Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Tapering??? Mending Fokus Sama Yang Lebih Penting…

Tapering??? Mending Fokus Sama Yang Lebih Penting…

Pada artikel bulan sebelumnya, saya sempat membuat satu jajak pendapat kecil tentang tapering yang tidak jadi. Belakangan isu ini sudah mulai dilupakan karena perhatiannya pindah ke hal lain seperti Shutdown pada pemerintahan AS, rapat APEC, dan lain-lain.

Hal ini tidak aneh karena dunia perekonomian dan politik kadang-kadang menurut saya mirip dengan infotainment. Ada isu hot yang cepat sekali menjadi topik utama, namun begitu ada isu yang lebh hot lagi, maka yang lama akan segera terlupakan. Buat anda yang fokus pada isu2 hot, maka seyogianya anda bisa dikatakan seorang investor yang berbasis teknikal. Memperhatikan perubahan tren dengan cepat dan beraksi sesuai dengan tren tersebut.

Namun jika anda adalah seorang investor fundamentalis yang mencoba melihat pada akar permasalahan, mau sekarang hot atau tidak tetap ada hal-hal yang tidak bisa tidak anda perhatikan. Shutdown ataupun tapering menurut saya adalah pengalih perhatian. Seharusnya kita lebih berfokus pada masalah yang lebih mendasar yaitu kondisi perekonomian Amerika Serikat itu sendiri.

Yang namanya politik podo wae… Mau di negara yang katanya demokrasi dan pendidikan sudah maju atau negara yang dibilang masih “berkembang”. Masih ingat drama di negara kita ketika kebijakan BBM? Bukankah juga penuh dengan drama2 seperti sekarang. Trus bagaimana akhirannya? Jangan lupa, sebelum shutdown kita juga sudah menonton drama fiscal cliff bukan?

FokusKembali ke diskusi, bagaimana dengan kondisi perekonomian AS?Indonesia, meski dikenal sebagai negara komoditas karena menghasilkan banyak sumber daya alam, perbankan adalah kontributor utama kapitalisasi di bursa. Oleh karena itu, kinerja sektor perbankan merupakan kinerja vital yang pada dasarnya mencerminkan bagaimana kondisi perekonomian Indonesia. Sama juga, Amerika Serikat, meski dikenal dengan pusat teknologi Sillicon Valley dan Hollywood, menurut saya kontributor utama adalah sektor properti. Sebab ketika sektor properti ambruk pada tahun 2008, negara tersebut mengalami krisis yang sangat parah.

Kemudian jangan dilupakan juga bahwa salah satu data yang menjadi perhatian The Fed dalam pengambilan keputusan adalah data pengangguran dan pertumbuhan ekonomi. Jadi dengan memperhatikan tiga hal tersebut, maka kita bisa melihat apakah AS sudah sehat atau belum. Sebab ketika kondisi negara sudah sehat, maka stimulus (baca: obat kuat) sudah tidak menjadi kebutuhan. Negara sudah sehat, berarti perekonomian akan berputar dan akan menghasilkan permintaan terhadap barang dan jasa. Kalau perekonomian sudah berputar, maka ada uang yang selanjutnya akan diinvestasikan dan masuk ke sektor pasar modal.

Jadi buat fundamentalis, tahu bahwa AS sudah sehat atau tidak jauh lebih penting daripada mengetahui apakah apakah stimulus akan dilanjutkan atau tidak. Dan kalau perekonomian jalan, tidak mungkin pemerintahan akan tutup terus menerus. Mau pajaknya ga dibayar?

Beberapa indikator yang saya gunakan sebagai berikut:

Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat 2003 – 2013

Pertumbuhan Economy AS

Rasio Penggangguran (Unemployment Rate) AS 2003 – 2013

US Unemployment Rate

Rasio Harga Rumah (House Price Index) AS 2003 – 2013

House Property Index

Dari 3 indikator di atas, dapat dilihat bahwa Amerika Serikat memang menunjukkan tanda-tanda pemulihan namun masih belum kembali ke masa-masa kejayaannya. Jika diingat2, alasan yang dipakai the Fed yang membatalkan tapering waktu itu memang sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahwa perekonomian memang sudah membaik tapi belum pulih sebelumnya. Kapan baru dianggap pulih? menurut saya salah satu konsen utama adalah tingkat pengangguran. Sebab jika banyak orang tidak ada pekerjaan, maka beban negara akan berat karena pemerintah AS mensubsidi pengangguran serta perekonomian akan sulit berputar cepat karena konsumsi sedikit. Ketika pengangguran sedikit, maka otomatis orang akan membeli rumah dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi akan kembali tinggi.

Perkiraan pribadi saya, mungkin tingkat pengangguran perlu turun sampai sekitar 6.5% – 7% baru tapering akan dilakukan. Jika mengacu pada pilihan yang tersedia di Jajak Pendapat Soal Tapering, maka saya akan memilih 4 dan 5. Demikian sharing saya kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Data dan Gambar : Bureau of Labor Statistic – USA, useconomy.about.com, Federal Housing Finance Agency dan Istockphoto

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
  1. October 10th, 2013 at 19:56 | #1

    Tidak banyak yang tahu bahwa akhir tahun ini pengawasan bank akan beralih dari BI ke OJK. Simak analisa soal Tantangan OJK (dimuat di harian KONTAN 08 Okt 2013)

  2. Lola
    October 18th, 2013 at 20:57 | #2
  3. Rudiyanto
    October 20th, 2013 at 22:44 | #3

    @Lola
    Salam Lola,

    Semua reksa dana bagus. Sebab sebagai sesama “sopir angkot” dilarang saling mendahului.

    Seharusnya hal ini ditanyakan ke orang yang lebih independen. Atau bisa juga langsung dibandingkan hasilnya di website dimana semua reksa dana dibandingkan secara adil. Salah satunya anda bisa mencoba di http://www.infovesta.com.

    Semoga bermanfaat.

  4. Lola
    October 22nd, 2013 at 20:38 | #4

    ok thanks pak buat jawaban serta informasi nya

 


%d bloggers like this: