Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Pilih Mana, Reksa Dana Yang Harganya Tinggi atau Rendah?

Pilih Mana, Reksa Dana Yang Harganya Tinggi atau Rendah?

Akhir minggu lalu, Pekan Reksa Dana Nasional yang diselenggarakan oleh APRDI di Mal Central Park Jakarta resmi berakhir. Sebagai salah satu Manajer Investasi yang berpartisipasi di acara tersebut, saya melihat bahwa jalannya acara cukup sukses dimana bisa dilihat dari jumlah peserta yang hadir dan tentu saja investor yang mengisi formulir pembukaan rekening di tempat. Saya sempat datang dan jaga stand selama 2 hari (meskipun tidak seharian) serta sempat pula mengadakan Diskusi Reksa Dana yang dihadiri oleh para pengunjung dan nasabah. Dari hasil interaksi saya dengan nasabah, saya menyadari bahwa ternyata salah satu pertimbangan investor dalam membeli reksa dana adalah Harga reksa dana tersebut. Saya banyak ditanya, beli yang mana pak? yang harganya sudah puluhan ribu atau yang harganya masih ribuan?

Apakah benar bahwa harga reksa dana bisa dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam membeli reksa dana?

Bagi anda yang sudah membaca blog ini dari pertama kali, tentu sudah pernah membaca artikel tentang Reksa Dana Mahal dan Reksa Dana Murah. Namun entah tidak ngeh, atau memang belum sempat dibaca, saya selalu ditanya atau mendapat pernyataan bahwa investor cenderung lebih menyukai reksa dana yang harganya lebih murah dibandingkan yang harganya lebih mahal. Dimana definisi mahal itu ya harga atau sering dikenal dengan NAB/Up reksa dana. Jadi ketika diberikan suatu katalog yang berisi daftar reksa dana dari A -  Z, kebanyakan akan berfokus pada reksa dana dengan harga lebih rendah dibandingkan reksa dana dengan harga yang lebih mahal. Beberapa melihat award / penghargaan yang diterima, namun sangat sedikit yang melihat performancenya.

Apakah benar bahwa harga reksa dana mempengaruhi kinerja reksa dana? saya akan menjawab dengan ilustrasi sebagai berikut:

Studi Kasus Pertama

Pada 30 Desember 2009, harga Panin Dana Maksima adalah 24.281,59 sementara Panin Dana Prima adalah 1.424,21. Dengan logika dimana jika harganya lebih murah, maka potensi kenaikannya lebih banyak. Tentu investor akan lebih memilih Panin Dana Prima dibandingkan Panin Dana Maksima. Pertimbangan lain, karena harga yang lebih murah, maka unit penyertaan yang diperoleh juga lebih banyak. Sebagai contoh: Panin Dana Prima pada harga 1.424,21 dengan dana Rp 1 juta akan mendapat 702.14 unit. Sementara Panin Dana Maksima dengan harga 24.281,59 dengan dana Rp 1 juta baru dapat 41.18 unit. Namun investor lupa, jika dia menjualnya satu tahun kemudian maka yang ia peroleh adalah 702.14 unit x 2319.25 = Rp 1.628.438 pada Panin Dana Prima dan 41.18 x 49.072,06 = Rp 2.020.787 pada Panin Dana Maksima.

Investor mungkin lupa atau tidak tahu bahwa sebenarnya dia bisa menjualnya unitnya sebagian-sebagian dalam bentuk unit ataupun nominal. Sebagai contoh, jika pada Akhir Desember 2010, investor Panin Dana Maksima hanya membutuhkan uang sebesar Rp 1 juta. Maka, ia tinggal mengisi formulir redemption dengan instruksi penjualan Rp 1 juta. Selanjutnya unit akan berkurang sebesar Rp 1 juta / 49.072,06 = 20.38 unit. Sehingga unit tersisa adalah 41.18 – 20.38 = 20.8 unit. Yang jika dikalikan pada harga pasar akhir desember 2010 49.072,06 menjadi senilai Rp 1.020.699. Tidak seperti saham yang harus dijual dalam kelipatan lot, investor reksa dana bisa menjual reksa dana dalam nominal yang selanjutnya akan dihitung sesuai dengan jumlah unitnya.

Studi Kasus Kedua

Pada studi kasus ke dua yang terjadi adalah kebalikan dimana Panin Dana Maksima dengan NAB/Up permulaan yang lebih tinggi dibandingkan Panin Dana Prima, ternyata memiliki kenaikan harga yang lebih kecil. Berlawanan dengan studi kasus sebelumnya. Dari grafik di atas, terlihat bahwa Kenaikan Panin Dana Prima selama 1 tahun adalah 11.96%, sementara kenaikan Panin Dana Maksima cuma 8.95%, lebih rendah dibandingkan Panin Dana Prima.

Kedua studi kasus di atas menunjukkan bahwa “Harga Reksa Dana TIDAK bisa dijadikan sebagai acuan dalam memilih reksa dana”. Baik buruknya kinerja reksa dana ditentukan oleh strategi investasi yang dijalankan dan pergerakan harga saham dan obligasi yang menjadi underlying portofolionya. Dan hasil akhir dari strategi investasi adalah kinerja reksa dana dalam bentuk return / imbal hasil yang lebih baik dibandingkan dengan benchmark.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Bambang F
    October 23rd, 2012 at 14:40 | #1

    Menurut opini saya. reksadana yang baik adalah reksadana yang bisa kasih imbal hasil yang besar ( per tahun ya.. kurang lebih 40 s/d 50% ) begitu…

  2. October 24th, 2012 at 13:42 | #2

    @Bambang F
    kurang lebih saya setuju dengan anda pak..

  3. daniR
    October 24th, 2012 at 15:43 | #3

    Reksadana yang baik adalah reksadana yang pengasuh nya mempekerjakan fund manager yang handal dan bisa terus menerus mencetak alpha returns yg optimal untuk para investor

  4. daniR
    October 25th, 2012 at 08:05 | #4

    @Bambang F

    reksadana bergantung underlying asset nya pak..
    bilamana market tidak mendukung, sulit fund manager berperforma tinggi seperti 40 atau 50%..
    akan tetapi menurut sy sebuah reksadana yg baik adalah dimana paling tidak si fund manager bisa mencetak alpha returns yang positif per tahun nya..

  5. edi kustanto
    October 30th, 2012 at 06:29 | #5

    Sejak spin-off, pertumbuhan NAB Panin Dana Maksima tampak semakin tertinggal dari IHSG dan tidak kunjung membaik

  6. October 30th, 2012 at 18:16 | #6

    apakah manajer investasi yang bergelar CFA punya hubungan positif dengan kinerja reksadana?

  7. daniR
    October 31st, 2012 at 07:49 | #7

    @Investasi

    kalau menurut sy, Harus nya memang ada positif nya..

    akan tetapi, seorang fund manager yang dengan kredibilitas mumpuni pun sama aja seperti kita kita yang managing fund sendiri.. bisa salah posisi :)

    dalam artian sangat bisa salah posisi dalam penempatan asset reksadana.. yang membuat performa fund nya tertatih tatih sampai jangka waktu lama.. sampai nilai asset yg salah posisi tsb bisa kembali membaik..

    sy kebetulan pelajari / pantau, beberapa reksadana yg diasuh fund manager asing (Aberdeen/Fidelity/Franklin Templeton) sudah hampir 6 bulan ini, performa nya jelek dibandingkan fund manager lain yg investasi di sektor/market yg sama..
    padahal saya tau ketiga fund manager nya itu sangat kompeten, tapi ya kebetulan mereka lagi posisi jelek aja penempatan asset nya..

  8. karyadi
    November 4th, 2012 at 11:59 | #8

    pak rudi yth, saya mo nanya apakah dalam berinvestasi di reksadana kita harus buy n hold untuk jangka waktu lama atau kita harus evaluasi kinerja reksadana tsb, dimana saat reksadana tsb sdh tidak perform maka kita pindah ke reksadana jagoan?
    karena tujuan investasi kita kan untuk pertumbuhan nilai, sehingga kl dana kita mandek di suatu reksadana tentu tujuan investasi kita akan semakin sulit tercapai.

    apakah pak rudi pernah melakukan riset trhdp strategi investasi spt ini? mana lbh yg lbh menguntungkan?
    sebagai contoh taun lalu sy pegang PDMaksima krn kinerjanya sangat baik saat itu, tp taun ini saya pindah ke Sam indonesian equity fund krn kinerja PDM turun drastis dan kinerja Sam taun ini yg terbaik.
    demikian pula misalnya taun dpn Sam sudah tidak perform maka saya akan pindah lg ke reksadana yg top saat itu.
    kinerja msg2 RDS kan bisa dipantau di infovesta.com

    bagaimana pendapat pak Rudi?

  9. Rudiyanto
    November 5th, 2012 at 10:57 | #9

    @karyadi
    Salam Pak Karyadi,

    Pertanyaan yang menarik pak. Namun sebelumnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
    1. Reksa Dana Jagoan itu tidak melulu return, ada juga Risiko, Asset Under Management, Pertumbuhan Unit Penyertaan dan Fee.
    2. Jika anda mengikuti seminar yang pernah saya lakukan saat membahas reksa dana jagoan, selain faktor di atas, Ada juga faktor yang tidak bisa diukur secara kuantitatif yaitu “Trust”. Dan hal tersebut dibangun dari seberapa transparan Manajer Investasi / agen penjual menjelaskan strategi investasinya, pendekatan investasi yang dipergunakan, fasilitas pelayanan yang diberikan, kemudahan dan lain-lain.

    Adalah hak setiap investor untuk memindahkan reksa dana pilihan dia ke reksa dana yang lain apabila dia sudah merasa reksa dana tersebut tidak “Jagoan” lagi. Namun, yang perlu diluruskan adalah definisi reksa dana jagoan tersebut tidak hanya dari sisi return namun perlu diperhatikan faktor kuantitatif dan kualitatif lainnya. Tentu, ada yang berfokus lebih besar pada return, namun jangan sampai faktor lain dikesampingkan.

    Terkait strategi investasi anda, sebetulnya jauh sebelum ini, saya sudah pernah membuat suatu artikel dengan pembahasan kurang lebih, apakah reksa dana yang juara tahun ini akan kembali terulang di tahun berikutnya. Tapi saya cari2 kok ga nemu2. Nanti kalau sudah akan saya bahas.

    Akan tetapi, komentar saya, anda masuk ke Panin Dana Maksima setelah tahun sebelumnya reksa dana tersebut sangat baik. Anda tidak menikmati keuntungannya karena merasa bergabung dalam periode dimana menurut anda kinerja reksa dana tersebut kurang baik.

    Kemudian pola yang sama anda lakukan lagi dengan reksa dana Sam Indonesian Equity Fund, dimana anda baru berinvestasi, “Setelah” melihat reksa dana tersebut membukukan kinerja yang paling bagus. Pertanyaannya apakah pengalaman anda di reksa dana sebelumnya bisa terulang di reksa dana yang baru ini? Sebab bisa saja ada kemungkinan dimana, tahu2 tahun depan sudah ada reksa dana yang kinerjanya lebih top dan anda kembali pindah sebelum mendapatkan manfaatnya.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  10. Rudiyanto
    November 5th, 2012 at 11:02 | #10

    @daniR
    Salam Dani R,

    Sedikit menambahkan penelitian dengan perbandingan Manajer Investasi asing pernah dilakukan di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/07/06/nasional-vs-internasional-reksa-dana-mana-yang-lebih-jago/

    Memang datanya agak lama, tapi bisa anda lihat. Perbandingan antara MI di level internasional dengan rata-rata reksa dana indonesia jika berinvestasi di market yang sama. Semoga bermanfaat.

  11. karyadi
    November 6th, 2012 at 11:45 | #11

    yth pak rudi, menanggapi komentar sebelumnya jadi mnrt pndpt pak rudi sebaiknya bagaimana cara berinvestasi reksadana yang benar?

    apakah kl scara resiko, aum, trust, pertumbuhan unit penyertaan sudah sgt baik spt RD Panin dana maksima artinya kita harus cinta mati dgn reksadana tsb?

    Tidak bisa dipungkiri bahwa RETURN/Kinerja adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam memilih reksadana. saya yakin skali Panin bisa punya dana kelolaan sebesar saat ini tidak lepas dari kinerja masa lalunya yang sangat cemerlang.

    saya hanya ingin dana saya bertumbuh dari taun ke taun. menurut pendapat saya paling tidak kl saya pindah ke reksadana top saat ini kinerja mereka tidak akan mengecewakan.

    sebagai tambahan RDS yg baru sy masuk, fee in, fee out dan switchingnya adalah 0%
    hal itu pula yg bikin saya tertarik, sy ikut pekan reksadana nasional yg kmrn itu diadakan di central park.

    oh ya kalau boleh tau ada tidak RDS laen yg fee in, out, dan switchingnya 0% juga, mohon informasinya pak. krn saya cari2 di internet susah skali nemunya.

    mohon jawabannya ya pak, terima kasih skali sebelumnya.

  12. Rudiyanto
    November 6th, 2012 at 13:42 | #12

    @karyadi
    Yth Pak Karyadi,

    Sepertinya anda tidak membaca dengan jelas definisi saya tentang reksa dana jagoan. Bahwa reksa dana jagoan itu tidak hanya return, namun juga risiko, AUM, Pertumbuhan Unit Penyertaan dan Fee. Jadi bukan berarti reksa dana jagoan tidak melihat atau mengesampingkan return namun reksa dana jagoan memperhatikan beberapa faktor sekaligus. Bukan hanya return saja.

    Jika belum berubah, maka komposisi reksa dana jagoan yang dibuat oleh infovesta adalah:
    1. Risk and Return 60%
    2. Asset Under Management 15%
    3. Pertumbuhan Unit Penyertaan 15%
    4. Faktor Fee 10%

    Apakah investor harus cinta mati dengan dengan faktor 2,3, dan 4 atau hanya satu saja itu terserah kepada masing-masing investor. Saya hanya ingin meluruskan bahwa reksa dana jagoan adalah reksa dana dengan 4 kriteria di atas, tidak hanya satu atau dua saja.

    Reksa Dana Jagoan diukur dari faktor yang sifatnya kuantitatif (ada angkanya dan bisa diukur dan diperbandingkan). Di luar itu, ada juga faktor kualitatif (yang tidak bisa diukur) seperti pelayanan, transparansi, strategi dan pendekatan investasi.

    Semenjak bekerja di Manajer Investasi, wawasan saya semakin terbuka. Terutama ketika saya mengalami fit and proper test yang dilakukan oleh institusi besar dari dalam dan Luar Negeri dengan aset triliunan. Ternyata faktor Kualitatif ini juga mendapat perhatian yang cukup besar. Sebab bagi mereka tidak cukup jika kinerja bagus, namun bagaimana uang mereka dikelola itu harus diketahui dengan jelas.

    Apakah saya sepakat dengan cara mereka? tidak 100%. Namun apakah cara mereka salah ? Tidak juga. Hanya perbedaan style dan pendekatan investasi. Tidak ada garansi cara mereka atau cara saya yang lebih baik. Namun yang pasti, masing-masing nyaman dengan pendekatan yang dipergunakan.

    Demikian juga jika anda bertanya bagaimana cara investasi yang benar? Sepanjang ada tujuan, tidak menggunakan hutang, dan didasari dengan data dan fakta pendukung yang jelas, maka tidak ada istilah benar salah.

    Apakah anda mau fokus di return saja atau faktor2 lainnya, mau pindah2 reksa dana saat kinerjanya sedang top, dan berasumsi akan tetap top ke depannya, atau pilih yang tidak ada fee silakan saja. Sepanjang anda nyaman dengan cara tersebut tidak ada istilah benar salah.

    Mengenai fee, kebetulan saya tidak cinta mati dengan reksa dana yang feenya 0%. Jadi saya kurang begitu tahu reksa dana mana saja yang kriterianya demikian. Mungkin anda bisa bertanya ke Manajer Investasi tempat anda beli reksa dana sekarang. Siapa tahu, produknya yang lain juga fee 0%.

    Tapi yang saya tahu pasti, semua reksa dana pasar uang fee in, out dan switchingnya 0%. Namun tidak semua reksa dana pasar uang bisa memberikan fasilitas switching.

    Semoga menjawab pertanyaan anda terima kasih.

  13. surip
    November 12th, 2012 at 13:57 | #13

    saya mahasiswa, bolehkah saya belajar dengan anda?

  14. Rudiyanto
    November 14th, 2012 at 16:51 | #14

    @surip
    Silakan Surip. Baca2 dari blog ini saja.

  15. Hermawan
    November 26th, 2012 at 11:33 | #15

    Selamat siang Pak Rudi,

    Pak, menurut artikel diatas:
    Harga Panin Dana Maksima (pada 30 Desember 2009) adalah 24.281,59 kemudian menjadi 49.072,06. Berarti selisih kenaikannya = 24.790,47
    Sementara Panin Dana Prima adalah dari 1.424,21 kemudian menjadi 2.319,25. Berarti selisih kenaikannya = 895,04.
    Dengan melihat selisih kenaikan saja, tanpa harus mengkalkulasi kembali dengan jumlah UP-pun, logika saya mengatakan: jelaslah bahwa imbal-hasil yang lebih tinggi akan berpihak pada Panin Dana Maksima.

    1. Yang saya tanyakan, Pak. Bagaimana imbal-hasilnya jika selisih kenaikan dari kedua RD diatas sama, misalnya selisih kenaikan sama-sama 1.000?

    2. Pak, saya beberapa kali membandingan antara dua RDS, misalnya “RDS A” dengan kenaikan harga NAB/UP lebih cepat bila dibandingkan, misalnya dengan “RDS B”. Tapi pertumbuhan return “RDS A” lebih kecil bila dibandingkan “RDS B” tersebut. Yang saya tanyakan,
    a) Sebenarnya, apa yang mempengaruhi cepat-lambatnya kenaikan harga NAB/UP dari kedua RDS tsb.?
    b) Antara kedua RDS di atas, RDS mana yang lebih baik untuk dipilih (lebih menguntungkan) bagi investor?

    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih.

  16. Rudiyanto
    November 26th, 2012 at 12:16 | #16

    @Hermawan
    Salam Pak Hermawan,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Kalau sama2 naik 1000, secara persentase kenaikan Panin Dana Prima lebih tinggi dari Panin Dana Maksima. Karena Rp 1000 dari 25000 cuma sekitar 4%, sementara Rp 1000 dari 1500 berarti 65%an.

    2. Silakan baca lebih lanjut pada link http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/11/09/back-to-basic-memahami-mekanisme-naik-turunnya-harga-reksa-dana/
    Pemilihan reksa dana, kalau cuma dilihat dari sisi return saja tanpa memperhatikan faktor lainnya, tentu lebih logis kalau memilih reksa dana yang returnnya lebih tinggi. Namun, penilaian tersebut bisa berubah, bisa juga sama apabila kita memperhatikan faktor lainnya seperti risiko, dana kelolaan, transparansi strategi, fasilitas dan faktor2 lainnya terkait “kepercayaan” kita dengan suatu instrumen investasi / perusahaan.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  17. cahyaning
    November 28th, 2012 at 16:37 | #17

    Dear Pak Rudiyanto,:)

    saya seorang mahasiswi semester 5 pak,. rencananya mau mengangkat judul tentang pemasaran reksadana,. yaitu pengaruh IHSG terhadap pemasaran reksadana. nah dikampus chya ini, skripsinya harus berisikan 15 jurnal internasional dan 10 jurnal nasional.
    kalau tidak keberatan cahya mau belajar dengan bapak. dan mohon bimbingannya:)

    bapak pasti banyak punya referensi jurnal2 ataupun artikel terbaru yg berkaitan dengan judul saya diatas pak,mohon infonya:)

    trims

  18. Rudiyanto
    November 28th, 2012 at 18:00 | #18

    @cahyaning
    Salam Cahyaning,

    Seingat saya, saya belum pernah membaca jurnal dengan topik seperti yang kamu kemukakan. Kamu bisa coba cari via google dulu. Semoga sukses.

  19. karyadi
    December 19th, 2012 at 13:21 | #19

    pak rudi, apakah manajer investasi bnr2 transparan dlm mengumumkan kinerja nab nya, misalnya dalam 1 hari kinerjanya +0.5% , bisa saja mrk mempublikasikan ke publik hnya +0.2% , sisanya dimakan sndri. lagipula di saham ada deviden yg dibagikan stiap tahun ke pemegang saham yg jumlahnya lmyn. sedangkan investor reksadana walaupun lebih dr setaun ttp ga dpt deviden kan?
    dari sini sudah keliatan kl manajer investasi bisa untung byk.

    bagaimana caranya kita sebagai investor bisa tau kl manajer investasi itu transparan atau tidak?
    kita kan cm bisa percaya thd fund fact sheet hasil publikasi mereka, smentara kenyataannya di lapangan blm tentu spt itu.
    apakah bapepam mengawasi hal2 tsb?
    apakah mgkn manajer investasi menginvestasikan dana investor ke sektor lain diluar saham, pasar uang, obligasi? misalnya di sektor riil, arisan berantai atau bahkan sistem ponzi?

    mohon penjelasannya
    terima kasih

  20. Rudiyanto
    December 19th, 2012 at 15:27 | #20

    @karyadi
    Salam Karyadi,

    Pemikiran anda itu tidak salah. Pihak regulator dan pihak yang menemukan reksa dana pertama kali juga berpikir demikian, oleh karena itu munculah yang namanya Bank Kustodian. Beberapa tugas bank kustodian antara lain:
    1. Menghitung harga NAB/Up reksa dana berdasarkan nilai pasar wajar yang di atur dalam BAPEPAM-LK. Artinya jika harganya Rp 1000, tapi MI mengakunya Rp 1200. Maka Bank Kustodian akan menggunakan harga Rp 1000 sebagai acuan.

    2. Jumlah dividen yang dibagikan ke pemegang saham, secara persentase tidak lumayan pak. Karena jika dibagi dengan harga sehari sebelum dividen tersebut dibagikan, biasanya masih jauh di bawah deposito. Dividen tersebut baru lumayan kalau anda belinya 5 atau 10 tahun yang lalu dimana harganya masih jauh lebih kecil di bawah harga sekarang. Dan hal ini juga di atur dalam Prospektus dimana ada ketentuan hasil investasi berupa dividen direinvestasikan kembali ke dalam reksa dana. Artinya jika ada dividen, dimasukkan kembali menambah NAB reksa dana. Tugas Bank Kustodian salah satunya adalah mengawasi agar hal tersebut dilakukan. Jadi harga reksa dana sekarang sudah mencerminkan keuntungan dividen yang diperolehnya. Dan sebagai investor reksa dana, sebelum resmi memulai, harus menandatangani statement yang menyatakan sudah membaca dan memahami prospektus.

    3. Merupakan tugas Bank Kustodian juga untuk memastikan Manajer Investasi hanya berinvestasi sesuai dengan koridor yang di atur dalam prospektus atau kontrak investasi kolektif. Jadi ketika ada Manajer Investasi menginvestasikan ke investasi abal2 yang anda sebutkan di atas, maka Bank Kustodian berhak menolak mengeluarkan uang. Ibarat dalam rumah tangga, Manajer Investasi adalah bapak yang menginstruksikan pembelian barang, Bank Kustodian adalah Ibu yang membayarkan pembelian barang tersebut. Kalau bapaknya mau beli barang aneh2 si Ibu tinggal tidak usah membayar saja. Kalau bapaknya sudah melanggar aturan, si Ibu tinggal lapor ke Mertua (BAPEPAM-LK). Kurang lebih cara kerjanya seperti itu pak.

    4. Mengenai transparansi, masing-masing Manajer Investasi tentu berusaha sekeras mungkin untuk memberikan hasil dan service terbaik kepada nasabah. Dan berhubung reksa dana adalah bisnis kepercayaan, maka kepercayaan itu merupakan modal utama dalam melakukan investasi. Tidak ada kepercayaan, tidak ada bisnis. Semua hal yang diatur dalam peraturan BAPEPAM-LK mengupayakan agar ada perlindungan dan keamanan bagi investor. Namun kepercayaan tetap merupakan hal yang paling penting.

    Jadi kesimpulannya, jika anda tidak percaya tidak usah dipaksakan. Memang investasi di reksa dana ini tidak untuk semua orang. Lebih baik jika dana yang ada ditempatkan di tempat yang paling nyaman menurut anda.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

Comment pages
1 2 3 2057

 


%d bloggers like this: