Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Hubungan Antara Jangka Waktu Investasi dan Pilihan Jenis Reksa Dana

Hubungan Antara Jangka Waktu Investasi dan Pilihan Jenis Reksa Dana

Apa kabar para pembaca yang terhormat. Tidak terasa sebentar lagi sudah mau liburan panjang. Saya ingin mengucapkan selamat hari raya Lebaran bagi umat yang merayakan. Semoga anda semua diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tidak lupa, Selamat Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus nanti. Semoga bangsa kita semakin maju, pemerintah semakin berlaku lurus dan rakyat semakin berbudi pekerti.

Sumber : http://malangkota.go.id

Dalam tulisan kali ini saya akan membahas hubungan antara lamanya jangka waktu investasi dengan jenis pilihan reksa dana. Seringkali ada hukum tidak tertulis yang mensarankan kepada investor agar berinvestasi pada reksa dana pendapatan tetap jika jangka waktu investasi pendek, reksa dana campuran jika jangka waktunya menengah dan reksa dana saham jika jangka waktunya panjang. Adapun yang dimaksud Pendek adalah 1 tahun, menengah 3 tahun dan jangka panjang 5 tahun. Apakah teori tersebut benar? Sebab pada kenyataannya, saya banyak sekali menemukan contoh dimana ternyata reksa dana yang diminati investor baik jangka panjang maupun jangka pendek ternyata sama yaitu saham. Pilihan reksa dana lainnya kurang diminati. Untuk membuktikan teori di atas, saya melakukan suatu riset kecil dengan menggunakan metode yang sama persis seperti yang saya pergunakan dalam artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/02/apakah-investasi-saham-jangka-panjang-pasti-menguntungkan/ Selamat membaca..

Perbedaan utama dengan riset sebelumnya adalah Data yang saya pergunakan. Pada riset kali ini menggunakan data Indeks Reksa Dana dari 2 Januari 2001 – 14 Agustus 2012 yang bersumber dari www.infovesta.com. Indeks reksa dana yang saya gunakan yaitu Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap, Indeks Reksa Dana Campuran dan Indeks Reksa Dana Saham. Sementara pada riset sebelumnya menggunakan data yang bersumber dari 1984 pada IHSG saja.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tingkat return dan probabilitas untuk masing-masing jenis reksa dana adalah sebagai berikut:

sumber: www.infovesta.com, diolah

Return Disetahunkan adalah tingkat return yang memperhitungkan faktor bunga berbunga. Dengan kata lain, sebagai contoh return 488.92% (Tertinggi di Reksa Dana Saham 5 tahun) adalah sama dengan jika anda mendapatkan return 42.56% dan bunga berbunga selama 5 tahun. Angka return disetahunkan umumnya digunakan sebagai acuan dalam melakukan prediksi return reksa dana pada masa yang akan datang.

Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap

Diurutkan dari 1 , 3 dan 5 tahun. Probabilitas (kemungkinan) bagi investor reksa dana pendapatan tetap untuk mengalami kerugian adalah berturut-turut 6.38%, 0.00% dan 0.00%. Angka 6.38% berarti meski kecil, investor yang masuk ke reksa dana pendapatan tetap dengan jangka waktu investasi selama 1 tahun, masih bisa mengalami kerugian. Dimana tingkat kerugian maksimal yang pernah dialami bisa dibaca pada tabel terendah yaitu -9.34%. Namun dalam 3 tahun dan 5 tahun, peluang untuk mengalami kerugian menjadi 0 sama sekali. Dibandingkan dengan kemungkinan kerugian menggunakan data 1 tahun pada reksa dana campuran dan saham yang mencapai 17.69% dan 24.08%.

Indeks Reksa Dana Campuran

Tingkat ProbabilitasĀ  Loss untuk data 3 tahun terakhir di Reksa Dana Campuran secara mengejutkan menunjukkan angka 0%. Hal ini berarti bagi investor yang ingin berinvestasi dengan horison 3 tahun, tidak mau mengalami kerugian dan berharap mendapatkan tingkat return diatas reksa dana pendapatan tetap, Reksa Dana Campuran adalah pilihan yang tepat.

Indeks Reksa Dana Saham

Berdasarkan data dari 2001 – Agustus 2012, secara mengejutkan ternyata kemungkinan untuk mengalami kerugian untuk investasi selama 5 tahun adalah 0%. Berarti memang jika investor tidak mau mengalami kerugian dan memiliki jangka waktu investasi selama 5 tahun, maka reksa dana saham adalah pilihan yang tepat. Meski jenis reksa dana pendapatan tetap dan campuran juga memiliki kemungkinan 0%, akan tetapi tingkat return reksa dana saham masih lebih baik dibandingkan 2 jenis reksa dana lainnya.

Kajian dari sisi Tingkat Return

Jika kita melihat range antara return tertinggi dan return terendah reksa dana pada setiap jangka waktu, and bisa melihat angka bahwa semakin agresif karakter suatu reksa dana, maka semakin besar pula selisihnya. Sebagai contoh, pada data 3 tahun, range pendapatan tetap adalah berkisar dari 17% ke 60%, campuran dari 4.88% ke 115%, sementara saham dari -10.54% ke 218.21%. Angka negatif dan tingkat return yang kecil pada reksa dana saham dan campuran menunjukkan bahwa periode 3 tahun tidak menjadikan jenis reksa dana ini bisa memberikan keuntungan yang memuaskan bagi investor. Sebab bisa saja anda beruntung mendapatkan tingkat return yang paling tinggi, namun bisa juga anda ternyata tidak beruntung dan mendapatkan tingkat return yang paling rendah. Data return 1 tahun terakhir tampaknya sulit untuk dijadikan acuan karena memiliki range yang sangat besar. Selain potensi kerugian yang dialami investor juga cukup besar. Namun jika menggunakan data 3 dan 5 tahun, tampaknya asumsi tingkat return dengan menggunakan data median tersebut lebih praktis dan applicable.

Berdasarkan kajian dari sisi risiko dan return di atas, maka anggapan bahwa pilihan reksa dana pendapatan tetap untuk 1 tahun, reksa dana campuran untuk 3 tahun dan reksa dana saham investasi lebih dari 5 tahun adalah benar adanya. Namun perlu saya tambahkan bahwa, sesuai belum tentu berarti tidak akan rugi atau bisa mencapai hasil yang maksimal. Sebab dengan range return yang sangat besar dan investor memiliki target jelas yang harus dicapai dalam waktu yang terbatas. Untuk meningkatkan peluang mencapai tujuan keuangan, investor bisa melakukan strategi Rupiah Cost Averaging, atau alternatifnya memantau investasi secara berkala dan melakukan pembenahan dalam portofolio investasi dengan terus mengikuti situasi dan kondisi yang ada.

Demikian artikel ini saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Bambang F
    August 18th, 2012 at 20:04 | #1

    Pak Rudiyanto, kalau investasi di reksadana unit link ( top up berkala/ top up tunggal ) untuk jangka panjang kurang lebih kebutuhan finansial 5 tahun y.a.d sama aja khan dengan reksadana campuran atau reksadana saham? ( Rupiah cost averaging ). Thanks.

  2. Rudiyanto
    August 19th, 2012 at 13:57 | #2

    salam pak bambang, bisakah lebih diperjelas lagi, apa yang dimaksud dengan reksadana unitlink dgn top up berkala dan tunggal tersebut? Sepengetahuan saya istilah tersebut tidak ada dalam artikel yang bersangkutan. Terima kasih

  3. Bambang F
    August 20th, 2012 at 10:15 | #3

    Pak Rudi, maksud saya di bulan September 2010 saya menjadi nasabah Allianz life produk asuransi jiwa unit link di mana pembayaran premi berkala dan top up berkala atau top tunggal alokasi dana di investasikan sebagian ( premi berkala tapi top up berkala atau top up tunggal 100% diinvestasikan ) ke fund Allianz.. sedemikian hingga saya menabung untuk investasi di kemudian hari. Sama saja khan pak.. investasi di reksadana murni dengan investasi di reksadana unit link? Thanks.

  4. Rudiyanto
    August 20th, 2012 at 14:46 | #4

    @Bambang F
    Salam Pak Bambang,

    Bisa Diperjelas lagi:
    ” pembayaran premi berkala dan top up berkala atau top tunggal”
    Jadi sebetulnya pembayaran preminya berkala atau tunggal??

    “alokasi dana di investasikan sebagian ( premi berkala tapi top up berkala atau top up tunggal 100% diinvestasikan ) ke fund Allianz”
    Alokasi dana diinvestasikan sebagian ke fund allianz, sementara dalam kurung ada tulisan 100% diinvestasikan, jadi yang diinvestasikan itu sebagian atau seluruhnya??
    Apa perbedaan antara premi dan top up ??

    Mohon bisa diperjelas terima kasih.

  5. Bambang F
    August 21st, 2012 at 11:02 | #5

    Premi berkala adalah premi yang dibayar setiap bulanan atau kwartalan atau semester atau tahunan dan wajib dibayar supaya polis asuransi tidak lappse ( batal ) sementara top up tunggal adalah premi yang boleh dibayar sewaktu-waktu apabila nasabah ada uang lebih untuk ditabung ke asuransi & top up berkala adalah premi yang dibayar bersamaan dengan premi berkala apabila ada di proposal sebelum proposal disetujui oleh pihak perusahaan asuransi. Saya maksudkan diinvestasikan sebagian semisal di tahun pertama polis berjalan hanya 25% total premi berkala yang telah dibayar diinvestasikan ke fund Allianz sementara sisanya ( 75% )hangus untuk bayar biaya2 asuransi ( proteksi, katanya agent ) sementara di th ke 2 60% ke fund asuransi sisanya ( 40% ) hangus untuk bayar biaya2 insurence..berangsur2 membesar untuk alokasi investasi untuk ke unit2 link dari tahun 1 s/d 5 barulah di th ke 6 ( 105% ) dialokasikan untuk investasi, sedangkan untuk premi top up berkala maupun top tunggal dialokasikan ke investasi unit link adalah 100%( mulai Di th pertama dstnya ). Itulah yang saya ketahui menurut informasi agent insurence. pak Rudi..pertanyaan saya sama aja khan investasi di reksadana murni maupun investasi di reksadana unit link? Thanks.

  6. Rudiyanto
    August 21st, 2012 at 13:49 | #6

    @Bambang F
    Ok, supaya lebih jelas. (Mohon maaf, kalau memang butuh pendapat saya, maka saya harus memiliki data yang sangat jelas). Untuk itu saya mohon diklarifikasi:
    1. Apakah benar Bahwa ada 3 tipe Pembayaran:
    A. Premi Berkala : Untuk Asuransi dan Investasi dimana, porsi untuk investasi sesuai dengan perjanjian dengan pihak asuransinya. (25%, 40%…. hingga 105% secara berangsur2 setiap tahun). Pembayaran dilakukan secara berkala setiap periode sesuai perjanjian dengan pihak asuransi.
    B. Premi Top Up Berkala: Untuk Investasi Murni, dimana 100% sudah dialokasikan dari tahun pertama untuk investasi seluruhnya. Pembayaran dilakukan secara berkala bersama dengan Premi Berkala sesuai point 1A di atas.
    C. Premi Top Up Tunggal : Untuk Investasi Murni, dimana 100% sudah dialokasikan untuk investasi. Perbedaan dengan point 1B adalah pembayaran dilakukan secara sukarela tergantung kapan nasabah punya dana.

    2. Terkait Poin 1, saya ingin pak Bambang mengklarifikasi berdasarkan polis yang anda ambil, sepakati dan tanda tangani (bukan dari omongan agent) yaitu:
    A. Apakah point 1 B dan C tidak ada potongan biaya lagi?
    B. Manakah yang sudah atau pernah anda ambil, 1A, B atau C ?
    C. Terkait pertanyaan anda yaitu membandingkan investasi reksa dana murni dengan produk yang anda ambil tersebut, itu sebetulnya kamu ingin membandingkan reksa dana murni dengan produk 1A, B atau C ? karena saya memiliki kesimpulan yang berbeda.

    Dimohon klarifikasinya terima kasih.

  7. Bambang F
    August 21st, 2012 at 21:33 | #7

    Pak Rudi, Premi top up berkala dan premi top up tunggal tidak ada biaya pemotongan tapi harga beli dan harga jual ada rentang harga 5% contoh soal saya ambil Smartlink Balanced Plus Fund pada tanggal 14 Agustus 2012 harga beli 1472/unit dan harga jual 1550/unit..dari rentang harga inilah saya kalau mau untung harus tunggu waktu entah 3 bulan, 6 bulan atua sethun atau lebih untuk withdrawall ( istilah di reksadana murni redemption sebagian ) itupun akan dipotong 20% dari profit ( mudahnya bunga ) aturan dari Bapepam LK..terus terang pak.. saya galau apalagi setealah saya membaca buka Freddy Pieloor \ Jangan Beli Unit Link Bila Tidak Paham Benar \. Menurut pak Freddy sebaiknya beli produk asuransi murni dan reksadana murni. satu sisi buat proteksi satu sisi yg lain buat investasi supaya return lebih besar dari pada asuransi unit link serta proteksi asuransi bisa maksimal ( misal asuransi term life ), beliau bilang memang agak repot nasabah harus mendatangi 2 perusahaan yang berbeda yaitu asuransi dan perusahaan yg menjual poduk reksadana murni, tapi gimana ya pak.. saya sudah terlanjur..ya saya terusin aja dari pada tutup polis dan rugi?

  8. Rudiyanto
    August 22nd, 2012 at 13:02 | #8

    @Bambang F
    Yth Pak Bambang,

    Jadi anda setuju dengan pernyataan saya no 1 ??
    Untuk No 2,
    2. A. Tidak ada biaya namun ada selisih harga beli dan jual yang mencapai 5%. Hal ini memang umum pada unit link yang memiliki 2 harga. Hal ini secara tidak langsung menjadi semacam keuntungan bagi Perusahaan asuransi.

    2.B. Kala dari statement anda berarti yang anda ambil adalah 1.A dan 1.B ?
    Yang 20% itu bukan bunga, akan tetapi pajak atas keuntungan. Untuk lebih lengkapnya, bisa di baca pada halaman ini http://avivdeny.blogspot.com/2012/01/pajak-pada-unit-link-asuransi-investasi.html, dijelaskan dengan teramat baik oleh penulis blog bersangkutan.

    Kalau dari pertanyaan kamu tentang apakah sama antara mengambil reksa dana murni dengan unit link dimana yang kamu ambil adalah 1A dan 1B, maka tentu berbeda. Sebab Reksa Dana Murni tidak memberikan manfaat proteksi asuransi.

    Kalau pertanyaan kamu adalah diteruskan atau tidak, pertanyaan saya:
    1. Apakah kamu sudah berhasil menemukan agen atau perusahaan asuransi yang menjual produk asuransi murni? Jika tidak, bagaimana perencanaan kamu terhadap proteksi keluarga karena polis asuransi kamu yang sebelumnya kamu tutup?
    2. Jika sudah apakah kamu sudah mempelajari skema produk tersebut?
    3. Apakah kamu siap membeli asuransi yang dimana seluruh yang kamu setorkan hangus jika kamu sehat walafiat selama masa pertanggungannya?
    4. Untuk poin 3, apakah uang yang hangus tersebut kamu anggap sebagai kerugian atau premi yang memang harus kamu bayar?

    Demikian saran dari saya, semoga membantu

  9. kurniawan
    August 22nd, 2012 at 17:56 | #9

    Pak Rudy

    Apakah yg disebut kan di atas bahwa resiko rugi RDS untuk 5 tahun adalah 0% itu jika investasi secara rutin tiap bulan / DCA ato lumpsum 1 kali saja selama 5 tahun ???

  10. Bambang F
    August 22nd, 2012 at 23:06 | #10

    Saya hampir2 mau tutup polis ( 6 bulan saya enggak mau bayar premi asuransi ) lebih2 setealah saya tanyakan kapan BEPnya? dan jawaban dari Allianz Jakarta ( layanan nasabah ) asumsi imbal hasil 10% kurang lebih 10 tahun ( bila cuma bayar premi berkala ) kemudian bulan kemarin sudah saya lunasi premi berkalanya ( status polis sekarang inforce ) & menjelang ulang tahun polis saya di bulan September 2012 saya mengajukan proposal dengan pembayaran ganda yaitu premi berkala dan top up berkala supaya cepat BEPnya ( semoga di tahun ke 6 atau ke 7 ). Saya hampir tutup polis setelah saya membaca buku pak Freddy beliau menulis apabila umur polis belum mencapai 3 tahun ada baiknya ditutup saja, dan membeli polis asuransi murni & reksadana murni. Tapi keputusan itu saya urungkan dan saya lanjutkan kembali asuransi unit link yang telah saya beli bulan September 2010 dengan masa kontrak 15 tahun.

  11. Rudiyanto
    August 23rd, 2012 at 08:22 | #11

    @Bambang F
    Pak Bambang, boleh tahu asumsi BEP anda itu adalah uang hasil investasi anda sama dengan total uang yang anda keluarkan (termasuk didalamnya premi asuransi) atau hanya porsi untuk investasi saja?

  12. Rudiyanto
    August 23rd, 2012 at 08:23 | #12

    @kurniawan
    Salam Kurniawan,

    Perhitungan di atas menggunakan asumsi Lump Sum. Jadi 1 kali selama 5 tahun, kalau untuk DCA, mungkin di artikel yang akan datang.

    Semoga bermanfaat, terima kasih.

  13. Bambang F
    August 23rd, 2012 at 21:20 | #13

    Asumsi return 10%/tahun BEPnya di tahun ke 10 include pembayaran premi berkala saja bila asumsi return 17%/tahun BEPnya di tahun ke 6 atau 7 ( premi berkala saja )..nasabah dianjurkan memperhatikan asumsi return 10%/tahun supaya tidak kecewa di kemudian hari & Allianz always says “protected until 100 years old”. Apa iya..ya Allianz masih survive 20 atau 30 tahun y.a.d ??? melihat kondisi makro ekonomi dunia makin ke tahun makin sering atau kerap kali guncangan2 ekonomi.

  14. Rudiyanto
    August 24th, 2012 at 09:03 | #14

    @Bambang F
    Yth Pak Bambang,

    Kalau asumsi BEP anda menggunakan semua uang yang anda bayarkan (dimana didalamnya terdapat asuransi dan investasi) menurut saya kurang tepat. Sebab prinsip dari asuransi menurut saya harus menggunakan analogi asuransi mobil. Jika tidak ada “Kejadian” yang menimpa mobil yang diasuransikan tersebut, maka uang tersebut hangus, atau “diakuisisi sepenuhnya” oleh perusahaan asuransi. Hal yang sama juga berlaku untuk asuransi jiwa dan kesehatan. Jadi dengan ekspektasi BEP untuk premi asuransi bisa balik, sebetulnya itu bukan BEP akan tetapi sudah untung. BEP harusnya dari porsi dana yang diinvestasikan saja.

    Terkait kelangsungan usaha, menurut saya, hal yang sama juga bisa ditanyakan ke semua perusahaan asuransi dan Manajer Investasi di seluruh Indonesia. Tidak ada jaminan juga perusahaan tersebut akan survive dalam waktu yang kamu sebutkan di atas. Sebab yang namanya guncangan makro ekonomi itu dikategorikan sebagai risiko sistematis. Yang dimaksud dengan risiko sistematis secara sederhana adalah risiko yang tidak bisa diantisipasi dan menimpa ke semua orang. Jadi jika satu perusahaan terkena risiko tersebut, maka perusahaan lain juga kena. Tinggal seberapa baik perusahaan yang bersangkutan mengantisipasinya.

    Demikian masukan saya, smoga bermanfaat.

  15. Jonathan
    September 6th, 2012 at 09:19 | #15

    Terima kasih untuk artikelnya Pak Rudi, analisa dan datanya sangat memberikan pencerahan bagi saya yang memang masih bingung mau mendapatkan return optimum dengan risk-factor moderate dan jangka panjang (>5 tahun).

    Selama ini saya sdh invest di Reksadana Saham di salah satu Perusahaan Manajer Investasi (boleh saya sebut nama? Manulife) dgn cara rupiah-cost-averaging. Untuk tujuan investasi yg saya sebutkan di atas, saya ingin invest lagi di Reksadana Tetap, rencana di perusahaan yang sama (segi kepraktisan). Pertanyaan saya, apakah dianjurkan bila saya membuka dua produk reksadana di perusahaan yg sama? Apakah tidak sebaiknya di dua perusahaan berbeda, dgn karakter MI berbeda, dan untuk meminimalkan resiko investasi, kolaps, bangkrut, dll? Trims.

  16. Rudiyanto
    September 6th, 2012 at 19:47 | #16

    @Jonathan
    Yth Jonathan,

    Semoga data dan tulisan di blog ini bisa bermanfaat juga bagi investor lainnya.

    Untuk penyebutan nama produk tidak ada masalah pak. Mengenai pertanyaan anda mengenai membuka reksa dana di Manajer Investasi berbeda dalam konteks meminimumkan risiko investasi (fluktuasi harga) hal tersebut kurang relavan karena untuk meminimumkan risiko fluktuasi harga maka kita harus membeli produk yang karakteristiknya berbeda. Dalam hal ini seperti cara pikir kamu yaitu Saham dan Pendapatan Tetap itu tidak salah. Namun hal ini tidak ada kaitanya dengan perusahaan. Jika anda membeli produk di 2 perusahaan, namun sama-sama saham, anda akan mendapat produk yang risiko investasinya sama besar.

    Dalam konteks meminimumkan Risiko Kolaps atau Bangkrut, itu lebih tidak relevan lagi, karena jika Manajer Investasi bangkrut, maka harta dan seluruh kekayaan yang ada dalam reksa dana bukan merupakan aset Manajer Investasi. Sehingga tidak bisa digunakan untuk membayar kewajiban kepada kreditur perusahaan tersebut. Dalam hal Manajer Investasi ingin menutup usahanya, maka MI harus mengalihkan reksa dana tersebut kepada reksa dana lain. Jadi Manajer Investasi bangkrut, kekayaan reksa dana tetap aman. anda juga bisa membaca pada halaman ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/03/22/bank-kustodian-dan-bank-agen-penjual-reksa-dana/

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  17. teguhP
    November 22nd, 2012 at 20:16 | #17

    Dear Pak Rudiyanto
    Tulisan yg bagus pak. Sayang karena kesibukan saya terlambat membacanya.
    saya mau memastikan saja. Mengenai kesimpulan tulisan ini.
    Apakah bapak sudah membuat tulisan mengenai manakah yg lebih baik untuk investor RDS yang memiliki horizon investasi 5 thn, strategi ‘one shoot’ atau ‘rupiah cost averaging’?
    Saya sudah buka2 tulisan di blog bapak belum ketemu nih.
    Terima kasih pak atas

  18. Rudiyanto
    November 23rd, 2012 at 14:30 | #18

    @teguhP
    Salam Teguh,

    Anda bisa mencari2 di bagian http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/strategi-investasi/ dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perencanaan-investasi/

    Sebetulnya One Shoot atau Rupiah Cost Averaging itu tidak bisa dibandingkan bagus tidaknya karena digunakan untuk investor dengan profil yang berbeda. Jika anda adalah karyawan dengan pendapatan bulanan maka one shoot hampir tidak mungkin dilakukan karena ada dana segar setiap bulannya. Sementara jika anda adalah investor dengan dana tersedia cukup besar di awal, terkadang investasi secara berkala menjadi pilihan. Meski mereka tidak melakukan Cost Averaging secara disiplin, namun umumnya dana yang ada dimasukkan dalam beberapa kali kesempatan berdasarkan kondisi pasar. Ada pula yang memang sengaja dimasukkan beberapa kali.

    Secara matematis, dalam jangka panjang dan kondisi dimana harga reksa dana saham naik, maka hasil investasi dalam versi one shoot akan lebih tinggi daripada investasi secara berkala.

    Demikian semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  19. nacoss
    June 19th, 2013 at 14:01 | #19

    Pak Rudiyanto, saya membutuhkan data Nilai Aktiva Bersih dari reksa dana saham tahun 2002-2012 untuk pembuatan skripsi. Bagaimana cara mengaksesnya ya?
    mohon bantuannya, terimakasih :)

  20. Rudiyanto
    June 23rd, 2013 at 09:50 | #20

    @nacoss
    Dear Nacoss,

    Silakan cek dan dalami website bapepam.go.id. Datanya ada namun baru ada dari tahun 2005 kalau tidak salah. Semoga beruntung.

  21. maya
    August 31st, 2013 at 11:25 | #21

    Dear Pak Rudi

    Saya ingin meminta pendapat Bapak, sebelumnya saya ingin menjelaskan, saya gabung dengan Asuransi P setahun yg lalu, sebulan yg lalu saya top up untuk nilai investasi (dan menurut penjelasan agen saya, top up saya ini murni 100% diinvestasikan semua, hanya terkena biaya pembelian awal 5%). Menurut Bapak, investasi lebih baik di reksadana murni atau di top up asuransi? Terima kasih.

  22. Rudiyanto
    August 31st, 2013 at 15:57 | #22

    @maya
    Salam Maya,

    Kalau anda ingin investasi, mengapa tidak dilakukan pada instrumen investasi murni?
    Kemudian coba kamu cek biaya pembelian reksa dana. Umumnya paling tinggi sekitar 2%.
    Coba cek juga, seandainya suatu hari kamu tidak membayar premi asuransi, apakah perusahaan asuransi memiliki hak untuk memotong / mengambil langsung dari hasil investasi kamu yang terkumpul untuk membayarkan preminya?

    Jika kamu nyaman dengan hal di atas, silakan diteruskan investasinya.

    Semoga bermanfaat.

  23. Erwin
    September 4th, 2013 at 06:55 | #23

    salam Rudy,
    pak saya berencana untuk membatalkan polis UL saya yg sudah masuk tahun ke 4 walaupun harus terkena biaya pembatalan polis 40% dan segera memasukkan dananya ke RDS. apakah keputusan saya bapak nilai sudah tepat? karena perfomance UL ini juga tidak pernah mengalahkan IHSG bahkan nilai investasi saya terbebani biaya2 asuransi yg besar sehingga bila diteruskan saya khawatir dana saya ibarat menyimpan uang di bawah kasur.
    mohon dibantu oleh saran pa Rudy

  24. Rudiyanto
    September 4th, 2013 at 12:15 | #24

    @Erwin
    Salam Erwin,

    Sebelumnya boleh tahu apakah kamu sudah memiliki asuransi kesehatan dari kantor? atau asuransi kesehatan yang digunakan untuk memproteksi diri kamu dari risiko tidak terduga seandainya kamu menutup polis asuransi ini?

  25. Erwin
    September 4th, 2013 at 19:10 | #25

    @Rudiyanto
    tidak punya pak, namun saya yakin saya rasa tidak membutuhkan asuransi ini. saya tahu selalu saja ada ruang untuk hal2 yg tidak diinginkan terjadi, namun mnurut saya peluang terjadinya hal2 spt itu teramat kecil bagi saya…

  26. Rudiyanto
    September 9th, 2013 at 09:13 | #26

    @Erwin
    Salam Erwin,

    Dalam waktu dekat saya mungkin akan membuat artikel yang berkaitan dengan unit link. Ditunggu saja siapa tahu pertanyaan kamu bisa terjawab.

    Kemudian terkait komentar kamu yang menyatakan risiko terjadi hal tidak diinginkan teramat kecil hal itu memang kenyataannya. Tapi pernahkah anda membayangkan seandainya risiko tersebut terjadi bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan finansial kamu?

    Saya sudah tidak sedikit melihat orang terlilit hutang ataupun menjual rumahnya ketika dia atau keluarga tercintanya terkena penyakit tertentu. Saya tidak mengharapkan hal ini terjadi pada anda semua, namun bersiap untuk hal seperti ini juga tidak salah, meskipun pada kenyataan pada orang sehat walafiat sampai dengan usia tuanya.

    Semoga bermanfaat.

 


%d bloggers like this: