Home > Belajar Investasi, Belajar Reksa Dana > Mengenal Lebih Dalam Return dan Risiko Investasi (2)

Mengenal Lebih Dalam Return dan Risiko Investasi (2)

Selamat Tahun Baru 2013, semoga semua resolusi dan target yang anda susun pada tahun ini bisa tercapai semua.

Pada artikel sebelumnya tentang Risk and Return Investasi kita sudah belajar mengenai istilah Yield. Secara prinsip Yield lebih banyak digunakan dalam menggambarkan hasil pengembalian obligasi meskipun belakangan istilah Yield juga digunakan dalam saham yaitu Earning Yield. Dalam saham dan reksa dana, sekalipun jenis reksa dananya adalah reksa dana pendapatan tetap yang berisi obligasi, istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pengembalian adalah Return.

Mengapa digunakan Return ?

Istilah Yield lebih sering digunakan pada obligasi karena hasil dari obligasi berbentuk uang tambahan yang tidak mengurangi nilai pokoknya. Dalam investasi saham, memang terkadang ada pembagian dividen, namun bagi yang sudah berpengalaman, tentu sudah tahu bahwa pendapatan utama dari saham dihasilkan dari kenaikan harga. Karena keuntungan bisa berasal dari pembagian dividen dan juga dari kenaikan harga, maka berkembang istilah Return yang artinya “Pengembalian”. Kata pengembalian mencakup seluruh pendapatan investasi yaitu dari dividen dan selisih kenaikan harga.

Metode Perhitungan Return

Perhitungan return cukup sederhana, yaitu dari Harga Jual – Harga Beli + Dividen kemudian hasilnya dibagi dengan Harga Beli. Misalkan suatu saham dibeli dengan harga Rp 10.000. Setahun kemudian harga saham naik menjadi Rp 15.000 dan investor menjualnya. Dalam periode tersebut saham juga sudah membagikan dividen sebesar Rp 1000 yang sudah dinikmati oleh investor. Sehingga perhitungan return adalah Rp 15.000 – Rp 10.000 + Rp 1000 = Rp 6000. Kemudian dibagi dengan Rp 10.000 = 60%. Jadi return dengan berinvestasi pada instrumen tersebut adalah sebesar 60%. Karena kesamaan karakteristik antara saham dengan reksa dana, maka istilah return juga sering digunakan dalam reksa dana.

Seiring dengan perkembangan ilmu investasi, mulai muncul banyak istilah return seperti Total Return, Compounded Return, Annualized Return, Return yang dihitung dengan rata-rata Aritmatik dan Return yang dihitung dengan rata-rata Geometric.

Sebenarnya istilah Return itu sama dengan Total Return. Kata Total menekankan pada keseluruhan namun secara prinsip sebetulnya sama. Namun ketika dibandingkan dengan Annualized Return atau Compounded Return istilah total return menjadi berbeda. Sebagai contoh saya berikan ilustrasi suatu reksa dana yang memiliki harga sebagai berikut:

  • Harga Akhir Tahun 2008 Rp 1000
  • Harga Akhir Tahun 2009 Rp 1200
  • Harga Akhir Tahun 2010 Rp 1500
  • Harga Akhir Tahun 2011 Rp 1725
  • Asumsi selama tahun2 tersebut tidak ada pembagian dividen.

Istilah Return atau Total Return digunakan ketika kita menanyakan,

  • Berapa total return tahun 2009 (Artinya beli di akhir 2008 jual di akhir 2009)
  • Berapa pula total return tahun 2010 dan 2011 ?
  • Berapa total return selama 3 tahun (beli di akhir 2008 dan jual di akhir 2011)?

Dengan menggunakan rumus return di atas maka diperoleh:

  • Return Tahun 2009 = Rp 1200 – Rp 1000 = Rp 200 dibagi Rp 1000 = 20%
  • Return Tahun 2010 = Rp 1500 – Rp 1200 = Rp 300 dibagi Rp 1200 = 25%
  • Return Tahun 2011 = Rp 1725 – Rp 1500 = Rp 225 dibagi Rp 1500 = 15%
  • Total Return selama 3 tahun = Rp 1725 – Rp 1000 = Rp 725 dibagi Rp 1000 = 72.5%

Menghitung Rata-rata Return

Pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana menghitung rata-rata return per tahun? Dari sini kemudian berkembanglah 2 cara yaitu Arithmetic Mean dan Geometric Mean.

Metode Arithmetic Mean atau dalam bahasa Indonesia disebut Rata-rata Return Aritmatik atau Rata-rata Return Biasa menggunakan cara yang sederhana yaitu dengan membagi total return tersebut dengan jumlah tahunnya. Dengan menggunakan contoh di atas dimana:

  • Return Tahun 2009 = 20%
  • Return Tahun 2010 = 25%
  • Return Tahun 2011 = 15%
  • Return 2008 – 2011 = 72.5%

Maka perhitungan Annualized Return dengan cara Rata-rata Aritmatik bisa dilakukan dengan cara:

  • 20% + 25% + 15% = 60% kemudian hasilnya dibagi 3 karena tiga tahun menjadi 20% per tahun

Geometric Mean atau Rata-rata Return Geometrik dengan menggunakan data di atas dihitung dengan cara

  • (1+20%) x (1+25%) x (1+15%) Hasilnya kemudian di akar pangkat 3 (sesuai jumlah tahun) kemudian hasilnya dikurangi 1. Hasil yang diperoleh adalah 19.9305%

Bagi investor yang awam, ketika melihat harga beli 1000, harga jual 1725, periode 3 tahun, untuk menghitung rata-rata return digunakanlah logika sebagai berikut:

  • langsung Total Return selama 3 tahun yaitu 72.5% dibagi dengan 3 sehingga diperoleh 24.1667% per tahun

Karena ada 3 angka dengan hasil yang berbeda, pertanyaan tentu manakah angka yang paling benar:

  • Arithmetic Mean = 20% ?
  • Geometric Mean = 19.9305% ?
  • Atau Logika = 24.2667% ?

Untuk mengetahui hal tersebut digunakanlah pembuktian dengan menggunakan metode bunga berbunga (compounding)

Dari tabel di atas, dengan menggunakan contoh AM (Arithmetic Mean) kita bisa melihat bahwa nilai Rp 1000 dibungakan 20% akan menjadi Rp 1200 pada tahun selanjutnya. Rp 1200 dibungakan 20% lagi akan menjadi 1440, dan kemudian dibungakan lagi 20% menjadi Rp 1728. Dari contoh soal di atas diperoleh fakta bahwa pada akhir 2011, NAB/Up reksa dana adalah 1725. Dengan menggunakan cara yang sama pada Geometric Mean danĀ  rata-rata yang dihitung dengan menggunakan Logika, hasil yang sama persis dengan angka 1725 adalah dengan Geometric Mean (Tampilan di atas ada koma karena saya menggunakan pembulatan, jika digunakan semua angka akan sama persis) yaitu 19.9305%.

Sementara perhitungan dengan cara logika sudah jelas salah karena akan menghasilkan angka yang jauh lebih besar dari seharusnya. Bahkan tidak ada nama ilmiah untuk cara ini.

Karena hasil Geometric Mean per tahun yang sama persis dengan Total Return selama 3 tahun, maka Geometric Mean juga disebut sebagai Annualized Return (Return yang Disetahunkan) atau sering juga disebut Compounded Return (karena jika bunga ber bunga, maka hasilnya sama dengan Total Returnnya).

Apakah hal ini berarti Arithmetic Mean yang digunakan salah? Tidak juga, perhitungan rata-rata AM digunakan pada analisa statistika lebih lanjut seperti pada perhitungan standar deviasi dan lainnya, Namun AM tidak tepat digunakan dalam menampilkan kinerja historis suatu produk investasi karena lebih besar dari seharusnya. Tampilan kinerja historis yang disetahunkan harus selalu memperhitungkan faktor bunga berbunga. Pada perhitungan di atas, selisih memang tidak jauh, namun jika digunakan periode yang lebih panjang, selisihnya bisa menjadi besar sekali.

Bagaimana Praktek Tingkat Return Di atas?

Pada website www.infovesta.com atau website Manajer Investasi yang menampilkan performa reksa dana seperti Panin Asset Management di bawah ini:

Tampilan perform yang digunakan adalah TOTAL RETURN atau RETURN saja. Return tidak memiliki ketentuan waktu, bisa 1 hari, 1 bulan, 1 tahun, year to date, 3 tahun, 5 tahun dan seterusnya.

Sementara tampilan kinerja yang berbasis luar negeri / asing seperti Bloomberg :

Dengan menggunakan contoh, Return Panin Dana Maksima selama 5 tahun adalah 244.24% (Total Return) adalah sama dengan 28.01% (Annualized Return / Geometric Mean menurut Bloomberg). Sebenarnya saya agak aneh dengan website bloomberg, karena jika dihitung secara matematis, angka yang paling precise adalah 28.05%, namun ini mungkin saja disebabkan karena perbedaan pembulatan atau sistem yang digunakan.

Total Return lebih familiar bagi investor Indonesia dan investor awam karena dengan mudah menggambarkan tingkat pengembalian historis dalam jangka panjang. Misalkan return 5 tahun 200%, artinya jika kita menginvestasikan uang Rp 1 juta 5 tahun yang lalu, maka sekarang sudah menghasilkan keuntungan Rp 2 juta. Sementara istilah Annualized Return lebih sering digunakan investor asing atau investor yang lebih sophisticated. Hal ini tidak terlepas, bahwa baik buruknya kinerja tidak hanya digambarkan dengan return saja namun juga oleh volatilitas dan perbandingan terhadap risk free. Dalam prakteknya Volatilitas (Standar Deviasi) dan Risk Free dinyatakan dalam tahunan sehingga tingkat return juga disetahunkan. Sebagai investor, cukup gunakan Total Return, namun sebagai akademisi / researcher, saran saya gunakan Annualized Return.

Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat bagi anda. Oh ya, sebagai informasi, salah satu resolusi saya tahun ini adalah mencoba melakukan kultwit tahun ini secara berkala. Semoga niat ini kesampaian dan bisa memberikan manfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Ikhy Patty
    November 17th, 2017 at 05:38 | #1

    Terima Kasih banyak atas informasinya Pak Rudi, sangat menginspirasi dan membantu mengerjakan tugas kuliah saya, karna cuma di blog bapak yang tersedia informasi ini, skali lagi, makasih banyak pak

  2. Deni
    January 25th, 2018 at 23:01 | #2

    Pak Rudi, mohon tanya, di screenshot bloomberg diatas nampak tulisan 3-Month: +3.03%.
    Ini maksudnya:
    A. return per. bulan selama 3 bulan terakhir masing2 adalah 3.03% (kalau ditotal jadi 3 bulan x 3.03% = 9.09%)
    atau:
    B. jumlah total return 3 bulan itu semuanya bila digabungkan adalah 3.03% (jadi dapatnya per. bulan adalah 3.03% : 3 bulan = 1.01%/bulan?
    yang benar A atau B Pak?
    Terima kasih

  3. Rudiyanto
    January 26th, 2018 at 12:06 | #3

    @Deni
    Selamat siang Ibu Deni,

    Untuk data di Bloomberg sampai dengan 1 tahun, yang digunakan adalah total return.
    Yang dimaksud dengan total return adalah jika anda membelinya tiga bulan yang lalu dan menjualnya hari ini, diperoleh 3.03%.

    Tidak bisa dikalikan ataupun dibagi untuk mendapatkan tingkat return bulanan karena belum tentu return 1 bulan itu sama dengan angka yang kamu sebut.

    Perlu diingat pula, kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang di masa mendatang. Investasi reksa dana mengandung risiko, pastikan untuk membaca dan memahami prospektus reksa dana sebelum memulai investasi.

    Semoga bermanfaat

  4. riri indriani
    February 11th, 2018 at 20:39 | #4

    Dear pak rudi,

    1.Apakah rumus untuk menghasilkan standar deviasi dan beta untuk reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham itu sama dan bagaimana rumusnya?

    2.Apakah rumus untuk menghasilkan return risk free (return investasi bebas resiko) untuk reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham itu sama dan bagaimana rumusnya?

    3. Bagaimana cara menghitung return pasar untuk reksadana pendapatan tetap?

    Mohon bantuannya dan terima kasih

  5. Rudiyanto
    February 19th, 2018 at 14:24 | #5

    @riri indriani
    Selamat siang Ibu Riri,

    1. Bisa membaca buku tentang manajemen keuangan / statistik atau bertanya ke dosen pembimbing anda ?
    2. dan 3. Sama dengan nomor 1

    Terima kasih

Comment pages
1 3 4 5 2315

 


%d bloggers like this: