Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Menanti Koreksi IHSG

Menanti Koreksi IHSG

Ketika bursa naik tinggi di awal tahun ini

  • Ada sekelompok investor yang bahagia karena bisa merealisasikan keuntungannya..
  • Ada juga sekelompok investor yang gigit jari, karena ternyata investasinya dijual terlalu cepat tahun lalu..
  • Yang paling parah, tentu yang sudah cut loss karena ketakutan dengan berbagai isu krisis yang menimpa ekonomi global dan belum berinvestasi sampai sekarang..

Meski memiliki karakteristik dan bahasa gaulnya “Hoki” yang berbeda, namun saya yakin ketiga kelompok investor tersebut menantikan hal yang sama yaitu Koreksi IHSG sebagai kesempatan untuk masuk lagi.

Apa itu Koreksi IHSG? Koreksi IHSG adalah bahasa keren dari orang pasar modal untuk menyamarkan kata penurunan atau anjlok. Ketika penurunan dalam persentase kecil, dibilang Healthy Correction (Koreksi Sehat), karena udah naik tinggi. Wajar kalau turun. Sementara jika penurunannya dalam, dibilangnya Koreksi Dalam. Dikatakan koreksi karena naiknya ketinggian sehingga harga pasar lebih tinggi daripada harga wajar, sehingga perlu turun cukup dalam agar harga pasar sama dengan harga wajar lagi. Nah, pertanyaannya, kapan koreksi ini akan terjadi? danĀ  Koreksi IHSG seperti apa yang menanti di 2013 ini?

Kalau ditanya koreksinya kapan, terus terang saja saya tidak tahu. Tapi kalau ditanya, apakah koreksi yang akan menanti di depan adalah koreksi sehat atau koreksi dalam, saya mungkin bisa memberikan sedikit sharing dari sudut pandang saya. Dari sudut pandang saya, yang lebih mengutamakan fundamental, menurut saya harga saham dalam pembahasan kali ini IHSG akan turun jika harga aktual yang terjadi, lebih tinggi dibandingkan harga wajar. Jika selisihnya sangat jauh, maka akan terjadi Koreksi Dalam, sementara jika selisihnya tidak terlalu jauh maka

Wajar tidaknya suatu harga, menurut saya sangat dikontribusikan oleh 2 faktor utama yaitu Valuasi dan Ekspektasi.

Valuasi

Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya selalu menggunakan PE Ratio daripada LQ-45 terbitan infovesta untuk mengukur mahal atau tidaknya valuasi saham secara umum saat ini. Pada Intinya, berdasarkan studi selama beberapa tahun terakhir, kisaran PE Ratio secara valuasi yang wajar adalah berada di sekitar 14 – 16 kali. Nah berapa sekarang PE Ratio tersebut, anda bisa mengaksesnya ke homepage www.infovesta.com. Jika saya tampilkan cuplikannya, PE ratio per tanggal 21 Februari 2013 adalah hampir 16 kali. Artinya secara valuasi, PE tersebut masih kisaran “Wajar”, namun dalam batas tertinggi harga yang wajar. Namun belum bisa dikatakan “Mahal”.

Ekspektasi

Ekspektasi ini adalah hal yang juga tidak kalah penting dari valuasi. Ibarat PE Ratio adalah Mesin Mobil, Ekspektasi adalah Bahan Bakarnya. Sebagus apapun mesinnya, kalau tidak ada bahan bakarnya percuma saja. Jika PE murah, ekspektasi ke depan jelek, maka IHSG tetap akan turun, sementara jika PE mahal namun ekspektasi ke depan masih tetap bagus atau malah sangat bagus, IHSG tetap bisa naik. Untuk mengukur ekspektasi ini terkadang sulit karena selain subjektif, indikatornnya juga banyak.

Dari sudut pandung saya, beberapa hal tentang ekspektasi yang bisa kita amati sekarang adalah:

1. Ekonomi secara global berada dalam masa pemulihan. Ibarat ketika sedang mengalami luka atau sakit, ketika berada dalam masa pemulihan, orang akan mengkonsumsi lebih banyak dan lebih sehat agar luka dan sakitnya cepat sembuh. Jadi dalam masa pemulihan biasanya ekspektasi akan lebih tinggi dan pemerintah / korporasi tidak segan2 untuk melancarkan stimulus. Berbeda ketika kita berada dalam kondisi sehat. Biasanya agar tidak jatuh sakit kita akan mencoba menjaga asupan makanan dan lain2 agar tidak berlebihan. Masa pemulihan ekonomi global ini sebenarnya terus terjadi dari pertengahan 2012 dan saya perkirakan akan berlangsung hingga 2014.

2. Masalah krisis utang Eropa sudah bukan menjadi masalah. Bagi negara yang mengklaim dirinya Maju tersebut, masalah adalah ketika mereka butuh uang, tidak bisa mendapatkan pinjaman. Tidak terlalu peduli (dalam jangka pendek) neracanya mau defisit, pertumbuhan GDP negatif dan lain sebagainya. Indikator mereka bisa meminjam uang atau tidak bisa dilihat dari tingkat yield obligasi negara dan yield obligasi korporasi atau bisa juga dengan tingkat Credit Default Swap (CDS) dari negara-negara dan perusahaan-perusahaan tersebut. Sebagai gambaran saja, Italia, sebagai salah satu negara yang menjadi korban krisis, pada akhir 2011 harus membayar sekitar 7% untuk bunga surat hutangnya, sekarang dia tinggal membayar sekitar 4 – 4.5%. Padahal rasio Debt (Hutang) terhadap GDP (Pendapatan) yang katanya bermasalah karena di atas 100% juga tidak turun selama 2 tahun ini. Semua ini tidak terlepas dari program Quantitative Easing baik yang dilakukan oleh pemerintah AS dan Uni Eropa.

3. Dari dalam negeri, yang harus dicermati oleh kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Valuasi yang tinggi sekalipun, jika ditopang sama kemampuan menghasilkan laba yang tinggi akan selalu bisa terjustifikasi. Ibarat properti, meski harga mahal dan naik terus, orang selalu berani beli karena mampu menjual di harga yang lebih tinggi atau menyewakan dengan tingkat pengembalian yang sepadan karena memang pasarnya ada.

Kalau menurut saya, idealnya suatu harga yang mahal dalam konteks properti harus bisa dijustifikasi dari sewa yang meningkat. Menggunakan harga jual memang bisa, namun lebih besar unsur spekulatifnya. Dalam konteks emiten di Indonesia, kenaikan harga yang lebih tinggi diibaratkan sebagai kenaikan yang sifatnya unsustainable karena bisa saja tinggi satu – dua tahun namun belum tentu bisa bertahan dalam jangka panjang. Sementara jika dari sewa, saya menyebutnya lebih sustainable karena lebih besar unsur recurring (pengulangan) dan bisa dijaga dalam jangka panjang. Perusahaan yang dikatakan memiliki fundamental baik adalah perusahaan yang bisa mempertahankan peningkatan laba bersih yang berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang.

Tahun 2012 sudah menunjukkan bahwa meski harga komoditas dan ekspor menurun, tingginya permintaan domestik telah membuat permintaan tetap tinggi sehingga banyak emiten di Indonesia tetap bisa meningkatkan laba perusahaan meski kondisi perekonomian dunia dalam kondisi krisis. Tahun ini juga, konsensus analis yang menyebutkan emiten di Indonesia masih bisa mempertahankan pertumbuhan laba bersih 15-20% merupakan indikator yang positif.

4. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap “Ekspektasi” adalah kestabilan politik dan ekonomi (fiskal dan moneter). Tahun 2013 sudah dicap sebagai tahun politik. Namun sesuai dengan riset kecil yang saya lakukan sebelumnya, ternyata efek politik ke pergerakan IHSG adalah tidak jelas. Artinya ada kalanya naik, ada kalanya turun. Dari sisi kestabilan ekonomi, kita bisa melihat bahwa Indonesia dihadapkan pada Current Account Deficit (Impor lebih besar dari Ekspor) sehingga Rupiah terus melemah. Selain itu, subsidi BBM juga menyandera sebagian besar dari APBN, sehingga porsi dana pemerintah untuk pengembangan terbatas. Belum lagi korupsinya. Selain itu, kenaikan upah buruh yang terkesan jadi alat kampanye, juga bisa menyebabkan terjadinya inflasi yang di luar dugaan. Jadi, secara kondisi ekonomi, dikatakan jelek tidak namun dibilang baik juga tidak. Lebih tepatnya kurang ideal.

Kesimpulan

Berdasarkan analisa terhadap Valuasi yang menunjukkan bahwa sekarang belum Mahal, dan Ekspektasi yang campur aduk. Namun pada dasarnya secara global baik2 saja, namun secara domestik emitennya baik namun ada sedikit perhatiannya dari sisi kestabilan ekonomi, saya menyimpulkan koreksi IHSG yang (jika terjadi) nantinya adalah koreksi yang sehat. Apa artinya koreksi yang sehat? Menurut saya koreksi yang sehat itu mungkin sekitar 5% – 10%, namun harusnya tidak lebih dari itu. Kemungkinan terjadinya koreksi yang dalam, menurut saya sangat kecil. Karena valuasi harga yang wajar, jika terjadi penurunan besar akan diimbangi dengan aksi pembelian dari pemegang dana besar yang sedang menunggu kesempatan untuk menginvestasikan dananya.

Tapi tetap saja, saya tidak tahu kapan koreksi ini akan terjadi. Demikian sharing saya kali ini, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
  1. Anton
    February 21st, 2013 at 13:45 | #1

    Valuasi

    Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya selalu menggunakan PE Ratio daripada LQ-45 terbitan infovesta

    maksudnya saya selalu menggunakan PE Ratio dari LQ-45 terbitan infovesta ya?

    Terima kasih Pak atas sharingnya.

  2. Rudiyanto
    February 21st, 2013 at 16:14 | #2

    @Anton
    PE ratio untuk indeks itu ada banyak sekali versinya. Ada yang dibuat sama koran, ada yang dibuat sama analis di sekuritas, ada yang diambil dari situs seperti Bloomberg dan Reuters, Infovesta juga termasuk salah satu yang menyediakan angka tersebut.

    Karena beda yang buat, bukan tidak mungkin PE antara satu sumber berbeda dengan sumber yang lain. Jadi maksud saya, angka yang saya pakai adalah angka PE yang diterbitkan oleh Infovesta.

    Link ini adalah salah satu contohnya http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/11/01/fiscal-cliff-dan-efeknya-terhadap-pasar-modal-indonesia/
    Kamu juga bisa mencari artikel lain dengan mencari di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/

    Semoga bermanfaat.

  3. agungreksadana
    February 22nd, 2013 at 08:47 | #3

    menarik dari ulasan pak rudy. hal ini bisa menjadi pegangan para investor reksadana. kalo boleh tahu, PER terendah dan tertinggi dari LQ45 berapa dan apa yang menyebakan hal itu bisa terjadi. terimakasih. happy investing…:)

  4. teguhP
    February 22nd, 2013 at 09:45 | #4

    Pak Rudi
    Dimanakah bisa mendapatkan informasi PE bursa efek indonesia yg gratis pak, untuk investor reksadana kelas teri seperti saya pak? kalo boleh usul pak rudi, agar panin aset manajemen mengirimkan email kenasabahnya rutin selain NAB juga PE dari bursa.. atau bisa cukup di letakan di website milik panin. untuk menjadi panduan kami pak. Terima kasih pak

  5. Rudiyanto
    February 23rd, 2013 at 09:28 | #5

    @agungreksadana
    Salam Agung,

    Yang namanya penyebab naik turunnya harga saham selalu berubah dari waktu ke waktu. Sebelum 2008 pernahkan anda mendengar Subprime Mortgage? Sebelum 2006 pernahkan anda mendengar mark to market obligasi? krisis Eropa? Soft landing hard landing China? Yen Carry Trade? Penurunan Rating US? Fiscal Cliff? dll…

    Yang namanya penyebab naik turunnya harga saham itu seperti virus / bakteri penyakit, semakin dibuat penangkalnya semakin ganas jenis baru yang bermunculan. Jadi biarlah Manajer Investasi yang pusing memikirkan itu.

    Semoga bermanfaat.

  6. Rudiyanto
    February 23rd, 2013 at 09:29 | #6

    @teguhP
    Salam Teguh,

    Di Website Infovesta.com ada. Dengan sedikit usaha, anda juga bisa menemukan di website IDX. Coba saja diklik bagian daily reportnya. Siapa tahu anda beruntung.

  7. teguhP
    February 25th, 2013 at 12:20 | #7

    Sudah ketemu pak. Terima kasih atas informasinya.

  8. Rudiyanto
    February 26th, 2013 at 08:35 | #8

    @teguhP
    Salam Teguh,

    Menurut saya, data PE diambil dari perusahaan riset yang terpercaya. Lagipula data tersebut sudah tersedia di infovesta.com sehingga anda bisa melihat dari sana. Semua riset saya dibuat dengan menggunakan data yang ada di website tersebut sehingga jika anda mengambil data PE yang berbeda, maka hasil riset saya tidak bisa digunakan karena dasar yang digunakan berbeda.

    Semoga bermanfaat.

  9. Nur
    February 28th, 2013 at 20:04 | #9

    Pak Rudi, sekarang PER LQ45 sudah menembus 16.675. Apakah faktor valuasi tinggi ini sangat menentukan terjadinya koreksi dalam? Saya belum memahaminya. Terimakasih.

  10. Rudiyanto
    March 1st, 2013 at 16:23 | #10

    @Nur
    Salam Nur, angka segitu dibilang mahal, agak mahal. Dibilang mahal sekali tidak, karena berdasarkan data historis pernah sama 20 – 21 kali. Faktor valuasi, sangat mungkin berpengaruh terhadap koreksi saham. Tapi tidak menjawab kapan. Sebab, terkadang ada saham yang valuasinya mahal tapi terus naik, ada juga saham yang valuasinya murah tapi tidak naik2. Malah semakin menurun. Adalah tugas Manajer Investasi untuk memahami hal tersebut. Kebetulan saya baru publish satu artikel juga tentang kondisi IHSG, mungkin bisa anda baca-baca. Tinggal lihat artikel yang terbaru tanggal 1 Maret ini, thanks.

 


%d bloggers like this: