Kapan IHSG Menuju 10.000 ?

Belakangan ini, analisa dan pemberitaan di media massa lebih banyak difokuskan pada apakah pasar sudah kemahalan, apakah dana asing spekulatif sudah terlalu banyak, apakah Eropa, Amerika, China, Jepang sedang bermasalah atau tidak sehingga berpotensi terjadi pembalikan arah, apakah hasil akhir dari kebijakan BBM, Pemilihan Presiden dan lain-lain. Sebetulnya saya tidak bermasalah dengan pemberitaan tersebut, terlepas dari benar atau salah, terlalu dibesar-besarkan atau dikecil-kecilkan. Sebab saya yakin setiap analisa dan pemberitaan di media tentu harus mempertahankan porsi objektivitasnya.

Saya ingin mencoba membahas dari sudut pandang yang berbeda. Objektif memang baik, namun yang membuat dunia menjadi lebih baik adalah pikiran positif. Jadi daripada meramalkan kapan IHSG akan anjlok yang entah kapan dan mengapa, mari kita mencoba meramalkan kapan IHSG menuju ke 10.000. Yap, SEPULUH RIBU. Bisakah anda membayangkan berapa dana anda akan berkembang baik itu yang ditanamkan di saham ataupun reksa dana saham? Berapakah tujuan pensiun, pendidikan anak, liburan anak, Umroh dan Naik Haji yang akan terpenuhi dengan tercapainya level indeks tersebut?

 

 

Sebelum saya melakukan pembahasan, mari kita semua tebak-tebakan dulu:

  1. 15 Tahun
  2. 10 Tahun
  3. 5 Tahun
  4. Atau Kurang dari 5 Tahun

Bagi yang sudah menjawab silakan mencocokan jawaban anda dengan tebakan saya di sisa artikel ini.

Untuk menebak IHSG, pada dasarnya ada banyak cara dan analisa yang bisa dilakukan. Dalam tebak-tebakan kali ini, metode yang saya gunakan adalah kombinasi dari Price Earning Ratio (PER) dan konsep Compounding. Secara sederhana yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan PER yang wajar –> dimana berdasarkan data historis, PE yang wajar cukup luas karena berkisar antara 12 – 18 kali
  2. Menentukan asumsi pertumbuhan laba bersih perusahaan dan membuat proyeksi untuk beberapa tahun ke depan –> Data yang digunakan adalah data 10 saham dengan Kapitalisasi terbesar
  3. Mengalikan angka PER dan Proyeksi Laba Bersih untuk mendapatkan IHSG

Langsung saja kita ke praktek.

Langkah Pertama, menentukan PER dan Laba Bersih IHSG

PER IHSG berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia

Dengan IHSG 5.155,093 PER Ratio 18 Kali (menggunakan rata-rata). Karena PER = IHSG / Laba Bersih, maka Laba Bersih IHSG = IHSG / PER = 5.155,093 / 18 = 286

Langkah kedua, Proyeksi Laba Bersih

Karena saham yang tersedia di IHSG sangat banyak, saya menggunakan 10 saham dengan kapitalisasi terbesar yang mewakili sekitar 42% dari seluruh saham yang ada. Berdasarkan data laporan keuangan tahun 2008 dan 2012, diperoleh informasi sebagai berikut:

Dengan asumsi Laba Bersih IHSG tahun 2012 adalah 286, dengan asumsi tumbuh sesuai dengan rata-rata pertumbuhan dari 10 emiten tersebut sebesar 26% per tahun, maka proyeksi Laba Bersih untuk beberapa tahun ke depan adalah sebagai berikut:

Langkah ketiga, Proyeksi IHSG berdasarkan beberapa Skenario PER.

Price Earning Ratio yang wajar merupakan suatu angka yang subjektif dan sangat tergantung kepada beberapa variabel lainnya. Misalkan ketika kondisi suku bunga rendah, PER yang tinggi dianggap wajar. Ketika situasi berubah menjadi krisis, PER harus sangat rendah sekali baru dianggap wajar. Karena sangat subjektif, saya membuat PER berdasarkan 4 skenario yaitu PER 14, 15, 16 dan 18 kali. Kemudian saya mengalikan PER wajar dengan proyeksi (Forecast Laba Bersih IHSG). Ingat karena PER = IHSG / Laba Bersih, maka IHSG = PER x Laba Bersih.

Berdasarkan analisis tersebut, proyeksi angka IHSG yang saya peroleh adalah sebagai berikut:

Cara bacanya kurang lebih sebagai berikut, IHSG 2013 adalah PER wajar dikali Laba Bersih tahun sebelumnya. Metode ini disebut PER Trailing. Ada juga metode yang menggunakan IHSG 2013 =  PER Wajar dikali Laba Bersih tahun yang sama dengan metode proyeksi. Metode ini disebut PER Forward. Karena sejak awal saya menggunakan asumsi data laba bersih tahun sebelumnya, maka metode yang saya gunakan adalah metode trailing.

Sebagai contoh, dengan PER 16, IHSG di tahun 2013 adalah 4576. Artinya jika Price Earning Ratio yang dianggap wajar adalah 16 kali, maka harga IHSG yang wajar pada tahun 2013 adalah sebesar 4576. Dengan IHSG saat ini yang sudah di atas 5000, bisa dikatakan IHSG sudah mahal. Kemudian pada tahun 2017, pada angka yang saya bold merah, tertulis 11.578. Artinya dengan asumsi PER yang wajar adalah 16 kali, asumsi laba bersih tumbuh 26% setiap tahun, maka harga IHSG yang wajar pada tahun 2017 adalah 11.578, yang artinya sudah menembus level 10.000.

Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada 4 skenario, level IHSG 10.000 sudah tercapai pada tahun 2016 atau 2017 atau 3 – 4 tahun dari sekarang. Nah, apakah tebak2an anda sebelumnya sama dengan saya?

Saya harus mengakui bahwa asumsi yang saya buat agak sedikit opmistis terutama di asumsi pertumbuhan laba bersih. Umumnya prediksi pertumbuhan laba bersih berada di antara 15 – 25%. Perlu diingat juga, dari seluruh saham yang ada di IHSG, ada yang laba bersihnya naik, ada pula yang turun. Bahkan ada pula yang merugi. Kebetulan semua perusahaan yang saya jadikan sebagai contoh menunjukkan angka yang positif. Kemudian jangan dilupakan pula, konsep bahwa kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang di masa depan. Jika berlaku untuk saham, demikian pula berlaku untuk kinerja laba bersih perusahaan.

Saya sempat mengubah model asumsi pertumbuhan menjadi 20%. Hasilnya, IHSG baru menembus 10.000 pada tahun 2017 – 2019 atau 4 – 7 tahun dari sekarang. Yang 2017 pun dengan asumsi PER 18 kali. Disinilah letak perbedaan utama antara investor jangka panjang dan investor jangka pendek. Bagi yang jangka pendek (koreksi sebelumnya jangka panjang), melihat 18 kali, mahal dan kemudian berpikir ulang, memang wajar. Bagi investor yang jangka panjang, yang menjadi perhatian dia adalah IHSG untuk 5 atau 10 tahun ke depan. Sekarang memang harganya mahal, tapi apakah mahal untuk di masa depan juga?

Kombinasi antara investor jangka panjang dan investor jangka pendek yang ada di bursa inilah yang membuat dunia saham menjadi menarik.. Ada yang beli, ada pula yang jual. Termasuk dalam kategori investor jangka pendek atau jangka panjangkah anda?

Demikian tebak2an saya kali ini. Namanya juga tebak2an jadi jangan dianggap terlalu serius. Bisa terjadi, bisa juga tidak. Selamat berinvestasi.

Sumber Data: www.idx.co.id, Laporan Keuangan Perusahaan dan www.infovesta.com, diolah

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. yance
    May 28th, 2013 at 11:05 | #1

    Pak, sedikit koreksi dalam tabel proyeksi IHSG yang Bpk buat, bukankah IHSG akan mencapai 11.578 di tahun 2016 bukan 2017. Melihat proyeksi yang Bpk buat, saya ikut senang dan sangat berharap itu bisa terjadi. Dengan begitu hasil investasi saya di reksadana juga bisa naik terus, sehingga cukup untuk masa depan & hari tua saya nanti.

  2. Rudiyanto
    May 28th, 2013 at 12:33 | #2

    @yance
    Terima kasih Pak Yance untuk masukannya.
    Boleh tolong dibaca sekali lagi dari bawah, paragraf sebagai berikut:

    Sebagai contoh, dengan PER 16, IHSG di tahun 2013 adalah 4576. Artinya jika Price Earning Ratio yang dianggap wajar adalah 16 kali, maka harga IHSG yang wajar pada tahun 2013 adalah sebesar 4576. Dengan IHSG saat ini yang sudah di atas 5000, bisa dikatakan IHSG sudah mahal. Kemudian pada tahun 2017, pada angka yang saya bold merah, tertulis 11.578. Artinya dengan asumsi PER yang wajar adalah 16 kali, asumsi laba bersih tumbuh 26% setiap tahun, maka harga IHSG yang wajar pada tahun 2017 adalah 11.578, yang artinya sudah menembus level 10.000.

    Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada 4 skenario, level IHSG 10.000 sudah tercapai pada tahun 2016 atau 2017 atau 3 – 4 tahun dari sekarang. Nah, apakah tebak2an anda sebelumnya sama dengan saya?

    Dengan skenario PE 16 kali, pada tahun 2016, IHSG masih dibawah 10.000. Jadi tidak ada yang salah dengan artikel tersebut.
    Boleh diperjelas dimana kesalahannya.
    Terima kasih

  3. nnur
    May 28th, 2013 at 19:30 | #3

    Prediksi saya sederhana: kurang dari 8 tahun karena menganalogikan IHSG dengan harga2 barang (biasanya harga2 naik 2X lipat dalam kurun waktu tsb :)
    btw, saya tiba2 ingin iseng: apa indeks yang mahal akan selalu dan selalu berpotensi sbg bubble? Mungkin bapak punya kajian atau artikel yang bisa saya baca :)
    Oya, saya berterimakasih lho atas itung2an probabilitas Pak Rudiyanto kemarin; harga RDS yang saya incer sudah naik dari target saya, tetapi masih naik lagi hingga sekarang; jadi saya ga rugi membelinya :)

  4. Rudiyanto
    May 29th, 2013 at 00:00 | #4

    @nnur
    Dengan Rule 72, berdasarkan asumsi anda IHSG hanya akan tumbuh 9% per tahun.
    Untuk artikel tentang hal PE Mahal Murah tersebut silakan cari-cari di arsip artikel. Sudah pernah saya bahas sebelumnya.

    Semoga bermanfaat.

  5. Dedy Hisman
    May 30th, 2013 at 07:17 | #5

    Pak Rudiyanto, kata teman saya beli reksadana yang membebankan fee pembelian itu kemahalan. Jadi sebaiknya beli yang fee beli 0%. Bagaimana pendapat bapak? Terimakasih.

  6. Rudiyanto
    May 30th, 2013 at 08:56 | #6

    @Dedy Hisman
    Kalau tanggapan saya:
    Apakah Ada makan siang yang gratis?
    Bagaimana dengan pelayanan dan kinerjanya?

    Semoga bermanfaat.

  7. paucen
    May 31st, 2013 at 13:55 | #7

    pak Rudy, kalau boleh, bikin analisa saham2 apa saja yg bakal bagus utk 3 – 4 thn mendatang? yg bisa ngalahin ihsg….thanks.

  8. Rudiyanto
    May 31st, 2013 at 14:57 | #8

    @paucen
    Kalau saham saya tidak terlalu ahli. Lebih mudah menebak reksa dana mana yang bisa mengalahkan IHSG daripada saham. Coba anda menjadi nasabah sekuritas saja pak, dari situ biasanya nasabah diberikan riset baik teknikal maupun fundamental saham. Semoga bermanfaat.

  9. adi
    May 31st, 2013 at 17:46 | #9

    Pak Rudi, bagaimana cara melihat PER IHSG ?

    saya sudah masuk ke http://www.idx.co.id lalu bingung mesti masuk yang mana.

    yang saya temukan cuma malah cuma data prev high low last

    http://www.idx.co.id/Beranda/InformasiPasar/IndeksPasar/tabid/110/IndexCode/COMPOSITE/IndexValue/0/language/id-ID/Default.aspx

    mohon bantuannya pak, maklum masih newbie
    mungkin bisa dibantu juga tentang
    bagaimana cara mengetahui histori indeks sektor dan PER sektor

    terima kasih pak

  10. Rudiyanto
    May 31st, 2013 at 18:22 | #10

    @adi
    Yth Adi,
    Coba diklik semua tombol2 yang ada. Kalau memang mengaku newbie dan butuh banyak belajar, maka jangan coba ambil jalan pintas. Atau kalau mau di http://www.infovesta.com juga ada.

    Kalau sektor, harus menggunakan jasa berlangganan seperti bloomberg atau reuters.

  11. Dedy Hisman
    June 1st, 2013 at 19:53 | #11

    Kalau begitu saya musti melihat kinerja historis berapa tahun supaya sebuah reksadana saham bisa dikatakan salah satu yang terbaik?
    Terima kasih pak mohon bantuannya

  12. daniR
    June 2nd, 2013 at 12:03 | #12

    @Dedy Hisman

    sekedar masukan… kinerja historis beberapa tahun tidak menjamin kualitas sebuah reksadana.. karena reksadana pada dasarnya bergantung pada pengelola nya.. yakni fund manager nya.. nah kalau ada pergantian fund manager.. bisa jadi rekam jejak yang tahun tahun sebelumnya tidak relevan lagi.. karena tidak semua fund manager yg bergelar macem macem adalah melulu orang pintar.. dan selain itu kalaupun pintar, belum tentu beruntung terus dalam penempatan posisi saham nya di bursa..

    satu lagi yg perlu di ingat, adalah bahwa semua reksadana saham indonesia, mau yang mana saja deh.. semua cuma hanya beli saham di bursa indonesia.. tidak ada yg berani masuk bursa lain.. jadi reksadana saham indonesia murni bergantung juga pada performa bursa indonesia saja.. yang mana kita semua tau, bursa indonesia masih emerging.. alias masih banyak spekulasi dari investasi nya.. jadi kita juga harus mengerti betul karakter bursa indonesia dulu.. jangan serta merta hanya serahkan kepercayaan begitu saja sama fund manager (yang bisa banget salah langkah)..

  13. Rudiyanto
    June 2nd, 2013 at 14:25 | #13

    @Dedy Hisman
    Yth Dedy,

    Tidak ada acuan berapa tahun yang bisa dijadikan sebagai acuan. Belum tentu reksa dana yang tahun lalu nomor satu, akan menjadi nomor satu lagi tahun ini. Demikian pula, reksa dana yang tahun lalu kalah dengan IHSG akan kalah lagi tahun depan.

    Cuman logika yang digunakan begini, bayangkan anda seorang Dosen di sebuah universitas. Anda sedang mencari mahasiswa yang akan mewakili universitas untuk berkompetisi. Apakah anda akan mempercayakan tanggung jawab tersebut kepada seseorang yang semester 1 nya IPK 4, semester 2 nya IPK 2, Semester 4 IPK 4 lagi, atau seseorang yang secara konsisten IPKnya selalu 4 atau di atas 3,5 ?

    Kemudian jika ada beberapa mahasiswa potensial yang IPK kumulatifnya 4, namun ada yang baru semester 2 dan ada yang semester 7, mahasiswa manakah yang anda pilih? Apakah ada kemungkinan anda memilih mahasiswa yang secara rata-rata IPK bukan yang terbaik namun menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dan berhasil meyakinkan anda?

    Kemudian setelah menentukan pilihan yang terbaik menurut analisa anda, apakah itu menjamin dia pasti menang?

    Kira2 analoginya yang sama juga bisa digunakan pada reksa dana. Enaknya di reksa dana, karena nominal untuk berinvestasi yang kecil, jika kita ragu, bisa beli dua-duanya. Sementara pada kasus di atas, hanya 1 orang yang bisa maju.

    Semoga bermanfaat.

  14. Willy
    June 9th, 2013 at 19:46 | #14

    Seperti Bung Rudi disini, saya percaya kalau IHSG pasti akan menembus 10.000 dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.

    NAMUN! Saya juga yakin kalau kita akan mengalami paling tidak satu krisis besar lagi dalam 10 tahun ke depan. Bukan apa2, sistem pasar bebas memang selalu ada siklus bullish dan bearish-nya. Indonesia sudah mengalami krisis besar pas 1998 (dipicu oleh Asian financial crisis) dan 2008 (dipicu oleh sub-prime mortgage crisis). Siapa tahu IHSG ternyata konsisten dengan siklus krisis besar 10 tahun-an, dan terjadi sesuatu yang ‘menarik’ pada 2018? Bukan masalah besar sih bagi investor jangka panjang karena harga saham juga selalu kembali melonjak setelah krisis berlalu.

    Dengan kata lain, saya memikirkan skenario yang lebih realistis. Tidak seperti Bung Rudi yang sangat optimis IHSG terus tumbuh tanpa henti selama beberapa tahun ke depan, saya justru mengantisipasi terjadinya satu krisis besar lagi yang mana IHSG bisa turun sampai berlebih-lebihan. Jika rekan2 disini tidak setuju, ingat pas tahun 2007 semua orang seperti ‘lupa daratan’ karena IHSG terus naik setiap hari berkat BUMI dkk. Ternyata berkat saham itu juga saham IHSG kembali jatuh ‘ke-BUMI’ pas 2008.

  15. Rudiyanto
    June 9th, 2013 at 22:34 | #15

    @Willy
    Kalau menurut saya skenario kamu bukan realistis tapi lebih tepatnya pesimistis. Sebab dengan konsep 72, jika IHSG menjadi 10.000 dalam 10 tahun, berarti setiap tahun asumsi kenaikan IHSG adalah 7,2%.

    Jika target returnnya hanya 7.2%, maka saya berani yakin semua dana pensiun, asuransi, yayasan dan perusahaan korporasi di Indonesia yang berinvestasi di saham atau reksa dana saham akan menarik dananya dari pasar saham dan memindahkan ke deposito.

    Sebab dengan dana mereka saat ini, bunga deposito yang mereka peroleh bisa menjadi 5- 7% tanpa risiko fluktuasi harga. Untuk apa mengambil risiko investasi saham jika hasil investasinya hanya 7.2% per tahun.

    Saya sebagai investor perorangan pun tentunya akan tidak mau lagi berinvestasi di reksa dana, sebab dengan tingkat return yang demikian kecil sudah tidak sepadan dengan risiko yang saya ambil. Hasil pengembangannya pun sudah pasti tidak akan mencukupi tujuan finansial saya di masa mendatang. Jadi daripada dikembangbiakan di saham, lebih baik saya pakai untuk buka warung atau usaha yang lain, siapa tahu lebih untung. Toh juga sama-sama mengambil risiko. Selain itu, saya juga akan mempertimbangkan untuk masuk ke profesi lain dan berhenti menulis blog ini. Sebab dengan asumsi return jangka panjang yang hanya secuil jumlah investor / peminat sudah pasti akan berkurang dari tahun ke tahun.

    Dan jika skenario tersebut benar2 terjadi, maka krisis besar di saham yang akan muncul bukan dipicu oleh krisis asia atau krisis subprime mortgage tapi oleh pendapat yang pesimis dan ketidakpercayaan akan perekonomian dan kemampuan korporasi Indonesia dalam menghasilkan keuntungan.

    Apakah Return IHSG 7.2% per tahun dalam jangka panjang pernah terjadi? Tentu pernah, wong data IHSG historis selama 15 tahun yang pernah saya teliti pernah cuma memberikan return 3.2% per tahun selama 15 tahun. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/02/apakah-investasi-saham-jangka-panjang-pasti-menguntungkan/ Apakah sering, tidak. Apakah akan terjadi lagi? Tidak tahu.

    Semua perhitungan di atas dilakukan dengan memasukkan angka2 dan sumber yang jelas tanpa melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan. Pasar modal juga bukan merupakan pasar yang naik dengan garis lurus, tentu ada volatilitas dalam proses yang dilaluinya, terkadang fluktuasinya bisa tinggi hingga mencapai puluhan persen seperti pada tahun 2008, sebagai investor reksa dana saham, memang sudah harus aware dan menerima risiko tersebut. Jika cara analisa dan berpikir di atas dianggap sangat optimis, maka itu hanya masalah sudut pandang, sama seperti saya memandang cara berpikir kamu yang sangat pesimis.

    Bisnis pengelolaan dana adalah bisnis berbasis kepercayaan. Bukan saja kepercayaan pada si pengelola, tapi juga outlook akan kondisi ekonomi yang ada. Jika memang tidak bisa percaya ya tidak apa2. Masih banyak alternatif yang bisa membantu kita dalam mencapai tujuan keuangan. Asal jangan terjebak skema investasi emas bodong saja.

    Semoga bermanfaat dan terima kasih untuk masukannya.

  16. February 9th, 2014 at 12:15 | #16

    Dear Pak Rudi,

    Biasanya saya menggunakan perhitungan yang lebih sederhana menggunakan patokan harga beras per kilogram. Maksud saya ujung2nya investasi kita kan tujuannya untuk konsumsi di kemudian hari juga, betul tidak? Kalo uang yang kita sisihkan hari ini untuk investasi misalnya cukup untuk membeli 1 kg beras, tentunya kita berharap bahwa di kemudian hari kita bisa memetik hasilnya yang cukup untuk membeli lebih dari 1 kg beras dengan kualitas yang setara.

    Pada tahun 1997 IHSG mencapai puncaknya di level 740. Pada saat yang sama harga beras kualitas medium kira2 Rp 1.000,-/kg. Saat ini harga beras dengan kualitas yang kira2 setara sekitar Rp 8.000,-/kg. Maka seyogyanya IHSG baru impas di angka 5.900. Apalagi jika kita berharap investasi kita tumbuh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional (rata-rata 6-7% per tahun). Taruhlah minimal 10% per tahun.

    Maka sewajarnya setelah lewat 16 tahun, investasi kita berlipat 4.6x nilai awalnya. Singkat kata investasi saham di bursa efek Indonesia baru AGAK MENARIK jika IHSG saat ini ada di level 27.000. Dengan hasil di bawah angka tersebut, investasi kita masih di bayang-bayangi inflasi NYATA (bukan hasil kutak katik birokrat ABS).

    Atau jika kita gunakan patokan harga emas sebagai indikator inflasi riil, pada tahun 1997 harga emas ada di angka Rp 26.000,-/gram. Sedangkan hari ini sebagaimana kita ketahui harga emas ada di atas Rp 400.000,-/gram, malah pernah mencapai Rp 500.000,-/gram. Maka IHSG baru bisa kita katakan menarik (dengan asumsi pertumbuhan 10% pertahun) jika saat ini ada di level 52.000-65.000 . Karena jika baru di 11.000-14.000 saja berarti masih kalah dari kinerja harga emas.

    Kalo begitu kenapa kita tetap memilih berinvestasi di instrumen saham? Karena dengan fleksibilitas keluar masuk buy low sell high, instrumen saham tetap punya potensi gain yang paling baik daripada fixed income (deposito, obligasi, dll). Potensi high return ini tentunya high risk juga.

    Bukan begitu Pak Rudi?

    (lihat juga http://yohans.wordpress.com/2008/03/16/dalam-20-tahun-terakhir-sejak-bej-berdiri-ihsg-belum-mampu-melampui-kenaikan-harga-beras/)

  17. Rudiyanto
    February 11th, 2014 at 15:36 | #17

    @Alex
    Salam Alex,
    Terima kasih atas komentarnya yang cukup panjang. Komentar saya :
    1. Kalau kamu membandingkan harga beras saja dengan IHSG itu kurang fair. Sebab IHSG merupakan harga saham secara keseluruhan sementara beras hanya 1 item saja. Saya bisa saja menggunakan saham Unilever sebagai patokan dimana:
    Pada tahun 1997 harganya sekitar 310 dan sekarang 28.000.
    Itu pun tanpa memperhitungkan dividennya saja sudah naik 8932%.

    Atau mengapa kamu tidak menggunakan harga HP sebagai patokan. Berapa harga HP ketika teknologi HP masih mahal pada zaman tersebut dan bandingkan dengan HP Zaman sekarang mulai dari 200.000 hingga 10 jutaan masih ada?

    Jika mau menggunakan IHSG sebagai patokan, maka yang cocok menurut saya adalah dengan data UMR atau UMP. Sebab dengan UMR atau UMP diasumsikan seseorang bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Berdasarkan informasi http://jakarta.bps.go.id/flip/jda2013/files/assets/basic-html/page167.html

    UMR tahun 1997 adalah sebesar 172.500 dan pada tahun 2013 adalah sebesar 2.200.000.
    Saya tidak tahu darimana anda mendapatkan harga emas tahun 1997 sebesar Rp 11.000 – 14.000 tapi saya mendapat harga emas tahun 1997 sebesar USD 283 – 368 dari http://www.usagold.com/reference/prices/1997.html

    2. Terkait perhitungan anda, maka supaya gampang, mari kita hitung persentasenya
    IHSG 1997 = 740 IHSG Sekarang = 4500 = +508%
    UMP 1997 = 172.500 UMP Sekarang = 2.200.000 = +11.753%
    Harga Emas 1997 = 368 Emas Sekarang = 1283 = +248%

    Jadi dengan semua data historisnya bisa saya buktikan sumber-sumbernya tersebut:
    1. Bahwa memang benar, kenaikan IHSG tidak sebaik kenaikan harga untuk mencukupi kebutuhan JIKA menggunakan UMP sebagai patokan. Tapi bukankah dengan emas juga hasilnya lebih kecil daripada saham?
    Kalau yang saya tangkap dari artikel / komentar di atas, kamu ingin menunjukkan emas lebih baik bukan?

    2. Jika emas hasilnya lebih kecil (berdasarkan data yang saya cantumkan) dan saham menurut kamu tidak menarik, dimana kamu ingin berinvestasi?

    Terkait investasi emas juga bisa baca pendapat saya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/20/saatnya-beli-emas/

    Semoga bermanfaat.

  18. ari
    October 18th, 2014 at 23:18 | #18

    @Alex and @Mr.Rudi

    Coba kita perhatikan perbandingan antara GDP suatu negara dengan Index sahamnya. Ekonomi riil tertinggal dengan index saham. Jika program pemerintah saham harus naik, bank sentral dengan cara apa pun harus menaikkan saham, walau dengan shadow bank operation (membeli saham di pasar melalui pihak terselubung).

    Ada yang mengatakan bahwa untuk menaikkan saham dow jones setelah 2008 hingga sekarang, The fed telah menggelontorkan dana $29T. Sampai kapan the Fed bisa menyelamatkan pasar keuangan dunia? Tentu yang namanya numerik/angka di komputer the Fed itu infinite, bisa saja The fed menggelontorkan dana lagi $29.000.000T, siapa yang berani melarang?

    Mungkin akan terjadi kerusuhan kecil dimana-mana, tetapi dunia akan tetap ada, jual-beli tetap ada, USA dengan The Fednya akan menjadi weimar german dengan hyperinflasi. Posisi pemegang keuangan dunia mungkin beralih ke Euro Eropa lalu ke Reminbi China.

    Skenario yang negatif tapi bukan maksud untuk menakut-nakuti, malah mengajak untuk mengambil keuntungan dari segala hal yang menakutkan diatas.

    Setiap kali terjadi krisis dan ada talangan QE tentu kita akan masuk ke saham, karena aliran uang kesana, beli saat murah jual saat mahal. Saat terlalu mahal, greedometer mencapai puncak, kita ke hard asset seperti emas.

    PER juga baik dijadikan pegangan menurut saya, PER 16, harus nunggu earning 16 tahun baru balik modal. Semakin besar PER tentu kita menjauhi saham.

    Jika emas tidak menarik, saham tidak menarik, saya lebih baik pegang uang cash, cash is king, sambil menunggu instrumen investasi yang dijauhi/murah untuk dibeli. Begitu seterusnya.

    Beli murah jual mahal (teringat pesan orangtua)
    Jangan sampai kehilangan uang, nambah walau dikit boleh, kurang jangan.

  19. Michael Janitra
    September 16th, 2015 at 22:23 | #19

    Permisi tanya, untuk harga saham tahun 1990-2000 an bisa lihat di mana ya? Yahoo finance tidak tersedia. Terima kasih.

  20. Rudiyanto
    September 18th, 2015 at 10:14 | #20

    @Michael Janitra
    Selamat Pagi Michael,

    Saya juga tidak tahu. Sebaiknya menggunakan data dari periode yang tersedia saja.

    Semoga bermanfaat

  21. udin
    May 9th, 2016 at 22:24 | #21

    Pak Rudi, melihat keadaan ekonomi saat ini index paling smp akhir thn bs mencapai 5.500-6.000 sdh bgs klo untuk 8.000 terlalu jauh pak, semoga Pak Rudi bs berikan riset terbaru nya lagi.di tunggu y pak

  22. Rudiyanto
    May 9th, 2016 at 23:43 | #22

    @udin
    Selamat malam Pak Udin,

    Untuk riset ini sebenarnya sudah saya update di 2014. Bisa dibaca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/11/19/apakah-harga-wajar-ihsg-bisa-mencapai-15-000-di-era-jokowi-jk/

    Semoga bermanfaat

 


%d bloggers like this: