Home > Lain-lain > My Experience With Unit Link

My Experience With Unit Link

Pada artikel sebelumnya saya meminta tanggapan teman2 mengenai produk Unit Link. Sebab antara asuransi dan investasi murni atau Unit Link selalu menjadi pertanyaan dan perdebatan yang hangat mengenai apakah itu sebaiknya dipisah atau digabung. Sebagai seseorang yang berkarir di bidang pasar modal dan memasarkan produk investasi murni tentu apapun pendapat saya mengandung yang namanya conflict of interest. Oleh karena itu, saya akan mencoba untuk membahasnya dengan sharing pengalaman saya sendiri daripada berpendapat apakah ini sebaiknya dipisah atau digabung.

Sebab sama seperti teman2 disini, saya juga pernah ditawari secara gencar oleh agen asuransi. Dan pada kenyataannya saya juga memiliki produk yang anda sebut dengan nama unit link tersebut. Tertarik? Silakan ikut cerita ini lebih lanjut

Baik, cerita ini dimulai ketika ketika saya sedang kuliah di Universitas Tarumanagara. Pada waktu kuliah dulu, menjelang semester akhir, saya sempat di ajak ke salah satu perusahaan asuransi terkemuka di negara ini dan mengikuti training tentang kebutuhan asuransi pemasarannya. Waktu itu, terus terang saya sedang membutuhkan uang dan penghasilan dari kegiatan mengajar di kampus saja tidak cukup. Singkat kata saya hanya mencoba sebentar, dan.. kalau boleh jujur saya gagal jadi agen asuransi yang baik karena tidak berhasil menjual satu polispun. Tapi sedikit banyak saya pelajari tentang cara kerjanya.

Tidak lama setelah itu, saya diterima magang di perusahaan saya pertama kali yaitu Infovesta. Selama bekerja di situ sebagai riset dan juga merangkap penjual, saya banyak belajar tentang investasi, perencana keuangan dan asuransi. Ketika penghasilan saya perlahan2 sudah meningkat, saya memutuskan untuk berinvestasi di reksa dana terlebih dahulu. Hal ini sebetulnya salah karena secara konsep perencana keuangan, seseorang seharusnya memproteksi dirinya terlebih dahulu dari risiko baru selanjutnya berinvestasi. Bagi saya waktu itu, karena orang tua masih bisa membiayai dirinya sendiri, maka otomatis saya tidak memiliki tanggungan. Oleh karena itu, fokus saya hanya pada bagaimana meningkatkan nilai aset dengan berinvestasi sekaligus mendapatkan “feeling” bagaimana cara kerja dan kinerja reksa dana.

Setelah bekerja beberapa tahun, salah satu kerabat dari atasan menawarkan saya menawarkan produk asuransi murni. Timbang punya timbang akhirnya saya memutuskan untuk membeli asuransi tersebut. Sebagai informasi, premi asuransi tersebut adalah sekitar Rp 3 juta per tahun dengan uang pertanggungan Rp 1,4 M. Saya beli asuransi ini dengan pertimbangan adik saya waktu itu masih kecil dan masih dalam tanggungan orang tua. Pikiran saya suatu saat jika orang tua saya sudah tidak bekerja tentu saya akan mengambil alih tanggung jawab tersebut, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan? Jadi inilah asuransi jiwa pertama kali yang saya beli. Tidak ada rumus khusus dalam membeli asuransi ini, saya cuma hitung apakah saya sanggup bayar preminya atau tidak, dan apakah nominal pertanggungannya saya anggap cukup. Dari kantor saya mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Namun ketika saya coba klaim, memang tidak menanggung hingga 100%. Sebelum ada asuransi tersebut, biaya kesehatan boleh direimburse ke kantor.

Hidup berlanjut, saya menikah, berganti pekerjaan dan sekarang bekerja di Panin Asset Management. Setelah bekerja selama beberapa bulan, kembali saya mendapat tawaran asuransi dari salah satu kenalan di kantor. Karena sudah menikah, tentu tanggungan saya bertambah. Dari yang tadinya hanya adik, sekarang istri. Maka saya kembali memutuskan untuk menambah asuransi. Dari penawaran yang diberikan, uang pertanggungan kalau tidak salah sekitar Rp 2 M dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Memang lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio saya sebelumnya, namun mungkin ini ada kaitannya juga dengan umur dan kondisi kesehatan saya. Untuk asuransi kesehatan, memang saat saya baru masuk belum ada, namun diberikan penggantian dari kantor yang batasannya sekitar 1 kali gaji dalam 1 tahun.

Sambil berjalannya waktu, sama seperti juga teman2 disini, tentu pernah mendengar atau bahkan mengalami langsung dimana salah satu dari saudara, orang tua saudara, atau bahkan kenalan kita mengalami penyakit yang cukup parah dan menghabiskan cukup banyak uang. Ada yang beruntung karena punya uang yang cukup, tapi tidak sedikit yang sampai harus berutang atau menggadaikan hartanya karena penyakit yang tidak sembuh2. Dari sini timbul keinginan saya juga untuk memproteksi saya dari penyakit kritis. Oleh karena itu, saya menghubungi agen asuransi saya yang pertama dan berkonsultasi mengenai hal tersebut. Beberapa saat kemudian dia datang dan menawarkan upgrade dari asuransi yang saya miliki.

Upgradenya kurang lebih sebagai berikut, premi per tahun naik dari Rp 3 juta menjadi sekitar Rp 3,7 juta dengan Uang Pertanggungan tetap Rp 1,4 M. Jika terdiagnosa penyakit kritis, maka UP akan keluar 50% dan jika meninggal setelah itu akan keluar sisanya. Jika sembuh, paling tidak, ada uang Rp 700 juta untuk biaya pengobatan dan lain2. Saya setuju dan melakukan upgrade. Semua pembayaran asuransi dilakukan dengan kartu kredit.

Selang 1 tahun, lagi-lagi saya ditawari asuransi. Kali ini oleh teman saya yang sudah kenal sejak kuliah dan baru 1 tahun terakhir menggeluti dunia asuransi. Setelah memproteksi diri saya, langkah selanjutnya proteksi untuk istri. Terus terang saya memang sengaja untuk tidak membeli dari asuransi yang sama (2 agen sebelumnya) dan ingin mencoba asuransi yang lain untuk melihat pelayanan dan kualitas servisnya. Untuk ini, saya meminta dibuatkan polis untuk istri saya dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Fokus saya waktu itu lebih kepada perlindungan untuk penyakit kritis dan biaya untuk pengobatan dan rumah sakit (kesehatan). Jadi terus terang saya agak lupa dengan uang pertanggungannya. Perusahaan tempat teman saya bekerja ini tidak menjual asuransi murni, sehingga saya memperkecil porsi investasi dan fokus pada peningkatan uang pertanggungannya.

Tidak lama setelah itu, ada peningkatan fasilitas dari perusahaan dimana untuk karyawan dan keluarga karyawan diberikan fasilitas asuransi kesehatan. Asuransi ini secara spesifik mengcover biaya rumah sakit dan biaya operasi. Jadi fungsinya sama seperti bagian asuransi kesehatan yang saya beli dari teman saya sebelumnya. Tidak lupa juga dengan Jamsostek. Setiap perusahaan tentu mengikutkan karyawan pada program Jamsostek. Dimana dalam Jamsostek biasaya sudah terdapat asuransi kecelakaan kerja, asuransi kesehatan dan Jaminan Hari Tua. Sebetulnya ini juga agak mirip2 dengan unit link. Bedanya dia tidak memotong Jaminan Hari Tua kita seandainya kita tidak membayar. Dari perbincangan dengan rekan2 di industri lain, Jamsostek dikategorikan sebagai Asuransi

Jadi jika diringkas, asuransi yang saya punya baik yang saya bayar sendiri terdiri dari

Asuransi Premi Uang Pertanggungan Tertanggung Keterangan Lain
Jiwa + Penyakit Kritis Rp 3.7 juta Per tahun Rp 1.4 M Saya Asuransi Murni
Jiwa Rp 6 juta Per tahun Rp 2 M Saya Asuransi Murni
Jiwa dan, Penyakit Kritis Rp 6 Juta per tahun Rp 400 Juta Penyakit Kritis Istri Unit Link
Asuransi Kesehatan Saja* Kantor Tergantung Kondisi Saya + Istri Asuransi Murni
Jamsostek % dari Gaji Kecelakaan, Kesehatan dan Hari Tua Saya Asuransi Sosial

*Koreksi. Sebelumnya saya terkena penyakit sebagian besar masyarakat Indonesia dalam berasuransi yaitu tidak membaca polis dengan teliti. Setelah saya lihat ulang ternyata polis asuransi istri saya hanya menanggung risiko Jiwa dan Penyakit Kritis dan tidak ada perlindungan rumah sakitnya. Hal ini memang saya yang minta pada awal dan dibuatkan oleh agen asuransi. Dan ternyata dari kantor, keluarga diberikan asuransi kesehatan, sehingga unit link tersebut melengkapi perlindungan yang saya inginkan untuk keluarga saya.

Jadi dari seluruh asuransi yang dimiliki keluarga saya, hanya ada satu unit link. Dan apabila anda tanya apakah saya akan menutup unit link tersebut, antara ya dan tidak. Ya karena saya pikir asuransi kesehatan dari kantor sudah mencukupi untuk proteksi kesehatan, dan tidak karena pertama istri saya tidak memiliki perlindungan atas penyakit kritis dan kedua asuransi tersebut saya beli dari teman yang sudah dikenal bertahun-tahun. Kemudian karena saya pikir saya masih sanggup dengan biaya premi yang ada, maka akhirnya saya memutuskan untuk tetap melanjutkan unit link tersebut. Tentu keputusan ini masih bisa berubah tergantung situasi dan kondisi dan mudah2an saya tidak salah membaca polis asuransi dan manfaat asuransi yang saya dapatkan.

Demikian pengalaman saya dengan unit link, apakah sudah cukup menjawab pertanyaan anda apakah investasi dan asuransi harus dipisah atau tidak? Perlu diingat bahwa keputusan itu tidak hanya dilandasi dengan pertimbangan rasional, tapi juga emosional dan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Saya terbuka jika ada yang mau memberikan masukan.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber data dan Foto : Istockphoto

Categories: Lain-lain Tags:
  1. Ndie
    September 7th, 2014 at 04:11 | #1

    Halo Pak Rudi,

    Terima kasih ulasan soal Unit Linknya, sedikit sumbang pemikiran ya Pak.

    Perlu dipahami juga bahwa Asuransi Jiwa atau Term Life itu manfaatnya baru keluar kalau si Tertanggung Wafat. Cukup banyak masyarakat berpikir bahwa manfaat Asuransi Term Life itu bisa diperoleh saat seseorang hidup. Saya punya sahabat yang berpikiran seperti ini karena mendengar Talk Show Perencana Keuangan, namun akhirnya jadi salah pemikirannya, berpikir bahwa Term Life itu nantinya bisa dimanfaatkan hasilnya.

    Kenyataannya di masyarakat adalah seperti apa yang dituliskan oleh Pak Hary…. Nggak mau rugi karena premi hilang (?) sudah membayar asuransi. Kebetulan yang namanya asuransi ini memang tidak seperti ponsel atau benda-benda lainnya. Manfaatnya tidak terasa sampai akhirnya terjadi suatu musibah. Premi dibayar untuk dapat proteksi, baik itu jiwa, biaya kesehatan dan lain-lain, jadi tidak ada yang hilang. Jika ingin manfaat asuransi, tentu konyol kalau kita minta terjadi resiko pada diri kita sehingga terasalah manfaat punya asuransi

    Setahu saya, seperti artikel yang pernah saya baca, dari dokumen pemerintah unit link itu hasil investasinya memang untuk kemudian dipakai membayar premi, oleh sebab itulah makanya tidak kena pajak pada tahun tertentu. Sehingga Nasabah cukup membayar dalam waktu tertentu, misalnya 10 tahun, namun proteksinya hingga masa 100 tahun. Paragraf sebelumnya (Case Pak Hary) sudah menjelaskan mengapa dirancang produk sedemikian rupa sehingga orang tidak perlu bayar premi lama-lama. Artinya uang bekerja untuk melindungi si Nasabah, melindungi dari bayar premi yang lama dan hangus, dan dalam jangka panjang justru mendapat manfaat tunai

    Tentulah kurang tepat dan tidaklah sepadan kalau membandingkan Reksadana VS Unit Link dengan jumlah premi misalnya sama-sama Rp. 500.000 per bulan. Jelas beda hasilnya dari awal, karena dalam Investasi seperti reksadana tidak ada Beban Asuransinya.

    Seperti bisnis lainnya saya pikir yang namanya bisnis ya harus untung, buat apa bisnis kalau nggak untung. Sejauh keuntungan itu wajar dan yang layak tentu tidak masalah. Rasanya kurang fair kalau untung perusahaan asuransi dianggap kurang wajar, sementara harga sepiring lalapan bisa dicharge Rp. 15.000 di Anyer hanya karena lalapan nampak dimata dan bisa dirasa tenggorokan. Kalau asuransi gak untung dan mudah pailit tentu akhirnya menghilangkan kepercayaan masyarakat juga.

    Asuransi Kantor boleh saja diandalkan, asal tidak lupa untuk membentuk asset guna membayar premi asuransi murni kesehatan yang sudah tidak murah lagi saat usia pensiun tiba kalau tidak mau repot dengan jual asset untuk biaya rumah sakit yang bisa habis ratusan bahkan milyaran rupiah. Dari kenyataan yang ada, paling tidak sudah dua orang teman saya yang asset orang tuanya habis demi pengobatan. Atau kasus-kasus lain dimana seseorang sudah terkena sakit tertentu di usia muda dan harus bayar ekstra premi atau bahkan ditolak permohonan asuransinya karena sudah sakit meski mampu bayar.

    Untuk Pak Dargombes, uang yang ditaruh adalah Rp. 100 juta dan Top Up Tunggal, Premi Rp. 5.000.000, di atas kertas saja ketika permohonan disetujui paling tidak dalam masa 3 tahun dana 100 juta tersebut sudah berkurang Rp. 15 juta, (Premi tahunan Rp. 5 juta x 3 tahun agar polis tetap hidup) sehingga tersisa Rp. 85.000.000. Sementara laporan yang Anda terima Saldo Anda ada kurang lebih Rp. 87.000.000. Baiknya jika ingin mengulas hasil investasi Unit Link paling tidak setelah masa pembayaran biaya-biayanya habis, dalam kasus Bapak yaitu di akhir tahun ke 6 (yang saya tahu ada biaya selama 5 tahun dalam produk maestro. Karena seperti yang saya sampaikan sebelumnya dalam Unit Link ada Investasi dan biaya-biaya Proteksi yang harus dibayar.

    Seperti halnya reksadana, di dalam Unit Link juga ada beragam jenis fund yang masing-masing memiliki karakternya sendiri dan bisa pula disesuaikan dengan profile rekan-rekan pribadi. Yang saya tahu Equity itu kurang lebih setara dengan Reksadana Campuran lebih rinci mungkin di blog ini bisa ditemukan apa itu reksadana campuran dan kalau di perusahaan asuransi mereka biasanya punya informasi tentang Equity.

    Akhir kata saya setuju dengan pernyataan bahwa tujuannya untuk berasuransi maupun untuk investasi itu apa? Seringkali masyarakat sendiri tidak tahu tujuannya apa. Atau jika diarahkan untuk mencapai suatu tujuan dengan prinsip-prinsip dasar keuangan, malah bingung dan kaget sendiri ternyata kok tujuannya itu kalau dalam angka ternyata besar, tapi daya beli sedikit atau bahkan tidak mampu.

    Sedikit tambahan, apapun yang dipilih untuk investasi baik reksadana, tanah, rumah, emas, atau bahkan dalam Unit Link yang dijadikan alat investasi memiliki resikonya sendiri-sendiri dan karakter yang beda-beda, lebih bagus jika ada dana lakukan diversifikasi. Namun diantara semuanya, jika suka yang pasti-pasti, tentulah Uang Pertanggungan dari proteksi Asuransi yang pasti, dan disitulah keindahan asuransi (the beauty of insurance).

    Terimakasih

  2. Terecia Elshinta
    September 7th, 2014 at 11:07 | #2

    Halo Pak,
    Saya sedang mencari asuransi murni jiwa dan penyakit kritis, saya belum menanyakan ke perusahaan asuransi, karena sulit sekali mencari asuransi murni. Bolehkan saya tahu perusahaan asuransi yang dipakai Bapak?

    Terima kasih

  3. faisal7
    September 7th, 2014 at 18:25 | #3

    Salam pak rudi..terima kasih atas tulisan2 yg mencerahkan.
    Terus terang sy kenal rd tanpa sengaja membaca tulisan pak rudi ini.tanpa berpikir panjang langsung sj saya tutup unit link saya dan istri,padahal sudah berlangsung hampir 3tahun.coba brp uang yg kembali?punya istri 3jtann punya sy cm 50rb.tp sy ga menyesal krn untung sj blm sampai 5/10tahn.skrng sy sdh ambil asji murni+askes murni+rd panin dn ultima. Sy baru tersadar, unit link selalu mengagung2kan melindungi anda dlm 100tahun pernahkah anda menyadari bahwa smua biaya rumah sakit hampir sllu ada kenaikan tiap tahun?misal anda berumur 30th mendapatkan penggantian biaya kamar senilai 300rb,saat anda berumur 50thn yg artinya 20 thn kemudian masihkah ada kamar seharga 300ribu?

  4. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:31 | #4

    @Ndie
    Salam Ndie,

    Terima kasih untuk sharingnya.

    Saya cuman mau tambahkan adalah dengan adanya kehadiran BPJS Kesehatan, maka seterusnya selain asuransi kesehatan swasta yang preminya selalu bertambah mahal seiring dengan bertambahnya usia, masyarakat juga bisa mengambil BPJS Kesehatan yang harganya lebih murah bahkan tidak melihat historis kesehatan kita.

    Paling mahal adalah sekitar 59.500 untuk kelas I. Tapi pengobatan yang butuh biaya besar seperti cuci darah, operasi jantung dan lain-lain sudah bisa gratis. Memang pada kenyataannya di lapangan, masyarakat harus antri dan terkadang rumah sakit mendahulukan pasien yang bayar.

    Akan tetapi dengan semakin banyaknya rumah sakit yang dibangun, pemanfaatan puskesmas sebagai rujukan awal atau bahkan memberikan pengobatan awal, diharapkan pelayanan BPJS Kesehatan bisa lebih baik. Tentu kita berharap program Indonesia Sehat dari pemerintah Jokowi – JK bisa berhasil.

    Terima kasih.

  5. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:36 | #5

    @Terecia Elshinta
    Halo Ibu Terecia,

    Memang untuk mencari produk asuransi murni itu sulit. Untuk asuransi jiwa, saya membelinya di Manulife. Namun program Smart Investment Protection Plan yang baru Panin Asset Management luncurkan beberapa waktu lalu ini juga menggunakan asuransi jiwa murni. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/18/mengenal-smart-investment-protection-plan-dari-panin-asset-management/

    Untuk asuransi penyakit kritis itu pada dasarnya (sepengetahuan saya) tidak bisa anda dapatkan jika tidak membelinya secara terpisah. Karena asuransi itu merupakan asuransi tambahan. Saya memiliki asuransi penyakit kritis dari Manulife yang merupakan tambahan dari asuransi jiwa. Untuk istri saya, asuransi penyakit kritis dari Prudential yang merupakan bagian dari unit link.

    Semoga bermanfaat.

  6. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:39 | #6

    @faisal7
    Salam Pak Faisal,

    Perlu diketahui bahwa saya tidak menyarankan untuk menutup unit link lho. Malahan saya punya unit link karena membutuhkan manfaat asuransi penyakit kritisnya.

    Hanya saja saya tidak terlalu antusias dengan nilai tunai karena pada saat membelinya saya menggunakan prinsip beli asuransi kendaraan. Kalau tidak ada klaim ya uang hangus. Untuk itu, saya selalu berusaha memaksimalkan manfaat asuransinya dibandingkan investasi.

    Terima kasih

  7. ari
    October 20th, 2014 at 15:36 | #7

    Selamat Sore Pak Rudy,

    Mohon masukannya saat ini ini saya sudah megikuti asuransi + investasasi (unitlink) di pr*d*n sudah berjalan 2 tahun dengan nominal 500 rb/bln, saya ingin mengalihkan investasi tsb di reksadana, tadinya asuransi itu untuk persiapan dana pensiun dan beralih ke asuransi traditional aja.
    Yang mau saya tanyakan apabila saya tutup, saya tetap menerima uang penutupan asuransi meskipun jumlahnya sdikit di saldo tertulis +/- 4,5 jutaan .

    Terima kasih

    Salam
    Ari

  8. Rudiyanto
    October 24th, 2014 at 12:51 | #8

    @ari
    Selamat Sore Pak Ari,

    Apabila unit link tersebut ditutup, biasanya selain ada biaya penarikan, juga ada pajak atas keuntungan investasi anda. Untuk lebih lengkapnya bisa anda tanyakan ke agen penjual anda.

    Satu hal yang pasti, kalau kamu berharap uang kamu bisa balik, itu sudah pasti tidak mungkin.

    Semoga bermanfaat.

  9. ari
    October 27th, 2014 at 10:48 | #9

    Pak Rudy,

    Terima kasih banyak atas responnya.

    Pak saya juga ingin berkonsultasi selain unit link gak papa ya pak.
    Mohon pencerahannya saat ini saya pnya cicilan kpr stiap bln Rp.2.650.000 selama 11 tahun dan sudah berjalan 3 tahun, apabila saya ingin menjual rumah tersebut & dana hasil penjualan saya alihkan ke investasi reksadana untuk jangka panjang apakah tepat.
    karena saya melihat return reksadana cepat juga meskipun high risk high return.

    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas masukann & pencerahannya.

    Salam
    Ari

  10. Rudiyanto
    October 28th, 2014 at 00:18 | #10

    @ari
    Malam Pak Ari,

    Kegiatan investasi reksa dana itu harus selalu didasarkan pada suatu tujuan. Apakah itu menyiapkan pensiun, rencana pendidikan atau hal lainnya. Begitu tujuan sudah SMART, http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ langkah berikutnya menghitung berapa nilai yang diperlukan setiap bulan untuk mencapai tujuan tersebut.

    Jika tujuan yang ada sudah bisa dipenuhi dari gaji yang anda sisihkan setiap bulan tanpa harus menjual rumah, ya tidak usah dijual. Kalau tidak cukup, baru dipertimbangkan kembali.

    Jika tujuannya hanya mau cari return lebih tinggi saja, menurut saya itu bukan tujuan investasi yang SMART.

    Terima kasih

  11. ari
    October 28th, 2014 at 09:14 | #11

    Selamat Pagi Pak Rudy,

    Terima kasih atas pencerahannya sangat membantu sekali.

    Salam
    Ari

  12. Stephanie
    December 9th, 2014 at 00:06 | #12

    Dear Pak Rudy,

    Apakah saya bisa memasarkan produk term disini?

    Terima Kasih

    Stephanie

  13. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 01:29 | #13

    @Stephanie
    Malam Ibu Stephanie,

    Apabila ada produk Asuransi Term Life yang bagus bisa diinformasikan disini, saya tidak keberatan.

    Terima kasih

  14. May 15th, 2015 at 12:42 | #14

    Selamat siang Pak Rudiyanto,

    Saat ini saya merupakan agen asuransi Allianz, produk yang saya jual merupakan unit link syariah. Sekedar ingin sharing pengalaman saya mengenai pencarian produk asuransi jiwa. Background pekerjaan saya sebelum jadi agen adalah wiraswasta, usia saya waktu itu 30 tahun (thn 2014) dan lagi cari info proteksi asuransi jiwa sebesar 1 Miliar, budget sekitar 300 ribu-an per bulan. Setelah ber-googling ria dan korespondensi lewat email, saya dapat 3 ilustrasi termlife.

    Ilustrasi yang pertama, produk syariah, premi 3 juta per tahun, tenor 15 tahun, gak bisa bayar bulanan. Kalo yang kedua, termlife konvensional, premi minimal 4 juta, tenor 20 tahun, dapet UP-nya lebih besar yaitu 1,335 M, ada garansi perpanjangan, tapi sama dengan yang pertama, gak bisa bayar bulanan. Trus yang ketiga termlife konvensional juga, preminya 3,6 juta per tahun, tenor 20 tahun, dan bisa bayar bulanan, tapi jadi lebih mahal sekitar 12%. Jadi bayarnya kalo bulanan jadi sekitar 336 ribu per bulan.

    Karena saya pribadi pengen produk yang syariah. Masih berlanjutlah pencarian saya hingga akhirnya nemu produk unit link syariah dari Allianz. Beruntung saya ketemu dengan agen yang bagus, dibuatkanlah ilustrasi unit link syariah dari Allianz ini buat saya, premi minimal tapi proteksi maksimal. Dengan profil saya, UP 1 Miliar preminya 355 ribu per bulan, bayar premi selama ingin punya proteksi. Premi pun bisa flat hingga lebih dari 20 tahun, dengan catatan hasil investasi rata-rata sekitar 6-7% per tahun. Bahkan saya gak perlu risau dengan garansi perpanjangan, selama premi bayar terus, hasil investasi bisa nutupin biaya-biayanya, maka polis akan aktif terus. Sungguh beda dengan beberapa agen unit link yang pernah nawarin ke saya, selalu nawarin cuma bayar 10 tahun, ada hasil investasi, “gratis” asuransi seumur hidup. Akhirnya pun saya memilih produk unit link syariah dari Allianz ini, namanya Allisya Protection Plus. Dan 2 bulan sesudahnya saya memutuskan untuk menjadi agennya.

    Saya setuju dengan pendapat bapak, banyak faktor yang melandasi dalam mengambil sebuah keputusan untuk memilih produk asuransi. Kita harus tetap bijak dan cermat dalam memilihnya. Jadi bukan hanya sekedar “Say No unit Link”.

    Terima Kasih

    M. Ibnu Setiawan
    Blog: http://agenasuransisyariah.com

  15. Eko
    August 9th, 2015 at 07:28 | #15

    Hallo pak. Sy eko
    Sy mau bertanya
    Sy br berumah tangga.
    Bagusnya sy ambil asuransi apa yah
    Sy pengen ambil asuransi BPJS untuk kesehatan sj
    Lalu untuk asuransi investasi sy ambil d PT. AJ CAR kira2 350.000/bln apakah itu terhitung bagus pak
    Atau ada saran dr bapak ? Mohon masukannya pak

  16. Rudiyanto
    August 9th, 2015 at 15:36 | #16

    @Eko
    Salam Pak Eko,

    Sebelum saya ucapkan selamat untuk pernikahannya. Semoga bahagia, sehat dan sejahtera.
    Mengenai pertanyaan asuransi apa yang cocok, selalu disesuaikan dengan kebutuhan, fasilitas asuransi dari kantor dan keadaan keuangan.

    Jadi idealnya didiskusikan dengan perencana keuangan supaya lebih komprehensif. Terima kasih

  17. Firmansah
    September 25th, 2015 at 22:58 | #17

    Saya membaca artikel ini dgn antusias, mulai dr isi artikel sampai comment paling terakhir. Sangat bermanfaat. Tks

  18. Rudy Hart
    September 26th, 2015 at 14:41 | #18

    @Dargombes
    Salam Kenal Pak Dargombes,
    Di Prudential, unitlink konvensional, dana (nilai tunai) yang harus ada minimal Rp 1juta.
    Untuk yang Syariah, dan (nilai tunai) yang harus ada minimal Rp 3juta.
    Sisa (nilai tunai)nya bisa tarik.
    Namun bila setelah penarikan, tidak ada pembayaran premi lebih lanjut, mungkin dalam beberapa bulan ke depan, polis akan lapsed (ditidurkan) sehingga tidak bisa dilakukan klaim bila ada risiko.
    Terima Kasih.

  19. okie
    October 19th, 2015 at 16:22 | #19

    Selamat sori pak rudi….

    Saya tertarim membaca artikel bapak dan banyak yang responnya, jadi menambah wawasan saya…
    kalo boleh tanya pak, investasi reksadana untuk sekaran n akan datang bagusnya apa pak?? rencana buat pendidikan anak masuk kuliah pak.
    Terima kasih sebelumnya pak…. (sy sudah punya 2 RDS syariah, tapi dari hasilnya masih stagnant) bagusnya ganti ke RD apa pak…

    maaf jadi kepanjangan koment saya pak….

    Salam

  20. Rudiyanto
    October 19th, 2015 at 22:46 | #20

    @okie
    Salam Pak Okie,

    Investasi reksa dana bukan reksa dana apa yang bagus, tapi apakah anda sudah punya rencana dan melakukan eksekusi sesuai dengan rencana tersebut? Sebab jika sudah, kinerja yang stagnan memang merupakan risiko yang tidak terpisahkan dalam investasi.

    Untuk lebih detailnya ada beberapa artikel yang bisa anda baca sebagai berikut :
    Terkait rencana investasi
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Terkait kinerja yang stagnan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/07/10/autodebet-sudah-jalan-3-tahun-tapi-belum-untung-stop-atau-lanjut-2/

    Semoga bermanfaat

Comment pages


%d bloggers like this: