Home > Aset Alokasi, Perencanaan Investasi > Antara Cost Averaging, Lump Sum dan Asset Allocation

Antara Cost Averaging, Lump Sum dan Asset Allocation

Kadang-kadang saya mendapat pertanyaan seperti ini:

  • Menurut anda, kalau usia saya sudah memasuki masa pensiun, sebaiknya berapa persen dari dana saya yang diinvestasikan?
  • Kalau profil risiko saya moderat apakah sebaiknya saya memiliki 50% (reksa dana) saham dan 50% obligasi?
  • Dengan kondisi market yang demikian volatil, apakah sebaiknya alokasi aset investor disesuaikan dengan memperbanyak porsi reksa dana pasar uang?

Yang saya simpulkan dari pertanyaan di atas adalah bahwa ternyata Aset Alokasi masih menjadi perhatian daripada investor sebelum melakukan investasi. Dan untuk membuat aset alokasi tersebut, investor sering menghubungkannya dengan tahapan kehidupan yang dia alami (life cycle), profil risiko, atau terkadang situasi ekonomi yang sedang berlaku. Menjelang awal tahun, sering dipublikasikan juga di media massa, aset alokasi yang direkomendasikan untuk investor dengan berbagai profil risiko tertentu. Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimanakah menerapkan aset alokasi tersebut jika kita juga melakukan investasi secara cost averaging atau lump sum?

Sebagai contoh, saat ini seorang investor sedang membuat perencanaan pensiun melalui investasi reksa dana. Berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, dia harus menginvestasikan kurang lebih sekitar Rp 2 juta setiap bulan agar gaya hidupnya dapat dipertahankan pada masa pensiun nanti. Namun karena profil risikonya moderat, maka idealnya harus berinvestasi di reksa dana campuran atau memiliki aset alokasi yang berimbang antara reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

Namun berdasarkan asumsi return yang moderat, maka setiap bulan setidaknya investor harus menyisihkan Rp 3 juta di reksa dana campuran atau gabungan antara Rp 1,5 juta pada masing-masing reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap. Permasalahannya kemampuan dia hanya sebesar Rp 2 juta setiap bulan. Dalam konteks seperti ini apakah aset alokasi masih relavan?

Apakah sebaiknya investor berinvestasi sesuai dengan profil risikonya akan tetapi mengalami risiko tidak mencapai tujuan keuangan atau berinvestasi pada instrumen yang diluar profilnya, namun tujuan dia kemungkinan besar akan lebih bisa tercapai?

Asset AllocationUntuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mendefinisikan terlebih dahulu apa itu aset alokasi. Aset Alokasi menurut Wikipedia didefinisikan sebagai berikut:

Asset allocation is an investment strategy that attempts to balance risk versus reward by adjusting the percentage of each asset in an investment portfolio according to the investor’s risk tolerance, goals and investment time frame

Berdasarkan definisi di atas, jelas bahwa Asset Allocation sendiri merupakan suatu strategi investasi. Artinya Asset Allocation, merupakan variasi lain dari strategi investasi yang kita kenal selama ini sebagaimana Strategi Investasi Lump Sum (Sekaligus di depan) dan Cost Averaging (Berkala / autodebet). Dan karena merupakan suatu strategi, maka ada kondisi yang cocok untuk menerapkan strategi tersebut, ada pula yang tidak. Seperti apakah kondisi yang cocok untuk penerapan strategi investasi di atas. Saya akan membahasnya satu per satu.

Strategi Cost Averaging dan Strategi Lump Sum

Strategi Cost Averaging dan Lump Sum adalah strategi investasi yang sangat dikenal oleh investor di Indonesia karena prakteknya sangat mudah. Untuk investor yang punya dana idle (menganggur) dan punya jangka waktu investasi yang masih panjang, daripada pusing2, langsung saja diinvestasikan sekaligus (lump sum) sambil berharap akan menghasilkan di masa mendatang. Bagi yang dana idlenya tidak banyak atau tidak ada sama sekali, namun setiap bulan mampu menyisihkan persentase dari gaji, maka setiap bulan secara rutin melakukan investasi (cost averaging).

Meski demikian, ada juga investor yang punya pandangan lain. Misalnya walaupun punya dana idle dalam jumlah besar, namun karena rajin (atau terlalu banyak) membaca koran dan mengetahui kondisi makro ekonomi, maka investasinya tidak dilakukan secara sekaligus tapi bertahap sambil mengawasi situasi pasar. Tidak jarang, akhirnya investasi tidak jadi dilakukan karena terlalu banyak berita kurang baik dan baru ikut ketika harga sudah naik tinggi.

Ada juga investor yang sumber utama dana investasi adalah gaji, namun memilih untuk memasukkan dananya sekaligus setelah dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu. Alasannya kurang lebih sama, mencari timing yang tepat untuk berinvestasi. Tidak jarang juga, akhirnya timing yang dipilih kurang tepat, dan mengalami kerugian cukup besar dalam jangka waktu pendek pada saat harga turun.

Di sini, saya tidak ingin membahas tentang market timing, sebab saya sendiri juga tidak yakin bisa memprediksi pasar dengan tepat. Namun yang ingin saya tekankan adalah perilaku investornya. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang investasi memang merupakan hal yang baik. Sesuai dengan prinsip dasar investasi reksa dana yaitu Pahami, Nikmati. Pahami risikonya, kemudian baru menikmati hasil keuntungannya.

Namun jangan dilupakan juga bahwa prinsip investasi reksa dana adalah mempercayakan kepada profesional yang dianggap lebih mampu daripada melakukan pengelolaan sendiri. Jika kita terlalu banyak mengintervensi pengelolaan dengan cara keluar masuk terlalu sering atau menunda pembelian sambil mencari timing yang tepat yang akhirnya ga jadi berinvestasi, menurut saya juga sudah agak keluar dari prinsip dasar reksa dana. Dengan mentalitas dan perilaku tersebut, investor lebih cocok berinvestasi pada saham langsung dan bukannya reksa dana.

Dengan perilaku seperti di atas, investor juga terkena pada risiko baru yaitu tidak tercapai tujuan keuangan karena menunda investasi. Namun sebagai seorang investor, saya sendiri juga memahami bahwa Buy Low Sell High tidak hanya merupakan suatu strategi investasi, tapi juga kepuasan pribadi apabila kita mampu benar-benar melakukannya. Apalagi di zaman media sosial seperti sekarang, apabila kita berhasil beli pada level terendah dan jual pada titik tertinggi sebelum crash, hal tersebut bisa dibanggakan di twitter atau facebook. Lebih kreatif lagi, orang mendokumentasikan caranya tersebut kemudian menjualnya dalam bentuk seminar / konsultasi dengan profit jauh lebih besar daripada hasil investasinya sendiri.

Bagi investor yang tipenya seperti saya, saking banyaknya pekerjaan sampai2 tidak sempat update blog, meeting kesana kemari, keluar kota dan sebagian besar hari kerja dihabiskan di pesawat bandara, kendaraan dan ruang rapat,  bisa tetap setia dengan salah satu strategi. Entah itu lump sum atau cost averaging sesuai karakternya. Kalau saya, karena karyawan, maka yang pilihannya adalah cost averaging. Pokoknya kalau sudah yakin dengan reksa dana pilihan, tinggal buat kontrak autodebet. Fokusnya cukup bagaimana saldo bulan depan cukup sebelum jatuh tempo pembayaran saja.

Tapi bagaimana dengan orang yang tidak seperti saya, dimana sebagai karyawan ternyata jam kerja tidak terlalu padat sehingga sempat melakukan analisa pasar di waktu senggang, atau pengusaha yang usahanya sudah berkembang baik sehingga punya waktu luang untuk melakukan analisa? Menurut saya, anda tetap dapat melakukan strategi lump sum atau averaging tapi tetap memenuhi hasrat untuk buy low sell high. Caranya:

1. Buat tujuan keunangan dengan prinsip SMART. Sebagai contoh: ingin memiliki uang untuk membayar DP Rumah senilai Rp 500 juta 10 tahun yang akan datang.

2. Dengan asumsi return 20% maka kebutuhan akan besaran investasi yang dibutuhkan untuk melakukan strategi lump sum atau cost averaging bisa dihitung melalui fasilita kalkulator finansial contohnya yang tersedia di website www.panin-am.co.id ini.

Lump Sum

 

Simulasi Kalkulator Finansial

Dengan asumsi reksa dana bisa menghasilkan 20% per tahun dan dana yang anda butuhkan adalah Rp 500 juta tanpa adanya inflasi, maka dengan strategi lump sum, dana investasi yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 81 juta. Sementara dengan cost averaging adalah sebesar Rp 1,45 juta per bulan atau Rp 16 juta per tahun.

3. Melakukan eksekusi. Apabila dana anda mencukupi, anda bisa melakukan investasi lump sum secara berkala. Syaratnya, meski dibagi menjadi beberapa kali investasi, dana tersebut sudah harus full invested di akhir tahun pertama dan return di tahun pertama karena aksi market timing tersebut harus lebih tinggi dari 20% untuk memastikan agar tingkat returnnya tercapai. Atau dengan tetap melakukan investasi sekaligus di depan, tapi ketika keuntungan sudah mencapai 20%, maka keuntungan tersebut ditarik dan disimpan di deposito yang aman.

Bagi yang melakukan cost averaging karena keterbatasan dana dan tidak mau menggunakan fasilitas autodebet, maka bisa melakukannya dengan cara melakukan pembelian secara berdasarkan timing. Namun apapun pertimbangan timing yang dilakukan, perlu diingat bahwa setiap tahun setidaknya di harus berinvestasi Rp 16 juta. Artinya Rp 16 juta tersebut bisa dibagi dalam beberapa termin atau sekaligus sesuai timing investasi, tapi total investasi dalam 1 tahun harus minimal Rp 16 juta.

Jadi, Inti daripada strategi Lump Sum dan Cost Averaging adalah KONSISTENSI untuk mencapai tujuan keuangan. Strategi ini cocok untuk investor yang sudah ingin mencapai sesuatu tapi dananya tidak mencukupi. Jika anda bingung dengan tujuan investasi apa saja, maka mulailah dengan membuat beberapa perencanaan seperti Pensiun, Pendidikan Anak, Perumahan, dan Liburan.

Strategi Asset Allocation

Bagaimana kasusnya jika anda adalah investor yang sebagian besar tujuan keuangannya kurang lebih sudah tercapai? Sehingga yang dibutuhkan itu adalah KENYAMANAN dibandingkan konsistensi? Untuk investor tipe seperti ini, menurut saya Asset Allocation adalah strategi yang cocok. Sesuai dengan definisi wikipedia di atas, Strategi Aset Alokasi adalah strategi mengatur return dan risiko portofolio investasi dengan cara mengubah persentase investasi pada setiap instrumen yang disesuaikan dengan tujuan, profil risiko dan jangka waktu investasi.

Pada prakteknya, penjualan reksa dana di negara maju sudah dilakukan dengan cara ini. Para penjual reksa dana, baik itu agen dari perbankan, financial planner dan lain-lain dalam memasarkan reksa dana, biasanya yang ditonjolkan sudah bukan fitur dari suatu produk, apakah dia bintang 5, bintang 7, terbaik dari sisi risk and return, tapi dengan menganalisa portofolio anda terlebih dahulu kemudian mencari apakah aset alokasi anda terdiversifikasi dengan cukup baik baru kemudian menawarkan produk yang bisa membuat aset alokasi anda lebih baik atau lebih sesuai untuk profil risiko anda.

Ada beberapa konsep yang dipakai, seperti alokasi pada saham seharusnya 110 – usia anda. Misalkan usia anda 40, maka alokasi anda di saham seharusnya 70%. Ada juga berdasarkan profil risiko, dimana jika profilnya moderat, maka komposisi saham dan obligasi adalah 50 : 50. Yang lebih canggih, umumnya investasi saham juga dibagi lagi ke saham negara maju, saham negara berkembang, saham sektor tertentu. Demikian pula dengan obligasi.

Secara naluriah, manusia memang akan merasa lebih nyaman jika membagi asetnya ke dalam beberapa jenis tertentu. Logikanya jika yang satu hilang atau rugi maka yang lainnya masih ada. Naluri seperti ini kurang relevan apabila dengan membagi beberapa aset justru membuat anda tidak bisa mencapai tujuan keuangan apabila kemampuan finansial terbatas seperti deskripsi saya pada awal artikel.

Oleh karena itu, strategi asset allocation ini relatif lebih cocok jika diterapkan pada investor yang sudah masuk kategori relatif mapan. Jika anda masih sedang berjuang untuk menuju kemapanan, strategi investasi Asset Allocation memang sesuai dengan teori perencanaan keuangan tapi tidak praktis dan kurang realistis dalam kehidupan sehari-hari. Dan sudah jelas akan semakin menjauhkan anda dari tujuan keuangan yang ingin kita capai. Akan tetapi jika investor sudah berada dalam kategori mapan, sehingga tujuannya lebih kepada “Rasa Nyaman” dalam berinvestasi, maka Asset Alokasi adalah strategi yang bisa menjawab kebutuhan kita.

Definisi Mapan, menurut saya adalah sudah memiliki dana darurat, rumah lunas, pensiun aman, dan mengutip Financial Planner Eko Endarto minimal aset senilai 1 tahun gaji x 10% x usia. Ketika berada dalam tahapan ini, barulah kita bicara tentang aset alokasi. Jika tidak, bisa fokus pada Cost Averaging atau Lump sum dulu.

Demikian artikel ini semoga bermanfaat untuk anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Data dan Gambar

  1. Istockphoto.com
  2. www.panin-am.co.id
Categories: Aset Alokasi, Perencanaan Investasi Tags:
  1. ofan
    April 23rd, 2014 at 06:47 | #1

    Pagi Pak Rudi

    saya ingin minta advice bapak untuk strategi kedepan saya dalam investasi di reksa dana dari Panin

    tanggal 21 april 2014 saya bergabung untuk pertama kali dengan reksadana dari PT Panin Asset Management , sedari dahulu ingin ikut baru bisa ada dana lebih dan direalisasikan tahun ini :)

    tujuan saya adalah untuk biaya pendaftaran sekolah anak saya ( baru satu dan sepertinya satu saja) + 6 tahun lagi masuk SMP , serta biaya pensiun

    modal awal saya 5 jt , saya pilih dan pecah ke tiga produk :

    1. Panin Dana Prima – 1 jt – ini saya hanya mau simpan dan top up tiap bulan – ini buat dana pensiun saya

    2. Panin Dana Bersama Plus – 2.750.000 – ini mungkin dalam 3 tahun kedepan saya mau coba nikmati hasilnya atau tetap simpan untuk pemakaian pertama buat biaya masuk SMP , dan selanjutnya biaya masuk SMA , lalu kuliah anak saya , sekarang dia umur 6 tahun

    3. Panin Dana Likuid – 1.500.000 – ini antara 1 – 2 tahun mungkin akan saya coba nikmati hasilnya – ini untuk kebutuhan mendadak dan jika mungkin untuk biaya berlibur liat negri orang lain sekali setahun atau sekali per dua tahun

    4. Top up apakah perlu dilakukan tiap bulan ? atau saving dahulu dengan jumlah nominal yang lebih dari 500 ribu lalu top up disaat harga sedang turun ?

    pertanyaan saya :

    1. Jika saya mau top up idealnya tiap bulan min 500 ribu – 1 jt , manakah yang lebih baik di top up paling besar , medium , kecil ? dari ketiga produk yang saya invest

    2. Apakah diversifikasi yang saya lakukan dengan modal awal itu sudah benar – dengan 5 jt dipecah ke tiga produk ? atau lebih baik ke dua produk ? – awalnya saya ingin hanya dua produk hanya saya tantang diri saya untuk lebih berani untuk ikut ke tiga produk

    3. sudah benar dan sesuaikah produk yang saya pilih ? jika dilihat dari tujuan dan kesanggupan saya

    4. Top up apakah perlu dilakukan tiap bulan ? atau saving dahulu dengan jumlah nominal yang lebih dari 500 ribu lalu top up disaat harga sedang turun ?

    Umur saya 38 tahun , saya pegawai swasta bekerja di production house , gaji bulanan saya 10 jt jika job banyak bisa 20 jt – istri kerja freelance di agent property lumayan jika ada closing sangat membantu

    tahun ini cicilan mobil ( perbulan 2.5 jt ) bulan oktober selesai , untuk KPR ( perbulan 3.5 jt ) 8 tahun lagi

    dari kondisi ini saya optimis bisa sisakan dana untuk top up min 500 ribu perbulan

    terima kasih untuk respon bapak di postingan saya perihal informasi kelas reguler .. dan blog ini sekarang jadi penyerta sarapan pagi saya loh hihi – blog yang sangat informatif dan responsif !

  2. Rudiyanto
    April 23rd, 2014 at 23:35 | #2

    @ofan
    Salam Pak Ofan,

    Senang sekali artikel pada blog ini bisa bermanfaat untuk anda.

    Terkait pertanyaan anda, saya harus berterus terang karena menurut saya kondisi kamu tidak sehat secara keuangan. Kondisi yang sehat itu :
    1. Punya Dana Darurat
    2. Cicilan maksimal 30% dari penghasilan.

    Lebih lengkapnya bisa kamu baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/

    Apakah pak Ofan, boleh memberikan ke saya berapa kira2 gambaran rasio keuangan anda berdasarkan artikel rujukan saya di atas. Baru diskusinya bisa lebih detail lagi.

    Semoga bermanfaat, terima kasih.

  3. ofan
    April 24th, 2014 at 05:47 | #3

    Pagi Pak Rudi

    dengan kondisi tidak sehat secara keuangan dan sudah terlanjur investasi apa sajakah yang bisa jadi do and don’t untuk langkah saya selanjutnya dengan ketiga produk reksa dana saya ?

    lalu dengan kondisi tidak sehat secara keuangan resiko apa yang akan dihadapi jika sudah terlanjur berinvestasi reksadana ?

    saya akan post lagi rasio keuangan saya ya – sedang saya cek

    terima kasih

  4. Rudiyanto
    April 24th, 2014 at 08:56 | #4

    @ofan
    Salam Ofan,

    Diskusinya akan lebih enak kalau sudah ada rasio keuangannya.

    Terima kasih.

  5. ofan
    April 24th, 2014 at 10:45 | #5

    Hi Pak Rudiyanto

    maaf saya sudah browse dan mencoba tetap saya belum mengerti cara menghitung rasio keuangan

    ini gambaran kondisi keuangan saya

    1. Tidak ada tunggakan kartu kredit – kami rutin selalu sanggup bayar tiap bulan

    2. KPR rumah 3.5 jt / bulan – 9 tahun lagi

    3. cicilan mobil 2.5 jt / bulan – 6 bulan lagi – ini yang buat saya berani untuk ikut reksa dana di bulan april ini – dibantu dengan istri baru dapat komisi closing jual rumah

    4. gaji bulanan 15 jt ( jika job ramai bisa 20 – 25 jt )

    5. komisi istri sebagai agent property – hampir bisa tiap bulan 5 jt

    6. kami ada belikan emas 10 gram dan 25 gram ( sudah kami simpan 4 tahun , yg 10 gram mau kami alihkan ke reksadana )

    7. saya ada tabungan onstanby sudah di 20 jt – tiap bulan saya tabungkan 500 ribu

    8. biaya tetap bulanan pengeluaran iuran air listrik, cicilan-cicilan, biaya makan dan minum, uang sekolah anak – total + 5 jt

    saya harap bapak bisa bantu menjawab pertanyaan saya

    1. Jika saya mau top up idealnya tiap bulan min 500 ribu s/d 1 jt , manakah yang lebih baik di top up paling besar , medium , kecil ? dari ketiga produk yang saya invest

    2. Apakah diversifikasi yang saya lakukan dengan modal awal itu sudah benar – dengan 5 jt dipecah ke tiga produk ? atau lebih baik ke dua produk ? – awalnya saya ingin hanya dua produk hanya saya tantang diri saya untuk lebih berani untuk ikut ke tiga produk

    3. sudah benar dan sesuaikah produk yang saya pilih ? jika dilihat dari tujuan dan kesanggupan saya

    4. Top up apakah perlu dilakukan tiap bulan ? atau saving dahulu dengan jumlah nominal yang lebih dari 500 ribu lalu top up disaat harga sedang turun ?

    5.dengan kondisi tidak sehat secara keuangan dan sudah terlanjur investasi apa sajakah yang bisa jadi do and don’t untuk langkah saya selanjutnya dengan ketiga produk reksa dana saya ?

    6.lalu dengan kondisi tidak sehat secara keuangan resiko apa yang akan dihadapi jika sudah terlanjur berinvestasi reksadana ?

    jadi banyak d kalo di recap ;)

    ini produk Panin yang saya beli kemarin – beserta harapanya :

    modal awal saya 5 jt , saya pilih dan pecah ke tiga produk :

    1. Panin Dana Prima – 1 jt – ini saya hanya mau simpan dan top up tiap bulan – ini buat dana pensiun saya

    2. Panin Dana Bersama Plus – 2.750.000 – ini mungkin dalam 3 tahun kedepan saya mau coba nikmati hasilnya atau tetap simpan untuk pemakaian pertama buat biaya masuk SMP , dan selanjutnya biaya masuk SMA , lalu kuliah anak saya , sekarang dia umur 6 tahun

    3. Panin Dana Likuid – 1.500.000 – ini antara 1 – 2 tahun mungkin akan saya coba nikmati hasilnya – ini untuk kebutuhan mendadak dan jika mungkin untuk biaya berlibur liat negri orang lain sekali setahun atau sekali per dua tahun

    terima kasih

  6. Rudiyanto
    April 28th, 2014 at 14:06 | #6

    @ofan
    Salam Pak Ofan,

    Terkait pertanyaan anda, jika saya melakukan analisa singkat sbb:
    Rasio Hutang Konsumtif : 0
    Rasio Cicilan : Cicilan Mobil Rumah / Pendapatan tetap Suami Istri = 30%
    Dana Darurat : Dana tabungan / Biaya tetap non cicilan = 4x
    Biaya thd Pendapatan : Biaya + Cicilan / Pendapatan tetap suami istri = 55%

    Pada intinya ketika investasi dilakukan dalam kondisi yang kurang sehat, maka risikonya adalah ketika tiba2 ada kebutuhan yang sifatnya mendadak, dan kebetulan kondisi pasar lagi kurang bagus, kamu terpaksa melakukan cutloss untuk membayar kebutuhan tersebut.
    Kalau secara umum, bisa dibilang kondisi keuangan anda sangat baik. Semoga bisa terus dipertahankan.

    Dan sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Rencana Pensiun
    Katakanlah gaya hidup yang anda inginkan adalah 5 juta / bulan, maka dengan usia anda sekarang 38 mengacu pada artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/03/28/panduan-mempersiapkan-pensiun-dengan-reksa-dana/ dengan patokan usia 40, untuk mempertahankan gaya hidup yang sama adalah dengan investasi minimal 3,3 juta per bulan (66% dari nilai kebutuhan). Jika hanya setiap bulan 1 juta, berarti gaya hidup saat pensiun nanti adalah sekitar 1/3 dari 5 juta per bulan yaitu setara 1.6 juta per bulan

    2. Rencana Pendidikan anak
    Sudah dihitung, kira2 berapa yang anda butuhkan untuk uang masuk di SMP, SMA dan kuliah nanti? Kalau tidak tahu nanti, paling tidak sudah dapat gambaran kira2 berapa yang dibutuhkan kalau seandainya hari ini masuk?
    referensi artikel : http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    3. Rencana Liburan
    Apakah anda punya bayangan 1,5 juta disimpan 1-2 tahun dengan imbal hasil pasar uang katakanlah 5% per tahun kira2 jadi berapa? kalau anda menggunakan kalkulator hasil investasi di http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx dengan memasukkan 5% dan 2 tahun. maka 1,5 juta akan berkembang kira2 menjadi 1.65 juta dalam 2 tahun. Kalau rencana berlibur ke negeri orang lain, airport tax one way di Soekarno Hatta adalah Rp 150.000 per orang. Kalau berempat sudah Rp 600.000. Apakah ini mungkin cukup?

    Saran saya coba kamu baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ dulu. Semoga bermanfaat.

  7. ofan
    April 29th, 2014 at 06:28 | #7

    terima kasih Pak Rudi
    saya kemarin datang ke seminar anda .. mendengarkan analisa anda membuat saya lebih optimis

  8. Rudiyanto
    April 30th, 2014 at 17:09 | #8

    @ofan
    Terima kasih pak Ofan untuk kedatangannya.

    Mudah2an seminar ini bisa bermanfaat bagi anda.

  9. Triadi
    August 6th, 2014 at 21:19 | #9

    Dear Pak Rudi,

    Terima kasih banyak atas ilmu yang sudah disampaikan.

    Ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai pengelolaan NAV oleh manajer investasi apabila kita melakukan cost averaging dengan sistem autodebet setiap bulan sebagai pertimbangan.

    Saya ingin menginvestasikan uang saya sebesar 1 juta/bulan dengan sistem autodebet oleh bank agen penjual reksadana. Katakanlah jatuh tempo pada tanggal 1 setiap bulannya.

    Apakah ketika sudah jatuh tempo autodebet dan saldo rekening di bank agen penjual saya sudah terpotong, uang tersebut tidak akan langsung ditansfer ke bank kustodi dan digunakan untuk melakukan pembelian NAB, melainkan manajer investasi akan mengatur kapan dana 1 juta digunakan untuk subscription dengan pertimbangan menunggu harga NAB sedang turun.
    Atau hal yang terjadi adalah sebaliknya, ketika autodebet, dana 1 juta digunakan untuk subscription dengan nilai NAB ditanggal yang sama dengan jatuh tempo autodebet.

  10. Rudiyanto
    August 7th, 2014 at 18:11 | #10

    @Triadi
    Salam Triadi,

    Ketika anda melakukan autodebet di reksa dana dan memenuhi ketentuan in good fund (dana diterima pada hari yang sama) dan in complete application (formulir dan administrasi lengkap), maka sudah bisa dipastikan anda akan mendapatkan harga pada tanggal tersebut.

    Apakah ada kemungkinan mendapat harga di hari lain? bisa jadi walaupun sangat kecil. Biasanya terjadi kesalahan administrasi atau human error entah itu di Bank Agen Penjual, Manajer Investasi atau Bank Kustodian yang menyebabkan transaksi tersebut tidak terproses. Biasanya kalau terjadi demikian, si nasabah akan diberikan ganti rugi.

    Semoga bermanfaat.

 


%d bloggers like this: