Home > Corporate Finance, Obligasi, Obligasi Intermedit > Mengenal Obligasi Berkelanjutan

Mengenal Obligasi Berkelanjutan

Suku bunga rendah, merupakan salah satu momentum bagi perusahaan / emiten untuk mendapatkan modal kerja dan modal ekspansi dengan cara meminjam uang ke bank atau menerbitkan obligasi. Bagi anda yang bekerja di divisi Corporate Finance atau Divisi Keuangan perusahaan, tentu selalu menjadi perdebatan tersendiri apakah pendanaan harus dicapai dengan meminjam uang dari bank atau meminjam uang dari publik melalui obligasi. Sebab sama2 pinjam uang, trus apa perbedaannya?

Bagi anda yang masih awam, secara mendasar, umumnya keunggulan dari meminjam uang ke bank adalah syarat peminjaman yang lebih fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Misalkan anda memiliki suatu proyek berdurasi 2 tahun dengan perkiraan kebutuhan Rp 100 M di tahun pertama dan Rp 100 M di tahun kedua. Dengan bernegosiasi di Bank, kita bisa mendapatkan komitmen pinjaman sebesar Rp 200 M, dengan distribusi Rp 100 M di tahun pertama dan Rp 100 M di tahun kedua, tentu dengan perhitungan bunga sesuai dengan dana yang didistribusikan. Risiko yang ditanggung adalah perubahan suku bunga. Seandainya selama masa pembayaran suku bunga naik, maka bisa jadi bunga pinjaman dinaikkan dan sebaliknya.

Sementara  keunggulan obligasi adalah pada suku bunga yang tetap. Misalkan anda menerbitkan obligasi dengan kupon 10% dan jatuh tempo 5 tahun, selama 5 tahun tersebut apabila terjadi kenaikan atau penurunan bunga, besaran kupon yang harus anda bayarkan tetap. Hal ini akan memberikan kepastian, namun kelemahannya adalah jika proyek anda, memiliki kebutuhan seperti contoh di atas, anda tetap harus menerbitkan obligasi senilai Rp 200 M pada saat pertama kali dan membayar bunga berdasarkan total tersebut meskipun setengahnya baru anda pakai tahun depan.

Hal di atas menyebabkan masing-masing opsi memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri sehingga tetap banyak peminatnya. Namun, sejak akhir 2010, keunggulan dari obligasi bertambah seiring dengan terbitnya peraturan BAPEPAM-LK IX.A.15 tentang Penawaran Umum Berkelanjutan. Dari peraturan tersebut, 2 tahun terakhir ini, dunia obligasi mulai diramaikan dengan varian baru yang dikenal dengan OBLIGASI BERKELANJUTAN. seperti apa obligasi ini?

Obligasi Berkelanjutan adalah salah satu variasi baru dari Obligasi, dimana BAPEPAM-LK atau sekarang OJK memberikan keleluasaan kepada perusahaan untuk untuk menerbitkan obligasi dalam kurun waktu 2 tahun, dengan cukup hanya 1 kali meminta izin pernyataan efektif. Misalnya dengan contoh kasus di atas, maka perusahaan yang memilih opsi menerbitkan obligasi bisa melakukannya dengan menerbitkan obligasi sebanyak 2 kali dengan masing-masing Rp 100 M dalam kurun waktu 2 tahun cukup dengan satu kali pernyataan efektif saja.

Yang dimaksud dengan pernyataan efektif adalah proses yang dibutuhkan untuk membuat suatu surat berharga diperbolehkan untuk ditawarkan ke masyarakat umum. Termasuk reksa dana, sebelum ditawarkan ke para investor juga harus meminta pernyataan efektif. Sebagai pelaku di Industri di pasar modal, proses pengajuan pernyataan efektif ini tidak sulit, namun juga tidak mudah dan membutuhkan waktu. Sehingga perencanaannya harus dilakukan dengan matang.

Untuk industri pasar modal, dimana sentimen bisa berubah dengan cepat, terkadang waktu pengurusan bisa menjadi kendala tersendiri. Misalkan waktu instrumen masih dalam rencana diterbitkan kondisi pasar masih bagus, namun pada saat pernyataan didapatkan ternyata situasi yang tadinya kondusif berubah menjadi krisis, akibatnya hasil penawaran produk ke masyarakat bisa tidak sesuai dengan target yang diharapkan.

Jika anda membaca lebih lanjut, beberapa persyaratan yang harus dipenuhi emiten antara lain:

  1. Meminta pernyataan efektif pada saat penerbitan pertama kalinya.
  2. Rating obligasi minimal Investment Grade (disebutkan 4 peringkat teratas, dari AAA, AA, A dan BBB)
  3. Menetapkan plafon pinjaman sejak awal dan dipenuhi dalam 2 tahun sejak mendapat pernyataan efektif.
  4. Melaporkan kepada OJK terkait rencana dan hasil pengumpulan dana

Karena syarat yang sangat fleksibel tersebut, saya melihat dalam 2 tahun terakhir banyak sekali emiten yang mulai beralih menerbitkan obligasi berkelanjutan ini. Bahkan perusahaan yang tadinya tidak melakukan penerbitan obligasi, ada yang mulai beralih dengan menggunakan opsi obligasi berkelanjutan. Hal ini tentunya bagus bagi perekonomian dan pasar modal secara umum karena menambah supply obligasi yang ada di pasar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Obligasi berkelanjutan yang saat ini ada antara lain:

Obligasi Korporasi Berkelanjutan di Indonesia. Data per 5 April 2013, Bursa Efek Indonesia.

Saat ini, jumlah obligasi berkelanjutan dibandingkan total obligasi korporasi adalah 37%, saya percaya dengan syarat yang fleksibel, di masa yang akan datang, sebagian besar obligasi akan lebih didominasi oleh obligasi berkelanjutan dibandingkan obligasi konvensional. Bagi emiten yang sudah terbiasa menerbitkan obligasi, opsi ini merupakan pilihan yang amat menghemat biaya administrasi dan promosi karena penerbitan obligasi, selain kupon, juga ada banyak biaya lain (administrasi, audit, legal) dan effort (prosed due dilligence, penyiapan lapoaran keuangan, dll) yang harus dikeluarkan dan dilakukan.

Meski demikian, Obligasi Berkelanjutan tetap memiliki kekurangan besar dibandingkan opsi pinjaman bank, terutama untuk perusahaan yang masih belum sering menerbitkan obligasi. Dan hal tersebut adalah kepastian mendapatkan dana sesuai kebutuhan. Jika meminjam di bank dan disetujui, maka kita sudah pasti akan menerima jumlah dana sesuai dengan kebutuhan. Namun jika melalui opsi obligasi, maka masih terdapat kemungkinan jumlah dana yang dikumpulkan bisa lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan jumlah kebutuhan. Sebab keberhasilan dalam menjual obligasi, sangat tergantung pada kemampuan perusahaan dan underwritting (penjamin emisi) “menjual prospek” perusahaan kepada investor. Selain itu, pihak yang diyakinkan tidak hanya 1 seperti halnya pinjaman bank, akan tetapi jumlah investor yang jumlahnya bisa puluhan ataupun ratusan.

Demikian artikel ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Rudiyanto
    November 26th, 2015 at 14:18 | #1

    @evi
    Selamat Siang Ibu Evi,

    Bisa di cek di website IDX pada bagian corporate actionnya.

  2. James
    December 3rd, 2015 at 14:44 | #2

    Pak Rudiyanto,

    Saya ada pertanyaan mengenai besaran kupon obligasi. Pada saat harga turun maka yield naik, namun ketika saya mengalikan antara harga yang baru (lebih rendah) dengan yield yang baru (lebih tinggi), hasilnya tidak sama dengan sebelumnya.

    Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah seharusnya hasilnya sama? Terima kasih atas penjelasannya.

  3. Rudiyanto
    December 4th, 2015 at 09:44 | #3

    @James
    Selamat Pagi,

    Bisa lebih spesifik contohnya seperti apa?

  4. December 6th, 2015 at 00:14 | #4

    Ada tips utk mereduksi atau mengurangi resiko kerugian bila bermain investasi di ranah ini? terima kasih sblmnya

  5. Rudiyanto
    December 10th, 2015 at 23:05 | #5

    @Farrah
    Selamat Malam Ibu Farrah,

    Tips pertama adalah tidak menganggap investasi sebagai main-main.
    Tips kedua adalah buat perencanaan investasi yang SMART dan fokus pada pelaksanaannya.
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Semoga bermanfaat.

  6. James
    December 19th, 2015 at 09:25 | #6

    @Rudiyanto

    Pak Rudiyanto,

    Oh, never mind. Baru saja saya mendapatkan jawabannya di internet.

Comment pages
1 2 2801


%d bloggers like this: