Home > Obligasi, Obligasi Intermedit, Perencanaan Investasi > Studi Kasus: Keputusan Jual Beli Obligasi

Studi Kasus: Keputusan Jual Beli Obligasi

Sehubungan dengan adanya pertanyaan dari salah satu pembaca blog ini, yaitu bapak Syamsir Alam tentang apakah sebaiknya obligasi yang dimiliki saat ini dijual untuk diganti dengan obligasi yang baru, saya merasa kasus ini cukup menarik sehingga saya membahasnya secara tersendiri. Sebagai informasi, pertanyaannya adalah sebagai berikut (dalam 2 kesempatan)

Pak Rudi yth, saya mempunyai FR 040 jatuh tempo 25 Sept 2025 coupon 11% harga 144,5%, ytm 5,946%, mana yg lebih bagus sekarang (dengan mengabaikan risiko gagal bayar), saya tetap memegang FR ini atau menjualnya/menggantinya dgn obligasi corporate dgn ytm yg lebih besar, dan apa pertimbangannya? mohon bantuannya, sebelumnya diucapkan terima kasih – (Koreksi harusnya FR040 jatuh temponya 15 September 2025)

saya beli diharga 99,25 tgl 27-8-2009, harga diatas adalah harga saat ini, target returnnya ndak ada, akan diganti dengan obligasi Bank Nagari harga saat ini 106,25, kupon 9,875 ytm 7,52 jatuh tempo 13-1-2016, tersedia di pasar, dapat fasilitas bebas pajak, terima kasih atas pertimbangannya

Bagi anda yang berprofesi sebagai analis, Manajer Investasi, Divisi Investasi ataupun individu biasa yang tertarik dengan keuangan dan investasi, tentunya juga dapat membuat analisa versi anda tersendiri. Nanti hasil analisa kita selanjutnya diperbandingkan. Siapa tahu solusi yang anda berikan ternyata lebih baik?

Karena pertanyaan di atas adalah pertanyaan nyata yang sering kali tidak ada informasi lain seperti pada soal ujian, maka saya perlu membuat beberapa asumsi yang relevan. Setelah itu, berdasarkan asumsi yang ada, selanjutnya saya akan membuat simulasi, apakah lebih baik obligasi tersebut dipertahankan atau diganti dengan obligasi baru yang baru. Idealnya hasil simulasi haruslah berupa angka.

Asumsi saya antara lain:

  • Pembelian Obligasi Bank Nagari tidak menyalahi ketentuan investasi pada pihak terafiliasi. Dalam hal ini boleh tidak membeli obligasi dari perusahaan terafiliasi (perusahaan induk) dan batasan nominal yang diperbolehkan sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dana pensiun.
  • Obligasi Bank Nagari yang akan dibeli selanjutnya akan dicatat menggunakan metode pembukuan Hold to Maturity (Dipegang hingga jatuh tempo)
  • Obligasi FR040 dibeli dengan metode pembukuan Mark to Market (mengikuti harga pasar)
  • Asumsi ke dua Obligasi FR040 dibeli dengan metode pembukuan Hold to Maturity
  • Nominal investasi di Obligasi sebelumnya katakanlah Rp 10 Milliar
  • Rating obligasi FR adalah AAA dan Rating Obligasi Bank Nagari adalah A (BSBR06)
  • Simulasi di atas membandingkan profit loss terhadap perusahaan hingga 13 Januari 2016 (Jatuh tempo Obligasi Bank Nagari)
  • Diasumsikan jika terjadi transaksi obligasi akan dijual dan kemudian dibeli kembali pada 18 Januari 2013

Berdasarkan analisa di atas, simulasi yang pertama adalah Obligasi FR040 dibeli dan kemudian dicatat dengan metode mark to market. Untuk menjawab hal ini, saya menambahkan lagi beberapa asumsi dan data:

1. suku bunga tidak mengalami perubahan hingga 2016

2. Harga Obligasi FR040 pada harga pasar hari ini 18 Januari 2013 adalah 144.5 (Sesuai dengan data BEI)

3. Suku bunga yang berlaku menggunakan asumsi Yield Curve dari IBPA (Sebetulnya ada banyak sumber, Infovesta, Bloomberg, Reuters juga dapat menyediakan informasi ini). Per 17 Januari 2013

 

Dengan asumsi di atas maka perbandingan antara kedua keputusan dalam persentase sebagai berikut: (klik 2 kali (1 + 1) untuk memperbesar)

Bandingkan jika membeli obligasi Bank Nagari, maka keuntungan yang akan diperoleh sebagai berikut:

Simulasi perhitungan kedua adalah mengasumsikan obligasi FR040 dibeli dan kemudian dicatat dengan pendekatan Hold to Maturity. Dengan cara ini, malahan keuntungan yang diperoleh lebih tinggi karena obligasi dibeli pada yield di atas 11%

Kesimpulan dari hasil analisis di atas adalah sebagai berikut:

  • Dengan menggunakan asumsi FR040 dicatat dengan metode mark to market atau dengan cara Hold to Maturity, secara persentase keuntungan lebih menguntungkan jika anda tetap menyimpan obligasi FR040 dibandingkan menjualnya dan membeli obligasi Bank Nagari
  • Asumsi FR040 dengan metode pembukuan mark to market dapat berubah bila terjadi kenaikan yield / suku bunga yang disebabkan bisa disebabkan karena valuasi obligasi yang dianggap terlalu mahal, inflasi meningkat karena faktor banjir dan lainnya, maka harga FR040 bisa mengalami penurunan harga yang lebih dalam dibandingkan harga prediksi di atas.
  • Memang, godaan terbesar adalah merealisasikan capital gain dari FR040 yang sudah mencapai 45.6% (beli 99.25 harga pasar 144.5). Namun yang harus dipertimbangkan adalah bahwa YTM ketika anda membeli obligasi ini adalah sebesar 11.1%. Dengan memegang obligasi ini hingga jatuh tempo, maka anda mendapatkan kepastian untung 11.10% hingga tahun 2025. Sementara jika anda merealisasikan keuntungan 45.6% sekarang dan mendapat pengganti dengan YTM 7.49% hingga 2016, tentu anda juga harus memikirkan apa yang harus dilakukan dari 2016 – 2025 setelah obligasi tersebut jatuh tempo. Tentu tidak mudah lagi untuk mendapatkan obligasi dengan Yield 11% seperti obligasi yang anda punya saat ini
  • Kecuali posisi dana pensiun anda dalam kondisi RKD di bawah 100% sehingga membutuhkan realisasi profit untuk mendongkrak return, saya tidak menyarankan anda melakukan aksi tersebut.
  • Perlu diingat, bahwa hasil perhitungan saya di atas bukan merupakan satu-satunya solusi atas pertanyaan anda. Masih banyak opsi lain yang bisa dipertimbangkan. Saya juga mempersilakan para pembaca di blog ini memberikan masukan terhadap kondisi di atas.

Demikian penjelasan dari saya, semoga dapat bermanfaat bagi anda dalam pengambilan keputusan investasi.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. No comments yet.