Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Perencanaan Investasi > Saatnya Jual (Reksa Dana) Saham ?

Saatnya Jual (Reksa Dana) Saham ?

Pada kesempatan kali ini, saya ingin sharing tentang Saham atau Reksa Dana Saham. Seperti yang kita ketahui bersama, selain emas yang sangat hot sekarang ini (baik yang harganya naik turun ataupun yang penipunya sedang banyak ditangkap), saham juga sedang menjadi salah satu pusat perhatian. Sepengetahuan saya, pasar modal sendiri sangat jarang menjadi topik utama di harian Kompas, namun pagi ini saya agak terkejut karena pembahasan tentang IHSG masuk halaman pertama di bagian Bisnis dan Keuangan. Pada akhir artikel, disebutkan kemungkinan risiko menurunnya IHSG yang disebabkanĀ  antara lain pembalikan dana asing, pelemahan Rupiah yang menyebabkan berkurangnya cadangan devisa dan defisit neraca pembayaran.

Selain alasan di atas, kita juga mendengar antara seperti Price Earning Ratio yang sudah dianggap mahal, kebijakan BBM yang Benar Benar Membingungkan, dan hal-hal lainnya yang bisa dibuktiikan dengan angka2. Saya yakin, banyak di antara bapak ibu sama ingin tahunya dengan saya, apakah sekarang saatnya untuk menjual saham / reksa dana saham? Saya akan mencoba membahasnya dari beberapa perspektif. Semoga saja sharing ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

It is not Now or Later, what If “Never” ?

Sebelum mencoba sharing apakah Now atau Later, saya sempat membaca salah satu artikel yang sangat menarik di suatu website Motley Fool. Penulis memberikan pertanyaan yang sangat menarik, “bagaimana kalau never ?” Yap, bisakah anda bayangkan, terutama bagi investor yang sudah berpengalaman investasi selama beberapa tahun, bagaimana seandainya jika saham-saham dan atau reksa dana yang pernah anda beli, tidak pernah dijual? Menurut pengalaman dari penulis yang bersangkutan, dia mengatakan seharusnya dia akan sangat kaya, jauh lebih kaya daripada kondisi dia sekarang. Hanya saja, dia tidak bisa mendeskripsikan dengan angka seberapa kayanya dia.

Saya mencoba berkaca pada pengalaman pribadi saya sendiri. Setelah menggunakan fasilitas cek saldo di www.panin-am.co.id dimana saya bisa melihat history transaksi sejak pertama kali menjadi investor tersebut, ternyata saya sempat beli Panin Dana Maksima di harga 13.169,6 Februari 2007. Kurang dari 1 tahun kemudian saya merealisasikan profit kurang lebih 26% di harga 16.673,95. Tahu sekarang harga Panin Dana Maksima berapa? 73.985 per 30 April 2013….

Jadi saya setuju lebih dari 100% dengan pendapat bahwa “Never Sell” mungkin merupakan strategi terbaik mengingat jika saya lakukan hal tersebut, maka keuntungannya saja sudah lebih dari 460%. Apakah teman2 juga punya pengalaman yang sama atau lebih menyakitkan?

Ok, mari kita kembali ke topik utama kita, apakah Now or Later, tidak ada gunanya kita mengungkit2 kisah sedih di masa lalu, toh tidak ada yang akan berubah.

Perspektif Tujuan Keuangan

Yang paling mendasar adalah pembahasan dari sudut pandang tujuan keuangan. Apakah pada saat berinvestasi, anda sudah memutuskan atau membuat skenario dimana anda akan merealisasikan keuntungan tersebut? Misalnya:

  • Jual jika sudah untung lebih dari 20%
  • Jual jika dananya sudah cukup buat bayarin biaya jalan-jalan ke Macau untuk keluarga
  • Jual jika dananya sudah untung 100% dari waktu 5 tahun

Jadi, dari Perpektif Tujuan Keuangan Jika tujuan yang sudah anda tetapkan sudah tercapai, maka menurut saya tidak ada salahnya mau kita realisasikan keuntungan baik dengan menjual sebagian atau seluruh porsi investasi kita. Mau harganya mahal, harganya murah, tidak perlu dijadikan perhatian.

Perspektif Dana Asing

Menurut banyak data, akumulasi aliran dana asing yang masuk selama 2 bulan pertama saja di tahun 2013 sudah lebih banyak dibandingkan total dana asing yang masuk selama 1 tahun di tahun 2012. Kemudian dari aliran dana asing tersebut, muncul kekhawatiran, sebab semakin banyak dana asing yang masuk, maka semakin besar pula dana asing itu keluar (nantinya). Sebagai perbandingan, total akumulasi aliran dana asing yang masuk selama 2012 sekitar +9.1 Triliun, sementara akumulasi aliran dana asing dari awal tahun hingga 30 April 2013 adalah sekitar +18.6 T atau sekitar 2 kali lipat.

Tentu sudah pernah saya bahas dalam artikel Mitos dan Fakta Seputar Aliran Dana Asing, dana asing memang berefek kepada pergerakan saham namun tidak segalanya. Dan ketika memasuki investment grade, cara pandang terhadap aliran dana asing sudah harus diubah. Ketika rating kita masih non investment grade, negara kita masih menjadi negara tujuan dari para spekulator dengan horison investasi jangka pendek. Jadi ketika IHSG naik karena aliran dana asing yang sifatnya spekulatif, maka tinggal tunggu waktu IHSG akan turun karena keluarnya aliran dana asing tersebut pula.

Setelah investment grade, kondisi agak berubah. Akumulasi dana asing memang masih berpengaruh, namun investor asing yang masuk sendiri tidak semuanya spekulator. Ada yang benar-benar “investor tulen”. Yang dimaksud dengan investor tulen adalah pihak yang benar2 komit dengan investasi jangka panjang. Karena jangka panjang, biasanya horison investasinya bisa sampai 5-10 tahun dengan target keuntungan puluhan hingga ratusan persen dalam masa tersebut. Pengalaman bekerja di Panin Asset Management, membuat saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan investor-investor kategori ini.

Dengan adanya perubahan tipe dari investor asing yang masuk, maka logika lama dimana dana asing yang masuk juga pastinya akan keluar juga tidak bisa digunakan sepenuhnya. Mungkin suatu saat mereka akan keluar dan menarik investasinya dari Indonesia, namun bukan tidak mungkin juga mereka akan berinvestasi di Indonesia dalam jangka waktu yang lama. Kualitas dana asing yang masuk di awal tahun ini, menurut saya di dominasi oleh investor tulen daripada spekulator. Secara angka memang saya tidak bisa memastikan berapa T dari 18 T yang masuk itu investor tulen atau spekulator.

Investor Vs Spekulator Asing

Satu hal yang perlu kita sadari, kondisi makro ekonomi Indonesia itu berbeda antara 2012 dan 2013. Di tahun 2012, semua tentang Indonesia baik di mata investor asing. Dari pertumbuhan ekonomi ekonomi yang positif di antara semua yang negatif, inflasi rendah, suku bunga rendah, belum ada masalah BBM, Cadangan devisa meningkat, iklan terus menerus di CNBC dan Bloomberg, serta persepsi bahwa pemerintah bagus dari sudut pandang makro ekonomi. Namun di saat itu, semua negara pemilik dana asing yang besar sedang dalam kesulitan akibat krisis, sehingga meskipun dana asing masuk, tapi tidak sebesar sekarang.

Tahun 2013, kondisi mulai berubah, sebetulnya berubahnya kira2 quartal III – IV tahun 2012, dimulai dengan Current Account Deficit (Ekspor < Impor), kemudian merembet ke Pelemahan Rupiah, Cadangan Devisa menurun, harga komoditas tidak naik sehingga perusahaan berbasis komoditas penjualan dan laba bersihnya cenderung stagnan atau bahkan turun, kemudian baru-baru ini kebijakan BBM yang Benar-Benar Membingungkan, Subsidi BBM jebol, dan besaran Defisit akibat subsidi berpotensi lebih dari 3% (batas yang diperbolehkan menurut UU). Di satu sisi, perekonomian global menunjukkan gejala pemulihan ditambah dengan kebijakan Quantitative Easing sehingga banyak dana asing yang tersedia.

Kondisi makro ekonomi Indonesia tidak buruk, namun juga tidak bisa dikatakan baik. Sebab, jika mau membandingkan rasio hutang, defisit anggaran dan lainnya kita masih jauh lebih baik daripada negara Eropa dan AS. Akan tetapi kondisi yang demikian, membuat para spekulator cenderung berpikir beberapa kali untuk masuk. Sebab berspekulasi dalam kondisi demikian sulit untuk mendapatkan keuntungan besar dalam jangka pendek. Sehingga mereka akan memilih tempat yang lebih nyaman untuk mereka melakukan spekulasi. hal inilah yang mendasari asumsi saya mengapa dana asing yang masuk lebih banyak investor tulen dibandingkan spekulator.

Jadi dari perspektif aliran dana asing, mengharapkan IHSG akan turun karena dana asing keluar sehingga terjadinya koreksi, menurut saya agak sulit kalaupun terjadi mungkin juga tidak dalam. Sebab kita berhadapan dengan investor asing yang berorientasi jangka panjang. Menjual sekarang, dengan asumsi dana asing akan berbalik mungkin bukan pilihan yang bijaksana. Namun sekali lagi, masa depan siapa yang tahu?

Perspektif Valuasi Saham

Berdasarkan data infovesta.com, valuasi saham berdasarkan PE LQ-45 adalah sekitar 17 kali pada akhir April 2013. Dalam beberapa artikel yang saya tulis sebelumnya, pernah saya singgung bahwa tingkat yang wajar untuk melakukan investasi adalah antara 14 – 16 kali. Di atas angka tersebut, investor tetap bisa melakukan investasi namun harus waspada pada potensi koreksi karena sudah kemahalan. Namun seperti yang saya singgung, metode ini memiliki beberapa kelemahan antara lain:

  • Terkadang PE Rendah bukan berarti akan naik dan PE Tinggi bukan berarti akan turun. Terkadang sudah tinggi tapi tetap naik dan sebaliknya
  • Jika investasinya jangka panjang, terkadang PE Mahal tetap bisa untung. Sebagai contoh PE di tahun 2008 sempat mencapai 22 kali sebelum crash di level 2800. Jika kita membeli pada titik tersebut dan memegang hingga sekarang, toh meskipun sempat terkoreksi, IHSG sekarang sudah sekitar 5000 dengan PE 17 kali. Sebab di waktu yang sama, laba bersih perusahaan terus tumbuh (EPS Growth)

Sama seperti dana asing, karena perubahan situasi dan kondisi, kita juga harus sedikit mengubah kacamata kita terhadap valuasi saham ini. Salah satu caranya adalah menggunakan konsep earning yield. Konsep ini juga sudah pernah saya bahas dalam artikel Mana Yang Lebih Mahal, Saham atau Obligasi?.

PE Ratio merupakan penilaian yang bersifat relatif. Artinya dibandingkan dengan rata-rata historis, dengan negara lain dan memasukkan unsur growth, terkadang juga bisa dibandingkan Deposito atau Yield Obligasi. Misalkan PE saat ini adalah 17 kali, maka Earning Yield adalah 1 bagi 17 = 5.88%. Apakah PE 17 atau Earning Yield 5.88% sama antara tahun 2008 dengan tahun 2013? Secara angka sama, namun secara valuasi berbeda. Pada April 2008, BI Rate sebesar 8% atau 2.22% di atas Earning Yield. Pada April 2013, BI Rate 5.75% atau lebih kecil 0.13% dibandingkan Earning Yield.

Secara imbal hasil, apabila Earning Yield > Bunga Deposito atau Yield Obligasi, maka lebih menguntungkan investasi di Deposito atau Obligasi dibandingkan Saham dan sebaliknya. Jadi valuasi PE sebesar 17 kali tidak bisa dilihat dengan cara yang sama seperti sebelumnya karena suku bunga deposito dan yield obligasi yang digunakan sebagai acuan sudah berubah. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika suku bunga deposito dan yield obligasi rendah, rasio PE yang tinggi bisa dijustifikasi. Artinya dalam kondisi suku bunga rendah, PE Ratio yang tadinya wajar antara 14 – 16 kali mungkin bisa sedikit lebih tinggi. Semakin rendah suku bunga deposito, maka semakin tinggi rasio PE yang wajar sebaliknya.

Jadi, dari perspektif Valuasi, PE Ratio sebesar 17 kali memang sudah di atas kewajaran berdasarkan rata-rata historis yang berkisar antara 14-16 kali. Namun kondisi suku bunga yang rendah menjadikan angka tersebut tidak terlalu mahal. Namun kondisi ini bisa berubah seandainya terjadi kenaikan suku bunga atau kenaikan Yield Obligasi akibat inflasi yang tidak terkendali. Saat ini suku bunga terkendali namun inflasi agak liar karena ketidakpastian kebijakan BBM dan manajemen yang buruk pada harga komoditas.

Kesimpulan

Berdasarkan perspektif saya di atas, kalau tujuan keuangan sudah tercapai jual saja sekarang. Kalau mengharapkan dana asing berbalik dan menyebabkan koreksi dalam mungkin agak sulit. Kalau melihat valuasi saham, secara historis memang agak di atas rata-rata namun jika dibandingkan dengan suku bunga BI Rate dan Yield Obligasi, tidak terlalu mahal. Mungkin masih bisa dibilang wajar. Kuncinya adalah bagaimana kebijakan pemerintah terhadap BBM dan pengendalian terhadap inflasi. Demikian kira-kira sharing dengan saya.

Bagaimana dengan anda? apakah anda mau Sell Later? Sell Now dan menerapkan Strategi Sell In May and Go Away? Ataukah mau mencoba menerapkan strategi Never untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam jangka panjang? Silakan berbagi disini..

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. July 17th, 2013 at 23:07 | #1

    Saya berprinsip long-term investment dalam reksadana. Selama tujuan finansial belum membutuhkan saya tidak akan mencairkan reksadana tersebut. Hasilnya, it pays handsomely, reksadana saya mengalami kenaikkan diatas 100% lebih.
    Hanya saja, saya perlu akui bahwa ‘bertahan’ untuk tidak menjual dalam jangka panjang itu tidaklah mudah. Menyaksikan harga reksadana rontok dan tidak melakukan apa-apa, bukan pilihan yang gampang. Kalau menurut saya, selama kita sudah memilih MI dan Reksadana yang kita yakin bagus, lebih baik tidak sering-sering melihat kinerja reksadana. Itu akan membuat kita lebih kuat dari godaan untuk menjual saham saat pasar goyah.

  2. Rudiyanto
    July 18th, 2013 at 08:48 | #2

    @Rio Q
    Wah, cara berpikir anda mirip dengan istri saya yang selalu bilang reksa dana jangan dilihatin setiap hari karena investasi jangka panjang. he he…

  3. Agus hariyanto
    August 3rd, 2013 at 18:47 | #3

    bisa di ajari saya pak, bagaimana cara berinvestasi di reksadana ini ..
    Dan apa keuntungan dr investasi ini..
    Seandainya ada kita ikut berinvestasi disini apakah ada laporan tentang jumlah uang kita dan apakah bisa di lihat saldonya..
    Makasih banyak…

  4. Rudiyanto
    August 12th, 2013 at 08:32 | #4

    @Agus hariyanto
    Salam Agus,

    Anda bisa baca2 semua artikel yang ada di blog ini. Jika bingung memulai darimana anda bisa memulai dari topik yang menjadi pertanyaan anda di sini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/

    Jika masih merasa kurang puas, anda bisa menghubungi agen penjual dan menanyakan secara lebih detail. Terima kasih

  5. hutabarat
    August 21st, 2013 at 14:59 | #5

    Pak Rudi, saya membaca replay anda thdp pak rio Q (cara pikirnya mirip dengan istri bapak).
    yang hendak saya tanyakan, apakah pendapat tersebut salah ?
    makasih banyak.

  6. Rudiyanto
    August 29th, 2013 at 11:55 | #6

    @hutabarat
    Salam Hutabarat,

    Yang namanya cara berpikir itu tidak ada benar atau salah pak. Tinggal nanti pada akhirnya tujuan kita tercapai atau tidak dan atau kita senang selama menjalani hidup dengan cara pikir tersebut atau tidak.

Comment pages
1 2 2896

 


%d bloggers like this: