Home > Saham, Strategi Investasi > Strategi Income Investing 3 : Dividend Yield Saham Setara Deposito

Strategi Income Investing 3 : Dividend Yield Saham Setara Deposito

Ketika bursa mengalami penurunan, sebetulnya waktu tersebut adalah waktu yang tepat untuk membeli saham atau reksa dana saham. Permasalahannya, terkadang investor sudah ketakutan terlebih dahulu. Ketakutan yang umum adalah kekhawatiran bahwa harga masih akan terus terun sehingga menunda melakukan investasi. Dalam konteks investasi saham, sebetulnya ada strategi investasi alternatif untuk mengatasi ketakutan tersebut. Caranya adalah dengan membeli saham tersebut ketika dividend yield sudah mencapai tingkat yang sama atau kalau bisa lebih tinggi daripada deposito.

Asumsinya kalaupun harga saham terus turun, besaran dividend yield sudah setara dengan deposito, Jadi didiamkan saja sudah seperti investasi deposito. Kalau misalnya di masa mendatang harga naik karena siklus berbalik, keuntungannya dobel, dari dividen dan kenaikan harga. Jika investasi diibaratkan berenang mengarungi lautan ketidakpastian, strategi income investing mempersiapkan pelampung bagi investor. Pelampung ini memberikan pengamanan karena memberikan tingkat returnnya minimal deposito.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara menemukan saham dengan kriteria tersebut? Pada artikel bagian ketiga ini, saya akan mengkombinasikan pengetahuan yang sudah kita dapatkan dari Strategi Income Investing 1 dan Strategi Income Investing 2 beserta contoh nyatanya.

Untuk menerapkan strategi ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan:

1. Menentukan perusahaan yang secara konsisten membagikan dividen.

Penentuan perusahaan yang membagikan dividen dapat dibagi menjadi 2 kategori. Perusahaan yang membagikan dividen karena bersifat mandatory (kewajiban) seperti BUMN  dan perusahaan yang membagikan dividen karena memang perusahaan tersebut juga memiliki dana lebih setelah dialokasikan untuk keperluan ekspansi perusahaan. Meski demikian, BUMN yang memberikan Dividen umumnya juga merupakan BUMN yang menghasilkan keuntungan, hanya saja besaran dana yang dibagikan sebagai dividen lebih mengacu kepada aturan daripada pertimbangan perusahaan dalam melakukan ekspansi.

BUMN yang menguntungkan dan rajin memberi dividen atau perusahaan swasta yang menguntungkan serta memberikan dividen secara kontiniu bisa dipertimbangkan. Perusahaan berbasis komoditas juga bisa dipertimbangkan, namun sebaiknya investor mempelajari historis dividen daripada perusahaan tersebut. Terkadang untuk perusahaan berbasis komoditas, besaran dividen bisa bervariasi dan naik turun, sehingga tidak cocok bagi investor yang menginginkan income yang stabil. Pembagian dividen yang konstan selama 5-6 tahun terakhir bisa menjadi pertimbangan.

Untuk keperluan Blog ini, saya kembali mengambil saham ASII sebagai contoh karena menurut saya selain memiliki fundamental yang amat bagus, perusahaan ini juga membagikan dividen secara konsisten dari tahun ke tahun.

2. Menentukan Horison Investasi dan Menghitung Proyeksi Dividen di Masa Mendatang

Horison investasi amat penting. Sebab income investing ini baru cocok jika diterapkan bagi investor yang mau berinvestasi jangka panjang. Berjalan atau tidaknya suatu strategi juga baru bisa diukur jika horison investasinya jelas. Misalnya bagi investor horison investasinya 1 tahun, maka investasi ketika dilakukan pada tahun 2007 akan salah karena tahun 2008 bursa mengalami kejatuhan. Sementara jika horisonnya adalah 5 tahun, maka strategi investor tersebut dikatakan benar, karena meski sudah jatuh, bursa sudah pulih bahkan lebih tinggi dibandingkan IHSG pada 2007. Dalam kasus income investing ini, maka horison investasi yang saya buat adalah 5 tahun.

Mengenai proyeksi dividen di masa mendatang, sebetulnya cara perhitungannya agak rumit. Karena harus mengkombinasikan faktor seperti proyeksi pertumbuhan perusahaan 5 tahun mendatang, kebijakan pembagian dividen, faktor regulasi perpajakan dari pemerintah terkait dividen dan lain-lain. Untuk itu, saya menyederhanakan proyeksi pertumbuhan tersebut dengan metode CAGR (Compound Annual Growth Rate) dari dividen historis selama 6 tahun terakhir yaitu dari 2005 hingga 2011. Dividen tersebut juga disesuaikan lagi dengan kebijakan stock split atau reverse stocksplit apabila ada. Diasumsikan pula apabila ada right issue atau waran, investor tidak melaksanakan hak tersebut.

Asumsi perhitungan  CAGR dari dividen untuk ASII berikut proyeksinya adalah sebagai berikut:

Dividen Historis Berdasarkan Tahun Dividen Dibagikan

Sumber : http://www.astra.co.id/index.php/investor_info/details/82, dan KSEI diolah

Proyeksi Dividen hingga 2017 berdasarkan CAGR, penyesuaian Pajak Dividen atas individu sebesar 10% dan Stock Split sebagai berikut:

3. Menghitung Dividen Yield Pada Berbagai Skenario Harga

Jika diasumsikan LPS Rate sebesar 5.5%, pajak atas deposito 20%. Maka jika diinvestasikan selama 5 tahun, uang investor akan berkembang dari Rp 100 juta menjadi kira-kira Rp 124 juta atau 24% dari modal. Itupun dengan asumsi LPS rate tidak akan turun. Dengan kata lain, jika investasi saham di ASII bisa menghasilkan total keuntungan lebih dari 24% modal selama 5 tahun, sudah bisa dikatakan saham tersebut memberikan dividend yield setara atau lebih besar dari deposito.

Karena besaran Yield sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menghitung harga pembelian ASII. Seperti yang kita ketahui harga saham amat fluktuatif tidak terkecuali saham ASII yang notabene merupakan market leader dan bluechip yang cukup disegani. Untuk itu saya membuat 5 skenario harga masuk yaitu Rp 5500, Rp 6000, Rp 6500, Rp 7000 dan Rp 7500. Berdasarkan 5 harga tersebut saya akan menghitung dividend yield yang dihasilkan dari tahun 2013 – 2017. Tahun 2012 tidak dihitung karena perusahaan sudah membayarkan sebagian dividen pada bulan Juni ini.

Hasil perhitungan adalah sebagai berikut:

Dengan asumsi bahwa deposito selama 5 tahun pasti akan menghasilkan 24%, ternyata dividend Yield Astra Internasional dengan metode yang saya sebutkan di atas bisa menghasilkan lebih tinggi lagi. Tidak masalah meskipun anda membelinya di atas harga pasar saat ini yang berada di kisaran 6700 – 6800. Tapi tentu saja, asumsi ini baru terpenuhi jika ASII secara konsisten mampu memberikan kenaikan Dividen minimal 29% setiap tahunnya. Atau bisa juga, dividen tidak bertumbuh sesuai harapan, namun anda membeli saham pada harga yang sangat rendah ketika terjadi crash di bursa.

Return ini mengesampingkan pertumbuhan harga saham ASII. Artinya jika asumsi dividen yang saya sebutkan benar2 terjadi, dan harga saham ASII tetap selama 5 tahun pun tidak menjadi masalah karena dividen yang anda pegang sudah lebih besar dari penempatan deposito. Dengan perusahaan sekaliber Astra dan pasar Indonesia yang masih akan terus berkembang, saya 100% yakin bahwa harga saham ASII akan lebih tinggi 5 tahun yang akan datang.

Risiko

Semua strategi tentu ada risikonya. Risiko yang pertama dari strategi ini adalah masa investasi yang amat panjang. Anda harus cukup bersabar untuk buy and hold dan tidak melakukan apa2 terhadap investasi anda selama 5 tahun meski harganya naik turun. Risiko kedua adalah jika ternyata perusahaan pailit atau mengalami masalah keuangan yang menyebabkan pembayaran dividen perusahaan terhambat. Risiko ketiga yaitu regulasi. Apabila terjadi perubahan pada aturan perpajakan misalnya pengenaan pajak dividen yang lebih besar maka hal ini bisa menyebabkan tingkat keuntungan investor berkurang.

Kesimpulan

Nah, setelah membaca Strategi Income Investing yang terdiri dari 3 bagian ini, apakah anda berminat untuk mencobanya? Bagi mahasiswa yang sedang mencari2 topik untuk skripsi atau thesis mungkin bisa saja membuat perhitungan di atas dengan asumsi yang lebih sempurna seperti membuat perkiraan kenaikan laba bersih yang lebih riil (tidak menggunakan CAGR) yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi. Atau bisa juga saham lain seperti UNVR yang terkenal memiliki Dividend Payout Ratio yang sangat besar. Bisa juga penerapan strategi ini pada sektor perkebunan pertambangan yang laba perusahaan fluktuatif.

Demikian artikel ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Saham, Strategi Investasi Tags:
  1. awi
    June 29th, 2012 at 20:04 | #1

    Makasih bt infonya, menambah cakrawala baru buat berinvestasi.

  2. kresna rudy kurniawan
    July 2nd, 2012 at 07:38 | #2

    Pak Rudy ,
    Dimana kita bisa dapat informasi saham2 apa aja yg membagi deviden ???

  3. Rudiyanto
    July 2nd, 2012 at 08:54 | #3

    @kresna rudy kurniawan
    Yth Pak Kresna,

    Untuk informasi tersebut bisa diambil dari website resmi seperti IDX, KSEI atau komersial seperti Yahoo, IMQ atau RTI. Ada yang harus berlangganan ada pula yang gratis. Namun dari pengamatan saya, informasi tersebut ada yang tidak lengkap. Ada pula yang berbeda antara sumber yang satu dengan sumber lainnya. Paling amannya ambil dari website resmi perusahaan dan bandingkan dengan bursa. Bisa juga ditanyakan ke Investor Relation dari masing-masing perusahaan.

    Semoga bermanfaat.

  4. Hyung
    July 4th, 2012 at 23:18 | #4

    Yth Pak Rudy

    saya ingin bertanya tentang perhitungan bunga deposito. adakah rumus untuk menghitung bunga deposito yang berlaku sama bagi seluruh Bank di Indonesia.
    mohon info dari pak rudi. bagaimana cara menghitung bunga deposito.

    terimakasih

    Salam.

  5. Rudiyanto
    July 5th, 2012 at 08:44 | #5

    @Hyung
    Yth Hyung,

    Cara yang paling baik untuk mengetaui jawaban pertanyaan kamu adalah kamu datang langsung ke Bank dan tanyakan tata cara perhitungan deposito ke Customer Servicenya. Bisa juga dengan menempatkan deposito langsung dan kemudian coba telusuri apakah sudah sesuai dengan yang dikatakan. Kamu bisa coba datang ke beberapa bank untuk membandingkan cara tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  6. marlina
    September 7th, 2012 at 22:01 | #6

    yth bpk rudy mau tny kr2 apa penyebab rasio eps,per,pbv,dividen yield dan dividen payout ratio pd perushaan asing(pma) bs sm dgn perushaan domestik(pmdn)? sy mengambil skripsi ttg perbandingan kinerja pma dan pmdn dilihat dri 5 rasio tsb stlh diuji spss ternyata tidak trdpt perbedaan antra k2 perusahaan pma maupn pmdn..mohon dbntu y pak..

  7. Rudiyanto
    September 10th, 2012 at 10:12 | #7

    @marlina
    Yth Marlina,

    Kalau menurut saya, pertanyaannya bukan di kenapa sama. Seharusnya dimulai dari dasar teori yang kamu gunakan untuk topik penelitian skripsi kamu. Misalnya jika di dalam bab II tentang teori skripsi yang kamu gunakan, terdapat suatu teori atau statement yang mengatakan seharusnya rasio tersebut sama atau berbeda. Maka kamu harus memulai dari teori tersebut untuk mencari tahu kenapa rasio keuangan yang kamu kemukakan di atas dikatakan harusnya sama, berbeda, lebih besar atau lebih kecil. Baru dari teori itu, kamu telusuri untuk saham yang kamu teliti.

    Jika kamu tidak memulai dengan cara demikian takutnya ada 1001 alasan yang menyebabkan hal kenapa rasio tersebut bisa sama atau berbeda. Mulai dari likuiditas, ekspektasi pasar sampai kebijakan pemerintah dan kondisi global. Jadi memulainya yang harus tepat.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih

  8. November 28th, 2012 at 19:37 | #8

    Pak Rudy,

    Terima kasih buat informasinya yang sangat membuka wawasan.

    Saya sedang mencoba melakukan perhitungan proyeksi dividen untuk Saham CPIN (Charoen Pokphand Indonesia) dengan metode yang telah dipaparkan di atas.

    Data yang saya ambil adalah dari :

    http://www.idx.co.id/Home/ListedCompanies/CompanyProfile/tabid/89/KODE_Q/cpin/language/id-ID/Default.aspx

    Data Devidennya adalah sebagai berikut :

    Tunai Final, 2009, 643.774.035.968
    Tunai Final, 2010, 652.640.400.000
    TUnai Final, 2011, 688.716.000.000

    Jika dihitung CAGRnya adalah 3.4% apakah sudah benar ?

    Untuk melakukan proyeksi, kalo sy tidak salah yg dibutuhkan adalah deviden per lembar saham, pertanyaan saya bagaimanakah mendapatkan nilai deviden per lembar sahamnya ?

    Mohon bantuannya Pak.

    Terima kasih

  9. Rudiyanto
    November 29th, 2012 at 08:29 | #9

    @Juan
    Salam Juan,

    Terkait pertanyaan anda silakan anda coba link ini http://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/PerformanceSummary/CPIN.pdf

    Untuk CAGR sepertinya masih salah deh. Kalau dengan 3.4%, hasil dari tahun 2009 ke 2011 adalah 688.289….. bukan 688.716. Coba kamu hitung lagi, kalau bisa kamu searching cara hitung Geometric Mean di google.

    Ngomong2 Websitenya bagus sekali, apakah ada review utk jalan2 di daerah Manado dan Makassar?

  10. November 29th, 2012 at 23:35 | #10

    Pak Rudiyanto,

    Terima kasih buat replynya…

    Setelah dibuka linknya, kelihatannya CPIN kurang teratur dalam melakukan pembayaran dividen.

    Ternyata CAGRnya kurang detil ya Pak untuk menghitung nilai sebesar itu, setelah saya coba masukkan nilai CAGR yg lebih detil yaitu 3.43162732597468 % baru hasilnya benar.

    Tapi setelah melihat history dividennya, saya berencana mencari saham yang lain untuk dilakukan proyeksi, kira-kira ada rekomendasi Pak ? :)

    Kalo Geometric Mean Calculation itu digunakan untuk apa kalo boleh tau ?

    Terima kasih telah mengunjungi web kami, mohon saran dan masukannya… :)

    Untuk review daerah Makassar dan Manado di website kami sementara kami susun Pak. Nanti saya akan kabari jika informasinya sudah tersedia…

    Regards,

    Juan

  11. Rudiyanto
    November 30th, 2012 at 08:42 | #11

    @Juan
    Salam Juan,

    Untuk daftar sahamnya kamu bisa lihat dalam daftar IDX30 atau Kompas100. Geometric Mean itu juga salah satu cara untuk menghitung CAGR. Namun jika kamu sudah punya cara sendiri untuk menghitung angka tersebut, maka lebih baik menggunakan cara yang kamu pahami.

    Untuk review daerah makassar dan manado saya hanya tanya2 saja pak. Tidak perlu dikerjakan secara khusus.

    Semoga bermanfaat.

  12. SK
    June 2nd, 2013 at 15:57 | #12

    @Rudiyanto
    Pak Rudiyanto, sharingnya sangat berguna. Ini seperti menabung saja, tetapi menabung saham. Dan hasilnya tentu akan lebih menggembirakan asal sabar.

    Saya kebetulan sedang mencari daftar emiten per sektor dan sub sektor. Di web BEI juga tidak ketemu, di mana kiranya saya bisa menemukan info resminya yang update?

  13. Rudiyanto
    June 2nd, 2013 at 16:03 | #13

    @SK
    Salam SK,

    Semua data tersebut ada di website BEI. Baru-baru ini saya melakukan riset dengan mengambil data yang sama dari Website BEI juga. Coba dicari dengan lebih teliti lagi.

    Semoga beruntung.

  14. anto
    February 10th, 2014 at 06:46 | #14

    Pak Rudiyanto, saya mau tanya bagaimana melihat market saham di bursa jakarta ?
    kalau yg di toronto stock exchange kan bisa dilihat di the globe and mail
    atau di tmx.com
    terima kasih dan salam
    Anto

  15. Rudiyanto
    February 11th, 2014 at 15:39 | #15

    @anto
    Salam Pak Anto,

    Kalau saya biasanya suka mengecek via fasilitas online perusahaan sekuritas tempat saya membeli saham seperti http://www.post.co.id (yang butuh log in) atau terkadang kalau cuma lihat IHSG berapa saja, di http://www.makindo-ct.com/asp/JCIMArketIndex.asp

    Semoga bermanfaat.