Home > Perencanaan Investasi > Kiat Investasi Untuk Para Pensiunan

Kiat Investasi Untuk Para Pensiunan

Ketika sudah memasuki masa pensiun, umumnya aktivitas keseharian akan berkurang secara signifikan. Selain itu, pensiunan juga akan memperoleh sejumlah uang baik itu secara berkala ataupun sekaligus di muka sebagai pesangon dari pihak perusahaan. Karena dirasakan kurang atau menginginkan masa pensiun yang lebih baik, sebagian dari pensiunan tentu berpikir untuk menginvestasikan dananya. Pertanyaannya bagaimana kiat investasi yang baik bagi pensiunan?

Dari sudut pandang keuangan, perbedaan antara pensiunan dengan orang dalam masa produktif adalah adalah menurun atau hilangnya pendapatan reguler bulanan. Penurunan ini akan sangat berakibat pada profil risiko seseorang karena orang yang masih memiliki penghasilan akan lebih bisa menghadapi risiko kerugian. Logikanya, ketika terjadi kerugian, uang masih dapat dicari kembali melalui bekerja.

Sementara bagi orang yang sudah pensiun, bisa jadi dana yang diinvestasikan merupakan satu-satunya dana yang dimiliki. Akibatnya, tidak siap untuk menghadapi fluktuasi harga dan terlalu memperhatikan pergerakan hasil investasinya. Oleh karena itu, biasanya produk investasi yang dipilih adalah yang relatif aman dan memberikan bunga tetap seperti deposito.

Malangnya, di negeri ini masih terdapat penipu tidak berhati nurani yang menawarkan skema investasi bodong dengan hasil yang tetap. Tidak jarang, investor pensiunan terjebak dan kehilangan dana pensiunannya dalam skema investasi bodong seperti ini.

Oleh karena itu, bagi para pensiunan atau orang yang akan pensiun dalam waktu beberapa tahun mendatang, sebaiknya disarankan melakukan persiapan dengan baik sebelum melakukan investasi. Beberapa persiapan yang dapat dilakukan antara lain:

Menghitung Kebutuhan Pensiun

Pada dasarnya investasi adalah Salah Satu Cara untuk mencapai tujuan keuangan. Apabila tujuan keuangan yang dimiliki sudah bisa dicapai dengan dana yang ada saat ini, maka sebetulnya kita tidak perlu berinvestasi. Namun apabila dana yang ada masih belum cukup, barulah kita mencoba mencari jalan keluarnya.

Jadi, kunci utama dalam persiapan pensiun adalah menghitung kebutuhan pensiun. Untuk memudahkan, berikut saya membuat satu simulasi perhitungan sederhana. Beberapa asumsi yang saya gunakan adalah inflasi 5%, bunga deposito 4% net dan kebutuhan hidup dari rentang 2.5 juta – 12.5 juta per bulan. Hasil simulasi saya adalah sebagai berikut:

Kebutuhan Hidup Per Bulan Kebutuhan Pensiun
10 Tahun 15 Tahun
2,500,000 316,331,961 486,218,318
5,000,000 632,663,921 972,436,637
7,500,000 948,995,882 1,458,654,955
10,000,000 1,265,327,843 1,944,873,274
12,500,000 1,581,659,803 2,431,091,592

 

Cara membaca tabel di atas adalah seperti ini, jika saat ini anda akan pensiun. Dengan kebutuhan hidup katakanlah Rp 5 juta per bulan, maka agar bisa tetap mempertahankan gaya hidup yang sama selama 10 tahun ke depan dengan inflasi 5% per tahun, anda harus menabung sebesar Rp 632 juta ke tabungan / deposito yang bisa memberikan bunga 4% net per tahun (Gross 5%).

Pada tahun pertama, kita menarik dana senilai Rp 5 juta per bulan selama 12 bulan, kemudian pada tahun kedua, penarikan naik menjadi Rp 5.250.000 dengan asumsi ada kenaikan inflasi sebesar 5% per tahun. Besaran kenaikan tersebut naik lagi 5% pada tahun ketiga dan seterusnya.

Jika anda berharap bisa cukup untuk 15 tahun ke depan, maka setidaknya dengan pengeluaran Rp 5 juta per bulan saat ini, maka anda harus punya dana sekitar Rp 972 juta. Di luar angka tersebut, setidaknya pensiunan harus menyisihkan antara Rp 25 juta – Rp 50 juta sebagai dana cadangan untuk kebutuhan mendadak atau menanggulangi biaya kesehatan.

Merekap Jumlah Aset Yang Dimiliki

Langkah kedua adalah merekapitulasi dan menata kembali jumlah aset yang dimiliki. Jumlah aset yang ada kemudian dibagi menjadi 2 yaitu aset produktif dan aset investasi. Aset produktif, adalah aset yang masih bisa menghasilkan tambahan uang bagi kita seperti manfaat pensiun bulanan dari dana pensiun perusahaan tempat kita bekerja, kontrakan, deposito, obligasi dan reksa dana terproteksi. Hitung juga, kira-kira dari Aset Produktif tersebut, kira2 berapa pendapatan bulanan yang bisa diperoleh dari aset tersebut. Misalkan 5, 10, atau 15 juta per bulan.

Aset investasi adalah aset yang nilainya bisa naik turun namun tidak memberikan pendapatan secara berkala. Kemudian diurutkan dari yang paling mudah dijual sampai yang proses penjualannya butuh waktu seperti uang cash, valuta asing, reksa dana (RD) pasar uang, RD pendapatan tetap, RD campuran, RD saham, saham, emas, rumah kedua, tanah, gedung, kebun, dan aset properti lainnya.

Mempertimbangkan Apakah Mau Berinvestasi atau Tidak

Langkah ketiga adalah memutuskan mau berinvestasi atau tidak berdasarkan, pengeluaran bulanan, kebutuhan pensiun, pendapatan bulanan dari aset produktif dan atau aset investasi yang dimiliki.

Sebagai contoh, apabila pendapatan bulanan dari Aset Produktif anda sudah 150% – 200% dari pengeluaran bulanan maka kondisi tersebut sudah sangat ideal. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana mau pensiun nanti. Misalkan pengeluaran anda Rp 5 juta, namun penghasilan dari aset produktif adalah 7.5 – 10 juta. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara pembagian warisannya.

Kondisi ideal lainnya adalah mungkin pendapatan bulanan tidak cukup atau kecil, namun aset investasi anda lebih besar dari kebutuhan pensiun. Sebagai contoh, untuk bisa pensiun anda butuh sekitar Rp 972 juta, namun nilai pasar rumah kedua, reksa dana, saham, dan atau koleksi emas perhiasan anda sudah sekitar Rp 2 milliar. Anda hanya harus menjual aset tersebut, dan mengubahkan dalam bentuk Deposito atau tabungan yang sangat mudah ditarik dan menikmati bunganya.

Kondisi yang kurang ideal misalnya seperti pendapatan bulanan yang kecil atau bahkan tidak ada dan total semua aset yang dimiliki ternyata masih kurang dari perkiraan kebutuhan untuk pensiun. Dari pemaparan di atas, menurut anda, kelompok mana yang sebaiknya melakukan investasi dan mana yang tidak…..?

Menurut saya, kelompok pensiunan yang sebaiknya melakukan investasi adalah kelompok pensiunan yang kondisi keuangannya sudah ideal. Pensiunan yang kondisinya belum ideal, sebaiknya fokus pada kontrol pengeluaran dan mencoba mendapatkan bantuan sosial baik dari pemerintah, yayasan, perusahaan, ataupun keluarga. Sebab jika dipaksakan untuk berinvestasi, dikhawatirkan tidak siap, terlalu konservatif, atau bahkan bisa terjebak pada investasi bodong.

Bagi yang melakukan investasi, pertama-tama harus menentukan tujuan. Umumnya tujuan investasi pada saat pensiun sifatnya sudah lebih berorientasi kepada orang lain dibandingkan diri sendiri. Seperti menyiapkan warisan untuk anak, keluarga, atau yayasan sosial. Namun jangan lupa, investor harus mencadangkan dana sebesar kebutuhan pensiun sesuai gaya hidup yang ditempatkan pada instrumen yang aman seperti deposito. Baru sisanya yang boleh diinvestasikan.

Demikian artikel ini saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Perencanaan Investasi Tags:
  1. bunda abim
    September 6th, 2013 at 15:55 | #1

    dear pak rudi:
    saya dan suami (32 dan 33thn) sama2 bekerja dengan penghasilan sekitar 9,5 jt setiap bulan,3 org anak umur 6thn ,2thn,dan 5 bulan, punya cicilan KPR 500rb/bln, , dana talangan haji 1,3jt/bln, sewa rmh 6jt/thn gaji pembantu 1,2jt/bln, asuransi pendidikan dan kesehatan anak no 3 350rb/bln, sisanya untuk belanja, bayar hutang pd ortu dan rencana tabungan berupa emas 1 gr yg dbeli tiap bulan, dan saat ini sama sekali tidak punya tabungan.
    dlm wkt dekat suami sy akan menerima warisan kira2 sebesar 2M, sy berencana menginvestasikan sebagian uang untk membeli kebun kelapa sawit dan karet, sebagian untuk membeli franchise (tp blm tau usaha apa), beli mobil baru krn mobil yg skrg sdh tua sehingga lbh sering menguras uang untuk ke bengkel, membeli asuransi pendidikan untuk anak pertama dan kedua. mohon sarannya berapa persen dan kemana uang tersebut diinvestasikan mengingat kami sm sekali tidak punya pengalam bisnis, dan apakah perlu salah satu dari kami untuk berhenti bekerja dan menjalankan bisnis, terimakasih.

  2. Rudiyanto
    September 9th, 2013 at 09:33 | #2

    @bunda abim
    Salam Bunda Abim,

    Supaya nasihatnya lebih jelas, apakah anda bisa merinci semua pendapatan dan pengeluaran anda setiap bulannya baik yang saat ini ada dan ataupun yang masa depan akan ada. Contoh:
    Pendapatan Rp xx per Bulan
    Pengeluaran:
    KPR Rp xx
    Dana Talangan Haji Rp xx
    dll Rp xx

    Sebab informasi di atas tidak lengkap. Dan untuk biaya yang per tahun, bisa langsung kamu bagi 12, asumsinya kamu sisihkan setiap bulan.

    Kemudian karena anak anda 3 dan masih kecil, tentu akan ada biaya2 di masa depan yang akan datang. Jadi sebaiknya kamu buat perkiraan juga seperti biaya sekolah, playgroup, dll.

    Tujuan dari itu adalah untuk mengetahui apakah sebetulnya gaji anda cukup atau tidak setiap bulannya. Baru setelah itu, dana warisan anda punya bayangan sebaiknya diapakan.

    Saya tunggu informasinya. Terima kasih.

  3. bunda abim
    September 13th, 2013 at 12:02 | #3

    Dear pak rudi,
    Sebelumnya terimakasih infonya.
    Saya perbaiki Pendapatan saya dan suami 10,6 jt / bulan
    Pengeluaran:
    Belanja : 2.500.000.-
    Dana Talangan Haji : 1.300.000.-
    KPR : 500.000.-
    Listrik/Telepon : 250.000.-
    Asisten RT : 1.200.000.-
    Asuransi pendidikan : 350.000.-
    Belanja Mertua ( Janda ) : 500.000.-
    Bayar Utang Ke Ortu : 700.000.-
    Sewa rumah : 500.000.-
    Tabungan : 700.000.-
    Rencana Sekolah anak : 300.000.-
    Rencana Asuransi Anak 1 dan 2 : 700.000.-
    BBM dan pemeliharaan : 300.000.-
    Dana Cadangan : 1.500.000.-

    Dan saat ini kami sama sekali tidak punya tabungan, mungkin bapak heran bagaimana mgkn tidak punya tabungan, tahun 2010 km menjadi korban penipuan yg menyebabkan seluruh tabungan kami saat itu ditambah kredit bank selama 3 thn lenyap, jd br bln agustus ini kami selesai mencicil kredit tsb.
    Selain untuk membeli kebun dan franchise sy jg berniat untuk berinvestasi melalui reksa dana, mnrt bpk jenis reksadana spt apa yg cocok, dan berapa banyak?
    Terimakasih sblmnya atas jwbnnya.

  4. Rudiyanto
    September 18th, 2013 at 00:44 | #4

    @bunda abim
    Yth Bunda Abim,

    Terima kasih sudah melengkapi informasi yang dibutuhkan.

    Pertama-tama saya turut prihatin dengan kejadian penipuan yang anda alami. Semoga kejadian membawa hikmah bagi kita semua untuk berhati-hati dalam semua tindakan yang kita ambil.

    Kemudian, terkait pertanyaan anda, Kalau saya analisa secara sederhana, Pendapatan gabungan 10,6 juta. Kemudian jika jika dana cadangan yang kamu maksud adalah uang cash yang dipegang dan bukan merupakan uang yang disisihkan setiap bulannya, maka total pengeluaran anda per bulan adalah Rp 9,8 juta. Berarti sisanya Rp 800 rb.

    Jika dana cadangan adalah uang yang disisihkan berarti total pengeluaran anda adalah Rp 11,3 juta atau anda defisit Rp 700rb setiap bulan.

    Untuk diskusinya, skenario yang saya ambil adalah skenario terburuk dimana anda minus 700rb setiap bulan. Jika saya jadi anda, dimana saya mendapat warisan 2 M, maka yang saya lakukan adalah
    1. Menyisihkan uang untuk dana darurat, 11,3 juta x 12 = Rp 270 juta. Atau bisa juga sampai Rp 300 juta. Uang ini akan saya taroh di Deposito Breakable yang bunganya maksimal. Maksudnya Deposito breakable, anda mendapat rate setinggi bunga deposito namun bisa dicairkan sewaktu-waktu.

    2. Jika memang membeli mobil adalah kebutuhan, maka anggaplah anda membeli Inova. Karena tidak tahu harga pasaran, anggap saja Rp 250 juta. Namun setelah itu anda harus bersiap2 dengan pengeluaran tambahan Rp 1 juta per bulan untuk BBM, Parkir dan Tol. Angka itu MINIMAL. Dengan demikian total pengeluaran anda per bulan naik dari Rp 11,3 juta menjadi Rp 12,3 juta. Dan defisit anda menjadi 1,7 juta (penghasilan 10,6)

    3. Di atas disebutkan ada utang ke Orang Tua yang dicicil setiap bulan, karena mendapat rezeki kalau menurut saya sebaiknya juga dibagikan juga ke orang tua, katakanlah Rp 250 juta. Kemudian utang anda lunas, sehingga pengeluaran berkurang 700rb menjadi Rp 11,6 juta. Defisit menjadi Rp 1 juta per bulan.

    Setelah melakukan 3 hal di atas, maka uang Rp 2 M anda tinggal 1,2 M. (300 + 250 +250 = 800 Juta). Sampai disini masalah anda masih ada satu masalah yaitu defisit 1 juta setiap bulannya. Itupun dengan asumsi, semua pengeluaran tambahan seiring dengan anak anda yang semakin besar tersebut sudah anda perhitungkan dalam biaya anda.

    Jadi yang harus dilakukan adalah bagaimana supaya uang Rp 1,2 M tersebut bisa menutupi defisit yang anda alami dan mencapai keinginan anda seperti investasi kebun, franchaise atau reksa dana.

    Dengan asumsi bunga 5% net per tahun, uang Rp 1,2 M di deposito akan menghasilkan Rp 5 juta per bulan. Jika anda mencari jalan yang paling aman, yaitu tetap bekerja di pekerjaan yang sudah ada, lifestyle tetap dijaga karena banyak orang yang hidup sederhana bisa lepas kontrol ketika mendapat uang dalam jumlah besar, maka uang tersebut cukup didepositokan saja, hidup keluarga anda sudah nyaman. Sebab penghasilan akan bertambah menjadi Rp 10,6 juta + 5 Juta = Rp 15,6 juta per bulan.

    Jalur yang agak mengandung risiko adalah anda menginvestasikan dana tersebut ke reksa dana. Dengan berinvestasi di reksa dana, anda dan suami anda tetap dapat melanjutkan pekerjaan anda yang sekarang dan membiarkan Manajer Investasi fokus bekerja mengembangkan dana tersebut. Namun ada risiko naik turun harga yang harus anda pahami dan siap hadapi.

    Jalur yang menurut saya sangat berisiko adalah anda berbisnis. Sebab menurut saya bisnis adalah investasi yang returnnya paling tinggi tapi modalnya juga paling banyak. Sebab kita tidak hanya mencurahkan uang, tapi juga waktu, tenaga dan pikiran. Bagi kita-kita yang sudah terbiasa bekerja dan mendapat gaji, berbisnis merupakan salah satu pilihan besar dalam hidup. Dimana pilihan tersebut bisa mengubah hidup kita secara drastis, antara menjadi pengusaha kaya raya atau kehilangan modal karena gagal berbisnis. Jadi jika investasi kebun dan franchaise adalah sesuatu yang BENAR-BENAR anda idam-idamkan dari dulu-dulu, maka anda bisa melakukannya. Tapi jika anda melakukannya hanya karena kebetulan ada kelebihan uang dan seseorang yang anda kenal menawarkan kepada anda dan menjanjikan hasil investasi tinggi, maka saran saya sebaiknya kamu pikir2 lagi.

    Apabila investasi kebun dan franchaise ternyata tidak membutuhkan nilai hingga Rp 1,2 M, anda mau bagi antara bisnis riil dan reksa dana juga sebetulnya terserah. Pesan saya, jangan berbisnis hanya karena anda memiliki kelebihan uang saja, lakukanlah sesuatu yang memang anda kuasai dengan baik.

    Jika memang ahlinya dalam menjadi karyawan orang dan nyaman dengan kondisi tersebut, maka tetaplah jadi karyawan. Jika anda memang ingin sekali menjadi pengusaha tapi tidak pernah kesampaian, maka lakukanlah meskipun tidak mendapatkan warisan tersebut. Dimana ada usaha disitu ada jalan.

    Kesimpulan saya, amankan dana darurat, ganti mobil, bayar utang, dan tetapkan mau tetap kerja atau berusaha. Mudah-mudahan setelah semua anda lakukan, anda bisa memutuskan sendiri mau diapakah uang tersebut.

    Demikian sharing saya, semoga bermanfaat. Anda juga bisa berkonsultasi dengan perencana keuangan independen untuk pendapat yang lebih profesional. Disini saya sekedar memberikan pendapat dari salah satu sudut pandang saja.

  5. bunda abim
    September 20th, 2013 at 08:08 | #5

    terimakasih banyak pak Rudi atas sarannya, cukup membuka wawasan dan pola pikir saya dan saran bapak akan jadi bahan pertimbangan, terimakasih :-)

  6. William
    December 6th, 2014 at 18:21 | #6

    Pak Rudi Yth.
    Boleh minta sarannya untuk karyawan swasta seperti saya. Umur 32 th, belum ada rencana menikah. Hidup dengan ortu. Gaji per bulan 16 juta. Penyisihan penghasilan per bulan Rp 4 juta untuk biaya operasional di rumah, biaya operasional pribadi bulanan Rp 3-5 juta. Investasi di beberapa reksadana (kebanyakan equity sekitar 20juta dan sisanya reksadana terproteksi sekitar 75juta) dan juga saham secara langsung (saham LQ45 – nilai investasi sekitar 50-60juta). Tidak memiliki aset signifikan seperti rumah atau kendaraan. Asuransi di unit link per tahun 3,6 juta (sudah jalan 6 tahun). Adapun pembelian di reksadana tidak ada tujuan hanya sebagai tabungan.
    Pertanyaan saya :
    1. Bagaimana saya meningkatkan atau memaksimalkan nilai aset saya ?
    2. Saya berencana membeli rumah dengan cara KPR (namun rumah yang ingin dibeli adalah di daerah Jakarta Pusat, Barat atau Utara dimana harganya sudah tinggi sekali) dan memikirkan DP yang berat karena berarti harus mengorbankan / menguras seluruh aset saya. Ada saran untuk hal ini ?
    3. Bilamana seseorang bersertifikasi CFP, bagaimana org tersebut dapat memaksimalkan gelar tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan ?

    Terima kasih banyak Pak Rudi.

  7. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 00:43 | #7

    @William
    Malam Pak William,

    Terima kasih atas kesediaan anda sharing informasi keuangannya. Kalau perkiraan saya, setiap bulannya anda bisa menyisihkan setidaknya Rp 5 juta untuk diinvestasikan, angka yang tidak kecil menurut saya. Namun itu karena anda tidak mencicil rumah atau kendaraan. Sebenarnya kalau tinggal dengan orang tua juga tidak masalah. Kalau rumahnya sudah bagus, nyaman, homie dan hubungan dengan keluarga juga baik, kenapa tidak?

    Uang yang bisa kamu hemat bisa kamu pakai untuk membuat pesta pernikahan yang mewah, jalan-jalan keluar negeri, memiliki hobi yang mahal atau sekadar berfoya-foya.

    Berkaitan dengan pertanyaan anda:
    1. Yang kamu lakukan sudah benar, “mempekerjakan” uang kamu di reksa dana dan saham adalah cara untuk meningkatkan nilai aset. Kalau memaksimalkan, itu kamu fokuskan semua di satu instrumen yang kamu yakin “cuan”nya paling tinggi dan paling kamu pahami.

    2. Kalau keberatannya adalah soal harga yang terlalu mahal bisa pertimbangkan untuk beli apartement secara KPA.
    Tapi kalau keberatannya adalah aset yang sudah dikumpulkan di investasi terpaksa harus dijual untuk bayar DP, berarti itu masalah prioritas. Mau punya tempat tinggal sendiri atau tidak. Kalau tinggal dengan orang tua juga it’s ok seperti komentar saya di atas ya tidak usah dipaksakan untuk punya tempat tinggal sendiri.

    3. Umumnya perencana keuangan dibayar dari biaya konsultasi, komisi atas penjualan produk investasi (meskipun mungkin tidak semua mengakuinya), sebagai pembicara, honor menulis artikel, royalti menulis buku, atau terkadang sebagai EO sekaligus pembicara yang mengorganisasi suatu event seminar atau talkshow. Sertifikasi CFP itu sifatnya mendukung, tapi lebih penting lagi punya skill untuk melakukan hal di atas dengan baik sehingga mendapat bayaran yang pantas. Kalau menurut saya gaji di tempat kerja anda sudah lumayan, belum lagi ada penghasilan dari THR, Insentif dan Bonus. Kalau kerja dengan baik, siapa tahu kenaikan gajinya lumayan. Atau bisa dapat softloan dari kantor untuk cicilan rumah / apartement juga sudah baik. Sebab dengan bunga KPR / KPA sekarang, bunga yang dibayarkan sudah seharga tempat tinggalnya, jadi bisa hemat bunga pinjaman saja sudah cukup kok. Plus bos anda tidak usah ketar-ketir anda kehilangan fokus karena sibuk dengan pekerjaan tambahan di luar.

    Semoga bermanfaat.

  8. dwiky
    November 16th, 2015 at 16:03 | #8

    malam pak rudi

    saya ingin bertanya apakah ada cara untuk mengembangkan pola investasi reguler?
    terima kasih

  9. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 10:25 | #9

    @dwiky
    Siang Pak Dwiky,

    Ada pak, selama ini investasi reguler hanya didasarkan pada kemampuan keuangan. Misalkan mampunya menyisihkan Rp 1 juta per bulan, maka disisihkan jumlah yang segitu. Padahal yang lebih tepat adalah investasi reguler harusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Misalkan untuk kebutuhan pendidikan anak, butuh Rp 500 rb per bulan, untuk kebutuhan pensiun Rp 250rb per bulan, maka totalnya cukup Rp 750 rb per bulan.

    Demikian pak, semoga bermanfaat.

  10. Selvi
    January 3rd, 2016 at 16:52 | #10

    Hallo pak Rudi, saya Selvi sekarang umur 20 tahun dari Riau, tujuan saya sewaktu umur 35 tahun, saya bisa menghasilkan pendapatan sampingan 10juta per bulan selama 20 tahun kedepannya

    Saya mau tanya berapa yang harus disisihkan setiap bulan dan dana ini sebaiknya disisihkan kemana ya deposito/investasi/dll supaya 15 tahun lagi bisa menghasilkan dana yang seperti saya inginkan ? Kalau deposito bagusnya bank apa yang bapak rekomendasikan ? Kalau investasi investasi dalam bentuk apa ? Terimakasih

  11. Rudiyanto
    January 4th, 2016 at 01:00 | #11

    @Selvi
    Salam Ibu Selvi,

    Untuk tujuan keuangan anda, dengan asumsi bunga deposito bank nantinya adalah 6% net per tahun, maka anda harus punya Rp 2 M supaya mendapat bunga Rp 120 juta per tahun atau Rp 10 juta per bulan.

    Untuk mencari tahu bagaimana supaya bisa dapat Rp 2 M 15 tahun kemudian bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Anda juga bisa mensimulasikan sendiri besarnya kebutuhan jika mengumpulkannya via deposito atau investasi. Silakan dicoba, semoga bermanfaat.

  12. fitri
    August 17th, 2016 at 07:47 | #12

    Pak Rudi yang baik,
    .
    Sy sekadar ingin ucapkan: semoga Bapak Rudi selalu diberi kesehatan dan rezeki oleh Tuhan YME. Selalu behagia untuk pak Rudi dan keluarga.
    Ulasan problem solving pak Rudi gampang dicerna, rasional, mengena dalam pola perilaku kehidupan sehari-hari. Terima kasih banyak Pak Rudi.

  13. Rudiyanto
    August 18th, 2016 at 17:49 | #13

    @fitri
    Salam Ibu Fitri,

    Terima kasih atas doanya

Comment pages
1 2 2954

 


%d bloggers like this: