Saatnya Beli Emas?

Salah satu kutipan bapak Warren Buffet yang sangat terkenal dan masih digunakan hingga sekarang adalah sebagai berikut:

“Be Fearful When Others Are Greedy

 

and Be Greedy When Others Are Fearful”

 

Melihat harga emas yang sudah turun dalam seperti sekarang ini, apakah tepat untuk menerapkan konsep di atas? Lebih sederhananya, apakah sekarang saatnya beli emas? Apakah Mr. Warren Buffet sendiri juga menerapkan konsep tersebut dalam emas?

Terus terang, emas bukan keahlian saya. Pengetahuan saya tentang emas rasanya tidak lebih baik dibandingkan dengan bapak ibu sekarang. Namun saya akan memberikan sharing tentang bagaimana saya memandang komoditas ini. Kebetulan saya juga menemukan kutipan tulisan Warren Buffet dalam laporan keuangan yang dikirimkan kepada para pemegang sahamnya. Dalam tulisan tersebut dibahas pandangan beliau tentang emas.

Pertama-tama, saya secara pribadi memandang emas sebagai Komoditas, bukan Instrumen Investasi. Sebab emas tidak bisa menghasilkan sementara Instrumen Investasi bisa.

Emas memang bisa menjadi bahan baku untuk membuat barang yang bernilai tambah namun yang mampu melakukannya adalah toko emas, pegadaian, pemurnian / peleburan emas dan (sedihnya) para penipu yang memberikan imbal hasil dalam bentuk tetap dengan kedok investasi emas (dan baru-baru ini banyak yang tertangkap). Sementara dengan berinvestasi pada saham, obligasi dan reksa dana, kita tidak perlu ngapa2in, aset tersebut sudah bisa menghasilkan. Hasil tersebut bisa dalam bentuk kenaikan harga, ataupun pendapatan dalam bentuk dividen dan kupon.

Mengutip pernyataan bapak Warren Buffet :

“if you own one ounce of gold for an eternity,

you will still own one ounce at its end”

Kedua adalah soal harga. Berapa harga emas? Kalau anda menonton, CNBC, Bloomberg, atau televisi, disebutkan sekitar USD 1400 dollar per Troy Ounce. Kalau anda datang ke ANTAM atau Logammulia.com, kisaran harga emas antara 502.000 – 541.000 per gram (tanggal 20 April). Kalau yang kritis, mengatakan harusnya cuman Rp 431.000 saja (sesuai harga buyback).

Kalau anda ke toko emas, harganya bisa lain lagi, ada yang beralasan melakukan pemurnian sendiri dan punya stok emas dengan harga lama sehingga bisa lebih murah, tapi ada juga yang meragukan kualitas kemurniannya. Dengan segitu banyaknya harga yang beredar, belum lagi harga emas ANTAM yang tidak sejalan dengan harga emas dunia karena juga memperhitungkan risiko nilai tukar, berapa sebetulnya harga emas itu? Mungkin hanya investor kawakan emas yang tahu.

Belum lagi emas tidak seperti reksa dana yang bisa dibeli kapan saja dan berapa saja, pembeli dan jumlah pembelian dibatasi sehingga tercipta efek kelangkaan. Hal ini juga turut berpengaruh terhadap harga. Hal kedua inilah, yang membuat saya dari dulu tidak pernah bisa benar2 memahami emas. Hal ini tentu berbeda jauh dengan reksa dana yang hanya punya satu harga.

Ketiga, adalah soal valuasi. Dalam berinvestasi, salah satu kunci sukses buat investor yang berorientasi jangka panjang adalah membeli ketika harganya masih murah dan menjualnya ketika harganya sudah mahal. Untuk instrumen saham contohnya, beberapa indikator umum yang digunakan untuk menentukan mahal murahnya harga suatu saham antara lain Price to Earning Ratio (PER), Price Earning to Growth Ratio (PEG), Enterprise Value dan Price to Book Value Ratio (PBV). Untuk obligasi, indikator mahal murah cukup sederhana yaitu dari Yield to Maturity Obligasi.

Apa kesamaan dari metode yang digunakan di atas? Pada Konsep yang menggunakan Earning, Yield dan Enterprise Value, semuanya menggunakan asumsi berapa penghasilan yang mampu dihasilkan oleh saham dan obligasi di masa yang akan datang kemudian dibandingkan dengan harga pasar yang ditawarkan saat ini. Seperti yang dibahas pada alasan pertama tadi, emas mungkin bisa diolah menjadi perhiasan atau perabotan, tapi nilai tambah ekonomisnya kecil. Dan tidak jelas, berapa “Earning” yang bisa dihasilkan.

Dengan demikian kita bisa menggunakan metode kedua yaitu Price to Book Value Ratio. Metode ini biasanya digunakan pada saham perbankan dan properti. Bisa juga sebagai alternatif metode dari metode PER ketika laba bersih perusahaan berfluktuasi. Book value bisa ditemukan pada Nilai Ekuitas yang terdapat pada laporan keuangan perusahaan. Bagaimana dengan Book Value Emas? seperti yang saya sebutkan, emas bukan investasi tapi komoditi. Sama seperti batu bara, kelapa sawit, nikel dan lainnya. Jadi tidak pernah diketahui secara jelas berapa nilai bukunya.

Ada yang berasumsi menggunakan biaya produksi, yang kalau saya baca sekitar 1200 USD per troy ounce. Akan tetapi menurut saya biaya produksi adalah angka yang tidak objektif. Sebab harga produksi biasanya bisa naik turun tergantung pada efisiensi, skala produksi, lokasi produksi, dan kadang kala harga pasar emas itu sendiri (tentunya jika harga emas tinggi, tidak aneh kalau kontraktor minta upah tinggi bukan?).

Terus bagaimana menilai harga wajar emas? Menurut saya, harga emas lebih banyak subjektifnya dan sangat sulit ditentukan karena sangat tergantung pada aksi lain di luar emas itu sendiri. Yang saya maksud dengan hal di luar emas seperti kebijakan Quantitative Easing (kebijakan cetak uang), ketakutan orang bahwa dunia akan kembali ke krisis (Pesimisme) dan last but not least inflasi. Quantitave Easing adalah kebijakan yang dibuat untuk menangkal krisis. Krisis adalah bagian dari siklus, selalu ada tapi tidak selamanya. Dengan kata lain, ketika tidak ada krisis dan atau kebijakan QE untuk menangkal krisis, Apakah harga emas akan tetap naik?

Kemudian inflasi, memang tidak salah, inflasi adalah musuh terbesar dari nilai uang. Namun tahukah anda, di negara yang maju, negara yang kebijakan pembangunan infrastrukturnya begitu baik karena tidak terbebani oleh subsidi BBM, Inflasi Rendah. Sebagai contoh AS 1.50%, China 2.1%, Singapore 4.90%. Bandingkan juga Thailand, Philipina dan Malaysia yang masing-masing 2.69%, 3.20% dan 1.60%. Indonesia sendiri juga inflasinya memang tinggi secara historis, namun jika kita perhatikan inflasi semakin rendah dari tahun ke tahun. Saya percaya dengan manajemen negara yang benar, hilangnya subsidi, dan pembangunan infrastruktur secara berkelanjutan, maka inflasi AKAN RENDAH DALAM JANGKA PANJANG. Jika inflasi sudah rendah, bagaimana dengan harga emas itu sendiri? Apakah masih ada sentimen untuk naik?

Mr. Warren Buffet memberikan ilustrasi yang sangat menarik tentang valuasi emas. Analogi yang dia berikan adalah ada 2 pilihan investasi dengan keterangan sebagai berikut

Pertama, membeli emas di seluruh dunia yang saat ini berjumlah 170.000 metric ton yang pada saat surat tersebut dia tulis pada tahun 2012, harga emasnya adalah 1750 per ounce. Dengan harga tersebut, maka total seluruh emas di Dunia adalah 9.6 Triliun USD. 10 tahun kemudian 170rb metric ton emas akan tetap menjadi 170rb metric ton emas. Anda hanya berharap jika ada krisis, quantitative easing, dan inflasi baru harganya akan naik.

Kedua, menggunakan 9.6 Triliun USD untuk membeli 400 juta hektar lahan pertanian Amerika yang menghasilkan gandum, jagung, kapas dan lainnya. Nilai Earning yang dihasilkan dari lahan pertanian tersebut adalah 200 Milliar USD per tahun. Kemudian, sisanya dibelikan 16 perusahaan Exxon Mobil (Perusahaan terbesar sedunia) yang menghasilkan laba bersih 40 Milliar USD per tahun. Setelah melakukan hal tersebut, ternyata masih ada sisa 1 Triliun USD lagi yang bisa anda foya-foyakan. 10 tahun kemudian, katakan harganya tetap, earning yang dihasikan dari asset tersebut saja tentu sudah lebih dari 1 triliun dollar.

Manakah pilihan anda?

Kutipan lengkap mengenai pendapat bapak Warren Buffet bisa dibaca di http://ivanhoff.com/2013/04/15/warren-buffett-on-gold/ dan http://www.berkshirehathaway.com/letters/2011ltr.pdf

Kesimpulan

Dengan melakukan analisa di atas, saya yang bukan ahli emas ini mengganggap emas bukan investasi yang ideal. Jadi meskipun harga turun, terus terang saya tidak seantusias seperti ketika IHSG turun. Jadi buat saya, ini BUKAN SAAT YANG TEPAT untuk membeli emas bukan karena harga namun karena saya tidak bisa menemukan JUSTIFIKASI untuk membeli komoditas (BUKAN INSTRUMEN INVESTASI) ini.

Bagaimana dengan anda?

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. April 21st, 2013 at 11:11 | #1

    saya setuju dengan tulisan anda, sampai saat ini emas merupakan salah satu risk aversion dalam perdagangan saya. yang menjadi pegangan saya adalah saya tidak tahu patokan harga dari komoditas tersebut, jika yang dipakai dari biaya produksi maka biaya produksi berkaitan dengan produktivitas, dan sesuai dengan tulisan anda yaitu:
    “Ada yang berasumsi menggunakan biaya produksi, yang kalau saya baca sekitar 1200 USD per troy ounce. Akan tetapi menurut saya biaya produksi adalah angka yang tidak objektif. Sebab harga produksi biasanya bisa naik turun tergantung pada efisiensi, skala produksi, lokasi produksi, dan kadang kala harga pasar emas itu sendiri (tentunya jika harga emas tinggi, tidak aneh kalau kontraktor minta upah tinggi bukan?).”

    • Rudiyanto
      April 21st, 2013 at 14:38 | #2

      Terima kasih satria utk tanggapannya. Ngomong2 utk link yg anda kirimkan apakah ada kesalahan pengetikan? Sebab tidak bisa diakses..

  2. johnny
    April 22nd, 2013 at 09:58 | #3

    kalau berbicara emas fisik saya setuju dengan paparan bapak, tapi sekarang ini banyak cara lain yang bisa di gunakan untuk menghasilkan uang dari emas, salah satunya adalah MARGIN TRADING seperti yang saya lakukan sekarang, di margin trading kususnya komoditi emas, saya bisa untuk banyak ketika harga emas naik bahkan harga turun seperti sekarang pun saya bisa dapat untung banyak, karna yang saya gunakan adalah pasar dua arah. pasar dua arah disini maksudnya adalah, saya bisa dapat untung ketika harga emas turun maupun harga emas naik.

  3. Abouw
    April 22nd, 2013 at 17:49 | #4

    Dimanapun Investasi anda pasti ada Resiko termasuk di Reksa Dana seprti yang terjadi beberapa tahun lalu pada perusahaan Reksa dana di Indonesia. Ada banyak Investor yang Dananya Berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Jadi Berinvestasilah sesuai dengan Pengetahuan dan Karakter kita masing masing.

  4. ism
    April 22nd, 2013 at 18:23 | #5

    Saya termasuk orang yang masih konservatif dalam investasi; jadi saya terus imbangi RD saham dengan emas fisik (bukan paper gold).
    Saya percaya emas fisik ke depan akan masih berperan sebagai lindung nilai dan bisa diterima di negara manapun.
    Saya berpandangan mayoritas orang Indonesia jauh lebih konservatif ketimbang saya (Manulife baru-baru ini mengeluarkan survey, berkesimpulan banyak orang Indonesia masih enggan masuk RD, apalagi saham).
    Dengan karakter masyarakat yang masih konservatif tersebut, permintaan domestik untuk emas akan masih terjaga.
    Emas bagi Anda bukanlah instrumen investasi. Bagi saya hanyalah wahana lindung nilai. Yang penting kita sepakat emas tidak mungkin memberikan return 1.5% per bulan terus-menerus.

  5. moko
    April 22nd, 2013 at 19:10 | #6

    maaf bila pertanyaan saya out of topic karena dari dulu saya kurang tertarik dengan investasi emas.

    saya ampir 6 bulan ini jadi investor reksadana saham. saat ini ihsg berada di sekitar 5000 dan PER kira2 19,4 (menurut bloomberg). tampaknya ihsg susah naik walopun sentimen global positif.
    pertanyaan saya :

    apakah ini menunjukkan ihsg sudah “terlalu mahal” sehingga sensitif terhadap berita negatif ?

    berapa kira2 PER max sebelum terjadi koreksi besar ?

    bila federal reserve menghentikan program quantitatif easing dan saham2 amerika turun apa pula efeknya thd ihsg ?

    terima kasih sebelumnya.

  6. Rudiyanto
    April 23rd, 2013 at 09:40 | #7

    @johnny
    Salam Pak Johnny,

    Saya sependapat bahwa margin trading adalah satu cara investasi / spekulasi untuk mendapatkan keuntungan. Hanya saja, kalau anda bisa untung ketika harga emas naik ataupun turun, berarti jika posisi yang diambil salah, anda bisa rugi ketika harga emas turun ataupun naik. Mohon risiko seperti ini bisa disampaikan agar ketika berinvestasi orang memahami risiko dan returnnya dari kegiatan yang dia lakukan.

    Terima kasih atas masukannya.

  7. Rudiyanto
    April 23rd, 2013 at 09:42 | #8

    @Abouw
    Salam Abouw dan Ism,

    Memang benar bahwa investasi di reksa dana mengandung risiko kehilangan sebagian atau seluruh dana yang diinvestasikan. Hal ini juga tercantum dalam prospektus reksa dana, khususnya risiko berkurangnya nilai unit penyertaan dan risiko kredit. Dalam penjualan reksa dana, investor dan calon investor juga “aware” dengan risiko tersebut karena seorang agen penjual yang baik dan calon investor yang sabar akan mau menjelaskan dan dijelaskan mengenai hal tersebut.

    Pertanyaannya, pada saat berinvestasi di emas, apakah investor atau calon investor “aware” bahwa harga emas bisa turun? ataukah persepsinya harga emas “Pasti dan Akan Selalu Naik” minimal lebih baik dari inflasi? Sehingga bisa dijadikan sebagai sarana lindung nilai? Dan kalau dalam jangka panjang harga emas akan selalu naik, bukankah teori yang sama juga berlaku di saham? Memang tidak semua saham tentunya..

  8. Rudiyanto
    April 23rd, 2013 at 09:46 | #9

    @moko
    Salam Moko,

    Untuk pertanyaan yang jelas-jelas sudah out of topic, mohon bisa disampaikan melalui forum diskusi yang saya sediakan, terima kasih.
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/forum-diskusi/

  9. April 23rd, 2013 at 09:52 | #10

    @johnny
    bagus ide dan tindakan saudara, sangat pandai memanfaatkan peluang…
    bisa lebih detai teknisnya??

  10. April 23rd, 2013 at 11:46 | #11

    @Rudiyanto
    maaf pak, web site saya sedang dalam perbaikan

  11. Bambang Februamitto
    April 23rd, 2013 at 21:20 | #12

    Entahlah pak Rudiyanto tepat atau tidak tepat investasi di emas batangan? tapi yang jelas saat saya membeli emas di bulan November 2011 di harga Rp 503.000,-/gram dan sampai saat ini malah turun harga menjadi di level Rp 440.000,-/gram. Saya benar benar bingung karena 70% uang yang ada saya investasikan di emas sementara hanya 20% saya investasikan di reksadana dan lebih bingung lagi uang tunai di tabungan menipis..jadi terpaksa saya redempt unit penyertaan yang ada di reksadana. Mungkin pengalaman saya ini bisa menjadi pembelajaran.

  12. kurniawan
    April 24th, 2013 at 07:51 | #13

    Saya kurang setuju dengan artikel pak Rudiyanto.

    Karna di keluarga saya investasi emas adalah “tradisi” , karna emas orang tua saya bisa survive ketika kurs usdollar pernah naik jadi rp 15000 tahun 1998 kalo ga salah dan juga saya sendiri juga mulai inves emas dari ketika harga emas masih 200ribu an per gram .
    dalam pandangan orang tua saya … uang sejati adalah emas … maklum pikiran orang kuno dulu.

    Yg ditakutkan adalah rupiah ini lhooo … dari sejarah ekonomi indonesia cenderung terus melemah cepat ato lambat … jadi sperti ada rasa kurang percaya thd mata uang rupiah apalagi untuk disimpan jangka waktu panjang.

    Portfolio investasi saya skarang ini : 40% emas 40% reksadana dan 20% tabungan valas (SGD)

  13. Rudiyanto
    April 24th, 2013 at 09:31 | #14

    @kurniawan
    Pak Bambang dan Pak Kurniawan,

    Kalau pengalaman saya, pada saat Juni 2011 lalu, saya membeli Emas Batangan sebagai mas kawin. Waktu itu harganya (kalau ga salah) sekitar 485.000 per gram. Sekarang harganya beli kembali menurut Antam adalah Rp 442.000 per gram. Jadi dalam waktu 2 tahun kurang, saya mengalami kerugian 8.8%. Sementara dari periode tersebut, sudah terjadi inflasi sekitar 8 – 10%.

    Harga emas memang sempat di atas Rp 500.000, namun seingat saya yang di atas itu adalah harga beli kembali Antam. Tidak seperti harga reksa dana yang jual dan belinya sama, harga jual dan beli emas tidak sama, saya tidak tahu apakah para investor “aware” dengan hal tersebut?

    Dengan menggunakan harga konversi emas dari Troy Ounce ke Gram seperti yang saya dapat dari website http://infoemas24k.wordpress.com/2011/03/12/menghitung-konversi-harga-emas-ke-gram/
    Dimana harga emas dari Yahoo Finance 1421.5 (24 April)
    Pembagi 31.105
    Kurs (anggaplah) 9740,
    maka 1 gram = 1421.5 / 31.105 x 9740 = Rp 445.118

    Untuk emas ukuran 10 gram dijual seharga 501.000, berarti ANTAM mendapat keuntungan 12.5% dari penjualan tersebut. Lebih hebatnya lagi karena jumlah pembeli dibatasi, orang tetap berbondong-bondong membelinya.

    Pertanyaannya, kalau Antam bisa untung 12.5%, Berapa yang kita dapat? Atau yang kita hasilkan dari emas 10 gram? Mungkin hanya pemilik toko emas, pegadaian atau bank yang menyediakan jasa gadai yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.

    Kesimpulannya, saya hanya ingin menjelaskan bahwa saya sendiri tidak berminat dengan “berinvestasi” di emas karena tidak bisa menjustifikasi emas sebagai instrumen investasi. Jika ada yang berpendapat lain karena lebih ahli soal emas, mendapatkan keuntungan dari emas, pengalaman atau hal lainnya silakan saja karena saya memang awam soal emas ini.

    Mengenai prospek Indonesia sendiri adalah hak anda untuk meragukannya. Cuman seingat saya juga, ketika ekonomi kurang bagus dollar memang sempat ke 15.000, namun jangan dilupakan juga ketika ekonomi bagus, sempat ke 8000 – 9000.

    Saya berterima kasih atas sharingnya, semoga bisa menambah pengetahuan para pembaca disini.

  14. April 24th, 2013 at 11:15 | #15

    @Rudiyanto

    Harga di Antam memang konyol Pak. Pertama harga jualnya tinggi sekali, lalu harga beli kembalinya juga terpaut sangat jauh, seperti bapak bilang. Ini konyol sekali, menunjukkan Antam sangat tidak efisien atau mungkin terlalu kemaruk mencari laba.

    Oleh karena itu, investor emas yg lebih berpengalaman nggak akan beli di Antam tapi di toko emas. Di Jakarta misalnya di daerah Cikini ada beberapa, sudah ada yg punya website online juga misalnya GoldGram (disclaimer: saya sama sekali tidak berafiliasi dengan mereka, hanya pernah beli di sana brp kali). Dibanding Antam misalnya, harga jual/beli Antam hari ini 496rb/gram dan 442rb/gram untuk lantakan 100gr (untuk investor emas biasanya harga yg kita pakai yg 100 gram-an). Harga di toko, seperti disebut di websitenya, untuk jual/beli adalah 463rb/460rb. Seperti dapat dilihat, pertama harga jualnya sudah terpaut Rp 33rb sendiri per gram dibanding Antam, lalu terlihat “spread” antara harga jual dan beli cuman 3rb/gram! Bandingkan dengan Antam yg “spread” nya 50rb! Kalau ini dianggap sebagai komisi, maka besarnya kurang dari 1%, jadi sangat efisien.

    Tentu pertanyaannya, apa barang yang dijual sama? Jawabnya, iya. Sama-sama emas lantak/cetakan Antam, dan sama2 ada sertifikat keaslian Antam juga. Mau cetakan lama atau cetakan baru ada. Semua 100% sama. Kenapa bisa murah? Itu karena mereka membawa emas mereka sendiri ke Antam untuk dimurnikan dan diberi sertifikat (Antam mempunyai layanan ini). Jadi bisa dibilang ini emas juga emas Antam karena dibuat oleh Antam. Tapi “bahan baku” nya dari tokonya sendiri, sehingga harganya mereka sendiri yang menentukan.

    Demikian sedikit sharing.

    Tentang apakah kita mau membeli emas atau tidak, saya kira itu kembali ke strategi dan selera investasi masing-masing saja. Saya sendiri punya tapi sedikit, sebagai bagian dari kewajiban diversifikasi investasi. Saya beli di akhir 2011/awal 2012, harga di sekitar 500rb, jadi seperti banyak orang, masih rugi. Tapi saya tidak menyesal untuk beli, walaupun enggak akan nambah juga. Mudah-mudahan itu bisa untuk anak cucu nanti. :)

    Tapi ngomong-ngomong, kalau Warren Buffet bilang “Kalau Anda punya emas 1 kg sekarang, maka sampai kiamat Anda masih punya 1 kg emas” itu bisa dimaknai dari dua sisi. Dari satu sisi, seperti Pak Rudi bilang berarti investasinya ya gitu-gitu saja emasnya nggak bisa beranak jadi 1.2 kg misalnya. Tapi kalau dilihat dari sisi lain, bisa diartikan bahwa harta kita aman, tidak berkurang jadi 0.9 kg misalnya. Oleh karena itu sebagai alat perlindungan nilai saya kira emas bisa dijustifikasi.

    Maaf panjang komennya. :)

  15. Rudiyanto
    April 24th, 2013 at 12:04 | #16

    @benny
    Terima kasih pak Benny atas komennya.

    Terus terang saya malah senang ada komen, karena kadang2 begitu jarang ada komen sampai saya sendiri ragu, apakah blog yang saya tulis dengan susah payah ini ada yang baca atau tidak.

    Semua komentar, baik itu yang membangun ataupun yang mengkritik, saya akan terima dengan senang hati karena bisa memberikan inspirasi untuk menulis yang lebih bagus nanti. Saya juga terbuka dengan diskusi.

    Utk komentar anda di atas yang 50rb dan 1% itu maksudnya 10% kali ya..

    Kemudian mengenai emas dan pegang hingga kiamat tersebut, sebetulnya sama juga dengan tanah, saham, properti dll. Bedanya, aset tersebut bisa beranak pinak dalam bentuk hasil pertanian, dividen, sewa, selain hanya kenaikan harga saja. Sementara emas hanya menggantungkan diri pada kenaikan harga.

    Sekali lagi, terima kasih untuk sharingnya. Kapan2 kalau ada kesempatan di Surabaya kita bisa ngobrol2 lagi. Kebetulan, minggu depan, saya akan menyelenggarakan seminar di Medan, kalau di Surabaya mungkin beberapa bulan lagi karena Panin AM akan mengikuti acara pameran IFEF bersama Kontan. Cuman detail acaranya saya kurang ingat.

  16. April 24th, 2013 at 14:49 | #17

    @Rudiyanto

    Oh maaf, maksud saya yang 1% itu “spread” yang 3rb di toko, bukan yang Antam.

    Saya akan antusias sekali untuk datang di IFEF Surabaya. Tahun lalu saya juga datang di Jakarta. Topik2 seminarnya biasanya menarik. Salam.

  17. April 26th, 2013 at 03:41 | #18

    setuju pak. saya sepakat dengan pandapat anda

  18. Chkp rassa
    April 26th, 2013 at 08:19 | #19

    Dear Pak Rudiyanto,

    Menarik sekali artikel di atas, termasuk senjumlah komentar mengenai topik yang selalu menyita perhatian dalam investasi. Sya pribadi investasi emas kurang tertarik dengan berbagai alasan yang sudah disampaikan. Sebagai investor emas jika dalam keadaan emergency (ada kebutuhan mendesak) yang harus menyediakan dana segar, kita dalam posisi yang lemah ketika akan menjualnya.
    Pihak toko emas mengatakan bahwa harga beli toko sudah dipatok sekian dan tidak sama dengan harga jual mereka. Sementara ketika kita beli di toko emas sudah tentu pembeli dikenain harga yang lebih tinggi plus ongkos cetak dan segala macamnya.

    Nah, inilah sedikit keengganan saya untuk investasi emas, paling tidak membeli emas sebatas sebagai aksesori perhiasan. Berbeda dengan instumen investasi lain dimana ketika perlu dana segar cukup menjual dengan harga pasar yang secara tidak langsung antara penjual dan pembeli dalam posisi setara.
    Sya sependapat bahwa emas merupakan komoditas layaknya komoditas lain dalam kebutuhan hidup. Yang membedakan adalah emas sebagai komoditas yang mempunyai nilai jual pasar dan secara fisik tidak mengalami degradasi dalam kurun waktu lama. Persoalannya adalah harga emas selalu memberikan dualisme harga dengan ‘spread’ harga yang cukup jauh antara jual dan beli. Menurut saya situasi ini yang tidak menyenangkan ketika akan menjual diposisikan sebagai pihak yang lemah dalam bargaining.

    Dengan pembahasan topik ini memberikan pencerahan yang nyata bahwa untuk menentukan investasi banyak jenis instumen investasi yang dipilih dan di tangan investor jenis investasi menjadi pilihannya.
    Semoga…

    Salam,
    chkp rassa.

  19. Rudiyanto
    April 26th, 2013 at 08:56 | #20

    @Chkp rassa
    Nice though rassa, thanks for the comment..

  20. kurniawan
    April 26th, 2013 at 23:47 | #21

    Pak Rudiyanto, bisa tolong di jelaskan apa peran emas dalam per ekonomian dunia modern ini …

    kalo dalam ekonomi modern skarang ini emas hanya dipandang sebagai komoditi bukan ‘safe haven” sama hal nya dengan “bawang putih” misal nya .. knapa bank central masih menimbun emas sebagai cadangan devisa nya … dan juga kalo setelah terjadi krisis ekonomi bank central adalah “net buyer” emas yg mana sebelum nya adalah “net seller” …
    terutama china, india, rusia dan baru2 ini bank central korea selatan juga menambah cadangan emas nya … dan amrika adalah terbesar dalam cadangan emas nya ..
    bukankah menyimpas emas tidak mendapatkan return apakah tidak lebih baik bank central menyimpan “surat utang”/ bond dari negara2 maju untuk mendapatkan “deviden” ato “bunga”

  21. Rudiyanto
    April 27th, 2013 at 00:39 | #22

    @kurniawan
    Salam Pak Kurniawan,

    Kebetulan saya masih belum tidur sehingga bisa saya bantu sharing pendapat saya soal ini.

    Pertama-tama, pendapat saya soal emas sebagai komoditi adalah pendapat saya sebagai investor pribadi. Dan buat saya sederhana saja, harga beli saya berapa, harga jualnya berapa. Apakah naik dari waktu ke waktu, dan apakah kenaikannya bisa menutupi inflasi? dari pengalaman pribadi saya tidak.

    Kemudian, kalau Bank Central membeli emas , tentu harga belinya sudah berbeda dengan saya sebagai investor perorangan karena volume yang dibeli dalam jumlah besar. Dengan skala pembelian sebesar itu, ongkos transportasi, keamanan, dan penyimpanan bisa terjustifikasi atau bahkan murah / gratis jika sudah ada fasilitas negara. Sekali lagi, ini tidak ada di investor perorangan.

    Kemudian yang paling penting, emas sendiri bagi negara dapat memberikan “nilai tambah” sama halnya seperti seniman yang mengukir emas, toko emas perhiasan, pegadaian, dan perusahaan transaksi berjangka yang menggunakan emas sebagai instrumen pembentuk kontrak komoditas.

    Salah satu contoh bentuk nilai tambah emas bagi negara menurut saya adalah menambah stabilitas negara dalam bentuk keyakinan orang terhadap kondisi negara tersebut. Bisa saja, negara dengan cadangan emas yang baik akan dipandang lebih stabil sehingga mata uangnya akan tetap stabil atau menguat selama masa krisis. Sementara jika menyimpan surat utang negara yang sedang dalam masalah (mau itu negara maju atau tidak) bisa menyebabkan keyakinan investor terhadap mata uang negaranya turun.

    Jadi emas bagi negara bisa memberikan nilai tambah bagi negara sehingga saat krisis terjadi net buy seperti yang anda katakan, sementara bagi investor pribadi seperti saya tidak, sehingga buat saya tetap komoditas.

    Meski demikian, analogi bahwa cadangan emas yang banyak atau bertambah akan membuat mata uang stabil atau menguat juga tidak sepenuhnya berlaku. Buktinya cadangan emas indonesia tidak banyak berubah namun mengapa Rupiah terus melemah? apakah penyebabnya? Sudah banyak dibahas di koran yaitu Current Account Deficit (Ekspor < Impor). Kemudian sistem yang membandingkan jumlah cadangan emas dengan jumlah uang beredar juga sudah tidak diberlakukan lagi. Jadi menurut saya tindakan negara menambah kepemilikan emas (catat: bukan menimbun) adalah lebih kepada tindakan untuk menambah rasa kepercayaan orang terhadap negara tersebut. Sekali lagi, buat negara emas adalah investasi karena memiliki nilai tambah.

    Kemudian jika pertanyaannya mengapa menimbun emas sebagai cadangan devisa, itu menurut saya harus diluruskan. Sebab dengan dana cadangan devisa yang sedemikian besar, emas adalah salah satu alternatif dalam melakukan diversifikasi. Mereka juga punya surat utang, uang cash, dan mata uang negara lainnya.

    Jadi bukan hanya ketika krisis saja mereka menimbun emas, sebab saya yakin dengan cadangan devisa yang terus bertambah, maka selain emas, juga portofolio investasi lainnya juga akan ikut bertambah. Pertanyaannya, apakah informasi tersebut dipublikasikan? Sebab ketika krisis memang aksi mereka jual beli emas menjadi perhatian, tapi bagaimana dengan sisanya?

    Sebagai informasi cadangan devisa emas China adalah 2% dari total cadangan devisa menurut wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Gold_reserve). Saat ini total cadangan devisa china telah mencapai 3 triliun USD, jadi sekitar 60 Milliar USD. Tahukah anda berapa dana dari 3 triliun USD itu ditempatkan di Surat Utang AS?…. 1,1 triliun USD menurut CNBC http://www.cnbc.com/id/29880401/page/14

    Jadi jika anda bertanya apakah China membeli Bond Negara Maju Amerika untuk mendapatkan Bunganya, saya kira jawabannya sudah sangat jelas, mereka melakukannya.

    Sebetulnya saya tidak anti emas, saya cuman ingin meluruskan persepsi masyarakat yang menganggap emas itu seolah-olah seperti investasi yang tidak pernah turun dan akan berlipat-lipat di masa yang datang tanpa memperhitungkan kerugian dari spread harga, biaya penyimpanan dan risiko kehilangan fisik yang harus ditanggung sederhana karena "sudah seperti demikian dari sononya…".

    Zaman berubah dengan cepat, jadi saya kira ada cara pandang lama yang bisa jadi membuat kita lebih bijaksana sehingga tidak boleh dilupakan, tapi ada juga yang harus berubah jika memang harus berubah. Tapi jika ada yang ingin tetap pada pendirian itu adalah hak masing-masing orang karena bisa saja dia lebih bijaksana atau untung besar dari pendirian tersebut.

    Demikian kira2 tanggapan saya, terima kasih atas pertanyaannya, semoga hasil diskusi kita bisa memberikan nilai tambah kepada para pembaca.

    Selamat malam

  22. kurniawan
    April 27th, 2013 at 06:39 | #23

    Penjelasan yg cukup masuk akal pak Rudyanto …

    orang bilang harga emas di indo ga pernah turun sama hal nya dgn properti … itu karna rupiah ini yg terus turun daya belinya … ga cuma emas semua harga komoditi di indo cenderung naik.

    Mungkin karna dulunya emas dipake sebagai alat tukar /uang sehingga di beberapa negara asia sperti china, india sangat fanatik terhadap emas dan juga orang2 keturunan china di indonesia pada umumnya ada emas sebagai bagian dari portfolio investasi mereka.

    kebetulan saya kerja di brunei … disini mata uang brunei (BND) sangat stabil dan kuat ,
    Emas tidak begitu dipandang sebagai investasi /safe haven dan jg tidak popular … jadi sepertinya emas popular di negara2 yg mata uang nya lemah.

    apakah pemerintah indo sengaja melemahkan nilai tukar rupiah untuk mendorong export seperti halnya jepang dan china ?

    teman kerja saya orang india pernah cerita bahwa kalo punya anak perempuan harus simpan emas karna tidak ada emas ga bisa kawin … bahkan bisa sampai 500gram – 1kg emas sebagai emas kawin baik berupa perhiasan dan emas batangan.

  23. Rezqi Chandra
    April 27th, 2013 at 15:54 | #24

    Sebelumnya Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Rudi karena tulisan (artikel) Bapak mengenai perhitungan Kinerja Portofolio/Reksadana telah Saya jadikan salah satu referensi dalam penulisan skripsi Saya kemarin.

    Namun dalam artikel Bapak yang satu ini Saya agak tergelitik untuk memberikan komentar, karena Saya kurang setuju dengan pemikiran Bapak tentang emas.

    Saya akan mengomentari satu-persatu alasan Anda kurang menyukai emas sebagai investasi yang ideal.
    Pertama, emas memang salah satu komoditas karena secara fisik memiliki nilai kegunaan, seperti kita ketahui selain sebagai perhiasan, dalam sejarahnya juga pernah dipakai sebagai mata uang, dan belakangan digunakan sebagai investasi untuk lindung nilai (hedging) dari nilai mata uang yang tidak ada nilai fisiknya (nilai intrisiknya nyaris nol). Tentu saja jika kita sebagai investor pasif (bukan pedagang) kita tidak bisa menikmati nilai tambah apapun (deviden, yield, kupon, bunga, dsb) dari emas sehingga kita hanya mengandalkan keuntungan dari capital gain. Namun yang perlu digarisbawahi bahwa karena emas masuk jenis komoditas bukan berarti tidak layak dijadikan lahan/instrumen investasi yang ideal. Kita tidak dapat memungkiri harga Emas sepanjang sejarahnya secara rata-rata adalah naik meskipun pernah beberapa kali turun (koreksi) bahkan stagnan tapi pada akhirnya kembali naik. Artinya meskipun emas termasuk komoditas tapi karena nilainya yang selalu naik di masa mendatang, apakah salah jika kita jadikan alat investasi??

    Kedua, mengenai harga emas, menurut saya sangat wajar harganya tidak sama antara penjual yang satu dengan penjual yang lain. Jangankan di pasar lokal Indonesia sini, di pasar internasional dengan volume perdagangan yang cukup tinggi pun masih terdapat perbedaan harga namun biasanya relatif kecil. Tidak hanya emas, semua barang komoditas pasti memliki disparitas harga antara penjual di tempat yang satu dengan tempat yang lain. Penyebabnya seperti yang Anda ungkapkan di atas. Intinya hampir semua komoditas tidak ada yang memiliki satu harga selama komoditas tadi dijual di beberapa tempat atau beberapa pihak penjual dan tidak diatur oleh pihak yang berwenang (semisal harga surat-surat berharga bisa memiliki satu harga karena penjual/tempatnya cuma satu. Misal lagi BBM dan TDL bisa sama karena sudah diatur/ditetapkan oleh pemerintah). Namun menurut saya hal ini tidak perlu dibikin pusing. Justru ini peluang buat kita jika ingin membeli emas kita bisa mencari dan membandingkan salah satu penjual yang masih menjual emas dengan harga paling murah. Dan nantinya ketika kita akan menjual emas, kita cari penjual yang masih memberi harga tertinggi. Spread yg cukup lebar pada para penjual emas memang untuk menahan harga jual mereka ketika harga bergerak fluktuatif semisal harga merosot dengan sangat cepat yang tentu saja tidak bisa diimbangi dengan kecepatan penjualan mereka yang masih menyisakan persediaan saat beli di harga ‘mahal’.

    Ketiga, mengenai valuasi emas, saya akui memang agak susah untuk mengetahuinya. Jika menggunakan rasio yang berbau Earning tentu saja tidak bisa karena emas tidak memiliki earning. Jika harga emas dibandingkan dengan harga produksinya mungkin sebagai tambahan informasi Saya coba bantu kroscek harga produksi emas saat ini melalui internet dan saya menemukan link ini : http://investasi.kontan.co.id/news/harga-emas-antam-terendah-sejak-juli-2012/2013/04/23, kemudian ini : http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=5646, dan link ini : http://emas-perak.com/fed-mematikan-perdagangan-emas-namun-tidak-menguburnya/.
    Itupun kita tetap tidak bisa menilai emas sudah terlalu ‘mahal’ atau tidak karena valuasi biasanya perlu pembanding dengan instrumen sejenis. Kalau di Saham kita bisa membandingkan saham suatu perusahaan dengan saham-saham lainnya yang sejenis.
    Namun bukan berarti jika valuasi emas tidak bisa dihitung terus kita langsung menjustifikasi emas bukan alat investasi yang tidak layak.

    Pedoman saya sendiri untuk menilai emas adalah cukup sederhana, selama sebagian besar orang masih percaya emas berharga/bernilai untuk berbagai tujuan (lindung nilai, cadangan devisa, dll) yang artinya permintaan masih tinggi sedangkan produksi/ketersediaanyanya di masa mendatang tidak bisa terus ada atau bahkan meningkat, malah terus menurun (Tambang/persediaan emas mentah suatu saat bisa habis karena emas termasuk kategori Sumber Daya Alam yang Tidak Terbarukan (Tidak Dapat Diperbarui) maka harga emas bisa terus melambung. Tentu saja jangka waktunya sangat panjang karena investasi emas ini memang untuk jangka panjang.

    Jika Anda membandingkan investasi emas dengan investasi di instrumen lain (dalam tulisan di atas, Anda bandingkan dengan surat-surat berharga, seperti saham dan reksadana) dengan hanya melihat faktor-faktor yang hanya menyebutkan kekurangan emas saja seperti yang Anda paparkan menurut saya hal ini sangat tidak relevan karena masing-masing instrumen investasi memang memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri.
    Meskipun juga Anda menyertakan opini seorang investor kelas wahid dunia (P. Warren Buffet, saya pribadi sangat kagum terhadap beliau) yang tidak menyukai emas dengan alasan tidak adanya nilai tambah (Deviden, yield, kupon, dsb) pada emas tidak serta merta emas adalah investasi yang kurang layak karena beberapa investor kelas dunia lainnya ternyata menyukai emas seperti George Soros dan Louis Bacon yang mengoleksi emas dalam portofolio investasinya meskipun belakangan ini mreka menjual sebagian emasnya.

    Mohon maaf jika komentar saya berseberangan dengan opini Anda. Saya hanya tidak ingin tulisan anda tentang subjektifnya harga emas tidak lantas membuat Anda jadi subjektif juga terhadap emas karena Saya menilai Anda sebagai analis investasi (tentunya tidak sedikit orang awam yang mungkin bisa terpengaruh dengan tulisan Anda sehingga akhirnya mereka ikut tidak menyukai emas) harus dapat menilai semua instrumen investasi secara komprehensif meskipun Anda menyatakan awam soal emas namun menurut saya dasar ilmu analisisnya sebenarnya sama saja untuk semua instrumen investasi. Sekian komentar saya. Terima Kasih. :)

    • Rudiyanto
      April 28th, 2013 at 14:20 | #25

      Selamat siang Rezqi,

      Terima kasih sudah menggunakan blog ini sebagai referensi, mudah2an bisa membantu skripsi anda.

      Terkait ketidaksetujuan anda, saya ada beberapa pertanyaan:
      Pertama-tama, anda menggunakan asumsi emas selalu naik karena melihat angka rata-rata historis. Berarti dengan logika yang sama saham dan semua jenis reksa dana juga akan demikian bukan? Pertanyaannya, apakah mind set untuk berinvestasi di emas itu sama dengan mind set yang anda gunakan untuk investasi di saham dan reksa dana?
      Pertanyaan saya juga apakah “pasti” emas akan naik dalam jangka panjang? Bukankah dalam berinvestasi ada asumsi “masa lalu tidak bisa dijadikan acuan untuk kinerja di masa depan”?

      Kedua, permasalahan harga di emas bukan di perbedaan antara toko yang satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan comment dari @rassa, permasalahan di harga emas ada di spread harga antara beli dan jual dan perbedaan tersebut membuat kita sebagai investor emas dalam posisi yang lemah. Dimana kalau kita beli dan jual di hari yang sama sudah pasti kita rugi dari spread tersebut. Apakah anda sudah pernah mencoba membeli emas di daerah toko emas di Cikini Jakarta? Saya berani bertaruh kalaupun harganya berbeda, belum tentu perbedaan tersebut signifikan antara toko yang satu dengan lainnya.

      Ketiga, sebagai pengagum Mr Warren Buffet, apakah anda juga menjalankan strategi investasinya? Jika iya, apakah anda akan berinvestasi pada sesuatu yang bahkan mau dijustifikasi saja sudah susah atau tidak bisa?

      Mengenai emas sebagai sumber daya yang tidak terbaharukan, saya lebih bingung lagi. Kalau memang logikanya demikian dan diperbolehkan oleh pemerintah tentunya saya akan menimbun minyak sebanyak mungkin. Sebab saya tidak tahu kapan emas akan abis, karena emas itu tidak dikonsumsi (dimakan, jadi asap setelah buat jalankan mesin, atau berubah bentuknya), sementara Minyak begitu dikonsumsi akan habis dan sebagai informasi minyak bumi di Indonesia cadangannya tinggal 10 tahun kurang lagi. Penggunaan emas paling ditimbun di Safe Deposit atau dijadikan emas perhiasan yang nantinya bisa dikembalikan lagi jadi emas batangan. Jadi logika saya, memang jumlah cadangan emas terbatas, tapi menurut saya jumlahnya tidak akan berkurang.

      Mengenai keunggulan emas, seperti yang sudah saya kemukakan dalam kesimpulan tulisan, bahwa terus terang saya tidak bisa menemukan keunggulan berarti yang bsia membuat saya merasa yakin membeli emas ini karena saya tidak bisa menjustifikasinya. Sebab kalaupun ada, itu berarti naik jika dilihat dari rata-rata historis jangka panjang, bukankah semua instrumen investasi yang lain juga demikian?

      Mengenai tokoh yang anda sebutkan, saya tidak tahu siapa itu Louis Bacon, tapi George Soros saya sedikit banyak tahu. Pembelian emas dilakukan oleh George Soros dilakukan dalam portofolio investasi di Soros Fund Management. Namanya Fund Management, berarti kurang lebih model bisnisnya sama seperti Manajer Investasi dimana mereka mendapat management fee dan kalau di luar negeri mereka mendapat lagi yang namanya performance fee (apabila kinerja di atas target yang ditetapkan). Jadi, menurut saya beliau mendapat nilai tambah dari berinvestasi di emas. Apakah kita mendapatkannya?

      Dan sekali lagi, jika dasar analisis antara emas dan investasi lainnya sama, maka menurut saya justifikasi adalah hal yang penting. Investasi tanpa justifikasi = spekulasi. Perihal justifikasi beda, itu tergantung ke masing-masing orang.

      Sekian tanggapan saya, terima kasih.

  24. Rudiyanto
    April 28th, 2013 at 00:32 | #26

    @kurniawan
    Selamat malam lagi Pak Kurniawan,

    Sekali lagi terima kasih atas komentar dan tanggapannya. Menyambung diskusi kita,

    Pertama-tama, saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan menurunnya daya beli? apakah artinya kalau dulu (misalnya) Rp 1 juta cukup buat makan 2 minggu, sekarang kurang? Jika memang demikian, menurut saya yang namanya kontributor utama dari penurunan daya beli itu bukan nilai mata uang yang turun dan harga barang naik. Namun kontributor utamanya adalah lifestyle.

    Dulu ada istilah “makan ga makan yang penting rokok” kemudian berkembang “rokok ga rokok yang penting ngumpul”. Terakhir istilah itu berkembang lagi menjadi “ngumpul ga ngumpul yang penting connect” Artinya di luar pangan, sandang dan papan, ada lagi kebutuhan pokok lainnya yaitu rokok, sosialisasi dan konektivitas via media online.

    Yang membuat uang Rp 1 juta tidak cukup buat makan 2 minggu saya yakin sekali lebih karena ada peningkatan jumlah uang yang dikeluarkan untuk beli rokok (cukai naik terus, begitu pula dengan tingkat kecanduannya), acara ngumpul2 dan hang out di mal, cafe, atau tempat lainnya, kemudian pengeluaran utk bayar koneksi internet di 3 smartphone berbeda. Bukan karena harga cabai, bawang dan sapi naik. Pedagang bisa mengakali dengan potongan lebih tipis, atau pakai bumbu alternatif cabe dan bawang. Demikian pula buat konsumen kalau memang harga bakso mahal, ya makan saja mie ayam atau nasi goreng.

    Saya baru dijelaskan oleh adik saya di BB tidak install instagram sehingga anak SMA jaman sekarang di Batam punya BB buat chating dan Iphone buat instagram, untuk program semacam instagram di BB katanya tidak asik, belum lagi yang namanya tab, note, pad dll yang juga butuh langganan internet kalau tidak mau cuma numpang wifi gratis.

    Padahal harga smartphone semakin murah karena ada versi KW dan lokalnya, kemudian harga pulsa juga semakin murah yang dibuktikan dengan semakin besar kuota internet, sms dan telpon yang diberikan utk jumlah pulsa yang sama. Tapi demi gengsi (smartphone mesti bermerek) dan konektivitas, yang harusnya jumlah uang tersebut bisa dipakai untuk mempertahankan daya beli dari kenaikan harga cabe, bawang dan sapi tersebut, malah digunakan untuk kebutuhan lainya.

    Sehingga muncul istilah baru lagi yang saya pinjam dari bapak Mario Teguh yaitu Gaji 12 pas. Artinya Gaji Pas abis tanggal 12….

    Saya tidak begitu mengerti tentang negara yang mata uang negaranya lemah atau kuat dan asumsi bahwa negara yang mata uangnya lebih akan lebih doyan emas atau sebaliknya karena belum pernah saya baca penelitian yang membahas tentang hal tersebut. Karena menurut saya untuk rakyat indonesia di daerah penghasil ternak, mungkin sapi lebih berharga daripada emas. Sebab dari salah satu blog favorit saya http://dahlaniskan.wordpress.com/ salah satu kendala swasembada sapi di Indonesia selain masalah manajemen, pakan dan bibit, ternyata masyarakat masih lebih menyukai untuk memelihara sapi sebagai modal daripada dijual semua untuk dijadikan daging.

    Namun saya sependapat bahwa emas di beberapa negara memang memiliki nilai prestise atau fungsi modal kawin anak sehingga bisa dianggap sebagai nilai tambah. Masih ingat cerita TKI terpidana hukum mati yang diselamatkan oleh pemerintah kemudian mendapat hibah 1,2 M dari TV One. Sekarang julukannya Toko Emas Berjalan. http://news.detik.com/read/2011/08/05/171827/1697692/10/dapat-sumbangan-rp-12-m-darsem-kini-bak-toko-emas-berjalan Berarti di Indonesia, emas bisa jadi prestise yang penting.

    Kemudian terkait apakah pemerintah Indonesia membiarkan pelemahan Rupiah untuk penguatan ekspor, saya rasa tidak. Sebab jika hal ini dilakukan akan menyebabkan protes dari dunia, sama seperti Jepang yang dikritik Abenomics-nya. Pelemahan ini disebabkan karena kita kebanyakan impor BBM yang disebabkan karena ekonomi kita yang tumbuh sehingga banyak kebutuhan dan negara kita sudah menjadi net importir minyak.

    Demikian pak, semoga diskusi kita bermanfaat. Mohon ditanggapi atau diluruskan apabila ada yang tidak sesuai / tidak sependapat, terima kasih.

  25. hendra
    April 28th, 2013 at 08:44 | #27

    Selamat pagi semua.

    Kalau kita cuma mengandalkan emas saja untuk meraih hasil tentu hasilnya tidak terlalu besar. Namun untuk jangka panjang emas tetap pasti naik, emas jumlah yg ada terbatas dan pengguna yang tiap tahun meningkat.

    Emas tidak akan membuat kita kaya tapi emas akan memelihara kekayaan kita (TDW)

    Kalau mau untung dengan emas adalah dengan menggadaikan emas, bukan beli gadai.
    Uang hasil gadai emas (+/ 80% dari harga beli emas) dijadikan modal investasi seperti bukan usaha atau beli reksadana dn saham.

    Dengan bunga/biaya titip emas 12%/thn di bank syariah dan keuntungan dari usaha/saham/reksadana yang katanya 20%/thn, maka emas akan terselamatkan dan tetap meraih utung.

    Sejarah membuktikan emas lebih tangguh dari mata uang manapun termasuk dollar amerika. Simpan emas 5, 10, 15, 20, 25, 30,35 tahun yang lalu dan juga simpan dollar yang sama nilainya dengan emas. Maka tahun ini di saat harga emas turun, emas bisa beli apa dan dollar bisa beli apa (data emas dalam dollar 35 thn lalu bisa dilihat di beberapa web)

    Inflasi jelas sangat nyata, 1995 rokok GG Filter 800/bungkus, sekarang sdh diatas 10rb. Rokok memang ada cukainya, sekarang bandingkan dengan permen. Atau dengan makanan saja. 1999 dengan 1000 bisa beli 2 mie goreng dan telur. sekarang miehampir 2000 dan telur di atas 1000, apakah ini bukan inflasi, hanya gaya hidup?

    Yang harus dihindari adalah investasi Asuransi Unitlink, sebab keuntungan mereka tergantung dari hasil investasi perusahaan di umumnya reksadana dan saham. Jadi lebih baik langsung ke reksadana dan saham, jadi keuntungan tidak perlu berbagi dengan perusahaan asuransi.

    Asuransi yang perlu hanyalah asuransi jiwa dan kesehatan tunggal yang tidak digabung dgn investasi. Asuransi barang juga perlu

    Terakhir adakah reksadana dan saham yang memberikan keuntungan di atas 10%/thn selama 10 tahun terakhir. Berapa jumlah saham dan reksadana yang terus memberikan hasil seperti itu?
    Berapa banyak orang yang bisa memilikinya.

    Investasi terbaik menurut saya adalah beli emas dulu lalu gadai (ingat, sekali lagi bukan beli gadai atau juga seperti investasi emas bodong yang saat ini sedang marak).
    Uang hasil gadai baru buka usaha dan atau beli reksadana dan saham

  26. kurniawan
    April 28th, 2013 at 10:01 | #28

    Pak Rudiyanto,

    Memang seperti nya saya agak paranoid terhadap rupiah ya …

    bukannya saya ga cinta rupiah … tapi daya beli rupiah terus turun itu saya rasakan …
    saya tinggal dan kerja di brunei dah 9 tahun … awal tahun 2004 kurs 1 BND masih di bawah rp5000 skarang dah 7800 rupiah … berarti daya beli rupiah berkurang 50% yg artinya kalo saya bawa uang rupiah ke brunei berarti saya cuma bisa membeli setengah dari yg bisa saya beli 9 tahun lalu … jadi saya kwatir misal 10 tahun lagi kalo saya pensiun balik ke indonesia.

    harga emas tahun 2004 masih kurang lebih 100ribu an per gram dan skarang kurang lebih 400ribuan per gram.
    chartnya bisa dilihat di httpx://goldprice.org/spot-gold.html (pilih IDR, dan gram untuk berat)

    Jadi asumsi awam saya selama 9 tahun… nilai rupiah turun 50% dan emas naik lebih dari 300%

    Mungkin pak Rudiyanto memberi perbandingan antara rupiah, emas dan reksadana saham untuk jangka waktu 10 tahun kebelakang.

    Apakah jika 10 tahun lalu uang rupiah saya belikan RDS lebih menguntungkan daripada saya belikan emas waktu itu …

    oleh karna itu investasi saya di indonesia majoritas di reksadana saham, emas, dan juga baru2 ini coba RDPT.

    saya harap alokasi aset investasi saya cukup tepat untuk jk panjang di indonesia.

  27. Rudiyanto
    April 28th, 2013 at 14:43 | #29

    @hendra
    Selamat Siang Pak Hendra,

    Terima kasih atas komentarnya. Kalau menurut saya, sekali lagi mengatakan emas dalam jangka panjang akan selalu naik karena jumlahnya yang terbatas itu saya tidak selalu sependapat. Namun jika itu menjadi justifikasi anda semua, silakan2 saja. Karena justifikasi bukan berarti benar atau salah tapi pembenaran atas tindakan kita melakukan suatu hal.

    Kalau mau gadai emas untuk dijadikan modal usaha, menurut saya itu adalah keunggulan dari instrumen emas karena sejauh ini reksa dana masih belum bisa. Ada yang mengatakan bisa di satu bank tertentu tapi sepertinya masih belum umum. Meski demikian cara ini menurut saya baru bisa dilakukan oleh orang dengan mental enterpreneur, bukan mental investor.

    Kemudian, melakukan gadai emas untuk berinvestasi di reksa dana bukan cara yang saya sarankan. Sebab biaya gadai itu tetap, sementara kenaikan reksa dana itu tidak pasti. Jika anda berinvestasi pada saat harga turun, dengan apa anda mau membayar biaya gadai tersebut? Mengingat investasi reksa dana cuman butuh uang Rp 250.000 maka mulailah dengan uang yang ada dulu, tidak perlu sampai harus minjam.

    Terkait harga rokok dan harga mie, menurut saya harus diperhatikan juga berapa UMR pada tahun 1995, 2005 dan 2013? Apakah besarnya penghasilan kita sama dari tahun 1995 sampai sekarang? Kenaikan gaji biasanya diusahakan agar naik minimal sama dengan inflasi. Jadi secara daya beli, tetap bisa dipertahankan.

    Saya tidak punya data emas dari hingga 35 tahun yang lalu, tapi kalau 10 tahun yang lalu ada. sebagai informasi
    Tanggal 25 April 2003 harga emas 333,25 per Troy Ounce. Sekarang 1462. Berarti terjadi kenaikan sebesar sekitar 338%. Dalam periode yang sama, IHSG sudah naik 1044% dan LQ-45 naik 784%. Dari 13 reksa dana yang sudah berumur 10 tahun, hanya 1 reksa dana yang kenaikannya di bawah emas yaitu 243%. Sisanya naik antara 584% – 2535%. Kalau jumlah pemilik saya tidak tahu, dan jumlah saham saya juga tidak tahu karena harus dilakukan penelitian dulu.

    Demikian, semoga diskusi ini bisa memberikan nilai tambah. Terima kasih atas tanggapannya.

  28. Rudiyanto
    April 28th, 2013 at 14:49 | #30

    @kurniawan
    Salam Pak Kurniawan,

    Kalau menurut saya, apabila anda tinggal dan mendapat penghasilan dari Brunai, maka bukankah bagus kalau dulunya 1 BND 5000 sekarang 1 BND 7800. Sebab jika penghasilan anda 1000 BND dan dikirimkan ke Indonesia, keluarga anda yang dulunya mendapatkan Rp 5 juta sekarang naik jadi 7.8 juta karena kursnya berubah?

    Lain kalau keluarga anda tinggal di BND dan penghasilan anda dalam Rupiah sehingga pendapatan mereka berkurang? Jika benar demikian, mengapa harus dipaksakan tinggal di BND kalau pendapatannya Rupiah?

    Pelemahan Rupiah dalam mata uang bukan berarti menurunnya daya beli. Sebab perubahan mata uang bisa disebabkan oleh banyak faktor lainnya.

    Mengenai perbandingan kinerja 10 tahun emas dan reksa dana saham sudah saya berikan di komentar pak Hendra di atas, monggo bisa dipelajari.

    Semoga bermanfaat..

  29. kurniawan
    April 28th, 2013 at 16:04 | #31

    Terima kasih atas info nya pak Rudyanto … jadi rame diskusinya…

    saya ada 2 income , gaji dari brunei dan ada juga usaha + investasi di indo …
    Rencana pensiun sih balik ke indonesia lagi … mungkin 15 tahun lagi.

    Chart index reksadana saham untuk 10 tahun bisa di lihat di mana ya ? yg di infovesta cuma sampai 3 tahun…

    • Rudiyanto
      April 28th, 2013 at 16:33 | #32

      Terima kasih juga pak Kurniawan atas sharingnya yang amat berharga. Sebagai informasi, grafik dan informasi untuk data lebih dari 3 tahun melalui infovesta.com bisa tapi harus berlangganan. Koreksi juga, nama saya Rudiyanto, bukan Rudyanto. Terima kasih.

  30. Hermawan
    April 28th, 2013 at 22:29 | #33

    Saya cukup setuju dengan artikel di atas.

    Menurut saya pribadi, kalau berinvestasi lebih tepatnya ya di saham atau di reksadana. Karena di saham/reksadana ada nilai tambah. Hal ini tidak lepas dari karakteristik perusahaan yaitu untuk mencari keuntungan/profit dari penjualan barang yang diproduksinya.
    Beda dengan emas. Dengan kepemilikan emas akan lebih tepat sebagai “pengaman nilai uang itu sendiri”, nilainya tidak akan berubah / kurang ada nilai tambah, dan tahan terhadap inflasi. Artinya, misalnya, jika saat ini kita menyimpan emas 30 gram, dengan harga emas Rp. 500.000/gram, dengan 30 gram emas saat ini dapat dibelikan 1 buah sepeda motor bebek baru yang harganya Rp. 15 juta. Kemudian emas itu kita simpan, dan dijual pada 5 tahun/10 tahun/berapa puluh tahun ke depan, berapapun harganya, dan dibelikan barang yang sama, hasilnya akan sama, yaitu akan tetap mendapatkan 1 buah sepeda motor bebek baru. Kurang lebihnya seperti itu. Tidak ada nilai lebihnya.

  31. Josh
    May 1st, 2013 at 20:54 | #34

    Malam Pak Rudiyanto,

    Saya sangat setuju dengan analisanya.
    Memang emas salah satu instrumen investasi yang sangat digemari. Sampai ada 1 mentor saya berkata seperti ini : Jika terjadi perang atau chaos maka orang akan lebih memilih emas ketimbang mata uang lain, artinya Emas itu akan jadi mata uang tunggal.

    Tapi memang returnnya tidak sebesar investasi saham ataupun property.

    Sekedar share, tahun 2010 saya beli emas dengan rate 405.000 per gram (saat itu IHSG sekitar 2800-an). Jika dicompare dengan kondisi sekarang jauh lebih untuk invest ke saham dibanding emas (jika memakai time frame 3 tahun).

    Tapi terkadang ada yang mencemaskan nih, uang hasil investasi kita dibawa lari oleh pemiliknya..

    Jika Harga turun kita bisa maklumi karena itu kesalahan sendiri karena strategi investasi yang salah, bagaimana jika uang investasi kita disalahgunakan / dibawa lari oleh MI atau ownernya ?

    Saya punya pengalaman di Sarijaya securities. Dana cash disana hilang.

    Bagaimana tips dan kiat2nya untuk mencegah itu Pak Rudi ? Mengingat tidak ada hukum yang melindungi nasabah ritel seperti saya.

    Thx

  32. Rudiyanto
    May 2nd, 2013 at 09:51 | #35

    @Josh
    Selamat Pagi Pak Josh,

    Kalau saya, seandainya ada perang atau chaos, saya akan menimbun sembako sebanyak-banyaknya.

    Kemudian terkait kasus dana anda dilarikan oleh perusahaan sekuritas, bisa dibilang kasus tersebut merupakan aib bagi pasar modal Indonesia karena seseorang bisa memanfaatkan sistem yang tidak sempurna dan mengambil manfaat dari ketidaksempurnaan tersebut.

    Semenjak kasus tersebut, regulator memang sudah melakukan beberapa perkembangan antara lain:
    1. Single Investor ID dan Fasilitas Akses KSEI, yang memungkinkan bagi investor untuk mengkases posisi saham di beberapa rekening perusahaan sekuritas sekaligus.
    2. Rekening dana investor (RDI), sehingga dana cash tidak lagi disimpan di rekening sekuritas tapi di rekening atas nama sendiri

    Dengan adanya 2 fasilitas tersebut, seharusnya sudah bertambah aman, tapi apakah sempurna atau tidak hanya waktu yang bisa mengujinya. Dari pengalaman teman2 saya, mengurus fasilitas KSEI dan pembukaan RDI juga agak ribet. Tidak banyak juga yang menggunakannya meskipun sudah punya. Pada akhirnya, fasilitas sudah disediakan, tinggal kita sebagai investor “care” dengan aset kita atau tidak. Selain itu, reputasi dan kepercayaan dengan perusahaan sekuritas yang kita gunakan juga penting. Namun hal tersebut agak sulit untuk diukur karena kualtitatif.

    Demikian pak Josh, semoga bermanfaat.

  33. Josh
    May 2nd, 2013 at 16:12 | #36

    Dear Pak Rudiyanto,

    Terima kasih untuk pembelajaran yang sangat bermanfaat ini..:)

    Salam

  34. gunawan_102909
    May 5th, 2013 at 09:12 | #37

    ada berbagai macam pandangan cuma ada satu pandangan menarik tentang emas itu yg mana klo fisik itu pasti sifatnya berjngka klo dibandingkan dengan reksa dana masing” ada kelemahan sebenarnya tujuan investasti kita apa keuntungan atau apa karena konsep utama adalah pelindung inflasi saya pernah nonton analoginya di tv one misal anda ingin beli kambing dan itu bernilai 1 gram emas maka dalam 5 tahun kedepan tetap 1 gram sedangkan dibeberapa yg lain itu tetap memiliki resiko dan sebenarnya kenaikan mata uang bunga bank dsb itu hanya pengalihan inflasi jdi yg kita nikmati hnya penyesuaian inflasi mnurut saya saam kanl smua :)

  35. May 14th, 2013 at 10:53 | #38

    Wah, menarik sekali sharing bapak disini. Saya juga suka analogi warren buffet mengenai emas. Yang paling saya suka dari emas adalah sebagai nilai lindung kekayaan dan enaknya emas yaitu sangat terjangkau. Saya juga membahas tulisan bapak dlm blog saya:

    http://www.kilauemas.com/harga-emas-jatuh-masih-amankah-berinvestasi-emas/

    Kalau sempat silahkan mampir pak dan berikan pendapat. Saya masih pemula dan perlu belajar banyak. Thks :)

  36. teguhP
    June 21st, 2013 at 13:18 | #39

    Pak Rudiyanto,

    Saya sama sekali tidak punya properti selain yg saya pakai
    Semua investasi saya dalam bentuk cash, RD (pasar uang, pendapatan tetap,saham)

    Karena Saya takut dengan resiko makro ekonomi indonesia.
    saya hedging aset saham/reksadana saya dengan menggunakan emas batangan.

    Berarti saya salah ya pak Rudiyanto?
    Apakah sebaiknya hedging menggunakan RD Dolar saja?
    Tapi RD dolar yang mana pak (saham,Pdpt tetap, pasar uang?)

    Apakah di panin tersedia?
    Bisakah di autoinvest? Sebaiknya saya menggunakan bank apa ya pak?

    Maaf pertanyaan saya banyak sekali pak Rudiyanto
    Soalnya RD dolar ini ribet banget sepanjang pengetahuan saya.

    Terima kasih atas

  37. Rudiyanto
    June 23rd, 2013 at 10:37 | #40

    @teguhP
    Salam Pak Teguh,

    Inti dari artikel saya di atas, tidak mengatakan emas batangan itu tidak bagus. Saya hanya ingin para investor yang berinvestasi pada logam mulai tersebut, juga menyadari bahwa ada risiko fluktuasi harga sebagaimana investasi pada umumnya. Jangan hanya karena memegang fisiknya terus berasumsi itu akan baik / naik secara konstan untuk selamanya.

    Jadi kalau anda hedging di emas dan menyadari risiko tersebut tidak ada yang salah.

    Reksa Dana Dollar sendiri juga memiliki risiko, mau dollarnya menguat tinggi, jika harga saham dan obligasi yang dibeli turun tetap saja ikut turun. Dan kalau anda perhatikan pergerakan reksa dana dollar di Indonesia trennya juga mirip2 dengan reksa dana Rupiah. Kalau trennya mirip, berarti tujuan diversifikasi agak sulit tercapai karena sama2 naik dan sama turun.

    Hedging yang paling baik tentu saja dengan deposito, karena mau reksa dana saham dan pendapatan naik turun, deposito cuma punya satu arah yaitu naik. Atau alternatifnya anda bisa membeli obligasi langsung dan memegangnya hingga jatuh tempo.

    Reksa Dana Dollar yang tersedia saat ini mayoritas di Pendapatan tetap. Ada juga Campuran dan Saham tapi belum banyak. Di Panin Asset Management sendiri hanya ada Reksa Dana Campuran Dollar. Dan untuk dollar ini belum tersedia autodebet.

    Syaratnya untuk pembelian sebenarnya sama dengan reksa dnaa konvensional yaitu KTP, NPWP dan Punya Tabungan Dollar. Kalau anda mau membeli reksa dana Panin Asset Management, saya bisa sarankan menggunakan tabungan yang sama dengan Bank Kustodian yaitu Standard Chartered Bank. Akan tetapi kalau anda mau membeli reksa dana yang lain, silakan disesuaikan. Sebab transfer antar bank untuk mata uang Dollar ini jauh lebih mahal dibandingkan Rupiah sehingga disarankan agar banknya sama.

    Semoga bermanfaat.

  38. July 10th, 2013 at 04:25 | #41

    Pengen investasi tapi nabung dulu deh :)

  39. Hazya
    August 6th, 2013 at 03:12 | #42

    Selamat pagi. Salam sejahtera semuanya.
    Langsung kepertanyaan. Saya mewakili masyarakat awam yg blm mengerti dengan investasi, jujur saya seorang mahasiswa yg bingung dgn harta yg dimiliki. Saat ini saya hanya mempunyai Rp 25.000.000 yg disimpan di bank, pernah terpikirkan untuk berinvestasi dalam bentuk emas dengan harapan bisa mendapat keuntungan dan pegangan dikemudian hari tetapi setelah membaca artikel ini saya ingin mendapatkan pencerahan dari bapak2 sebaiknya dibagaimanakan uang tersebut.
    Terima kasih.

  40. Rudiyanto
    August 12th, 2013 at 08:39 | #43

    @Hazya
    Dear Hayza, senang sekali sudah punya pemikiran untuk melakukan investasi walaupun masih berusia muda.
    Dan langkah pertama untuk memulai berinvestasi baik itu melalui emas, reksa dana, properti atau apapun adalah memiliki tujuan. Anda bisa baca2 dulu di artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/, semoga bermanfaat.

  41. otnairda
    August 21st, 2013 at 12:04 | #44

    @ism

    Setuju sama yang diatas. “Sebagai Lindung Nilai”

    Saya membeli emas bukan untuk berinvestasi karena saya pun bukan orang yang peduli dengan sistem ekonomi “amburadul” saat ini, ekonomi yang menilai perhitungan melalui “Greedy” dan “Fearful”.

    Emas akan selalu bisa menjadi alat tukar yang baik karena sudah dipakai sejak ribuan tahun yang lalu.

    saya tidak peduli apakah harga emas akan naik ataupun turun. yang pasti, saya punya alat tukar yang masih terus bisa digunakan, bahkan ketika negara sudah tidak ada lagi.

  42. kmdt
    September 8th, 2013 at 01:38 | #45

    setuju dengan tulisan diatas kalau dilihat dari sisi investasi, namun kalau bagi saya pribadi emas dan minyak masih cukup sangat menguntungkan untuk di tradingkan karena tidak peduli dengan harga naik atau turun tetap mampu menghasilkan profit kok.

  43. Bob
    January 30th, 2014 at 14:45 | #46

    @kurniawan
    Kalau mau chart mungkin harus berlangganan, dan setahu saya harganya cukup mahal (lebih cocok untuk investor institusi). Tapi kalau sekedar mau lihat return 5 tahun, bisa lihat di versi mobile-nya (misalnya buka lewat web browser Blackberry). Terima kasih.

  44. ari
    October 12th, 2014 at 13:19 | #47

    @all
    emas dan perak adalah uang yang sebenarnya karena selain memiliki karakteristik sebagai uang (medium exchange, dsb) emas dan perak adalah store of value.

    jim rogers berkata bahwa koreksi emas hingga 40% ke level $1200 ini adalah wajar. karena semenjak tahun 2000, grafik emas terus menanjak, tanpa ada koreksi tahunan seperti di saham, etc.

    jim rogers tidak membeli emas saat ini tapi dia juga tidak menjual satu oz pun.

    saya tidak suka dengan emas dan perak, karena tidak ada yield dsb. Tapi saya mempelajari (wealth cycles) siklus kekayaan. Ada artikel Mr.Rudi yang mengatakan sell may and go away. Mirip dengan hal itu jika memakai siklus kekayaan $1 yang diinvestasikan tahun 1900 akan menjadi $11.000.000,- hari ini.

    singkat cerita, quantitative easing adalah petunjuk adanya kedaruratan siklus akan berubah. Tahun 2000 emas sangat tidak dicintai, PE ratio saham hampir diseluruh dunia overbuble. Kemustahilan harga suatu instrumen terus menerus naik, jika terus-terusan naik, bisa saja harga 1 blok saham bisa membeli satu dunia.

    Termasuk emas yang terkoreksi hingga $1200, saya melihat logammulia membuka cabang/butik hingga ke daerah-daerah. Ini menunjukkan jika logammulia hampir putus asa. Tidak ada lagi yang mengantri panjang di pulogadung seperti 2009-2010. Jika kita konversi dollar rupiah harga emas logammulia, maka harga yang ditawarkan hari ini fair dengan harga dunia $1200.

    Kesimpulan, walau terlambat, bukannya di tahun 2000, tetapi posisi saya sudah set sejak sebelum 2008. Saya all in di emas dan perak. Diawal-awal mengalami kondisi yang sangat tidak likuid, cadangan uang cukup untuk kebutuhan 1 bulan kedepan, tetapi saya tetap bersabar, walau istri meragukan, saya bekerja mencari nafkah seperti biasa, meningkatkan kemampuan agar gaji dan penghasilan lainnya naik.

    Jika emas terkoreksi hingga $1000, saya akan ambil posisi kembali. Target di tahun 2020 kembali ke saham atau dibawah tahun 2020 jika dunia memiliki sistem keuangan yang baru/ meninggalkan dollar. Dollar sudah mulai ditinggalkan, berbagai negara sudah melakukan perdagangan tanpa dollar. Russia-china, Indonesia-korea, China-brazil, China-Australia, dsb.

    Saat ini saya sangat likuid, menunggu koreksi emas dan hancurnya saham (maaf), bukannya tidak suka saham tapi ini memang siklusnya.

  45. Rudiyanto
    October 15th, 2014 at 01:22 | #48

    @ari
    Dear Pak Ari,

    Saya berani bertaruh apabila anda baru mau masuk ke saham pada tahun 2020, posisi IHSG sudah di atas 10.000 http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/05/26/kapan-ihsg-menuju-10-000/ mudah-mudahan anda tidak menyesal karena menunggu terlalu lama.

    Meski demikian, tentu menarik juga ada investor yang percaya bahwa dalam siklus 5 tahun ke depan adalah tahunnya emas. Mari kita sama-sama melihat apa yang akan terjadi.

    Terima kasih

  46. ari
    October 18th, 2014 at 22:37 | #49

    @Mr.Rudi
    Dear Mr.Rudi.

    Menyesal tentu ada, jika boleh memutar waktu saya akan jual emas di $2000 dan perak$48. Lalu masuk ke reksadana maksima misalnya, ambil bouce ihsg sampai greedometer pada puncaknya, 2015 masuk ke emas, lalu jika ada Q4 masuk lagi ke reksadana maksima. ini baru benar-benar wealth cycle. Tapi tidak ada yang punya bola kristal sempurna meramal masa depan. Dan saya tidak punya perut yang cukup kuat untuk bertaruh Mr.Rudy. =p

    Ada saat-saat krisis ekonomi dimana points dow jones = 0.5 harga emas, lalu dj=emas, lalu karena dunia saat ini global dan ada ratusan trilion dollar di derivatives maka saya setuju jika ihsg 10.000 di 2020 maka emas akan Rp.2 jt/gram. Sama-sama naik tapi naiknya lebih banyak dikit dan nilainya gak akan turun sampai 0 (skenario bank yang dilikuidasi 1998).

    Terima kasih sudah menanggapi komentar saya. Saya menghormati anda karena saya juga suka mendonorkan darah.

  47. xiao yeoh
    January 28th, 2016 at 20:11 | #50

    Pendapat saya …boleh invest emas tapi jangan emas antam..karena harga jual belinya gak masuk akal bisa spread 40rb sampai 50rb….jelas jelas merugikan orang yang beli….seperti hal nya saya beli emas antam sudah lebih 2 tahun dimana harga beli rp 535rb per gramnya dengan perincian harga jual beli pasar LM antam saat itu rp.495rb(buyback) dan rp.535rb(harga jual antam)…dan sampai saat ini tgl 28 januari 2016 harga emas pasaran rp.535rb(harga jual antam)DAN rp.497rb(harga buyback)….lain cerita dimana saya juga beli emas lokal dengan harga yang lebih murah dr antam dengan harga saat itu rp 470rb. Dan saya jual setahun kemudian di harga rp.495rb dan lebih menguntungkan tanpa harga buyback yang jauh …hanya dipotong rp. 2 rb saja. ….kesimpulannya kalau mau invest bagus invesr emas potongan lokal baik 97 persen ataupun 99 persen….gak perlu 9999…

 


%d bloggers like this: