Home > Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Fiscal Cliff dan Efeknya Terhadap Pasar Modal Indonesia

Fiscal Cliff dan Efeknya Terhadap Pasar Modal Indonesia

Belakangan ini, pusat perhatian terhadap kondisi perekonomian global terpusat pada Topan Sandy dan proses pemulihannya. Mulai dari perkiraan kerugian sampai berapa besar uang yang akan dikeluarkan untuk memperbaiki kondisi, Sampai pada beberapa daerah bencana dinyatakan dalam kondisi darurat dan berpeluang menunda PEMILU AS yang akan digelar dalam waktu dekat ini. Terlepas dari hal tersebut, sebenarnya sebelum topan Sandy ini, ada satu lagi event makro ekonomi di Amerika yang sebetulnya juga membuat komunitas investasi di AS harap-harap cemas.

Ceritanya hampir sama seperti ketika menunggu penambahan “Debt Ceiling” (Batasan hutang yang boleh dipinjam oleh pemerintah AS karena ternyata batasan tersebut sudah hampir dipakai semua, jika tidak ditambah, maka pemerintah AS saat itu tidak bisa lagi menerbitkan surat utang). Kegagalan menambah Debt Ceiling, akan menyebabkan pemerintah tidak bisa berutang, akibatnya pemerintah tidak bisa menjalankan fungsi pemerintah seperti membayar gaji PNS, pelayanan, government spending dan melakukan investasi sektor riil untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Meski pada akhirnya batasan utang berhasil dinaikkan, perusahaan pemeringkat menurunkan Rating AS (karena dianggap menjadi lebih berisiko karena hutang yang menggunung), dan hal tersebut sempat pula memicu koreksi di bursa saham Indonesia.

Fiscal Cliff sebetulnya juga memiliki latar belakang cerita yang hampir sama dengan Debt Ceiling. Seperti apa Fiscal Cliff tersebut dan bagaimana kira-kira efeknya terhadap Pasar Modal Indonesia, akan saya bahas dalam sharing kali ini.

Flash Back Debt Ceiling dan IHSG

Untuk mengingat kembali, mari kita lihat efek dari Debt Ceiling, mulai dari tarik ulur pembicaraan, disahkan pada 31 Juli 2011 dan penurunan rating surat utang AS setelah itu dan dampaknya terhadap IHSG

sumber: Yahoo Finance, diolah

Pada Grafik di atas, terlihat jelas bahwa sebelum kesepakatan Debt Ceiling dilakukan, IHSG sempat memecahkan rekor tertinggi kemudian tiba longsor 1 -2 bulan kemudian meski pada akhirnya pulih dan pada tahun ini kembali mencetak rekor baru. Sekilas Debt Ceiling dan Penurunan rating AS bisa dikatakan sebagai biang keladi hal tersebut namun saya berpendapat lain karena menurut saya pada waktu itu, penurunan lebih disebabkan karena valuasi yang sudah terlalu tinggi. “Pasar” hanya sedang mencari alasan untuk menjual saham, “Kebetulan” event di atas dimanfaatkan untuk hal tersebut. Sebagai informasi PE Ratio sebelum penurunan adalah sebagai berikut

Pada grafik PE Ratio di atas terlihat jelas bahwa secara valuasi saham sudah sangat tinggi dan mendekati batasan Euforia pada saat tersebut.

Bagaimana dengan Fiscal Cliff?

Saya menemukan suatu website yang menjelaskan Fiscal Cliff dengan sangat baik. Beberapa artikel dari website tersebut saya ringkas disini. Bagi anda yang ingin tahu lebih lanjut bisa membaca langsung di website yang bersangkutan yaitu bond.about.com dan Wikipedia.com

Fiscal Cliff adalah suatu kata populer yang menggambarkan situasi fiskal yang akan dihadapi oleh pemerintah AS pada akhir tahun 2012. Dimana, pada 31 Desember 2012, beberapa program pemerintahan seperti:

  • Program Penurunan pajak penghasilan sementara akan berakhir (menyebabkan kenaikan 2% pada tarif Pph karyawan)
  • Adanya Program Pajak baru yang mensyaratkan pajak penghasilan yang lebih besar
  • Program pajak baru berkaitan dengan Undang-undang kesehatan yang diperjuangkan oleh Presiden Obama
  • Penurunan pengeluaran sebagai bagian kesepakatan dari Debt Ceiling pada 2011 diberlakukan. (Agar bisa berhutang lebih banyak, pemerintah AS disyaratkan untuk menurunkan pengeluaran agar defisit mengecil, alhasil pengeluaran pemerintah akan jauh berkurang)

Jadi, Fiscal Cliff dalam bahasa awam adalah kondisi dimana Penduduk akan dikenakan Pajak lebih tinggi di satu sisi Pengeluaran Pemerintah Dipotong / berkurang. Kata “Cliff” semakin menggambarkan kondisi darurat karena “Seolah-olah” sudah di ujung jurang. Jadi pemerintah dihadapkan pada situasi darurat, hampir sama dengan kisah Debt Ceiling pada 2011. Apa skenario yang mungkin terjadi?

  1. Pemerintah bisa tetap jalan dengan program yang ada. Efeknya adalah Pertumbuhan GDP akan turun atau bahkan negatif, namun di satu sisi, defisit yang sudah mencapai triliunan dollar tersebut bisa berkurang karena pengeluaran juga turun. (sedikit komentar saya, negara adidaya ini tidak memberikan contoh yang baik dalam pengelolaan uang, Begitu Besar Pasak daripada Tiang, Langsung Berutang. Ketika Utang semakin banyak, bukan Pasak yang diturunkan tapi Plafon Kredit yang dinaikkan)
  2. Pemerintah tetap melonggarkan kebijakan untuk menyelamatkan ekonomi. Program pengetatan anggaran di tunda, program pemotongan pajak di perpanjang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini, Pertumbuhan ekonomi terselamatkan namun hutang akan berubah dari “gunung” menjadi “pegunungan”. Sebagai contoh, lihat saja Eropa, masih ingat betapa keras kepalanya Troika terhadap Yunani dalam persyaratan pinjaman? Sekarang pelan2 sudah mulai melunak kembali. Demikian juga dengan “Drama” Debt Ceiling pada tahun 2011 lalu. Seolah2 pemerintah di antara 2 pilihan Bangkrut atau Tidak, namun toh pada akhirnya baik2 saja.
  3. Perpaduan antara opsi 1 dan opsi 2. Yah, dimana2 selalu ada jalan tengah.

Bagaimana Efeknya terhadap Pasar Modal Indonesia ?

Menjelang Januari 2013, pembahasan tentang hal tersebut tentu akan semakin gencar dan berpotensi menjadi Drama seperti halnya Debt Ceiling pada tahun 2011 lalu. Meski demikian, tentu ada kemungkinan dimana hal tersebut tidak terjadi karena fokusnya malah beralih pada pemulihan ekonomi AS paska Topan Sandy. Apapun yang terjadi, investor disarankan tetap berfokus pada faktor valuasi. Karena pada akhirnya valuasi-lah yang menjadi magnet kemana uang mengalir. Bagaimana dengan valuasi saat ini?

Secara valuasi, ternyata PE Ratio masih di antara harga mahal dan murah alias wajar. Dengan kondisi demikian, harusnya jika terjadi penurunan, tidak akan turun terlalu dalam, namun jika terjadi kenaikan, harga juga tidak akan naik terlalu tinggi karena dengan cepat akan overvalued. Berdasarkan kondisi tersebut, menurut saya dampak dari Fiscal Cliff AS tahun depan ini akan jauh lebih minim dibandingkan Debt Ceiling pada tahun sebelumnya. Kinerja Emiten yang akan dipublikasikan pada akhir dan awal tahun depan nanti menurut saya yang akan lebih dominan dalam mempengaruhi perkembangan bursa saham dan obligasi. Demikian sharing artikel kali ini, semoga bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Pendapat Tentang Makro Ekonomi Tags:
  1. November 4th, 2012 at 06:25 | #1

    Kami juga mempunyai artikel tentang akuntansi dana silahkan dibaca semoga brmanfaat dan berikut adalah link nya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2171/1/01-01-012.pdf terimakasih

  2. edi kustanto
    November 4th, 2012 at 09:00 | #2

    Kalau Mitt Romney yang menang, kondisi bisa berubah secara cukup signifikan. Tulisan yang bagus, pak Rudiyanto

  3. Rudiyanto
    November 5th, 2012 at 10:37 | #3

    @edi kustanto
    Yth Pak Edi,

    Secara personal saya bukan pendukung Mitt Romney ataupun Obama.
    Namun berdasarkan data historis, sepertinya pasar modal AS lebih bersahabat dengan calon presiden dari Demokrat dibandingkan calon presiden dari Republik. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/07/demokrat-atau-republik/

    Mari kita ikuti saja, seperti apa perkembangannya.

  4. daniR
    November 7th, 2012 at 20:11 | #4

    Pak.. selama fiat money masih menjadi panutan dan gold standard tidak akan pernah lagi di adopsi.. menurut saya tidak sulit bagi the Fed untuk terus membanjiri dengan cetak uang sebanyak banyaknya.. yang penting bubble economy tetap terus berjalan.. resiko inflasi besar seperti nya selalu di kesampingkan.. toh sejauh ini USD masih menjadi mata uang reserve dunia..

 


%d bloggers like this: