Home > Lain-lain > My Experience With Unit Link

My Experience With Unit Link

Pada artikel sebelumnya saya meminta tanggapan teman2 mengenai produk Unit Link. Sebab antara asuransi dan investasi murni atau Unit Link selalu menjadi pertanyaan dan perdebatan yang hangat mengenai apakah itu sebaiknya dipisah atau digabung. Sebagai seseorang yang berkarir di bidang pasar modal dan memasarkan produk investasi murni tentu apapun pendapat saya mengandung yang namanya conflict of interest. Oleh karena itu, saya akan mencoba untuk membahasnya dengan sharing pengalaman saya sendiri daripada berpendapat apakah ini sebaiknya dipisah atau digabung.

Sebab sama seperti teman2 disini, saya juga pernah ditawari secara gencar oleh agen asuransi. Dan pada kenyataannya saya juga memiliki produk yang anda sebut dengan nama unit link tersebut. Tertarik? Silakan ikut cerita ini lebih lanjut

Baik, cerita ini dimulai ketika ketika saya sedang kuliah di Universitas Tarumanagara. Pada waktu kuliah dulu, menjelang semester akhir, saya sempat di ajak ke salah satu perusahaan asuransi terkemuka di negara ini dan mengikuti training tentang kebutuhan asuransi pemasarannya. Waktu itu, terus terang saya sedang membutuhkan uang dan penghasilan dari kegiatan mengajar di kampus saja tidak cukup. Singkat kata saya hanya mencoba sebentar, dan.. kalau boleh jujur saya gagal jadi agen asuransi yang baik karena tidak berhasil menjual satu polispun. Tapi sedikit banyak saya pelajari tentang cara kerjanya.

Tidak lama setelah itu, saya diterima magang di perusahaan saya pertama kali yaitu Infovesta. Selama bekerja di situ sebagai riset dan juga merangkap penjual, saya banyak belajar tentang investasi, perencana keuangan dan asuransi. Ketika penghasilan saya perlahan2 sudah meningkat, saya memutuskan untuk berinvestasi di reksa dana terlebih dahulu. Hal ini sebetulnya salah karena secara konsep perencana keuangan, seseorang seharusnya memproteksi dirinya terlebih dahulu dari risiko baru selanjutnya berinvestasi. Bagi saya waktu itu, karena orang tua masih bisa membiayai dirinya sendiri, maka otomatis saya tidak memiliki tanggungan. Oleh karena itu, fokus saya hanya pada bagaimana meningkatkan nilai aset dengan berinvestasi sekaligus mendapatkan “feeling” bagaimana cara kerja dan kinerja reksa dana.

Setelah bekerja beberapa tahun, salah satu kerabat dari atasan menawarkan saya menawarkan produk asuransi murni. Timbang punya timbang akhirnya saya memutuskan untuk membeli asuransi tersebut. Sebagai informasi, premi asuransi tersebut adalah sekitar Rp 3 juta per tahun dengan uang pertanggungan Rp 1,4 M. Saya beli asuransi ini dengan pertimbangan adik saya waktu itu masih kecil dan masih dalam tanggungan orang tua. Pikiran saya suatu saat jika orang tua saya sudah tidak bekerja tentu saya akan mengambil alih tanggung jawab tersebut, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan? Jadi inilah asuransi jiwa pertama kali yang saya beli. Tidak ada rumus khusus dalam membeli asuransi ini, saya cuma hitung apakah saya sanggup bayar preminya atau tidak, dan apakah nominal pertanggungannya saya anggap cukup. Dari kantor saya mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Namun ketika saya coba klaim, memang tidak menanggung hingga 100%. Sebelum ada asuransi tersebut, biaya kesehatan boleh direimburse ke kantor.

Hidup berlanjut, saya menikah, berganti pekerjaan dan sekarang bekerja di Panin Asset Management. Setelah bekerja selama beberapa bulan, kembali saya mendapat tawaran asuransi dari salah satu kenalan di kantor. Karena sudah menikah, tentu tanggungan saya bertambah. Dari yang tadinya hanya adik, sekarang istri. Maka saya kembali memutuskan untuk menambah asuransi. Dari penawaran yang diberikan, uang pertanggungan kalau tidak salah sekitar Rp 2 M dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Memang lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio saya sebelumnya, namun mungkin ini ada kaitannya juga dengan umur dan kondisi kesehatan saya. Untuk asuransi kesehatan, memang saat saya baru masuk belum ada, namun diberikan penggantian dari kantor yang batasannya sekitar 1 kali gaji dalam 1 tahun.

Sambil berjalannya waktu, sama seperti juga teman2 disini, tentu pernah mendengar atau bahkan mengalami langsung dimana salah satu dari saudara, orang tua saudara, atau bahkan kenalan kita mengalami penyakit yang cukup parah dan menghabiskan cukup banyak uang. Ada yang beruntung karena punya uang yang cukup, tapi tidak sedikit yang sampai harus berutang atau menggadaikan hartanya karena penyakit yang tidak sembuh2. Dari sini timbul keinginan saya juga untuk memproteksi saya dari penyakit kritis. Oleh karena itu, saya menghubungi agen asuransi saya yang pertama dan berkonsultasi mengenai hal tersebut. Beberapa saat kemudian dia datang dan menawarkan upgrade dari asuransi yang saya miliki.

Upgradenya kurang lebih sebagai berikut, premi per tahun naik dari Rp 3 juta menjadi sekitar Rp 3,7 juta dengan Uang Pertanggungan tetap Rp 1,4 M. Jika terdiagnosa penyakit kritis, maka UP akan keluar 50% dan jika meninggal setelah itu akan keluar sisanya. Jika sembuh, paling tidak, ada uang Rp 700 juta untuk biaya pengobatan dan lain2. Saya setuju dan melakukan upgrade. Semua pembayaran asuransi dilakukan dengan kartu kredit.

Selang 1 tahun, lagi-lagi saya ditawari asuransi. Kali ini oleh teman saya yang sudah kenal sejak kuliah dan baru 1 tahun terakhir menggeluti dunia asuransi. Setelah memproteksi diri saya, langkah selanjutnya proteksi untuk istri. Terus terang saya memang sengaja untuk tidak membeli dari asuransi yang sama (2 agen sebelumnya) dan ingin mencoba asuransi yang lain untuk melihat pelayanan dan kualitas servisnya. Untuk ini, saya meminta dibuatkan polis untuk istri saya dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Fokus saya waktu itu lebih kepada perlindungan untuk penyakit kritis dan biaya untuk pengobatan dan rumah sakit (kesehatan). Jadi terus terang saya agak lupa dengan uang pertanggungannya. Perusahaan tempat teman saya bekerja ini tidak menjual asuransi murni, sehingga saya memperkecil porsi investasi dan fokus pada peningkatan uang pertanggungannya.

Tidak lama setelah itu, ada peningkatan fasilitas dari perusahaan dimana untuk karyawan dan keluarga karyawan diberikan fasilitas asuransi kesehatan. Asuransi ini secara spesifik mengcover biaya rumah sakit dan biaya operasi. Jadi fungsinya sama seperti bagian asuransi kesehatan yang saya beli dari teman saya sebelumnya. Tidak lupa juga dengan Jamsostek. Setiap perusahaan tentu mengikutkan karyawan pada program Jamsostek. Dimana dalam Jamsostek biasaya sudah terdapat asuransi kecelakaan kerja, asuransi kesehatan dan Jaminan Hari Tua. Sebetulnya ini juga agak mirip2 dengan unit link. Bedanya dia tidak memotong Jaminan Hari Tua kita seandainya kita tidak membayar. Dari perbincangan dengan rekan2 di industri lain, Jamsostek dikategorikan sebagai Asuransi

Jadi jika diringkas, asuransi yang saya punya baik yang saya bayar sendiri terdiri dari

Asuransi Premi Uang Pertanggungan Tertanggung Keterangan Lain
Jiwa + Penyakit Kritis Rp 3.7 juta Per tahun Rp 1.4 M Saya Asuransi Murni
Jiwa Rp 6 juta Per tahun Rp 2 M Saya Asuransi Murni
Jiwa dan, Penyakit Kritis Rp 6 Juta per tahun Rp 400 Juta Penyakit Kritis Istri Unit Link
Asuransi Kesehatan Saja* Kantor Tergantung Kondisi Saya + Istri Asuransi Murni
Jamsostek % dari Gaji Kecelakaan, Kesehatan dan Hari Tua Saya Asuransi Sosial

*Koreksi. Sebelumnya saya terkena penyakit sebagian besar masyarakat Indonesia dalam berasuransi yaitu tidak membaca polis dengan teliti. Setelah saya lihat ulang ternyata polis asuransi istri saya hanya menanggung risiko Jiwa dan Penyakit Kritis dan tidak ada perlindungan rumah sakitnya. Hal ini memang saya yang minta pada awal dan dibuatkan oleh agen asuransi. Dan ternyata dari kantor, keluarga diberikan asuransi kesehatan, sehingga unit link tersebut melengkapi perlindungan yang saya inginkan untuk keluarga saya.

Jadi dari seluruh asuransi yang dimiliki keluarga saya, hanya ada satu unit link. Dan apabila anda tanya apakah saya akan menutup unit link tersebut, antara ya dan tidak. Ya karena saya pikir asuransi kesehatan dari kantor sudah mencukupi untuk proteksi kesehatan, dan tidak karena pertama istri saya tidak memiliki perlindungan atas penyakit kritis dan kedua asuransi tersebut saya beli dari teman yang sudah dikenal bertahun-tahun. Kemudian karena saya pikir saya masih sanggup dengan biaya premi yang ada, maka akhirnya saya memutuskan untuk tetap melanjutkan unit link tersebut. Tentu keputusan ini masih bisa berubah tergantung situasi dan kondisi dan mudah2an saya tidak salah membaca polis asuransi dan manfaat asuransi yang saya dapatkan.

Demikian pengalaman saya dengan unit link, apakah sudah cukup menjawab pertanyaan anda apakah investasi dan asuransi harus dipisah atau tidak? Perlu diingat bahwa keputusan itu tidak hanya dilandasi dengan pertimbangan rasional, tapi juga emosional dan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Saya terbuka jika ada yang mau memberikan masukan.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber data dan Foto : Istockphoto

Categories: Lain-lain Tags:
  1. September 12th, 2013 at 21:27 | #1

    Sungguh menarik pengalaman anda dan penjelasan tentang unit link serta bagaimana pentingnya berasuransi

  2. Wimpi Z.A.
    September 13th, 2013 at 21:23 | #2

    Dear Pak Rudi,

    Saya pernah memiliki unitlink, dengan tujuan investasi jangka panjang, saya pun juga bekerja di salah satu perusahaan asuransi kerugian sehingga paham akan fungsi dan tujuan asuransi itu sendiri. Sebelumnya saya kurang begitu memahami akan produk unitlink, hingga relasi kantor di perusahaan asuransi jiwa datang menawarkan produk hibrid nan praktis, pertanggungan jiwa dan sekaligus menabung untuk masa depan.Tanpa pikir panjang toh seperti menabung biasa tapi dengan imbal hasil yang lebih baik daripada menabung biasa. Setelah itu saya aktif mencari informasi akan produk unitlink dan mulai memahami konsep financial planning dan konsep investasi optimal sesuai tujuan keuangan, dan karena saya juga telah melakukan riset kecil dan mendalam saya memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa murni dan menginvest-kan sisanya pada reksa dana dan menutup unitlink saya yang telah berjalan 1 tahun, rugi saya terima dan nilai tunainya saya investasikan ke reksa dana. Keputusan saya menutup unitlink karena produk ini tidak sesuai dengan tujuan keuangan saya dan bukanlah produk optimal untuk pengembangan nilai investasi saya. Demikian pandangan saya Pak Rudi, mohon maaf bila ada kata-kata saya yang kurang pantas..terima kasih

  3. Cici
    September 16th, 2013 at 10:28 | #3

    Saya baru saja mendapat pengalaman buruk dengan agent Unitlink, melalui email dengan beraninya agent unitlink menggunakan artikel dari seorang perencana keuangan independen yang dimuat di Yahoo Finance kemudian merubah bagian rekomendasi untuk membeli produk2 berbasis saham dengan rekomendasi produk-produk unitlink dari perusahaan agent tersebut.
    Menggunakan artikel orang lain untuk memperkuat jualannya boleh saja, tapi jangan menggantinya.

  4. September 17th, 2013 at 01:23 | #4

    Good article pa. Satu hal, asuransi term-life pun harus dipastikan bahwa itu benar2 term life, bukan asuransi yang dikatakan term-life, tapi ujungnya sebenarnya unit link. Bagaimana memilih asuransi term life simak disini http://www.duwitmu.com/memilih-asuransi-jiwa-term-life/

  5. rizon
    September 22nd, 2013 at 16:40 | #5

    selamat sore Pak Rudy, berapakah kira2 biaya hidup layak per bulan untuk sebuah keluarga dimasa sekarang? dengan acuan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia ditahun 2013.

  6. Rudiyanto
    September 22nd, 2013 at 20:39 | #6

    @rizon
    Malam Rizon,

    Kalau boleh tahu menurut kamu itu berapa?

  7. rizon
    September 23rd, 2013 at 07:52 | #7

    mungkin sekitar 3,3 juta per bulan, pak. tapi ini rasanya agak ketinggian jika melihat fakta yang ada dimasyarakat terutama yang tinggal dipinggiran kota ataupun didesa-desa terpencil.

    • Rudiyanto
      September 23rd, 2013 at 09:00 | #8

      Boleh tahu sekarang usia kamu berapa dan tinggal di provinsi apa?

  8. rizon
    September 23rd, 2013 at 16:02 | #9

    saya berusia 29 tahun dan tinggal di Palembang, sumatera Selatan, pak.

  9. kurniawan
    September 28th, 2013 at 00:14 | #10

    Pak Rudiyanto ,
    nama produk unit link nya apa ya? kalo boleh tahu.

    Karna saya di tawari teman unit link dgn premi 1.5 juta per bulan … Uang pertanggungan cuma 200 juta .

  10. Rudiyanto
    September 28th, 2013 at 10:47 | #11

    @rizon
    Salam Rizon,

    Kalau kamu baca di salah satu artikel strategimanajemen.net, biaya hidup yang wajar di kota besar di Indonesia yang “layak” adalah sekitar Rp 15 juta. Artinya dengan income segitu kamu sudah bisa cicil rumah dan mobil. Saya setuju dengan angka tersebut meskipun menurut saya kalau di Jakarta harus +5 – 10 juta lagi. Hal ini disebabkan karena harga properti di Jakarta sudah tidak masuk akal.

    Kalau untuk kota kecil, mungkin sekitar 50-75% dari angka 15 juta tersebut. Angka tersebut bisa jauh lebih kecil jika anda sudah tinggal di rumah yang lunas karena dimiliki keluarga sebelumnya dan sudah punya kendaraan dari orang tua. Namun jika gaya anda metropolitan, dimana anda mau memiliki rumah dan kendaraan sendiri dan terpisah dari orang tua, maka angka tersebut adalah target minimal yang harus anda dapatkan.

    Demikian Rizon, semoga bermanfaat.

  11. Rudiyanto
    September 28th, 2013 at 10:52 | #12

    @kurniawan
    Salam Kurniawan,

    Untuk unit link tersebut saya beli dari Prudential. Uang pertanggungan tersebut hanya untuk penyakit kritis saja. Tidak ada untuk pertanggungan biaya rumah sakit. Hal ini sesuai permintaan saya. Mungkin setting2an dari uang Rp 1,5 juta tersebut ada yang ke rumah sakit, jiwa, kecelakaan, dan investasi jadinya tidak maksimal. Selain itu, usia dan riwayat kesehatan juga mungkin menjadi perhatian.

    Coba bisa dibicarakan dengan agen yang bersangkutan lagi. Semoga bermanfaat.

    Oh ya, sebagai informasi Untuk asuransi kesehatan dari kantor digunakan Allianz. Untuk asuransi jiwa saya beli dari Manulife. Untuk Jamsostek tentu dari PT. Jamsostek.

  12. kurniawan
    September 29th, 2013 at 09:51 | #13

    ohhh baru tahu saya jika unit link bisa di setting seperti itu …

    Minta pendapat dari pak Rudi … khan saya bekerja di brunei … untuk kesehatan di tanggung oleh kantor kerja saya dan juga rumah sakit di brunei murah kalo ga bisa di bilang gratis.

    saya umur 45 tahun rencana pensiun 55 tahun balik indonesia …

    pertanyaan saya …
    Apakah tepat kalo saya ikut asuransi kesehatan unit link di indonesia sekarang ?
    Karna teman saya bilang kalo dah umur 55 tahun susah di aprove nya untuk asuransi.
    sedangkan jika saya di brunei maka asuransi kesehatan yg akan saya beli di indo ga bisa di pakai … artinya biaya rumah sakit brunei tidak di cover oleh asuransi di indonesia

    Jadi nya saya bingung nih … ambil asuransi kesehatan skarang tapi baru bisa bermanfaat 10 tahun kemudian ato saya tunggu nanti jika sudah pensiun di indonesia baru beli asuransi kesehatan ???

    Ada juga masukan dari keluarga yg bilang ga usah ikutan asuransi kesehatan di indonesia tapi mencadangkan dana untuk kesehatan sendiri di tabungan … tohh kalo dah umur 55 tahun paling2 harapan hidup tinggal 10 ato 15 tahun lagi ..

    tapi saya kurang setuju karna umur2 segitu2 itu yg biasanya kesehatan telah menurun tidak prima lagi dan sering ke dokter … dan biaya kesehatan naik terus tiap tahun.

  13. Erwin
    September 30th, 2013 at 06:43 | #14

    @kurniawan
    pa, sbg masukan saja, perusahaan asuransi itu profit oriented business. jadi kalau bapak berpikir untuk mendapatkan manfaat dari pihak asuransi, ternyata bagaimanapun pihak asuransi sudah punya strateginya sendiri agar tidak dimanfaatkan.
    hehehe, menurut saya kalau pa kurniawan tujuannya untuk asuransi kesehatan, yang terbaik adalah jalankan asuransi pola hidup sehat.

  14. Haris
    September 30th, 2013 at 08:34 | #15

    @kurniawan

    Asuransi unitlink memang bisa disetting sesuai permintaan/kebutuhan kita. Perlu diingat bahwa unitlink itu terdiri dari asuransi dasar (memberikan uang pertanggungan jika meninggal) dan beberapa rider (asuransi tambahan) yang bisa dipilih sesuai kebutuhan kita. Ngga pake rider juga ngga masalah, jadi unitlink kita cuma asuransi dasarnya saja. Cuma kalo seperti ini apa gunanya kita beli unitlink? mending beli asuransi tradisional aja sekalian karena preminya lebih murah dan uang pertanggungannya lebih besar. Biasanya orang beli unitlink karena ridernya bagus-bagus. Rider seperti ini tidak ada di asuransi tradisional. Makanya meskipun sudah punya asuransi tradisional tetap aja beli unitlink untuk melengkapinya. Contoh rider adalah Waiver atau Payor yang berguna jika kita mengalami cacat tetap total atau mengalami sakit kritis maka kita dibebaskan dari kewajiban membayar premi (premi dibayarkan oleh perusahaan asuransi) sementara polis tetap berlaku seumur hidup. Nah yang seperti ini kan ngga ada di asuransi tradisional.

  15. kurniawan
    September 30th, 2013 at 12:37 | #16

    @Haris
    Apakah ada asuransi “biasa” yg men cover kesehatan ??? biasanya asuransi tradisional cuma jiwa aja tidak termasuk kesehatan …

  16. kurniawan
    September 30th, 2013 at 12:40 | #17

    @Erwin
    Tujuan ikut asuransi adalah untuk mentranfer resiko ke pihak asuransi jika terjadi hal2 yg tidak di inginkan …

    Jadi bukannya mau saya untung lalu asuransi rugi … bukan seperti itu ….

    bagi saya asuransi adalah untuk proteksi bukan untuk investasi … karna investasi di unit link tidak maksimal hasilnya … tapi banyak manfaat asuransi kesehatan di bundle dengan unit link bukan dgn asuransi “tradional” biasa …

  17. Erwin
    September 30th, 2013 at 15:06 | #18

    @kurniawan
    ya itu kembali lagi terserah bapak, tp klo saya yg sudah pernah ikut unitlink sih lebih setuju sama masukan dr keluarga bapak.

  18. Haris
    September 30th, 2013 at 15:08 | #19

    @kurniawan

    ada, silakan cek di sinar mas (simas sehat gold dan executive), maestro ellite care (axa financial) dan smart health maxi violet (allianz). Yang saya belum temukan adalah asuransi tradisional untuk penyakit kritis.

  19. kurniawan
    September 30th, 2013 at 16:54 | #20

    @Haris
    Thanks bro … dah lihat web site nya … cukup murah kok premi nya per bulan bisa untuk di luar negri juga …

  20. kurniawan
    September 30th, 2013 at 16:57 | #21

    @Erwin

    Terima kasih masukannya bro … memang saya juga tidak suka unit link …
    Ternyata ada asuransi kesehatan tradisional … jauh lebih murah sperti info bro Haris… ya memang sih asuransi tradisional kalo ga pernah di pakai /reimbuse ya hilang …

  21. Rudiyanto
    October 1st, 2013 at 10:42 | #22

    @kurniawan
    Salam Pak Kurniawan,

    Mengenai asuransi kesehatan sebetulnya harus diperjelas itu karena sebetulnya ada 2. Yang pertama adalah Asuransi Penyakit Kritis. Dimana jika kita terdeteksi menderita penyakit kritis hingga tingkatan tertentu kita akan mendapatkan uang pertanggungan.

    Sebagai contoh, untuk polis asuransi yang saya punya, uang pertanggungan baru akan diberikan jika sudah menderita kanker stadium 3 dan 2 minggu setelah dinyatakan kanker tersebut yang bersangkutan belum meninggal. Ada juga beberapa asuransi yang menawarkan early critical illness protection, artinya tidak harus sampai stadium 3, tapi stadium awal sudah keluar uang pertanggungan tapi persentasenya tidak 100%.

    Asuransi penyakit kritis ini hanya ada di unit link sepengetahuan saya. Jika ada yang menjual asuransi murni penyakit kritis, harap bisa dikoreksi.

    Kemudian jenis asuransi kesehatan yang kedua adalah asuransi kesehatan yang mengganti biaya rumah sakit, obat dan biaya operasi / tindakan. Untuk jenis ini, asuransi murninya ada banyak yang menawarkan. Di Unit link juga ada, tapi mungkin fiturnya tidak selengkap jika dibandingkan asuransi kesehatan murni.

    Asuransi kesehatan ini tidak berdasarkan penyakit tapi lebih kepada biaya rumah sakit, dan rawat inap. Dan untuk yang ini harusnya lebih mudah dibeli dibandingkan asuransi penyakit kritis karena banyak orang yang berusia di atas 50 tahun juga masih diperbolehkan untuk membeli asuransi ini.

    Mungkin pak Kurniawan bisa menunjukkan riwayat kesehatan yang baik untuk bisa mendapatkannya.

    Kembali ke pertanyaan, jika asuransi kesehatan yang anda butuhkan adalah penyakit kritis, maka unit link adalah satu-satunya pilihan. Jika yang dibutuhkan adalah pertanggungan untuk biaya rumah sakit dan operasi, maka anda bisa membeli asuransi kesehatan murni saja. Belinya di Brunai sekalipun saya rasa tidak masalah karena beberapa asuransi dengan jaringan internasional, setahu saya tetap mencover biaya kesehatan walaupun asuransi dibeli di Indonesia dan operasi dilakukan di luar negeri sepanjang rumah sakit tersebut tergabung dalam jaringannya dia.

    Coba bisa dicek dengan pihak asuransinya.

    Semog bermanfaat dan Terima kasih.

  22. budi wi
    October 1st, 2013 at 17:51 | #23

    slm sore pak rudi,
    saya ucapkan terikasih atas semua tulisan2 bapak selama ini. tulisan bpk sangat menarik dan mudah dipahami sy pribadi. pak sy pernah ikut unit link selama 5 tahun tp keluar walaupun sy sdh bebas bayar premi bulanan. karena setelah bebas bayar premi tapi biaya adm bulanannnya saya itung2 lumayan juga (20% dr premi yg sy bayar). lalu sy pindah ke reksadana dan beli asuransi jiwa murni. Kemudian melihat gerak nab reksadana yg naik turun dan nilai uang/inflasi yg cukup tinggi, sy putuskan alihkan sebagian dana ke tanah. setiap uang sy di reksadana cukup to beli tanah sy akan alihkan ke tanah. pertanyaan saya apakah cara sy ini cukup baik pak rudi? terimakasih atas jawabannya.

  23. budi wi
    October 1st, 2013 at 17:56 | #24

    maap ralat pak rudi bukan 20% dr premi tapi 20% dari investasi bulanan yg didebet dr tabungan. tks

  24. Rudiyanto
    October 3rd, 2013 at 13:38 | #25

    @budi wi
    Salam Pak Budi,

    Mengenai tanah atau reksa dana, kembali ke tujuan anda apa dan anda lebih mengerti yang mana. Kalau memang lebih ahli dan percaya dengan investasi tanah kenapa tidak dialihkan semua saja kesana? Untuk reksa dana mungkin tidak perlu, kalaupun ada cukup reksa dana pasar uang, paling baik sih deposito. Sebab prinsipnya kan begitu cukup langsung dibelikan tanah?

    Demikian pak, semoga bermanfaat.

  25. kurniawan
    October 4th, 2013 at 07:50 | #26

    @Rudiyanto
    Pak Rudi,

    Ternyata ada kok asuransi penyakit kritis yg bukan unit link …
    namanya asuransi cigna … tapi tahun depan nya bisa di perpanjang lagi ato ga ya ini masih tanda tanya … jangan2 nanti tidak di perpanjang ato premi nya jadi mahal kalo dah pernah claim penyakit kritis …

  26. Rudiyanto
    October 4th, 2013 at 09:02 | #27

    @kurniawan
    Salam Pak Kurniawan,

    Kalau memang sudah pernah kena penyakit kritis tentu untuk pengajuan asuransi berikutnya lebih susah. Sebab jika anda yang punya perusahaan asuransi, apakah anda mau bisnis yang pasti rugi?

    Perusahaan asuransinya kan prinsipnya kurang lebih sbb, 1000 orang beli asuransi, mungkin 1 orang yang bayar klaim. Jadi dia masih untung dari 999nya. Kalau 1000 orang beli 999 yang klaim yah dia bangkrut.

    Makanya yang bagus dari asuransi baik yang murni ataupun unit link itu, ketika anda berasuransi, saya yakin ada divisi tertentu yang tugasnya memastikan pemegang polis sehat walafiat. Entah itu dengan mendoakan atau menyelenggarakan kegiatan hidup sehat seperti lomba fun walk dan maraton yang sering diadakan beberapa tahun ini.

    Semoga bermanfaat.

  27. October 22nd, 2013 at 19:28 | #28

    Adanya unit link ini justru kadang membingungkan dan membuat persoalan bisa jadi ruwet. Sebaiknya kalau investasi ya investasi artinya terpisah dari asuransi

  28. Dargombes
    November 9th, 2013 at 09:19 | #29

    Dear pak Rudi,.

    Mohon advice, saya sudah 2 tahun mengikuti salah satau product unitlink, dengan tertanggung anak saya.
    Dengan komposisi Investasi 100JT dan premi reguler 5jt cuti premi selama 3 tahun. Dengan Premi charge tahun pertama 100%, tahun kedua 55% dan tahun ketiga 20%.
    Sehingga dari ilustrasi diatas +/- 90JT saya investkan di unitlink MaestroEquityPlus 100%.
    Dengan ketentuan pajak dan dana mengendap yang harus ditinggal sebesar 5jt yang harus dibiarkan pada penarikan seluruhnya (surrender), apakah model ini (bila untuk investasi) worthy atau nggak? dilanjutkan atau melakukan surrender? timingnya pas apa supaya tidak banyak rugi ?

    Atau saya biarkan saja untuk longterm ?

    Karena saat itu saya belum mengenal reksadana yang ternyata murah.

    Salam

  29. Rudiyanto
    November 9th, 2013 at 12:53 | #30

    @Dargombes
    Salam Dargombes,

    Boleh tolong diklarifikasi:
    - Apakah yang dimaksud dengan tertanggung itu, jika yang bersangkutan mengalami risiko, maka ahli waris yang akan mendapat uang pertanggungan? Jika benar demikian, apakah anak anda itu merupakan sumber penghasilan utama bagi keluarga? Jika tidak mengapa harus diasuransikan?
    - Saya tidak begitu mengerti tentang ketentuan pajak yang anda maksud, sebab sepengetahuan saya pajak itu berlaku apabila masa investasi kurang dari sekian tahun namun tidak diatur mengenai dana harus ditinggal berapa. Dan bukankah aneh, kalau ada investasi atau tabungan yang “hangus” 5 juta? Apakah angka tersebut tidak terlalu besar?
    - Terkait dilanjutkan atau tidak, timing dan lain2, boleh diklarifikasi, kalau sekarang dijual semuanya berapa yang anda dapatkan? Target anda berapa? dan berapa selisihnya dengan target yang anda harapkan?

    Terima kasih

  30. Dargombes
    November 9th, 2013 at 22:58 | #31

    Mas Rudy,.

    Maaf salah ambil form…tertanggung adalah saya sendiri pemegang polis.
    Bukan pajak namun biaya-biaya yang mungkin timbul bila diambil sebelum atau .sesudah cuti premi tahun ke 3
    Untuk yang mengendap 5 jt memang tercantum spt itu…salahnya saya yg saat itu gak baca secara lengkap. DI prudent kalo gak salah juga sama 5jt
    Karena pengaruh ada 5jt itu saya pengin advice mungkin nggak saya nunggu saja next 1 th kedepan disaat NAV naik (mungkin) toh biaya premi sudah dibayar lunas selama 3th atau cabut sekarang. dengan konsekwensi dana yang bisa diambil adalah 90jt dikurangi 5jt?

    maturnuwun

  31. Dargombes
    November 9th, 2013 at 23:10 | #32

    Saya pakai top up tunggal dibayar dimuka

  32. Rudiyanto
    November 11th, 2013 at 18:44 | #33

    @Dargombes
    Salam Dargombes,

    Kamu yakin jumlah uang yang bisa anda ambil sekarang adalah 90 juta – 5 juta ? Masak investasi 2 tahun tidak ada hasil sama sekali? Coba anda cek dulu ke pihak asuransinya.

    Dan boleh dibantu, tujuan anda investasi itu apa? targetnya berapa ?

  33. Dargombes
    November 11th, 2013 at 20:25 | #34

    Kalau dari e-statement yang saya minta minggu lalu malah dana investasi berkurang hanya tersisa 87jt an.

  34. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 08:33 | #35

    @Dargombes
    Kemudian mengenai tujuan investasi anda apa? Seandainya ini kamu stop, apakah kamu sudah memiliki rencana proteksi untuk keluarga?

  35. adita
    November 12th, 2013 at 08:59 | #36

    Tujuan-nya adalah investasi (long term 10 than lah).
    Kalau di stop maksudnya mau masuk ke instrument lain spt RD yang saya tahu saat ini murah.
    Proteksi sendiri sudah ada dari kantor dan masih lama lebih dari 10th.

    maksud pertanyaan2 saya adalah apakah sepadan bila saya lanjutkan pake UnitLink untuk next (misal 8th), dibanding instrument2 lainnya sperti RD bila saya berharap akan pengembangan modal bukan karena proteksi.

    Saat itu saya tidak tahu tentang RD setelah masuk RD kurang dari 4 bulan saya rasa kok lebih mudah dan transparan.

  36. Rudiyanto
    November 12th, 2013 at 18:17 | #37

    @adita
    Kalau demikian, berarti sudah jelas, tujuan anda adalah pengembangan modal sehingga dibutuhkan instrumen yang murni ke investasi. Asuransi Unit Link yang anda ambil adalah produk proteksi + investasi, sementara reksa dana adalah produk investasi murni.

    Jadi jawabannya bukan sepadan atau tidak, tapi tujuannya apa. Kalau tujuan sudah jelas, maka pilihan instrumennya juga akan jelas dengan sendirinya. Dan bukankah anda sudah merasakan sendiri, apakah hasil pengembangan modal dari instrumen yang anda pilih sesuai harapan atau tidak?

    Demikia masukan saya, semoga bermanfaat.

  37. yush4
    January 9th, 2014 at 22:10 | #38

    Malam pak. Kalo boleh tau, asuransi jiwa apa yg Pak Rudy ambil dari Manulife?
    Proactive / Proactive Plus /Prolife plus?

  38. Rudiyanto
    January 13th, 2014 at 09:38 | #39

    @yush4
    Yang ada Plusnya kalau ga salah. Cuman Active atau Life mesti saya cek dulu.

  39. March 11th, 2014 at 15:17 | #40

    salam pak rudi, saya termasuk orang yang memilih unitlink karena menurut saya pribadi sayang banget kalau beli asuransi murni selama kita bayar premi tp diakhir nda bisa diambil kembali premi yg telah ita setorkan. Apakah pemikiran saya ini salah pak rudi? mohon nasehatnya, terima aksih

  40. Rudiyanto
    May 21st, 2014 at 01:07 | #41

    @hary
    Salam Hary,

    Mohon maaf, sepertinya komen anda terlewatkan sehingga tidak sempat saya balas. Kalau menurut saya, setiap orang yang punya tanggungan dan jumlah asetnya masih terbatas sehingga kalau ada apa2 terjadi dengannya, hidup tanggunannya akan menderita – Butuh Asuransi Jiwa.

    Sementara orang yang sudah punya harta berlimpah dan bisnis yang self running, tidak butuh asuransi. Toh ada apa2 dengannya, keluarga yang ditinggalkan bisa hidup dari aset dan bisnis yang dihasilkan.

    Kemudian apakah anda mau beli unit link atau beli asuransi murni, pertama-tama kamu harus sadar bahwa ketika membeli unit link, sebenarnya kamu membeli asuransi termlife dan investasi sekaligus. Dengan demikian, ketika di akhir ada yang kamu ambil, itu bukan semua premi yang disetorkan tapi adalah porsi investasi yang kamu setorkan.

    Sebagai contoh, orang tua saya memiliki asuransi unit link dengan premi 650.000 per bulan. Sewaktu dikirimkan surat konfirmasinya, ternyata dari uang tersebut sekitar 300rb dibelikan asuransi, 25rb menjadi biaya administrasi dan sisanya diinvestasikan – sekitar 325rb. Nilai 325rb inilah yang nantinya bisa kamu ambil.

    Tapi kalau kamu jeli membaca syarat dan ketentuannya, misalkan pada periode tertentu ternyata yang bersangkutan tidak cukup uang sehingga pada bulan tersebut tidak mambayar premi. Maka secara otomatis kamu akan tetap terasuransikan karena nilai asuransi yang 300rb dan biaya administrasi 25rb tersebut akan dipotong dari saldo investasi. Kalau saldo investasinya tidak cukup, baru dikenal istilah lapse. Tapi kalau masih cukup, asuransi kamu tetap berjalan.

    Demikian kira2 penjelasan tentang unit link, semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  41. Ndie
    September 7th, 2014 at 04:11 | #42

    Halo Pak Rudi,

    Terima kasih ulasan soal Unit Linknya, sedikit sumbang pemikiran ya Pak.

    Perlu dipahami juga bahwa Asuransi Jiwa atau Term Life itu manfaatnya baru keluar kalau si Tertanggung Wafat. Cukup banyak masyarakat berpikir bahwa manfaat Asuransi Term Life itu bisa diperoleh saat seseorang hidup. Saya punya sahabat yang berpikiran seperti ini karena mendengar Talk Show Perencana Keuangan, namun akhirnya jadi salah pemikirannya, berpikir bahwa Term Life itu nantinya bisa dimanfaatkan hasilnya.

    Kenyataannya di masyarakat adalah seperti apa yang dituliskan oleh Pak Hary…. Nggak mau rugi karena premi hilang (?) sudah membayar asuransi. Kebetulan yang namanya asuransi ini memang tidak seperti ponsel atau benda-benda lainnya. Manfaatnya tidak terasa sampai akhirnya terjadi suatu musibah. Premi dibayar untuk dapat proteksi, baik itu jiwa, biaya kesehatan dan lain-lain, jadi tidak ada yang hilang. Jika ingin manfaat asuransi, tentu konyol kalau kita minta terjadi resiko pada diri kita sehingga terasalah manfaat punya asuransi

    Setahu saya, seperti artikel yang pernah saya baca, dari dokumen pemerintah unit link itu hasil investasinya memang untuk kemudian dipakai membayar premi, oleh sebab itulah makanya tidak kena pajak pada tahun tertentu. Sehingga Nasabah cukup membayar dalam waktu tertentu, misalnya 10 tahun, namun proteksinya hingga masa 100 tahun. Paragraf sebelumnya (Case Pak Hary) sudah menjelaskan mengapa dirancang produk sedemikian rupa sehingga orang tidak perlu bayar premi lama-lama. Artinya uang bekerja untuk melindungi si Nasabah, melindungi dari bayar premi yang lama dan hangus, dan dalam jangka panjang justru mendapat manfaat tunai

    Tentulah kurang tepat dan tidaklah sepadan kalau membandingkan Reksadana VS Unit Link dengan jumlah premi misalnya sama-sama Rp. 500.000 per bulan. Jelas beda hasilnya dari awal, karena dalam Investasi seperti reksadana tidak ada Beban Asuransinya.

    Seperti bisnis lainnya saya pikir yang namanya bisnis ya harus untung, buat apa bisnis kalau nggak untung. Sejauh keuntungan itu wajar dan yang layak tentu tidak masalah. Rasanya kurang fair kalau untung perusahaan asuransi dianggap kurang wajar, sementara harga sepiring lalapan bisa dicharge Rp. 15.000 di Anyer hanya karena lalapan nampak dimata dan bisa dirasa tenggorokan. Kalau asuransi gak untung dan mudah pailit tentu akhirnya menghilangkan kepercayaan masyarakat juga.

    Asuransi Kantor boleh saja diandalkan, asal tidak lupa untuk membentuk asset guna membayar premi asuransi murni kesehatan yang sudah tidak murah lagi saat usia pensiun tiba kalau tidak mau repot dengan jual asset untuk biaya rumah sakit yang bisa habis ratusan bahkan milyaran rupiah. Dari kenyataan yang ada, paling tidak sudah dua orang teman saya yang asset orang tuanya habis demi pengobatan. Atau kasus-kasus lain dimana seseorang sudah terkena sakit tertentu di usia muda dan harus bayar ekstra premi atau bahkan ditolak permohonan asuransinya karena sudah sakit meski mampu bayar.

    Untuk Pak Dargombes, uang yang ditaruh adalah Rp. 100 juta dan Top Up Tunggal, Premi Rp. 5.000.000, di atas kertas saja ketika permohonan disetujui paling tidak dalam masa 3 tahun dana 100 juta tersebut sudah berkurang Rp. 15 juta, (Premi tahunan Rp. 5 juta x 3 tahun agar polis tetap hidup) sehingga tersisa Rp. 85.000.000. Sementara laporan yang Anda terima Saldo Anda ada kurang lebih Rp. 87.000.000. Baiknya jika ingin mengulas hasil investasi Unit Link paling tidak setelah masa pembayaran biaya-biayanya habis, dalam kasus Bapak yaitu di akhir tahun ke 6 (yang saya tahu ada biaya selama 5 tahun dalam produk maestro. Karena seperti yang saya sampaikan sebelumnya dalam Unit Link ada Investasi dan biaya-biaya Proteksi yang harus dibayar.

    Seperti halnya reksadana, di dalam Unit Link juga ada beragam jenis fund yang masing-masing memiliki karakternya sendiri dan bisa pula disesuaikan dengan profile rekan-rekan pribadi. Yang saya tahu Equity itu kurang lebih setara dengan Reksadana Campuran lebih rinci mungkin di blog ini bisa ditemukan apa itu reksadana campuran dan kalau di perusahaan asuransi mereka biasanya punya informasi tentang Equity.

    Akhir kata saya setuju dengan pernyataan bahwa tujuannya untuk berasuransi maupun untuk investasi itu apa? Seringkali masyarakat sendiri tidak tahu tujuannya apa. Atau jika diarahkan untuk mencapai suatu tujuan dengan prinsip-prinsip dasar keuangan, malah bingung dan kaget sendiri ternyata kok tujuannya itu kalau dalam angka ternyata besar, tapi daya beli sedikit atau bahkan tidak mampu.

    Sedikit tambahan, apapun yang dipilih untuk investasi baik reksadana, tanah, rumah, emas, atau bahkan dalam Unit Link yang dijadikan alat investasi memiliki resikonya sendiri-sendiri dan karakter yang beda-beda, lebih bagus jika ada dana lakukan diversifikasi. Namun diantara semuanya, jika suka yang pasti-pasti, tentulah Uang Pertanggungan dari proteksi Asuransi yang pasti, dan disitulah keindahan asuransi (the beauty of insurance).

    Terimakasih

  42. Terecia Elshinta
    September 7th, 2014 at 11:07 | #43

    Halo Pak,
    Saya sedang mencari asuransi murni jiwa dan penyakit kritis, saya belum menanyakan ke perusahaan asuransi, karena sulit sekali mencari asuransi murni. Bolehkan saya tahu perusahaan asuransi yang dipakai Bapak?

    Terima kasih

  43. faisal7
    September 7th, 2014 at 18:25 | #44

    Salam pak rudi..terima kasih atas tulisan2 yg mencerahkan.
    Terus terang sy kenal rd tanpa sengaja membaca tulisan pak rudi ini.tanpa berpikir panjang langsung sj saya tutup unit link saya dan istri,padahal sudah berlangsung hampir 3tahun.coba brp uang yg kembali?punya istri 3jtann punya sy cm 50rb.tp sy ga menyesal krn untung sj blm sampai 5/10tahn.skrng sy sdh ambil asji murni+askes murni+rd panin dn ultima. Sy baru tersadar, unit link selalu mengagung2kan melindungi anda dlm 100tahun pernahkah anda menyadari bahwa smua biaya rumah sakit hampir sllu ada kenaikan tiap tahun?misal anda berumur 30th mendapatkan penggantian biaya kamar senilai 300rb,saat anda berumur 50thn yg artinya 20 thn kemudian masihkah ada kamar seharga 300ribu?

  44. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:31 | #45

    @Ndie
    Salam Ndie,

    Terima kasih untuk sharingnya.

    Saya cuman mau tambahkan adalah dengan adanya kehadiran BPJS Kesehatan, maka seterusnya selain asuransi kesehatan swasta yang preminya selalu bertambah mahal seiring dengan bertambahnya usia, masyarakat juga bisa mengambil BPJS Kesehatan yang harganya lebih murah bahkan tidak melihat historis kesehatan kita.

    Paling mahal adalah sekitar 59.500 untuk kelas I. Tapi pengobatan yang butuh biaya besar seperti cuci darah, operasi jantung dan lain-lain sudah bisa gratis. Memang pada kenyataannya di lapangan, masyarakat harus antri dan terkadang rumah sakit mendahulukan pasien yang bayar.

    Akan tetapi dengan semakin banyaknya rumah sakit yang dibangun, pemanfaatan puskesmas sebagai rujukan awal atau bahkan memberikan pengobatan awal, diharapkan pelayanan BPJS Kesehatan bisa lebih baik. Tentu kita berharap program Indonesia Sehat dari pemerintah Jokowi – JK bisa berhasil.

    Terima kasih.

  45. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:36 | #46

    @Terecia Elshinta
    Halo Ibu Terecia,

    Memang untuk mencari produk asuransi murni itu sulit. Untuk asuransi jiwa, saya membelinya di Manulife. Namun program Smart Investment Protection Plan yang baru Panin Asset Management luncurkan beberapa waktu lalu ini juga menggunakan asuransi jiwa murni. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/18/mengenal-smart-investment-protection-plan-dari-panin-asset-management/

    Untuk asuransi penyakit kritis itu pada dasarnya (sepengetahuan saya) tidak bisa anda dapatkan jika tidak membelinya secara terpisah. Karena asuransi itu merupakan asuransi tambahan. Saya memiliki asuransi penyakit kritis dari Manulife yang merupakan tambahan dari asuransi jiwa. Untuk istri saya, asuransi penyakit kritis dari Prudential yang merupakan bagian dari unit link.

    Semoga bermanfaat.

  46. Rudiyanto
    September 8th, 2014 at 14:39 | #47

    @faisal7
    Salam Pak Faisal,

    Perlu diketahui bahwa saya tidak menyarankan untuk menutup unit link lho. Malahan saya punya unit link karena membutuhkan manfaat asuransi penyakit kritisnya.

    Hanya saja saya tidak terlalu antusias dengan nilai tunai karena pada saat membelinya saya menggunakan prinsip beli asuransi kendaraan. Kalau tidak ada klaim ya uang hangus. Untuk itu, saya selalu berusaha memaksimalkan manfaat asuransinya dibandingkan investasi.

    Terima kasih

  47. ari
    October 20th, 2014 at 15:36 | #48

    Selamat Sore Pak Rudy,

    Mohon masukannya saat ini ini saya sudah megikuti asuransi + investasasi (unitlink) di pr*d*n sudah berjalan 2 tahun dengan nominal 500 rb/bln, saya ingin mengalihkan investasi tsb di reksadana, tadinya asuransi itu untuk persiapan dana pensiun dan beralih ke asuransi traditional aja.
    Yang mau saya tanyakan apabila saya tutup, saya tetap menerima uang penutupan asuransi meskipun jumlahnya sdikit di saldo tertulis +/- 4,5 jutaan .

    Terima kasih

    Salam
    Ari

  48. Rudiyanto
    October 24th, 2014 at 12:51 | #49

    @ari
    Selamat Sore Pak Ari,

    Apabila unit link tersebut ditutup, biasanya selain ada biaya penarikan, juga ada pajak atas keuntungan investasi anda. Untuk lebih lengkapnya bisa anda tanyakan ke agen penjual anda.

    Satu hal yang pasti, kalau kamu berharap uang kamu bisa balik, itu sudah pasti tidak mungkin.

    Semoga bermanfaat.

  49. ari
    October 27th, 2014 at 10:48 | #50

    Pak Rudy,

    Terima kasih banyak atas responnya.

    Pak saya juga ingin berkonsultasi selain unit link gak papa ya pak.
    Mohon pencerahannya saat ini saya pnya cicilan kpr stiap bln Rp.2.650.000 selama 11 tahun dan sudah berjalan 3 tahun, apabila saya ingin menjual rumah tersebut & dana hasil penjualan saya alihkan ke investasi reksadana untuk jangka panjang apakah tepat.
    karena saya melihat return reksadana cepat juga meskipun high risk high return.

    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas masukann & pencerahannya.

    Salam
    Ari

  50. Rudiyanto
    October 28th, 2014 at 00:18 | #51

    @ari
    Malam Pak Ari,

    Kegiatan investasi reksa dana itu harus selalu didasarkan pada suatu tujuan. Apakah itu menyiapkan pensiun, rencana pendidikan atau hal lainnya. Begitu tujuan sudah SMART, http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ langkah berikutnya menghitung berapa nilai yang diperlukan setiap bulan untuk mencapai tujuan tersebut.

    Jika tujuan yang ada sudah bisa dipenuhi dari gaji yang anda sisihkan setiap bulan tanpa harus menjual rumah, ya tidak usah dijual. Kalau tidak cukup, baru dipertimbangkan kembali.

    Jika tujuannya hanya mau cari return lebih tinggi saja, menurut saya itu bukan tujuan investasi yang SMART.

    Terima kasih

  51. ari
    October 28th, 2014 at 09:14 | #52

    Selamat Pagi Pak Rudy,

    Terima kasih atas pencerahannya sangat membantu sekali.

    Salam
    Ari

  52. Stephanie
    December 9th, 2014 at 00:06 | #53

    Dear Pak Rudy,

    Apakah saya bisa memasarkan produk term disini?

    Terima Kasih

    Stephanie

  53. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 01:29 | #54

    @Stephanie
    Malam Ibu Stephanie,

    Apabila ada produk Asuransi Term Life yang bagus bisa diinformasikan disini, saya tidak keberatan.

    Terima kasih

  54. May 15th, 2015 at 12:42 | #55

    Selamat siang Pak Rudiyanto,

    Saat ini saya merupakan agen asuransi Allianz, produk yang saya jual merupakan unit link syariah. Sekedar ingin sharing pengalaman saya mengenai pencarian produk asuransi jiwa. Background pekerjaan saya sebelum jadi agen adalah wiraswasta, usia saya waktu itu 30 tahun (thn 2014) dan lagi cari info proteksi asuransi jiwa sebesar 1 Miliar, budget sekitar 300 ribu-an per bulan. Setelah ber-googling ria dan korespondensi lewat email, saya dapat 3 ilustrasi termlife.

    Ilustrasi yang pertama, produk syariah, premi 3 juta per tahun, tenor 15 tahun, gak bisa bayar bulanan. Kalo yang kedua, termlife konvensional, premi minimal 4 juta, tenor 20 tahun, dapet UP-nya lebih besar yaitu 1,335 M, ada garansi perpanjangan, tapi sama dengan yang pertama, gak bisa bayar bulanan. Trus yang ketiga termlife konvensional juga, preminya 3,6 juta per tahun, tenor 20 tahun, dan bisa bayar bulanan, tapi jadi lebih mahal sekitar 12%. Jadi bayarnya kalo bulanan jadi sekitar 336 ribu per bulan.

    Karena saya pribadi pengen produk yang syariah. Masih berlanjutlah pencarian saya hingga akhirnya nemu produk unit link syariah dari Allianz. Beruntung saya ketemu dengan agen yang bagus, dibuatkanlah ilustrasi unit link syariah dari Allianz ini buat saya, premi minimal tapi proteksi maksimal. Dengan profil saya, UP 1 Miliar preminya 355 ribu per bulan, bayar premi selama ingin punya proteksi. Premi pun bisa flat hingga lebih dari 20 tahun, dengan catatan hasil investasi rata-rata sekitar 6-7% per tahun. Bahkan saya gak perlu risau dengan garansi perpanjangan, selama premi bayar terus, hasil investasi bisa nutupin biaya-biayanya, maka polis akan aktif terus. Sungguh beda dengan beberapa agen unit link yang pernah nawarin ke saya, selalu nawarin cuma bayar 10 tahun, ada hasil investasi, “gratis” asuransi seumur hidup. Akhirnya pun saya memilih produk unit link syariah dari Allianz ini, namanya Allisya Protection Plus. Dan 2 bulan sesudahnya saya memutuskan untuk menjadi agennya.

    Saya setuju dengan pendapat bapak, banyak faktor yang melandasi dalam mengambil sebuah keputusan untuk memilih produk asuransi. Kita harus tetap bijak dan cermat dalam memilihnya. Jadi bukan hanya sekedar “Say No unit Link”.

    Terima Kasih

    M. Ibnu Setiawan
    Blog: http://agenasuransisyariah.com

  55. Eko
    August 9th, 2015 at 07:28 | #56

    Hallo pak. Sy eko
    Sy mau bertanya
    Sy br berumah tangga.
    Bagusnya sy ambil asuransi apa yah
    Sy pengen ambil asuransi BPJS untuk kesehatan sj
    Lalu untuk asuransi investasi sy ambil d PT. AJ CAR kira2 350.000/bln apakah itu terhitung bagus pak
    Atau ada saran dr bapak ? Mohon masukannya pak

  56. Rudiyanto
    August 9th, 2015 at 15:36 | #57

    @Eko
    Salam Pak Eko,

    Sebelum saya ucapkan selamat untuk pernikahannya. Semoga bahagia, sehat dan sejahtera.
    Mengenai pertanyaan asuransi apa yang cocok, selalu disesuaikan dengan kebutuhan, fasilitas asuransi dari kantor dan keadaan keuangan.

    Jadi idealnya didiskusikan dengan perencana keuangan supaya lebih komprehensif. Terima kasih

  57. Firmansah
    September 25th, 2015 at 22:58 | #58

    Saya membaca artikel ini dgn antusias, mulai dr isi artikel sampai comment paling terakhir. Sangat bermanfaat. Tks

  58. Rudy Hart
    September 26th, 2015 at 14:41 | #59

    @Dargombes
    Salam Kenal Pak Dargombes,
    Di Prudential, unitlink konvensional, dana (nilai tunai) yang harus ada minimal Rp 1juta.
    Untuk yang Syariah, dan (nilai tunai) yang harus ada minimal Rp 3juta.
    Sisa (nilai tunai)nya bisa tarik.
    Namun bila setelah penarikan, tidak ada pembayaran premi lebih lanjut, mungkin dalam beberapa bulan ke depan, polis akan lapsed (ditidurkan) sehingga tidak bisa dilakukan klaim bila ada risiko.
    Terima Kasih.

  59. okie
    October 19th, 2015 at 16:22 | #60

    Selamat sori pak rudi….

    Saya tertarim membaca artikel bapak dan banyak yang responnya, jadi menambah wawasan saya…
    kalo boleh tanya pak, investasi reksadana untuk sekaran n akan datang bagusnya apa pak?? rencana buat pendidikan anak masuk kuliah pak.
    Terima kasih sebelumnya pak…. (sy sudah punya 2 RDS syariah, tapi dari hasilnya masih stagnant) bagusnya ganti ke RD apa pak…

    maaf jadi kepanjangan koment saya pak….

    Salam

  60. Rudiyanto
    October 19th, 2015 at 22:46 | #61

    @okie
    Salam Pak Okie,

    Investasi reksa dana bukan reksa dana apa yang bagus, tapi apakah anda sudah punya rencana dan melakukan eksekusi sesuai dengan rencana tersebut? Sebab jika sudah, kinerja yang stagnan memang merupakan risiko yang tidak terpisahkan dalam investasi.

    Untuk lebih detailnya ada beberapa artikel yang bisa anda baca sebagai berikut :
    Terkait rencana investasi
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/ dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Terkait kinerja yang stagnan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/07/10/autodebet-sudah-jalan-3-tahun-tapi-belum-untung-stop-atau-lanjut-2/

    Semoga bermanfaat

  61. LR
    October 20th, 2015 at 23:33 | #62

    mlm pak,

    saya mau nnya, apakah jika msk asuransi unit link(investasi), up jiwa dan krtis perlu bsr ? dgn premi 25 jt/thn, umur 24 thn byr selma 5 thn…katanya kl kritis dan jiwa bsr mk nilai investasinya buruk..bnr kah ?up jiwa 300 jt, kritis 200 jt, diagnosa awal cair 50%..? hasil ilustrZi nilai invest 18% thn ke 6, jdi 126 jt..gmn mnrt bpk?dan kawan2 dsni..

  62. LR
    October 21st, 2015 at 00:17 | #63

    LR :
    mlm pak,
    saya mau nnya, apakah jika msk asuransi unit link(investasi), up jiwa dan krtis perlu bsr ? dgn premi 25 jt/thn, umur 24 thn byr selma 5 thn…katanya kl kritis dan jiwa bsr mk nilai investasinya buruk..bnr kah ?up jiwa 300 jt, kritis 200 jt, diagnosa awal cair 50%..? hasil ilustrZi nilai invest 18% thn ke 6, jdi 126 jt..gmn mnrt bpk?dan kawan2 dsni..

    tmbhn, asuransi yg saya msk All*a*z, dr semua artikel di atas yg saya baca, nmpknya, asuransi investasi yg sya msk dgn premi 25 jt/thn, byr 5 thn, proteksi up spt tg saya sampaikn dinatas, inesatasi spt pnjlsan diatas, yg sya hndak tnykn pa kah bijk utk menurunkn/mengecilkn up nya dr 300 jt mnjdi 125 jt?dan pkah kritis perlu sya trunkn jg atau ttap? ktnya up itu mnybabkn investasi nilai kita jlek, dan ada asuransi lain blg investasi asuransi A saya jlek, bnr kah?mksdnya kinerja investasi team perusahaan asuransinya.mhn info dan mskan..thx

  63. Rudiyanto
    October 23rd, 2015 at 12:15 | #64

    @LR
    Selamat Siang Pak LR,

    Mohon maaf saya tidak begitu mengerti semua yang kamu tanyakan. Mohon bisa disusun dengan baik dulu. Saya coba jawab yang bisa saya baca
    1. Beli asuransi ya UPnya sesuai kebutuhan. Berapa kebutuhannya bisa baca http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/07/0708005/Sehat.Keuangan.Dahulu.Investasi.Reksa.Dana.Kemudian.
    2. Mau masuk usia berapa dan bayar berapa tahun, kamu mesti jelas, mau beli asuransi atau investasi ? Bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    Kalau tanyanya saja irit, sudah untung orang mau jawab. Mungkin jawabnya juga irit juga.

  64. January 14th, 2016 at 05:16 | #65

    Tidak semua produk unit link lebih mahal daripada termlife, namun pun demikian, harus tetap dimengerti bahwa fungsi utama investasi pada unit link bukan untuk diambil dan dikonsumsi untuk kebutuhan lain, investasi unit link adalah untuk melindungi unsur proteksi dari unit link itu sendiri. Berikut adalah perhitungan yang menunjukkan unit link tidak mahal dan memiliki bentuk perlindungan atau proteksi yang lengkap
    http://proteksikeluargasyariah.com/2016/01/10/matematika-terapan-unit-link-dan-termlife-20-tahun-unit-link-allianz-lebih-murah/

  65. February 27th, 2016 at 23:57 | #66

    Hallo Pak Rudy, Artikel yg bagus & sangat membantu, tapi mohon Maaf, coba jika Bapak bisa bergabung dan bekerjasama di team kami http://in4-link.com/ayomenabung. Dan di Praktekan dan pasti berhasil, maka yang lainpun akan memakai hal yg sama dengan bpk. Maaf hanya share. Tks. Salam 4 jari TM In4link.

  66. Rudiyanto
    March 3rd, 2016 at 23:36 | #67

    @In4link Online
    Selamat malam,

    Terima kasih untuk penawaran bekerja di perusahaan asuransi.

    Tapi Mohon maaf sebagai pemegang izin Wakil Manajer Investasi secara perseorangan, salah satu kode etik yang harus jaga adalah tidak boleh bekerja di lebih dari 1 perusahaan lembaga keuangan yang di atur oleh OJK (Asuransi dan Manajer Investasi).

    Terima kasih

  67. fenny
    March 6th, 2016 at 01:41 | #68

    Saya ikut unit link asuransi generali sejak tahun 2013. Skrg umur suami 35. Saya 35. Anak 6 thn. Untuk suami 6 jt/thn. Saya 6 jt/thn. Anak 4 jt/thn. Jadi totalnya 16 jt/thn. Sejak awal ikut asuransi saya memang cuma mengharap proteksinya saja. Bukan utk investasi. Di awal ikut saya minta ke agennya untuk membuat ilustrasi yg hasil investasinya posisi “sedang” jangan sampai lapse. Ternyata di tahun ini, hasil investasinya jangankan sedang, rendah aja gak sampai. Jadi saya memutuskan utk menutup smua unit link itu. Punya suami yg bisa diambil cuma 2,7 jt. Punya saya 2,2 jt. Anak 0. Saya sempat nge klaim 1 kali dapat 5 jt. Pemikiran saya kan pasti lapse buat apa diteruskan. Kami sekeluarga sdh dpt proteksi kesehatan dari kantor suami. Pertimbangan saya buka unitlink itu karena di masa mendatang ingin berwiraswasta jd proteksi kesehatan harus punya sendiri. Sekarang saya ingin membuka asuransi jiwa murni utk saya dan suami, lalu utk proteksi kesehatan saya menggunakan deposito saja. Saat ini yg saya taruh di deposito 100 jt dengan bunga per bulan 10,25% dipotong pajak 20%.Pertanyaan saya apakah langkah yg saya ambil sdh benar..? Thx utk jawabannya.

    • Rudiyanto
      March 6th, 2016 at 14:29 | #69

      Selamat Siang Ibu Fenny,

      Terima kasih atas sharing pengalamannya yg berharga. Tanggapan saya :
      1. Terkait hasil pengembangan yg sangat kecil dimana mungkin anda sudah menginvestasikan 12-18 juta per orang utk anda dan suami anda dan yg diperoleh hanya sekitar 2 jutaan per orang menurut saya bukan di hasil pengembangan melainkan mungkin anda belum terlalu mengerti dgn cara perhitungan biaya dalam unit link. Utk referensi hasi perhitungan anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

      2. Mengenai rencana anda utk berwirausaha sehingga akan mengganti asuransi kesehatan dgn deposito memang tidak bisa dibilang salah atau benar. Kalau menurut saya, begitu sejumlah orang punya harta / aset yg bisa cover 10-15 tahun pengeluaran keluarga dan biaya pendidikan anak sampai kuliah, pada dasarnya sudah tidak butuh asuransi jiwa lagi.

      Utk asuransi kesehatan, sebenarnya kalau mau agak bersabar bisa ikut BPJS Kesehatan. Tapi kalau keputusannya di deposito, menurut saya ok tapi melihat biaya kesehatan di kota besar menurut saya setidaknya butuh Rp 200-250 juta. Utk biaya perawatan penyakit yg tidak berat tapi butuh dirawat seperti demam berdarah, diare, dan tipes, angka di atas memang lebih dari cukup. Tapi ingat bagaimana dgn potensi yg hilang krn anda / suami anda menjadi produktif krn sakit?

      Rp 100 juta dgn bunga 10.25% dipotong pajak mungkin sekitar 8%an atau Rp 8 juta per tahun / Rp 770.000 per bulan. Rp 100 juta -nya mungkin cukup utk biaya rawat inap dan dokter, tapi tidak cukup utk menggantikan produktifitas yg hilang.

      Dgn Rp 200-250 juta sekalipun mungkin bunga tetap tidak cukup tapi paling tidak agak mengurangi beban. Utk penyakit yg berat seperti Jantung, Ginjal, dan penyakit kritis lainnya mungkin angka ini baru pas-pasan atau bahkan kurang.

      Namun jika angka ini agak memberatkan, saran saya anda tetap punya asuransi kesehatan komersial utk suami dan anda, atau minimal BPJS Kesehatan. Cara lainnya adalah dgn menjaga kesehatan. Metodenya juga tidak susah tinggal harus punya kemauan yg kuat utk: cukup tidur, makan sehat, pikiran positif, dan rajin beribadah.

      3. Boleh tahu anda dapat 10.25% gross utk deposito Rp 100 juta di bank mana? Sebab angka itu hampir tidak mungkin mengingat kondisi suku bunga yg menurun dan nilai dana anda relatif tidak terlalu besar utk mendapatkan special rate dari bank.

      Semoga bermanfaat

  68. Fenny
    March 7th, 2016 at 08:02 | #70

    Saya dpt 10,25% gross di salah satu BPR di surabaya. Kalo tidak salah koperasi karyawan samator. Saya taruh di situ sudah skitar 2 thn dan aman2 saja. Oya saya mau ikut APRDI yg kursus reksadana. Apa itu di ada di sby atau hanya di jkt aja.? Thx berat utk jwbannya Pak Rudi

  69. Rudiyanto
    March 7th, 2016 at 08:56 | #71

    @Fenny
    Pagi Bu Fenny,

    Berdasarkan pengetahuan saya, BPR memang bisa memberikan bunga yang lebih tinggi, namun hal ini berarti secara risiko juga lebih tinggi. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa BPR yang anda percayakan aman atau tidak, namun secara umum BPR lebih berisiko dari bank untuk itu, jaminan LPS sangat penting.

    Sebagai informasi, setiap tahun selalu ada BPR yang dilikuidasi. Anda bisa lihat daftarnya di http://lps.go.id/bank-yang-dilikuidasi

    Saat ini suku bunga penjaminan LPS untuk BPR adalah 10%. Maka saran saya, untuk meminimalkan risiko tersebut yang lebih aman adalah suku bunga sesuai LPS. Mungkin pas anda mendepositokan uang, BI Rate belum turun sehingga masih dapat 10.25%, tapi untuk saat ini adalah 10%. Bisa di cek di http://lps.go.id/home#

    Untuk kelas reksa dana APRDI, memang saat ini hanya ada di Jakarta. Jika selanjutnya ada pengembangan ke luar kota, akan kami informasikan. Informasi juga bisa di cek di http://investoready-aprdi.org/

    Terima kasih

  70. March 23rd, 2016 at 18:47 | #72

    Numpang share pengalaman saya dengan asuransi jiwa dengan 3 polis :
    https://belajarasuransiunitlink.wordpress.com/

    Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran bagi yang lain

  71. Ayu Sarie
    June 1st, 2016 at 12:46 | #73

    siang pa rudi

    saya sangat antusias dengan diskusi yang ada di blog ini, kalau boleh jujur ini sangat membuka wawasan saya tentang perencanaan keungan saya. Pak rudi saya mohon pencerahan atas kondisi saya ini..sebab saya masih bingung untuk mengambil keputusan terutama yang terkait dengan pemilihan asuransi yang akan saya beli. kebutuhan utama saya adalah proteksi untuk kesehatan saya, suami dan anak..namun saya juga ingin uang yang saya setorkan tidak hilang begitu saja..memang asuransi murni kesehatan tampaknya sekilas lebih murah preminya jika di breakdown di banding unit link..tapi kan resikonya uang akan hilang..kalau unit link kan tidak..namun jika dilihat dari beberapa kasus diatas nampaknya nilai investasi di unit link pun tidak maksimal..
    saya dan keluarga di kantor sudah di cover oleh BPJS kesehatan dengan jatah kamar kelas 1..jadi intinya kl dalam situasi yang mendesak BPJS masih bisa menjadi “senjata ” terakhir saya.
    tapi kalo pake BPJS saya tampaknya agak “kurang sabar” dengan berbagai prosesnya, jadinya saya sempat ingin menggunakan asuransi tambahan.
    kemudian saat ini saya sudah mengcover anak2 saya dengan asuransi pendidikan dan unit link.
    sedangkan saya dan suami hanya BPJS saja..apakah kondisi ini menurut bapak cukup tepat ?
    sebagai info saja asuransi pendidikan anak saya dari AXA mandiri..sudah masuk tahun ke 3 dgn premi 500rb/bln..benefit dr asuransi tersebut hanya mendapat biaya pengganti kamar rawat inap (250/hari), ICU ( 1jtan/hari ), Ambulan dan santunan jika meninggal..dan anak saya itu pernah dirawat dan menghabiskan dana sekitar 20 jt..namun yang bisa diclaim hanya 1.250 jt saja ( hanya biaya kamar rawat inapnya saja ) yg lain tdk diclaim krn mmg tidak ada..dengan kejadian itu saya berfikir sepertinya ini tidak sebanding makanya untuk anak yg kedua saya membeli produk unit link syariah dgn premi yang sama..tapi setelah liat beberap
    kasus di atas kok nilai investasinya kecil meski sudah bertahun2 bayar..
    sekali lagi mohon pencerahannya pa rudi..terima kasih banyak seblumnya…

  72. Rudiyanto
    June 2nd, 2016 at 10:15 | #74

    @Ayu Sarie
    Selamat Siang Ibu Ayu,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Kalau anda menginginkan layanan asuransi kesehatan yang premium dan tidak pakai tunggu, memang idealnya menggunakan asuransi komersial.

    2. Yang perlu diluruskan adalah cara anda memandang asuransi unit link. Anda perlu sadar bahwa beli asuransi unit link itu sama dengan beli asuransi kendaraan atau beli asuransi jiwa waktu mau KPR.

    Kalau beli asuransi kendaraan, ada tabrakan, kecelakaan dan sebagainya diganti. Bagaimana kalau tidak ada? Ya hangus. Sama juga ketika kredit KPR beli rumah. Misalkan ditengah2 cicilan yang bersangkutan meninggal, bagaimana dengan hutang KPRnya? Ya lunas. Tapi bagaimana kalau tidak meninggal? Premi asuransi tersebut ya hangus sama seperti asuransi kendaraan.

    Bagaimana dengan unit link? Sama saja, bedanya selain premi asuransi anda juga membayarkan sebagian uang untuk investasi. Sebenarnya itu bukan investasi, tapi tabungan yang dipakai untuk membayar biaya asuransi, biaya administrasi dan komisi agen anda. Jadi anda tidak bisa berharap bahwa hasil investasinya akan maksimal karena banyak sekali potongannya.

    Jadi mindset yang benar ketika beli unit link adalah siap bahwa preminya hangus dan merasa tenang karena potensi risiko sudah dicover. Kalau berharap uangnya cukup untuk biaya pendidikan, mohon maaf, mungkin anda akan sangat kecewa nantinya.

    3. Kalau mindsetnya udah benar, maka anda akan lebih bisa memutuskan apakah mau beli asuransi komersial atau tidak. Jika anda membaca ulasan di atas, menurut saya yang penting untuk dimiliki adalah asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan bisa digantikan dengan BPJS Kesehatan, tinggal yang bersangkutan nyaman atau tidak. Asuransi jiwa sebenarnya juga bisa digantikan sebagian dengan BPJS Ketenagakerjaan. Untuk detailnya anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/05/20/antisipasi-risiko-kematian-asuransi-komersial-atau-bpjs-ketenagakerjaan/

    4. Untuk asuransi pendidikan, sekali lagi jika anda berharap bisa untung dari asuransi tersebut, rasanya anda akan kecewa. Detail perhitungan asuransi di tiap perusahaan mungkin tidak sama, tapi garis besarnya sudah saya bahas di artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    Semoga bermanfaat

  73. December 31st, 2016 at 21:42 | #75

    sebenarnya kepekiran juga untuk membeli asuransi maupun JHT, namun gimana penghasilan setiap bulannya pas untuk biaya operasional kerja, ada sisa juga gak cukup untuk bayar premi

  74. July 26th, 2017 at 12:30 | #76

    Terimakasih banyak atas informasinya pak Rudi sangat bagus untuk memberi kesadaran masyarakat Indonesia pentingnya memiliki Perlindungan jiwa dan investasi secara bersamaan

    Salam, Cerdas Berasuransi
    Achmad
    http://www.myin4link.com
    http://www.in4-link.web.id

 


%d bloggers like this: