Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi > PEMILU, Pilpres 2014 dan Pasar Modal Indonesia

PEMILU, Pilpres 2014 dan Pasar Modal Indonesia

Segera setelah nomor urut partai ditetapkan, tentu para pengurus Parpol sudah sibuk untuk bagaimana memenangkan PEMILU dan Pilpres 2014 nanti. Mulai dari mencari konsultan / lembaga survei politik, menyiapkan Capres dan Cawapres, Persiapan Kampanye, Persiapan No Urut calon legislatif dan berbagai lainnya. Saya sangat berharap para Parpol untuk mencatat dan mendokumentasikan apa yang mereka janjikan pada saat PEMILU untuk dilihat realisasinya seandainya terpilih nanti. Kegaduhan politik sebenarnya juga ikut berpengaruh terhadap pasar modal di Indonesia. Sebagian investor khawatir apabila PEMILU dan Pilpres yang akan diadakan pada tahun 2014 nanti memiliki dampak terhadap fluktuasi harga saham dan obligasi di bursa saham. Dalam kesempatan kali ini saya akan sharing sedikit mengenai statistik kinerja saham dan obligasi sebelum dan pada saat PEMILU. Semoga bisa memberikan masukan bagi anda semua..

Bagi anda yang masih awam dengan perpolitikan Indonesia (termasuk saya sendiri), pertama-tama saya perlu menyampaikan kerangka berpikir agar anda bisa melihat dari sudut pandang saya. Berdasarkan pengetahuan saya Pemilihan pada tahun 2014 nanti akan terbagi menjadi 2 tahapan yaitu:

  1. PEMILU untuk memilih calon legislatif (Anggota DPR)
  2. Pilpres untuk memilih calon presiden dan wakilnya

Calon yang dimajukan dalam Pilpres haruslah berasal dari partai yang mendapatkan suara dalam persentase tertentu dimana berdasarkan keputusan terakhir, Presidential Threshold adalah sebesar 20%. Artinya hanya partai atau koalisi partai (gabungan dari beberapa partai) yang total suaranya mencapai 20% bisa mengajukan calon Presiden dan Wakil Presiden.

Calon yang diusung kemudian dipilih langsung oleh rakyat dengan catatan mendapatkan suara minimal 50% + 1. Apabila terdapat beberapa calon dan tidak ditemukan pemenang dalam pemilihan yang pertama, selanjutnya akan dilanjutkan ke putaran II dengan hanya 2 pasangan dengan urutan suara terbesar pertama dan kedua. Selain itu, ada juga aturan bahwa suara harus tersebar secara nasional.

Dalam sistem pemerintahan, Presiden dan Pemerintah ibarat CEO dan Manajer sementara DPR adalah Komisaris. Misalnya ketikan Pemerintah ingin membangun jalan tol, maka sebagai CEO, pemerintah akan membuat Rencana Pembangunan yang berisi kalkulasi mengenai biaya yang dibutuhkan beserta manfaatnya. Kemudian Rencana Pembangunan tersebut harus dipertanggung jawabkan di depan DPR (Komisaris) untuk selanjutnya mendapat persetujuan. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang presiden untuk diusung dari partai yang memiliki persentase besar di DPR karena jika tidak, rencana pembangunan yang diajukan mungkin saja mendapat pertentangan dari legislatif sehingga tidak dapat terlaksana.

Yang terjadi di AS adalah dimana yang mendominasi legislatif adalah Republik sementara Presiden yang berkuasa berasal dari Demokrat, keputusan presiden Obama terkait fiskal dan moneter terkadang mendapat pertentangan. Namun memang cara inilah menurut saya sudah benar, karena Pemerintahan yang terlalu berkuasa akan melahirkan diktator sehingga perlu diawasi oleh DPR, sementara DPR yang terlalu berkuasa akan menyebabkan pembangunan menjadi agak terhambat karena proses keputusan menjadi lebih panjang. Yang penting adalah bagaimana Pemerintah (Eksekutif) dan DPR (Legislatif) diisi oleh orang2 berkualitas yang memang berorientasi ke bagaimana membangun Indonesia yang lebih baik.

Kembali ke topik pembicaraan, bagaimana dampak pemilihan tersebut terhadap pergerakan Pasar Modal Indonesia dalam hal ini saham dan obligasi?

Untuk membahas kedua hal tersebut mari kita lihat data sebagai berikut:

PEMILU dan Pilpres 2004

(Sumber Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Indonesia_2004 )

Setelah melalui 2 putaran, Pasangan yang terpilih adalah sebagai berikut:

Bagaimana dengan pergerakan IHSG dan Indeks Obligasi 1 tahun sebelumnya dan tahun tersebut (2003 dan 2004) ?

 

PEMILU dan Pilpres 2009

(Sumber Wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum_Indonesia_2009)

Adapun hasil Pilpres adalah sebagai berikut:

Pergerakan IHSG dan Indeks Obligasi Pemerintah di 2008 dan 2009 sebagai berikut:

Hasil analisis:

  • Baik PEMILU 2004 dan PEMILU 2009 menurut saya sangat tidak efisien karena:
    • Banyak sekali partai yang berpartisipasi 24 dan 44
    • Tidak ada pemenang mutlak karena di bawah 50%
    • Presiden yang diusung merupakan hasil dari koalisi beberapa partai
  • Namun, meski merupakan koalisi, secara makro ekonomi hasil kerja pemerintahan ini cukup baik yang ditandai dengan:
    • Meningkatnya PDB per kapita dari tahun ke tahun
    • Inflasi yang terkendali dalam beberapa tahun terakhir
    • Peringkat surat utang yang mendapat investment grade
    • Rasio utang terhadap PDB yang relatif lebih rendah dibandingkan negara lainnya
    • Suku bunga yang terus menurun
    • Adanya kemajuan dalam pemberantasan korupsi namun di satu sisi korupsi juga semakin merajalela
  • Secara statistik historis 2003-04 dan 2008-09. Satu tahun sebelum PEMILU :
    • Harga saham yang diwakili oleh IHSG satu kali mengalami kenaikan signifikan yaitu naik 62.82% pada tahun 2003 dan turun signifikan yaitu-50.64% pada 2008
    • Kejadian yang sama juga berlaku di Obligasi pemerintah yaitu naik 16.07% pada tahun 2003 dan relatif flat sebesar -0.03% pada 2008 setelah sempat mengalami penurunan signifikan pada bulan Oktober – November.
    • Terus terang saya belum mendalami pasar modal pada 2003 sehingga saya tidak tahu apa yang menyebabkan kenaikan saham dan obligasi pada tahun itu, namun untuk 2008 sudah pasti penurunan disebabkan karena adanya imbas krisis global yang bermula dari Subprime Mortgage di AS.
  • Secara statistik historis 2003-04 dan 2008-09. Pada tahun PEMILU :
    • Baik harga saham dan obligasi pemerintah pada tahun diadakannya PEMILU selalu menunjukkan kenaikan yang signifikan dimana pada tahun 2004, IHSG dan IGBI masing-masing naik 44.56% dan 21.49% Kemudian pada tahun 2009 naik sebesar 86.98% dan 15.99%

Kesimpulan PEMILU 2004 dan 2009

  • Apakah setiap kali mau ada PEMILU IHSG dan Obligasi pemerintah harganya akan turun? Secara statistik bisa dikatakan fifty-fifty karena kejadiannya satu kali naik dan satu kali turun. Artinya bisa naik bisa juga turun. Tidak ada teori yang memastikan hal tersebut
  • Apakah pada tahun PEMILU IHSG dan Obligasi pemerintah pasti akan naik? Secara statistik jika dilihat dari 2 periode sebelumnya bisa dikatakan iya. Namun hukumnya tentu saja kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa mendatang.

 

Bagaimana dengan PEMILU dan Pilpres 2014?

Disini saya tidak bermaksud meramalkan siapa yang menang atau siapa yang harus dicalonkan sebagai presiden, fokus saya, jika melihat sebagai pengamat pasar modal:

  • PEMILU kali ini lebih efisien karena diikuti oleh hanya 10 partai. Memang ada pro dan kontra, tapi dalam konteks ini less is good
  • Apakah statistik di atas akan berulang? Untuk 2013 menurut saya:
    • Harga saham secara valuasi masih di batasan wajar. Peluang untuk naik masih ada namun tidak terlalu tinggi. Investor tidak bisa berharap kenaikan puluhan persen seperti 2003, 04 dan 2009. Antara belasan sampai dengan 20% menurut saya merupakan batasan yang wajar.
    • Utk obligasi secara valuasi sebenarnya sudah agak mahal. Kenaikan inflasi yang di luar dugaan seperti yang akhir2 ini dibahas bisa menyebabkan koreksi pada harga tersebut. Namun Manajer Investasi yang cermat dalam mengamati perubahan situasi di pasar obligasi malah dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk membeli di harga murah.
  • Untuk 2014, menurut saya:
    • 2014 seharusnya merupakan tahun dimana kita take off atau kembali masuk ke percepatan pembangunan ekonomi. Sebab, meski revisi pertumbuhan ekonomi banyak dilakukan untuk 2013 ini, kebanyakan analis dan ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan kembali meningkat di 2014. Krisis hutang yang menimpa Eropa tanpa sadar membaik secara perlahan-lahan. Begitu kondisi ekonomi Eropa membaik, maka imbasnya akan terasa ke AS, China dan negara lainnya.
    • Memang sudah ada fakta (http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/01/11/ironi-dibalik-peringkat-return-bursa-saham-dunia/) yang menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi tidak selalu sejalan dengan pasar modalnya. Namun, pertumbuhan ekonomi dunia yang baik akan memancing semakin banyak dana asing yang masuk ke Indonesia baik itu ke pasar modal ataupun ke sektor riilnya. Jika hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin statistik akan kembali terulang.
    • Rasa-rasanya masih terlalu dini memprediksi IHSG 2014 di saat ini, mari kita lihat perkembangannya dari waktu ke waktu.

Demikian artikel yang agak panjang ini saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
  1. Nur
    February 23rd, 2013 at 08:22 | #1

    Riset yang realistis, Pak. Saya juga sempat googling beberapa hasil riset (mhs S1), dan ternyata hasilnya memang belum ada korelasi pasti antara pemilu dan IHSG. Mudah2an kali ini pemilu lebih lancar. Amin…

  2. Laras
    June 27th, 2013 at 14:15 | #2

    Pak, berarti investasi pada reksa dana merupakan investasi untuk jangka panjang yang profil IHSGnya akan dipastikan selalu naik dari waktu ke waktu (meski fluktuatif)? Trims.

  3. Rudiyanto
    June 30th, 2013 at 12:24 | #3

    @Laras
    Yth Laras,

    Sebetulnya prinsip yang benar adalah harga saham akan naik sesuai dengan kenaikan laba bersih (keuntungan perusahaan), dan dimana2 dalam jangka panjang, keuntungan perusahaan selalu diproyeksikan naik dalam jangka panjang.

    Jadi ketika laba bersih berhenti naik atau menurun, maka harga saham juga akan turun. Untuk itu, IHSG akan naik dalam jangka panjang jika anda percaya keuntungan perusahaan juga akan naik dalam jangka panjang juga.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  4. I Putu
    March 8th, 2014 at 19:35 | #4

    Permisi Yth Admin
    maaf mau nanya, sy mhasiswa S1 yg berencana mengambil topik skripsi tentang pengaruh peristiwa politik pemilu legislatif dan pemilu presiden terhadap harga saham..
    yg sy tanyakan: pemilu itu apakah selalu 2x yakni pemilu legislatif dan pemilu presiden kah? hehe maaf bener bener ga tau..
    mohon saran yah, terimakasih ^–^

    • Rudiyanto
      March 8th, 2014 at 21:09 | #5

      Salam I Putu,

      Sebagai mahasiswa, apalagi yg sedang menyusun skripsi itu adalah tugasmu utk mencari tahu. Semoga beruntung.

  5. TRISABDO WALUYO
    March 13th, 2014 at 19:29 | #6

    Yth. Pak Rudi

    Saya berminat sekali berinvestasi pada reksa dana. waktu yang tepat sekarang-menjelang pemilu atau sesudah pemilu?

    Terimakasih.

  6. Rudiyanto
    March 14th, 2014 at 17:18 | #7

    @TRISABDO WALUYO
    Yth Waluyo,

    Waktu yang tepat untuk berinvestasi adalah :
    1. Anda memiliki tujuan investasi, dan ternyata dengan menabung saja tidak akan bisa atau perlu waktu yang lama sekali untuk mencapainya
    2. Ketika kondisi keuangan anda sudah sehat, dan anda ingin uang anda lebih berkembang
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/
    3. Atau anda sudah siap dengan risiko investasi di reksa dana, baik secara lump sum ataupun secara berkala
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/26/berapa-lama-periode-investasi-berkala-yang-ideal/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/02/5-persiapan-menjadi-investor-reksa-dana-2014/

    Semoga bermanfaat.

  7. dedy
    March 21st, 2014 at 10:57 | #8

    salam pak rudy, saya mhsswa s1,ingin menyusun skripsi pengaruh pemilu 2014 terhadap return saham,window yg paling efektif itu brapa hari sebelum dan brapa hari sesudah pemilu,agar tidak terpengaruh faktor diluar pemilu?
    dan variabel apa saja yang berhubungan dgn tema tersebut?
    terima kasih..

  8. farhat ali
    March 26th, 2014 at 14:11 | #9

    analisa yang bagus, bagaiamana dengan peraturan tentang pasar modal, apakah akan berubah signifikan atau akan ada revisi?? karena selama ini dunia industri merujuk pada Peraturan Bapepam X.K.VI.
    terima kasih… ditunggu analisa riilnya

  9. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 00:55 | #10

    @dedy
    Salam Dedy,

    Sebagai mahasiswa, seharusnya adalah pekerjaan kamu untuk melakukan simulasi dan penelitian terhadap data historis untuk menemukan yang paling efektif tersebut. Saya juga tidak mengerti dengan variabel yang kamu maksud.

    Terima kasih

  10. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 01:28 | #11

    @farhat ali
    Peraturan BAPEPAM X.K.VI itu tentang apa ya? Dan darimana kamu tahu dunia industri merujuk pada peraturan tersebut?

  11. EO
    June 16th, 2014 at 00:11 | #12

    Pak Rudiyanto,

    Setelah saya membaca bahasan anda tentang dampak Pemilu terhadap Pasar Modal Indonesia ini, timbul pertanyaan saya atau mungkin saran jika belum ada untuk topik bahasan selanjutnya, yaitu :
    Dampak AFTA (ASEAN Free Trade Area) terhadap Pasar Modal Indonesia khususnya saham dan obligasi.

    Terima Kasih.

    Salam,
    EO

  12. Rudiyanto
    June 16th, 2014 at 02:25 | #13

    @EO
    Pak / Bu EO,

    Rasa2nya dampak dari AFTA adalah lebih pada persaingan bisnis dan SDM daripada kinerja saham / obligasi. Tanpa AFTA seperti sekarang saja, sudah semakin banyak perusahaan Manajer Investasi asing yang membuka kantor di Indonesia.

    Dengan adanya AFTA, maka secara teori yang bisa menawarkan reksa dana di Indonesia bukan hanya Manajer Investasi baik asing ataupun lokal saja tapi juga Manajer Investasi asing yang tidak berkantor di Indonesia (namun tetap harus mengacu seperti apa ketentuan OJK nantinya). Jadinya Manajer Investasi di Indonesia tidak hanya bersaing di dalam saja tapi juga dengan luar negeri secara langsung.

    Di satu sisi, kita juga berkesempatan melakukan hal yang sama, namun kebanyakan tenaga pemasar dan manajer investasi mungkin masih belum memiliki pengalaman memasarkan dan mengelola produk secara internasional sehingga mau tidak mau perusahaan harus merekrut tenaga kerja dari luar negeri yang memiliki pengalaman internasional.

    Persaingan akan semakin ketat, kebutuhan akan tenaga kerja berpengalaman internasional juga akan semakin tinggi. Pertanyaannya tinggal kita mau jadi pasar atau pemasar saja.

    Faktor terbesar yang mempengaruhi harga saham dan obligasi tetap pada kinerja perusahaan dan kondisi makro. Pemain yang semakin banyak menambah frekuensi dan nilai transaksi, tapi tidak harganya.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

 


%d bloggers like this: