Home > Belajar Reksa Dana, Investasi Syariah, Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Memahami Investasi Reksa Dana Syariah

Memahami Investasi Reksa Dana Syariah

Apa kabar pembaca yang terhormat? Semoga bahagia dan sehat selalu. Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat yang menjalankannya.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pandangan saya terhadap investasi berbasis Syariah. Dalam 1 tahun terakhir ini, pemerintah kita aktif mempromosikan investasi berbasis syariah. Segala investasi dan bidang usaha berbasis syariah mulai bermunculan seperti:

  • Mulai dari Daftar Efek Syariah yang diterbitkan secara berkala
  • Adanya ORI versi Syariah yaitu Sukuk Negara Ritel yang sudah mencapai seri ke 4
  • Semakin banyaknya versi reksa dana berbasis Syariah yang diterbitkan
  • Adanya Online Trading versi Syariah yang membatasi transaksi margin dan daftar saham yang ditawarkan
  • Pemberian / Pemeringkatan Reksa Dana yang terdiri dari 2 versi yaitu Reksa Dana Konvensional dan Reksa Dana Syariah
  • Bank, Asuransi, Multifinance bahkan Pegadaian Syariah bermunculan

Hal ini menunjukkan bahwa model bisnis berbasis Syariah sesuai dengan perkembangan perekonomian dunia saat ini dan memiliki potensi untuk berkembang pesat di Indonesia. Dalam tulisan kali ini saya ingin berfokus pada Investasi reksa dana yang berbasis Syariah. Apa saja yang harus diketahui investor sebelum berinvestasi pada reksa dana jenis ini?

Ketika kita ingin tahu lebih banyak tentang Investasi Syariah di Indonesia, maka hal yang pertama kali harus kita ketahui adalah Daftar Efek Syariah (DES). Mengutip pada Website BAPEPAM-LK, Daftar Efek Syariah (DES) adalah kumpulan Efek yang tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal, yang ditetapkan oleh Bapepam-LK atau Pihak yang disetujui Bapepam-LK. DES tersebut merupakan panduan investasi bagi Reksa Dana Syariah dalam menempatkan dana kelolaannya serta juga dapat dipergunakan oleh investor yang mempunyai keinginan untuk berinvestasi pada portofolio Efek Syariah.

Informasi lebih lanjut tentang kriteria efek yang memenuhi pasar modal syariah yang saya rangkum adalah sebagai berikut:

Dari Sisi Bidang Usaha, tidak termasuk dalam

  • Perjudian atau permainan yang tergolong Judi
  • Perdagangan yang dilarang menurut Syariah
  • Tidak ada penyerahan barang / jasa
  • Penawaran / Permintaan Palsu
  • Jasa Keuangan Ribawi
  • Bank berbasis Bunga
  • Pembiayaan berbasis Bunga
  • Jual Beli Risiko yang mengandung unsur ketidakpastian dan atau judi (Asuransi Konvensional)
  • Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan atau menyediakan barang / jasa haram
  • Melakukan transaksi yang mengandung unsur Suap

Dari sisi Laporan Keuangan,

  • Utang berbasis Bunga dibagi total Ekuitas tidak lebih dari 82% (setara Debt Ratio 45%)
  • Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya kurang dari 10% total pendapatan

Daftar efek baik saham dan obligasi yang memenuhi ketentuan di atas dapat diakses di http://www.idx.co.id/Home/ProductAndServices/ShariaMarket/ShariaProducts/tabid/157/language/id-ID/Default.aspx

Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Konvensional

Secara sederhana, Reksa Dana Syariah adalah Reksa Dana yang dalam pengelolaan portofolio investasinya harus mengambil efek-efek yang terdapat dalam Daftar Efek Syariah. Kedua, apabila dalam kondisi tertentu, dalam pengelolaan portofolio reksa dana syariah terdapat unsur keuntungan yang tidak sesuai dengan ketentuan syariah, maka keuntungan tersebut harus dikeluarkan dan diamalkan. Proses tersebut disebut dengan Cleansing. Untuk mengawasi hal tersebut, maka selain Bank Kustodian dan Manajer Investasi terdapat pula satu pihak yang disebut dengan Dewan Pengawas Syariah. Mereka adalah pihak yang dianggap berkompeten di Bidang Syariah dan berfungsi untuk membantu dalam hal pengelolaan portofolio telah memenuhi ketentuan syariah atau tidak.

Ketiga hal itulah yang secara umum membedakan Reksa Dana Syariah dengan Reksa Dana Konvensional. Sebelumnya, ada investor yang kurang memahami produk ini dan mengira bahwa Reksa Dana Syariah hanya dikhususkan untuk kaum Muslim. Kenyataannya, Tidak ada pasal atau peraturan BAPEPAM-LK ataupun Prospektus bahwa umat yang Non Muslim tidak boleh berinvestasi pada Reksa Dana Syariah.

Jika Manajer Investasi menjalankan tugasnya dengan baik dengan menghindari efek yang non syariah, maka perbedaan utama antara Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Konvensional dalam hal faktor yang dapat mempengaruhi kinerja reksa dana (khususnya saham) adalah strategi yang dijalankan. Reksa Dana Syariah, jelas sudah tidak bisa berinvestasi pada sektor keuangan dan asuransi, yang pada kenyataannya merupakan sektor utama yang mendominasi kapitalisasi pasar saham di Indonesia. Sementara Reksa Dana Konvensional bisa. Dengan demikian, jika anda membeli reksa dana konvensional dan reksa dana syariah, secara tidak langsung anda juga melakukan diversifikasi. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan ada reksa dana konvensional memiliki portofolio saham yang sama dengan reksa dana syariah apabila reksa dana konvensional tersebut berfokus pada bidang Energi, Perkebunan dan Pertambangan.

Bagaimana Dengan Kinerjanya?

Untuk mengetahui kinerja, dapat dilakukan dengan membandingkan reksa dana syariah dengan indeks pembanding seperti indeks reksa dana terkait ataupun dengan IHSG secara umum. Untuk mempermudah, saya menggunakan indeks yang dalam pandangan saya mencerminkan kinerja reksa dana syariah di Indonesia. Untuk Reksa Dana berbasis Saham, saya menggunakan JII (Jakarta Islamic Index – 30 saham yang memenuhi ketentuan Daftar Efek Syariah, Likuiditas dan Kapitalisasi Pasar), ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia – Saham yang memenuhi ketentuan dalam Daftar Efek Syariah saja tanpa ada penilaian terhadap likuiditas dan kapitalisasi pasarnya), IHSG dan Indeks Reksa Dana Saham. Periode yang dipergunakan adalah kinerja selama 5 tahun terakhir.

Jika dilihat dari kinerja 5 tahun terakhir, terlihat bahwa JII sebagai indeks ternyata memiliki volatilitas yang lebih besar dibandingkan dengan rata-rata reksa dana saham dan IHSG. Dan Sejak 2010, saham yang termasuk dalam kategori JII secara kinerja mulai dibawah IHSG sampai dengan sekarang. Kemudian pada 2011, BAPEPAM-LK dan Bursa Efek Indonesia kembali menggiatkan transaksi Syariah dengan memperkenalkan ISSI. Pada dasarnya ISSI adalah JII yang tidak memperhitungkan unsur likuiditas dan kapitalisasi pasar, oleh karena itu Jumlah sahamnya juga bisa lebih banyak. Hal ini memberikan kebebasan kepada MI dalam memilih saham karena jika dibandingkan JII yang ada 30 saham, ISSI memiliki 274 saham (per Juli 2012). Dari sisi trading saham, Online Trading berbasis Syariah umumnya hanya bisa mentransaksikan saham yang terdaftar dalam Daftar Efek Syariah atau ISSI. Secara kinerja ISSI dibandingkan IHSG, JII dan Rata-rata Reksa Dana Saham sejak 12 Mei 2011 adalah sebagai berikut:

Sebagai indeks saham yang mencerminkan kinerja saham dalam Daftar Efek Syariah, ISSI ternyata memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan IHSG, JII dan Indeks Reksa Dana Saham. Meski demikian, indeks ini masih tergolong cukup baru, oleh karena itu, masih terlalu cepat untuk memutuskan apakah ISSI akan lebih baik dari indeks lainnya dalam jangka panjang. Dan mengingat indeks ini hanya memasukkan emiten dengan rasio hutang yang di bawah 45% dan berbasis syariah, tentu akan menjadi suatu topik penelitian yang menarik di masa yang akan datang jika ternyata dalam jangka panjang, kinerja Indeks ini tetap dapat mengalahkan kinerja indeks lainnya secara umum. Sebab secara tidak langsung hal ini membuktikan bahwa emiten dengan rasio hutang lebih rendah dan bisnis yang “halal” ternyata memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan IHSG secara umum. Namun tentu, hipotesis ini masih membutuhkan waktu untuk dibuktikan lagi kebenarannya.

Untuk Reksa Dana Syariah berbasis Obligasi menggunakan IGBI (Infovesta Government Bond Index), ISBI (Infovesta Syariah Bond Index) dan Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap. Periode yang dipergunakan adalah 5 tahun terakhir. Hasil perbandingannya sebagai berikut:

Berbeda dengan JII yang terkadang menang, terkadang kalah dengan tingkat volatilitas yang tinggi dibandingkan IHSG. Infovesta Syariah Bond Index yang merupakan indeks yang mencerminkan kinerja obligasi syariah secara keseluruhan ternyata secara konsisten menang dibandingkan IGBI dan rata-rata reksa dana pendapatan tetap. Tidak hanya dari sisi return, namun juga dari volatilitas yang lebih rendah. Dengan demikian bisa dikatakan, jika kinerja dari Syariah Bond Index mencerminkan kinerja dari reksa dana pendapatan tetap syariah, maka kinerja dari reksa dana jenis ini seharusnya akan jauh lebih baik dibandingkan reksa dana konvensional.

Pada kenyataannya memang terdapat banyak reksa dana pendapatan syariah yang memiliki kinerja yang bagus. Meski demikian, faktor likuiditas dan ketersediaan obligasi syariah menjadi kendala utama perkembangan jenis reksa dana ini. Obligasi syariah amat sulit untuk dicari di pasar sekunder. Kalaupun ada, umumnya harganya bisa lebih tinggi daripada harga obligasi konvensional. Oleh karena itu sangat jarang Manajer Investasi yang menerbitkan reksa dana pendapatan tetap syariah. Umumnya reksa dana syariah yang diterbitkan berjenis reksa dana saham dan campuran.

Saat ini, ada sekitar 8 Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah, 11 Reksa Dana Campuran Syariah dan 9 Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia. Memang masih belum banyak dibandingkan reksa dana konvensional. Namun jika anda sedang berpikir untuk melakukan diversifikasi, tidak ada salahnya melirik jenis reksa dana ini karena secara pilihan portofolio kemungkinan berbeda dengan reksa dana konvensional. Namun jangan lupa, pilihan reksa dana juga harus disesuaikan dengan tujuan investasi, pemahaman dan toleransi terhadap risiko masing-masing.

Demikian sharing kali ini, semoga dapat menambah wawasan anda akan investasi syariah.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Rudiyanto
    July 16th, 2017 at 21:58 | #1

    @yazied
    Selamat mala Pak Yazied,

    Untuk mengikuti penawaran perdana saham, anda bisa melakukannya dengan membuka rekening pada perusahaan sekuritas yang menfasilitasi IPO suatu saham.

    Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 3 1855


%d bloggers like this: