Home > Analisis Instrumen Saham, Belajar Investasi > Analisa Fundamental Melalui Laporan Keuangan (2)

Analisa Fundamental Melalui Laporan Keuangan (2)

Pada artikel ini, saya ingin melanjutkan pembahasan kemarin tentang analisa perusahaan melalui laporan keuangan. Pada bagian sebelumnya dibahas berbagai macam laporan keuangan dan cara membacanya. Kali ini, saya akan berfokus pada bagian mana dari laporan keuangan yang harus anda baca agar setidaknya secara mendasar anda bisa memahami suatu perusahaan dan apakah perusahaan tersebut dapat dikategorikan baik atau tidak.

Balance Sheet

Pada dasarnya analisa perusahaan itu tidak jauh berbeda dengan analisa seseorang yang sedang berusaha menggapai kesuksesan finansial. Mau itu karyawan, profesional ataupun pengusaha, ada kesamaan ciri2 dimana mereka selalu berusaha meningkatkan penghasilan agar bisa menutupi pengeluaran, aktif melakukan pengembangan diri ataupun untuk orang di sekitarnya, dan dalam proses tersebut tidak jarang mereka membutuhkan bantuan dari pihak lain apakah itu pinjaman bank atau penyertaan modal.

Dalam konteks perusahaan juga sama. Suatu perusahaan dikatakan selalu berusaha mencapai kesuksesan secara finansial apabila mampu memiliki penghasilan yang menutupi pengeluaran, melakukan pembelian / pengembangan aset produktif seperti pabrik, tanah, bangunan, toko baru (ekspansi) serta memberikan keuntungan berupa dividen kepada pemegang saham dan kupon serta pelunasannya keapada pemberi pinjaman.

Informasi di atas sebetulnya dapat diperoleh dalam laporan keuangan terutama pada bagian arus kas. Pada pembahasan sebelumnya, sudah di bahas bahwa ada 3 komponen utama dari laporan arus kas yaitu Operating Cashflow, Investing Cashflow dan Financing Cashflow.

Operating Cashflow

  • Positif artinya semua pendapatan dari kegiatan operasional lebih besar dari pengeluaran operasional
  • Negatif artinya pendapatan perusahaan dari kegiatan operasional lebih kecil dari pengeluaran operasional
  • Terkadang dimungkinkan kondisi dimana nilai arus kas operasional negatif namun dari laporan rugi laba menunjukkan angka laba operasional yang positif. Hal ini terjadi jika perusahaan membukukan penjualan namun belum terealisasi dalam bentuk kas karena belum dibayarkan.

Jadi idealnya nilai operating cashflow dari perusahaan yang baik adalah nilai yang positif.

Investing Cashflow

  • Positif artinya perusahaan mendapatkan uang dari penjualan aset tetap
  • Negatif artinya perusahaan mengeluarkan uang untuk membeli aset tetap

Kondisi yang ideal bagi perusahaan adalah secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan sehingga ketika membaca laporan ini, nilai yang diharapkan adalah nilai negatif. Namun tidak tertutup kemungkinan investasi yang dilakukan oleh perusahaan gagal atau tidak menghasilkan sebagaimana yang diharapkan. Sehingga meski perusahaan aktif berinvestasi, berhasil tidaknya baru bisa kelihatan pada operating cashflow periode yang akan datang.

Financing Cashflow

  • Positif artinya perusahaan mendapat sumber dana seperti dari penambahan modal pemegang saham lama, suntikan dari investor baru, pinjaman bank atau penerbitan obligasi
  • Negatif artinya perusahaan melakukan pembayaran ke pemegang saham atau kreditur baik itu dividen, kupon, bunga pinjaman ataupun pokok pinjaman.

Kondisi yang ideal bagi perusahaan adalah angka negatif karena dengan demikian perusahaan memberikan nilai tambah dari pemegang saham dan krediturnya. Apabila nilainya positif, tidak serta merta dianggap kurang baik, namun bisa diartikan perusahaan perlu melakukan ekspansi dan kas internal perusahaan tidak cukup untuk membiayai ekspansi tersebut sehingga butuh tambahan dari pihak luar.

Analisa Cashflow Komprehensif

Berdasarkan definisi di atas, maka kondisi yang paling ideal adalah sebagai berikut:

  • Operating Cash Flow (+) : Perusahaan mengalami untung operasional
  • Investing Cash Flow (-)  : Perusahaan melakukan kegiatan ekspansi
  • Financing Cash Flow (-) : Perusahaan membayar bunga, pokok pinjaman dan dividen

Kondisi yang bisa dikatakan masih ideal tapi tidak se ideal kondisi di atas adalah:

  • Operating Cash Flow (+) : Perusahaan mengalami untung operasional
  • Investing Cash Flow (-)  : Perusahaan melakukan kegiatan ekspansi
  • Financing Cash Flow (+) : Perusahaan membiayai kegiatan ekspansi dan operasional dengan dana dari pihak ketiga

Dalam beberapa kasus, kondisi kedua dianggap paling ideal oleh para pemegang saham apabila financing cash flow yang positif berasal dari pinjaman bank / obligasi. Dengan demikian, mereka tanpa menggunakan modal sendiri bisa memperoleh dana untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan perusahaan.

Kondisi yang tidak ideal adalah sebagai berikut:

  • Operating Cash Flow (-) : Perusahaan mengalami rugi operasional
  • Investing Cash Flow (+)  : Perusahaan menjual aset tetapnya karena membutuhkan dana
  • Financing Cash Flow (+) : Perusahaan meminjam uang untuk kegiatan operasional

Sebagai contoh, mari kita lakukan analisa pada beberapa laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan contoh perusahaan group Astra yaitu Astra Internasional (ASII).

Laporan Keuangan Astra Internasional Tbk Kuartal III 2013

Laporan Arus Kas Kuartal III 2012 Kuartal III 2013
Operating Cash Flow (+) 6.828 (+) 16.930
Investing Cash Flow (-) 7.372 (-) 5.910
Financing Cash Flow (-) 224 (-) 5.593

Sumber : Laporan Keuangan ASII http://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/Corporate_Actions/New_Info_JSX/Jenis_Informasi/01_Laporan_Keuangan/02_Soft_Copy_Laporan_Keuangan/Laporan%20Keuangan%20Tahun%202013/TW3/ASII/ASII_LK_TW_III_Sept_2013.pdf

Berdasarkan analisa di atas, jika hanya memperhatikan tanda positif dan negatif saja, kinerja perusahaan Astra bisa dikatakan sangat ideal. Berdasarkan analisa sederhana, perusahaan ini mendapatkan keuntungan dari kegiatan operasionalnya, melakukan investasi membangun kapasitas dan memberikan nilai tambah kepada pemegang saham dan krediturnya dalam bentuk pembayaran dividen, bunga pinjaman dan pelunasan hutang.

Dalam bahasa sederhana, selain sangat produktif, dia juga aktif melakukan pengembangan diri dan memberikan manfaat kepada pihak-pihak disekelilingnya.

Anda juga bisa melakukan analisa lebih jauh pada perusahaan lainnya. Sumber laporan keuangan bisa anda peroleh website Bursa Efek Indonesia http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx

Namun perlu diketahui bahwa analisa di atas, dalam pandangan saya tidak berlaku untuk perusahaan keuangan. Dalam hal ini perbankan, sekuritas, asuransi, multifinance dan pegadaian. Sebab perusahaan keuangan memiliki titik berat pada aset dan kewajiban jangka pendek. Sementara pada perusahaan non keuangan, aset dan kewajiban jangka pendek bukan merupakan titik berat utama. Oleh karena itu, analisa terhadap ideal tidaknya perusahaan keuangan TIDAK bisa dari laporan arus kasnya karena perbedaan daripada nature perusahaan.

Analisa yang paling akurat dan paling baik tentu adalah kalau bisa kita datang ke perusahaan tersebut, bertanya kepada manajemen, memahami proses bisnis, dan mendapatkan informasi rencana perusahaan ke depan. Namun bagi investor awam, hal di atas tentu bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Oleh karena itu, analisa melalui laporan arus kas dapat membantu kita memahami hal tersebut. Kelemahannya adalah apabila ada rencana ekspansi perusahaan yang belum dilaksanakan, maka baru kelihatan di laporan keuangan yang akan datang.

Demikian sharing kali ini, pada artikel berikutnya saya akan membahas tentang tentang analisa rasio-rasio penting perusahaan sebagai pelengkap daripada analisa fundamental melalui laporan arus kas ini.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. July 11th, 2016 at 16:05 | #1

    terima kasih informasinya Pak,
    Bagaimana analisa Bapak mengenai perusahaan start up semisal Tokopedia, Bukalapak, dan Gojek?
    apakah komposisi pemasukan dan pengeluaran sudah sehat?

  2. Rudiyanto
    July 14th, 2016 at 18:25 | #2

    @Wadiyo
    Salam Pak Wadiyo,

    Itu pertanyaan yang sulit krn saya tidak punya laporan keuangannya.

    Tapi dari pengamatan secara sekilas, rasanya cukup sulit untuk mendapatkan pendapatan yang bisa menutup biaya promosinya. Tapi siapa tahu mereka bisa menjadi the next Alibaba, Amazon atau bahkan Facebook..

    Semoga bermanfaat

  3. January 26th, 2017 at 22:59 | #3

    Artikelnya sungguh informatif pak. Terima kasih, semoga setelah membaca ini saya menjadi lebih paham lagi.

 


%d bloggers like this: