Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana, Strategi Investasi > Mengenal Reksa Dana Saham “Trillion Club”

Mengenal Reksa Dana Saham “Trillion Club”

Sebelumnya, saya dan segenap keluarga ingin mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, serta selamat Merayakan Hari Lebaran kepada bapak ibu sekalian yang merayakan. Semoga semua yang dimulai dengan niat baik dapat memberikan hasil yang baik pula.  Semoga setelah kembali dari cuti Lebaran kali ini, otak kita semua lebih segar dan suasana hati kita lebih tenang sehingga bisa memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan tempat kita bekerja atau berusaha dan juga kepada Negara Republik Indonesia tercinta ini. Mohon maaf juga jika selama ini ada artikel atau komentar yang kurang berkenan.

Kembali ke tulisan, dalam investasi reksa dana, khususnya reksa dana saham, ada semacam anggapan dari para investor tentang “Ukuran” reksa dana. Dimana semakin besar jumlah dana kelolaan, maka reksa dana akan dianggap semakin “gendut” yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja karena dianggap kurang dapat memberikan return yang maksimal.

Hal tersebut sebelumnya sudah pernah saya bahas dalam riset jumlah dana kelolaan terhadap kinerja reksa dana saham tahun 2011 lalu. Hasilnya, reksa dana dengan dana kelolaan yang besar justru lebih mampu memberikan “kestabilan” dibandingkan reksa dana yang dana kelolaannya kecil. Meski demikian, reksa dana dengan dana kelolaan kecil dapat mengalahkan IHSG dengan persentase yang lebih signifikan dibandingkan reksa dana dengan dana kelolaan besar namun ketika kalah, kalahnya bisa sangat signifikan juga.

2 tahun sudah berlalu, industri reksa dana saham juga sudah jauh berkembang. Jika pada tahun 2011 yang lalu, hanya terdapat sekitar 13 reksa dana dengan dana kelolaan di atas Rp 1 Triliun, maka pada bulan Juni tahun 2013 ini, sudah ada sekitar 22 reksa dana saham. Belum termasuk 3 reksa dana saham yang akan segera bergabung dengan “Trillion club (T-Club)” karena dana kelolaanya sudah sekitar 900 milliar-an. Bagaimana dengan kinerja reksa dana T-Club ini dibandingkan rata-rata reksa dana saham pada umumnya?

Bagi Perusahaan Manajer Investasi di Indonesia, dana kelolaan sebesar 1 Triliun di reksa dana jenis non terproteksi merupakan suatu pencapaian besar. Sebab dalam berbagai pemeringkatan reksa dana yang dilakukan, perbedaan antara besar dan kecil terletak pada angka tersebut. Jadi jika sudah mencapai angka Rp 1 triliun, maka sudah dikategorikan sebagai reksa dana berukuran besar. Keberhasilan mencapai angka 1 triliun merupakan bentuk apresiasi investor terhadap kombinasi antara kinerja pengelolaan yang baik dari Manajer Investasi dan juga upaya keras dari para Marketing dalam memasarkan reksa dana.

Reksa dana jenis non terproteksi (saham, campuran dan pendapatan tetap) relatif lebih sulit dipasarkan karena tidak dapat memberikan tingkat return tetap. Belum lagi karena fluktuasi pasar, para Marketing dan Manajer Investasi setiap saat harus siap “diomelin” oleh investor karena nilai investasinya turun. Hal ini agak berbeda dengan reksa dana terproteksi, dimana karena ada indikasi return yang tetap dan waktu jatuh tempo, sehingga sangat mirip dengan deposito hanya bunganya lebih tinggi, jenis reksa dana ini lebih mudah dipasarkan dan sangat populer di kalangan nasabah perbankan. Namun dari sisi bisnis, profit margin yang diterima lebih tipis. Belum lagi, jika harus dibagi dengan Bank Agen Penjual.

Dengan logika dana kelolaan baru bisa besar jika kinerjanya “bagus” tentu anggapan bahwa reksa dana gendut kinerjanya kurang maksimal kurang tepat. Sebab bagaimana mungkin para investor mau mempercayakan dananya jika sejak awal sudah memiliki “anggapan”  bahwa kinerja reksa dana akan kurang bagus karena terlalu “gendut” ? Apakah pada kenyataannya justru reksa dana saham yang “gendut” tersebut malahan yang kinerjanya bagus? Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut saya melakukan riset terhadap kinerja dan dana kelolaan reksa dana saham. Riset yang saya lakukan, langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Mencari dana kelolaan reksa dana saham setiap akhir tahun dari 2004 – Juni 2013 dan hanya mengambil sampel reksa dana yang dana kelolaannya di atas Rp 1 Triliun.

2. Menghitung Return Tahunan dan Return YTD per Juni 2013 dari masing-masing reksa dana, Indeks Reksa Dana Saham dan IHSG

3. Merata-ratakan Return dari Reksa Dana yang dana kelolannya di atas Rp 1 Triliun.

4. Membandingkan Return dari Rata-rata Return Reksa Dana Saham, IHSG, dan Rata-rata Return Reksa Dana Saham di atas Rp 1 Triliun

Hasil riset saya kurang lebih sebagai berikut:

Dari tabel di atas, saya mendapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • Dari 9 tahun kinerja IHSG (2004 – 2012), ternyata 6 tahun reksa dana T-Club Menang dari IHSG dan 3 Tahun Kalah dari IHSG
  • Dalam periode yang sama, kinerja reksa dana saham T-Club hanya kalah 1 kali dibandingkan rata-rata reksa dana saham (yang dihitung dari indeks reksa dana saham infovesta) yaitu pada tahun 2005 itupun hanya dengan selisih 0.2%
  • Hal di atas menunjukkan jika berinvestasi pada reksa dana saham T-Club peluang untuk mengalahkan IHSG dan Rata-rata Reksa Dana Saham ternyata lebih tinggi.
  • Meski demikian, seiring dengan anggota T-Club yang semakin banyak, meski lebih baik dari rata-rata reksa dana saham secara umum, ternyata mulai kalah dari IHSG seperti yang terlihat di 3 tahun terakhir dari 2010 – 2012
  • Untuk 2013, hingga bulan Juni, sejauh ini masih bisa dikatakan bahwa T-Club masih mengalahkan IHSG dan rata-rata reksa dana saham, tinggal kita lihat bagaimana performanya selama semester II tahun ini.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa selama bisa berkinerja di atas rata-rata reksa dana saham yang lain, maka investor tetap memilih reksa dana tersebut meskipun secara persentase masih kalah dibandingkan IHSG. Hal ini menunjukkan bahwa investor Indonesia dalam berinvestasi melakukan perbandingan produk dengan reksa dana sejenis. Produk yang dipilih adalah yang kinerjanya relatif lebih baik dibandingkan lainnya. Hal ini dimungkinkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan lembaga penyedia data reksa dana seperti Infovesta, Bloomberg dan Morningstar serta publikasi media seperti Majalah Investor dan Kontan yang rutin melakukan pemeringkatan.

Sebagai referensi, Berdasarkan data OJK, reksa dana T-Club berdasarkan periode Akhir Juni 2013 adalah sebagai berikut:

Reksa Dana Saham T-Club (urut Abjad)
Dana Kelolaan Per Juni 2013
BNP Paribas Ekuitas 6,020,412,661,314
BNP Paribas Infrastruktur Plus 2,456,652,460,459
BNP Paribas Inspira 1,773,281,928,123
BNP Paribas Pesona 1,746,415,714,258
BNP Paribas Pesona Syariah 2,550,769,321,930
BNP Paribas Solaris 4,505,879,168,369
BNP Paribas STAR 2,235,143,953,809
Danareksa Mawar Konsumer 10 2,715,792,818,459
First State Indoequity Sectoral Fund 1,994,712,910,115
Mandiri Investa Ekuitas Dinamis 2,423,756,735,165
Mandiri Saham Atraktif 2,110,550,993,794
Manulife Dana Saham 2,977,678,235,632
Manulife Saham Andalan 2,009,272,337,152
Manulife Syariah Sektoral Amanah 1,069,541,675,717
Panin Dana Maksima 6,562,246,251,997
Panin Dana Prima 1,922,350,007,930
SAM Indonesian Equity Fund 1,041,381,625,545
Schroder 90 Plus Equity Fund 2,945,902,654,873
Schroder Dana Istimewa 3,421,269,528,863
Schroder Dana Prestasi Dinamis 6,916,312,748,871
Schroder Dana Prestasi Plus 8,894,415,952,932
Syailendra Equity Opportunity Fund 2,284,042,134,648

Bagi reksa dana yang tidak termasuk T-Club tidak perlu berkecil hati, sebab reksa dana yang masuk T-Club sebelumnya juga memulai dari dana kelolaan yang kecil. Dan menilik karakteristik Investor Indonesia yang akan memilih produk jika memang kinerjanya bagus, maka selama kinerjanya bagus tentu akan dilirik oleh para investor. Jadi Manajer Investasi harus senantiasa memberikan hasil investasi yang bagus melalui pengelolaan portofolio yang aman dan menguntungkan.

Kabar baik lainnya reksa dana yang masuk kategori T-Club cukup berimbang antara Manajer Investasi asing seperti BNP Paribas Investment Partners, First State Investment Indonesia, Manulife Asset Management Indonesia, dan Schroders Investment Management Indonesia dan Manajer Investasi lokal seperti Danareksa Investment Management, Mandiri Manajemen Investasi, Panin Asset Management, Samuel Asset Management dan Syailendra Capital. Hal ini menunjukkan bahwa mau lokal ataupun asing, selama itu bagus, akan di apresiasi oleh para investor.

Persaingan yang sehat antara Manajer Investasi lokal dan asing akan semakin memajukan industri investasi di Indonesia dan memberikan semakin banyak pilihan investasi bagi investor Indonesia. Demikian artikel ini saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Semoga Sukses Dengan Investasinya..

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber data Dan Foto: istockphoto, IDX, BAPEPAM.Go.id, dan Infovesta, diolah.

  1. nnur
    July 29th, 2013 at 20:39 | #1

    Sip, Pak!
    Gemuk dan sehat tentu sangat diharapkan, tapi sebagai nasabah, kita sendiri kudu sering2 chek-it-up juga ya :)

  2. August 2nd, 2013 at 09:10 | #2

    Saya lihat dalam beberapa tahun Manajer Investasi (MI) yang masuk dalam T-Club tidak banyak berubah: Schroders, BNP, dan Manulife. Mereka ini yang selalu terbesar dalam dana kelolaan. Semuanya MI asing.

    MI lokal yang saya tahu hanya Mandiri Investasi yang lumayan besar dana kelolaannya.

    Kenapa MI-MI asing ini bisa memiliki dana kelolaan terbesar? Padahal, dari segi jaringan di Indonesia, MI asing ini boleh dikatakan terbatas.

  3. prayudi
    August 5th, 2013 at 08:30 | #3

    @Rio Q
    mungkin karena mereka dipercaya bank-bank konvensional, unit link, asuransi dan dana pensiun untuk mengelola dana mereka.

  4. Rudiyanto
    August 12th, 2013 at 08:34 | #4

    @Rio Q
    Dear Rio,

    Sama seperti yang dikemukan oleh Prayudi, memang bank di negara ini cenderung lebih nyaman menjual produk reksa dana asing daripada lokal. Namun kabar baiknya tren ini sudah mulai berubah. Tinggal perilaku investor yang lebih suka produk asing daripada lokal ini yang harus lebih banyak berubah lagi.

    Semoga bermanfaat.

  5. Roy
    August 13th, 2013 at 11:58 | #5

    Dear P’Rudiyanto
    Mohon Pencerahannya pak,
    Apakah Jenis Reksadana Bisa Berubah ?
    contoh terbaru (saya lihat dari data Invovesta.com) : Shroder Dana Prestasi sebelumnya di Bulan Juli 2013 Ia adalah Jenis Reksadana Campuran, Lalu Bulan Agustus 2013 Berubah jenis menjadi Reksadana Saham. Apakah Bisa begitu Pak?
    Apakah Jenis Reksadana jenis Lain Juga bisa Begitu? Terima kasih sebelumnya.

  6. Rudiyanto
    August 13th, 2013 at 12:29 | #6

    @Roy
    Salam Roy,

    Jenis suatu reksa dana ditentukan oleh Kontrak Investasi Kolektif (Prospektusnya). Pihak yang berwenang dalam Kontrak Investasi Kolektif adalah Manajer Investasi dan Bank Kustodian. Apabila Manajer Investasi dan Bank Kustodian melakukan perubahan KIK dan disetujui kedua belah pihak serta perubahan tersebut mendapat pernyataan efektif dari OJK maka perubahan tersebut dimungkinkan.

    Terkadang memang ada banyak reksa dana campuran yang komposisi sahamnya terlalu agresif. Jadinya kinerja mirip dengan reksa dana saham, jadi mungkin dengan demikian, sekalian saja jadi reksa dana saham. Sebab reksa dana campuran sejak tahun 2013 diwajibkan untuk memiliki saham, obligasi dan pasar uang dalam waktu yang bersamaan. Sebelumnya bisa salah duanya saja.

    Demikian semoga bermanfaat.

  7. Chen Martin
    August 19th, 2013 at 01:28 | #7

    Izin nyimak pak..

  8. alibaba
    September 8th, 2013 at 14:13 | #8

    Pak, dana kelolaan itu sama dengan total NAB ya Pak? atau total aset?

  9. Rudiyanto
    September 9th, 2013 at 09:35 | #9

    @alibaba
    Dana kelolaan itu NAB, Total Aset – Total Kewajiban = NAB = Dana Kelolaan.

 


%d bloggers like this: