Home > Asuransi, Belajar Reksa Dana, Perencanaan Investasi > Unit Link Vs Investment Link

Unit Link Vs Investment Link

Kalau Unit Link Vs Reksa Dana tentu sudah sering dibahas dalam berbagai forum, media, baik yang online maupun yang media cetak. Umumnya, para investor akan lebih disarankan untuk membeli investasi dan proteksi secara terpisah untuk memaksimalkan fungsi investasi dan proteksi. Namun di satu sisi, umumnya unit link menawarkan manfaat rider dan perlindungan asuransi yang komplit. Oleh karena itu, hingga saat ini, masih sulit untuk mengatakan Unit Link atau Reksa Dana + Asuransi mana yang lebih baik, banyak pendapat pro kontra yang beredar.

Seiring dengan perkembangan Zaman, Manajer Investasi dan para pelaku dalam industri reksa dana juga semakin kreatif. Daripada terjebak pada argumentasi mana yang lebih baik, sebagian Manajer Investasi berusaha mengembangkan produk baru untuk memaksimalkan manfaat investasi dan proteksi bagi calon investor. Sehingga berkembanglah yang disebut dengan Investment Link. Dimana Investment Link (kata yang saya karang sendiri) ini saya artikan sebagai Reksa Dana yang memberikan Manfaat Asuransi. Seperti apa Investment Link yang bagus dan apa tantangan untuk produk Investment Link di Indonesia?

Dalam kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat yang menjalankannya. Mohon maaf Lahir dan Batin.

Unit Link

Pada dasarnya Unit Link adalah salah satu dari variasi produk asuransi dimana produk tersebut menggabungkan Asuransi dengan Investasi. Unit Link umumnya ketika dipasarkan, lebih mengutamakan pada fitur asuransi dibandingkan investasinya. Hal ini bisa dilihat dari penawaran yang biasanya menyebutkan besaran Uang Pertanggungan dan Segala manfaat asuransi tambahan seperti rumah sakit, penyakit kritis bahkan asuransi untuk rider (istilah agen asuransi untuk pertanggungan kepada pihak keluarga). Pemberian manfaat pertanggungan juga beragam, ada yang hingga usia 65 – 70 tahun ada pula yang sampai pada 99 tahun. Tergantung jenis dan perusahaan asuransinya.

Sementara itu, Investasi dalam unit link umumnya sering dalam “ILUSTRASI”. Dengan menggunakan beberapa asumsi, calon pemegang polis diberikan gambaran apabila hasil pengembangan investasi sesuai dengan asumsi akan mencapai tertentu pada akhir masa pertanggungan. Umumnya angka tersebut cukup fantastis dibandingkan jumlah uang yang disetorkan, sehingga orang mau mengambil produk unit link tersebut. Bisa tercapai atau tidaknya angka tersebut itu hal lain lagi. Berhubung pengetahuan saya tentang asuransi terbatas, jika ada yang kurang tepat, silakan dikoreksi. Bagi anda yang sudah membeli unit link selama bertahun-tahun juga bisa sharing disini apakah pengembangan hasil investasi telah sesuai dengan perkiraan yang ada dalam “ilustrasi” yang diberikan sejak awal.

Investment Link

Investment Link adalah produk reksa dana (investasi) yang memberikan manfaat asuransi bagi pemegang unit penyertaannya. Perbedaannya, produk ini lebih memberikan penekanan pada Investasi dibandingkan fitur asuransinya. Salah satunya dapat kita lihat dimana amat jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali, suatu reksa dana dijual dengan menggunakan “ilustrasi”. Sebab sebagai produk investasi, adalah melanggar aturan apabila memberikan indikasi return kinerja masa mendatang bagi investor.

Manfaat asuransi diberikan kepada investor dengan beberapa persyaratan seperti minimum investasi hingga nominal tertentu dan harus di investasikan selama kurun waktu tertentu. Belakangan, produk semacam ini telah dikembangkan oleh beberapa Manajer Investasi di Indonesia, hanya saja mungkin belum terlalu diketahui / dipahami oleh umum. Selain itu, dalam pandangan saya, konsep asuransi yang ditawarkan juga masih belum terlalu jelas atau menjawab kebutuhan pemegang unit penyertaan.

Sebagai contoh, kebutuhan asuransi untuk perorangan dapat saya kategorikan sebagai berikut:

  1. Asuransi Jiwa, memberikan manfaat / Uang Pertanggungan (UP) apabila tertanggung meninggal dunia. Idealnya uang pertanggungan harus setara / menggantikan penghasilan yang diberikan oleh tertanggung kepada keluarga semasa hidupnya. Perhitungan UP dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya seperti metode Human Live Value (HLV) yang membagi antara gaji tahunan tertanggung dengan bunga deposito yang berlaku. Misalnya Gaji per tahun 100 juta, Deposito 5%, maka UP yang ideal untuk orang tersebut adalah Rp 100 juta / 5% = Rp 2 M.
  2. Asuransi Kecelakaan, merupakan asuransi yang memberikan manfaat uang penggantian apabila tertanggung mengalami kecelakaan. Dalam Jamsostek umumnya Asuransi Jiwa dan Kecelakaan sudah dicover. Pada produk unit link, meskipun kedua asuransi ini berbeda, umumnya Jiwa dan Kecelakaan sudah dibundel jadi satu.
  3. Asuransi Kesehatan, memberikan manfaat uang penggantian apabila tertanggung masuk Rumah Sakit atau menjalani Operasi, dan Rawat Inap. Asuransi kesehatan sebetulnya juga sudah terdapat dalam Jamsostek atau bagian dari tunjangan perusahaan. Besaran uang penggantian untuk Asuransi Kesehatan berbeda sesuai dengan premi yang diambil dan kondisi kesehatan dari tertanggung. Jika anda mengambil asuransi kesehatan untuk kantor, besaran premi dan manfaat juga dapat disesuaikan  /  ditawar apabila jumlah pesertanya banyak.
  4. Asuransi Penyakit Kritis, merupakan asuransi yang memberikan manfaat uang penggantian apabila tertanggung dideteksi menderita penyakit kritis. Besaran uang pertanggungan amat tergantung pada besaran premi yang diambil, dan seberapa kritis penyakit yang diderita. Sebab untuk beberapa jenis penyakit yang baru pada tahap awal, belum tentu ada penggantian.
  5. Asuransi Pendidikan, merupakan asuransi yang menjadi favorit para orang tua yang mendahulukan kepentingan anaknya. Di permukaan, manfaat asuransi ini seperti memberikan manfaat perencanaan cash flow dalam bentuk distribusi cashflow pada masa anak masuk sekolah. Namun jika dibaca dengan lebih cermat, manfaat yang paling besar dari asuransi ini sebetulnya ada pada asuransi jiwa atas orang tua dari anak tersebut. Jika orang tua meninggal, maka uang pertanggungan diharapkan masih mencukupi kebutuhan pendidikan anak. Jadi pada dasarnya asuransi pendidikan adalah asuransi jiwa ditambah dengan distribusi kas pada tahun anak masuk sekolah. Besaran uang kas yang didistribusikan pada saat anak masuk sekolah sebenarnya jika kita bisa melakukan perencanaan yang cermat dan manajemen uang yang baik serta disiplin, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan.

Berdasarkan kategori saya di atas, maka sebetulnya suatu Investment Link dikatakan baik apabila bisa menggabungkan reksa dana dengan Asuransi Jiwa, Kecelakaan dan Penyakit Kritis. Sebab 3 musibah itulah yang menurut paling bisa mempengaruhi tercapai atau tidaknya tujuan keuangan seseorang. Asuransi Kesehatan menurut saya bersifat opsional karena sudah terdapat dalam tunjangan kantor jika kita menjadi pegawai atau bisa dibeli melalui kartu kredit (saya sering mendapat penawaran asuransi ini melalui telemarketing). Sekarang permasalahannya apakah sudah ada reksa dana yang memberikan 3 manfaat asuransi sekaligus? Rasa-rasanya masih belum ada.

Tantangan Investment Link di Indonesia

Untuk membuat Investment Link yang ideal di Indonesia tentu sangat sulit, sebagai produk investasi yang memberikan bonus asuransi, fungsi investasinya harus berjalan pertama terlebih dahulu. Dengan kata lain performance reksa dana sangat penting. Apakah anda tertarik untuk membeli reksa dana yang memberikan manfaat asuransi jika kinerja reksa dana tersebut hanya medioker atau bahkan di bawah rata-rata? Jadi bagi MI yang ingin meluncurkan produk ini, saran saya sebaiknya MI atau produk reksa dana tersebut sudah memiliki kinerja historis yang cukup lumayan atau sekelompok investor yang memang sudah percaya dengan kinerja produk Manajer Investasi tersebut. Jangan dibalik.

Tantangan kedua adalah bagaimana memberikan manfaat asuransi yang bersaing dengan Unit Link. Produk asuransi dalam unit link sangat bervariasi dan bisa customized sesuai dengan kondisi masing-masing pemegang polis. Anda bisa membuat polis dengan uang pertanggungan Rp 100 juta, Rp 1 M atau bahkan Rp 10 M, tergantung pada kondisi kesehatan, usia, dan tentu pula premi yang sesuai dengan kemampuan kocek anda. Hal demikian agak sulit untuk diterapkan di Investment Link. Sebab, investor reksa dana bervariasi dari anak yang masih kecil dan dibelikan atas nama orang tuanya, mahasiswa baru lulus hingga pensiunan yang sudah berusia renta. Membelikan asuransi untuk semua orang saja sudah menjadi satu masalah tersendiri belum lagi membuat uang pertanggungan yang sama untuk setiap orang yang tentu jika dihitung secara individual, besaran preminya bisa berbeda-beda.

Tantangan ketiga adalah penepatan biaya dan siapa yang membayarnya. Untuk semua manfaat dan bonus tentu ada harga yang harus dibayar. Besaran biaya yang dibayar tentu tergantung pada kesepakatan antara Manajer Investasi dengan perusahaan asuransi. Soal yang membayar, bisa saja dari Manajer Investasi yang menyisihkan keuntungannya atau dari investor itu sendiri yang dibayarkan melalui biaya pengelolaan reksa dana. Dalam hal perusahaan asuransi mendapat persentase tertentu dari biaya pengelolaan, tentu disini terjadi ketidakadilan. Sebab jika ada investor yang tidak insurable karena sudah diluar kriteria asuransi, namun secara tidak langsung investor tersebut juga ikut membayar premi asuransi tersebut.

Tantangan Keempat adalah kesesuaian antara bonus dengan kebutuhan. Seperti yang sudah dibahas, kebutuhan orang untuk asuransi sama bervariasinya dengan kebutuhan orang akan reksa dana. Jika orang yang ingin berinvestasi jangka menengah, dia bisa memilih jenis reksa dana campuran atau pendapatan tetap. Sama halnya juga dengan orang yang berpendapatan Rp 100 juta per tahun dengan Rp 200 juta per tahun, kebutuhan akan uang pertanggungan asuransi tentunya juga berbeda-beda. Apakah lebih baik bagi investor tersebut untuk membeli produk reksa dana dan asuransi yang terpisah tapi disesuaikan dengan kebutuhan, atau membeli Unit Link atau Investment Link yang menggabungkan kedua fungsi tersebut namun ternyata tidak maksimal kedua-duanya?

Dari analisis saya, sepertinya Investment Link masih sulit untuk menggantikan fungsi Unit Link di Indonesia dalam waktu dekat. Bukan saja dari sisi operasional, akan tetapi juga kenyataan bahwa amat sulit untuk memenuhi kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Tinggal bagaimana kreatifitas MI dalam membuat dan memasarkan produk tersebut. Demikian tulisan ini saya sharing, semoga bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Lim swi king
    July 25th, 2012 at 04:04 | #1

    Kalau menurut sy sih… Mau unit link atau investment link.. Sama saja kurang maksimal investasi nya… Masih lebih baik berinvestasi dengan gaya pure vanilla yg dalam artian investasi ya investasi.. Asuransi ya asuransi… Lebih baik dipisah.. Lebih maksimal hasilnya..

  2. Rudiyanto
    July 27th, 2012 at 09:50 | #2

    @Lim swi king
    Saya setuju pak. Hanya saja, kalau di Indonesia, masih cukup sulit untuk mencari yang pure asuransi. Sebab tidak banyak perusahaan asuransi yang mau menawarkan produk tersebut. Lagipula, tidak sedikit juga yang tidak jadi membeli asuransi tersebut ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa uang akan hangus jika tertanggung sehat walafiat.

  3. dedy setiawan
    July 27th, 2012 at 17:05 | #3

    saya salah satu pemegang polis unit link perusahaan asuransi sebut saja asuransi P
    awalnya sih sya juga ragu soalnya yang tertera di ilustrasi memang benar seperti yang bapa bilang angkanya fantastis. tapi saya karna rayuan agen akhirnya ambil juga tuh unitlink kalau saya sekarang saya sangat bersyukur sekali uang saya saya masukan ke unit link karna sekarang uang saya berkembang bahkan lebih dari yang diilustrasikan waktu penawaran sekedar catatan saya sudah menjadi nasabah selama 7 tahun

  4. xellos
    July 27th, 2012 at 18:34 | #4

    Mau tanya Pak, kalau Unit Link apa diawasi Bapepam LK jg (spt mutual fund)? dan apa rambu2nya seketat mutual fund?

  5. Rudiyanto
    July 28th, 2012 at 10:31 | #5

    @dedy setiawan
    Salam Dedy Setiawan,

    Boleh tahu, berapa rasio antara uang yang anda masukkan dengan nilai pasar sekarang. Dalam persentase gpp, misalnya total dana dimasukkan 500 juta, hasil investasi menjadi 550 juta, rasionya berarti 110% (550 – 500) / 500 x 100%.

    Supaya teman-teman pembaca disini bisa mendapatkan gambaran tentang hasil pengembangan investasi dalam berinvestasi di Asuransi.

    Terima kasih sebelumnya atas sharing anda.

  6. Rudiyanto
    July 28th, 2012 at 10:40 | #6

    @xellos
    Salam Xellos,

    Asuransi termasuk dalam bidang usaha yang diatur dalam BAPEPAM-LK. Asuransi termasuk dalam salah satu Lembaga Keuangan (LK). Seiring dengan adanya OJK, mungkin peran pengawasan tersebut nanti ada pembagiannya lagi, saya kurang tahu jelasnya seperti apa.

    Terkait apakah seketat pengawasan reksa dana atau tidak, rasanya hanya BAPEPAM-LK yang bisa menjawabnya. Namun jika dilihat dari aturan publikasi, cara pemasaran, dan lain-lain menurut saya pengawasan reksa dana masih lebih baik dibandingkan asuransi dan unit link.

    Semoga bermanfaat.

  7. Hermawan
    July 31st, 2012 at 14:22 | #7

    Pak Rudi,
    1) Investment link yang Pak Rudi paparkan diatas, apakah sebenarnya memang sudah ada di Indonesia ataukah masih sekedar wacana ? Jika sudah ada, contohnya RD apa ?
    2) Bagaimana dengan investment link di luar negeri sendiri ?

  8. Rudiyanto
    August 1st, 2012 at 00:02 | #8

    @Hermawan
    Salam Pak Hermawan,

    1. Kalau reksa dana yang mendeklarasikan dirinya sebagai investment link saya rasa belum ada. Akan tetapi jika reksa dana yang memberikan bonus asuransi kepada pemegang unit penyertaan sebagai fasilitas sudah ada yaitu BNI AM Dana Terencana. Anda bisa mencoba mencari tahu lebih lanjut dengan bertanya ke perusahaan yang bersangkutan.
    2. Kalau untuk luar negeri saya belum tahu.

  9. Zainal
    August 5th, 2012 at 10:47 | #9

    yth. Pak Rudi. Saya orang yang baru memulai investasi dibidang ini pak. Bulan juli kemaren Saya Ikut Asuransi Dan investasi di perusahaan P.. Link dg investasi equity fund. Kami bayar premi Dan investasi 36 jt per tahun. setelah Saya pelajari di tahun 2009-2010 kinerja investasi mereka sangat baik, di tahun 2011 investasi stagnan bisa dibilang tidak Ada kenaikan yg signifikan. Disamping Asuransi sebetulnya Tujuan utama Saya adalah untuk investasi, setelah membaca tabloid kontan, Saya mlihat kinerja investasi reksadana panin Dana maksima Dan panin Dana unggulan mencapai kinerja terbaik, Dan itu membuat Saya tertarik untuk ikut investasi ini pak. Untuk itu Saya minta Saran bapak sebelum saya top up di P.. Link, Apakah sebaiknya Saya alihkan Aja untuk ikut di reksadana Panin? Jika Saya ikut apa yang paling baik, Dana maksima atau Dana unggulan ? kira2 di tahun 2012 Dan seterusnya reksadana tersebut masih menjadi reksadana unggulan?

  10. Rudiyanto
    August 5th, 2012 at 14:16 | #10

    @Zainal
    Salam Pak Zainal,

    Menurut saya keputusan untuk mengalihkan atau tidak asuransi unit link yang anda miliki saat ini harus didasarkan pada pertimbangan:
    1. Jika dialihkan apakah anda masih memiliki perlindungan?
    2. Apa yang sudah anda siapkan apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada kita?
    3. Apakah anda memiliki akses atau tahu kemana harus membeli produk yang hanya murni asuransi saja?
    4. Apakah anda bersedia membeli produk asuransi dimana uang anda akan hangus jika tidak terjadi apa2?

    Menurut saya kebutuhan akan asuransi masih lebih penting dibandingkan kebutuhan akan investasi. Jadi sebelum berinvestasi, sebaiknya kita sudah menyiapkan asuransi untuk mengantisipasi jika hal yang tidak baik / tidak terduga terjadi pada kita. Paling tidak melakukan kedua-duanya bersamaan. Bisa melalui produk yang sama ataupun terpisah. Jika Pak Zainal menjadi tulang punggung keluarga, maka kebutuhan akan asuransi menjadi tidak bisa ditawar, kecuali pak Zainal sudah memiliki kekayaan / sumber penghasilan yang mampu menjamin taraf hidup jika terjadi hal tidak diinginkan.

    Mengenai keinginan anda untuk berfokus pada investasi, perlu ditekankan bahwa saya tidak menyarankan anda untuk mengalihkan atau tidak mengalihkan produk anda tersebut. Namun jika anda memang ingin berinvestasi pada reksa dana panin, sebaiknya dilakukan dengan terencana. Salah satu cara untuk menyusun program investasi yang terencana bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/
    Bersama Panin Asset Management, saya juga mengembangkan sistem investasi yang mendukung program tersebut dimana bisa anda baca di
    http://www.panin-am.co.id/Resources/Forms/Info%20Panin%20-%20Perencanaan%20Keuangan%20dan%20Program%20Investasi%20Berkala.pdf
    dan
    http://www.panin-am.co.id/Resources/Forms/Mencari%20Tanggal%20Baik.pdf
    dan
    http://www.panin-am.co.id/Resources/Forms/Update%20Program%20Investasi%20Berkala%20-%20Agustus%202012.pdf

    Jika anda membutuhkan bantuan lebih lanjut, anda bisa datang langsung ke CS atau marketing Panin Asset Management dan Panin Sekuritas yang tersebar di Jakarta dan Indonesia.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  11. Hermawan
    August 8th, 2012 at 16:07 | #11

    Yth. Pak Rudy,

    1) Jika kita perhatikan antara situs http://www.panin-am.co.id dan http://www.panam.co.id , terlihat tampilan yang sama persis. Kenapa ada 2 situs berbeda tapi isinya sama, apakah ini nantinya tidak membingungkan nasabah untuk transaksi online? Mengingat kita sering mendapatkan informasi agar berhati-hati terhadap situs yang serupa dan untuk selalu memastikan masuk di “https://”.
    2) Kemudian, ada satu lagi situs yaitu, http://www.pans.co.id . Apa perbedaan situs ini dengan situs pada pertanyaan saya yang no. 1 ?
    3) Mengapa PT. Panin Asset Management lebih sering memilih Bank lain seperti Bank BCA atau CIMB Niaga dalam melakukan transaksi reksadana online, daripada menggunakan Bank Panin sendiri, yang mana sama-sama masih satu induk ?

    Mohon penjelasannya, dan sebelumnya saya mengucapkan terimakasih.

  12. Rudiyanto
    August 10th, 2012 at 08:22 | #12

    @Hermawan
    Yth Hermawan,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Kedua website tersebut adalah milik PT. Panin Asset Management. Jadi memang tampilannya sama. Terkait halaman HTTPS, halaman itu baru dimunculkan jika anda melakukan log in. Dari kedua link tersebut ketika anda mengklik log in untuk melakukan pengecekan saldo, historis transaksi, top up online, akan diarahkan ke halaman https. Website panin bukan website bank atau e-commerce, namun dalam halaman log in dimana data nasabah sangat sensitif kami menambahkan https untuk melindungi data nasabah.
    2. Apakah anda sudah masuk situs tersebut? Jika sudah, tentu anda bisa membaca pada bagian “tentang kami” pada website no 1 dan 2, anda akan menyadari perbedaannya.
    3. Perlu diluruskan kami tidak melakukan transaksi reksa dana online melalui BCA atau CIMB Niaga saat ini. Kami hanya menggunakan fasilitas autodebet di kedua bank tersebut untuk mempermudah transaksi para nasabah. Tidak tertutup kemungkinan menggunakan fasilitas bank Panin di masa yang akan datang.

    Terima kasih.

  13. Megaria Kurnia Arta
    October 6th, 2012 at 11:03 | #13

    Yth : Bapak Hermawan

    saya berprofesi sebagai karyawan bank, yang mengeluti bidang bisnis (marketing funding).. sbelumnya saya lebih menjual produk konvesional bank.. dan saat ini kami selaku staff mulai diarahkan menjual produk investment dan banass kepada nasabah-nasabah kami selain bersaing di lapangan juga lebih lebih berpengaruh mberikan fee base buat peusahaan kami..

    saya juga ingin mengupgrade diri..

    Bapak Hermawan, yg jai pertayaan saya, krn saya masih awam.. langka awal apa yang harus saya pelajari dan lakukan?

    Terima Kasih Banyak Bapak Hermawan..

  14. Megaria Kurnia Arta
    October 6th, 2012 at 12:30 | #14

    maap comment pertama salah org…

    Yth : Bapak Rudiyanto

    saya berprofesi sebagai karyawan bank, yang mengeluti bidang bisnis (marketing funding).. sbelumnya saya lebih menjual produk konvesional bank.. dan saat ini kami selaku staff mulai diarahkan menjual produk investment dan banass kepada nasabah-nasabah kami selain bersaing di lapangan juga lebih lebih berpengaruh mberikan fee base buat peusahaan kami..

    saya juga ingin mengupgrade diri..

    Bapak Hermawan, yg jadi pertayaan saya, krn saya masih awam.. langka awal apa yang harus saya pelajari dan lakukan?

    Terima Kasih Banyak Bapak Rudiyanto..

  15. Rudiyanto
    October 7th, 2012 at 23:55 | #15

    @Megaria Kurnia Arta
    Salam Megaria,

    Saya yakin di tempat anda bekerja sekarang sudah ada program training yang diberikan kepada karyawan yang baru masuk. Apalagi jika ada penawaran produk baru. Yang paling penting adalah pemahaman tentang produk. Untuk teknik menjual, saran saya belajarlah dari senior2 kamu yang sudah berhasil. Ambil hal baiknya hindari hal kurang baiknya.

    Satu lagi, di kota yang keras seperti Jakarta namun memberikan kesempatan luas utk sukses bagi individu yang mau bekerja keras dan bekerja cerdas, kamu tinggal berusaha 2-3 kali lipat dari sales terbaik di tempat kamu. Misalnya jika setiap hari dia bisa mengunjungi 50 orang, maka kamu harus mengunjungi 100 orang. Jika dia belajar after office hour dari jam 6 sampai jam 10, maka kamu tinggal tambah 4 jam lagi sampai jam 2. Jika hal tersebut dilakukan secara konsisten dan diiringi dengan terus berbuat kebaikan, rasa-rasanya anda bisa sukses dimanapun anda bekerja.

    Semoga bermanfaat.

  16. Junk head
    October 29th, 2012 at 11:18 | #16

    Selamat pagi pak….
    Mau nanya, saya sudah mengikuti ansuransi link investasi…saya liat di form nya agar total invest bisa positif minimal 5 tahun.. sampai saat ini saya sudah 3 tahun sementara saya ada uang ngggur sebanyak 25 jt….apakah uang 25 juta itu sebaiknya disimpan di reksadana atau digunakan untuk Top Up di ansuransi link investasi yang kami ikuti,,,,terima kasih

  17. Rudiyanto
    October 29th, 2012 at 13:39 | #17

    @Junk head
    Selamat siang ….

    Saya agak tidak enak menyebut nama anda karena saya yakin tidak ada seorangpun yang mau disebut “Sampah” dalam namanya, kecuali kata Junk berarti hal yang positif dalam bahasa negara tertentu.

    Terkait pertanyaan anda, boleh tahu apa tujuan anda melakukan top up? untuk investasi atau menambah proteksi?

  18. Junk head
    October 29th, 2012 at 13:56 | #18

    Oh iya…penjelasannya kurang lengkap….saya mengikuti ansuransi investasi…yang alokasinya full untuk investasi, jadi tidak ada semacam bayaran untuk proteksi, proteksi diberikan secara gratis (misal meninggal/cacat seumur hidup)…jadi tujuan saya ikut ansuransi ini sebenarnya adalah investasi. Dan saya ingin segera untuk keluar dari zona defisit (karena harus nunggu 5 tahun baru bisa positip), dari aplikasi yg ditawarkan sebenarnya bisa untuk antara 12-18% pertahun di ansuransi ini. jadi sebaiknya dana ngnggur yg saya miliki di gunakan untuk tp up saja atau disimpan direksadana?….mau tanya lagi yg dimaksud dengan NAB/unit tuh apa?”

  19. Rudiyanto
    October 29th, 2012 at 14:04 | #19

    @Junk head
    Kalau boleh tahu, apa yang menurut anda/ penjelasan dari marketingnya bahwa dana anda saat ini masih negatif? apakah kinerja investasi yang kurang baik atau hal lainnya?

    Sebab jika diinvestasi dengan keuntungan 12% per tahun, logikanya langsung untung di tahun pertama. Kenapa mesti menunggu hingga 5 tahun?

    Untuk pertanyaan NAB/Up anda silakan anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/01/back-to-basic-memahami-proses-terbentuknya-reksa-dana/

    Saran saya juga, mesti ini online dan dunia maya. Kita harus belajar menghargai nama kita sendiri. Mulailah dengan menggunakan nama yang sebenarnya jika ingin berkomentar. Semoga bermanfaat.

  20. Junk head
    October 29th, 2012 at 14:57 | #20

    Kalo yang saya tahu, setoran tahun pertama:80%:20%=ansuransi:nasabah
    tahun kedua: 50%:50%=ansuransi:nasabah
    tahun ketiga: 20%:80%=ansuransi: nasabah
    Baru ditahun ke-4 dan seterusnya nasabah memperoleh porsi 100% dari dana yg disetorkan, jadi dari hasil ilustrasi nasabah baru bisa untuk di tahun ke-5….
    Untuk ansuransi dan reksadana apakah ada jaminan seperti di bank dengan LPS nya?”\

    Mengenai nama sudah terlanjur, mungkin di forum lainnya bisa diganti…..”

  21. Rudiyanto
    October 29th, 2012 at 16:10 | #21

    @Junk head
    Bukankah itu berarti program yang anda ikut bukan investasi full akan tetapi asuransi + investasi, dimana anda membayarkan sejumlah uang untuk asuransi dari tahun 1 – 3. Jadi asuransinya tidak gratis.

    Dari ilustrasi kamu bukankah sudah jelas bahwa program yang ada adalah membayar sebagian asuransi dan sebagian investasi, sementara tujuan anda adalah 100% investasi, mengapa kamu masih bingung dengan keputusan apa yang akan kamu ambil? Bukankah instrumen yang kamu pilih sudah tidak sesuai dengan tujuan kamu pada awalnya?

    Sebetulnya tujuan kemana dana menganggur anda itu mau dikemanakan harus jelas. Membalikkan defisit jadi positif atau diinvestasi supaya memberikan hasil lebih. Setelah itu, baru langkah anda diatur dengan lebih jelas.

    Reksa dana dan Asuransi tidak dijamin oleh LPS. Agak beda dengan Singapore, dimana setidaknya asuransi disana dijamin oleh LPS (paling tidak kalau saya dengar iklannya di radio).

  22. chakepp
    December 6th, 2012 at 14:55 | #22

    Dear Pak Rudiyanto,

    Membaca bahasan di atas, saya punya pengalaman terkait dengan Unit Link, dimana dalam berinvestasi ada unsur asuransinya. Pada waktu anak saya masih usia balita saya ditawari oleh agen asuransi agar ikut dalam program pendidikan dimana sebuah perusahaan asuransi menjual produknya untuk dana pendidikan anak.

    Dalam penawaran produknya agen asuransi akan menjelaskan berapa premi yang akan dibayar, berapa kontrak yang akan diambil oleh calon nasabah, dan nilai perlindungan yang akan diterima oleh nasabah bila terjadi musibah pada nasabah dlsb.
    Dengan menyetujui segala persyaratan yang telah dipaparkan oleh agen asuransi, nasabah akan mendapatkan polis dan membayar premi secara periodik sesuai ketentuan dalam rentang waktu yang disepakati antara perusahaan asuransi dan nasabah.

    Secara investasi apa yang telah saya lakukan dalam membeli produk asuransi cukup memberikan keuntungan, karena begitu masa kontrak habis pembayaran dapat dengan mudah diterima sesuai nilai kontrak yang diambil. Disamping itu secara tidak langsung nasabah diuntungkan karena mendapat ‘perlindungan/santunan’ dari asuransi bila terjadi hal yang tak diinginkan pada dirinya, misalnya dapat musibah sepanjang dalama masa kontrak.
    Dari pengalaman menjadi nasabah asuransi sebenarnya dari sisi risiko bisa dibilang relatif kecil sepanjang perusahaan asuransinya profesional dan commit dalam pembayaran pada masa habis kontrak.
    Dalam hal keuntungan jika di-compare dengan investasi lain misalnya reksa dana, mana yang lebih menguntungkan saya tidak bisa mmeberikan jawaban yang tepat. Yang pasti tujuan berinvestasi dapat berhasil dan sampai pada masa yang diharapkan hasil investasi dapat dipetik.
    Demikian sedikit pengalaman saya dalam hal Unit Link dalam berinvestasi.

    Rgds,
    chp.

  23. Rudiyanto
    December 6th, 2012 at 16:34 | #23

    @chakepp
    Salam Chp,

    Sharing yang menarik pak. Boleh tahu, jika tidak keberatan, apakah anda bisa memberikan rasio. Katakan total premi yang anda setorkan adalah Rp 100 juta. Pada akhir masa kontrak diperoleh Rp 150 juta. Sehingga keuntungan anda 50 juta atau 50%. Informasi rasio yang saya maksud adalah angka 50% dan kalau boleh lagi berapa lama rentang waktu polis tersebut anda ikuti.

    Informasi tersebut bisa memberikan gambaran ke semua termasuk ke saya berapa kira2 hasil investasi di unit link asuransi yang anda ikuti. Sebab tidak banyak orang yang mengikuti suatu polis sampai selesai. Entah itu lapse karena tidak mampu bayar lagi atau surrender karena tidak mau mengikuti program tersebut. Sharing anda akan sangat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

  24. chakepp
    December 7th, 2012 at 09:52 | #24

    Dear Pak Rudiyanto,

    Dengan senang hati saya mencoba sharing dalam berinvestasi dengan harapan dapat berbagi pengalaman dan bermanfaat bagi pembaca lain dalam memilih jenis investasinya.

    Sebetulnya dalam polis diterangkan secara rinci isi perjanjian dalam kontrak yang menjadi hak nasabah. Sebagai data lengkapnya saya tidak ingat persis karena waktunya yang sudah cukup lama, tetapi sebagai ilustrasi dapat saya jelaskan secara garis besarnya.
    Pada awal kontrak usia anak saya berumur 2 tahun, dengan nilai kontrak Rp10 juta. Rentang waktu dalam polis sekitar 15 tahun karena program yang diambil adalah dana pendidikan. Jadi pada saat anak lulus SMA masa kontrak berakhir dengan harapan beaya untuk masuk PT tidak terlalu membebani. Dana pendidikan hasil investasi dibayarkan sesuai perjanjian dalam polis dengan pola lulus SD, lulus SMP dan lulus SMA dengan nilai masing-masing Rp 1jt, Rp 3 jt dan Rp 12jt.
    Selama masa kontrak saya membayar premi persemester dengan nilai sekitar Rp 370.000,. Dengan data diatas kira-kira total invstasi saya 2x 370.000×15= Rp 11,1jt. Kemudian hasil dalam investasi yang saya terima secara total adalah Rp16jt. Jadi secara keuntungan hasil yang saya peroleh sekitar Rp 5jt. Karena angka ini tidak didukung data lengkap dan angka pasti, jadi sifatnya dalam angka kisaran yang mendekati dalam pembulatan. Nah, kalau saya tidak salah (Anda bisa koreksi pak) rasio yang saya peroleh sekitar 45% dari investasi ini.

    Demikian pak sharing saya, semoga dapat memenuhi keinginan anda untuk berbagi pengalaman dalam menentukan jenis investasi.

    Salam,
    chp.

  25. Rudiyanto
    December 10th, 2012 at 15:20 | #25

    @chakepp
    Salam Chp,

    Terima kasih atas sharing anda yang berharga tentang asuransi pendidikan. Jika saya analisa secara matematik dengan keterangan sebagai berikut:
    Money Out (Uang yang dibayarkan)
    Rp 370.000 per 6 bulan selama 15 tahun

    Money In (uang diterima)
    Rp 1 juta pada akhir tahun ke 9
    Rp 3 juta pada akhir tahun ke 12
    dan Rp 12 juta pada akhir tahun 15

    Maka secara matematis dan menggunakan konsep Effective Annual Rate (EAR) – tingkat return disetahunkan agar bisa dibandingkan dengan deposito, tingkat return yang anda peroleh dengan skema di atas adalah net 4.53%.

    Jika anda mengikutkan dengan deposito normal dan mendapat keuntungan 8% (karena ini anda ambil di masa lalu dan dimasa lalu rate deposito sangat besar bahkan bisa 2 digit), maka uang yang bisa anda ambil di akhir tahun ke 15 adalah sekitar Rp 16.3 juta.

    Tentu saja, pengorbanan sebesar Rp 4.3 juta (Rp 16.3 juta – 12 juta) ditukar dengan manfaat asuransi yang anda dapatkan, yaitu memproteksi apabila selama masa pembayaran tersebut ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada kita, maka sisa pembayaran akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.

    Apakah 4.3 juta selama 15 tahun itu wajar? kita kembalikan ke masing2 orang tua yang merencanakan pendidikan anaknya. Wajar atau tidak, dengan merencanakan kebutuhan pendidikan anak kita saja sudah merupakan perbuatan yang amat terpuji.

    Kembali, chp, terima kasih atas sharingnya. Semoga bisa memberikan referensi bagi pembaca yang lain. Salam.

  26. chakepp
    December 11th, 2012 at 10:22 | #26

    Salam Pak Rudiyanto,

    Penjelasan yang mencerahkan bagi kita semua. Namun saya ingin sedikit memberikan tanggapan dalam memilih dan pada akhirnya menentukan produk asuransi sebagai investasi.

    Sebelum memutuskan ikut asuransi pendidikan untuk sang buah hati, sebetulnya dari aspek imbal hasil dalam berinvestasi telah diperhitungkan apakah melalui bank dengan depositonya atau dengan ikut asuransi pendidikan. Sebagai keluarga muda pada masa itu, secara kondisi finansial boleh dibilang masih belum sehat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga masih banyak yang menjadi prioritas, sehingga untuk mengumpulkan uang sejumlah Rp.10jt tentunya memerlukan waktu yang agak panjang. Dengan ikut asuransi pendidikan pembayaran premi bisa dilakukan dengan mengangsur setahun dua kali. Di sisi lain ada proteksi yang memberikan keuntungan bagi peserta asuransi. Berbeda jika harus mendepositakan ke bank dengan cara lump sump Rp 10jt, sungguh mengganggu kondisi finansial yang pada masa itu masih sebagai keluarga muda. Dampaknya adalah niat berinvestasi menjadi tersendat dan boleh jadi akan menganggu perencanaan keluarga.

    Saya sependapat banget dalam berinvestasi sebisa mungkin dapat memberikan imbal hasil yang memadai. Tentunya dengan segala pertimbangan yang bijak dari sebuah keluarga untuk memilih jenis investasi sesuai kemampuan finasial yang dimiliki. Teringat masa itu yang menjadi tujuan utama adalah investasi untuk dana pendidikan anak. Soal imbal hasil yang wajar tidak terlintas secara kuantitatif dengan tenggang waktu yang panjang. Dengan segala kemajuan sistem IT saat ini, kita banyak menimba ilmu dengan mengakses berbagai informasi dalam berinvestasi. Berbeda jauh dengan masa ’90an yang sangat terbatas dalam memperoleh informasi bagaimana jika ingin berinvestasi yang sesuai harapan?
    Dengan sharing melalui forum ini banyak memberikan pencerahan kepada kita semua dalam memilih jalur investasi dan satu hal lagi dapat menghilangkan keraguan untuk terus investasi.

    Terima kasih pak Rudi atas ulasannya, dan kalau boleh saya pinjam istilah dalam sebuah acara TV mengatakan, “uang anda kendali di tangan anda..”.
    Semoga…

    Salam,
    chp.

  27. Rudiyanto
    December 11th, 2012 at 13:38 | #27

    @chakepp
    Terima kasih atas sharingnya chp. Semoga keluarga anda bahagia dan sehat selalu.

  28. December 22nd, 2012 at 01:48 | #28

    Produk dengan menggunakan skema Unit Link Asuransi Syariah kini menjadi tren digunakan oleh banyak operator takaful.
    a. Jelaskan dengan singkat tipe skema asuransi syariah jenis ini.
    b. Jika Anda adalah agen takaful kepada siapa Anda akan merekomendasikan produk ini dan mengapa?

    • Rudiyanto
      December 22nd, 2012 at 09:36 | #29

      Salam nurul, pertanyaan Anda salah alamat. Harusnya ditanyakan ke takaful. Terima kasih

  29. jun
    April 2nd, 2013 at 23:32 | #30

    Dear Pak Rudi

    saya baru belajar mengenai investasi terutama di RD, dan mengenai aturan “mainnya” saya sudah mendapat penjelasan dari MI maupun bank. namun disini ada beberapa pertanyaan yg ingin saya sampaikan kepada Pak Rudi.

    Jika kita mulai melakukan investasi RD melalui asuransi xxx, karena saya pernah menerima penjelasan dimana asuransi xxx tersebut memberikan keterangan kepada saya bahwa asuransi ini adalah murni utk investasi dlm jangka waktu 15 Th. sebagai benefitnya jika terjadi sesuatu atas diri saya, jika msh dibawah 15 th, maka ASURANSI AKAN MELANJUTI INVESTASI tersebut sampai masa kontrak habis (15), mnrt saya dari segi keuntungan, jika “ada apa2″…anak saya yang memperoleh manfaatnya.

    dari sudut pandang pak Rudi, apakah menguntungkan jika investasi RD melalui asuransi xxx yg notabene akan mengalokasikan dana 20% th pertama dari jumlah yg disetor…sekian % utk th kedua..dan seterusnya…seterusnya..dan sampai th ke 5, alokasi dana tsb baru dimasukan 100%.

    menurut pengalaman pak rudi, lebih menguntungkan mana mengivestasikan uang kita ke asuransi RD atau investasi RD yang kita lakukan sendiri (beli melalui bank atau MI) untuk jangka 15 Th kedepan. ? jika perencanaan tersebut utk si buah hati.

    terima kasih atas pencerahannya

    • Rudiyanto
      April 2nd, 2013 at 23:37 | #31

      Malam jun, sebelum menjawab pertanyaan anda, boleh tahu, sebetulnya kamu mau berinvestasi atau berasuransi?

  30. jun
    April 4th, 2013 at 08:56 | #32

    @Rudiyanto

    Selamat Pagi Pak Rudi,

    sebenarnya harapan saya untuk berinvestasi, namun saya juga masih bingung utk masa depan si buah hati, karena saya mengharapkan investasi tersebut utk si buah hati, baik itu sekolahnya atau kehidupannya.

    manakah yang lebih menjanjikan utk investasi masa depan ?

    mengenai asuransi sebenarnya sy sudah memiliki utk pengcoveran 1 keluarga + unitlink.

    terima kasih atas masukannya

  31. Rudiyanto
    April 4th, 2013 at 10:35 | #33

    @jun
    Yth Jun,

    Kalau niat anda adalah berinvestasi, maka berinvestasilah. Bagaimanapun produk investasi murni akan lebih baik hasil investasinya dibandingkan produk kombinasi antara investasi dan asuransi.

    Semoga bermanfaat.

  32. jun
    April 5th, 2013 at 09:05 | #34

    Dear Pak Rudi

    Terima kasih atas masukannya. GBU

  33. Dani Santoso
    April 9th, 2013 at 17:13 | #35

    Pak Rudiyanto,

    Terima kasih atas sharing mengenai unit link maupun reksadana dalam blog ini. Saya mempunyai asuransi dan juga bermain dalam bidang reksadana. Ada beberapa hal yang menggugah pikiran saya mengenai unit link dan reksadana. Pertanyaan:

    1. Apabila mengambil contoh reksadana saham sebuah perusahaan dan unit link sebuah perusahaan. Bisakah kita mengetahui mana yang lebih unggul (dalam prosentase) antara RD maupun UL (dengan catatan menghilangkan fee yang rata-rata 5% untuk ukuran UL dan maksimum 3% untuk ukuran RD.

    2. Pada waktu mau membeli RD di bank, petugas bank akan menanyakan soal NPWP dan sedangkan UL tidak diperlukan NPWP. Bisa tolong dijelaskan secara gamblang perihal ini?

    3. Mungkinkah perusahaan asuransi memperkerjakan fund manager (sendiri), meskipun perusahaan asuransi tersebut (juga) mempunyai perusahaan manajer investasi (seperti halnya di RD)?

    4. Menurut kacamata Pak Rudy, apakah bisa tetap berinvestasi di dalam RD dengan tambahan fees sebesar 3-5% dapat melampaui tingkat inflasi di indonesia yang dimana, tingkat inflasi terbilang cukup tinggi (karena NAV memang sudah bersih tetapi inflasi belum dihitung)?

    Sekian dahulu pertanyaan saya, dan terima kasih atas kesediaan Pak Rudy menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

    Salam,
    Dani Santoso

  34. Rudiyanto
    April 9th, 2013 at 19:09 | #36

    @Dani Santoso
    Salam Dani,

    Terkait pertanyaan anda,
    1. Saya pernah membandingkan secara head to head hanya harga dengan harga saja, ada unit link yang kinerjanya lebih baik daripada rata-rata reksa dana, ada juga yang tidak. Karena banyak unit link, pada dasarnya juga sama seperti reksa dana atau gabungan dari beberapa reksa dana (fund on fund). Tapi pada dasarnya hal ini tidak bisa dijadikan sebagai acuan karena biaya UL tidak hanya fee, tapi juga biaya akuisisi, biaya asuransi dan biaya administrasi yang terus terang sebagian besar dari kita tidak tahu berapa besarnya. Untuk apa pula, misalkan suatu UL mengalahkan reksa dana saham sampai berkali-kali lipat tapi katakanlah 100% dari dana UL jadi biaya akusisi?

    2. NPWP itu memang aturan yang kurang adil dari regulator. Namun saya yakin, suatu saat akan dilakukan penyetaraan dimana beli UL juga wajib NPWP. Kalau tidak, semua target pemerintah untuk mencapai 5 juta investor 2017 tidak akan terjadi. Sebagai informasi, NPWP memang merupakan syarat dasar utk menjadi investor reksa dana. Mengapa? logikanya kalau punya dana lebih untuk berinvestasi, tentu juga mampu bayar pajak, karena hal tersebut merupakan kewajiban dari warga negara. Itu menurut saya ya.

    3. Di banyak perusahaan asuransi, terdapat Manajer Investasi. Bedanya , ada yang mengelola sendiri, ada juga yang bekerja sama dengan Manajer Investasi lain. Maksudnya MI sendiri tersebut kerjanya memilih MI luar yang nanti kalau ada dana, diinvestasikan ke MI luar. Tergantung kompetensi saja.

    4. Menurut saya, fee itu sejalan dengan benefit dan service yang diterima. Jika reksa dana tersebut mampu menjustifikasi fee 3 – 5% dengan berbagai macam keunggulan dan fitur2nya kenapa tidak. Wong beli emas yang langsung rugi 5% lebih saja, orang sudah banyak yang mau. Ini masih belum termasuk biaya admin, titip, dll lagi. Bedanya buat orang yang masih tradisional, emas benar2 dilihat sebagai “emas” di masa depan. Reksa dana yang kaga ada bentuk fisik dan lain2, masih dianggap spekulasi dan kurang “menggigit” meski pada kenyataannya kinerja reksa dana yang lebih baik dari emas dalam jangka pendek maupun panjang juga ada.

    Demikian pak Dani, semoga bermanfaat.

  35. rahardjo
    April 14th, 2015 at 15:16 | #37

    Salam pak Rudiyanto,

    Ijinkan saya mengutip tulisan bapak di bagian paragraf ke 2 “Daripada terjebak pada argumentasi mana yang lebih baik, sebagian Manajer Investasi berusaha mengembangkan produk baru untuk memaksimalkan manfaat investasi dan proteksi bagi calon investor.”

    Saat ini para financial planner independent sudah banyak mengedukasi masyarakat melalui buku maupun tulisan di berbagai blog. Mereka mengajarkan bahwa memisahkan fungsi investasi dan asuransi hasilnya jauh lebih maksimal dibandingkan dengan unit link. Dan secara pribadi saya setuju dengan pendapat mereka. Masyarakat awam sudah lama “TERJEBAK” dengan produk unit link ini karena tidak memberikan proteksi yang optimal dan hasil investasi tidak maksimal. Dalam hal reksa dana dikaitkan lagi dengan asuransi (investment link), bukankah ini “JEBAKAN” lainnya?.

    Jika sampai produk invesment link ada dan mulai menjamur, lalu apa bedanya dengan “jebakan” unit link?

    Investasi murni dan Asuransi murni jauh lebih optimal jika dibandingkan dengan unit link.

    Sudah cukup perdebatan antara unit link vs Reksa Dana + Asuransi murni. Jangan ditambah lagi argumentasi invesment link vs Reksa Dana + Asuransi murni.

    Begitu pak pendapat pribadi saya.
    Terima kasih :)

  36. Rudiyanto
    April 15th, 2015 at 23:52 | #38

    @rahardjo
    Salam Pak Rahardjo,

    Justru menurut saya para finansial planner tersebut bisa membuat kajian apakah investment link lebih baik atau tidak jika dibandingkan reksa dana + asuransi langsung.

    Dengan demikian, jika produknya tidak lebih baik ya tidak usah direkomendasikan. Tapi orang mengetahui dengan jelas plus dan minusnya.

    Dunia juga semakin berkembang, unit link menyadari bahwa jika terus begini-begini saja akan sulit bersaing sehingga inovasi baru bermunculan. Sebagai contoh Unit Link yang bisa autorebalancing dari Generali dan unit link yang jaminan tidak akan rugi dan hanya bisa naik dari Axa.

    Jadi pendapat pribadi saya, jika para pelaku mulai dari investor, financial planner, asuransi, manajer investasi dan agen penjual tidak terus menerus “berargumentasi” terhadap produk yang ada saat ini, maka akan sulit muncul terobosan baru.

    Demikian pendapat pribadi saya.

    Terima kasih

  37. October 19th, 2015 at 11:43 | #39

    Dear Pak Rudi,

    Sebelumnya terima kasih, saya sangat suka kolom anda.

    Pertanyaan saya:

    1. Di dalam Unit Link terdapat porsi Investasi, nah investasi yang di maksud di unit link ini apa saja ya?

    2. Investasi yang ada pada unit link tersebut, siapakah yang mengelola? Perusahaan asuransi itu sendiri atau pihak lain (manajer investasi) ?

    Itu dulu pertanyaan saya pak.

    Terima kasih,
    Salam,
    Doni

  38. Rudiyanto
    October 19th, 2015 at 22:42 | #40

    @Doni
    Salam Pak Doni,

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Terkait pertanyaan anda :
    1. Investasi adalah bagian dari premi asuransi yang disimpan dalam bentuk investasi. Nilai ini selanjutnya digunakan untuk membayar semua biaya asuransi yang terutang ataupun akan datang, baru kalau ada sisa bisa kamu ambil sebagai nilai tunai. Untuk detailnya bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/04/my-experience-with-unit-link-2/

    2. Pengelolanya bisa internal oleh divisi pengelolaan investasi di perusahaan asuransi, bisa juga oleh anak perusahaan asuransi yang bidang usahanya Manajer Investasi, di outsource ke Manajer Investasi lain atau kombinasi dari dari 3 opsi di atas.

    Semoga bermanfaat.

 


%d bloggers like this: