Home > Lain-lain, Rekomendasi Film > Mengenal Profesi Pasar Modal

Mengenal Profesi Pasar Modal

Apa kabar pembaca? senang bertemu dengan anda lagi setelah libur lebaran yang cukup panjang ini. Pada kesempatan kali ini, saya ingin sharing sedikit tentang profesi yang ada di pasar modal. Kebetulan ada yang menanyakan via twitter di @rudiyanto_zh. Dalam liburan panjang ini, saya juga bertemu dan ngobrol dengan seorang mahasiswi S-2 di Inggris yang cita-citanya ingin berkarir di pasar modal Indonesia (ngobrol di Indonesia tentunya).

Jadi…. ternyata di sekeliling kita ternyata ada cukup banyak orang yang tertarik untuk berkarir di bidang pasar modal. Nah sebetulnya apa saja profesi-profesi yang terdapat di pasar modal ini dan bagaimana untuk bisa masuk ke dunia ini? Apakah gambarannya seperti film2 di Hollywood? Semoga sharing saya kali ini bisa bermanfaat bagi teman2 yang ingin berkarir di pasar modal.

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa perusahaan yang ada di pasar modal, sebetulnya sama dengan perusahaan yang ada pada umumnya.Fungsi pada perusahaan antara lain Pemasaran, Produksi, Keuangan, Sumber Daya Manusia dan Investasi. Prinsipnya adalah adalah untuk bisa bekerja di perusahaan yang berbasis pasar modal anda membutuhkan pengetahuan tentang pasar modal. Sama dengan jika anda bekerja di bidang teknologi maka anda sedikit banyak harus mengerti tentang IT meskipun cuma bekerja di divisi keuangannya.

Selanjutnya adalah mengetahui bahwa perusahaan di pasar modal juga terdiri dari beberapa jenis bidang usaha yang fokusnya yang berlainan. Bidang usaha tersebut antara lain:

1. Perusahaan Sekuritas

Sekuritas adalah tempat dimana anda bisa bertransaksi jual beli saham dan obligasi. Namun mayoritas masih melayani jasa transaksi saham. Masih sedikit yang melayani jasa transaksi obligasi. Pada perusahaan pasar modal yang bentuknya sekuritas, ada beberapa profesi bisa anda tekuni antara lain

Broker adalah orang yang tugasnya membantu anda melakukan eksekusi transaksi jual beli anda. Dengan semakin majunya teknologi, peranan broker ini mulai digantikan dengan online trading. Namun kebutuhan untuk broker tetap ada mengingat sebagian orang masih butuh “konsultasi”, dan broker adalah orang yang paling tepat untuk berkonsultasi karena kerjaannya memantau pasar dan informasi secara harian. Selain itu, dia juga bisa membantu anda melakukan eksekusi transaksi. Bagus tidaknya broker terletak pada rekomendasi yang diberikan, jika sering tepat, maka tidak jarang nasabah mempercayakan pengelolaan dana padanya.

Broker adalah pekerjaan yang berbasis komisi, semakin sering anda melakukan transaksi semakin besar penghasilan yang dia dapat. Beberapa kenalan saya yang “sukses” di bidang ini bisa mendapat komisi hingga 40 – 50 juta per bulan.  Tapi jangan membayangkan ketika anda menjadi broker, anda hanya duduk diam kemudian menangani uang miliaran, tidak jarang pekerjaan broker juga merangkap marketing dimana mereka harus mencari investor yang mau mempercayakan uangnya. Untuk menjadi broker, anda harus lulus ujian Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE). Nilai tambahnya adalah memiliki gelar seperti CFA (Chartered Financial Analyst).

Riset Analis adalah orang yang tugasnya melakukan analisa terhadap saham, baik fundamental ataupun teknikal. Untuk perusahaan sekuritas, divisi riset analis ini adalah “nyawanya”. Sebab nilai jual dari sebuah sekuritas adalah “Rekomendasi” dan “Fasilitas”. Jika hasil rekomendasinya selalu menguntungkan dan fasilitas ketika bertransaksi sangat baik maka nasabah sangat nyaman di perusahaan tersebut. Hanya saja, seiring dengan kemajuan zaman, fungsi riset ini juga bisa di “outsource-kan”. Ada juga perusahaan sekuritas dengan tim riset seadanya, namun rajin merangkum riset dari berbagai sumber. Apalagi semua riset sekarang bentuknya softcopy, tinggal dibagi-bagikan saja.

Karier riset analis akan lebih berkembang jika bekerja pada sekuritas yang memberikan rekomendasi bagi pemegang modal besar, biasanya sekuritas asing. Terlepas dari benar tidaknya analisa tersebut karena hasil analisa saham di bursa itu selalu relatif, namun karena menggerakkan uang yang sangat besar, bisa jadi harga saham juga bergerak mengikuti rekomendasi mereka. Hasil riset di perusahaan ini biasanya lebih eksklusif dan tidak untuk semua orang. Peranan riset analis di perusahaan sekuritas besar biasanya juga merangkap account officer yang menangani klien besar.

Jadi jangan bayangkan kalau riset analis itu pekerjaan berkutat dengan buku teori keuangan dan investasi, laporan keuangan dan model excel yang rumit saja. Sesekali anda harus bertemu klien, bicara di koran, televisi, seminar atau acara market outlook yang diselenggarakan perusahaan. Sesuai dengan perusahaannya, pekerjaan analis memiliki income yang amat bervariasi, bisa dari jutaan hingga puluhan juta. Beberapa nilai tambah penting dari karier ini antara lain lulusan S-2 universitas top dalam dan luar negeri kalau bisa cum laude, kemampuan excel modeling, pengalaman pasar modal yang memadai, izin Manajer Investasi, hingga gelar CFA.

2. Investment Banking dan Underwriter

Sebetulnya investment banking / underwriter masih menjadi salah satu bagian dari bidang usaha perusahaan sekuritas, namun tidak semua perusahaan sekuritas fokus pada usaha tersebut. Bidang usaha yang sering disingkat IB ini mencakup jasa penasehat hingga membuat IPO (Initial Public Offering) saham dan obligasi, dan hal berkaitan dengan Aksi Korporasi perusahaan seperti Merger dan Akuisisi. Investment Banking sebetulnya tidak selalu bagian dari perusahaan sekuritas, tapi bisa juga bagian dari suatu perbankan. Tapi jika di bank, jasanya lebih luas mencakup pinjaman dan kredit.

Karier di bidang ini, menurut saya merupakan bidang yang paling membutuhkan kemampuan secara komplit karena kamu akan mulai dari bagaimana menganalisa suatu perusahaan dan menunjukkan bagaimana keuntungan dari suatu aksi korporasi seperti IPO, Merger dan Akuisisi kepada orang yang sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan tersebut, kemudian membujuk pemegang saham perusahaan untuk membagi kepemilikannya dengan orang lain (IPO berarti sebagian saham dijual dan orang lain akan ikut menjadi pemegang saham juga), dan  ikut dalam proses negosiasi dan segala proses administrasinya.

Pada prakteknya, proses negosiasi dilakukan oleh Direktur, baru proses administrasinya dibantu di belakang, akan tetapi ada juga kemungkinan hal ini juga dilakukan semuanya oleh seorang investment banker. Jadi selain pengetahuan dan pemahaman pasar modal, orang ini juga harus menjadi negosiator ulung.

Terus terang saya tidak tahu berapa besarnya gaji orang yang bekerja di bidang ini, akan tetapi untuk menjadi seorang underwriter anda harus lulus ujian Wakil Penjamin Emisi Efek. Salah satu film yang sangat menjelaskan seperti apa pekerjaan seorang investment banking adalah film ini. Dear Enemy (2011) – (Beli yang ORI agar terjemahannya bagus)

Film yang disutradarai dan dimainkan oleh Xu Jinglei (Aktris) ini adalah film terbaik tentang keuangan yang pernah saya lihat bahkan jika dibandingkan dengan Film keuangan Hollywood sekalipun. Film ini menceritakan kisah cinta komedi yang dilatarbelakangi tentang bagaimana seorang investment banker akan bertindak untuk mendapatkan deal merger suatu perusahaan. Alur ceritanya terasa begitu nyata sampai saya berpikir ini kisah nyata yang difilmkan. Bagaimana aksi spionase bisnis, negosiasi ke pemegang saham, taktik public relation digunakan dalam suatu deal bisnis.

Dalam film tersebut, ada dialog menarik yang mungkin bisa digunakan sebagai acuan berapa sebenarnya gaji seorang investment banker di Hong Kong (entah benar atau tidak) – saat ditanya bosnya apakah benar dia sudah tidak tidur selama 48 jam karena proyek merger, salah satu aktor berkata “Kerja baru beberapa tahun gaji jutaan dollar HKD (1 HKD = Rp 1350), kalau dinas selalu naik business class dan tinggal di hotel bintang lima, jadi orang seperti kami memang pantas tidak istirahat”. Film ini juga masih sering diputar di Celestial Movies jika anda berlangganan TV Kabel.

3. Perusahaan Manajer Investasi

Ketika masih mahasiswa, terus terang saya tidak bisa membedakan antara Broker dengan Fund Manager. Sebab setelah lihat Film Hollywood, bayangan saya akan pekerjaan pasar modal adalah teriak2 di tengah hall atau di kantor untuk jual beli saham. Baru setelah kerja saya tahu bedanya apa. Fund Manager atau Manajer Investasi adalah perusahaan yang fokusnya mengelola dana masyarakat. Jika broker mendapat keuntungan dari komisi transaksi, maka Manajer Investasi mendapatkan keuntungan dari management fee.

Besarannya berupa % dari dana yang dikelola antara 1% – 3% per tahun. Jadi fokus daripada perusahaan ini adalah membuat anda seuntung mungkin dan kalau bisa menempatkan dana selama mungkin. Beberapa pekerjaan utama terkait bidang ini antara lain:

Riset adalah orang yang melakukan riset saham sebagai masukan bagi Manajer Investasi. Perbedaan antara riset di Sekuritas dan Manajer Investasi adalah penggunanya. Riset di Sekuritas digunakan oleh Nasabah dalam jumlah besar sementara di Manajer Investasi hanya terbatas secara internal. Riset yang dihasilkan juga tidak untuk konsumsi publik karena merupakan rahasia strategi investasi masing-masing perusahaan. Ada juga perusahaan yang menggunakan riset dari eksternal (Sekuritas) sehingga anggota tim riset sedikit dan terdiri dari pengelola dana saja.

Penghasilan riset ini sangat beragam tergantung perusahaan dan kualifikasinya, namun untuk riset yang perusahaan ini, ada jalur karir dimana riset yang bekerja dengan baik dapat diangkat menjadi Manajer Investasi yang mengelola reksa dana. Semakin tinggi kualifikasi pendidikan dan profesional anda, maka semakin bagus.

Pengelola Dana (Manajer Investasi – Perorangan) adalah orang yang melakukan pembentukan portofolio investasi dengan melakukan jual beli saham dan obligasi. Secara dasar mirip dengan broker, bedanya broker bekerja berdasarkan perintah nasabah sementara Manajer Investasi melakukannya berdasarkan perintah dia sendiri. Biasanya pekerjaan ini merupakan impian bagi banyak orang karena anggapan bahwa pekerjaan ini tinggal duduk di belakang meja dan menggerakan uang miliar hingga triliun dengan layar komputer. Pekerjaannya juga sesuai jam bursa dan sehingga bisa libur di hari Sabtu.

Well memang tidak salah, tapi pada prakteknya banyak Manajer Investasi yang juga turun ke lapangan untuk jualan ke nasabah. Sebab untuk bisa punya dana miliar hingga triliunan tersebut tentu harus ada investor yang menitipkan dananya. Tantangannya adalah membesarkan dana kelolaan karena jika terlalu kecil pengelolaannya tidak optimal dan sulit untuk menarik investor lain untuk ikut bergabung. Jika kinerjanya jelek, dana bisa ditarik semua. Untuk itu peranan marketing sangat penting.

Untuk menjadi seorang pengelola, yang bersangkutan harus memiliki izin Wakil Manajer Investasi. Gelar CFA bisa menjadi nilai plus. Untuk besaran gaji terus terang saya tidak tahu, saya rasa sangat bervariasi di setiap perusahaan. Ada yang menggunakan sistem gaji dan bonus, ada juga yang menggunakan sistem persentase tertentu dari dana yang dikelola.

Marketing / Pemasar adalah orang yang memasarkan produk reksa dana. Sebab jika Manajer Investasi dan Riset terlalu sering ke lapangan, nanti pekerjaan mereka yang sebenarnya bisa terganggu. Untuk itu peranan marketing reksa dana sangat dibutuhkan. Setelah mendapat pengarahan tentang produk dan cara kerja investasi, mereka menyampaikan hal tersebut kepada calon nasabah untuk mendapatkan kepercayaan. Sama seperti industri lainnya, peranan marketing sangat dibutuhkan di industri ini.

Pendapatan seorang pemasar reksa dana amat bervariasi tergantung pengalaman, kemampuan menjual dan portofolio nasabah yang dimilikinya. Di tempat saya bekerja saat ini, gaji seorang marketing reksa dana bisa berkisar antara jutaan hingga puluhan juta ditambah dengan komisi penjualan reksa dana dan tunjangan lainnya. Ada juga perusahaan lain yang menetapkan seorang marketing bisa mendapatkan persentase tertentu dari dana kelolaannya per tahun. Untuk menjadi seorang pemasar, izin yang harus dibutuhkan adalah Wakil Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD), nilai tambah bisa diperoleh dari kualifikasi seperti gelar Perencana Keuangan (CFP, RFP, CHFC), dan kemampuan melakukan public speaking.

Nah, bagaimana para pembaca, apakah sudah tertarik untuk berkarir di bidang pasar modal ini? Jika ya, maka langkah pertama yang harus anda lakukan adalah berikan yang terbaik saat kuliah. Memang nilai tidak segalanya, tapi bagi para pemberi kerja, suka tidak suka, lulusan dengan IPK yang bagus akan didahulukan untuk proses interview. Selanjutnya adalah tunjukkan passion anda yang kuat dengan menulis sendiri surat lamaran kerja anda mengapa perusahaan harus mempekerjakan kamu.

Untuk menambah kemungkinan mendapatkan panggilan, anda juga bisa mendapatkan izin2 yang terkait seperti WMI, WPPE (Underwriter) dan WPEE (Broker) serta WAPERD. Untuk mendapatkan izin tersebut anda bisa langung mengikuti ujian. Jika merasa kurang yakin dan mau belajar dulu, ada beberapa alternatif seperti Bina Insan, Infovesta, dan TICMI (The Indonesian Capital Market Insitute – anda bisa kursus dan ujian sekaligus).

Salah satu referensi artikel ini adalah blog strategimanajemen.net yang artikelnya berjudul 5 Profesi Mahal Yang Layak Ditekuni Sebagai Pilihan Karir. Penulis di blog tersebut juga merupakan salah satu sumber insprasi saya ketika mau mulai menulis blog pertama kali. Buat anda yang mencari blog manajemen yang bagus silakan ikuti terus blog ini.

Demikian, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Data dan Foto: Kontan, istockphoto, Wikipedia

Categories: Lain-lain, Rekomendasi Film Tags:
  1. Harry Lubis
    August 19th, 2013 at 18:41 | #1

    Selamat Sore Pak
    Semoga Bapak dan Keluarga berada dalam keadaan sehat dan selalu dalam Lindungan Yang Maha Kuasa

    Pertama-tama Saya mengucapkan terima kasih atas respon positif dengan adanya sharing melalui tulisan Bapak terkait profesi di dunia pasar modal karena jujur sangat sulit untuk mendapatkan informasi spesifik dan reliable mengenai ruang lingkup, tugas serta tantangan yang dihadapi mengacu pada kemauan seseorang yang ingin berkarir di dunia yang terkenal dengan volatilitas tinggi apalagi di Indonesia.

    Ada beberapa hal yang mau Saya tanyakan terkait profesi di dunia pasar modal yang telah Bapak jelaskan, kiranya Bapak bersedia memberi arahan :) :

    1. Apakah berkarir di dunia pasar modal adalah suatu keputusan yang tepat sebagai bentuk “investasi karir cemerlang” mengingat belum banyaknya SDM yang begitu melek pasar modal?

    2. Kemana sebaiknya seseorang yang ingin memulai karir di industri pasar modal? Apakah Sekuritas, Asset Management, Perusahaan IB ataukah Perusahaan yang sudah IPO?

    3. Apabila Kita ingin berkarir di dunia asset management untuk mencapai level seorang “Pengelola” dari yang tadinya Junior Portfolio Manager kira-kira butuh waktu berapa lama ya Pak?

    4. Selain profesi-profesi yang Bapak jelaskan di atas apakah berkarir di SRO(Self-Regulatory Organisation) seperti BEI, KPEI, KSEI hingga OJK adalah suatu opsi yang baik untuk berkarir di dunia pasar modal? Karena pada realitanya cukup banyak yang “swap” profesi dari yang tadinya pekerja di salah satu kantor AB menjadi pekerja di kantor regulator, apakah karena beban kerja di SRO lebih ringan dan gajinya lebih tinggi Pak? hhe :))

    5. Profesi di dunia pasar modal acapkali tidak lepas dari kesan eksklusifitas, plot “muda kaya raya”, dan gaji selangit, apakah benar seperti itu Pak?

    6. Saya cukup menyesalkan sikap pemerintah yang “lemah” memberikan edukasi ke masyarakat untuk mengubah pola “bank-minded” menjadi “investing-minded” katakanlah terkait Reksadana yang dikelola oleh Perusahaan Asset Management, kalaupun ada mungkin informasinya hanya terserap di Ibukota dan kota-kota besar di sepanjang Pulau Jawa sehingga hal ini di satu sisi semakin “memperlebar” gap tingkat kemakmuran masyarakat Indonesia dan di sisi yang lain mempersempit ruang bagi industri pasar modal untuk melakukan ekspansi ke kota-kota lain yang berujung pada minimnya kesempatan masyarakat daerah untuk berkarir di dunia pasar modal, jelas negeri ini belum Merdeka secara utuh hhe :).
    Menurut Bapak apakah seseorang harus hijrah ke Ibukota untuk bisa “benar-benar” berkecimpung di industri ini, karena Saya pikir perwakilan sekuritas di tiap daerah belumlah cukup :)? Padahal potensi masyarakat daerah sangatlah besar untuk melakukan investasi apabila diedukasi dengan santun dan tidak menyesatkan

    7. Terakhir Saya mau tanya dulu Bapak mengawali karir di dunia pasar modal pada profesi apa Pak? Maaf kalau pertanyaannya bersifat pribadi karena Saya sangat tertarik dengan insan-insan pejuang di dunia pasar modal hhe

    Sekian Pertanyaan dari Saya Pak kalau ada salah kata Saya mohon dimaafkan
    Sukses Selalu untuk Bapak
    Best Regards!!!

  2. August 27th, 2013 at 10:23 | #2

    Thanks Pak Rudi, atas ulasan dan link-nya :)

    Thanks juga atas rekomendasinya :)

    Salam sukses mulia !!

  3. Rudiyanto
    August 29th, 2013 at 11:21 | #3

    @Harry Lubis
    Salam Pak Harry Lubis,

    Sebelumnya terima kasih untuk komentar dan pertanyaannya. Saya akan mencoba menjawab:
    1. Tergantung hobi dan passion pak, beberapa teman saya yang kerjanya hanya jual baju di tanah abang dan cetak cd yang kantornya di kota punya penghasilan yang jauh lebih besar. Yang sudah kerja puluhan tahun di pasar modal dan mohon maaf, masih pas2an juga ada. Jadi jika ada passion dimanapun bisa sukses. Seperti pak Yodhia, hanya dengan mengisi blog secara rutin dan menjadi konsultan manajemen saya yakin juga sangat sukses.

    2. Tergantung diterima dimana pak. Memang selalu dikeluhkan SDM kurang, tapi untuk beberapa posisi seperti analis, umumnya perusahaan sangat pemilih. Untuk sales, memang lebih mudah, tapi untuk menjadi sales di perusahaan asing biasanya juga lebih sulit karena mereka hanya mencari yang best of the best atau sudah pengalaman di perusahaan lain.

    3. Oh itu, saya berhubung tidak pernah menjadi pengelola jadi saya tidak tahu. Kalau saya perhatikan, sekarang para Manajer Investasi umumnya masih muda2. Kalau memang hebat, mungkin 27 – 28an sudah bisa naik kelas jadi pengelola.

    4. Kalau di OJK, saya sempat lihat pengumuman di koran atau portal berita dulu, memang gajinya termasuk tinggi. Itupun posisi anda adalah sebagai pengawas, ibaratnya seperti analis kredit di bank. Orang2 memohon kepada anda untuk diberikan pinjaman, kalau kerja di OJK, meskipun berhadapan dengan direksi dari perusahaan besar sekalipun, namun karena statusnya sebagai pengawas, mereka akan tetap hormat kepada anda. Kalau di SRO, saya lihat juga banyak yang cukup ok, karena mereka groupnya besar dan banyak kamu bisa mencoba pengalaman di berbagai divisi yang berbeda. Mengenai gaji dan karir terus terang saya kurang tahu, tapi kalau kerja di SRO, sudah jelas menang di “Pengaruh”. Perusahaan yang profitable dan karyawannya bergaji besar, belum tentu lebih berpengaruh dibandingkan SRO dan pemerintahan tadi.

    5. Semuanya tergantung kinerja dan prestasi pak. Wong jual kebab saja bisa mendunia. Yang jadi direktur di usia muda di luar pasar modal juga banyak. Jadi sekali lagi muda dan kaya raya tidak ditentukan oleh pekerjaan tapi passion.

    6. Hal itu disadari betul oleh pemerintah dan menurut saya mereka sudah berusaha keras. Sebagai bukti, baru kemarin saya bersama Otoritas Jasa Keuangan mengadakan seminar literasi keuangan di Universitas Riau dan SKA Mall Pekan Baru. Kita bertemu dengan perwakilan ibu2 arisan dan PKK yang benar2 tidak mengerti tentang investasi dan sebagian dari mereka tertipu investasi bodong.

    Terkait harus hijrah ke Ibu Kota atau tidak, itu tergantung seberapa cepat kamu mau naik. Sebagian besar uang dan orang kaya ada di Jakarta. Jadi kesempatan banyak tapi saingan juga banyak. Dengan iklim kompetisi yang ketat, biasanya orang juga maju dengan cepat. Tapi terus terang, waktu saya jalan2 ke Batam, kota asal saya, saya menemui beberapa teman SMA dulu yang sekarang menjadi pengusaha. Menurut saya sudah, pengetahuan mereka juga sudah selevel dengan kelas pengusaha dan direksi di Jakarta. Hal ini dibantu dengan internet dan memang jalan hidup pengusaha yang keras.

    Kemudian di Pekan Baru, saya juga ngobrol dengan kepala cabang suatu perusahaan asuransi dan sekuritas, menurut informasi mereka di sana persaingan sangat tidak ketat dan motivasi orang untuk maju juga kurang. Jadi kalau kamu rajin sedikit saja, kamu sudah jadi nomor satu di kota tersebut. Asalkan tidak terlena saja.

    Yang suksespun, sama seperti sebagian perusahaan di Jakarta, orangnya datang dari perantauan, atau orang daerah yang sudah ditempa di Jakarta kemudian kembali ke kota tersebut.

    7. Dulu saya memulai sebagai karyawan magang di http://www.infovesta.com. Kerjanya serabutan dari analis sampai marketing serta sedikit programming.

    Demikian pak, semoga bermanfaat.

  4. Harry Lubis
    August 30th, 2013 at 12:34 | #4

    Saya ucapkan terima kasih Pak atas jawabannya, sangat bermanfaat
    Rezeki tiap orang memang beda dan unik :)
    Sukses Selalu untuk Bapak!

  5. hani
    December 15th, 2013 at 20:35 | #5

    Pak Rudi,
    Saya tertarik berkarir di pasar modal, sampai saya mencoba ujian wppe pada bulan maret 2013 dan mendapat sertifikatnya dibulan april. yang saya ingin tanyakan, dibidang apa yang saya harus memulai karir dipasar modal? sedangkan saya saat ini berkarir dibidang lain.
    Mohon tipsnya untuk memulai pindah haluan ke pasar modal, karena saya masih bingung harus memulainya dari mana.

    Thanks and Best Regards,
    Hani

  6. Rudiyanto
    December 18th, 2013 at 02:41 | #6

    @hani
    Salam Hani,

    Tergantung anda ingin menjadi apa. Kalau menjadi manajer investasi, maka sebaiknya mulai dari analis. Tapi jika ingin menjadi pemasaran maka bisa dimulai dari menjadi sales. Memang banyak orang tidak mau menjadi sales, tapi sepengetahuan saya, banyak direktur di perusahaan asset management ataupun sekuritas dimulai dari posisi tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  7. Henry
    January 27th, 2014 at 21:43 | #7

    Blog yang sangat menarik Pak Rudi mengenai profesi di pasar modal.
    Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan profesi di bidang ini.

    Setelah malang melintang bekerja dengan profesi yang berbeda-beda, akhirnya saya menemukan passion saya di bidang ini dan saat ini saya sudah mengelola dana di pasar modal dari dana sendiri, yang ingin saya tanyakan:

    1. Apa sebutan profesi yang sedang saya lakukan saat ini melihat saya hanya mengelola dana sendiri meskipun dalam jumlah yang dibilang tidak sedikit, karena saya tidak ada di bawah sebuah instansi dan sering ditanyakan teman2, kerja apa & dimana sekarang?

    2. Ada keinginan saya untuk mencoba terjun meniti karir di bidang ini tetapi saya bingung harus memulai darimana melihat background pendidikan saya yang berbeda & tidak sampai ke jenjang yg lebih tinggi.

    3. Apakah bisa dengan kondisi saya yang seperti sekarang ini mengambil sertifikasi seperti WPPE, WPEE, WMI bahkan CSA/CFA melihat juga usia yang hampir mendekati kepala 3, hehe..

    mungkin itu pertanyaan yang sedikit membuat saya galau selama ini
    Salam Sukses!!!

  8. Rudiyanto
    January 28th, 2014 at 01:09 | #8

    @Henry
    Salam Henry,

    Semoga sukses dengan petualangan anda di pasar modal. Terkait pertanyaan anda:
    1. Kalau saya jadi anda, saya akan menjawab Investor Pasar Modal, kerjanya dimana saja sepanjang ada koneksi internet. Lebih keren lagi, kalau kamu punya saham bank, perkebunan, pertambangan dan infrastruktur, kamu bisa bilang konglongmerat yang punya usaha menggurita dimana2. Kalau konglongmerat, kan kamu juga tidak tahu dia kerja atau enggak. Kalau punya cuman saham perkebunan, bilang aja pemilik kebun. Kalau lagi kesal, saya jawab kepo amat.. he he.

    2. Mau jadi apa dulu kan mesti jelas. Kalau tidak jelas, ya tidak tahu harus mulai darimana. Bukan masalah background, pendidikan dll. Tapi Tujuan, Keinginan dan Fokus.

    3. Saya pikir usia anda sudah kepala 9 jadi sudah tidak kuat belajar lagi karena untuk melihat saja sudah susah. Selama masih bisa melihat, membaca dan mau belajar semua itu mungkin. Banyak juga kok orang yang baru mengambil S-1 dan S-2 di usia kamu sekarang atau lebih tua. Jadi saya rasa tidak ada masalah.

    Lagipula zaman sekarang, umur sudah bukan jadi patokan. Anak muda bisa jadi pengusaha atau sosok yang sukses atau bisa juga jadi tukang bawa tas selama sisa hidupnya. Tinggal masalah Tujuan yang mau dicapai apa, seberapa kuat keinginan untuk mencapai tujuan tersebut dan apakah dia Fokus dalam pelaksanaannya, sebab sukses itu butuh proses.

    Orang yang usianya 40-50an kalau sepanjang hidupnya bekerja dengan mental membawa tas, juga tidak akan lebih hebat dari anak baru lulus yang punya passion dan keinginan yang kuat untuk mencapai mimpinya.

    Kasus paling ekstrem yang pernah saya dengar dari ujian CFA adalah orang yang baru abis dioperasi otak kemarin, besoknya begitu keluar dari rumah sakit langsung mengikuti ujian dan lulus. Itu terjadi di Indonesia.

    Semoga bisa menjawab kegalauan anda dan semoga informasi ini bermanfaat.

  9. Henry
    January 28th, 2014 at 09:15 | #9

    Terimakasih sekali Pak Rudi atas penjelasannya yang sangat mencerahkan, salam sukses selalu untuk Pak Rudi @Henry

  10. pram
    February 27th, 2014 at 18:20 | #10

    Pak Rudi,

    Pertama – tama trima kasih tulisannya Pak , inspiring buat orang – orang seperti saya.

    Saya sudah usia 46 th , tapi sekarang saya sudah jatuh cinta dengan pasar modal , sehingga setiap hari saya lihat fluktuasi harga saham di BEI , baca koran kontan , investor , kliping news dari emiten 2 , dll

    Pertanyaan saya , kalau saya mau kecimpung di pasar modal dengan jadi sales equity dulu , kira2 memungkinkan gak ya, terus terang dari profesi marketing saya , penghasilan saya antara 20 jt s/d 4o jt an per bulan, kalau saya lihat dari nilai transaksi harian di BEI saya pikir cari komisi segitu sih gak terlalu sulit . Please advise me .

  11. Rudiyanto
    February 28th, 2014 at 08:58 | #11

    @pram
    Selamat Pagi Pram,

    Untuk ukuran rata-rata orang yang bekerja di pasar modal Indonesia, penghasilan 20 – 40 juta per bulan itu sudah termasuk besar. Untuk bisa mendapatkan penghasilan yang minimal sama dengan itu melalui sales equity, menurut perkiraan saya kamu harus mendapatkan beberapa nasabah korporasi / individu kaya yang doyan trading saham dengan rata-rata transaksi (mungkin ya, saya kurang tahu pastinya) > Rp 50 Milliar.

    Angka tersebut bukan uang yang disetorkan, tapi nilai transaksi. Jadi bisa saja setor 1 milliar tapi buy sell sampai 50 kali. Permasalahannya, orang yang senang buy sell, senang transaksi sendiri melalui online trading. Sementara nasabah yang dananya besar / korporasi mungkin frekuensinya tidak sering tapi nilainya besar.

    Tantangan terbesar adalah berhadapan dengan kondisi market. Ketika market sedang turun terus menerus, mau nasabah besar dan kecil biasanya nilai transaksi akan turun. Selain itu, marketing yang menangani nasabah besar, biasanya sudah berkemampuan seperti analis. Bisa memberikan analisa mendalam terhadap saham, bisa membaca riset asing, dan juga kemampuan alami marketing yaitu interpersonal.

    Semoga informasi ini bermanfaat.

  12. anonymous
    March 18th, 2014 at 23:59 | #12

    Selamat malam Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas ulasannya yang sangat menarik.

    Tanpa bermaksud membanggakan diri, saya termasuk karyawan yang sangat beruntung karena di umur saya saat ini (26 tahun), secara umum saya dapat memperoleh penghasilan 20jutaan per bulan dari karir sebagai sales IT di one of mnc di Indonesia

    Sejak dulu saya mempunyai passion di bidang finance akan tetapi belum berkesempatan untuk masuk ke karir di bidang tersebut, dimana mengingat usia saya yang sudah menginjak 26 tahun dan tanpa finance background

    Di kondisi saya saat ini, apabila Pak Rudiyanto berkenan mohon share advice nya apakah langkah untuk memulai industri baru ini merupakan sebuah wise decision? Bagaimana prospek karir ke depan untuk seseorang yang sudah bekerja selama 4 tahun di industri lain dan baru ingin masuk ke dunia Finance, apakah saya bisa dapat masuk sebagai seorang associate instead of analyst?

    Dan jika saya memilih untuk fokus masuk ke finance, manakah langkah terbaik yang dilakukan, berhenti dari karir saat ini untuk mengambil MBA atau lebih baik fokus di CFA?

    Terima kasih sebelumnya atas sharingnya.

  13. Rudiyanto
    March 19th, 2014 at 14:28 | #13

    @anonymous
    Selamat siang,

    Boleh tahu saya bicara dengan siapa?

  14. anonymous
    March 19th, 2014 at 14:37 | #14

    @Rudiyanto

    Siang pak rudiyanto.

    Mohon maaf saya hanya seorang visitor di blog bapak. Nama saya toni.

    Terima kasih

  15. Rudiyanto
    March 19th, 2014 at 15:46 | #15

    @anonymous
    Siang juga Pak Toni,

    Terkait pertanyaan anda, pertama untuk bisa mendapat gaji 20 jutaan di dunia apapun, rasa2nya sangat sedikit orang yang beruntung, apalagi untuk usia di bawah 30 tahun. Orang2 yang saya temui dan punya gaji besar, itu rata-rata adalah orang yang bekerja keras selama hidupnya, dan bertemu dengan atasan tepat yang bisa menghargai kemampuan. Bisa juga hasil dari komisi penjualan. Tentu ada talenta dari anda yang dihargai perusahaan sekarang ini.

    Kemudian, perlu diperjelas juga, passion untuk berkarir di pasar modal itu apa? apakah jadi broker, underwriter, manajer investasi atau investor? Kalau jadi investor, anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan anda sekarang, cukup sisihkan waktu untuk buka rekening saham dan lakukan transaksi. Kegiatan belajarnya bisa anda lakukan di hari Sabtu atau after office hour. Sepengetahuan saya, banyak perusahaan sekuritas yang menyediakan training kepada investor baik terkait cara transaksi online ataupun cara analisis di saham.

    Maksudnya Associate itu apa ya?

    Kalau untuk gelar CFA atau MBA, anda cukup analogikan saja, misalkan ada yang lamar di perusahaan anda, apakah perusahaan akan memprioritaskan orang dengan lulusan MBA atau orang dengan Microsoft Certified, Oracle Certified atau VM Ware Certified?

    CFA itu kurang lebih sama dengan certified2 itu. Tapi kan juga tidak pasti diterima. Lagipula orang yang tidak punya sertifikasi itu juga bukan jaminan kalah sama orang yang sudah punya bukan?

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

  16. anonymous
    March 19th, 2014 at 22:49 | #16

    Selamat malam Pak Rudiyanto.

    Terima kasih atas masukannya yang bermanfaat.

    Terkait passion karir, mohon maaf mungkin saya kurang tepat menyebutnya karir di pasar modal, karena yang saya maksud adalah IB ataupun private equity, dimana posisi analyst/associate merupakan jenjang karir yang relevan di industri tersebut.

    Saya sendiri sebenarnya sudah masuk ke dunia pasar modal sebagai investor reksadana perusahaan Pak Rudiyanto (Maksima :) ) ataupun trader saham, meskipun trading tidak saya lakukan secara harian, dan hal itu memang saya lakukan dengan tujuan untuk mulai belajar finance industry di samping main responsibility saya di tech.

    Berbicara mengenai certification ataupun MBA, sayang sekali di environment saya saat ini kedua hal tersebut tidak menjadi poin yang krusial. Seringkali saya mendengar advice dari high level management yang mengatakan tidak butuhnya seseorang untuk masuk ke jenjang pendidikan s2 untuk advance career (dibuktikan dengan mereka sendiri sebagai living proof).

    Akan tetapi, itu tentunya secara spesifik jika kita berbicara mengenai IT industry. bagaimana dengan di finance? seberapa penting kualifikasi MBA dan certification untuk masuk ke dunia finance, khususnya di Indonesia secara khusus?

    Hal ini ingin saya tanyakan karena sepengetahuan saya ada beberapa profesi khusus, seperti perusahaan manajemen konsultan yang menuntut konsultannya mengambil jenjang pendidikan s2 untuk dapat memperoleh career promotion.

  17. Rudiyanto
    March 20th, 2014 at 13:54 | #17

    @anonymous
    Siang Toni,

    Terima kasih sudah memperjelas pertanyaan anda dan berinvestasi di Panin Asset Management.

    Terus terang untuk investment banking atau underwriter menurut definisi saya, sepertinya jarang ada yang buka lowongan kepada umum. Rekrutmen dilakukan secara terbatas, bisa dari kenalan ataupun rekomendasi orang. Bisa juga orang dari divisi lain yang ditarik ke divisi tersebut. Tapi jika anda memiliki informasi lowongan ke sana silakan dicoba.

    Dari sisi penghasilan, terus terang saya tidak tahu. Bisa sama, lebih tinggi atau bahkan lebih rendah dari yang anda terima sekarang.

    Terkait gelar, menurut saya itu juga kurang lebih sama dengan bidang kamu geluti. Tapi mungkin saja, kasus ini berbeda di tiap2 perusahaan. Tapi bayangkan saja begini, jika kamu adalah HRD di perusahaan Finance, sedang mewawancarai orang dengan background IT yang mau menjadi ahli di bidang finance. Apakah kamu akan terkesan dengan cuap2 orang itu? atau kamu akan terkesan jika dia memiliki gelar / sertifikasi khusus di bidang keuangan?

    Jadi menurut saya pribadi, gelar itu menunjukkan kemauan seseorang untuk maju. Di mulut semua orang bisa bilang mau cari tantangan baru, tapi yang benar2 mengembangkan diri untuk bisa mendapat tantangan yang baru dengan belajar sesuatu yang di luar bidang keahliannya tidak banyak. Jika saya jadi HRD, maka saya akan percaya bahwa orang di depan saya memang niat maju, sebab saya tidak bisa membayangkan misalkan saya yang di bidang keuangan ini entah bagaimana caranya bisa dapat gelar sertifikasi dari Microsoft. Tingkat kesulitannya pasti sangat tinggi.

    Kemudian ketika kamu sudah bergabung, maka pada saat kamu bertemu client atau calon client tentu mereka akan semakin menaruh hormat jika di kartu nama ada tulisan CFA bukan? ini juga menambah nilai jual, karena pada dasarnya di pasar modal kita berjualan jasa. Karena “barangnya” tidak kelihatan, maka yang jualanlah yang harus dipoles dengan baik.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  18. Ela Batubara
    April 24th, 2014 at 12:05 | #18

    Pak Rudiyanto, terkait dengan sertifikasi WPPE, apakah Bapak ada link untuk materi yang bisa dipelajari ? Lalu biasanya di pasar modal itu ada komunitas apa saja ya Pak, kaitannya untuk terus ter update. Terima kasih sebelumnya. Salam

  19. Rudiyanto
    April 28th, 2014 at 14:07 | #19

    @Ela Batubara
    Salam Ela,

    Terus terang saya kurang tahu juga. Memang saat ini ada beberapa institusi yang menyelenggarakan pelatihan untuk ujian WPPE. Kamu bisa searching di google. Terima kasih.

  20. Rosalina
    May 19th, 2014 at 16:56 | #20

    Selamat sore Pak Rudiyanto,

    Saya mau bertanya pak. Apakah jika kita sdh memperoleh sertifikat WPPE, kita sudah bisa melamar menjadi seorang broker pak? Apakah ada persyaratan-persyaratan lain yg harus dipenuhi selain mengantongi sertifikat WPPE? Mohon pencerahannya pak.

    Terima kasih.

Comment pages
1 2 3 10 3500


%d bloggers like this: