadi, banyak reksa dana saham sebetulnya underperform dibandingkan IHSG. Mengekor 45 saham yang paling likuid juga bukan jaminan bisa mengalahkan IHSG.
  5. Jika kita mendefinisikan reksa dana jawara adalah reksa dana yang paling sering mengalahkan IHSG, maka penghargaan ini bisa disematkan kepada Panin Dana Maksima dan Trim Kapital. Sebab kedua reksa dana mampu mengalahkan IHSG 7 dari 10 tahun terakhir, lebih tinggi dibandingkan reksa dana saham lainnya.

Demikian artikel saya, semoga bermanfaat bagi anda dalam investasi reksa dana. Perlu diingat bahwa kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang di masa yang akan datang. Jadi tidak ada jaminan juga reksa dana yang lebih sering mengalahkan IHSG akan lebih baik dan sebaliknya. Pilihan reksa dana sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi risiko.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Sumber Data : www.infovesta.com

  1. Teguh
    January 17th, 2014 at 17:39 | #1

    Untung ada tulisan bapak ini. saya memang senang dengan Rd yg konsisten mengalahkan pasar. Tidak perlu menghasilkan return yg luar biasa tapi ternyata hanya berlaku ‘one shoot’ kemudian kinerjanya melempem.
    Hebatnya lagi bapak bisa membandingkan sampai 10 thn kebelakang. Sedangkan saya melalui bloomberg hanya bisa mendapatkan data 5 thn kebelakang.
    Beberapa pertanyaan Pak Rudiyanto:
    1. Adakah website yg bisa memberikan informasi kinerja Reksadana sampai 10 thn kebelakang seperti informasi yg bapak miliki?
    2. Apakah trend semakin sulit mengalahkan pasar berlaku juga di pasar modal yg matang seperti di Amerika pada masa lalu?
    3.Kalo boleh usul Pak Rudiyanto. Melihat semakin sulitnya mengalahkan pasar. Nampaknya ada baiknya Panin mengeluarkan RD indeks sebagai alternatif berinvestasi.
    Terima kasih Pak Rudiyanto

  2. Rudiyanto
    January 17th, 2014 at 18:07 | #2

    @Teguh
    Salam Teguh,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Silakan lihat sumber data di atas.
    2. Sepertinya demikian, tapi saya tidak punya datanya.
    3. Terima kasih atas masukannya. Namun untuk saat ini, bisa saya katakan bahwa jika membuat reksa dana indeks, agak melenceng dari filosofi perusahaan yang selalu berusaha memberikan hasil di atas IHSG. Secara strategi pemasaran, reksa dana indeks juga gampang ditiru. Jadi nilai tambahnya sangat kecil.

    Semoga bermanfaat.

  3. Daniel
    January 18th, 2014 at 17:30 | #3

    wah bagus juga penelitiannya nih pak…
    klo boleh dan ada waktu pak Rudy, bikin juga donk untuk reksadana yang 5 tahun ke belakang….
    trims pak…

  4. Rudiyanto
    January 18th, 2014 at 20:54 | #4

    @Daniel
    Boleh, materi yang 5 tahun hanya akan saya share dalam event ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/06/event-workshop-reksa-dana-dan-market-outlook-2014/

    Kalau tertarik bisa datang, terima kasih

  5. daniel
    January 20th, 2014 at 17:59 | #5

    pengen sih pak utk datang ke acara itu, tp jauh dr medan. kmrn waktu acara di medan sbnernya pengen hadir tp pas lg tugas luar kota.

    • Rudiyanto
      January 20th, 2014 at 18:09 | #6

      Wah kalau begitu anda belum beruntung. Mungkin di kesempatan lain.

  6. niko
    January 21st, 2014 at 14:47 | #7

    Halo pak Rudi, kenapa dari pengarang Robert Kiyosaki (pengarang buku rich dad poor dad) berkata bahwa nilai NAB/Up juga ditentukan oleh penjualan dan pembelian reksa dana tersebut, seperti halnya hukum pasar secara umum, semakin byk yg beli harga akan semakin tinggi juga sebaliknya. Hal itu yg dikhawatirkan oleh Robert Kiyosaki yg bisa menyebabkan krisis finansial berikutnya yg dimulai dari penarikan dana dari reksa dana secara besar2an di amerika oleh para pensiunan baby boomers nya. Bagaimana sudut pandang dari pak Rudi mengenai hal tersebut?
    Terima kasih.

  7. Rudiyanto
    January 21st, 2014 at 15:48 | #8

    @niko
    Salam Niko,

    Kalau terkait hal tersebut berarti dia mengasumsikan bahwa pensiunan baby boomers itu adalah mayoritas dari investor reksa dana di seluruh Amerika dan harga saham / obligasi tersebut hanya dibeli oleh kelompok investor tersebut saja. Jika memang benar demikian, maka ketika mereka menarik dananya, hal yang dia sebutkan bisa saja terjadi.

    Tapi saya tidak percaya, karena investor di Amerika itu bukan hanya pensiunan, dan juga bukan hanya penduduk AS saja tapi datang dari seluruh dunia. Jadi kalau hanya berasumsi aksi dari sekelompok investor tersebut bisa mempengaruhi pasar, rasanya terlalu berlebihan.

    Demikian menurut saya, semoga bermanfaat.

  8. ariseto
    January 21st, 2014 at 17:31 | #9

    Tulisan yang menarik Pak Rudi. Saya ingin memperdalam bagian ini: ” . . .peluang return reksa dana tersebut mampu mengalahkan IHSG adalah fifty-fifty.”

    Bagaimana peluang jika return IHSG di-adjust dengan faktor penambahan dividen pak seperti halnya di reksadana yang memasukkan faktor dividen yang direinvestasikan?

    Just wondering, kalau kita buat reksadana indeks, reksadana tersebut kan dapat mereinvestasikan dividen yang didapatnya sehingga pada akhirnya return reksadana indeks tersebut dapat diatas IHSG dong yah?

    Lebih jauh kalau obyek penelitiannya dipanjangkan hingga 20 tahun, menurut perkiraan Pak Rudi peluang reksadana dapat mengalahkan IHSG lebih kecil atau lebih besar?

    Terima Kasih

  9. Rudiyanto
    January 21st, 2014 at 18:03 | #10

    @ariseto
    Salam Ariseto,

    Kalau sepengetahuan saya, dividen IHSG itu paling sekitar 1-2%, rasa-rasanya tidak banyak yang berubah dengan memasukkan angka tersebut. Sebab saya lihat selisih reksa dana yang mengalahkan IHSG rata-rata di atas angka tersebut. Yah paling jadi Fifty Two Fourty Eight.

    Kemudian reksa dana indeks, dari data di atas kan sudah terlihat, indeks LQ-45 saja kan sudah 8 kali kalah dengan IHSG. Kalau acuannya itu, bukankah reksa dana indeks sendiri tidak menarik? Kalaupun ditambahkan dividen, paling juga cuma mendekati.

    Kalau 20 tahun, data reksa dananya belum ada karena reksa dana saham pertama terbitnya tahun 97an. Mulai banyak 2006 ke atas. Selain itu, marketnya juga belum berkembang seperti sekarang. Jadi menurut saya datanya mungkin akan kurang valid.

    Semoga bermanfaat.

  10. January 22nd, 2014 at 07:50 | #11

    Apalagi kalau RD Saham memperhitungkan faktor biaya, pasti kinerja RD Saham lebih banyak lagi yang lebih rendah dari IHSG. Data ini menunjukkan makin pentingnya Indeks Funds, yang mimic IHSG, di Indonesia. Sayang Indeks Funds belum ada di Indonesia.

    Kenapa kalau kita lihat fact-sheet’ Reksadana Saham, semuanya menunjukkan kinerja RD yang lebih tinggi dari IHSG? Apakah ada ketidakkonsistenan dalam menampilkan data di fact-sheet?

  11. boglehead
    January 22nd, 2014 at 08:22 | #12

    Salam Pak Rudi,

    Rata-rata dividen ihsg 10Y sekitar 2.5% p.a dan lq45 sekitar 3% p.a, namun jika di-reinvestasi dengan tingkat yield yang sama selama 10 tahun tambahan return dari dividen saja dapat berkisar 28%-34%. Hasilnya tentu akan (jauh) lebih tinggi jika deviden tersebut di-reinvestasikan ke pasar. Saya pernah meneliti hanya sedikit (sekali) reksadana yang dapat mengalahkan IHSG adjusted dividen. Panin Dana Maksima memang salah satu jawaranya untuk 10 tahun terakhir, vulcan salute :)

    Betul, reksadana indeks lq45 memang tidak sebaik IHSG karena konstruksinya lebih terkonsentrasi di bigcap dan saham-saham yang (sekedar) liquid. Namun jika kelak ada reksadana indeks kompas100 atau reksadana indeks yang konstituennya lebih banyak, saya rasa akan jadi game changer bagi industri. Saat ini saja tidak banyak reksadana yang dapat mengalahkan indeks kompas100 (excluding dividend)….

    Dan oleh karena alpha wars belum berakhr, tidak ada yang tahu, 10 tahun ke depan reksadana mana yang dapat (konsisten) mengulang keberhasilannya kembali mengalahkan pasar seperti 10 tahun sebelumnya. Tentunya akan lebih menantang dan lebih seru alpha wars daripada star wars.

    Terima kasih, sukses selalu untuk Pak Rudi.

  12. donnysa
    January 22nd, 2014 at 09:29 | #13

    Salam pak Rudi,

    Cukup menarik bahasan bapak bahwa tidak ada yg konsisten mengalahkan market dalam 10 tahun terakhir menyimpulkan bahwa “the client is the loser”, inilah yang harus disadarkan oleh market participant (fund management + client) bahwa sayangnya tujuan mereka berbeda-beda. Si Fund Management (FM) akan dikompensasikan tidak pada “kinerja” yang mereka hasilkan, tetapi lebih kepada “persentase total Asset Under Management (AUM)”, sehingga mereka harus memperbesar faktor AUM agar fee yang mereka dapat lebih tinggi. Seiring dengan industri FM yang semakin profitable, pencarian excess return akan menjadi lebih sulit, oleh karenanya ketimbang memperbesar AUM dari sisi alpha, FM akan dihadapkan pada persaingan antar FM lain untuk mencari “short-term relative performance” dengan harapan nama mereka tidak jatuh di mata investor sehingga semakin banyak investor (institusi) yang menanamkan dana investasinya dan AUM FM pun akan semakin tebal. Adalah sangat sulit untuk maintain long-term view ketika dihadapkan pada punishment yang diberikan investor (institusi) yakni mengurangi investasinya pada FM tertentu yang memiliki kinerja relatif di bawah FM lain.

    Indexing memang satu strategi yang cukup efisien, ketimbang mencoba2 mengalahkan market, lebih baik kinerja FM dibuat mengikuti indeks (indexing), paling tidak FM tidak dihadapkan pada penalti oleh investor ketika kinerjanya jauh di bawah indeks, nama besar juga tidak akan menjadi buruk, jika deviasinya tidak jauh di bawah indeks (diabaikan investor). Namun seperti strategi pada umumnya, semakin banyak investor (atau FM) yang melakukan strategi indexing, semakin tidak efisien market tersebut dikarenakan semakin sedikit investor yang melakukan analisa fundamental secara menyeluruh.
    Dalam jangka yang ekstrim, jika mayoritas market participant melakukan strategi indexing, harga saham tidak akan berubah (market tidak bergerak kemana-kemana karena tidak ada yang menggerakkan saham, semua orang bergantung pada indeks itu sendiri).
    Problem lainnya, ketika satu atau lebih saham dari konstituen indeks tersebut harus diganti dengan saham lain, indexers yang difitrahkan untuk fully invested pada indeks benchmarknya, in order to match the index performance, saham yang keluar (atau masuk) harus segera di jual (atau dibeli) oleh mayoritas investor (FM +klien), nothing fundamental has changed. Even untuk saham-saham yang sudah underperform di indeks lalu di punish untuk keluar, saham tersebut akan semakin underperform demi “matching the index”

  13. hda
    January 22nd, 2014 at 11:30 | #14

    Salam kenal Pak Rudi,

    Semoga semuanya dalam kondisi sehat dan baik2 saja. Tidak ada yg terkena dampak banjir. Saya mohon bantuan masukannya. Apakah mungkin suatu RD contoh kasus panin dana maksima yg NABnya sudah demikian tinggi bisa anjlok sampai ke titik terendah? Apakah mungkin karena sudah jenuh sehingga tidak bisa naik lagi NABnya? Mengapa demikian?
    Mohon Pak Rudi bisa membantu kesulitan saya ini. Terimakasih sebelumnya.

    Salam kenal,

    HDA

  14. Rudiyanto
    January 22nd, 2014 at 12:01 | #15

    @boglehead
    Salam Ariseto,

    Saya tidak menampik bahwa return dividen bisa menambah tingkat return IHSG secara total. Namun meski saya menyebut 1 – 2% atau berdasarkan penelitian anda 2.5%, saya terus terang meragukan angka tersebut, termasuk angka yang saya sebutkan sendiri. Sebab menurut saya perhitungan dividen return di Indonesia ataupun yang ada di bloomberg tidak jelas.

    Untuk lebih detailnya anda bisa baca artikel saya tentang income investing di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/26/dividendinvesting/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/06/20/strategi-investasi-income-investing-2-mengenal-dividend-yield/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/06/28/strategi-income-investing-3-mencari-saham-dengan-dividend-yield-setara-deposito/

    Kemudian terkait data Kompas 100 karena belum baru, return tahunan yang bisa saya dapatkan adalah dari 2008 dan perbandingan dengan IHSG sbb:
    2008 -52.77% – Kalah
    2009 +85.11% – Kalah
    2010 +40.53% – Kalah
    2011 +0.52% – Kalah
    2012 +9.37% – Kalah
    2013 -3.82% – Kalah

    Indeks ini bahkan lebih parah dari LQ45 karena tidak pernah menang. Jadi kalau menggunakan indeks ini sebagai acuan apakah anda sebagai investor mau membelinya?

    Terima kasih atas komentar berharga yang anda berikan. Semoga kelak semakin banyak reksa dana yang bisa konsisten mengalahkan pasar.

  15. Rudiyanto
    January 22nd, 2014 at 12:40 | #16

    @donnysa
    Salam Donnysa,

    Terima kasih atas insight berharga yang anda berikan. Kalau boleh saya menebak, kemungkinan anda adalah orang yang bekerja di dunia asset management atau bahkan seorang fund manager. Sebab view seperti ini menurut saya hanya bisa datang dari orang yang “mengerti”. Boleh dikoreksi kalau salah.

    Kalau boleh saya beri masukan, menurut saya, apa yang terkadang “kurang” dari “orang-orang pintar” yang bekerja di dunia asset management ini adalah mereka “kurang bisa” mengganti “baju” mereka untuk berpikir dari sudut pandang investor. Memang saya sendiri juga tidak mampu sepenuhnya, namun jika saya adalah seorang investor, maka pola pikir saya kurang lebih seperti ini:

    1. Reksa dana yang bagus itu tidak harus bisa “beat market” secara konsisten atau jadi nomor satu selalu kok. Asalkan bisa 2 kali deposito, atau pas lagi rugi yah bolehlah asal tidak jauh selisihnya sama IHSG, masih bisa ditolerir. Buktinya Manajer Investasi yang reksa dananya nomor satu, bukan yang paling besar bukan? Jadi kalaupun kalah dengan IHSG, menurut saya tidak semua investor akan merasa dirinya loser. Kalau kerja kita bukan di pasar modal, apakah kita mantengin IHSG setiap hari atau mana reksa dana yang returnnya top setiap hari? bukankah pekerjaan kita sehari-hari juga sudah banyak?

    2. Reksa dana yang bagus itu, kalau teman2, saudara, rekan bisnis, juga cerita mereka punya produk itu. Nah saya jadi yakin belinya. Kemudian pelayanannya bagus, bangunan cabang agen penjual terlihat dan ada dimana-mana, marketingnya profesional, mau tarik dan investnya gampang tapi tetap memberikan rasa aman, sering memberikan penjelasan, dll. Singkatnya “Service”. Tidak hanya return semata.

    Kalau reksa dana harus bisa membuktikan konsistensinya menurut saya mungkin benar kalau saya adalah investor institusi. Sebab buat investor institusi, hasil memang penting tapi pertanggung jawaban lebih penting lagi.

    Artinya keputusan investasi yang saya buat sudah ada “dasarnya”. Cara yang paling gampang untuk membuat dasar ya, dari Rating misalnya, dari perbandingan dengan IHSG, perbandingan dengan reksa dana lain atau yang paling dasar, antara return aktual dengan target return yang ditetapkan terhadap reksa dana tersebut.

    Susah kalau hanya mengklaim return dua kali deposito sebagai kinerja bagus sementara target tidak tercapai atau ada ratusan reksa dana lain yang lebih baik. Return reksa dana kurang baik, tapi ada ratusan reksa dana lain yang kinerjanya lebih jelek lagi, masih bisa dibuat pertanggung jawabannya.

    Jadi membuat “ekspektasi yang wajar” adalah kuncinya. Jika sejak awal kita menjual dengan menjanjikan return yang tinggi atau peringkat nomor 1, ketika semua itu tidak terjadi maka nasabah institusi akan menarik returnnya dan menurut saya itu wajar. Namun jika pendekatan sejak awal adalah strategi investasi yang disepakati kedua pihak dan dalam pelaksanaannya sesuai, maka ketika return agak kalah dibandingkan Manajer Investasi lain, kepercayaan masih terjaga – atau paling tidak begitulah saya berpikir kalau saya adalah investor institusi. Mau retail ataupun institusi, tetap harus kembali ke dasar, bisnis reksa dana = bisnis kepercayaan.

    Memang benar, profit manajer investasi ditentukan oleh jumlah dana kelolaan dan bukan returnnya. Tapi kalau returnnya memble tentu jumlah dana kelolaan juga susah naik bukan? Jadi seperti telur dan ayam, kalau mau buat nasi padang dimasak gulai bersama-sama.

    Kemudian terkait reksa dana indeks, memang benar, reksa dana indeks sendiri juga tidak mudah dan ada kendala teknis seperti yang anda kemukakan. Tapi sebagai investor, apa menariknya suatu reksa dana indeks ya? wong dimana-mana juga ada jual dengan kinerja yang sama. Kan paling hanya beda kemasan?

    Sebagai marketing di perusahaan Manajer Investasi, lebih pusing lagi, bagaimana memasarkannya? produknya sama persis dan tidak ada nilai tambah. Kalaupun laku, tinggal butuh hitungan hari untuk bisa di copy paste ama pesaing.

    Kesimpulannya, penciptaan alpha tetap penting karena merupakan nilai tambah yang unik bagi suatu perusahaan meskipun tidak mudah. Namun di satu sisi, pemasar juga harus bisa “membentuk ekspektasi yang wajar” dengan demikian ada hubungan yang berkelanjutan antara investor dengan manajer investasi dan bukan hanya kencan satu malam saja atau istilahnya one shoot seperti bahasanya ahli pasar modal.

    Semoga sharing ini bermanfaat. Terima kasih.

  16. Rudiyanto
    January 22nd, 2014 at 12:44 | #17

    @hda
    Salam Kenal Juga HDA,

    Menurut saya kamu harus baca dulu beberapa artikel lama ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/01/back-to-basic-memahami-proses-terbentuknya-reksa-dana/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/18/back-to-basic-memahami-proses-transaksi-reksa-dana/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/11/09/back-to-basic-memahami-mekanisme-naik-turunnya-harga-reksa-dana/

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Dan terima kasih atas perhatiannya, kebetulan tempat saya tidak terlalu terkena dampak banjir.

  17. ariseto
    January 22nd, 2014 at 15:24 | #18

    Menarik Pak Rudi,

    Perspektif kita sedikit berbeda karena saya melihatnya akumulasi total return sejak kompas100 berdiri (agustus,2007) dibandingkan dengan LQ45, bukan sisi konsistensinya mengalahkan IHSG. Berikut komparasi total return sejak Agustus 2007 – Desember 2013 antar ketiga indeks:

    1. JCI Index: Price Change* (+64%), Total Return** (+125%)
    2. KOMPAS Index: Price Change* (+95%), Total Return** (+92%)
    3. LQ45 Index: Price Change* (+55%), Total Return** (+83%)
    *Hanya perubahan harga
    **Termasuk reinvestasi deviden
    source:Bloomberg, ticker: COMP

    Kalau berbasis akumulasi total return tersebut, terlihat kompas100 lebih baik dari LQ45, meski tidak sebaik IHSG. Dan kalau kita bandingkan peluang seluruh total reksadana (dengan memasukkan pula reksadana-reksadana yang sudah dilikuidasi) pada periode tersebut, saya perkirakan peluangnya tidak 50:50 atau 52:48 tapi lebih kecil dari itu.

    Di atas semua itu, harapan kita sama Pak, semoga semakin banyak reksadana-reksadana bisa mengalahkan pasar, meski itu tidak mudah, swarm intelligent.

    Terima Kasih atas feedback yang diberikan.

  18. ariseto
    January 22nd, 2014 at 15:28 | #19

    Maaf sdikit ralat :D (Price change JCI tertukar dengan Kompas)

    Komparasi total return sejak Agustus 2007 – Desember 2013 antar ketiga indeks:
    1. JCI Index: Price Change* (+95%), Total Return** (+125%)
    2. KOMPAS Index: Price Change* (+64%), Total Return** (+92%)
    3. LQ45 Index: Price Change* (+55%), Total Return** (+83%)
    *Hanya perubahan harga
    **Termasuk reinvestasi deviden
    source:Bloomberg, ticker: COMP

    CMIIW.

  19. Rudiyanto
    January 23rd, 2014 at 09:24 | #20

    @ariseto
    Terima kasih atas input berharga yang diberikan. Komentar saya:
    1. Saya menambahkan return IHSG dengan asumsi dividen 2.5% yang kamu sebutkan pada data di atas. Hasilnya dari 130 data, ada 54 data yang berhasil mengalahkan IHSG dan 76 data tidak. Kalau dibuat rasio dengan angka total 100%, berarti hasilnya 41.5 : 58.5. Namun sekali lagi, angka itu berlaku jika asumsi dividen return itu benar.
    Kemudian kalau memasukkan data-data reksa dana lama, sekali lagi itu juga menurut saya tidak sepenuhnya benar. Saya terpaksa harus mengeluarkan Phinisi Dana Saham yang dikelola Manulife Asset Management dari riset di atas karena reksa dana tersebut sudah tidak aktif di 2014. Padahal reksa dana ini memiliki statistik bagus seperti halnya Trim Kapital dan Panin Dana Maksima yaitu 7 dari 10. Jadi belum tentu reksa dana saham yang sudah dilikuidasi selama proses tersebut kinerjanya lebih kurang baik, selain itu datanya juga tidak banyak.
    2. Saya tidak menampik bahwa dividen return bisa menambah total return IHSG, namun saya meragukan angka tersebut karena:
    a. Perhitungannya tidak jelas seperti yang saya kemukakan dalam artikel saya
    b. Tidak semua saham membagikan dividen
    c. Ada juga saham yang dikeluarkan dari perhitungan IHSG karena delisting, tidak aktif dan lain sebagainya. Jadi jika mau fair dengan menambahkan dividen ke total return ke IHSG, maka harus fair juga memasukkan faktor tersebut yang menurunkan total return IHSG.
    3. Dalam konteks artikel di atas, yang mengukur konsistensi kinerja reksa dana saham berdasarkan kinerja tahun per tahun, maka melihat total return menjadi tidak relavan. Sebab total return yang tinggi bisa saja merupakan hasil one shoot yang sangat tinggi di satu tahun namun kurang bagus di tahun2 lainnya.
    4. Apapun indeks yang digunakan, entah itu Kompas100, LQ45 ataupun indeks lainnya kalau kinerjanya di bawah IHSG, dari sudut pandang nasabah, bukankah itu malah menurunkan standar? bukankah seharusnya Manajer Investasi dan tim risetnya yang digaji tinggi tersebut menentukan standar tinggi yang bisa mengalahkan IHSG bukan mencari standar yang lebih rendah?

    Saya sangat sependapat dengan anda bahwa seharusnya semakin banyak reksa dana yang berusaha untuk bisa mengalahkan pasar, sebab hal ini akan menjadi nilai tambah bagi nasabah dan industri.

    Sekali lagi, terima kasih atas masukan anda yang berharga.

  20. January 25th, 2014 at 20:59 | #21

    postingannya sangat bermanfaat Pak Rudi.
    semoga saja semakin banyak produk2 mutual fund yang berkinerja di atas IHSG

  21. vida
    February 20th, 2014 at 17:54 | #22

    bapak, apakah benar ada perbedaan cara menghitung NAB di Indonesia dgn luar negeri?
    di Indonesia NAB reksadana saham didasarkan pada potensi harga pasar meskipun tdk menjual saham tsb, sedangkan di AS didasarkan pada realisasi harga pasar sehingga hanya memasukkan perubahan harga pasar yang sahamnya telah dijual? tolong dijelaskan. Jika benar darimana saya bisa mendapatkan sumber perbedaan regulasi ini? mohon dijawab karena untuk tugas akhir saya Pak, terima kasih banyak.

  22. Rudiyanto
    February 20th, 2014 at 18:55 | #23

    @vida
    Salam Vida, boleh tahu darimana kamu mendapat informasi tersebut?

  23. Ria
    February 20th, 2014 at 20:46 | #24

    Pak Rudi saya pernah membaca jurnal luar tentang adanya kinerja yang persistence di sana, apakah persistence sama dengan konsisten? Mengapa di Indonesia (sesuai penelitian Bapak ini) tidak ada kinerja konsisten seperti itu?

  24. Rudiyanto
    February 21st, 2014 at 09:39 | #25

    @Ria
    Salam Ria,

    Sepertinya perlu dibedakan antara pengukuran kinerja dengan kinerja nyata.
    Kalau pengukuran kinerja persistence yang kamu maksud itu, perlu dibaca dulu apakah sama dengan konsisten atau tidak. Tapi kemungkinan sama, tapi bisa saja metode pengukurannya berbeda.

    Kemudian terkait tidak ada kinerja konsisten, saya yakin di luar negeri juga tidak ada reksa dana yang bisa mengalahkan market secara konsisten dalam jangka panjang.

    Jadi tidak ada metode pengukuran dan tidak ada yang konsisten merupakan 2 hal yang berbeda.

    Semoga bermanfaat.

  25. GerryGusta
    March 4th, 2014 at 11:47 | #26

    Selamat Siang Pak Rudi,
    Saya pernah mengikuti seminar pak rudi di gedung kompas 8 feb 2014, presentasi yang sangat menarik dan membuka cakrawala saya ttg peluang investasi reksadana kedepannya.
    Saya saat ini sedang menulis thesis dan mencari ide, saya rasa penelitian yang dilakukan pak rudi bisa jadi topik pembahasan saya,
    mohon pencerahan

    Terimakasih

  26. Rudiyanto
    March 4th, 2014 at 13:10 | #27

    @GerryGusta
    Salam Gerry,

    Yang mau dicerahkan itu apa ya?

  27. rima
    March 5th, 2014 at 13:04 | #28

    bisa di list untuk RD campuran, RD pasar uang dan RD pendapatan tetapnya? trims

  28. Rudiyanto
    March 5th, 2014 at 13:28 | #29

    @rima
    Anda bisa berlangganan http://www.infovesta.com untuk data yang lengkap dan akurat.
    Kalau per masing2 Manajer Investasi bisa dilihat website, sebagai contoh untuk PAM di http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx pilih return tahunan.

    Trims

  29. rima
    March 7th, 2014 at 11:57 | #30

    salam pak,

    kalo mau tahu list reksadana campuran dan reksadana pasar uang yang lulus uji mengalahkan IHSG dmn ya? apa bapak punya listnya

    makasih ya pak

  30. Rudiyanto
    March 8th, 2014 at 13:47 | #31

    @rima
    Salam Rima,

    Anda bisa melakukan riset dengan menggunakan data di http://www.infovesta.com
    Semoga bermanfaat.

  31. Rizal
    March 25th, 2014 at 15:23 | #32

    @Rudiyanto
    Kalau IHSG dimasukkan DIviden, sekitar 2%/tahun, saya kira peluang mengalahkan IHSG semakin kecil (kurang dari 50%). hitungan saya kurang dari 15% reksadana diatas 7 tahun yg bisa mengalahkan IHSG. moral cerita: lebih baik lempar koin (peluang-nya 50-50).

  32. Anton
    December 30th, 2014 at 07:43 | #33

    Selamat pagi pak Rudi, ada bbrp pertanyaan sy utk bpk sbb :
    1. Apa bedanya return reksadana VS nilai NAB/UP ? Kmd kalo return angkanya positif apakah artinya total investasi kita akan meningkat atau return tsb di transfer ke rekening investor ?
    2. Apa reksadana panin ada deviden, kalau ada bgm mekanisme pembayaran kpd investor?
    3. Bgmn kita tau total investasi kita di reksadana panin setelah sekian waktu ? Apakah di Panin setiap investor dpt laporan total investasi masing2 investor atau bgm?

  33. Rudiyanto
    January 1st, 2015 at 11:44 | #34

    @Anton
    Selamat Siang Pak Anton,

    1. Return reksa dana merupakan tingkat keuntungan / kerugian yang dihasilkan jika anda berinvestasi pada periode tertentu misalkan Januari 2014 – Desember 2014. Untuk menghitung besaran keuntungan atau kerugian, digunakan NAB/Up yang merupakan “harga” daripada reksa dana. Asumsinya jika anda beli di Januari 2014 harganya atau NAB/Upnya berapa dan kemudian jual di Desember 2014 harga atau NAB/Upnya, kalau selisihnya harganya positif (beli < jual) disebut untung dan sebaliknya disebut rugi. Penggunaan persentase sifatnya memudahkan karena reksa dana harganya berbeda-beda. Dengan mempersentasekan kenaikan / penurunannya, antar reksa dana bisa dibandingkan secara adil.

    Dan benar, jika angka returnnya positif, berarti hasil investasi kita meningkat. Yang salah itu, adalah hasil keuntungannya tidak ditransfer ke investor. Bayangkan saja seperti anda beli emas, ketika beli harga Rp 500rb per gram, kemudian harganya naik menjadi Rp 515rb per gram, apakah ANTAM akan mentransfer 15rb ke rekening anda? Tentu tidak, keuntungan tersebut anda dapatkan kalau dijual, begitu juga dengan reksa dana.

    2. Semua reksa dana yang berinvestasi pada saham, akan mendapatkan dividen jika saham tersebut membagikannya. Namun dalam praktek, dividen tersebut tidak diteruskan ke investor, akan tetapi direinvestasikan kembali. Artinya uang tersebut diputar lagi untuk membeli saham lainnya sehingga secara total NAB/Up harga reksa dana akan naik. Praktek di atas dilakukan oleh (mungkin) semua pengelola reksa dana jenis saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang. Ada satu jenis reksa dana yang membagikan dividen yaitu reksa dana terproteksi, Panin Asset Management saat ini tidak menawarkan jenis reksa dana ini.

    3. Anda bisa lihat harga atau NAB/Up yang dipublikasikan di koran atau website infovesta setiap harinya. Kalikan harga tersebut dengan Unit Penyertaan yang anda miliki, itulah nilai investasi anda. Cara paling gampang, kamu akses ke website http://www.panin-am.co.id, disana anda bisa melakukan pengecekan saldo setiap harinya.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  34. Dada
    January 24th, 2015 at 08:33 | #35

    @Rudiyanto
    Maaf, saya ingin bertanya tentang RD Indeks ini, Pak Rudi.

    Kalau memang dia tidak menguntungkan bagi MI, kenapa Vanguard yg mempelopori RD jenis itu masih bisa bertahan jadi yg no.1 sampai sekarang dengan dana kelolaan terakhir lebih dari US$3 trillion ya? Terima kasih.

  35. Rudiyanto
    January 27th, 2015 at 14:44 | #36

    @Dada
    Salam Dada,

    Sebelumnya kita perlu memperjelas definisi “Tidak Menguntungkan” tersebut. Sebab reksa dana indeks, itu seharusnya “kurang menguntungkan” sebab kalau tidak menguntungkan = rugi.

    Sebagai contoh, Danareksa Mawar Konsumer 10 yang merupakan reksa dana konvensional dengan target mengalahkan pasar memiliki biaya manajemen sebesar 3% per tahun. http://reksadana.danareksaonline.com/media/6969/mawar-konsumer-10-des-14-.pdf

    Sementara Danareksa Indeks Syariah yang merupakan reksa dana indeks dengan target menyamai Indeks Syariah Acuan memiliki biaya manajemen sebesar 1# per tahun.
    http://reksadana.danareksaonline.com/media/6975/dinar-des-14-.pdf

    Secara bisnis, menurut saya gaji untuk analis dan manajer investasi dan persentase komisi untuk marketing untuk kedua reksa dana yang dikelola secara aktif dan indeks tersebut rasanya tidak berbeda. Dengan perbandingan biaya manajemen tersebut berarti, Dana kelolaan Rp 100 Milliar di reksa dana konvensional setara dengan Rp 300 Milliar di reksa dana indeks. Padahal effort untuk mengumpulkan dan mengelola Rp 100 Milliar di kedua reksa dana tersebut rasanya sama susahnya.

    Kemudian dari aspek pemasaran reksa dana indeks tersebut di Indonesia, katakanlah sekarang ada 1 perusahaan yang sukses membuat reksa dana indeks. Perusahaan kompetitor bisa dengan mudah membuat produk yang serupa karena tidak memerlukan keahlian yang sangat besar untuk menyusun portofolio untuk bisa mengalahkan indeks. Dan ketika sudah banyak produk serupa, bagaimana membedakan produk tersebut dibandingkan produk lainnya sehingga menjadi pilihan masyarakat ? Kalau kamu tanya saya, terus terang dengan kondisi produk dan kinerja reksa dana yang ada di Indonesia saat ini, saya sendiri yang berpengalaman sebagai business development di salah satu asset manajemen di Indonesia tidak punya jawaban yang meyakinkan.

    Atas dasar kedua hal itulah, menurut saya reksa dana indeks agak sulit untuk berkembang di Indonesia dan kurang menguntungkan secara bisnis bagi Manajer Investasi.

    Pertanyaannya mengapa di AS reksa dana tersebut bisa berkembang, menurut saya harus kamu baca secara detail. Vanguard memang memiliki produk reksa dana indeks, tapi mereka juga memiliki reksa dana konvensional. Total produk yang dikelola lebih dari 280 produk di Amerika dan dunia. Anda bisa melihat websitenya di https://institutional.vanguard.com/VGApp/iip/institutional/csa/investments/aggregateviews/all?structure=fund&flip=1100&acv=false

    Artinya meskipun mereka merupakan Manajer Investasi pertama yang memperkenalkan reksa dana indeks, bukan berarti semua reksa dana mereka adalah reksa dana indeks. Mengenai berapa porsinya saya kurang tahu karena harus dicek terlebih dahulu.

    Mengapa dana kelolaan suatu Manajer Investasi bisa besar? sesuai dengan artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/01/12/reksa-dana-trillion-club-2015/ bahwa dana yang besar merupakan kombinasi dari kinerja yang konsisten dan upaya pemasaran yang tidak mengenal lelah. Siapapun yang melakukan hal tersebut secara konsisten, maka akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Menurut saya, Vanguard melakukan hal tersebut dengan sangat baik.

    Dan mungkin saja kondisi pasar di sana amat berbeda dengan Indonesia, dimana mayoritas reksa dana saham kalah dengan indeks acuan. Di Indonesia, meski jumlahnya masih berimbang, tidak terlalu sulit untuk mencari reksa dana yang kinerja historis jangka pendek ataupun jangka panjang mengalahkan IHSG meskipun mungkin tidak konsisten setiap tahunnya. Sementara kalau di AS, sulit sekali sehingga reksa dana yang sama dengan indeks saja sudah termasuk reksa dana saham dengan kinerja yang paling top.

    Jangan dilupakan juga peran marketing. Sebagus apapun reksa dana, kalau tidak ditawarkan secara agresif dan bisa diakses dengan mudah, tetap saja sulit untuk berkembang.

    Demikian, semoga bermanfaat.

  36. James Handaja
    February 7th, 2015 at 20:32 | #37

    Selamat malam Pak Rudi,

    Saya menemukan kalimat yang membuat saya penasaran dalam artikel diatas, berikut kutipannya:

    “Kebanyakan reksa dana mampu mengalahkan IHSG itu terjadi antara tahun 2004 – 2009. Semakin ke sini semakin sulit. Artinya tingkat kesulitan untuk mengelola reksa dana saham semakin sulit dari waktu ke waktu.”

    Mengapa terjadi hal seperti demikian? Terima kasih untuk jawabannya.

  37. tomo
    February 9th, 2015 at 10:33 | #38

    pak saya lg bingung pih RD Panin Dana Maksima atau Panin Dana Ultima, dana awal 50jt untuk 5 – 10 tahun kedepan yg lebih menguntungkan kira2 yg mana ya?
    terima kasih

  38. Rudiyanto
    February 9th, 2015 at 11:29 | #39

    @James Handaja
    Selamat Siang James,

    Itu adalah tanda-tanda pasar yang semakin efisien. Dimana informasi yang dulunya hanya diketahui oleh sekelompok orang sekarang karena keterbukaan informasi dan majunya teknologi, bisa diketahui oleh banyak orang dan bahkan pada waktu yang relatif sema. Selain itu, semakin banyak orang yang berinvestasi dengan pengetahuan yang semakin baik, juga membuat harga saham semakin mencerminkan nilai yang sebenarnya. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapatkan harga saham yang dijual dengan murah akan semakin kecil. Begitu pula kemungkinan untuk menyusun portofolio yang mampu memberikan kinerja lebih baik dibandingkan IHSG.

    Kurang lebih seperti itu, semoga bermanfaat.

  39. Rudiyanto
    February 9th, 2015 at 11:44 | #40

    @tomo
    Selamat siang Tomo,

    Pada dasarnya, rekomendasi saya adalah 1 tujuan, 1 reksa dana. Untuk detailnya anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/06/09/panin-dana-maksima-prima-syariah-saham-atau-ultima-pilih-mana-2/

    Semoga bermanfaat.

  40. March 8th, 2015 at 14:41 | #41

    Ketika pasar semakin efisien, pergerakannya akan segendang seirama dengan pertumbuhan ekonomi ya pak?

    Jadi dikisaran 13% saja? (CAGR IHSG, ataupun gambaran inflasi 7-8% dan pertumbuhan ekonomi 5-6%)

  41. Rudiyanto
    March 9th, 2015 at 00:16 | #42

    @Yudhistya
    Salam Pak,

    Kalau yang dimaksud dengan pasar semakin efisien itu artinya kinerja reksa dana saham akan sama dengan IHSG. Sebab mengalahkan IHSG menjadi semakin sulit karena harga saham sudah di harga wajarnya.

    Mengenai Compounding Return IHSG, sebenarnya bervariasi. Tergantung berapa tahun anda melihatnya. Angkanya bisa dilihat pada http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx tabel Compound Return.

    Semoga bermanfaat.

  42. Andri
    March 18th, 2015 at 12:35 | #43

    artikel yang menarik sekali Pak, saya ingin menanyakan untuk reksa dana jawara pada artikel di atas diliat dari seberapa sering RD tersebut mengalahkan IHSG, namun apakah tidak sebaiknya juga dhitiung berdasarkan rata-rata return? sehingga bisa diukur dengan lebih akurat keunggulan reksa dana tersebut dibanding dengan yang lain

  43. Rudiyanto
    March 19th, 2015 at 22:53 | #44

    @Andri
    Salam Pak Andri,

    Artikel di atas bukan membahas tentang reksa dana jawara, tapi meneliti seberapa sering reksa dana saham yang sudah ada minimal sejak tahun 2004 berapa kali mereka mengalahkan IHSG.

    Mengenai rata-rata return, memang harus dihitung lagi secara compounding berapa rata-ratanya. Untuk reksa dana Panin AM, anda bisa melihat di http://www.panin-am.co.id/FundsAndPerformance.aspx di tab total compound return

    Kalau produk dari Manajer Investasi yang lain, anda bisa cek website masing-masing.

    Semoga bermanfaat.

  44. dhika
    January 5th, 2016 at 18:55 | #45

    pak rudi

    saat ini saya sudah berinvestasi di manulife dana saham , bagaimana caranya saya bila akan ikut investasi di Panin dana maksima ? apa di bank panin terdekat bisa pak ?

 


%d bloggers like this: