Home > Lain-lain > My Experience With Unit Link

My Experience With Unit Link

Pada artikel sebelumnya saya meminta tanggapan teman2 mengenai produk Unit Link. Sebab antara asuransi dan investasi murni atau Unit Link selalu menjadi pertanyaan dan perdebatan yang hangat mengenai apakah itu sebaiknya dipisah atau digabung. Sebagai seseorang yang berkarir di bidang pasar modal dan memasarkan produk investasi murni tentu apapun pendapat saya mengandung yang namanya conflict of interest. Oleh karena itu, saya akan mencoba untuk membahasnya dengan sharing pengalaman saya sendiri daripada berpendapat apakah ini sebaiknya dipisah atau digabung.

Sebab sama seperti teman2 disini, saya juga pernah ditawari secara gencar oleh agen asuransi. Dan pada kenyataannya saya juga memiliki produk yang anda sebut dengan nama unit link tersebut. Tertarik? Silakan ikut cerita ini lebih lanjut

Baik, cerita ini dimulai ketika ketika saya sedang kuliah di Universitas Tarumanagara. Pada waktu kuliah dulu, menjelang semester akhir, saya sempat di ajak ke salah satu perusahaan asuransi terkemuka di negara ini dan mengikuti training tentang kebutuhan asuransi pemasarannya. Waktu itu, terus terang saya sedang membutuhkan uang dan penghasilan dari kegiatan mengajar di kampus saja tidak cukup. Singkat kata saya hanya mencoba sebentar, dan.. kalau boleh jujur saya gagal jadi agen asuransi yang baik karena tidak berhasil menjual satu polispun. Tapi sedikit banyak saya pelajari tentang cara kerjanya.

Tidak lama setelah itu, saya diterima magang di perusahaan saya pertama kali yaitu Infovesta. Selama bekerja di situ sebagai riset dan juga merangkap penjual, saya banyak belajar tentang investasi, perencana keuangan dan asuransi. Ketika penghasilan saya perlahan2 sudah meningkat, saya memutuskan untuk berinvestasi di reksa dana terlebih dahulu. Hal ini sebetulnya salah karena secara konsep perencana keuangan, seseorang seharusnya memproteksi dirinya terlebih dahulu dari risiko baru selanjutnya berinvestasi. Bagi saya waktu itu, karena orang tua masih bisa membiayai dirinya sendiri, maka otomatis saya tidak memiliki tanggungan. Oleh karena itu, fokus saya hanya pada bagaimana meningkatkan nilai aset dengan berinvestasi sekaligus mendapatkan “feeling” bagaimana cara kerja dan kinerja reksa dana.

Setelah bekerja beberapa tahun, salah satu kerabat dari atasan menawarkan saya menawarkan produk asuransi murni. Timbang punya timbang akhirnya saya memutuskan untuk membeli asuransi tersebut. Sebagai informasi, premi asuransi tersebut adalah sekitar Rp 3 juta per tahun dengan uang pertanggungan Rp 1,4 M. Saya beli asuransi ini dengan pertimbangan adik saya waktu itu masih kecil dan masih dalam tanggungan orang tua. Pikiran saya suatu saat jika orang tua saya sudah tidak bekerja tentu saya akan mengambil alih tanggung jawab tersebut, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan? Jadi inilah asuransi jiwa pertama kali yang saya beli. Tidak ada rumus khusus dalam membeli asuransi ini, saya cuma hitung apakah saya sanggup bayar preminya atau tidak, dan apakah nominal pertanggungannya saya anggap cukup. Dari kantor saya mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Namun ketika saya coba klaim, memang tidak menanggung hingga 100%. Sebelum ada asuransi tersebut, biaya kesehatan boleh direimburse ke kantor.

Hidup berlanjut, saya menikah, berganti pekerjaan dan sekarang bekerja di Panin Asset Management. Setelah bekerja selama beberapa bulan, kembali saya mendapat tawaran asuransi dari salah satu kenalan di kantor. Karena sudah menikah, tentu tanggungan saya bertambah. Dari yang tadinya hanya adik, sekarang istri. Maka saya kembali memutuskan untuk menambah asuransi. Dari penawaran yang diberikan, uang pertanggungan kalau tidak salah sekitar Rp 2 M dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Memang lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio saya sebelumnya, namun mungkin ini ada kaitannya juga dengan umur dan kondisi kesehatan saya. Untuk asuransi kesehatan, memang saat saya baru masuk belum ada, namun diberikan penggantian dari kantor yang batasannya sekitar 1 kali gaji dalam 1 tahun.

Sambil berjalannya waktu, sama seperti juga teman2 disini, tentu pernah mendengar atau bahkan mengalami langsung dimana salah satu dari saudara, orang tua saudara, atau bahkan kenalan kita mengalami penyakit yang cukup parah dan menghabiskan cukup banyak uang. Ada yang beruntung karena punya uang yang cukup, tapi tidak sedikit yang sampai harus berutang atau menggadaikan hartanya karena penyakit yang tidak sembuh2. Dari sini timbul keinginan saya juga untuk memproteksi saya dari penyakit kritis. Oleh karena itu, saya menghubungi agen asuransi saya yang pertama dan berkonsultasi mengenai hal tersebut. Beberapa saat kemudian dia datang dan menawarkan upgrade dari asuransi yang saya miliki.

Upgradenya kurang lebih sebagai berikut, premi per tahun naik dari Rp 3 juta menjadi sekitar Rp 3,7 juta dengan Uang Pertanggungan tetap Rp 1,4 M. Jika terdiagnosa penyakit kritis, maka UP akan keluar 50% dan jika meninggal setelah itu akan keluar sisanya. Jika sembuh, paling tidak, ada uang Rp 700 juta untuk biaya pengobatan dan lain2. Saya setuju dan melakukan upgrade. Semua pembayaran asuransi dilakukan dengan kartu kredit.

Selang 1 tahun, lagi-lagi saya ditawari asuransi. Kali ini oleh teman saya yang sudah kenal sejak kuliah dan baru 1 tahun terakhir menggeluti dunia asuransi. Setelah memproteksi diri saya, langkah selanjutnya proteksi untuk istri. Terus terang saya memang sengaja untuk tidak membeli dari asuransi yang sama (2 agen sebelumnya) dan ingin mencoba asuransi yang lain untuk melihat pelayanan dan kualitas servisnya. Untuk ini, saya meminta dibuatkan polis untuk istri saya dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Fokus saya waktu itu lebih kepada perlindungan untuk penyakit kritis dan biaya untuk pengobatan dan rumah sakit (kesehatan). Jadi terus terang saya agak lupa dengan uang pertanggungannya. Perusahaan tempat teman saya bekerja ini tidak menjual asuransi murni, sehingga saya memperkecil porsi investasi dan fokus pada peningkatan uang pertanggungannya.

Tidak lama setelah itu, ada peningkatan fasilitas dari perusahaan dimana untuk karyawan dan keluarga karyawan diberikan fasilitas asuransi kesehatan. Asuransi ini secara spesifik mengcover biaya rumah sakit dan biaya operasi. Jadi fungsinya sama seperti bagian asuransi kesehatan yang saya beli dari teman saya sebelumnya. Tidak lupa juga dengan Jamsostek. Setiap perusahaan tentu mengikutkan karyawan pada program Jamsostek. Dimana dalam Jamsostek biasaya sudah terdapat asuransi kecelakaan kerja, asuransi kesehatan dan Jaminan Hari Tua. Sebetulnya ini juga agak mirip2 dengan unit link. Bedanya dia tidak memotong Jaminan Hari Tua kita seandainya kita tidak membayar. Dari perbincangan dengan rekan2 di industri lain, Jamsostek dikategorikan sebagai Asuransi

Jadi jika diringkas, asuransi yang saya punya baik yang saya bayar sendiri terdiri dari

Asuransi Premi Uang Pertanggungan Tertanggung Keterangan Lain
Jiwa + Penyakit Kritis Rp 3.7 juta Per tahun Rp 1.4 M Saya Asuransi Murni
Jiwa Rp 6 juta Per tahun Rp 2 M Saya Asuransi Murni
Jiwa dan, Penyakit Kritis Rp 6 Juta per tahun Rp 400 Juta Penyakit Kritis Istri Unit Link
Asuransi Kesehatan Saja* Kantor Tergantung Kondisi Saya + Istri Asuransi Murni
Jamsostek % dari Gaji Kecelakaan, Kesehatan dan Hari Tua Saya Asuransi Sosial

*Koreksi. Sebelumnya saya terkena penyakit sebagian besar masyarakat Indonesia dalam berasuransi yaitu tidak membaca polis dengan teliti. Setelah saya lihat ulang ternyata polis asuransi istri saya hanya menanggung risiko Jiwa dan Penyakit Kritis dan tidak ada perlindungan rumah sakitnya. Hal ini memang saya yang minta pada awal dan dibuatkan oleh agen asuransi. Dan ternyata dari kantor, keluarga diberikan asuransi kesehatan, sehingga unit link tersebut melengkapi perlindungan yang saya inginkan untuk keluarga saya.

Jadi dari seluruh asuransi yang dimiliki keluarga saya, hanya ada satu unit link. Dan apabila anda tanya apakah saya akan menutup unit link tersebut, antara ya dan tidak. Ya karena saya pikir asuransi kesehatan dari kantor sudah mencukupi untuk proteksi kesehatan, dan tidak karena pertama istri saya tidak memiliki perlindungan atas penyakit kritis dan kedua asuransi tersebut saya beli dari teman yang sudah dikenal bertahun-tahun. Kemudian karena saya pikir saya masih sanggup dengan biaya premi yang ada, maka akhirnya saya memutuskan untuk tetap melanjutkan unit link tersebut. Tentu keputusan ini masih bisa berubah tergantung situasi dan kondisi dan mudah2an saya tidak salah membaca polis asuransi dan manfaat asuransi yang saya dapatkan.

Demikian pengalaman saya dengan unit link, apakah sudah cukup menjawab pertanyaan anda apakah investasi dan asuransi harus dipisah atau tidak? Perlu diingat bahwa keputusan itu tidak hanya dilandasi dengan pertimbangan rasional, tapi juga emosional dan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Saya terbuka jika ada yang mau memberikan masukan.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber data dan Foto : Istockphoto

Categories: Lain-lain Tags:
  1. Rudiyanto
    October 1st, 2013 at 10:42 | #1

    @kurniawan
    Salam Pak Kurniawan,

    Mengenai asuransi kesehatan sebetulnya harus diperjelas itu karena sebetulnya ada 2. Yang pertama adalah Asuransi Penyakit Kritis. Dimana jika kita terdeteksi menderita penyakit kritis hingga tingkatan tertentu kita akan mendapatkan uang pertanggungan.

    Sebagai contoh, untuk polis asuransi yang saya punya, uang pertanggungan baru akan diberikan jika sudah menderita kanker stadium 3 dan 2 minggu setelah dinyatakan kanker tersebut yang bersangkutan belum meninggal. Ada juga beberapa asuransi yang menawarkan early critical illness protection, artinya tidak harus sampai stadium 3, tapi stadium awal sudah keluar uang pertanggungan tapi persentasenya tidak 100%.

    Asuransi penyakit kritis ini hanya ada di unit link sepengetahuan saya. Jika ada yang menjual asuransi murni penyakit kritis, harap bisa dikoreksi.

    Kemudian jenis asuransi kesehatan yang kedua adalah asuransi kesehatan yang mengganti biaya rumah sakit, obat dan biaya operasi / tindakan. Untuk jenis ini, asuransi murninya ada banyak yang menawarkan. Di Unit link juga ada, tapi mungkin fiturnya tidak selengkap jika dibandingkan asuransi kesehatan murni.

    Asuransi kesehatan ini tidak berdasarkan penyakit tapi lebih kepada biaya rumah sakit, dan rawat inap. Dan untuk yang ini harusnya lebih mudah dibeli dibandingkan asuransi penyakit kritis karena banyak orang yang berusia di atas 50 tahun juga masih diperbolehkan untuk membeli asuransi ini.

    Mungkin pak Kurniawan bisa menunjukkan riwayat kesehatan yang baik untuk bisa mendapatkannya.

    Kembali ke pertanyaan, jika asuransi kesehatan yang anda butuhkan adalah penyakit kritis, maka unit link adalah satu-satunya pilihan. Jika yang dibutuhkan adalah pertanggungan untuk biaya rumah sakit dan operasi, maka anda bisa membeli asuransi kesehatan murni saja. Belinya di Brunai sekalipun saya rasa tidak masalah karena beberapa asuransi dengan jaringan internasional, setahu saya tetap mencover biaya kesehatan walaupun asuransi dibeli di Indonesia dan operasi dilakukan di luar negeri sepanjang rumah sakit tersebut tergabung dalam jaringannya dia.

    Coba bisa dicek dengan pihak asuransinya.

    Semog bermanfaat dan Terima kasih.

  2. budi wi
    October 1st, 2013 at 17:51 | #2

    slm sore pak rudi,
    saya ucapkan terikasih atas semua tulisan2 bapak selama ini. tulisan bpk sangat menarik dan mudah dipahami sy pribadi. pak sy pernah ikut unit link selama 5 tahun tp keluar walaupun sy sdh bebas bayar premi bulanan. karena setelah bebas bayar premi tapi biaya adm bulanannnya saya itung2 lumayan juga (20% dr premi yg sy bayar). lalu sy pindah ke reksadana dan beli asuransi jiwa murni. Kemudian melihat gerak nab reksadana yg naik turun dan nilai uang/inflasi yg cukup tinggi, sy putuskan alihkan sebagian dana ke tanah. setiap uang sy di reksadana cukup to beli tanah sy akan alihkan ke tanah. pertanyaan saya apakah cara sy ini cukup baik pak rudi? terimakasih atas jawabannya.

  3. budi wi
    October 1st, 2013 at 17:56 | #3

    maap ralat pak rudi bukan 20% dr premi tapi 20% dari investasi bulanan yg didebet dr tabungan. tks

  4. Rudiyanto
    October 3rd, 2013 at 13:38 | #4

    @budi wi
    Salam Pak Budi,

    Mengenai tanah atau reksa dana, kembali ke tujuan anda apa dan anda lebih mengerti yang mana. Kalau memang lebih ahli dan percaya dengan investasi tanah kenapa tidak dialihkan semua saja kesana? Untuk reksa dana mungkin tidak perlu, kalaupun ada cukup reksa dana pasar uang, paling baik sih deposito. Sebab prinsipnya kan begitu cukup langsung dibelikan tanah?

    Demikian pak, semoga bermanfaat.

  5. kurniawan
    October 4th, 2013 at 07:50 | #5

    @Rudiyanto
    Pak Rudi,

    Ternyata ada kok asuransi penyakit kritis yg bukan unit link …
    namanya asuransi cigna … tapi tahun depan nya bisa di perpanjang lagi ato ga ya ini masih tanda tanya … jangan2 nanti tidak di perpanjang ato premi nya jadi mahal kalo dah pernah claim penyakit kritis …

  6. Rudiyanto
    October 4th, 2013 at 09:02 | #6

    @kurniawan
    Salam Pak Kurniawan,

    Kalau memang sudah pernah kena penyakit kritis tentu untuk pengajuan asuransi berikutnya lebih susah. Sebab jika anda yang punya perusahaan asuransi, apakah anda mau bisnis yang pasti rugi?

    Perusahaan asuransinya kan prinsipnya kurang lebih sbb, 1000 orang beli asuransi, mungkin 1 orang yang bayar klaim. Jadi dia masih untung dari 999nya. Kalau 1000 orang beli 999 yang klaim yah dia bangkrut.

    Makanya yang bagus dari asuransi baik yang murni ataupun unit link itu, ketika anda berasuransi, saya yakin ada divisi tertentu yang tugasnya memastikan pemegang polis sehat walafiat. Entah itu dengan mendoakan atau menyelenggarakan kegiatan hidup sehat seperti lomba fun walk dan maraton yang sering diadakan beberapa tahun ini.

    Semoga bermanfaat.

  7. October 22nd, 2013 at 19:28 | #7

    Adanya unit link ini justru kadang membingungkan dan membuat persoalan bisa jadi ruwet. Sebaiknya kalau investasi ya investasi artinya terpisah dari asuransi

  8. Dargombes
    November 9th, 2013 at 09:19 | #8

    Dear pak Rudi,.

    Mohon advice, saya sudah 2 tahun mengikuti salah satau product unitlink, dengan tertanggung anak saya.
    Dengan komposisi Investasi 100JT dan premi reguler 5jt cuti premi selama 3 tahun. Dengan Premi charge tahun pertama 100%, tahun kedua 55% dan tahun ketiga 20%.
    Sehingga dari ilustrasi diatas +/- 90JT saya investkan di unitlink MaestroEquityPlus 100%.
    Dengan ketentuan pajak dan dana mengendap yang harus ditinggal sebesar 5jt yang harus dibiarkan pada penarikan seluruhnya (surrender), apakah model ini (bila untuk investasi) worthy atau nggak? dilanjutkan atau melakukan surrender? timingnya pas apa supaya tidak banyak rugi ?

    Atau saya biarkan saja untuk longterm ?

    Karena saat itu saya belum mengenal reksadana yang ternyata murah.

    Salam

  9. Rudiyanto
    November 9th, 2013 at 12:53 | #9

    @Dargombes
    Salam Dargombes,

    Boleh tolong diklarifikasi:
    - Apakah yang dimaksud dengan tertanggung itu, jika yang bersangkutan mengalami risiko, maka ahli waris yang akan mendapat uang pertanggungan? Jika benar demikian, apakah anak anda itu merupakan sumber penghasilan utama bagi keluarga? Jika tidak mengapa harus diasuransikan?
    - Saya tidak begitu mengerti tentang ketentuan pajak yang anda maksud, sebab sepengetahuan saya pajak itu berlaku apabila masa investasi kurang dari sekian tahun namun tidak diatur mengenai dana harus ditinggal berapa. Dan bukankah aneh, kalau ada investasi atau tabungan yang “hangus” 5 juta? Apakah angka tersebut tidak terlalu besar?
    - Terkait dilanjutkan atau tidak, timing dan lain2, boleh diklarifikasi, kalau sekarang dijual semuanya berapa yang anda dapatkan? Target anda berapa? dan berapa selisihnya dengan target yang anda harapkan?

    Terima kasih

  10. Dargombes
    November 9th, 2013 at 22:58 | #10

    Mas Rudy,.

    Maaf salah ambil form…tertanggung adalah saya sendiri pemegang polis.
    Bukan pajak namun biaya-biaya yang mungkin timbul bila diambil sebelum atau .sesudah cuti premi tahun ke 3
    Untuk yang mengendap 5 jt memang tercantum spt itu…salahnya saya yg saat itu gak baca secara lengkap. DI prudent kalo gak salah juga sama 5jt
    Karena pengaruh ada 5jt itu saya pengin advice mungkin nggak saya nunggu saja next 1 th kedepan disaat NAV naik (mungkin) toh biaya premi sudah dibayar lunas selama 3th atau cabut sekarang. dengan konsekwensi dana yang bisa diambil adalah 90jt dikurangi 5jt?

    maturnuwun

  11. Dargombes
    November 9th, 2013 at 23:10 | #11

    Saya pakai top up tunggal dibayar dimuka

  12. Rudiyanto
    November 11th, 2013 at 18:44 | #12

    @Dargombes
    Salam Dargombes,

    Kamu yakin jumlah uang yang bisa anda ambil sekarang adalah 90 juta – 5 juta ? Masak investasi 2 tahun tidak ada hasil sama sekali? Coba anda cek dulu ke pihak asuransinya.

    Dan boleh dibantu, tujuan anda investasi itu apa? targetnya berapa ?

  13. Dargombes
    November 11th, 2013 at 20:25 | #13

    Kalau dari e-statement yang saya minta minggu lalu malah dana investasi berkurang hanya tersisa 87jt an.

  14. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 08:33 | #14

    @Dargombes
    Kemudian mengenai tujuan investasi anda apa? Seandainya ini kamu stop, apakah kamu sudah memiliki rencana proteksi untuk keluarga?

  15. adita
    November 12th, 2013 at 08:59 | #15

    Tujuan-nya adalah investasi (long term 10 than lah).
    Kalau di stop maksudnya mau masuk ke instrument lain spt RD yang saya tahu saat ini murah.
    Proteksi sendiri sudah ada dari kantor dan masih lama lebih dari 10th.

    maksud pertanyaan2 saya adalah apakah sepadan bila saya lanjutkan pake UnitLink untuk next (misal 8th), dibanding instrument2 lainnya sperti RD bila saya berharap akan pengembangan modal bukan karena proteksi.

    Saat itu saya tidak tahu tentang RD setelah masuk RD kurang dari 4 bulan saya rasa kok lebih mudah dan transparan.

  16. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 18:17 | #16

    @adita
    Kalau demikian, berarti sudah jelas, tujuan anda adalah pengembangan modal sehingga dibutuhkan instrumen yang murni ke investasi. Asuransi Unit Link yang anda ambil adalah produk proteksi + investasi, sementara reksa dana adalah produk investasi murni.

    Jadi jawabannya bukan sepadan atau tidak, tapi tujuannya apa. Kalau tujuan sudah jelas, maka pilihan instrumennya juga akan jelas dengan sendirinya. Dan bukankah anda sudah merasakan sendiri, apakah hasil pengembangan modal dari instrumen yang anda pilih sesuai harapan atau tidak?

    Demikia masukan saya, semoga bermanfaat.

  17. yush4
    January 9th, 2014 at 22:10 | #17

    Malam pak. Kalo boleh tau, asuransi jiwa apa yg Pak Rudy ambil dari Manulife?
    Proactive / Proactive Plus /Prolife plus?

  18. Rudiyanto
    January 13th, 2014 at 09:38 | #18

    @yush4
    Yang ada Plusnya kalau ga salah. Cuman Active atau Life mesti saya cek dulu.

  19. March 11th, 2014 at 15:17 | #19

    salam pak rudi, saya termasuk orang yang memilih unitlink karena menurut saya pribadi sayang banget kalau beli asuransi murni selama kita bayar premi tp diakhir nda bisa diambil kembali premi yg telah ita setorkan. Apakah pemikiran saya ini salah pak rudi? mohon nasehatnya, terima aksih

  20. Rudiyanto
    May 21st, 2014 at 01:07 | #20

    @hary
    Salam Hary,

    Mohon maaf, sepertinya komen anda terlewatkan sehingga tidak sempat saya balas. Kalau menurut saya, setiap orang yang punya tanggungan dan jumlah asetnya masih terbatas sehingga kalau ada apa2 terjadi dengannya, hidup tanggunannya akan menderita – Butuh Asuransi Jiwa.

    Sementara orang yang sudah punya harta berlimpah dan bisnis yang self running, tidak butuh asuransi. Toh ada apa2 dengannya, keluarga yang ditinggalkan bisa hidup dari aset dan bisnis yang dihasilkan.

    Kemudian apakah anda mau beli unit link atau beli asuransi murni, pertama-tama kamu harus sadar bahwa ketika membeli unit link, sebenarnya kamu membeli asuransi termlife dan investasi sekaligus. Dengan demikian, ketika di akhir ada yang kamu ambil, itu bukan semua premi yang disetorkan tapi adalah porsi investasi yang kamu setorkan.

    Sebagai contoh, orang tua saya memiliki asuransi unit link dengan premi 650.000 per bulan. Sewaktu dikirimkan surat konfirmasinya, ternyata dari uang tersebut sekitar 300rb dibelikan asuransi, 25rb menjadi biaya administrasi dan sisanya diinvestasikan – sekitar 325rb. Nilai 325rb inilah yang nantinya bisa kamu ambil.

    Tapi kalau kamu jeli membaca syarat dan ketentuannya, misalkan pada periode tertentu ternyata yang bersangkutan tidak cukup uang sehingga pada bulan tersebut tidak mambayar premi. Maka secara otomatis kamu akan tetap terasuransikan karena nilai asuransi yang 300rb dan biaya administrasi 25rb tersebut akan dipotong dari saldo investasi. Kalau saldo investasinya tidak cukup, baru dikenal istilah lapse. Tapi kalau masih cukup, asuransi kamu tetap berjalan.

    Demikian kira2 penjelasan tentang unit link, semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

Comment pages


%d bloggers like this: