Home > Lain-lain > My Experience With Unit Link

My Experience With Unit Link

Pada artikel sebelumnya saya meminta tanggapan teman2 mengenai produk Unit Link. Sebab antara asuransi dan investasi murni atau Unit Link selalu menjadi pertanyaan dan perdebatan yang hangat mengenai apakah itu sebaiknya dipisah atau digabung. Sebagai seseorang yang berkarir di bidang pasar modal dan memasarkan produk investasi murni tentu apapun pendapat saya mengandung yang namanya conflict of interest. Oleh karena itu, saya akan mencoba untuk membahasnya dengan sharing pengalaman saya sendiri daripada berpendapat apakah ini sebaiknya dipisah atau digabung.

Sebab sama seperti teman2 disini, saya juga pernah ditawari secara gencar oleh agen asuransi. Dan pada kenyataannya saya juga memiliki produk yang anda sebut dengan nama unit link tersebut. Tertarik? Silakan ikut cerita ini lebih lanjut

Baik, cerita ini dimulai ketika ketika saya sedang kuliah di Universitas Tarumanagara. Pada waktu kuliah dulu, menjelang semester akhir, saya sempat di ajak ke salah satu perusahaan asuransi terkemuka di negara ini dan mengikuti training tentang kebutuhan asuransi pemasarannya. Waktu itu, terus terang saya sedang membutuhkan uang dan penghasilan dari kegiatan mengajar di kampus saja tidak cukup. Singkat kata saya hanya mencoba sebentar, dan.. kalau boleh jujur saya gagal jadi agen asuransi yang baik karena tidak berhasil menjual satu polispun. Tapi sedikit banyak saya pelajari tentang cara kerjanya.

Tidak lama setelah itu, saya diterima magang di perusahaan saya pertama kali yaitu Infovesta. Selama bekerja di situ sebagai riset dan juga merangkap penjual, saya banyak belajar tentang investasi, perencana keuangan dan asuransi. Ketika penghasilan saya perlahan2 sudah meningkat, saya memutuskan untuk berinvestasi di reksa dana terlebih dahulu. Hal ini sebetulnya salah karena secara konsep perencana keuangan, seseorang seharusnya memproteksi dirinya terlebih dahulu dari risiko baru selanjutnya berinvestasi. Bagi saya waktu itu, karena orang tua masih bisa membiayai dirinya sendiri, maka otomatis saya tidak memiliki tanggungan. Oleh karena itu, fokus saya hanya pada bagaimana meningkatkan nilai aset dengan berinvestasi sekaligus mendapatkan “feeling” bagaimana cara kerja dan kinerja reksa dana.

Setelah bekerja beberapa tahun, salah satu kerabat dari atasan menawarkan saya menawarkan produk asuransi murni. Timbang punya timbang akhirnya saya memutuskan untuk membeli asuransi tersebut. Sebagai informasi, premi asuransi tersebut adalah sekitar Rp 3 juta per tahun dengan uang pertanggungan Rp 1,4 M. Saya beli asuransi ini dengan pertimbangan adik saya waktu itu masih kecil dan masih dalam tanggungan orang tua. Pikiran saya suatu saat jika orang tua saya sudah tidak bekerja tentu saya akan mengambil alih tanggung jawab tersebut, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan? Jadi inilah asuransi jiwa pertama kali yang saya beli. Tidak ada rumus khusus dalam membeli asuransi ini, saya cuma hitung apakah saya sanggup bayar preminya atau tidak, dan apakah nominal pertanggungannya saya anggap cukup. Dari kantor saya mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Namun ketika saya coba klaim, memang tidak menanggung hingga 100%. Sebelum ada asuransi tersebut, biaya kesehatan boleh direimburse ke kantor.

Hidup berlanjut, saya menikah, berganti pekerjaan dan sekarang bekerja di Panin Asset Management. Setelah bekerja selama beberapa bulan, kembali saya mendapat tawaran asuransi dari salah satu kenalan di kantor. Karena sudah menikah, tentu tanggungan saya bertambah. Dari yang tadinya hanya adik, sekarang istri. Maka saya kembali memutuskan untuk menambah asuransi. Dari penawaran yang diberikan, uang pertanggungan kalau tidak salah sekitar Rp 2 M dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Memang lebih kecil jika dibandingkan dengan rasio saya sebelumnya, namun mungkin ini ada kaitannya juga dengan umur dan kondisi kesehatan saya. Untuk asuransi kesehatan, memang saat saya baru masuk belum ada, namun diberikan penggantian dari kantor yang batasannya sekitar 1 kali gaji dalam 1 tahun.

Sambil berjalannya waktu, sama seperti juga teman2 disini, tentu pernah mendengar atau bahkan mengalami langsung dimana salah satu dari saudara, orang tua saudara, atau bahkan kenalan kita mengalami penyakit yang cukup parah dan menghabiskan cukup banyak uang. Ada yang beruntung karena punya uang yang cukup, tapi tidak sedikit yang sampai harus berutang atau menggadaikan hartanya karena penyakit yang tidak sembuh2. Dari sini timbul keinginan saya juga untuk memproteksi saya dari penyakit kritis. Oleh karena itu, saya menghubungi agen asuransi saya yang pertama dan berkonsultasi mengenai hal tersebut. Beberapa saat kemudian dia datang dan menawarkan upgrade dari asuransi yang saya miliki.

Upgradenya kurang lebih sebagai berikut, premi per tahun naik dari Rp 3 juta menjadi sekitar Rp 3,7 juta dengan Uang Pertanggungan tetap Rp 1,4 M. Jika terdiagnosa penyakit kritis, maka UP akan keluar 50% dan jika meninggal setelah itu akan keluar sisanya. Jika sembuh, paling tidak, ada uang Rp 700 juta untuk biaya pengobatan dan lain2. Saya setuju dan melakukan upgrade. Semua pembayaran asuransi dilakukan dengan kartu kredit.

Selang 1 tahun, lagi-lagi saya ditawari asuransi. Kali ini oleh teman saya yang sudah kenal sejak kuliah dan baru 1 tahun terakhir menggeluti dunia asuransi. Setelah memproteksi diri saya, langkah selanjutnya proteksi untuk istri. Terus terang saya memang sengaja untuk tidak membeli dari asuransi yang sama (2 agen sebelumnya) dan ingin mencoba asuransi yang lain untuk melihat pelayanan dan kualitas servisnya. Untuk ini, saya meminta dibuatkan polis untuk istri saya dengan premi sekitar Rp 6 juta per tahun. Fokus saya waktu itu lebih kepada perlindungan untuk penyakit kritis dan biaya untuk pengobatan dan rumah sakit (kesehatan). Jadi terus terang saya agak lupa dengan uang pertanggungannya. Perusahaan tempat teman saya bekerja ini tidak menjual asuransi murni, sehingga saya memperkecil porsi investasi dan fokus pada peningkatan uang pertanggungannya.

Tidak lama setelah itu, ada peningkatan fasilitas dari perusahaan dimana untuk karyawan dan keluarga karyawan diberikan fasilitas asuransi kesehatan. Asuransi ini secara spesifik mengcover biaya rumah sakit dan biaya operasi. Jadi fungsinya sama seperti bagian asuransi kesehatan yang saya beli dari teman saya sebelumnya. Tidak lupa juga dengan Jamsostek. Setiap perusahaan tentu mengikutkan karyawan pada program Jamsostek. Dimana dalam Jamsostek biasaya sudah terdapat asuransi kecelakaan kerja, asuransi kesehatan dan Jaminan Hari Tua. Sebetulnya ini juga agak mirip2 dengan unit link. Bedanya dia tidak memotong Jaminan Hari Tua kita seandainya kita tidak membayar. Dari perbincangan dengan rekan2 di industri lain, Jamsostek dikategorikan sebagai Asuransi

Jadi jika diringkas, asuransi yang saya punya baik yang saya bayar sendiri terdiri dari

Asuransi Premi Uang Pertanggungan Tertanggung Keterangan Lain
Jiwa + Penyakit Kritis Rp 3.7 juta Per tahun Rp 1.4 M Saya Asuransi Murni
Jiwa Rp 6 juta Per tahun Rp 2 M Saya Asuransi Murni
Jiwa dan, Penyakit Kritis Rp 6 Juta per tahun Rp 400 Juta Penyakit Kritis Istri Unit Link
Asuransi Kesehatan Saja* Kantor Tergantung Kondisi Saya + Istri Asuransi Murni
Jamsostek % dari Gaji Kecelakaan, Kesehatan dan Hari Tua Saya Asuransi Sosial

*Koreksi. Sebelumnya saya terkena penyakit sebagian besar masyarakat Indonesia dalam berasuransi yaitu tidak membaca polis dengan teliti. Setelah saya lihat ulang ternyata polis asuransi istri saya hanya menanggung risiko Jiwa dan Penyakit Kritis dan tidak ada perlindungan rumah sakitnya. Hal ini memang saya yang minta pada awal dan dibuatkan oleh agen asuransi. Dan ternyata dari kantor, keluarga diberikan asuransi kesehatan, sehingga unit link tersebut melengkapi perlindungan yang saya inginkan untuk keluarga saya.

Jadi dari seluruh asuransi yang dimiliki keluarga saya, hanya ada satu unit link. Dan apabila anda tanya apakah saya akan menutup unit link tersebut, antara ya dan tidak. Ya karena saya pikir asuransi kesehatan dari kantor sudah mencukupi untuk proteksi kesehatan, dan tidak karena pertama istri saya tidak memiliki perlindungan atas penyakit kritis dan kedua asuransi tersebut saya beli dari teman yang sudah dikenal bertahun-tahun. Kemudian karena saya pikir saya masih sanggup dengan biaya premi yang ada, maka akhirnya saya memutuskan untuk tetap melanjutkan unit link tersebut. Tentu keputusan ini masih bisa berubah tergantung situasi dan kondisi dan mudah2an saya tidak salah membaca polis asuransi dan manfaat asuransi yang saya dapatkan.

Demikian pengalaman saya dengan unit link, apakah sudah cukup menjawab pertanyaan anda apakah investasi dan asuransi harus dipisah atau tidak? Perlu diingat bahwa keputusan itu tidak hanya dilandasi dengan pertimbangan rasional, tapi juga emosional dan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Saya terbuka jika ada yang mau memberikan masukan.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber data dan Foto : Istockphoto

Categories: Lain-lain Tags:
  1. LR
    October 20th, 2015 at 23:33 | #1

    mlm pak,

    saya mau nnya, apakah jika msk asuransi unit link(investasi), up jiwa dan krtis perlu bsr ? dgn premi 25 jt/thn, umur 24 thn byr selma 5 thn…katanya kl kritis dan jiwa bsr mk nilai investasinya buruk..bnr kah ?up jiwa 300 jt, kritis 200 jt, diagnosa awal cair 50%..? hasil ilustrZi nilai invest 18% thn ke 6, jdi 126 jt..gmn mnrt bpk?dan kawan2 dsni..

  2. LR
    October 21st, 2015 at 00:17 | #2

    LR :
    mlm pak,
    saya mau nnya, apakah jika msk asuransi unit link(investasi), up jiwa dan krtis perlu bsr ? dgn premi 25 jt/thn, umur 24 thn byr selma 5 thn…katanya kl kritis dan jiwa bsr mk nilai investasinya buruk..bnr kah ?up jiwa 300 jt, kritis 200 jt, diagnosa awal cair 50%..? hasil ilustrZi nilai invest 18% thn ke 6, jdi 126 jt..gmn mnrt bpk?dan kawan2 dsni..

    tmbhn, asuransi yg saya msk All*a*z, dr semua artikel di atas yg saya baca, nmpknya, asuransi investasi yg sya msk dgn premi 25 jt/thn, byr 5 thn, proteksi up spt tg saya sampaikn dinatas, inesatasi spt pnjlsan diatas, yg sya hndak tnykn pa kah bijk utk menurunkn/mengecilkn up nya dr 300 jt mnjdi 125 jt?dan pkah kritis perlu sya trunkn jg atau ttap? ktnya up itu mnybabkn investasi nilai kita jlek, dan ada asuransi lain blg investasi asuransi A saya jlek, bnr kah?mksdnya kinerja investasi team perusahaan asuransinya.mhn info dan mskan..thx

  3. Rudiyanto
    October 23rd, 2015 at 12:15 | #3

    @LR
    Selamat Siang Pak LR,

    Mohon maaf saya tidak begitu mengerti semua yang kamu tanyakan. Mohon bisa disusun dengan baik dulu. Saya coba jawab yang bisa saya baca
    1. Beli asuransi ya UPnya sesuai kebutuhan. Berapa kebutuhannya bisa baca http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/07/0708005/Sehat.Keuangan.Dahulu.Investasi.Reksa.Dana.Kemudian.
    2. Mau masuk usia berapa dan bayar berapa tahun, kamu mesti jelas, mau beli asuransi atau investasi ? Bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    Kalau tanyanya saja irit, sudah untung orang mau jawab. Mungkin jawabnya juga irit juga.

  4. January 14th, 2016 at 05:16 | #4

    Tidak semua produk unit link lebih mahal daripada termlife, namun pun demikian, harus tetap dimengerti bahwa fungsi utama investasi pada unit link bukan untuk diambil dan dikonsumsi untuk kebutuhan lain, investasi unit link adalah untuk melindungi unsur proteksi dari unit link itu sendiri. Berikut adalah perhitungan yang menunjukkan unit link tidak mahal dan memiliki bentuk perlindungan atau proteksi yang lengkap
    http://proteksikeluargasyariah.com/2016/01/10/matematika-terapan-unit-link-dan-termlife-20-tahun-unit-link-allianz-lebih-murah/

  5. February 27th, 2016 at 23:57 | #5

    Hallo Pak Rudy, Artikel yg bagus & sangat membantu, tapi mohon Maaf, coba jika Bapak bisa bergabung dan bekerjasama di team kami http://in4-link.com/ayomenabung. Dan di Praktekan dan pasti berhasil, maka yang lainpun akan memakai hal yg sama dengan bpk. Maaf hanya share. Tks. Salam 4 jari TM In4link.

  6. Rudiyanto
    March 3rd, 2016 at 23:36 | #6

    @In4link Online
    Selamat malam,

    Terima kasih untuk penawaran bekerja di perusahaan asuransi.

    Tapi Mohon maaf sebagai pemegang izin Wakil Manajer Investasi secara perseorangan, salah satu kode etik yang harus jaga adalah tidak boleh bekerja di lebih dari 1 perusahaan lembaga keuangan yang di atur oleh OJK (Asuransi dan Manajer Investasi).

    Terima kasih

  7. fenny
    March 6th, 2016 at 01:41 | #7

    Saya ikut unit link asuransi generali sejak tahun 2013. Skrg umur suami 35. Saya 35. Anak 6 thn. Untuk suami 6 jt/thn. Saya 6 jt/thn. Anak 4 jt/thn. Jadi totalnya 16 jt/thn. Sejak awal ikut asuransi saya memang cuma mengharap proteksinya saja. Bukan utk investasi. Di awal ikut saya minta ke agennya untuk membuat ilustrasi yg hasil investasinya posisi “sedang” jangan sampai lapse. Ternyata di tahun ini, hasil investasinya jangankan sedang, rendah aja gak sampai. Jadi saya memutuskan utk menutup smua unit link itu. Punya suami yg bisa diambil cuma 2,7 jt. Punya saya 2,2 jt. Anak 0. Saya sempat nge klaim 1 kali dapat 5 jt. Pemikiran saya kan pasti lapse buat apa diteruskan. Kami sekeluarga sdh dpt proteksi kesehatan dari kantor suami. Pertimbangan saya buka unitlink itu karena di masa mendatang ingin berwiraswasta jd proteksi kesehatan harus punya sendiri. Sekarang saya ingin membuka asuransi jiwa murni utk saya dan suami, lalu utk proteksi kesehatan saya menggunakan deposito saja. Saat ini yg saya taruh di deposito 100 jt dengan bunga per bulan 10,25% dipotong pajak 20%.Pertanyaan saya apakah langkah yg saya ambil sdh benar..? Thx utk jawabannya.

    • Rudiyanto
      March 6th, 2016 at 14:29 | #8

      Selamat Siang Ibu Fenny,

      Terima kasih atas sharing pengalamannya yg berharga. Tanggapan saya :
      1. Terkait hasil pengembangan yg sangat kecil dimana mungkin anda sudah menginvestasikan 12-18 juta per orang utk anda dan suami anda dan yg diperoleh hanya sekitar 2 jutaan per orang menurut saya bukan di hasil pengembangan melainkan mungkin anda belum terlalu mengerti dgn cara perhitungan biaya dalam unit link. Utk referensi hasi perhitungan anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

      2. Mengenai rencana anda utk berwirausaha sehingga akan mengganti asuransi kesehatan dgn deposito memang tidak bisa dibilang salah atau benar. Kalau menurut saya, begitu sejumlah orang punya harta / aset yg bisa cover 10-15 tahun pengeluaran keluarga dan biaya pendidikan anak sampai kuliah, pada dasarnya sudah tidak butuh asuransi jiwa lagi.

      Utk asuransi kesehatan, sebenarnya kalau mau agak bersabar bisa ikut BPJS Kesehatan. Tapi kalau keputusannya di deposito, menurut saya ok tapi melihat biaya kesehatan di kota besar menurut saya setidaknya butuh Rp 200-250 juta. Utk biaya perawatan penyakit yg tidak berat tapi butuh dirawat seperti demam berdarah, diare, dan tipes, angka di atas memang lebih dari cukup. Tapi ingat bagaimana dgn potensi yg hilang krn anda / suami anda menjadi produktif krn sakit?

      Rp 100 juta dgn bunga 10.25% dipotong pajak mungkin sekitar 8%an atau Rp 8 juta per tahun / Rp 770.000 per bulan. Rp 100 juta -nya mungkin cukup utk biaya rawat inap dan dokter, tapi tidak cukup utk menggantikan produktifitas yg hilang.

      Dgn Rp 200-250 juta sekalipun mungkin bunga tetap tidak cukup tapi paling tidak agak mengurangi beban. Utk penyakit yg berat seperti Jantung, Ginjal, dan penyakit kritis lainnya mungkin angka ini baru pas-pasan atau bahkan kurang.

      Namun jika angka ini agak memberatkan, saran saya anda tetap punya asuransi kesehatan komersial utk suami dan anda, atau minimal BPJS Kesehatan. Cara lainnya adalah dgn menjaga kesehatan. Metodenya juga tidak susah tinggal harus punya kemauan yg kuat utk: cukup tidur, makan sehat, pikiran positif, dan rajin beribadah.

      3. Boleh tahu anda dapat 10.25% gross utk deposito Rp 100 juta di bank mana? Sebab angka itu hampir tidak mungkin mengingat kondisi suku bunga yg menurun dan nilai dana anda relatif tidak terlalu besar utk mendapatkan special rate dari bank.

      Semoga bermanfaat

  8. Fenny
    March 7th, 2016 at 08:02 | #9

    Saya dpt 10,25% gross di salah satu BPR di surabaya. Kalo tidak salah koperasi karyawan samator. Saya taruh di situ sudah skitar 2 thn dan aman2 saja. Oya saya mau ikut APRDI yg kursus reksadana. Apa itu di ada di sby atau hanya di jkt aja.? Thx berat utk jwbannya Pak Rudi

  9. Rudiyanto
    March 7th, 2016 at 08:56 | #10

    @Fenny
    Pagi Bu Fenny,

    Berdasarkan pengetahuan saya, BPR memang bisa memberikan bunga yang lebih tinggi, namun hal ini berarti secara risiko juga lebih tinggi. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa BPR yang anda percayakan aman atau tidak, namun secara umum BPR lebih berisiko dari bank untuk itu, jaminan LPS sangat penting.

    Sebagai informasi, setiap tahun selalu ada BPR yang dilikuidasi. Anda bisa lihat daftarnya di http://lps.go.id/bank-yang-dilikuidasi

    Saat ini suku bunga penjaminan LPS untuk BPR adalah 10%. Maka saran saya, untuk meminimalkan risiko tersebut yang lebih aman adalah suku bunga sesuai LPS. Mungkin pas anda mendepositokan uang, BI Rate belum turun sehingga masih dapat 10.25%, tapi untuk saat ini adalah 10%. Bisa di cek di http://lps.go.id/home#

    Untuk kelas reksa dana APRDI, memang saat ini hanya ada di Jakarta. Jika selanjutnya ada pengembangan ke luar kota, akan kami informasikan. Informasi juga bisa di cek di http://investoready-aprdi.org/

    Terima kasih

  10. March 23rd, 2016 at 18:47 | #11

    Numpang share pengalaman saya dengan asuransi jiwa dengan 3 polis :
    https://belajarasuransiunitlink.wordpress.com/

    Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran bagi yang lain

  11. Ayu Sarie
    June 1st, 2016 at 12:46 | #12

    siang pa rudi

    saya sangat antusias dengan diskusi yang ada di blog ini, kalau boleh jujur ini sangat membuka wawasan saya tentang perencanaan keungan saya. Pak rudi saya mohon pencerahan atas kondisi saya ini..sebab saya masih bingung untuk mengambil keputusan terutama yang terkait dengan pemilihan asuransi yang akan saya beli. kebutuhan utama saya adalah proteksi untuk kesehatan saya, suami dan anak..namun saya juga ingin uang yang saya setorkan tidak hilang begitu saja..memang asuransi murni kesehatan tampaknya sekilas lebih murah preminya jika di breakdown di banding unit link..tapi kan resikonya uang akan hilang..kalau unit link kan tidak..namun jika dilihat dari beberapa kasus diatas nampaknya nilai investasi di unit link pun tidak maksimal..
    saya dan keluarga di kantor sudah di cover oleh BPJS kesehatan dengan jatah kamar kelas 1..jadi intinya kl dalam situasi yang mendesak BPJS masih bisa menjadi “senjata ” terakhir saya.
    tapi kalo pake BPJS saya tampaknya agak “kurang sabar” dengan berbagai prosesnya, jadinya saya sempat ingin menggunakan asuransi tambahan.
    kemudian saat ini saya sudah mengcover anak2 saya dengan asuransi pendidikan dan unit link.
    sedangkan saya dan suami hanya BPJS saja..apakah kondisi ini menurut bapak cukup tepat ?
    sebagai info saja asuransi pendidikan anak saya dari AXA mandiri..sudah masuk tahun ke 3 dgn premi 500rb/bln..benefit dr asuransi tersebut hanya mendapat biaya pengganti kamar rawat inap (250/hari), ICU ( 1jtan/hari ), Ambulan dan santunan jika meninggal..dan anak saya itu pernah dirawat dan menghabiskan dana sekitar 20 jt..namun yang bisa diclaim hanya 1.250 jt saja ( hanya biaya kamar rawat inapnya saja ) yg lain tdk diclaim krn mmg tidak ada..dengan kejadian itu saya berfikir sepertinya ini tidak sebanding makanya untuk anak yg kedua saya membeli produk unit link syariah dgn premi yang sama..tapi setelah liat beberap
    kasus di atas kok nilai investasinya kecil meski sudah bertahun2 bayar..
    sekali lagi mohon pencerahannya pa rudi..terima kasih banyak seblumnya…

  12. Rudiyanto
    June 2nd, 2016 at 10:15 | #13

    @Ayu Sarie
    Selamat Siang Ibu Ayu,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Kalau anda menginginkan layanan asuransi kesehatan yang premium dan tidak pakai tunggu, memang idealnya menggunakan asuransi komersial.

    2. Yang perlu diluruskan adalah cara anda memandang asuransi unit link. Anda perlu sadar bahwa beli asuransi unit link itu sama dengan beli asuransi kendaraan atau beli asuransi jiwa waktu mau KPR.

    Kalau beli asuransi kendaraan, ada tabrakan, kecelakaan dan sebagainya diganti. Bagaimana kalau tidak ada? Ya hangus. Sama juga ketika kredit KPR beli rumah. Misalkan ditengah2 cicilan yang bersangkutan meninggal, bagaimana dengan hutang KPRnya? Ya lunas. Tapi bagaimana kalau tidak meninggal? Premi asuransi tersebut ya hangus sama seperti asuransi kendaraan.

    Bagaimana dengan unit link? Sama saja, bedanya selain premi asuransi anda juga membayarkan sebagian uang untuk investasi. Sebenarnya itu bukan investasi, tapi tabungan yang dipakai untuk membayar biaya asuransi, biaya administrasi dan komisi agen anda. Jadi anda tidak bisa berharap bahwa hasil investasinya akan maksimal karena banyak sekali potongannya.

    Jadi mindset yang benar ketika beli unit link adalah siap bahwa preminya hangus dan merasa tenang karena potensi risiko sudah dicover. Kalau berharap uangnya cukup untuk biaya pendidikan, mohon maaf, mungkin anda akan sangat kecewa nantinya.

    3. Kalau mindsetnya udah benar, maka anda akan lebih bisa memutuskan apakah mau beli asuransi komersial atau tidak. Jika anda membaca ulasan di atas, menurut saya yang penting untuk dimiliki adalah asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan bisa digantikan dengan BPJS Kesehatan, tinggal yang bersangkutan nyaman atau tidak. Asuransi jiwa sebenarnya juga bisa digantikan sebagian dengan BPJS Ketenagakerjaan. Untuk detailnya anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/05/20/antisipasi-risiko-kematian-asuransi-komersial-atau-bpjs-ketenagakerjaan/

    4. Untuk asuransi pendidikan, sekali lagi jika anda berharap bisa untung dari asuransi tersebut, rasanya anda akan kecewa. Detail perhitungan asuransi di tiap perusahaan mungkin tidak sama, tapi garis besarnya sudah saya bahas di artikel http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    Semoga bermanfaat

  13. December 31st, 2016 at 21:42 | #14

    sebenarnya kepekiran juga untuk membeli asuransi maupun JHT, namun gimana penghasilan setiap bulannya pas untuk biaya operasional kerja, ada sisa juga gak cukup untuk bayar premi

  14. July 26th, 2017 at 12:30 | #15

    Terimakasih banyak atas informasinya pak Rudi sangat bagus untuk memberi kesadaran masyarakat Indonesia pentingnya memiliki Perlindungan jiwa dan investasi secara bersamaan

    Salam, Cerdas Berasuransi
    Achmad
    http://www.myin4link.com
    http://www.in4-link.web.id

Comment pages
1 2 3 4 3633


%d bloggers like this: