Home > Asuransi, Belajar Reksa Dana, Perencanaan Investasi > Unit Link Vs Investment Link

Unit Link Vs Investment Link

Kalau Unit Link Vs Reksa Dana tentu sudah sering dibahas dalam berbagai forum, media, baik yang online maupun yang media cetak. Umumnya, para investor akan lebih disarankan untuk membeli investasi dan proteksi secara terpisah untuk memaksimalkan fungsi investasi dan proteksi. Namun di satu sisi, umumnya unit link menawarkan manfaat rider dan perlindungan asuransi yang komplit. Oleh karena itu, hingga saat ini, masih sulit untuk mengatakan Unit Link atau Reksa Dana + Asuransi mana yang lebih baik, banyak pendapat pro kontra yang beredar.

Seiring dengan perkembangan Zaman, Manajer Investasi dan para pelaku dalam industri reksa dana juga semakin kreatif. Daripada terjebak pada argumentasi mana yang lebih baik, sebagian Manajer Investasi berusaha mengembangkan produk baru untuk memaksimalkan manfaat investasi dan proteksi bagi calon investor. Sehingga berkembanglah yang disebut dengan Investment Link. Dimana Investment Link (kata yang saya karang sendiri) ini saya artikan sebagai Reksa Dana yang memberikan Manfaat Asuransi. Seperti apa Investment Link yang bagus dan apa tantangan untuk produk Investment Link di Indonesia?

Dalam kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat yang menjalankannya. Mohon maaf Lahir dan Batin.

Unit Link

Pada dasarnya Unit Link adalah salah satu dari variasi produk asuransi dimana produk tersebut menggabungkan Asuransi dengan Investasi. Unit Link umumnya ketika dipasarkan, lebih mengutamakan pada fitur asuransi dibandingkan investasinya. Hal ini bisa dilihat dari penawaran yang biasanya menyebutkan besaran Uang Pertanggungan dan Segala manfaat asuransi tambahan seperti rumah sakit, penyakit kritis bahkan asuransi untuk rider (istilah agen asuransi untuk pertanggungan kepada pihak keluarga). Pemberian manfaat pertanggungan juga beragam, ada yang hingga usia 65 – 70 tahun ada pula yang sampai pada 99 tahun. Tergantung jenis dan perusahaan asuransinya.

Sementara itu, Investasi dalam unit link umumnya sering dalam “ILUSTRASI”. Dengan menggunakan beberapa asumsi, calon pemegang polis diberikan gambaran apabila hasil pengembangan investasi sesuai dengan asumsi akan mencapai tertentu pada akhir masa pertanggungan. Umumnya angka tersebut cukup fantastis dibandingkan jumlah uang yang disetorkan, sehingga orang mau mengambil produk unit link tersebut. Bisa tercapai atau tidaknya angka tersebut itu hal lain lagi. Berhubung pengetahuan saya tentang asuransi terbatas, jika ada yang kurang tepat, silakan dikoreksi. Bagi anda yang sudah membeli unit link selama bertahun-tahun juga bisa sharing disini apakah pengembangan hasil investasi telah sesuai dengan perkiraan yang ada dalam “ilustrasi” yang diberikan sejak awal.

Investment Link

Investment Link adalah produk reksa dana (investasi) yang memberikan manfaat asuransi bagi pemegang unit penyertaannya. Perbedaannya, produk ini lebih memberikan penekanan pada Investasi dibandingkan fitur asuransinya. Salah satunya dapat kita lihat dimana amat jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali, suatu reksa dana dijual dengan menggunakan “ilustrasi”. Sebab sebagai produk investasi, adalah melanggar aturan apabila memberikan indikasi return kinerja masa mendatang bagi investor.

Manfaat asuransi diberikan kepada investor dengan beberapa persyaratan seperti minimum investasi hingga nominal tertentu dan harus di investasikan selama kurun waktu tertentu. Belakangan, produk semacam ini telah dikembangkan oleh beberapa Manajer Investasi di Indonesia, hanya saja mungkin belum terlalu diketahui / dipahami oleh umum. Selain itu, dalam pandangan saya, konsep asuransi yang ditawarkan juga masih belum terlalu jelas atau menjawab kebutuhan pemegang unit penyertaan.

Sebagai contoh, kebutuhan asuransi untuk perorangan dapat saya kategorikan sebagai berikut:

  1. Asuransi Jiwa, memberikan manfaat / Uang Pertanggungan (UP) apabila tertanggung meninggal dunia. Idealnya uang pertanggungan harus setara / menggantikan penghasilan yang diberikan oleh tertanggung kepada keluarga semasa hidupnya. Perhitungan UP dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya seperti metode Human Live Value (HLV) yang membagi antara gaji tahunan tertanggung dengan bunga deposito yang berlaku. Misalnya Gaji per tahun 100 juta, Deposito 5%, maka UP yang ideal untuk orang tersebut adalah Rp 100 juta / 5% = Rp 2 M.
  2. Asuransi Kecelakaan, merupakan asuransi yang memberikan manfaat uang penggantian apabila tertanggung mengalami kecelakaan. Dalam Jamsostek umumnya Asuransi Jiwa dan Kecelakaan sudah dicover. Pada produk unit link, meskipun kedua asuransi ini berbeda, umumnya Jiwa dan Kecelakaan sudah dibundel jadi satu.
  3. Asuransi Kesehatan, memberikan manfaat uang penggantian apabila tertanggung masuk Rumah Sakit atau menjalani Operasi, dan Rawat Inap. Asuransi kesehatan sebetulnya juga sudah terdapat dalam Jamsostek atau bagian dari tunjangan perusahaan. Besaran uang penggantian untuk Asuransi Kesehatan berbeda sesuai dengan premi yang diambil dan kondisi kesehatan dari tertanggung. Jika anda mengambil asuransi kesehatan untuk kantor, besaran premi dan manfaat juga dapat disesuaikan  /  ditawar apabila jumlah pesertanya banyak.
  4. Asuransi Penyakit Kritis, merupakan asuransi yang memberikan manfaat uang penggantian apabila tertanggung dideteksi menderita penyakit kritis. Besaran uang pertanggungan amat tergantung pada besaran premi yang diambil, dan seberapa kritis penyakit yang diderita. Sebab untuk beberapa jenis penyakit yang baru pada tahap awal, belum tentu ada penggantian.
  5. Asuransi Pendidikan, merupakan asuransi yang menjadi favorit para orang tua yang mendahulukan kepentingan anaknya. Di permukaan, manfaat asuransi ini seperti memberikan manfaat perencanaan cash flow dalam bentuk distribusi cashflow pada masa anak masuk sekolah. Namun jika dibaca dengan lebih cermat, manfaat yang paling besar dari asuransi ini sebetulnya ada pada asuransi jiwa atas orang tua dari anak tersebut. Jika orang tua meninggal, maka uang pertanggungan diharapkan masih mencukupi kebutuhan pendidikan anak. Jadi pada dasarnya asuransi pendidikan adalah asuransi jiwa ditambah dengan distribusi kas pada tahun anak masuk sekolah. Besaran uang kas yang didistribusikan pada saat anak masuk sekolah sebenarnya jika kita bisa melakukan perencanaan yang cermat dan manajemen uang yang baik serta disiplin, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan.

Berdasarkan kategori saya di atas, maka sebetulnya suatu Investment Link dikatakan baik apabila bisa menggabungkan reksa dana dengan Asuransi Jiwa, Kecelakaan dan Penyakit Kritis. Sebab 3 musibah itulah yang menurut paling bisa mempengaruhi tercapai atau tidaknya tujuan keuangan seseorang. Asuransi Kesehatan menurut saya bersifat opsional karena sudah terdapat dalam tunjangan kantor jika kita menjadi pegawai atau bisa dibeli melalui kartu kredit (saya sering mendapat penawaran asuransi ini melalui telemarketing). Sekarang permasalahannya apakah sudah ada reksa dana yang memberikan 3 manfaat asuransi sekaligus? Rasa-rasanya masih belum ada.

Tantangan Investment Link di Indonesia

Untuk membuat Investment Link yang ideal di Indonesia tentu sangat sulit, sebagai produk investasi yang memberikan bonus asuransi, fungsi investasinya harus berjalan pertama terlebih dahulu. Dengan kata lain performance reksa dana sangat penting. Apakah anda tertarik untuk membeli reksa dana yang memberikan manfaat asuransi jika kinerja reksa dana tersebut hanya medioker atau bahkan di bawah rata-rata? Jadi bagi MI yang ingin meluncurkan produk ini, saran saya sebaiknya MI atau produk reksa dana tersebut sudah memiliki kinerja historis yang cukup lumayan atau sekelompok investor yang memang sudah percaya dengan kinerja produk Manajer Investasi tersebut. Jangan dibalik.

Tantangan kedua adalah bagaimana memberikan manfaat asuransi yang bersaing dengan Unit Link. Produk asuransi dalam unit link sangat bervariasi dan bisa customized sesuai dengan kondisi masing-masing pemegang polis. Anda bisa membuat polis dengan uang pertanggungan Rp 100 juta, Rp 1 M atau bahkan Rp 10 M, tergantung pada kondisi kesehatan, usia, dan tentu pula premi yang sesuai dengan kemampuan kocek anda. Hal demikian agak sulit untuk diterapkan di Investment Link. Sebab, investor reksa dana bervariasi dari anak yang masih kecil dan dibelikan atas nama orang tuanya, mahasiswa baru lulus hingga pensiunan yang sudah berusia renta. Membelikan asuransi untuk semua orang saja sudah menjadi satu masalah tersendiri belum lagi membuat uang pertanggungan yang sama untuk setiap orang yang tentu jika dihitung secara individual, besaran preminya bisa berbeda-beda.

Tantangan ketiga adalah penepatan biaya dan siapa yang membayarnya. Untuk semua manfaat dan bonus tentu ada harga yang harus dibayar. Besaran biaya yang dibayar tentu tergantung pada kesepakatan antara Manajer Investasi dengan perusahaan asuransi. Soal yang membayar, bisa saja dari Manajer Investasi yang menyisihkan keuntungannya atau dari investor itu sendiri yang dibayarkan melalui biaya pengelolaan reksa dana. Dalam hal perusahaan asuransi mendapat persentase tertentu dari biaya pengelolaan, tentu disini terjadi ketidakadilan. Sebab jika ada investor yang tidak insurable karena sudah diluar kriteria asuransi, namun secara tidak langsung investor tersebut juga ikut membayar premi asuransi tersebut.

Tantangan Keempat adalah kesesuaian antara bonus dengan kebutuhan. Seperti yang sudah dibahas, kebutuhan orang untuk asuransi sama bervariasinya dengan kebutuhan orang akan reksa dana. Jika orang yang ingin berinvestasi jangka menengah, dia bisa memilih jenis reksa dana campuran atau pendapatan tetap. Sama halnya juga dengan orang yang berpendapatan Rp 100 juta per tahun dengan Rp 200 juta per tahun, kebutuhan akan uang pertanggungan asuransi tentunya juga berbeda-beda. Apakah lebih baik bagi investor tersebut untuk membeli produk reksa dana dan asuransi yang terpisah tapi disesuaikan dengan kebutuhan, atau membeli Unit Link atau Investment Link yang menggabungkan kedua fungsi tersebut namun ternyata tidak maksimal kedua-duanya?

Dari analisis saya, sepertinya Investment Link masih sulit untuk menggantikan fungsi Unit Link di Indonesia dalam waktu dekat. Bukan saja dari sisi operasional, akan tetapi juga kenyataan bahwa amat sulit untuk memenuhi kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Tinggal bagaimana kreatifitas MI dalam membuat dan memasarkan produk tersebut. Demikian tulisan ini saya sharing, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Rudiyanto
    October 29th, 2012 at 16:10 | #1

    @Junk head
    Bukankah itu berarti program yang anda ikut bukan investasi full akan tetapi asuransi + investasi, dimana anda membayarkan sejumlah uang untuk asuransi dari tahun 1 – 3. Jadi asuransinya tidak gratis.

    Dari ilustrasi kamu bukankah sudah jelas bahwa program yang ada adalah membayar sebagian asuransi dan sebagian investasi, sementara tujuan anda adalah 100% investasi, mengapa kamu masih bingung dengan keputusan apa yang akan kamu ambil? Bukankah instrumen yang kamu pilih sudah tidak sesuai dengan tujuan kamu pada awalnya?

    Sebetulnya tujuan kemana dana menganggur anda itu mau dikemanakan harus jelas. Membalikkan defisit jadi positif atau diinvestasi supaya memberikan hasil lebih. Setelah itu, baru langkah anda diatur dengan lebih jelas.

    Reksa dana dan Asuransi tidak dijamin oleh LPS. Agak beda dengan Singapore, dimana setidaknya asuransi disana dijamin oleh LPS (paling tidak kalau saya dengar iklannya di radio).

  2. chakepp
    December 6th, 2012 at 14:55 | #2

    Dear Pak Rudiyanto,

    Membaca bahasan di atas, saya punya pengalaman terkait dengan Unit Link, dimana dalam berinvestasi ada unsur asuransinya. Pada waktu anak saya masih usia balita saya ditawari oleh agen asuransi agar ikut dalam program pendidikan dimana sebuah perusahaan asuransi menjual produknya untuk dana pendidikan anak.

    Dalam penawaran produknya agen asuransi akan menjelaskan berapa premi yang akan dibayar, berapa kontrak yang akan diambil oleh calon nasabah, dan nilai perlindungan yang akan diterima oleh nasabah bila terjadi musibah pada nasabah dlsb.
    Dengan menyetujui segala persyaratan yang telah dipaparkan oleh agen asuransi, nasabah akan mendapatkan polis dan membayar premi secara periodik sesuai ketentuan dalam rentang waktu yang disepakati antara perusahaan asuransi dan nasabah.

    Secara investasi apa yang telah saya lakukan dalam membeli produk asuransi cukup memberikan keuntungan, karena begitu masa kontrak habis pembayaran dapat dengan mudah diterima sesuai nilai kontrak yang diambil. Disamping itu secara tidak langsung nasabah diuntungkan karena mendapat ‘perlindungan/santunan’ dari asuransi bila terjadi hal yang tak diinginkan pada dirinya, misalnya dapat musibah sepanjang dalama masa kontrak.
    Dari pengalaman menjadi nasabah asuransi sebenarnya dari sisi risiko bisa dibilang relatif kecil sepanjang perusahaan asuransinya profesional dan commit dalam pembayaran pada masa habis kontrak.
    Dalam hal keuntungan jika di-compare dengan investasi lain misalnya reksa dana, mana yang lebih menguntungkan saya tidak bisa mmeberikan jawaban yang tepat. Yang pasti tujuan berinvestasi dapat berhasil dan sampai pada masa yang diharapkan hasil investasi dapat dipetik.
    Demikian sedikit pengalaman saya dalam hal Unit Link dalam berinvestasi.

    Rgds,
    chp.

  3. Rudiyanto
    December 6th, 2012 at 16:34 | #3

    @chakepp
    Salam Chp,

    Sharing yang menarik pak. Boleh tahu, jika tidak keberatan, apakah anda bisa memberikan rasio. Katakan total premi yang anda setorkan adalah Rp 100 juta. Pada akhir masa kontrak diperoleh Rp 150 juta. Sehingga keuntungan anda 50 juta atau 50%. Informasi rasio yang saya maksud adalah angka 50% dan kalau boleh lagi berapa lama rentang waktu polis tersebut anda ikuti.

    Informasi tersebut bisa memberikan gambaran ke semua termasuk ke saya berapa kira2 hasil investasi di unit link asuransi yang anda ikuti. Sebab tidak banyak orang yang mengikuti suatu polis sampai selesai. Entah itu lapse karena tidak mampu bayar lagi atau surrender karena tidak mau mengikuti program tersebut. Sharing anda akan sangat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

  4. chakepp
    December 7th, 2012 at 09:52 | #4

    Dear Pak Rudiyanto,

    Dengan senang hati saya mencoba sharing dalam berinvestasi dengan harapan dapat berbagi pengalaman dan bermanfaat bagi pembaca lain dalam memilih jenis investasinya.

    Sebetulnya dalam polis diterangkan secara rinci isi perjanjian dalam kontrak yang menjadi hak nasabah. Sebagai data lengkapnya saya tidak ingat persis karena waktunya yang sudah cukup lama, tetapi sebagai ilustrasi dapat saya jelaskan secara garis besarnya.
    Pada awal kontrak usia anak saya berumur 2 tahun, dengan nilai kontrak Rp10 juta. Rentang waktu dalam polis sekitar 15 tahun karena program yang diambil adalah dana pendidikan. Jadi pada saat anak lulus SMA masa kontrak berakhir dengan harapan beaya untuk masuk PT tidak terlalu membebani. Dana pendidikan hasil investasi dibayarkan sesuai perjanjian dalam polis dengan pola lulus SD, lulus SMP dan lulus SMA dengan nilai masing-masing Rp 1jt, Rp 3 jt dan Rp 12jt.
    Selama masa kontrak saya membayar premi persemester dengan nilai sekitar Rp 370.000,. Dengan data diatas kira-kira total invstasi saya 2x 370.000×15= Rp 11,1jt. Kemudian hasil dalam investasi yang saya terima secara total adalah Rp16jt. Jadi secara keuntungan hasil yang saya peroleh sekitar Rp 5jt. Karena angka ini tidak didukung data lengkap dan angka pasti, jadi sifatnya dalam angka kisaran yang mendekati dalam pembulatan. Nah, kalau saya tidak salah (Anda bisa koreksi pak) rasio yang saya peroleh sekitar 45% dari investasi ini.

    Demikian pak sharing saya, semoga dapat memenuhi keinginan anda untuk berbagi pengalaman dalam menentukan jenis investasi.

    Salam,
    chp.

  5. Rudiyanto
    December 10th, 2012 at 15:20 | #5

    @chakepp
    Salam Chp,

    Terima kasih atas sharing anda yang berharga tentang asuransi pendidikan. Jika saya analisa secara matematik dengan keterangan sebagai berikut:
    Money Out (Uang yang dibayarkan)
    Rp 370.000 per 6 bulan selama 15 tahun

    Money In (uang diterima)
    Rp 1 juta pada akhir tahun ke 9
    Rp 3 juta pada akhir tahun ke 12
    dan Rp 12 juta pada akhir tahun 15

    Maka secara matematis dan menggunakan konsep Effective Annual Rate (EAR) – tingkat return disetahunkan agar bisa dibandingkan dengan deposito, tingkat return yang anda peroleh dengan skema di atas adalah net 4.53%.

    Jika anda mengikutkan dengan deposito normal dan mendapat keuntungan 8% (karena ini anda ambil di masa lalu dan dimasa lalu rate deposito sangat besar bahkan bisa 2 digit), maka uang yang bisa anda ambil di akhir tahun ke 15 adalah sekitar Rp 16.3 juta.

    Tentu saja, pengorbanan sebesar Rp 4.3 juta (Rp 16.3 juta – 12 juta) ditukar dengan manfaat asuransi yang anda dapatkan, yaitu memproteksi apabila selama masa pembayaran tersebut ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada kita, maka sisa pembayaran akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.

    Apakah 4.3 juta selama 15 tahun itu wajar? kita kembalikan ke masing2 orang tua yang merencanakan pendidikan anaknya. Wajar atau tidak, dengan merencanakan kebutuhan pendidikan anak kita saja sudah merupakan perbuatan yang amat terpuji.

    Kembali, chp, terima kasih atas sharingnya. Semoga bisa memberikan referensi bagi pembaca yang lain. Salam.

  6. chakepp
    December 11th, 2012 at 10:22 | #6

    Salam Pak Rudiyanto,

    Penjelasan yang mencerahkan bagi kita semua. Namun saya ingin sedikit memberikan tanggapan dalam memilih dan pada akhirnya menentukan produk asuransi sebagai investasi.

    Sebelum memutuskan ikut asuransi pendidikan untuk sang buah hati, sebetulnya dari aspek imbal hasil dalam berinvestasi telah diperhitungkan apakah melalui bank dengan depositonya atau dengan ikut asuransi pendidikan. Sebagai keluarga muda pada masa itu, secara kondisi finansial boleh dibilang masih belum sehat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga masih banyak yang menjadi prioritas, sehingga untuk mengumpulkan uang sejumlah Rp.10jt tentunya memerlukan waktu yang agak panjang. Dengan ikut asuransi pendidikan pembayaran premi bisa dilakukan dengan mengangsur setahun dua kali. Di sisi lain ada proteksi yang memberikan keuntungan bagi peserta asuransi. Berbeda jika harus mendepositakan ke bank dengan cara lump sump Rp 10jt, sungguh mengganggu kondisi finansial yang pada masa itu masih sebagai keluarga muda. Dampaknya adalah niat berinvestasi menjadi tersendat dan boleh jadi akan menganggu perencanaan keluarga.

    Saya sependapat banget dalam berinvestasi sebisa mungkin dapat memberikan imbal hasil yang memadai. Tentunya dengan segala pertimbangan yang bijak dari sebuah keluarga untuk memilih jenis investasi sesuai kemampuan finasial yang dimiliki. Teringat masa itu yang menjadi tujuan utama adalah investasi untuk dana pendidikan anak. Soal imbal hasil yang wajar tidak terlintas secara kuantitatif dengan tenggang waktu yang panjang. Dengan segala kemajuan sistem IT saat ini, kita banyak menimba ilmu dengan mengakses berbagai informasi dalam berinvestasi. Berbeda jauh dengan masa ’90an yang sangat terbatas dalam memperoleh informasi bagaimana jika ingin berinvestasi yang sesuai harapan?
    Dengan sharing melalui forum ini banyak memberikan pencerahan kepada kita semua dalam memilih jalur investasi dan satu hal lagi dapat menghilangkan keraguan untuk terus investasi.

    Terima kasih pak Rudi atas ulasannya, dan kalau boleh saya pinjam istilah dalam sebuah acara TV mengatakan, “uang anda kendali di tangan anda..”.
    Semoga…

    Salam,
    chp.

  7. Rudiyanto
    December 11th, 2012 at 13:38 | #7

    @chakepp
    Terima kasih atas sharingnya chp. Semoga keluarga anda bahagia dan sehat selalu.

  8. December 22nd, 2012 at 01:48 | #8

    Produk dengan menggunakan skema Unit Link Asuransi Syariah kini menjadi tren digunakan oleh banyak operator takaful.
    a. Jelaskan dengan singkat tipe skema asuransi syariah jenis ini.
    b. Jika Anda adalah agen takaful kepada siapa Anda akan merekomendasikan produk ini dan mengapa?

    • Rudiyanto
      December 22nd, 2012 at 09:36 | #9

      Salam nurul, pertanyaan Anda salah alamat. Harusnya ditanyakan ke takaful. Terima kasih

  9. jun
    April 2nd, 2013 at 23:32 | #10

    Dear Pak Rudi

    saya baru belajar mengenai investasi terutama di RD, dan mengenai aturan “mainnya” saya sudah mendapat penjelasan dari MI maupun bank. namun disini ada beberapa pertanyaan yg ingin saya sampaikan kepada Pak Rudi.

    Jika kita mulai melakukan investasi RD melalui asuransi xxx, karena saya pernah menerima penjelasan dimana asuransi xxx tersebut memberikan keterangan kepada saya bahwa asuransi ini adalah murni utk investasi dlm jangka waktu 15 Th. sebagai benefitnya jika terjadi sesuatu atas diri saya, jika msh dibawah 15 th, maka ASURANSI AKAN MELANJUTI INVESTASI tersebut sampai masa kontrak habis (15), mnrt saya dari segi keuntungan, jika “ada apa2″…anak saya yang memperoleh manfaatnya.

    dari sudut pandang pak Rudi, apakah menguntungkan jika investasi RD melalui asuransi xxx yg notabene akan mengalokasikan dana 20% th pertama dari jumlah yg disetor…sekian % utk th kedua..dan seterusnya…seterusnya..dan sampai th ke 5, alokasi dana tsb baru dimasukan 100%.

    menurut pengalaman pak rudi, lebih menguntungkan mana mengivestasikan uang kita ke asuransi RD atau investasi RD yang kita lakukan sendiri (beli melalui bank atau MI) untuk jangka 15 Th kedepan. ? jika perencanaan tersebut utk si buah hati.

    terima kasih atas pencerahannya

    • Rudiyanto
      April 2nd, 2013 at 23:37 | #11

      Malam jun, sebelum menjawab pertanyaan anda, boleh tahu, sebetulnya kamu mau berinvestasi atau berasuransi?

  10. jun
    April 4th, 2013 at 08:56 | #12

    @Rudiyanto

    Selamat Pagi Pak Rudi,

    sebenarnya harapan saya untuk berinvestasi, namun saya juga masih bingung utk masa depan si buah hati, karena saya mengharapkan investasi tersebut utk si buah hati, baik itu sekolahnya atau kehidupannya.

    manakah yang lebih menjanjikan utk investasi masa depan ?

    mengenai asuransi sebenarnya sy sudah memiliki utk pengcoveran 1 keluarga + unitlink.

    terima kasih atas masukannya

  11. Rudiyanto
    April 4th, 2013 at 10:35 | #13

    @jun
    Yth Jun,

    Kalau niat anda adalah berinvestasi, maka berinvestasilah. Bagaimanapun produk investasi murni akan lebih baik hasil investasinya dibandingkan produk kombinasi antara investasi dan asuransi.

    Semoga bermanfaat.

  12. jun
    April 5th, 2013 at 09:05 | #14

    Dear Pak Rudi

    Terima kasih atas masukannya. GBU

  13. Dani Santoso
    April 9th, 2013 at 17:13 | #15

    Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas sharing mengenai unit link maupun reksadana dalam blog ini. Saya mempunyai asuransi dan juga bermain dalam bidang reksadana. Ada beberapa hal yang menggugah pikiran saya mengenai unit link dan reksadana. Pertanyaan:

    1. Apabila mengambil contoh reksadana saham sebuah perusahaan dan unit link sebuah perusahaan. Bisakah kita mengetahui mana yang lebih unggul (dalam prosentase) antara RD maupun UL (dengan catatan menghilangkan fee yang rata-rata 5% untuk ukuran UL dan maksimum 3% untuk ukuran RD.

    2. Pada waktu mau membeli RD di bank, petugas bank akan menanyakan soal NPWP dan sedangkan UL tidak diperlukan NPWP. Bisa tolong dijelaskan secara gamblang perihal ini?

    3. Mungkinkah perusahaan asuransi memperkerjakan fund manager (sendiri), meskipun perusahaan asuransi tersebut (juga) mempunyai perusahaan manajer investasi (seperti halnya di RD)?

    4. Menurut kacamata Pak Rudy, apakah bisa tetap berinvestasi di dalam RD dengan tambahan fees sebesar 3-5% dapat melampaui tingkat inflasi di indonesia yang dimana, tingkat inflasi terbilang cukup tinggi (karena NAV memang sudah bersih tetapi inflasi belum dihitung)?

    Sekian dahulu pertanyaan saya, dan terima kasih atas kesediaan Pak Rudy menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

    Salam,
    Dani Santoso

  14. Rudiyanto
    April 9th, 2013 at 19:09 | #16

    @Dani Santoso
    Salam Dani,

    Terkait pertanyaan anda,
    1. Saya pernah membandingkan secara head to head hanya harga dengan harga saja, ada unit link yang kinerjanya lebih baik daripada rata-rata reksa dana, ada juga yang tidak. Karena banyak unit link, pada dasarnya juga sama seperti reksa dana atau gabungan dari beberapa reksa dana (fund on fund). Tapi pada dasarnya hal ini tidak bisa dijadikan sebagai acuan karena biaya UL tidak hanya fee, tapi juga biaya akuisisi, biaya asuransi dan biaya administrasi yang terus terang sebagian besar dari kita tidak tahu berapa besarnya. Untuk apa pula, misalkan suatu UL mengalahkan reksa dana saham sampai berkali-kali lipat tapi katakanlah 100% dari dana UL jadi biaya akusisi?

    2. NPWP itu memang aturan yang kurang adil dari regulator. Namun saya yakin, suatu saat akan dilakukan penyetaraan dimana beli UL juga wajib NPWP. Kalau tidak, semua target pemerintah untuk mencapai 5 juta investor 2017 tidak akan terjadi. Sebagai informasi, NPWP memang merupakan syarat dasar utk menjadi investor reksa dana. Mengapa? logikanya kalau punya dana lebih untuk berinvestasi, tentu juga mampu bayar pajak, karena hal tersebut merupakan kewajiban dari warga negara. Itu menurut saya ya.

    3. Di banyak perusahaan asuransi, terdapat Manajer Investasi. Bedanya , ada yang mengelola sendiri, ada juga yang bekerja sama dengan Manajer Investasi lain. Maksudnya MI sendiri tersebut kerjanya memilih MI luar yang nanti kalau ada dana, diinvestasikan ke MI luar. Tergantung kompetensi saja.

    4. Menurut saya, fee itu sejalan dengan benefit dan service yang diterima. Jika reksa dana tersebut mampu menjustifikasi fee 3 – 5% dengan berbagai macam keunggulan dan fitur2nya kenapa tidak. Wong beli emas yang langsung rugi 5% lebih saja, orang sudah banyak yang mau. Ini masih belum termasuk biaya admin, titip, dll lagi. Bedanya buat orang yang masih tradisional, emas benar2 dilihat sebagai “emas” di masa depan. Reksa dana yang kaga ada bentuk fisik dan lain2, masih dianggap spekulasi dan kurang “menggigit” meski pada kenyataannya kinerja reksa dana yang lebih baik dari emas dalam jangka pendek maupun panjang juga ada.

    Demikian pak Dani, semoga bermanfaat.

  15. rahardjo
    April 14th, 2015 at 15:16 | #17

    Salam pak Rudiyanto,

    Ijinkan saya mengutip tulisan bapak di bagian paragraf ke 2 “Daripada terjebak pada argumentasi mana yang lebih baik, sebagian Manajer Investasi berusaha mengembangkan produk baru untuk memaksimalkan manfaat investasi dan proteksi bagi calon investor.”

    Saat ini para financial planner independent sudah banyak mengedukasi masyarakat melalui buku maupun tulisan di berbagai blog. Mereka mengajarkan bahwa memisahkan fungsi investasi dan asuransi hasilnya jauh lebih maksimal dibandingkan dengan unit link. Dan secara pribadi saya setuju dengan pendapat mereka. Masyarakat awam sudah lama “TERJEBAK” dengan produk unit link ini karena tidak memberikan proteksi yang optimal dan hasil investasi tidak maksimal. Dalam hal reksa dana dikaitkan lagi dengan asuransi (investment link), bukankah ini “JEBAKAN” lainnya?.

    Jika sampai produk invesment link ada dan mulai menjamur, lalu apa bedanya dengan “jebakan” unit link?

    Investasi murni dan Asuransi murni jauh lebih optimal jika dibandingkan dengan unit link.

    Sudah cukup perdebatan antara unit link vs Reksa Dana + Asuransi murni. Jangan ditambah lagi argumentasi invesment link vs Reksa Dana + Asuransi murni.

    Begitu pak pendapat pribadi saya.
    Terima kasih :)

  16. Rudiyanto
    April 15th, 2015 at 23:52 | #18

    @rahardjo
    Salam Pak Rahardjo,

    Justru menurut saya para finansial planner tersebut bisa membuat kajian apakah investment link lebih baik atau tidak jika dibandingkan reksa dana + asuransi langsung.

    Dengan demikian, jika produknya tidak lebih baik ya tidak usah direkomendasikan. Tapi orang mengetahui dengan jelas plus dan minusnya.

    Dunia juga semakin berkembang, unit link menyadari bahwa jika terus begini-begini saja akan sulit bersaing sehingga inovasi baru bermunculan. Sebagai contoh Unit Link yang bisa autorebalancing dari Generali dan unit link yang jaminan tidak akan rugi dan hanya bisa naik dari Axa.

    Jadi pendapat pribadi saya, jika para pelaku mulai dari investor, financial planner, asuransi, manajer investasi dan agen penjual tidak terus menerus “berargumentasi” terhadap produk yang ada saat ini, maka akan sulit muncul terobosan baru.

    Demikian pendapat pribadi saya.

    Terima kasih

  17. October 19th, 2015 at 11:43 | #19

    Dear Pak Rudi,

    Sebelumnya terima kasih, saya sangat suka kolom anda.

    Pertanyaan saya:

    1. Di dalam Unit Link terdapat porsi Investasi, nah investasi yang di maksud di unit link ini apa saja ya?

    2. Investasi yang ada pada unit link tersebut, siapakah yang mengelola? Perusahaan asuransi itu sendiri atau pihak lain (manajer investasi) ?

    Itu dulu pertanyaan saya pak.

    Terima kasih,
    Salam,
    Doni

  18. Rudiyanto
    October 19th, 2015 at 22:42 | #20

    @Doni
    Salam Pak Doni,

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Terkait pertanyaan anda :
    1. Investasi adalah bagian dari premi asuransi yang disimpan dalam bentuk investasi. Nilai ini selanjutnya digunakan untuk membayar semua biaya asuransi yang terutang ataupun akan datang, baru kalau ada sisa bisa kamu ambil sebagai nilai tunai. Untuk detailnya bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    2. Pengelolanya bisa internal oleh divisi pengelolaan investasi di perusahaan asuransi, bisa juga oleh anak perusahaan asuransi yang bidang usahanya Manajer Investasi, di outsource ke Manajer Investasi lain atau kombinasi dari dari 3 opsi di atas.

    Semoga bermanfaat.

Comment pages
1 2 1839

 


%d bloggers like this: