Home > Analisis Instrumen Saham, Pendapat Tentang Makro Ekonomi, Perencanaan Investasi > Menebak Arah IHSG (Setelah Rally) Dengan Teori Probabilitas

Menebak Arah IHSG (Setelah Rally) Dengan Teori Probabilitas

Seiring dengan IHSG yang terus menerus mencetak rekor baru, hampir menjadi pertanyaan bagi setiap investor, Apakah IHSG sudah akan overvalued (kemahalan / terlalu tinggi) ? Kapan IHSG akan turun ? Seberapa dalam Penurunannya? Kebanyakan investor tersebut adalah investor yang saat ini punya dana standby, namun dari kemarin ragu2 untuk masuk sehingga ketinggalan. Tidak sedikit juga investor-investor yang dari kemarin masih belum merealisasikan keuntungannya, terus mencari waktu dan angka yang tepat untuk merealisasikan keuntungannya.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebetulnya ada banyak sekali analisa dan sudut pandang yang diberikan. Ada yang menggunakan analisa fundamental seperti penilaian terhadap rasio PE (Price Earning Ratio), ada yang menggunakan analisa teknikal yang menggunakan berbagai indikator klasik dan modern, ada pula yang menggunakan analisa berdasarkan aliran dana asing dan lokal yang masuk ke investasi saham kita. Semua analisa tersebut saya yakin canggih dan memiliki dasar yang kuat untuk dipertahankan, namun dalam kesempatan kali ini saya ingin mempraktekkan suatu ilmu yang baru-baru ini saya pelajari.

Analisa yang saya gunakan kali ini menggunakan Teori Probabilitas. Saya yakin teori ini sudah banyak sekali diajarkan di level perkuliahan sampai tingkat edukasi eksekutif, namun praktek di dunia investasi ini masih bisa dibilang sangat terbatas. Nah, berdasarkan teori ini, saya mencoba memprediksikan IHSG akan naik atau turun dalam beberapa bulan yang mendatang. Selamat membaca.

Bagi anda yang masih awam soal statistik dan probabilitas, jangan khawatir sebab saya juga masih awam. Oleh karena itu, saya akan mencoba membahasnya dari sudut pandang orang awam juga.

Probilitas identik dengan toss-tossan koin. Jika ada koin 2 sisi (katakan kepala dan ekor), maka jika anda men toss koin tersebut ke atas dan jatuh ke bawah, maka berapa kemungkinan kita akan mendapat sisi kepala? Jawabannya sederhana. Karena koin cuma punya 2 sisi, maka ketika di lempar, koin tersebut akan jatuhnya tidak kepala ya ekor. Jadinya kemungkinan kita adalah 1 banding 2. Secara matematis, 1 banding 2 sama dengan 1 dibagi 2 sehingga diperoleh 0.5 atau 50%. Jadi kemungkinan kita akan mendapatkan sisi kepala adalah 50%.

Konsep statistik juga banyak digunakan dalam dadu yang memiliki 6 sisi (angka 1 sampai 6). Jika ditanya, berapa kemungkinan jika suatu dadu dilempar dan menghasilkan angka 1. Dengan menggunakan konsep di atas, dan disesuaikan dengan sisi dadu yang 6, maka kemungkinan kita akan mendapatkan angka 1 adalah 1 banding 6 atau 17%.

Sekarang konsep tersebut kita gunakan dalam taruhan, misalnya saya membuka taruhan. Ada 2 taruhan yang saya buka, taruhan pertama untuk koin, dimana jika hasilnya kepala saya akan membayar anda Rp 1 juta, sementara jika hasilnya ekor saya akan mengambil Rp 1 juta. Kemudian, taruhan yang kedua, jika hasil lemparan dadu adalah 1 maka saya akan mengambil Rp 1 juta dari anda, sementara jika hasilnya bukan 1, maka saya akan membayar Rp 1 juta kepada anda. Nah, jika kondisinya seperti di atas, maka taruhan mana yang akan anda ikuti? Koin atau Dadu?

Saya yakin anda akan bertaruh di Koin karena kemungkinannya lebih besar. Nah, konsep yang sama juga akan saya aplikasikan di IHSG. Berhubung langkah untuk mengaplikasikan ini termasuk agak berat, maka bagi anda yang tidak mau terlalu ambil pusing, bisa langsung scroll ke bawah ke bagian interprestasi yang tulisannya warna biru. Jika anda tertarik dengan prosesnya baru baca secara bertahap ke bawah.

Aplikasi Teori Probabilitas pada IHSG

Nah, sekarang kembali ke IHSG, dan kinerjanya yang menembus rekor selama 2 bulan terakhir ini. Bagaimanakah konsep seperti di atas bisa digunakan? Dalam konsep Probabilitas, kita agak sedikit melanggar suatu pakem investasi. Dalam pakem investasi, ada istilah kinerja masa lalu TIDAK SELALU bisa menjadi acuan kinerja di masa yang akan datang. Maka dalam konsep probabilitas, statistik dan analisa berbasis teknikal lainnya, Kinerja masa lalu SELALU menjadi acuan kinerja di masa yang akan datang. Cara teknikal ini pada prinsipnya tidak peduli dengan valuasi IHSG, aliran dana asing, rumor di pasar, atau segala macam indikator lainnya. Caranya sederhana, jika pernah terjadi di masa lalu, maka ada kemungkinan bisa terjadi lagi sekarang.

Langkah2 pengerjaan riset ini adalah sebagai berikut:

1. Menentukan data yang dianalisa. Data yang dipergunakan yaitu data IHSG dari Yahoo Finance. Dimana data historis yang saya gunakan mengacu pada data historis terpanjang yang tersedia yaitu dari 31 Juli 1997 – 28 Februari 2013. Data yang saya gunakan yaitu data bulanan.

2. Setelah itu, saya menentukan kondisi awal dengan menggunakan kinerja IHSG 2 bulanan. Caranya sederhana, misalkan data pertama IHSG Akhir Feb 2013 – IHSG akhir Des 2012 dibagi IHSG Akhir Des 2012. Selanjutnya IHSG Akhir Jan 2013 – IHSG Akhir Nov 2012 dibagi IHSG akhir Nov 2012. Langkah ini terus saya lakukan sampai ke Akhir Juli 1997. Dari langkah tersebut saya memperoleh 186 data.

3. Selanjutnya data tersebut saya kelompokkan menjadi 3 bagian yaitu:

  • Data dimana return 2 bulanan < 8%
  • Data dimana return 2 bulanan berkisar antara 8% – 12%
  • Data dimana return 2 bulanan > 12%

Kenapa digunakan angka 8 dan 12, angka tersebut saya pergunakan untuk menyederhanakan data saja. Anda juga bisa menggunakan bagian yang lebih banyak dengan angka pemisah yang bervariasi. Secara statistik, memang ada rumus khusus untuk menentukan berapa bagian dan berapa interval yang wajar berdasarkan data yang ada. Namun saya gunakan penyederhanaan karena rumus itu sifatnya acuan sehingga tidak menjadi kewajiban. Berdasarkan pengelompokan tersebut, dari data sejak Juli 1997 diperoleh hasil bahwa:

  • 125 dari 186 atau 67% data Return 2 bulanan IHSG dibawah 8%
  • 22 dari 186 data atau 12% Return 2 bulanan IHSG berada di antara 8% – 12%
  • 39 dari 186 data atau 21% Return 2 bulanan IHSG di atas 12%

Kondisi yang dialami IHSG dimana naik belasan persen dalam 2 bulan terakhir yang kita alami sekarang ini merupakan peristiwa yang jarang karena KEMUNGKINAN terjadinya berdasarkan data historis adalah 12%. Kalau diibaratkan kita bertaruh, kemungkinan IHSG menghasilkan return seperti sekarang ini adalah 12% atau sekitar 1 banding 8. Angka tersebut bisa dijadikan acuan, namun bukan itu yang saya cari. Karena return tersebut SUDAH TERJADI. Yang ingin diketahui oleh investor adalah apa yang akan terjadi jika IHSG sudah naik belasan persen selama 2 bulan. Apakah selanjutnya dia akan turun atau akan naik? Sebab informasi tersebut akan digunakan sebagai acuan bagi dia untuk saat ini masuk atau menunggu dulu dengan tenang sambil menunggu kesempatan untuk masuk.

4. Untuk menjawab pertanyaan itulah, maka saya melanjutkan langkah ke 4. Dari 21 kejadian yang pernah terjadi di IHSG selama lebih dari 15 tahun terakhir (Yang Februari 2013 tidak dihitung, karena hal ini yang akan diprediksikan), saya kemudian menghitung lagi, bagaimana performa IHSG setelah mengalami kenaikan belasan persen untuk 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan yang akan datang. Misalnya di Bulan April 2011, Posisi IHSG adalah 3849.3. Dua bulan sebelumnya adalah 3512.62 sehingga jika dihitung kenaikannya 9.58%. Nah pertanyaannya berapa IHSG di Akhir Mei (1 bulan), Juni (2 bulan) dan Juli (3 bulan) 2012 ? Berdasarkan data historis diketahui data IHSG di Akhir Mei 2012 adalah 3837.76 sehingga jika anda masuk pada akhir April, anda akan merugi sekitar 0.31%. Dan untung di bulan Juni dan Juli karena posisi IHSG 3927.1 dan 4193.44 sehingga dari bulan April naik masing-masing 2% dan 8.94%.

Dengan melakukan perhitungan di atas, saya dapat menemukan informasi apa yang terjadi di IHSG 1, 2 dan 3 bulan yang akan datang setelah mengalami rally belasan persen seperti yang terjadi saat ini. Hasil dari penelitian saya adalah sebagai berikut.

Untuk IHSG 1 bulan setelah Rally:

  • 14 dari 21 kejadian atau 67% menunjukkan IHSG ternyata malah naik
  • 7 dari 21 kejadian atau 33% menunjukkan IHSG turun

Untuk IHSG 2 bulan setelah Rally:

  • 12 dari 21 kejadian atau 57% menunjukkan IHSG ternyata terus naik
  • 9 dari 21 kejadian atau 43% menunjukkan IHSG turun

Untuk IHSG 3 bulan setelah Rally:

  • 14 dari 21 kejadian atau 67% menunjukkan IHSG ternyata terus naik
  • 7 dari 21 kejadian atau 33% menunjukkan IHSG turun

 

Interprestasi

Nah, bagaimana menginterprestasikan hasil riset di atas. Sederhananya begini,

Investor: “Rud, menurut kamu IHSG akan turun ga ? Soalnya ini sudah kemahalan, jadi saya rencana masuk akhir bulan (Maret)“.

Rudi: “berdasarkan analisa historis dan teori probabilitas, maka kemungkinan IHSG masih akan terus naik adalah 67%. Jadi anda mau menunggu, boleh2 saja. Tapi ada kemungkinan malah makin tertinggal karena harga naik lebih tinggi“.

Investor: “Bagaimana jika saya menunggu 2 bulan lagi?“.

Rudi: “Oh, boleh2 saja, wong ini uang kamu bukan uang saya, tapi sebagai informasi, kemungkinan IHSG akan naik 2 bulan ke depan adalah 57% dan 3 bulan yang akan datang adalah 67%. Jadi tidak pasti bisa naik, namun karena kemungkinan akan naik di atas 50%, maka cenderung akan naik daripada akan turun.”

Investor: “Emang pasti akan naik? Jadi lebih baik saya masuk sekarang daripada terus ketinggalan

Rudi: “Ya enggak lah, namanya juga teori Probabilitas atau teori kemungkinan, bisa benar, bisa salah. Tapi kalau kamu masuk, dan rencananya kamu tarik 15 tahun lagi, ga masalah mau masuk sekarang, karena secara data ga pernah rugi. Artinya probabilitas IHSG akan naik 15 tahun yang akan datang adalah 100%

Investor: “Darimana kamu tahu yang 15 tahun itu?”

Rudi: “Nih, studinya http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/02/apakah-investasi-saham-jangka-panjang-pasti-menguntungkan/

Demikian sharing artikel kali ini, semoga bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Nur
    March 1st, 2013 at 17:16 | #1

    Hmm… bagus sekali Pak analisis Anda. Saya masih di RDS, belum punya nyali untuk pegang saham :) Selama ini, saya sering berpikir naturalis: kalau naik tajam then turun tajam. Tapi ternyata tidak selalu begitu di IHSG. Dan sepertinya hal yang sama juga berlaku saat koreksi dalam ya: bisa rally, bisa pula tidak.

  2. kurniawan
    March 1st, 2013 at 22:18 | #2

    Pak Rudy , saya banyak belajar reksadana dari artikle2 di sini …
    Saya mau tanya apakah ada kaitannya antara IHSG dgn melemahnya mata uang rupiah ???
    Apakah kenaikan IHSG yg cukup significan ini juga karna melemah nya rupiah ? karna saya amati rupiah melemah kurang lebih 10 – 12% misal thd SGD 1 tahun ini … dan misal kalo terjadi redenominasi rupiah dihilangkan 3 nol nya … apakah ada pengaruh cukup besar thd RDS ?

  3. Rudiyanto
    March 2nd, 2013 at 09:06 | #3

    @Nur
    Terima kasih Pak Nur.
    Kalau melihat alamat email bapak, sepertinya anda berasal dari akademisi. Mohon bisa dikoreksi kalau ada metode perhitungan yang salah ya pak. Terima kasih

  4. Rudiyanto
    March 2nd, 2013 at 09:12 | #4

    @kurniawan
    Pagi Pak Kurniawan,

    Untuk pertanyaan yang diluar topik artikel sebetulnya tidak masalah saya bahas disini. Namun untuk mempermudah, saya juga sudah menyiapkan tab khusus di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/forum-diskusi/

    Di forum tersebut, setiap orang bebas memberikan pendapat sehingga mungkin ada masukan yang lebih baik dari teman2 lain di blog ini. Jadi untuk selanjutnya bisa ditanyakan di bagian tersebut.

    Mengenai hubungan antara kenaikan IHSG dan Pelemahan Rupiah, menurut saya, mungkin bisa dilakukan penelitian secara angka dahulu. Sebab pada saat terjadi pelemahan Rupiah, terkadang IHSG menguat, kadang juga IHSG melemah. Saya rasa alasan penguatan IHSG sudah banyak di bahas di media massa. Valuasi yang murah di awal tahun dan aliran dana asing menjadi penyebab utama kenaikan tersebut.

    Terkait redenominasi, mungkin saya akan bahas dalam kesempatan yang lain. Terima kasih

  5. aan
    March 7th, 2013 at 10:23 | #5

    Menarik sekali membaca hasil analisis Pak Rudy,
    1. seandainya ada informasi tambahan lebih spesifik lagi mengenai apa yang terjadi di IHSG 1, 2 dan 3 bulan yang akan datang setelah mengalami rally belasan persen; misalnya naik/turun lebih banyak terjadi di kuartal ke-1, ke-2 atau ke-3?

    2. rasanya ga enak membaca analisisnya tanpa grafik:)

    Terima Kasih

  6. Rudiyanto
    March 7th, 2013 at 18:18 | #6

    @aan
    Salam aan,

    1. Kalau itu cara berpikirnya sudah berbeda dengan dasar riset ini. Sebab fokus riset ini hanya melihat dengan apa yang terjadi dengan IHSG setelah mengalami rally. Rally tersebut bisa terjadi kapan saja, bisa Jan – Maret yang di kuartal 1, bisa juga Feb – April yang diantara Kuartal 1 dan 2.

    2. Terima kasih untuk masukannya.

  7. cun
    March 11th, 2013 at 23:31 | #7

    hha.. tebak2 buah manggis juga Pak Rudi.
    Pak Rudi, saya ingin bertanya, saya adalah mahasiswa TI, berdomisili di medan. Saya sudah memulai mempelajari pasar modal sejak 2 tahun lalu. Membeli bisnis dengan gaya ala Warren Buffett. Membaca banyak laporan keuangan. Jika saya ingin membangun diri saya di pasar modal, hal apa yang sebaiknya saya lakukan? mengambil ujian CFA di jakarta atau ujian WMI saja? Kemudian, apa saja bahan yang harus saya pelajari agar dapat lulus? Kira-kira bagaimana saya mulai meniti karir saya. Trims.

    • Rudiyanto
      March 12th, 2013 at 10:57 | #8

      @cun
      Salam cun, mengambil WMI dan CFA memang bisa menjadi langkah awal yang baik. Jika memang anda berniat mengambil izin dan sertifikasi tersebut anda bisa mencari di website lembaga yang menyelenggarakan kursus tersebut seperti binus dan bina insan. Semua topik yg diujikan sudah ada informasinya. Jika anda merasa yakin bisa belajar secara Otodidak juga dimungkinkan krn pada saat mendaftar ujian CFA kamu diwajibkan membeli bukunya.

      Kalau saran saya selain kedua cara diatas, mungkin malah akan lebih cepat iika kamu bisa bekerja di perusahaan sekuritas atau asset management atau perusahaan riset pasar modal yg belakangan makin banyak.

      Selamat mencoba, semoga cita2 anda tercapai.

  8. cun
    March 12th, 2013 at 11:30 | #9

    @Rudiyanto Trims Pak Rudi, tetapi, tanpa ada gelar WMI dan CFA, bukankah berarti peluang yang tersisa untuk saya hanya bagian marketing reksadana atau broker? Sedangkan saya sendiri sama sekali tidak tertarik untuk belajar Technical Analysis yang banyak digunakan broker. Kemudian di kota Medan sendiri setahu info saya, tidak ada binus atau bina insan yang membuka kursus untuk peserta ujian CFA. Dan lagi Asset Management yang terbaik menurut saya adalah Panin Asset Management di mana tim risetnya sendiri ada di Jakarta. Trims Pak Rudi.

  9. Rudiyanto
    March 13th, 2013 at 09:43 | #10

    @cun
    Salam Cun,

    Saya tidak terlalu sependapat. Pada kenyataannya, saya banyak bertemu dengan orang2 yang menurut saya luar biasa dalam investasi namun belum memiliki kedua gelar di atas.
    Banyak juga pemegang gelar di atas tidak berkiprah di bidang investasi namun pada bidang keuangan, akuntansi dan pajak.

    Panin Asset Management memang merupakan perusahaan terbaik untuk kemampuan riset berbasis fundamental saat ini. Dimana hal ini tercermin dari kinerja produk investasi yang dikelolannya, namun saya percaya masih banyak tempat lain yang juga menawarkan kesempatan untuk berkembang. Kamu hanya perlu mencarinya.

    Memulai dari bagian marketing juga bukan sesuatu yang tidak jelas masa depannya mengingat saya juga memulai dari bagian marketing di perusahaan sebelumnya. Dengan marketing malahan memberikan pengalaman bagaimana suatu produk dilihat dari sudut pandang investor. Sudut pandang seperti inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan seperti Manajer Investasi, Sekuritas atau perusahaan manapun di dunia sebagai masukan untuk membuat produk yang lebih baik lagi. Arah bisnis sekarang sudah bukan lagi berdasarkan apa yang kita tawarkan, tapi masalah apa yang bisa kita selesaikan (Problem Solving) – Ini menurut saya pribadi.

    Anyway, Selama ada usaha pasti ada jalan. Semoga kamu bisa menemukan jalan tersebut.

  10. cun
    March 13th, 2013 at 22:11 | #11

    @Rudiyanto Trims Pak Rudi
    Saya sendiri juga adalah pribadi yang percaya bahwa marketing bukan sesuatu yang tidak jelas masa depannya. Bahkan saya sedang hunting pekerjaan itu. Sebagai catatan, saat ini saya adalah karyawan perusahaan swasta.
    Saya sendiri sudah mempelajari tentang fundamental analisis sejak tahun 2011 secara otodidak, ratusan artikel dan beberapa buku dari sekeliling internet seperti http://www.investopedia.com, classroomnya morningstar.com, beginnerinvest.com sudah saya lahap. Sekarang masalah saya adalah, saya tidak dapat menemukan sumber untuk meneruskan pembelajaran saya lagi. Maka dari itu saya berniat mengikuti CFA untuk mendapatkan bukunya. sedangkan di kota medan sendiri tidak saya temukan pelatihan untuk CFA dan WMI ataupun sejenisnya. Bahkan banyak sekuritas mengadakan workshop tetapi hanya mengajarkan technikal analysis. Apakah bapak memiliki saran agar saya dapat melanjutkan studi saya lebih jauh? Trims Pak Rudi atas bimbingannya.

  11. edi kustanto
    March 14th, 2013 at 06:45 | #12

    Tulisan yang bagus, pak Rudy. Investor Indonesia pada umumnya memang tidak mau menanggung resiko rugi, tapi maunya untung terus…. Salah 1 keajaiban di dunia

  12. Rudiyanto
    March 14th, 2013 at 10:32 | #13

    @cun
    Salam cun, kalau memang kamu terbiasa belajar secara otodidak, maka untuk WMI kamu bisa mempelajari peraturan-peraturan tentang reksa dana yang ada di website BAPEPAM-LK. Pelajaran lain seperti statistik, portofolio, akuntansi dll, itu kurang lebih sama dengan pelajaran serupa yang diajarkan jika kamu mengambil jurusan manajemen di kuliah. Untuk CFA, kamu bisa membeli buku dari CFA langsung atau ke website schweisser yang menawarkan kursus persiapan CFA online. Harganya cukup menguras kantong, tapi memang hanya ditujukan untuk orang yang benar2 niat. Sebab untuk CFA masih ditambah lagi biaya ujiannya.

    Semoga bermanfaat.

  13. cun
    March 14th, 2013 at 22:17 | #14

    @Rudiyanto trims Pak Rudi atas sarannya. hha.. Salah satu hal yang terjadi adalah saya sedang kuliah Teknik Informatika dan bukannya manajemen? Apakah ada buku rekomendasi Pak Rudi untuk saya? misalnya untuk ujian CFA atau analysis teknikal? kemudian website yang Pak Rudi maksuda apakah http://www.schweser.com tepatnya? trims ..

    @Rudiyanto

  14. Rudiyanto
    March 15th, 2013 at 11:36 | #15

    @cun
    Saya rasa tidak masalah, saya punya teman yang mengambil jurusan Teknologi Pangan atau semacamnya saya agak lupa, bisa lulus sampai level 2. Sekarang dia sedang berusaha mengambil level 3. Banyak juga Manajer Investasi di Pasar Modal yang lulusannya teknik. Kalau memang begitu, kamu ambil saja kuliah s2 di bidang manajemen. Bukunya kurang lebih sama saya kira.

    Untuk website yang penting ada CFA preparationnya. Semoga sukses.

  15. cun
    March 15th, 2013 at 22:23 | #16

    @Rudiyanto Trims. Pak Rudi. Semoga suatu hari kita dapat bertemu. hha.. saya sendiri merasa cukup tertantang tuk bergabung dengan tim Panin Asset Management. Oh iyah. Pertanyaan terakhir Pak Rudi. Selain website schweser yang bapak sarankan, adakah yang lain? Karena harganya sangat menguras kantong. 2 bulan gaji saya hanya bisa untuk mengikuti paket yang paling murah. dan itupun saya tidak tahu apakah akan cocok untuk saya. Apakah ada cara lain yang lebih ekonomis? Trims Pak Rudi

  16. Rudiyanto
    March 15th, 2013 at 23:09 | #17

    @cun
    Pertanyaannya bukan cocok atau tidak, tapi mau atau tidak mau. Ketika kemauan bertemu hambatan, itulah saat yang paling tepat untuk mengetahui apakah itu betul2 kemauan kita atau tidak.

  17. Hermawan
    March 27th, 2013 at 21:37 | #18

    Pak Rudy,

    1) Kenapa ya di Yahoo finance waktu yang menjadi patokan adalah waktu EDT yang ada selisih 1 jam dengan WIB? Saya lihat waktu EDT justru sama dengan WITA ?

    2) Ini hanya pandangan saya :)
    Ada benarnya juga, analisis “Kinerja masa lalu SELALU menjadi acuan kinerja di masa yang akan datang” Bahkan saya lebih lebih cocok yang ini bila dibanding pakem investasi yang sudah ada.
    Menurut saya, bahwa tanpa secara matematis pun, sebenarnya kita akan bisa memperkirakan kapan indek tsb akan turun dan kapan akan naik. Yaitu, dengan mengamati pergerakan grafik grafik IHSG (misalnya di yahoo finance) saat itu digatung dengan acuan kita pada kinerja di masa lalu (minggu yang lalu, 1, 3, 6 bulan yang lalu, bahkan kalau perlu kinerja pada 1 – 5 tahun yang lalu). Tapi ini akan lebih akurat diterapkan pada pengamatan minimal pergerakan indeks per minggu, bukan per jam atau per hari. Lebih dengan dengan masa hari kerja bursa yang hanya 5 hari kerja (Senin – Jum’at) justru ini akan menjadi keuntungan kita kapan beli / melepas saham.

  18. Rudiyanto
    March 28th, 2013 at 20:55 | #19

    @Hermawan
    Salam Hermawan,

    1. Itu pertanyaan untuk Yahoo Finance pak, anda bisa coba menanyakan ke yahoonya langsung. Siapa tahu setelah itu mereka melakukan perbaikan.

    2. Kalau kinerja masa lalu Selalu menjadi acuan masa depan, maka akan ada kelemahan besar pak. Katakan di 2008 IHSG dari 2800 turun ke 1400. Jika teori ini berlaku absolut, maka ketika IHSG naik ke 2800 lagi, maka dia akan turun ke 1400 lagi. Jadi menurut saya tidak bisa dijadikan acuan sepenuhnya. Tetap harus ada pertimbangan teknikalnya.

    Setelah 1 bulan berlalu, jika anda membandingkan IHSG akhir Februari dan Akhir Maret, ternyata tebakan bahwa IHSG akan tetap naik ternyata masih manjur, Mudah2an akan berlanjut ke bulan-bulan berikutnya.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  19. tri ananda
    May 21st, 2013 at 04:24 | #20

    Trimakasih pak, atas ilmu yg anda berikan. Tapi saya akan sedikit koreksi dari tulisan bapak. Pada alenia 6 dan 7 terdapat kontra persepsi/ produktif. Mungkin bapak tergesa2 dalam penulisan, jadi salah analisa.
    Trimakasih.

  20. Rudiyanto
    May 21st, 2013 at 09:44 | #21

    @tri ananda
    Terima kasih Ananda atas masukannya.
    Tapi boleh tahu, tepatnya di kalimat apa terjadi kontra persepsi sehingga anda berasumsi analisa saya saya salah?

  21. Rusfandi
    December 7th, 2014 at 09:44 | #22

    Salam sukses Pak Rudi.
    Kebetulan saya lagi buka arsip artikel Pak Rudi untuk mencari bahan ajar terkait statistika dengan IHSG. Kebetulan ada materi mengenai probabilitas ini.
    Saya mohon penjelasan lagi Pak, terkait maksud penyederhanaan data pada penggunaan angka 8 dan 12 sebagai angka pemisah?
    Terimakasih.

  22. Rusfandi
    December 7th, 2014 at 12:28 | #23

    @Rusfandi
    Maaf ketinggalan, satu lagi Pak. 21 kejadian yang Pak Rudi maksud di poin nomor (4) itu didapat dari mana?

    Sebagai tambahan saja, saya melakukan perhitungan lagi (s.d. 3 November 2014), tetapi berdasar data IHSG per tanggal 1 (awal bulan), hasilnya :
    – 71 dari 207 atau 34,3% data kenaikan Return 2 bulanan IHSG di bawah 0% (mengalami penurunan)
    – 75 dari 207 atau 36,23% data kenaikan Return 2 bulanan IHSG berada di antara 0% – 8%
    – 19 dari 207 atau 9,18% data kenaikan Return 2 bulanan IHSG berada di antara 8% – 12%
    – 42 dari 207 atau 20,29% data kenaikan Return 2 bulanan IHSG di atas 12%

  23. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 01:00 | #24

    @Rusfandi
    Salam Pak Rusfandi,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Kalau angka 8% dan 12% adalah angka interval antar data yang saya pakai. Kalau misalkan data statistik dipisahkan pakai interval kan ada rumusnya. Saya skip rumus tersebut dan menggunakan angka acuan saya sendiri.
    2. Data saya menggunakan data dari akhir bulan ke akhir bulan, tentu berbeda kalau menggunakan dari awal ke awal. Kalau mengambil data dari Yahoo Finance secara bulanan memang keluarnya tanggal 1. Tapi yang benar dalam perhitungan data return bulanan adalah menggunakan data akhir bulan sehingga kamu perlu mengambil data harian dan dipilih akhir bulannya saja.

    Semoga bermanfaat untuk pengajaran anda.

    Terima kasih

  24. Rusfandi
    December 10th, 2014 at 13:03 | #25

    @Rudiyanto
    Oh..iya, interval mengenai distribusi frekuensi. Kalau begitu saya ijin pakai data Pak Rudi, 8% sama 12%, saya rasa data berdasar pengalaman profesional lebih valid :D
    Baik Pak, akan saya coba lagi mengunduh data nya.
    Terimakasih Pak Rudi.

  25. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 18:46 | #26

    @Rusfandi
    Kalau menurut saya, untuk pengajaran yang menggunakan dasar teori sebaiknya menggunakan acuan rumus yang ada.

    Terima kasih.

 


%d bloggers like this: