Home > Aset Alokasi, Belajar Investasi, Belajar Reksa Dana, Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Strategi Investasi > Efek Penguatan Dolar Terhadap Emas, Properti dan Reksa Dana (1)

Efek Penguatan Dolar Terhadap Emas, Properti dan Reksa Dana (1)

Akhir-akhir ini saya sering keliling ke beberapa tempat membawakan seminar dengan topik Emas, Properti dan Reksa Dana. Mumpung sering dipakai, saya gunakan sekali lagi dalam artikel terbaru dalam posting kali ini. Bedanya hanya saya tambahkan kata Efek Penguatan Dolar di depannya saja.

Kata Penguatan Dollar tersebut juga sebenarnya masih dalam statuisasi perdebatan. Hal ini karena ada sebagian yang berpendapat bahwa Rupiah tidak sedang mengalami pelemahan, akan tetapi Dolar yang justru mengalami penguatan. Sebelum ada Harmonisasi pada Statuisasi penggunaan Istilah Kemakmuran Ekonomi ini, maka saya menggunakan istilah Penguatan Dollar. Mohon kondisi labil kosa kata ini bisa dimengerti oleh teman2 pembaca disini mengingat still young my age.

DollarMata uang Rupiah sendiri, jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di Asia, merupakan mata uang dengan koreksi yang paling dalam. Jika setiap hari anda membaca koran yang isinya demikian, tentu sedikit banyak kita merasa khawatir juga. Bagaimana kira2 efeknya terhadap instrumen yang selama ini kita kenal yaitu emas, properti dan reksa dana? Saya akan mencoba membahasnya dari sudut pandang saya.

Emas

Ketika berinvestasi emas, terutama emas batangan sebetulnya investor harus menyadari bahwa ada beberapa risiko yang harus dia pahami. Risiko pertama adalah kemampuan menentukan harga ada di pihak penjual. Hal ini seperti yang saya alami sendiri dimana saya berniat menjual emas batangan produksi Antam yang saya miliki. Pada saat datang ke toko emas, karena bentuk emas yang saya miliki berbentuk horisontal (keluaran lama) sementara keluaran terbaru sudah berbentuk vertikal, saya mendapat harga yang lebih rendah. Hal seperti ini sebetulnya tidak makes sense buat saya karena emas yang saya jual ada emas murni dengan sertifikat ANTAM, namun karena harga ditentukan oleh penjual, saya sebagai investor terpaksa hanya bisa gigit jari.

Selain itu, saya juga memiliki pengalaman unik ketika mau membeli emas batangan di toko emas. Ceritanya ada teman baik saya yang anaknya baru berusia 1 bulan. Saya berpikir daripada memberikan perlengkapan bayi yang cuman bisa dipakai sebentar saja karena bayi cepat besar, mengapa tidak saya berikan emas batangan seberat 1 gram. Selain nilainya kurang lebih sama, nilainya juga diperkirakan bisa meningkat setelah anak tersebut besar.

Singat cerita karena cukup jauh bagi saya untuk datang ke ANTAM, saya mendatangi toko emas yang didekat tempat tinggal saya. Ketika datang, saya mengatakan ingin membeli emas LM 1 gram. Petugas toko menawarkan ke saya 3 alternatif. Pertama Emas buatan toko itu sendiri yang harganya lebih murah tapi tidak ada sertifikatnya. Kedua, Emas yang juga buatan toko, tapi ada sertifikat. Ketiga emas Antam dengan sertifikat Asli dari ANTAM tapi kebetulan stok sedang habis sehingga pilihan saya hanya alternatif pertama dan kedua.

Untuk alternatif pertama, saya tidak memilih karena anggapan saya kalau emas toko hanya bisa dijual di toko tersebut. apalagi tidak ada sertifikatnya. Untuk opsi kedua cukup menarik, namun setelah saya tanya lebih jauh, ternyata untuk pembelian di bawah 100 gram, pembeli dikenakan biaya pembuatan sertifikat. Kembali saya bertanya berapa biaya sertifikat tersebut? Dijawab biayanya Rp 200.000. Saya kaget, ternyata untuk emas yang nilainya sekitar lima ratus ribuan, saya masih harus menambah biaya sertifikat lagi sebesar Rp 200.000. Akhirnya saya tidak jadi membeli emas dan kembali membeli perlengkapan bayi. Demikian pengalaman unik saya terkait risiko bahwa harga ditentukan oleh penjual. Apabila ada masukan atau koreksi, silakan bisa disampaikan.

Risiko kedua adalah risiko gabungan antara nilai tukar dan fluktasi harga emas dunia. Harga emas dunia, sebagai contoh per tanggal 18 September 2013 adalah USD 1311 per Troy Ounce. Karena di Indonesia, emas diperjualbelikan dalam mata uang Rupiah dan dalam satuan gram, maka harga emas dunia tersebut harus dikonversikan lagi dalam mata uang Rupiah per satuan gram.

Menurut Wikipedia, 1 Troy Ons setara dengan 31.1 gram emas. Kemudian untuk mengkonversikan kurs dari Dolar ke Rupiah saya menggunakan Kurs Jual Bank Indonesia per tanggal 17 September 2013 yaitu 11.508 per USD. Dengan informasi tersebut konversi harga emas dunia adalah sebagai berikut

Harga Emas Dunia 1,311
Kurs Rupiah 11,508
Troy Ons ke Gram 31.1
Harga Emas dalam Rupiah Per Gram 485,112

Harga Emas dalam Rupiah per gram diperoleh dengan Mengalikan harga Emas Dunia dengan Kurs Rupiah kemudian dibagi 31.1 yang merupakan konversi Troy Ons ke Gram. Jadi jika harga emas dunia adalah 1.311 maka harga emas yang wajar di Indonesia adalah Rp 485.112 per gram. Meski demikian, pada kenyataannya harga emas yang kita beli bisa berbeda dengan harga tersebut dan biasanya lebih tinggi. Penyebabnya? Risiko yang pertama tersebut. Harga ditentukan oleh penjual bukan pembeli.

Hal yang menarik disini adalah saya melakukan beberapa simulasi. Pertama, harga emas tetap, Dolar mengalami penguatan hingga Rp 15.000. Kedua, harga emas naik ke 1500, dolar mengalami pelemahan ke Rp 9.000 dan Ketiga, harga emas turun ke 1000 dan Dolar mengalami penguatan ke Rp 15.000

Skenario I, Emas Tetap, Dolar 15.000
Harga Emas Dunia 1,311
Kurs Rupiah 15,000
Troy Ons ke Gram 31.1
Harga Emas dalam Rupiah Per Gram 632,315
Skenario II, Emas ke 1.500 Dolar 9.000
Harga Emas Dunia 1,500
Kurs Rupiah 9,000
Troy Ons ke Gram 31.1
Harga Emas dalam Rupiah Per Gram 434,084
Skenario III, Emas 1.000 Dolar 15.000
Harga Emas Dunia 1,000
Kurs Rupiah 15,000
Troy Ons ke Gram 31.1
Harga Emas dalam Rupiah Per Gram 482,315

Skenario di atas menunjukkan bahwa ketika harga emas tetap, namun Dolar terus mengalami penguatan, harga emas bisa terus naik. Sebaliknya juga ketika harga emas naik namun di satu sisi Dolar mengalami pelemahan, maka harga emas malah bisa turun. Dalam kondisi ekstrim biarpun harga emas turun ke 1000 per troy ons, sepanjang Dolar bisa ke 15.000, harga emas bisa tidak berubah jauh dibandingkan harga sekarang.

Dengan demikian, ketika berinvestasi di emas, ternyata tidak hanya risiko fluktuasi emas saja yang harus kita perhatikan, tapi juga risiko nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Tidak jarang juga, ketika harga emas turun terlalu jauh, para penjual memiliki kewenangan untuk menentukan harga sendiri. Sehingga risiko yang harus dihadapi oleh investor berlipat ganda. Namun jika kita hanya fokus pada efek penguatan dolar saja terhadap emas, bisa dikatakan efek ini sifatnya positif. Bahkan jika harga emas dunia turun sekalipun, sepanjang Dolarnya terus menguat secara signifikan, maka harga emas masih bisa naik.

Demikian artikel ini, efeknya terhadap properti dan reksa dana akan dibahas pada artikel mendatang. Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber data dan Foto : Bank Indonesia, Yahoo Finance dan Istockphoto

  1. teguh
    September 18th, 2013 at 12:02 | #1

    Yth Bapak Rudiyanto

    Akhirnya ada juga yg menulis tema yg menjadi kegalauan saya selama ini.
    Yaitu Sulitnya memahami pergerakan harga emas dalam rupiah/gram.
    Selain karena faktor pergerakan kurs rp/dolar juga karena faktor pergerakan harga emas international itu sendiri dalam dollar/troy.ons .

    Juga kalo bapak cermati,
    Harga emas antam yg di publish ANTAM tidak langsung turun secara proposional ketika
    harga emas international turun (kitco.com).
    Terdapat jeda beberapa hari.
    Apalagi toko2 emas eceran penjual batangan antam, jedanya bisa sampai seminggu.
    Sehingga saya bingung proporsi emas dalam protofolio saya.

    Niat saya, emas saya gunakan utk hedging atas resiko kurs, inflasi dan fluktuasi IHSG.
    Menurut bapak Rudiyanto apakah hal itu tepat?

  2. Haris
    September 19th, 2013 at 11:05 | #2

    Kondisi ideal untuk membeli emas adalah ketika Rupiah sedang menguat (misalnya ketika kurs Rp 9000 per Dollar) dan harga emas dunia sedang rendah (misalnya 1000 Dollar per troy ons). Sedangkan kondisi ideal untuk menjualnya adalah kebalikannya. Masalahnya untuk menunggu market timing yang tepat itu ngga mudah.

  3. Rudiyanto
    September 19th, 2013 at 11:44 | #3

    @teguh
    Yth Pak Teguh,

    Hedging dalam pengertian saya, adalah misalkan saya punya reksa dana saham, ketika IHSG sedang turun, berarti harga emasnya naik. Kemudian ketikan harga IHSG sedang naik, kalau bisa harga emas juga naik, atau setidaknya tidak berubah.

    Dari pengalaman anda selama ini, apakah hal tersebut bisa terjadi?

  4. September 25th, 2013 at 16:24 | #4

    Saya punya langganan toko emas di Cikini, namanya Toko Emas Ibukota. Toko ini jual Logam Mulia (LM) Antam dengan harga LM sama dengan di web-nya Antam. Awalnya, saya tidak percaya karena jarang toko emas mau jual LM Antam dengan harga sama di web (minta fee tambahan). Tapi setelah beberapa kali beli disitu saya selalu dapat harga LM sama dgn web antam. Stock LM-nya juga gak pernah kurang.

    Detilnya saya tulis disini http://www.duwitmu.com/investasi-emas-yang-perlu-dicermati/

  5. Dul anak desa
    October 3rd, 2013 at 08:26 | #5

    Iya sebelumnya dalam kondisi labil hati dlm rangka konspirasi ekonomi saya juga berpikir utk mengoleksi emas. Tapi yg pasti bagi muslim, ada biaya tetap 2,5%/tahun sbg zakat wajib bila jml kepemilikan lebih dari nishob plus ketidak pastian spt tsb diatas lebih baik depo/ ORI, property atau reksadana. Btw trims sharingnya.

 


%d bloggers like this: