Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Perencanaan Investasi > Saatnya Jual (Reksa Dana) Saham ?

Saatnya Jual (Reksa Dana) Saham ?

Pada kesempatan kali ini, saya ingin sharing tentang Saham atau Reksa Dana Saham. Seperti yang kita ketahui bersama, selain emas yang sangat hot sekarang ini (baik yang harganya naik turun ataupun yang penipunya sedang banyak ditangkap), saham juga sedang menjadi salah satu pusat perhatian. Sepengetahuan saya, pasar modal sendiri sangat jarang menjadi topik utama di harian Kompas, namun pagi ini saya agak terkejut karena pembahasan tentang IHSG masuk halaman pertama di bagian Bisnis dan Keuangan. Pada akhir artikel, disebutkan kemungkinan risiko menurunnya IHSG yang disebabkanĀ  antara lain pembalikan dana asing, pelemahan Rupiah yang menyebabkan berkurangnya cadangan devisa dan defisit neraca pembayaran.

Selain alasan di atas, kita juga mendengar antara seperti Price Earning Ratio yang sudah dianggap mahal, kebijakan BBM yang Benar Benar Membingungkan, dan hal-hal lainnya yang bisa dibuktiikan dengan angka2. Saya yakin, banyak di antara bapak ibu sama ingin tahunya dengan saya, apakah sekarang saatnya untuk menjual saham / reksa dana saham? Saya akan mencoba membahasnya dari beberapa perspektif. Semoga saja sharing ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

It is not Now or Later, what If “Never” ?

Sebelum mencoba sharing apakah Now atau Later, saya sempat membaca salah satu artikel yang sangat menarik di suatu website Motley Fool. Penulis memberikan pertanyaan yang sangat menarik, “bagaimana kalau never ?” Yap, bisakah anda bayangkan, terutama bagi investor yang sudah berpengalaman investasi selama beberapa tahun, bagaimana seandainya jika saham-saham dan atau reksa dana yang pernah anda beli, tidak pernah dijual? Menurut pengalaman dari penulis yang bersangkutan, dia mengatakan seharusnya dia akan sangat kaya, jauh lebih kaya daripada kondisi dia sekarang. Hanya saja, dia tidak bisa mendeskripsikan dengan angka seberapa kayanya dia.

Saya mencoba berkaca pada pengalaman pribadi saya sendiri. Setelah menggunakan fasilitas cek saldo di www.panin-am.co.id dimana saya bisa melihat history transaksi sejak pertama kali menjadi investor tersebut, ternyata saya sempat beli Panin Dana Maksima di harga 13.169,6 Februari 2007. Kurang dari 1 tahun kemudian saya merealisasikan profit kurang lebih 26% di harga 16.673,95. Tahu sekarang harga Panin Dana Maksima berapa? 73.985 per 30 April 2013….

Jadi saya setuju lebih dari 100% dengan pendapat bahwa “Never Sell” mungkin merupakan strategi terbaik mengingat jika saya lakukan hal tersebut, maka keuntungannya saja sudah lebih dari 460%. Apakah teman2 juga punya pengalaman yang sama atau lebih menyakitkan?

Ok, mari kita kembali ke topik utama kita, apakah Now or Later, tidak ada gunanya kita mengungkit2 kisah sedih di masa lalu, toh tidak ada yang akan berubah.

Perspektif Tujuan Keuangan

Yang paling mendasar adalah pembahasan dari sudut pandang tujuan keuangan. Apakah pada saat berinvestasi, anda sudah memutuskan atau membuat skenario dimana anda akan merealisasikan keuntungan tersebut? Misalnya:

  • Jual jika sudah untung lebih dari 20%
  • Jual jika dananya sudah cukup buat bayarin biaya jalan-jalan ke Macau untuk keluarga
  • Jual jika dananya sudah untung 100% dari waktu 5 tahun

Jadi, dari Perpektif Tujuan Keuangan Jika tujuan yang sudah anda tetapkan sudah tercapai, maka menurut saya tidak ada salahnya mau kita realisasikan keuntungan baik dengan menjual sebagian atau seluruh porsi investasi kita. Mau harganya mahal, harganya murah, tidak perlu dijadikan perhatian.

Perspektif Dana Asing

Menurut banyak data, akumulasi aliran dana asing yang masuk selama 2 bulan pertama saja di tahun 2013 sudah lebih banyak dibandingkan total dana asing yang masuk selama 1 tahun di tahun 2012. Kemudian dari aliran dana asing tersebut, muncul kekhawatiran, sebab semakin banyak dana asing yang masuk, maka semakin besar pula dana asing itu keluar (nantinya). Sebagai perbandingan, total akumulasi aliran dana asing yang masuk selama 2012 sekitar +9.1 Triliun, sementara akumulasi aliran dana asing dari awal tahun hingga 30 April 2013 adalah sekitar +18.6 T atau sekitar 2 kali lipat.

Tentu sudah pernah saya bahas dalam artikel Mitos dan Fakta Seputar Aliran Dana Asing, dana asing memang berefek kepada pergerakan saham namun tidak segalanya. Dan ketika memasuki investment grade, cara pandang terhadap aliran dana asing sudah harus diubah. Ketika rating kita masih non investment grade, negara kita masih menjadi negara tujuan dari para spekulator dengan horison investasi jangka pendek. Jadi ketika IHSG naik karena aliran dana asing yang sifatnya spekulatif, maka tinggal tunggu waktu IHSG akan turun karena keluarnya aliran dana asing tersebut pula.

Setelah investment grade, kondisi agak berubah. Akumulasi dana asing memang masih berpengaruh, namun investor asing yang masuk sendiri tidak semuanya spekulator. Ada yang benar-benar “investor tulen”. Yang dimaksud dengan investor tulen adalah pihak yang benar2 komit dengan investasi jangka panjang. Karena jangka panjang, biasanya horison investasinya bisa sampai 5-10 tahun dengan target keuntungan puluhan hingga ratusan persen dalam masa tersebut. Pengalaman bekerja di Panin Asset Management, membuat saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan investor-investor kategori ini.

Dengan adanya perubahan tipe dari investor asing yang masuk, maka logika lama dimana dana asing yang masuk juga pastinya akan keluar juga tidak bisa digunakan sepenuhnya. Mungkin suatu saat mereka akan keluar dan menarik investasinya dari Indonesia, namun bukan tidak mungkin juga mereka akan berinvestasi di Indonesia dalam jangka waktu yang lama. Kualitas dana asing yang masuk di awal tahun ini, menurut saya di dominasi oleh investor tulen daripada spekulator. Secara angka memang saya tidak bisa memastikan berapa T dari 18 T yang masuk itu investor tulen atau spekulator.

Investor Vs Spekulator Asing

Satu hal yang perlu kita sadari, kondisi makro ekonomi Indonesia itu berbeda antara 2012 dan 2013. Di tahun 2012, semua tentang Indonesia baik di mata investor asing. Dari pertumbuhan ekonomi ekonomi yang positif di antara semua yang negatif, inflasi rendah, suku bunga rendah, belum ada masalah BBM, Cadangan devisa meningkat, iklan terus menerus di CNBC dan Bloomberg, serta persepsi bahwa pemerintah bagus dari sudut pandang makro ekonomi. Namun di saat itu, semua negara pemilik dana asing yang besar sedang dalam kesulitan akibat krisis, sehingga meskipun dana asing masuk, tapi tidak sebesar sekarang.

Tahun 2013, kondisi mulai berubah, sebetulnya berubahnya kira2 quartal III – IV tahun 2012, dimulai dengan Current Account Deficit (Ekspor < Impor), kemudian merembet ke Pelemahan Rupiah, Cadangan Devisa menurun, harga komoditas tidak naik sehingga perusahaan berbasis komoditas penjualan dan laba bersihnya cenderung stagnan atau bahkan turun, kemudian baru-baru ini kebijakan BBM yang Benar-Benar Membingungkan, Subsidi BBM jebol, dan besaran Defisit akibat subsidi berpotensi lebih dari 3% (batas yang diperbolehkan menurut UU). Di satu sisi, perekonomian global menunjukkan gejala pemulihan ditambah dengan kebijakan Quantitative Easing sehingga banyak dana asing yang tersedia.

Kondisi makro ekonomi Indonesia tidak buruk, namun juga tidak bisa dikatakan baik. Sebab, jika mau membandingkan rasio hutang, defisit anggaran dan lainnya kita masih jauh lebih baik daripada negara Eropa dan AS. Akan tetapi kondisi yang demikian, membuat para spekulator cenderung berpikir beberapa kali untuk masuk. Sebab berspekulasi dalam kondisi demikian sulit untuk mendapatkan keuntungan besar dalam jangka pendek. Sehingga mereka akan memilih tempat yang lebih nyaman untuk mereka melakukan spekulasi. hal inilah yang mendasari asumsi saya mengapa dana asing yang masuk lebih banyak investor tulen dibandingkan spekulator.

Jadi dari perspektif aliran dana asing, mengharapkan IHSG akan turun karena dana asing keluar sehingga terjadinya koreksi, menurut saya agak sulit kalaupun terjadi mungkin juga tidak dalam. Sebab kita berhadapan dengan investor asing yang berorientasi jangka panjang. Menjual sekarang, dengan asumsi dana asing akan berbalik mungkin bukan pilihan yang bijaksana. Namun sekali lagi, masa depan siapa yang tahu?

Perspektif Valuasi Saham

Berdasarkan data infovesta.com, valuasi saham berdasarkan PE LQ-45 adalah sekitar 17 kali pada akhir April 2013. Dalam beberapa artikel yang saya tulis sebelumnya, pernah saya singgung bahwa tingkat yang wajar untuk melakukan investasi adalah antara 14 – 16 kali. Di atas angka tersebut, investor tetap bisa melakukan investasi namun harus waspada pada potensi koreksi karena sudah kemahalan. Namun seperti yang saya singgung, metode ini memiliki beberapa kelemahan antara lain:

  • Terkadang PE Rendah bukan berarti akan naik dan PE Tinggi bukan berarti akan turun. Terkadang sudah tinggi tapi tetap naik dan sebaliknya
  • Jika investasinya jangka panjang, terkadang PE Mahal tetap bisa untung. Sebagai contoh PE di tahun 2008 sempat mencapai 22 kali sebelum crash di level 2800. Jika kita membeli pada titik tersebut dan memegang hingga sekarang, toh meskipun sempat terkoreksi, IHSG sekarang sudah sekitar 5000 dengan PE 17 kali. Sebab di waktu yang sama, laba bersih perusahaan terus tumbuh (EPS Growth)

Sama seperti dana asing, karena perubahan situasi dan kondisi, kita juga harus sedikit mengubah kacamata kita terhadap valuasi saham ini. Salah satu caranya adalah menggunakan konsep earning yield. Konsep ini juga sudah pernah saya bahas dalam artikel Mana Yang Lebih Mahal, Saham atau Obligasi?.

PE Ratio merupakan penilaian yang bersifat relatif. Artinya dibandingkan dengan rata-rata historis, dengan negara lain dan memasukkan unsur growth, terkadang juga bisa dibandingkan Deposito atau Yield Obligasi. Misalkan PE saat ini adalah 17 kali, maka Earning Yield adalah 1 bagi 17 = 5.88%. Apakah PE 17 atau Earning Yield 5.88% sama antara tahun 2008 dengan tahun 2013? Secara angka sama, namun secara valuasi berbeda. Pada April 2008, BI Rate sebesar 8% atau 2.22% di atas Earning Yield. Pada April 2013, BI Rate 5.75% atau lebih kecil 0.13% dibandingkan Earning Yield.

Secara imbal hasil, apabila Earning Yield > Bunga Deposito atau Yield Obligasi, maka lebih menguntungkan investasi di Deposito atau Obligasi dibandingkan Saham dan sebaliknya. Jadi valuasi PE sebesar 17 kali tidak bisa dilihat dengan cara yang sama seperti sebelumnya karena suku bunga deposito dan yield obligasi yang digunakan sebagai acuan sudah berubah. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika suku bunga deposito dan yield obligasi rendah, rasio PE yang tinggi bisa dijustifikasi. Artinya dalam kondisi suku bunga rendah, PE Ratio yang tadinya wajar antara 14 – 16 kali mungkin bisa sedikit lebih tinggi. Semakin rendah suku bunga deposito, maka semakin tinggi rasio PE yang wajar sebaliknya.

Jadi, dari perspektif Valuasi, PE Ratio sebesar 17 kali memang sudah di atas kewajaran berdasarkan rata-rata historis yang berkisar antara 14-16 kali. Namun kondisi suku bunga yang rendah menjadikan angka tersebut tidak terlalu mahal. Namun kondisi ini bisa berubah seandainya terjadi kenaikan suku bunga atau kenaikan Yield Obligasi akibat inflasi yang tidak terkendali. Saat ini suku bunga terkendali namun inflasi agak liar karena ketidakpastian kebijakan BBM dan manajemen yang buruk pada harga komoditas.

Kesimpulan

Berdasarkan perspektif saya di atas, kalau tujuan keuangan sudah tercapai jual saja sekarang. Kalau mengharapkan dana asing berbalik dan menyebabkan koreksi dalam mungkin agak sulit. Kalau melihat valuasi saham, secara historis memang agak di atas rata-rata namun jika dibandingkan dengan suku bunga BI Rate dan Yield Obligasi, tidak terlalu mahal. Mungkin masih bisa dibilang wajar. Kuncinya adalah bagaimana kebijakan pemerintah terhadap BBM dan pengendalian terhadap inflasi. Demikian kira-kira sharing dengan saya.

Bagaimana dengan anda? apakah anda mau Sell Later? Sell Now dan menerapkan Strategi Sell In May and Go Away? Ataukah mau mencoba menerapkan strategi Never untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam jangka panjang? Silakan berbagi disini..

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. May 2nd, 2013 at 08:40 | #1

    Terima kasih artikelnya pak Rudi. Pas sekali timing artikelnya buat saya pribadi, karena sejak Januari saya sudah “waspada” dan mencari timing yang tepat untuk redeem sebagian besar RD saham saya (untuk dimasukkan lagi setelah koreksi). Bahkan bulan Januari lalu saya sudah redeem sebagian RD saham, karena waktu itu katanya IHSG juga sudah tinggi dan bakal koreksi. Tentunya sekarang kita tahu itu keputusan yg salah.. :(

    Setelah baca artikel ini, kayaknya, betul juga ya. Toh koreksi di depan ini kemungkinan bukan crash seperti 2008, tapi “koreksi sehat biasa”, yang biasanya dalam 3-4 bulan juga akan pulih seperti semula dan bahkan akan naik lebih tinggi. Walaupun tentu sifat maruk (greedy) investor pasti muncul, yaitu pengennya jual sebelum turun dan beli pas di bottom. Tapi siapa sih yang bisa meramal koreksi. Sedangkan di lain pihak, biasanya justru ketika saham atau RD saham dijual, nilainya justru semakin tinggi, dan kemudian kita jadi takut atau malas untuk beli lagi, tunggu koreksi yang tidak kunjung tiba. Terus terang ini sangat sering saya alami, hehe.

    Jadi terima kasih pak atas pencerahannya. Saya akan simpan deh. “Never” juga merupakan ide menarik ;-)

    Kalau begitu pertanyaan berikutnya pak, buat yg tidak suka melakukan DCA (dollar cost averaging), sekarang saat yang tepat untuk top up nggak? Menurut saya kayaknya bukan ya, tapi apa benar? (Mengingat saya juga menganggap dari bulan Januari lalu saatnya nggak tepat buat top up, tapi tentu lagi-lagi saya salah, hehe) Mungkin bisa bapak jabarkan di artikel berikutnya (atau ditambahkan sebagai update artikel ini).

    Oh ya, bulan Januari lalu saya juga redeem semua RDPT saya. Kalau ini kayaknya keputusan tepat ya pak, pertimbangan saya suku bunga sekarang lebih cenderung untuk naik dari pada turun karena tekanan inflasi dsb.

    Salam. :)

  2. Chkp rassa.
    May 2nd, 2013 at 10:12 | #2

    Dear Bung Rudiyanto,

    Informasi yang mencerahkan dan membuka mata lebar-lebar dalam kaitan kapan saat yang tepat untuk menjual RDS. Sayangnya, sebagai pemain baru baru di reksa dana saya belum ada kesempatan menjualnya saat yang tepat ini. Padahal dari uraian Anda sangat jelas kapan waktu jual yang tepat, sehingga secara investasi dapat diketahui sudah berapa ratus persen investasi yang tumbuh dalam jangka waktu lebih lima tahun misalnya.
    Dalam kesempatan ini, ada yang ingin sya tanyakan Bung Rudiyanto soal harga RDS yang dimuat dalam rubrik Kontan online atau infovesta.com dimana harga RDS yang saya beli dari MI tidak sama harganya dengan yang dimuat pada kedua media yang sya sebutkan tadi.

    Pertanyaan sya Bung Rudiyanto, apakah harga yg dimuat pada kedua media itu ada perbedaan dengan harga RDS yang ditentukan oleh MI? Sebagai contoh RDS yang sya beli pada tgl 16 April harganya 6.174,54 namun ketika sya menerima report pembelian dari MI harga tercantum 6.207, sekian. Nah, apakah lazim perbedaan harga bisa terjadi antara yang dimuat di media dengan harga yg ditentukan oleh MI (?) saya kok agak kurang mengerti dengan selisih harga yang seperti ini.

    Kemudian untuk memperjelas pertanyaan di atas, apakah harga NAB/UP ( Infovesta.com/Kontan) sama dengan harga suatu produk RDS? Jika asumsi ini benar, mestinya harga produk RDS yang sya beli tidak ada selisih harga antara report MI dengan yang dimuat di kedua media tadi.
    Mohon penjelasan Bung Rudiyanto terkait dua pertanyaan saya karena secara logika kok kurang pas, mengapa ada selisih harga yang timbul?

    Demikian yang saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

    Salan,
    chkp rassa.

  3. Rudiyanto
    May 2nd, 2013 at 10:27 | #3

    @benny
    Terima kasih pak Benny atas sharingnya.

    Kalau menurut saya, pertanyaan kapan masuk itu harus dijawab dengan kapan dana tersebut akan keluar. Kalau 5-10 tahun lagi, berarti kapanpun tidak masalah. Kalau 5 – 10 hari lagi, butuh analisa dan ilmu perdukunan saham yang handal.

    Terkait reksa dana pendapatan tetap, memang beberapa bulan terakhir agak tertekan karena inflasi yang di luar dugaan. Namun jika kita membaca berita hari ini, inflasi di April adalah deflasi 0.1%. Jadi sepertinya sudah mulai terkendali meskipun masih ada kendala BBM. Para pelaku pasar modal seperti Manajer Investasi dan Dana Asing sebenarnya malah mengharapkan BBM dinaikkan karena biarpun inflasi naik cuman sementara. Dalam jangka panjang bagus untuk perekonomian. Yah kita lihat saja, benar atau salah memang baru tergantung waktu yang digunakan untuk mengukur kinerja tersebut.

    Terima kasih.

  4. Rudiyanto
    May 2nd, 2013 at 10:32 | #4

    @Chkp rassa.
    Pagi Bung Rassa,

    Perlu saya klarifikasi, bahwa saya tidak bekerja di Kontan maupun di Infovesta saat ini sehingga yang berwenang menjawab seharusnya pejabat dari perusahaan yang bersangkutan. Namun kalau mau dibantu, boleh tahu apa nama reksa dana yang anda beli, dan pada tahun berapa pembelian tersebut dilakukan?

    Secara logika tidak mungkin ada perubahan harga, kemungkinan terjadinya selisih harga antara lain karena ada revisi NAB/Up yang disampaikan keesokan harinya dan tanggal pembelian anda bukan 16 April tapi 17 April atau lebih karena sudah lewat dari cut off time atau bisa jadi anda salah lihat nama reksa dana.

    Yang jelas harga yang dipublikasikan tidak mungkin berbeda dengan transaksi. Kalau ada informasit tersebut akan membantu penyelidikan. Lebih baik lagi, hal ini dicek dengan Manajer Investasi / agen penjual tempat anda melakukan transaksi.

    Semoga bermanfaat.

  5. edi kustanto
    May 2nd, 2013 at 14:49 | #5

    Tergantung MI dan RDS nya, pak Rudy. Ada RDS yg sangat bagus dan banyak RDS yang memang jelek (mungkin hanya buy and hold, tidak pernah diurusi oleh MI-nya). Kalau RDS jelek, strategi “Never” akan menimbulkan opprotunity cost yang besar dan mungkin perlu strategi switch ke RDS lain yang jauh lebih bagus. Setiap terjadi market crash, MI selalu optimis dan yang menderita selalu investornya. Investor selalu disuruh “jangan panik’, padahal hanya ada 2 jenis investor: yg untung & yg rugi (tidak ada investor jenis ke 3: “panik”. Terima kasih atas tulisannya yang berharga

  6. steven
    May 3rd, 2013 at 08:05 | #6

    salam pak,
    saya mau tanya bagaimana mengetahui target harga suatu saham versi analis Bloomberg. Karena saya lihat di website Bloomberg tidak ada. yang ada cuma keterangan umum saja, seperti PER, PBV.

    terima kasih…

  7. May 3rd, 2013 at 11:20 | #7

    Dear Pak rudi
    thx untuk informasinya…

    mohon pencerahannnya
    Saya Nasabah PD Prima,
    Saya masih hold belum withdraw karena masih menunggu dividen…

    kira2 kapan kah dividen2 (terutama perusahaan besar) akan dibagikan?
    dan seberapa besar dampaknya terhadap NAB kita?

    thx

  8. Andreas
    May 3rd, 2013 at 11:27 | #8

    Siang Pak Rudi…

    Pak Saya mau tanya untuk pembagian dividen (terutama perusahaan2 besar) kira2 kapan ya?

    dan seberapa besar dampaknya pada NAB kita?

    NB: Saya Nasabah PD Prima…

    @benny

  9. chkp rassa
    May 3rd, 2013 at 20:30 | #9

    Dear Bung Rudiyanto,

    Setelah membaca komentar Anda atas pertanyaan saya, pagi tadi saya datang ke agen penjual RD (Bank Mandiri) untuk mendapatkan klarifikasi terkait hal yang ‘janggal’ menurut logika saya.
    Seperti yang sudah saya paparkan dalam email terdahulu, bahwa saya membeli produk RDS Schroder Dana Istimewa melalui agen Bank Mandiri pada 16 April 2013. Sebelum melakukan pembelian pada awalnya telah mengecek terlabih dahulu melalui situs kontan.co.id dan http://www.infovesta.com dimana NAB RDS tersebut saat itu adalah 6.136,86 karena transaksi pada 16 April 2013 dibawah pukul 12.00 WIB. Dari pengalaman yang tiap hari saya lakukan dalam monitoring pergerakan harga RD sejauh ini tak ada perbedaan signifikan dari publikasi kedua laman tersebut.

    Dua minggu kemudian, saya menerima ‘Konfirmasi Pembelian’ dimana transaksi dilakukan pada 16 April dengan harga pembelian 6.207,10. Dengan kejanggalan ini ketika mengamati isi Konfirmasi Pembelian, sya terus terang meragukan dan merasa tak percaya ada selisih harga antara harga yang dipublikasi dan harga transaksi. Serta merta kemarin sya menulis email pada Anda apakah ini hal yang biasa dalam transaksi RD.

    Dari penjelasan agen penjual setelah konfirmasi ke kantor (Mandiri) pusat menurut yang disampaikan, bahwa harga NAB pada Konfirmasi Pembelian adalah harga transaksi pada hari/tanggal itu (16 April 2013) yaitu 6.207,10.
    Jika demikian halnya bagaimana transaksi yang berlangsung bisa memberikan harga berbeda dan anehnya harga transaksi lebih tinggi sekian persen, artinya sebagai investor sya merasa dirugikan dengan selisih harga tersebut.

    Tadinya saya berasumsi seperti Anda, apakah saya salah dalam melihat/membaca harga yang saya beli, ternyata berulang kali sya amati melalui Kontan online NAB Schroder Dana Isitimewa masih 6.174,54 (16 April 2013). Saya gak bisa ngecek melalui Incovesta. com karena memang tidak berlangganan untuk data yang telah lalu.
    Barangkali pengalaman ini bisa memberikan masukan pada kita semua dalam transaksi RD, apakah proses transaksi berjalan baik dan ada trust (seperti statement anda yang berulang kali ditulis dalam setiap artikel di blog anda).

    Barangkali pengalaman ini bisa memberikan masukan pada kita semua dalam transaksi RD, apakah proses transaksi berjalan baik dan ada trust (seperti statement anda yang berulang kali ditulis dalam setiap artikel di blog anda).

    Mohon penjelasannya Bung Rudiyanto sekaligus bantuannya, mengapa bisa terjadi transaksi yang janggal dan tak lazim dalam proses transaksi RD.l

    Demikian penjelasan saya, dan akan terus memberikan informasi yang diperlukan dalam sharing di forum ini.

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Salam,
    chkp rassa.

  10. chkp rassa
    May 3rd, 2013 at 20:49 | #10

    Maaf Bung Rudiyanto, paragraf ke lima dari bawah sama kalimatnya dengan baris terakhir paragraf di atasanya.
    Harap diabaikan saja.

    Thanks a lot.

    Salam,

  11. Rudiyanto
    May 3rd, 2013 at 21:36 | #11

    @chkp rassa
    Bung Rassa,

    Saya tidak tahu darimana Kontan mendapat angka tersebut, terus terang saya cek di kontan pun angkanya lain. http://pusatdata.kontan.co.id/reksadana/produk/481/Schroder-Dana-Istimewa

    Kalau saya cek di Infovesta, memang angkanya 6207,1. Bukan 6175,54 yang anda sebutkan. Sama seperti harga yang anda dapat di Bank Mandiri. Kemungkinan ada revisi NAB/Up pada tanggal tersebut dan di Kontan angka tersebut tidak di update.

    Tapi saya juga sudah mencoba mengecek ke sumber publikasi NAB/Up pada tanggal 16 April, memang angkanya 6207,1. Kalau ada revisi NAB/Up biasanya ada berita revisi di Infovesta.com satu hari setelahnya, tapi saya cek, memang ada revisi tapi tidak di reksa dana yang anda sebutkan.

    Mungkin management data di website kontan masih harus ditingkatkan lagi. Demikian semoga bermanfaat.

  12. Rudiyanto
    May 3rd, 2013 at 21:40 | #12

    @edi kustanto
    Ha ha ha pak Edi, saya setuju dengan pendapat anda. Memang kalau produknya kurang bagus, return dalam jangka panjang juga tidak. Setelah bekerja sekian tahun di industri ini, kalau reksa dana saham mau saya bagi jadi 3, kelompok yang pertama yang selalu menang, kemudian kelompok kedua yang selalu kalah, dan kelompok ketiga yang kadang menang dan kadang kalah, bisa dibilang perbandingannya 0% : 10% : 90%.

    Artinya lebih banyak atau hampir semua reksa dana kadang menang kadang kalah dibandingkan IHSG, sebagian kecil selalu kalah, dan terus terang saya belum pernah melihat yang selalu menang dibandingkan IHSG untuk return setiap tahunnya. Even di Panin Dana Maksima sekalipun masih pernah ada tahun-tahun dimana returnnya tidak lebih baik dibandingkan IHSG. Jadi kuncinya cari yang lebih banyak menang dibandingkan yang kalah.

    Demikian pak, terima kasih atas sharingnya.

  13. Rudiyanto
    May 3rd, 2013 at 21:43 | #13

    @steven
    Hai Steven,

    Kalau bloomberg yang bisa melihat itu anda harus berlangganan pak. Kalau tidak salah sekitar 20 – 25 juta per bulan + Biaya Internet + Hardware (Monitor, CPU dan Keyboard) khusus Bloomberg.

    Kalau mau pakai fasilitas online trading saham saja. Saya perhatikan beberapa yang bagus seperti IPOT juga ada data konsensus analis untuk harga saham tertentu. Ke depan, mungkin beberapa online trading juga akan menambah fitur tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  14. Rudiyanto
    May 3rd, 2013 at 21:50 | #14

    @Andreas
    Yth Pak Andreas,

    Perlu saya tekankan bahwa ini adalah blog pribadi bukan perusahaan. Jadi saya tidak menjawab dalam kapasitas perusahaan.

    Pembagian dividen itu berbeda antara perusahaan yang satu dengan yang lain. Dan belum pernah dilakukan penelitian dari efek pembayaran dividen dengan kinerja reksa dana, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

    Penelitian tentang dividen reksa dana pernah saya bahas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/26/dividendinvesting/

    Semoga bermanfaat.

  15. Andreas
    May 4th, 2013 at 07:39 | #15

    Trims Pak Rudi…
    untuk jawaban diatas…

    mohon pencerahannya sedikit lagi…

    selama pengalaman Bapak berkecimpung didunia RD,
    seberapa besar dari NAB dividen akan berpengaruh secara langsung pak?

    karena bapak katakan diatas,
    efek pembayaran dividen thdp kinerja reksadana,
    untuk statement itu Saya berfikir adalah tentang “motivasi” investor untuk berada di cum meraih dividen sehingga memburu big caps, dan membuat big caps semakin naik nilainya?
    sehingga berdampak tidak langsung ke NAB RD…

    *mohon maaf apabila analisa Saya salah, Saya newbie di RD…

  16. Rudiyanto
    May 4th, 2013 at 09:23 | #16

    @Andreas
    Yth Pak Andreas,

    Sama seperti komentar saya sebelumnya, tanggal pembayaran dividen itu tidak seragam dan belum pernah dilakukan penelitian, jadi saya tidak tahu apa efeknya.

    Semoga menjawab, terima kasih.

  17. steven
    May 6th, 2013 at 09:47 | #17

    @Rudiyanto
    terima kasih pak Rudiyanto atas pencerahannya…

  18. chkp rassa
    May 6th, 2013 at 12:26 | #18

    @Rudiyanto
    Dear Bung Rudiyanto,

    Terima kasih atas jawaban anda, yang pasti apa yang menjadi keraguan saya sudah bisa
    dimengerti oleh karena adanya kesalahan pemuatan di kontan.
    Harapan saya Bung Rudiyanto dapat menjadi partner dan advisor kami, investor RD (hehe…hee..) sehingga apa yang belum dimengerti bisa bertanya langsung kepada pakarnya.

    Salam,
    chkp rassa.

  19. Rudiyanto
    May 6th, 2013 at 18:22 | #19

    @chkp rassa
    Kalau Partner dan Advisor itu, Profit Sharing dan Fee konsultasi pak.
    Kalau penulis blog masih Complaint sharing dan Free konsultasi.
    Pilih mana pak?

  20. chkp rassa
    May 7th, 2013 at 06:56 | #20

    @Rudiyanto
    Bung Rudiyanto,

    Hehee…hee..wise option nice response Bung Rudiyanto, tentunya kita semua yang follow blog Anda rame-rame pilih opsi terakhir.
    Terima kasih banyak Bung Rudi telah memberikan segalanya dalam berbagi ilmu, pengalaman, dan hal terpenting meluangkan waktu bisa sharing untuk kita semua dalam forum yang sangat bermanfaat dan memberikan value yang tak ternilai dalam kehidupan.
    Semoga tetap eksis blog ini, sehat selalu dan sukses dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

    Salam,
    chkp rassa.

  21. July 17th, 2013 at 23:07 | #21

    Saya berprinsip long-term investment dalam reksadana. Selama tujuan finansial belum membutuhkan saya tidak akan mencairkan reksadana tersebut. Hasilnya, it pays handsomely, reksadana saya mengalami kenaikkan diatas 100% lebih.
    Hanya saja, saya perlu akui bahwa ‘bertahan’ untuk tidak menjual dalam jangka panjang itu tidaklah mudah. Menyaksikan harga reksadana rontok dan tidak melakukan apa-apa, bukan pilihan yang gampang. Kalau menurut saya, selama kita sudah memilih MI dan Reksadana yang kita yakin bagus, lebih baik tidak sering-sering melihat kinerja reksadana. Itu akan membuat kita lebih kuat dari godaan untuk menjual saham saat pasar goyah.

  22. Rudiyanto
    July 18th, 2013 at 08:48 | #22

    @Rio Q
    Wah, cara berpikir anda mirip dengan istri saya yang selalu bilang reksa dana jangan dilihatin setiap hari karena investasi jangka panjang. he he…

  23. Agus hariyanto
    August 3rd, 2013 at 18:47 | #23

    bisa di ajari saya pak, bagaimana cara berinvestasi di reksadana ini ..
    Dan apa keuntungan dr investasi ini..
    Seandainya ada kita ikut berinvestasi disini apakah ada laporan tentang jumlah uang kita dan apakah bisa di lihat saldonya..
    Makasih banyak…

  24. Rudiyanto
    August 12th, 2013 at 08:32 | #24

    @Agus hariyanto
    Salam Agus,

    Anda bisa baca2 semua artikel yang ada di blog ini. Jika bingung memulai darimana anda bisa memulai dari topik yang menjadi pertanyaan anda di sini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/

    Jika masih merasa kurang puas, anda bisa menghubungi agen penjual dan menanyakan secara lebih detail. Terima kasih

  25. hutabarat
    August 21st, 2013 at 14:59 | #25

    Pak Rudi, saya membaca replay anda thdp pak rio Q (cara pikirnya mirip dengan istri bapak).
    yang hendak saya tanyakan, apakah pendapat tersebut salah ?
    makasih banyak.

  26. Rudiyanto
    August 29th, 2013 at 11:55 | #26

    @hutabarat
    Salam Hutabarat,

    Yang namanya cara berpikir itu tidak ada benar atau salah pak. Tinggal nanti pada akhirnya tujuan kita tercapai atau tidak dan atau kita senang selama menjalani hidup dengan cara pikir tersebut atau tidak.

 


%d bloggers like this: