Home > Analisis Instrumen Saham, Saham > Strategi Investasi Income Investing (2)… Mengenal Dividend Yield

Strategi Investasi Income Investing (2)… Mengenal Dividend Yield

Pada artikel sebelumnya tentang income investing, dijelaskan bahwa ada salah satu alternatif strategi yang bisa digunakan oleh investor saham untuk berinvestasi secara konservatif di bursa saham. Caranya adalah dengan membeli saham yang secara konsisten membagi dividen dan berharap dari pendapatan dividen tersebut. Fluktuasi harga dianggap sebagai faktor sampingan. Artinya jika turun, kita tidak perlu pusing karena yang diharapkan adalah dividennya, jika harganya naik anggap saja sebagai bonus tambahan. Dengan demikian, kecuali perusahaan tersebut bangkrut, kita tidak perlu lagi khawatir dengan fluktuasi harga di bursa. Sebab terkadang harga saham di bursa bisa bergerak amat berbeda dengan kinerja fundamental perusahaan maupun ekonomi makro suatu negara.

Nah, jika anda tertarik untuk melakukan strategi ini, maka ada satu istilah yang harus anda ketahui yaitu dividend yield. Dengan mengetahui dividend yield ini, anda bisa menentukan saham apa yang cocok untuk menjalankan strategi investasi ini. Jika Investasi dianggap sebagai pohon duit, maka Dividend Yield adalah berapa persen bunga yang dihasilkan setiap tahunnya. Dalam tulisan kali ini, saya menggunakan contoh saham Astra Internasional (ASII), melanjutkan contoh pada tulisan saya sebelumnya. Seperti apakah hasilnya? Dan apakah strategi ini cukup menguntungkan untuk dijalankan?

Menghitung Dividend Yield

Kunci dalam menjalankan strategi income investing adalah mengetahui besarnya Dividend Yield dari suatu saham. Dividen adalah bagian dari laba bersih yang disisihkan oleh Manajemen kepada pemegang saham. Besaran dividen dikatakan bagus apabila sampai pada satu titik optimal dimana besaran yang dibagikan tidak mengganggu rencana ekspansi perusahaan di masa mendatang dan tumbuh dari tahun ke tahun (dengan kata lain, laba bersih perusahaan juga tumbuh). Bagaimana cara menghitung besaran dividen yang optimal ini merupakan satu pelajaran mata kuliah keuangan sendiri lagi. Fokus kali ini adalah pada dividend yield.

Dividend Yield dihitung dengan cara membagi dividen dengan harga saham. Yang jadi masalah disini, DIVIDEN apa yang digunakan? Sebab dari informasi di artikel Income Investing, ada 2 macam dividen yang bisa dikombinasikan. Dividen Interim, Dividen Final, Penjumlahan Antara Dividen Interim dengan Dividen Final Tahun Yang sama atau Tahun yang sebelumnya? Belum lagi soal HARGA, Harga sebelum tanggal cum dividen interim? harga sebelum tanggal cum dividen final? harga akhir tahun sebelumnya? harga rata-rata dan dari kapan ke kapan? harga paling tinggi? harga paling rendah?

Melihat demikian banyaknya kemungkinan di atas, terkadang saya sangat meragukan angka dividend yield 2-3% yang disebutkan untuk saham di Indonesia mengingat fluktuasi harga saham sedemikian besarnya di Indonesia. Sebab angka itu dikutip dari (umumnya) dari sumber yang sudah dianggap terpercaya seperti dari bloomberg atau reuters, sehingga tidak diteliti lebih jauh lagi darimana asal angka tersebut. Tapi saya tidak mengatakan angka tersebut salah. Dalam kesempatan kali ini kita akan mencoba menghitung besaran dividend yield tersebut.

Komponen Dividen

Dividend Historis Astra Internasional bisa anda peroleh dari Sumber Yahoo Finance atau dari sumber yang lebih resmi seperti KSEI. Untuk contoh mari kita berfokus pada dividen tahun 2011. Karena banyaknya definisi dividen, maka saya membuat 2 simulasi sebagai berikut:

  1. Dividen 2011 adalah jumlah seluruh dividen yang diterima dari PENDAPATAN PERUSAHAAN TAHUN 2011
  2. Dividen 2011 adalah jumlah seluruh dividen yang diterima SELAMA TAHUN 2011

Berdasarkan 2 definisi tersebut maka:

 

 

 

 

Langkah selanjutnya adalah harga. Untuk bisa mendapatkan dividen, maka investor harus memiliki saham tersebut setidaknya pada tanggal cum date. Jadi dengan asumsi untuk mendapatkan dividen perusahaan yang dihitung dari Pendapatan Perusahaan selama 2011, maka investor setidaknya harus memiliki 1 lot pada tanggal 27 Mei 2011 dan 16 Mei 2012. Sementara apabila dividen yang dihitung dari Besaran Dividen yang Diterima Selama 2011, maka investor harus memiliki 1 lot astra pada tanggal 27 Mei 2011 dan 26 Okt 2011.

Komponen Harga

Penentuan harga dalam perhitungan Dividen Yield menjadi salah satu kendala tersendiri. Dalam pasar modal, tanggal pembagian dividen itu sudah seperti window dressing. Menjelang pembagian dividen, umumnya harga saham akan naik dan kemudian akan turun setelah pembagian dividen dilakukan. Oleh karena itu, memiliki saham tepat pada saat cum date umumnya kurang menguntungkan. Untuk bisa memaksimalkan keuntungan dari dividen, investor sebaiknya sudah memiliki saham jauh sebelum tanggal cum date. Permasalahan kedua, harga saham yang jauh sebelum cum date juga umumnya berfluktuasi mengikuti kondisi pasar. Terkadang harganya bisa tinggi, terkadang bisa pula sangat rendah.

Untuk itu saya membuat definisi sendiri. Harga untuk menghitung besaran dividend yield adalah 1 (Satu) Hari Setelah Harga MEDIAN Dari Cum Date periode sebelumnya hingga Cum Date periode yang akan datang . Median adalah harga tengah, berbeda dengan rata-rata, harga median benar-benar merupakan harga yang bisa didapatkan oleh investor. Dengan tetap menggunakan data acuan yang ada di KSEI, maka hasil rangkuman saya adalah sebagai berikut (saya juga lampirkan harga tertinggi dan terendah supaya investor bisa mendapatkan gambaran fluktuasi harga). Hasil perhitungan saya sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Selanjutnya Dividend Yield dihitung dengan membagi antara dividen dengan harga yang ditentukan.

Sebagai contoh Dividend Yield Tahun 2011 yang menggunakan Pendapatan Perusahaan 2011 dan Harga Median adalah sebagai berikut:

600 / 66.150 + 1.380 / 72.200 = 2.82%

Sementara Dividend Yield yang dihitung dengan membagi antara Dividen Yang Diterima Selama 2011 dan Harga Median adalah sebagai berikut:

1.130 / 54.450 + 600 / 66.150 = 2.98%

Perbedaannya ternyata tidak terlalu besar. Perbandingan Dividend Yield dengan menggunakan harga tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Harga Akhir Tahun Sebelumnya Sesuai Buku Teori

Tentu, selain teori yang saya kemukakan, investor juga bisa menggunakan harga penutupan pada tahun tahun sebelumnya. Sebab pada buku teori, memang harga itulah yang digunakan. Namun, jika dipergunakan, misalnya dalam kasus ini sebagai contoh harga Astra Internasional pada akhir 2010, maka dividen yang digunakan haruslah Dividen Yang Diterima Pada Tahun 2011, bukan Dividen Yang Berasal Dari Pendapatan Perusahaan Pada Tahun 2011. Padahal secara prinsip, Dividen yang berasal dari Pendapatan Tahun 2011 lah yang lebih benar, namun karena pembayaran dividen final berdasarkan pendapatan perusahaan baru dilakukan pada tahun 2012, maka secara aplikasi rasanya agak janggal membandingkan dividen yang dibagikan pada tahun 2012 dengan harga saham pada akhir tahun 2010. Dengan harga ASII pada akhir 2010 adalah 54.550 dan total dividen 2011 sebesar 1.730 maka besarnya Dividend Yield adalah 3.17%.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka Dividend Yield untuk ASII sepertinya memang kebetulan benar untuk tahun 2011 berada di kisaran 2%-3%. Namun dari berbagai variasi yang ada, menurut saya konsep yang paling aplikatif bagi investor adalah Dividend Yield yang dihitung dengan HARGA PENUTUPAN AKHIR TAHUN SEBELUMNYA dengan DIVIDEN YANG DITERIMA DALAM 1 TAHUN YANG SAMA. Dalam contoh artikel ini, adalah dividend yield yang sebesar 3.17%. Bagaimana menurut kamu? yah, boleh setuju, boleh juga tidak. Namanya juga sharing.

Jangan lupa, yang namanya dividen itu masih dikenakan pajak final sebesar 10% jika kamu adalah investor perorangan dan 15% jika kamu adalah investor berbentuk badan hukum. Jadi perlu disesuaikan kembali. Dengan demikian, hasil bersih yang diterima oleh investor menjadi sekitar 2.85%. Untuk mengetahui apakah strategi ini layak dijalankan atau tidak, maka kita perlu menghitung dividend yield dari tahun ke tahun. Sehubungan dengan pembahasan artikel ini sudah cukup panjang, maka saya baru akan membahas pada kesempatan yang akan datang. Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Analisis Instrumen Saham, Saham Tags:
  1. November 3rd, 2012 at 07:35 | #1

    Kami juga mempunyai artikel tentang saham silahkan dibaca semoga bermanfaat dan berikut adalah link nya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3604/1/jurnal%20dengan%20hrga%20saham.pdf terimakasih

 


%d bloggers like this: