Home > Belajar Investasi, Belajar Reksa Dana, Obligasi, Obligasi Intermedit, Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Talkshow dan Seminar > Efek Penguatan Dolar Terhadap Emas, Properti dan Reksa Dana (3 – Akhir)

Efek Penguatan Dolar Terhadap Emas, Properti dan Reksa Dana (3 – Akhir)

Artikel ini merupakan artikel terakhir dari 2 artikel yang sudah pernah saya tulis sebelumnya. Pada artikel pertama, saya membahas efek penguatan dolar terhadap emas dan properti pada artikel kedua. Pada artikel ketiga saya akan membahas efeknya terhadap reksa dana

Pada saat artikel ini ditulis, keadaan memang sedikit berbeda dibandingkan pada saat kedua artikel sebelumnya ditulis. Yang berbeda adalah jika kemarin Rupiah terus menerus melemah, sekarang pelemahan tersebut sudah agak berkurang dan menunjukkan tren penguatan. Hal ini juga tidak terlepas dari “Dramatisasi” kondisi politik di AS yang membuat mata uang mereka kurang bertaji. Namun karena kondisi negara kita yang dilihat dari Neraca Perdagangan masih mengalami defisit dan pertumbuhan ekonomi juga tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya maka penguatan Rupiah tidak terlalu kuat.

Dari kejadian ini saya melihat ada yang hal yang cukup menarik. Dulu, ketika kita masih di masa jaya dimana perekonomian kita baik dan pertumbuhannya juga masih tinggi-tingginya, kurs USD dan SGD terhadap Rupiah adalah sekitar 6000 dan 9000 an. Jadi kira-kira 1 USD = 1,5 SGD. Pada saat ini, karena hal-hal yang saya sebutkan di atas, Rupiah melemah terhadap mata uang asing namun ternyata rasionya berbeda terhadap masing-masing mata uang. Sebagai contoh 1 USD sekitar Rp 11000-an sementara 1 SGD sekitar 9000-an. Kalau dirasiokan berarti 1 USD = 1,22 SGD. bukan 1,5 SGD seperti pada masa lalunya.

Artinya mata uang tidak selalu bergerak searah dan USD bukan menjadi patokan atas segalanya. Bisa jadi suatu saat SGD menguat sedemikian rupa sehingga menjadi sekitar Rp 11000-an sehingga rasionya menjadi 1. Atau mata uang USD yang melemah sedemikian rupa sehingga kembali ke level 9000-an sementara mata uang SGD tidak bergeming.

Kondisi-kondisi di atas menimbulkan peluang untuk mengambil keuntungan atau dikenal dengan istilah “Arbitrage”. Orang-orang yang bekerja di divisi treasury bank biasanya sangat ahli soal kondisi tersebut dan mencoba mendapatkan keuntungan daripadanya.

Kembali ke topik utama, bagaimana efek dari penguatan dolar ini terhadap investasi reksa dana? Saya akan membahasnya secara spesifik dari 2 sudut pandang.Efek penguatan dolar terhadap reksa dana menurut saya dapat dibagi menjadi 2 klasifikasi. Klasifikasi pertama yaitu pada reksa dana berdenominasi dollar dan pada valuasi saham dan obligasi yang menjadi underlying asset reksa dana.

Pengaruh Terhadap Reksa Dana Dollar

Jika berbicara Dollar, tentu pertanyaannya mengarah pada reksa dana dollar. Reksa Dana Dollar adalah reksa dana yang satuan mata uangnya dinyatakan dalam US Dollar. Selain US Dollar, peraturan dari BAPEPAM-LK (Sekarang OJK) juga memperbolehkan dalam mata uang Euro, hanya saja belum ada Manajer Investasi yang menerbitkannya. Bagaimana sebenarnya pengaruhnya terhadap reksa dana dollar.

Sebelum itu, kita harus jelas bahwa saat ini jenis reksa dana dollar amat beragam. Ada reksa dana pendapatan tetap dollar, campuran dollar dan saham dollar. Bahkan ada beberapa reksa dana terproteksi dalam bentuk dollar. Namun yang perlu diketahui lagi adalah bahwa reksa dana dollar BOLEH membeli instrumen baik dalam mata uang Rupiah ataupun mata uang Dollar. Hanya saja pada saat perhitungan NAB/Up maka instrumen yang dibeli dalam mata uang non US Dollar akan dikonversikanlagi ke dalam mata uang US Dollar menggunakan Kurs Tengah Bank Indonesia.

Secara kinerja, penguatan atau pelemahan dollar TIDAK berpengaruh secara LANGSUNG terhadap kinerja reksa dana yang berinvestasi pada instrumen dengan mata uang dalam US Dollar. Efek ini hanya terasa jika reksa dana tersebut berinvestasi pada instrumen dalam mata uang Rupiah yang kemudian di dolarkan dalam perhitungan NAB/Upnya.

Sebagai ilustrasi, suatu reksa dana membeli saham Astra Internasional pada harga Rp 6000 sebanyak 100.000 lembar atau senilai Rp 600 juta. Pada saat transaksi tersebut dilakukan, katakanlah kurs Rupiah РUSD adalah Rp 10.000. Sehingga pada saat perhitungan NAB/Up, akan tercatat reksa dana memiliki aset senilai Rp 600 juta / 10.000 =USD 60.000. Kemudian karena terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, current account deficit dan lain-lain katakanlah 3 bulan kemudian harga saham Astra tetap di Rp 6000 namun kurs berubah menjadi Rp 12.000 per USD. Maka pada saat perhitungan NAB/Up, aset reksa dana akan tercatat senilai Rp 6000 x 100.000 lembar / 12.000 =  USD 50.000. Berarti ada penurunan aset reksa dana dari 60.000 ke 50.000 atau sekitar 16,7%. Padahal harga underlying assetnya tetap.

Kondisi akan bertambah buruk jika harga saham Astra turun juga. Misalkan turun menjadi Rp 5000. Pada reksa dana rupiah normal, akan terjadi penurunan aset sebesar 1000 atau sekitar 16.7%. Namun pada reksa dana dollar, efeknya akan berdampak ganda, dimana nilai aset akan menjadi Rp 5000 x 100.000 / 12.000 = USD 41.667. Jika dihitung dari aset awal yang sebesar USD 60.000 terjadi penurunan sekitar USD 18.000-an atau penurunan 30% lebih. Kondisi sebaliknya, dimana reksa dana akan mendapatkan keuntungan ganda apabila harga saham dan Rupiah menguat di waktu yang sama.

Reksa Dana Pendapatan Tetap Dollar umumnya berinvestasi pada obligasi yang mata uangnya sudah berbentuk USD. Jadi efek penguatan dollar ini tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja reksa dana tersebut. Kalaupun reksa dana tersebut mengalami penurunan harga, maka hal ini lebih disebabkan karena harga obligasinya yang turun bukan karena penguatan dollar. Sementara efek dari penguatan dollar ini akan lebih terasa pada reksa dana campuran dollar dana reksa dana saham dollar karena kedua jenis reksa dana ini berinvestasi pada saham yang mata uangnya Rupiah.

Pengaruh Pada Valuasi Obligasi dan Saham

Dampak dari penguatan dollar yang secara langsung berdampak pada kinerja reksa dana adalah pada valuasi obligasi dan saham. Pada prinsipnya investor akan memburu obligasi dan saham berkualitas pada harga yang murah. Sekalipun kualitas perusahaan penerbit saham dan obligasi biasa-biasa saja, namun jika harganya sangat murah, tentu bisa menjadi perhatian investor juga.

Pada obligasi, salah satu indikator yang menjadi ukuran valuasi adalah Yield. Misalkan disebutkan yield 8%, artinya jika investor membeli obligasi tersebut, maka dia akan mendapatkan pengembalian setara 8% per tahun jika memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo. Semakin besar yield, berarti semakin menarik obligasi dan secara valuasi berarti semakin murah suatu obligasi. Karena kondisi ekonomi Indonesia yang kurang baik, sebenarnya Yield Obligasi Indonesia yang jatuh temponya 10 tahun sudah naik dari sekitar 6% ke lebih dari 8% dari awal tahun. Artinya secara valuasi kita semakin murah.

Dari kacamata investor asing yang membeli obligasi Indonesia dengan modal US Dollar, penguatan US Dollar ini membawa keuntungan lebih karena jika dahulu pada saat kurs 1 USD = Rp 9000, dia membutuhkan sekitar USD 111.111 untuk membeli obligasi senilai Rp 1 milliar, maka dengan kurs 1 USD = Rp 11.000, modal yang dia butuhkan cuma USD 90.909 atau sekitar USD 20.000 lebih sedikit. Berarti selain modal yang dibutuhkan lebih kecil, pengembalian yang diperoleh juga lebih besar.

Hal yang sama juga berlaku untuk valuasi saham. Price Earning Ratio (PER) adalah indikator yang dijadikan sebagai ukuran valuasi saham. Misalkan disebutkan PER saham adalah 15 kali, secara sederhana jika anda membeli suatu perusahaan senilai 100 juta, maka dibutuhkan waktu 15 tahun bagi perusahaan tersebut untuk mengembalikan modal anda dari seluruh keuntungannya. Semakin tinggi berarti semakin mahal valuasi suatu saham dan sebaliknya semakin rendah, maka semakin murah valuasi suatu saham.

Pada saat ini PER dari 45 saham paling likuid (PER LQ45) yang bersumber di www.infovesta.com adalah sekitar 16.5 kali. Angka ini bisa dikategorikan agak mahal karena PER yang wajar umumnya berkisar antara 14- 16 kali, namun masih belum terlalu mahal karena pada saat kondisi sedang bagus angka tersebut bisa mencapai 20 – 22 kali. Namun sekali lagi dari kacamata investor asing, karena penguatan US Dollar, maka modal yang dia butuhkan untuk membeli saham semakin sedikit. Artinya anggapan mahal atau tidak ketika PER saham mencapai 16.5 kali ketika Kurs masih Rp 9000 per USD berbeda dengan ketika Rp 11.000 per USD. Sebab meski lebih mahal, modal yang dia keluarkan 20% lebih murah. Jadi kalau investor Indonesia melihat saham di PER 16.5, maka asing melihatnya di sekitar 13.2.

Dengan kondisi di atas, bagi investor asing, asalkan dia percaya bahwa dalam jangka panjang kondisi perekonomian Indonesia masih akan terus tumbuh maka saat ini valuasi saham Indonesia sudah bisa dikatakan murah. Jika saat ini mereka belum masuk ke pasar modal, menurut saya ada dua kemungkinan, pertama, mungkin mereka masih beranggapan harga belum benar-benar murah. Namun menunggu harga turun sampai benar-benar ke dasar sendiri juga adalah spekulasi. Bisa saja investor ketinggalan karenanya. Kedua, mungkin mereka masih menunggu segala sesuatunya lebih pasti setelah PEMILU dan Pilpres. Siapa partai pemenang dan Presidennya itu satu hal, bisa sesuai dengan keinginan masyarakat secara umum dan bisa juga tidak. Untuk yang kedua ini, permasalahannya bukan Who tapi When.

Demikian sharing saya kali ini, terima kasih dan semoga bermanfaat.

Terima kasih juga kepada rekan-rekan yang sudah datang saat acara bedah buku di Gramedia. Dalam waktu dekat saya akan menginformasikan lokasi bedah buku di toko buku lainnya. Berikut saya lampirkan dokumentasi fotonya.

Gramedia Alam Sutera

Alam Sutera 2

Alam Sutera 1

Alam Sutera 3

Gramedia Central Park

Dalam kegiatan ini, saya juga dibantu oleh bapak Iswin Hudiarto, Financial Planner Independen dalam memberikan konsultasi tentang perencanaan keuangan pribadi.

Central Park 2Central Park 1

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Foto : Kontan.co.id

  1. Steven
    October 23rd, 2013 at 09:15 | #1

    salam pak…
    saya mau tanya bagaimana prospek saham konstruksi seperti emiten WSKT ke depannya ???
    terima kasih…

  2. Rudiyanto
    October 26th, 2013 at 18:48 | #2

    @Steven
    Salam Steven,

    Saya bukan ahli soal analisa saham. Anda bisa tanyakan ke analis saham atau melihat riset saham yang biasanya bisa diakses di fasiltas trading online. Semoga bermanfaat

  3. siska
    October 27th, 2013 at 18:51 | #3

    salam pak,
    sayanewbie dan sgt tertarik untuk ikut berinvestasi di reksadana , saya sangat ingin ikut seminar tentang RD ini.Untuk daerah Medan dimana saya dapat mengikuti acara sejenis ini pak, trims

  4. siska
    October 27th, 2013 at 18:55 | #4

    salam pak,,,
    untuk daerah Medan kapan diadakan acara seperti ini pak, saya tertarik mengikuti investasi RD dan ingin menggali banyak info tentang RD,Trims

  5. Rudiyanto
    October 27th, 2013 at 19:43 | #5

    @siska
    Malam Siska,

    Sepengetahuan saya di Panin Sekuritas Cabang Medan banyak menyelenggarakan acara edukasi. Anda bisa menghubungi cabang tersebut dengan kontak sbb:
    Medan – Diponegoro
    Wisma BII Lt. 4 Suite 404
    Jl. Diponegoro No. 18
    Medan 20152 – Indonesia
    Tel.: (62-61) 451 9267
    Fax: (62-61) 451 9206
    E-mail: medan@pans.co.id

    Medan – Iskandar Muda
    Jl. Iskandar Muda No. 99
    Medan 20112 – Indonesia
    Tel.: (62-61) 453 0123
    Fax: (62-61) 452 3934
    E-mail: medan3@pans.co.id

    Medan – Pemuda
    Gedung Panin Bank Lt. 5
    Jl. Pemuda No. 16-22
    Medan 20151 – Indonesia
    Tel.: (62-61) 457 6996
    Fax: (62-61) 453 1097
    E-mail: medan2@pans.co.id

    Semoga bermanfaat.

 


%d bloggers like this: