Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi > 5 Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2014

5 Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2014

Dalam investasi reksa dana, dikenal prinsip Pahami, Nikmati. Pahami potensi risikonya, Nikmati hasil investasinya. Kalimat tersebut mengandung himbauan kepada seluruh investor reksa dana untuk memahami seluruh potensi risiko reksa dana baru kemudian bisa dengan nyaman menikmati hasil investasinya.

Investasi di reksa dana merupakan kegiatan yang mengandung risiko. Salah satu bentuk yang paling umum adalah risiko penurunan nilai investasi. Kondisi harga saham dan obligasi yang kurang bersahabat di tahun 2013 ini telah membuat sebagian besar investor mengalami yang namanya risiko penurunan ini.

Risiko penurunan sama halnya dengan potensi kenaikan akan selalu ada. Sebagai investor reksa dana, pemahaman terhadap risiko sangat penting. Semakin kita paham akan konsep risiko dalam investasi, semakin siap kita dalam menghadapinya dan semakin bisa juga kita mendapatkan keuntungan daripadanya karena penurunan di bursa saham bisa jadi merupakan kesempatan untuk membeli di harga yang lebih rendah.

2014

Berikut ini adalah 5 hal yang harus dicermati oleh investor agar siap menjadi investor reksa dana pada tahun 2014

1.       Tapering Off oleh The Fed

Kebijakan pengurangan stimulus secara bertahap memang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan bursa pada tahun 2013. Sebelum kebijakan ini diumumkan asing secara bertahap menarik portofolio investasinya di Negara berkembang termasuk di Indonesia.

Per tahun 2013, data menunjukkan posisi net buy sell sudah – 25 triliun lebih. Artinya jumlah investasi yang ditarik bukan hanya dana yang masuk pada tahun ini saja, tapi juga dana yang ditarik pada investasi tahun-tahun sebelumnya.

Apakah hal ini berarti investor sudah mengantisipasi tapering yang lebih besar? Bisa jadi, sebagai informasi sejak isu digulirkan, pasar memprediksikan pengurangan sebesar 10 – 20 Milliar USD. Pada saat diumumkan baru dilakukan sebesar 10 Milliar USD. Dengan demikian, kondisi IHSG sekarang bisa dikatakan sudah mencerminkan kondisi tapering dalam skala yang lebih besar.

Rasa-rasanya tidak mungkin juga asing menarik “seluruh” investasi dari Indonesia mengingat tidak semua investasi dilakukan menggunakan dana stimulus, dan Indonesia sendiri masih merupakan tujuan investasi yang menarik dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang termasuk tinggi dibandingkan Negara lain.

Pengurangan stimulus (tapering) ini bisa dilihat dari 2 sisi, pertama berkurangnya dana untuk investasi bursa. Di sisi lain, terjadi pemulihan di Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia. Terjadinya pemulihan pada akhirnya akan merangsang konsumsi dan permintaan ekspor dari Negara berkembang seperti Indonesia.

2.       Pajak Obligasi Pada Reksa Dana

Di luar hal yang bersifat makro ekonomi, permasalahan pajak pada reksa dana juga menjadi perhatian sebagian besar investor. Dalam peraturan pemerintah no 16 tahun 2009, disebutkan bahwa atas penghasilan berupa bunga (kupon) dan atau diskonto obligasi yang diterima oleh reksa dana dikenakan pajak penghasilan 0% dari tahun 2009 – 2010, kemudian 5% untuk tahun 2011 – 2013 dan baru 15% (normal) pada tahun 2014 dan seterusnya.

Pemerintah dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang berkomitmen untuk memperjuangkan keringanan pajak reksa dana dengan tetap memberlakukan besaran pajak sebesar 5% hingga 2020, namun hingga artikel ini ditulis, belum ada peraturan resmi terkait hal tersebut. Mudah-mudahan pada saat artikel ini dipublikasikan, hal tersebut sudah terealisasi.

Namun yang saya cermati, ada sebagian investor yang salah dalam menerjemahkan peraturan perpajakan ini. Sebagian malah mengira reksa dana yang sebelumnya bukan objek pajak, malah akan dikenakan pajak pada tahun 2014.

Perlu diluruskan bahwa yang dibahas dalam peraturan ini adalah hasil investasi reksa dana di obligasi. Artinya sebagai orang-perseorangan, ketika berinvestasi di obligasi, atas penghasilan kupon dikenakan pajak 15%. Namun jika peraturan tersebut berhasil diwujudkan, maka jika reksa dana membeli obligasi, penghasilan kupon yang diterima hanya dikenakan pajak 5%. Hal ini akan membuat reksa dana lebih menarik karena mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi.

3.       Kondisi Inflasi dan Suku Bunga

Ada 2 hal yang menyebabkan kenaikan suku bunga pada tahun 2013. Pertama, imbas kenaikan harga BBM dan kenaikan beberapa harga barang kebutuhan hidup pada tahun lalu seperti harga daging sapi, kedelai dan cabe. Kedua, kondisi defisit neraca perdagangan membuat pemerintah ingin memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dengan harapan dapat menekan laju impor.

Secara historis dan teoritis, kenaikan suku bunga berefek negatif terhadap pasar saham dan obligasi dan sebaliknya ketika kondisi suku bunga turun, efeknya sangat positif. Oleh karena itu, apakah tahun 2014 suku bunga bisa turun atau tidak.

Mengacu ke pengalaman sebelumnya, efek inflasi akan mereda 1 tahun setelah terjadi kenaikan BBM. Dengan demikian, diperkirakan pada bulan Juli atau Agustus tahun depan, inflasi bisa menurun sehingga suku bunga berpeluang turun.

Sementara untuk kondisi Current Account Defisit (CAD), meski belum bisa pulih dengan cepat, namun kondisi terburuk sudah lewat. Diperkirakan permintaan ekspor bisa meningkat pada tahun depan karena pelemahan Rupiah dan Negara importir besar seperti Amerika dan Uni Eropa juga akan memasuki masa pemulihan.

4.       PEMILU dan Pilpres 2014

Meski PEMILU dan Pilpres menjadi kekhawatiran, saya malah menemukan suatu statistik yang menarik tentang kinerja IHSG di tahun Pemilihan Umum. Pada tahun PEMILU tahun 1999, IHSG naik 70.06%. Kemudian pada tahun 2004 yang menganut PEMILU dan Pilpres, IHSG kembali naik 44.56%. Tahun 2009 juga menjadi tahun yang gemilang untuk bursa karena naik 86.98%.

Dalam 3 periode PEMILU yang terakhir yang juga dilingkupi dengan ketidakpastian, ternyata IHSG mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Saya menduga, hal ini disebabkan karena kekhawatiran yang berlebihan, investor memilih wait and see.

Setelah pemenangnya sudah bisa dipastikan, investor mendapatkan kepastian sehingga bisa menjalankan kegiatan investasinya. Hal ini yang menurut saya membuat kenaikan IHSG cukup tinggi di tahun PEMILU. Meski demikian, perlu diingat bahwa kinerja masa lalu tidak menjadi acuan akan kembali terulang di masa mendatang.

5.       Valuasi dan Kinerja Emiten

Sebagai investor yang berbasis value investing, faktor valuasi merupakan hal yang penting. Untuk kinerja emiten 2014, diperkirakan tidak akan lebih baik dibandingkan dengan kinerja pada tahun 2014 karena kebijakan perlambatan ekonomi yang diambil oleh pemerintah.

Tingkat kenaikan laba bersih perusahaan yang berkisar antara 15% – 20% per tahun mungkin akan turun menjadi sekitar 12% – 15% pada tahun depan. Namun di satu sisi, pergerakan IHSG sudah stagnan selama 2013.

Dengan asumsi kinerja IHSG akan mencerminkan kenaikan laba bersih perusahaan yang terkandung di dalamnya, maka logikanya IHSG akan menyesuaikan kenaikan laba bersih 15% – 20% di tahun 2013 dan kenaikan 12% – 15% di tahun 2014. Berdasarkan asumsi tersebut, saya cukup optimistis kenaikan IHSG bisa naik minimal 20% pada tahun kuda ini. Untuk obligasi, apabila terjadi penurunan tingkat suku bunga, potensi kenaikan juga bisa di atas 10%.

2014 in Summary

Demikian artikel ini semoga bermanfaat bagi anda untuk lebih siap dalam menjadi investor reksa dana di tahun 2014 ini.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
  1. Darman
    January 2nd, 2014 at 15:39 | #1

    Pak Rudi,

    Jika tahun ini cicilan KPR akan memasuki bunga pasar (sebelumnya 2 tahun fix), mana yang sebaiknya dilakukan, memperkecil pokok hutang agar cicilan tidak naik terlalu besar, atau menginvestasikan dana tersebut di reksadana?

    Thanks.

  2. Rudiyanto
    January 3rd, 2014 at 09:38 | #2
  3. January 4th, 2014 at 20:07 | #3

    Artikel yang sgt menarik pak. Syukur pula bahwa pajak reksadana kini sdh diputuskan pada posisi 5%. Semoga semakin banyak rakyat Indonesia yang menikmati rezeki investasi reksadana.

  4. Lili
    January 15th, 2014 at 15:48 | #4

    Pak Rudi,
    Saat ini sy pnya indon42 (dl sy beli di hrg 98, dan menggunakan rp di rate 1 usd rp 9800). saat ini harga indo42 turun terus menjadi hrg 80-84. tlg pencerahanya, apakah lebih baik sy jual aja skrg ? sy takut hrg nya akan terus turun… apa yg hrs sy lakukan utk menghindari loss??
    trims sy mohon pencerahaan nya pak rudi..trims bnyk.

  5. Rudiyanto
    January 15th, 2014 at 15:54 | #5

    @Lili
    Salam Ibu Lili,

    Pada waktu beli, tujuannya apa? Mau pegang hingga jatuh tempo atau capital gain?

  6. January 20th, 2014 at 08:31 | #6

    terimakasih atas segala infonya smg bermanfaat utk semua.
    ada yg ingin saya tanyakan.

    bapak rudi bergabung di manajer investasi reksadana mana? ambil jenis reksadana apa? dan sudah berapa lama?
    terima kasih

  7. Sigit
    January 21st, 2014 at 09:27 | #7

    Pak Rudi penghasilan saya sebulan sekitar 3 jutaan, umur saya 24 tahun, belum menikah juga, pengen belajar investasi di reksadana nih, misal nih dalam jangka 5 taun saya pengen beli rumah, berapa yg minim saya harus sisihkan untuk investasi di reksadana ?

  8. Rudiyanto
    January 21st, 2014 at 13:10 | #8

    @Sigit
    Salam Sigit,

    Semangat yang bagus.. Sudah survei harga rumah yang mau dibeli berapa? Berapa DP dan Pinjamannya? Berapa cicilan per bulannya? Target investasinya buat bayar DP atau langsung lunas? Kapan mau punya rumah tersebut? Dan yang lebih penting sudah baca artikel ini ?
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Semoga bermanfaat

  9. Lili
    January 21st, 2014 at 21:40 | #9

    @Rudiyanto
    pak rudi, tadinya pd wkt beli indon42 harapan sy hrg bs naik shg sy dpt capital gain. sy tidak ada rencana pegang sampai jatuh tempo. Bagaimana baik nya pak rudi? apakah kedepannya bakal ada harapan hrg naik lg? tlg pencerahanya. trims

  10. Rudiyanto
    January 21st, 2014 at 22:07 | #10

    @Lili
    Salam Lili,

    Kalau memang mentalnya trader, berarti siap untung juga harus siap rugi. Sudah buat batasan akan cutloss di harga berapa?

  11. Sonny
    March 20th, 2014 at 21:35 | #11

    Pak Rudi.. Saya mau terjun ke dunia investasi seperti bapak.. Namun tidak ada pengalaman kerja sama skali di dunia investasi.. Kepengin ikut ujian cfa buat tambah keyakinan.. Yang saya mamu tanyakan,apakah gelar cfa benar2 penting? dan apa saya yg blm ada pengalaman di bidang investasi bisa diterima kerja di prusahaan investasi dengan di training dulu tentunya? Makasiih sebelumnya pak..

  12. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 00:53 | #12

    @Sonny
    Salam Sonny,

    Mau terjun ke dunia investasi itu definisinya sangat luas. Mau jadi apa? marketing, research, fund manager, admin, operation, legal, finance, accounting? semua bagian itu ada di perusahaan investasi.

    Kalau kamu baca lebih teliti persyaratan CFA, lulus ujian level 3 tidak menjamin kamu mendapat gelar tersebut. Kandidat juga harus punya pengalaman kerja di level manajerial selama beberapa tahun. Jadi rasanya agak jarang ada yang punya gelar CFA tanpa punya pengalaman kerja sama sekali.

    Semoga bermanfaat.

  13. sonny
    March 28th, 2014 at 03:30 | #13

    Terima kasih atas jawabanya pak.. Mau nanya lebih lanjut..
    Kalau boleh tau, apa saran bapak ya supaya bisa terjun dan diterima kerja di prusahaan investasi tanpa memiliki pengalaman kerja dan sertifikasi tentunya? Terima kasih.. Keinginan saya pgn jadi kayak bapak sih.. Haha

  14. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 08:55 | #14

    @sonny
    Mulai kerja dari bagian marketing saja. Biasanya ketentuan pengalaman kerja dan sertifikasi untuk bidang ini tidak ada. Sebagian besar karir saya dihabiskan di marketing dan research. Sampai sekarang kerjaan saya juga jualan kemana2. Semoga bermanfaat.

  15. ALIF
    March 29th, 2014 at 10:42 | #15

    Salam sukses pa rudi, menarik sekali dengan artikelnya. Kemarin Sya membeli reksadana saham dengan cara auto debet selam 1 tahun 8 bulan tujuan nya hanya untuk menabung karena jujur sya tipe orang yg ga mampu nyimpen uang ” boros”, saat ini sya sedang berburu reksadana yg lain dengan cara yg sama, krena sya berniat menginvestasikan 30 % dri gaji sya, saat ini bru 10% yg sya investasikan, apakah cara sudah tepat dlm berinvestasi mohon pencerahannya terima kasih.

  16. Rudiyanto
    March 31st, 2014 at 17:00 | #16

    @ALIF
    Salam Alif,

    Semangat anda untuk berinvestasi sudah bagus. Termasuk keinginan untuk menyisihkan 30% dari penghasilan anda. Namun caranya akan lebih bagus lagi kalau kamu sudah membuat rencana investasi yang SMART. Untuk referensinya bisa anda baca ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Mengutip salah satu twit, “Kamu tidak akan merasakan enaknya menang kalau kamu tidak tahu dimana garis finishnya” Berinvestasi tanpa tujuan, adalah investasi tanpa garis finish. Jadi tidak pernah bisa diukur itu benar / salah, bagus atau tidak.

    Semoga informasi ini bermanfaat.

  17. yusran
    June 1st, 2014 at 11:20 | #17

    slm pak rudi, sy sangat tertarik dng reksadana dan berencana membeli reksadana saham melalui bank mandiri dng auto debet tp sy belum paham apakah pembelian melalui auto debet punya batas waktu berapa lama autodebetnya

    ? dan kapAn serta bagaimana cara menjualnya. trimks

  18. Rudiyanto
    June 3rd, 2014 at 10:22 | #18

    @yusran
    Salam Yusran,

    Untuk pertanyaan mengenai prosedur pembelian dan penjualan, menurut saya akan lebih jelas kalau anda tanyakan langsung ke Agen Penjualnya.

    Kalau mengenai kapan menjualnya, adalah ketika tujuan anda tercapai. Kalau belum ada tujuan, bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Semoga bermanfaat.

  19. January 18th, 2016 at 16:08 | #19

    Salam Pak Rudi,
    saya tidk begitu faham dengan kredit, pas dulu mengajukan kredit rumah katanya fix, ternyata setelah 2 tahun kok cicilan naik mengikuti suku bunga ya pak…mohon sarannya
    terima kasih

  20. Rudiyanto
    January 18th, 2016 at 17:33 | #20

    @wikamsala
    Salam Pak Wikamsala,

    Coba diingat2 kembali pada saat akad kredit, dokumen yang anda tanda tangani tersebut isinya seperti apa. Saya yakin ketentuan mengenai bunga dicantumkan disitu. Paling baik dokumen tersebut dicari untuk dipastikan kembali.

    Semoga bermanfaat.

  21. January 19th, 2016 at 23:01 | #21

    Ada cara untuk orang indonesia membeli index fund amerika?

  22. Rudiyanto
    January 20th, 2016 at 21:32 | #22

    @Yudhis
    Bisa coba buka rekening di Singapore.
    Atau kalau investable asset anda di atas USD 500.000, tinggal tunggu saja karena akan ada investment banker dari luar negeri yang akan menghubungi anda.

 


%d bloggers like this: