Home > Belajar Reksa Dana, Strategi Investasi > Memilih Reksa Dana Berdasarkan Strategi Investasi

Memilih Reksa Dana Berdasarkan Strategi Investasi

Selama ini, salah satu metode pemilihan reksa dana adalah mencocokkan karakteristik reksa dana dengan profil risiko dan karakteristik risk and return dari suatu reksa dana. Namun seiring dengan perkembangan, investor juga menjadi semakin pintar dan lebih memahami tentang investasi. Sebagian investor mulai menggunakan strategi investasi sebagai salah satu panduan dalam memilih reksa dana. Sebab bagi mereka, return tinggi bukan pertimbangan utama, namun bagaimana mencapai tingkat return tersebut dan apakah cara tersebut nyaman di mata investor. Seperti apa strategi investasi reksa dana yang tersedia saat ini?

Strategi investasi reksa dana adalah strategi yang digunakan oleh para Manajer Investasi dalam menjalankan portofolio investasi reksa dananya. Karena basis portofolio reksa dana bermacam-macam yang terdiri dari saham, obligasi dan pasar uang, maka saya mengkategorikan strategi reksa dana berdasarkan kriteria-kriteria sebagai berikut:

Strategi Investasi Pasif dan Strategi Investasi Aktif

Reksa Dana Strategi Investasi Pasif adalah reksa dana yang sangat pasif dalam menjalankan pengelolaan portofolio investasinya. Umumnya reksa dana yang masuk kategori ini memungut biaya pengelolaan (management fee) yang rendah dan hanya memberikan tingkat pengembalian yang setara dengan pasar / indeks atau memberikan bunga dan kupon obligasi kepada investor secara periodik. Jenis reksa dana yang masuk kategori ini antara lain ETF (Exchange Traded Fund) baik saham ataupun obligasi,  Reksa Dana Terproteksi dan Reksa Dana Pasar Uang. Bagi investor yang percaya bahwa dalam jangka panjang reksa dana akan susah mengalahkan return pasar (baik saham ataupun obligasi), ataupun investor konservatif yang ingin reksa dana dengan tingkat return yang lebih pasti, maka reksa dana kategori ini bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Reksa Dana Strategi Investasi Aktif adalah reksa dana yang aktif dalam menjalankan pengelolaan portofolio investasi dan berusaha memberikan tingkat return di atas tingkat pasar. Bisa dibilang hampir sebagian besar dari reksa dana yang ada saat ini bisa dikategorikan sebagai reksa dana  dengan strategi investasi aktif. Hanya saja, strategi yang digunakan untuk memberikan imbal hasil yang mengalahkan tingkat return pasar berbeda-beda. Berdasarkan portofolio investasi yaitu saham dan obligasi, strategi aktif yang digunakan dapat dibagi menjadi sebagai berikut.

Strategi Investasi Growth Investing dan Value Investing Untuk portofolio berbasis saham.

Growth Investing dan Value Investing adalah strategi investasi yang sangat dikenal dalam teori investasi dan juga dipraktekkan oleh investor-investor legendaris seperti Warren Buffet dan Benjamin Graham. Growth Investing adalah strategi investasi dimana dalam pemilihan saham didasarkan pada perusahaan yang tingkat pertumbuhannya di atas rata-rata meski secara valuasi, bisa saja harga saham tersebut sudah dikategorikan relatif mahal. Saham yang masuk dalam kategori ini disebut growth stock.

Berlawanan dengan Growth Investing, Value Investing adalah strategi investasi dimana pemilihan saham didasarkan pada perusahaan yang fundamentalnya baik, memiliki prospek dan model bisnis yang jelas serta secara valuasi relatif lebih murah dibandingkan saham secara umum. Saham yang masuk dalam kategori ini disebut value stock.

Secara praktek, amat sulit untuk mencari reksa dana yang dikategorikan sebagai value investing atau growth investing karena belum ada garis pemisah yang benar-benar jelas antara saham mana yang masuk kategori value stock dan growth stock. Selain itu, saham yang masuk kategori growth stock, seiring dengan waktu bisa berubah menjadi value stock dan sebaliknya sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi. Definisi antara value stock dan growth stock antar manajer investasi juga bisa berbeda-beda.

Salah satu cara untuk mengenali strategi investasi ini adalah dengan melihat portofolio investasinya. Apabila portofolio investasi reksa dana, secara konsisten mayoritas berisi saham yang sedang tren saat ini, bisa dikategorikan sebagai reksa dana dengan strategi growth investing. Sementara, apabila secara konsisten mayoritas isi portofolio terdiri dari saham yang sedang tidak tren di pasaran dan memiliki valuasi yang relatif rendah, maka kemungkinan suatu reksa dana bisa dikategorikan dalam value investing. Bagi investor yang ingin memilih reksa dana saham berdasarkan strategi ini tentunya harus memiliki pengetahuan tentang saham yang cukup mendalam pula.

Keunggulan Growth Investing adalah karena portofolio yang lebih sesuai dengan kondisi pasar, terkadang dalam jangka pendek tingkat kenaikannya sama atau bahkan lebih tinggi dari pasar. Namun karena berisi saham dengan valuasi yang tinggi, maka potensi risikonya juga lebih besar. Sementara reksa dana saham dengan Value Investing memiliki keunggulan terdiri dari saham dengan prospek fundamental yang bagus dan valuasi yang murah. Meski demikian, dalam jangka pendek terkadang kinerja reksa dana mungkin akan kalah dibandingkan kondisi pasar secara umum karena fundamental yang bagus dan valuasi yang murah tidak menjamin harganya akan naik karena tidak menjadi tren pasar. Kenaikan harganya baru akan terlihat dalam jangka panjang dan jika pemilihan sahamnya tepat, tingkat return yang dapat dihasilkan berpotensi mengalahkan tingkat return pasar.

Hingga saat ini memang belum ada studi empiris yang menunjukkan strategi mana yang lebih baik antara value investing dan growth investing untuk kategori reksa dana di Indonesia. Terkadang Manajer Investasi juga menerapkan kedua prinsip tersebut dalam portofolio investasinya. Perlu diingat pula bahwa Value Stock belum tentu adalah saham blue chip dan Growth Stock belum tentu adalah saham second atau third liner.

Strategi Durasi Untuk Reksa Dana Berbasis Obligasi

Durasi adalah satuan risiko dalam obligasi seperti halnya beta dalam saham. Durasi obligasi menyatakan tingkat sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan tingkat suku bunga. Hubungan antara Durasi dan perubahan suku bunga bersifat negatif. Sebagai contoh sebuah obligasi dengan durasi 5, mengindikasikan jika suku bunga naik 1% maka harga obligasi diperkirakan akan turun 5% dan sebaliknya jika suku bunga turun 1% maka harga obligasi diperkirakan akan naik 5%.

Berdasarkan kondisi makro ekonomi dan ekspektasi perubahan inflasi dan suku bunga, Manajer Investasi akan mengatur portofolio reksa dana pendapatan tetap sedemikian rupa sehingga dapat meminimalkan risiko obligasi sekaligus memaksimalkan potensi return (koreksi). Namun, ada pula reksa dana pendapatan tetap yang fokus pada tingkat durasi tertentu karena dianggap sudah paling optimal. Berdasarkan durasi portofolio pada reksa dana pendapatan tetap, saya mengkategorikan strategi durasi pada reksa dana berbasis obligasi menjadi:

  • Panjang dengan durasi > 5
  • Menengah dengan durasi 3-5
  • Pendek dengan durasi <3

Perlu diingat bahwa durasi tidak sama dengan jatuh tempo. Salah satu cara untuk mengetahui tingkat durasi adalah dengan membaca informasi tersebut pada Fund Fact Sheet reksa dana. Sebagian Manajer Investasi yang transparan terhadap nasabah akan memasukkan informasi tersebut ke dalam laporan fund fact sheetnya.

Panjang, menengah dan pendek dapat diartikan sebagai risiko tinggi, moderat dan rendah pada reksa dana pendapatan tetap. Jadi meskipun dibandingkan reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap sudah dikategorikan berisiko rendah, namun antara sesama reksa dana pendapatan tetap juga bisa dibagi lagi menjadi tinggi, moderat dan rendah. Hal ini bisa menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memilih reksa dana pendapatan tetap.

Reksa Dana dengan Strategi CPPI

Reksa Dana Campuran yang portofolionya terdiri dari saham dan obligasi dengan strategi investasi aktif umumnya menggunakan kombinasi antara value dan growth investing untuk saham dan strategi durasi untuk portofolio obligasinya. Di luar strategi tersebut, meski sedikit ada juga Manajer Investasi yang mengembangkan strategi investasi baru yaitu strategi CPPI (Constant Proportion Portfolio Insurance). Reksa Dana Campuran dengan strategi CPPI ini umumnya adalah strategi yang menjalankan fungsi rebalancing secara otomatis (auto rebalancing) sesuai dengan kondisi pasar sehingga mampu meminimalkan risiko dan memaksimalkan tingkat return.

Di Indonesia, produk reksa dana dengan strategi CPPI pertama kali dikembangkan oleh PT. BNP Paribas Investment Partners. Salah satu fitur dari produk ini adalah berusaha memberikan perlindungan kepada investor dengan membatasi maksimum kerugian yang mungkin terjadi pada reksa dana tersebut melalui skema auto rebalancing. Umumnya reksa dana dengan strategi ini lebih berorientasi pada membatasi tingkat risiko. Bagi investor yang mencari reksa dana yang bisa dengan risiko terbatas, reksa dana dengan strategi ini bisa menjadi salah satu pertimbangan. Hanya saja perlu diingat bahwa reksa dana tidak memberikan jaminan, namun berusaha menjaga potensi risiko melalui skema pengelolaan sama halnya seperti reksa dana terproteksi yang tidak memberikan garansi akan pokok investasi. Jadi tetap ada kemungkinan investor mengalami kerugian lebih besar dari skema yang diberikan.

Demikian artikel kali ini, semoga bisa menambah wawasan anda akan investasi reksa dana. Selamat berinvestasi.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. prayudi
    June 6th, 2012 at 12:02 | #1

    Pak bisa diberikan bebera contoh RDS yang menganut Value/Growth investing?
    thanks

  2. Rudiyanto
    June 9th, 2012 at 17:48 | #2

    @prayudi
    Yth Prayudi,

    Seperti yang saya kemukakan di atas, prakteknya agak sulit. Kendalanya:
    1. Meski sama2 menganut strategi growth atau value, belum tentu isi portofolionya sama
    2. Definisi value dan growth bisa berbeda antara Manajer Investasi karena tidak hanya melihat unsur fundamental tapi juga valuasi.
    3. Manajer Investasi yang mengklaim menggunakan gaya tertentu, bisa saja berubah ditengah jalan. Atau bisa juga tidak mutlak karena kombinasi antara value dan growth di tangan MI yang ahli bisa memberikan nilai tambah bagi reksa dana.

    Satu-satunya cara yang paling mendekati yang bisa digunakan adalah mengukur PE ratio dari holding reksa dana. Jika PE Ratio portofolio di bawah rata-rata pasar kemungkinan reksa dana tersebut menggunakan pendekatan Value. Karena value menekankan pada perusahaan bagus dengan harga murah. Sementara jika PE Ratio di atas rata-rata, kemungkinan reksa dana menggunakan pendekatan Growth, karena Growth tidak terlalu melihat mahal atau murah, tapi prospek untuk tumbuh lagi di masa mendatang.

    Sayang sekali hingga saat ini informasi tersebut belum dipublikasikan. Anda bisa mencoba sendiri melalui fund fact sheet masing-masing reksa dana.

    Semoga bermanfaat.

  3. A Malik
    June 11th, 2012 at 10:08 | #3

    Thanks atas artikel yg bermanfaat.
    Selama ini saya mdpt info dr baik dr customer service atau marketer atau sales person dari MI hny menjelaskan bhw RD saham mereka berinvestasi di LQ 45 dan saudaranya di second liner atau yg satu agresif dan saudaranya defensif tanpa kejelasan yg saya ttp tdk mengerti. Bravo buat Pak Rudi!

    Apakah strategi tsb berlaku universal (teori universal) atau hasil analisis Pak Rudi? Saya bertambah kagum jika teori tsb hasil analisis Pak Rudi.

    Lalu bgmn dg kebijakan investasi reksa dana campuran atau pendapatan tetap? Pak Rudi bs bntu menjelaskannya? Krn ada satu MI pny 2 RD campuran, ketika saya lihat di suatu majalah yg memberi peringkat 50 reksa dana terbaik (edisi Maret 2012), 2 produk MI tsb nagkring di posisi 1 dan 2 utk kategori B (obligasi < 50%). Lalu apa beda 2 RD tsb? Mgpa MI tsb membuat 2 RD campuran dg kategori sama? Pasti ada beda kebijakan..Mohon Pak Rudi membantu menjelaskan..

    Thanks atas jawabannya. Sukses dan sehat selalu utk PAk Rudi.

  4. Rudiyanto
    June 11th, 2012 at 18:20 | #4

    @A Malik
    Salam Pak Malik,

    Penjelasan dari para tenaga pemasaran juga tidak bisa dibilang salah, karena itu juga merupakan kenyataan.

    Teori yang saya kemukakan memang sudah lazim di luar negeri atau buku-buku investasi.

    Soal pemeringkatan, yang membuat kategori pemeringkatan adalah team riset dan Redaksi, dalam hal ini Majalah Investor dan Infovesta.

    Untuk Reksa Dana Pendapatan Tetap bukankah sudah dijelaskan dalam konsep durasi?

    Saya tidak tahu reksa dana mana yang anda maksud jadi saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan anda.

    Semoga bermanfaat.

  5. wawan
    June 12th, 2012 at 17:30 | #5

    Saya yakin sebagian besar RDS Saham hanya “buy and hold” alias didiamkan oleh Manajer Investasinya. Hal ini tampak sangat nyata jika kita memperhatikan pergerakan NAB setiap hari dan kita bandingkan dengan IHSG. Memang, pada saat ini beberapa RDS tampak mulai “dimainkan” dan tidak hanya didiamkan oleh Manajer Investasinya tapi ini baru sebagian kecil dari keseluruhan RDS Saham.
    Ini berdasarkan pengalaman saya berinvestasi di RDS Saham sejak tahun 2000 dan pengalaman itu sangat mahal harganya

  6. Anas
    October 5th, 2012 at 13:59 | #6

    Salam Pak Rudi,

    Mohon di cek link berikut:
    http://vibiznews.com/column/bondsmutual/2012/08/27/strategi-investasi-dalam-memilih-reksadana/

    Sepertinya pd link tsb di atas, banyak isinya adalah tulisan dr Pak Rudi. Setidaknya tgl penulisan atau pemuatan artikel masih lebih dulu milik Pak Rudi. Pikir saya begitu karena saya tidak melihat sumber atau bahan yg diambil dalam penulisan artikel tsb.

    Mohon maaf jika saya ada keliru atau khilaf..

  7. Rudiyanto
    October 7th, 2012 at 23:34 | #7

    @Anas
    Salam Pak Anas,

    Terima kasih atas informasinya. Setelah saya lihat memang tulisan tersebut tidak dijiplak secara langsung namun diubah2 sedikit dan ditambahkan beberapa contoh. Terus terang saya tidak begitu yakin dengan contoh reksa dana growth investing yang dia kemukakan.

    Terlepas dari izin ataupun tidak, ketika kita menulis / sharing suatu ide di website, secara tidak langsung kita memasarkan “diri kita” kepada dunia luar. Bagi perusahaan yang menawarkan jasa konsultasi dan jasa profesional lainnya, orisinalitas menjadi sesuatu yang penting. Tentu nasabah ingin mendapatkan jasa konsultasi dari perusahaan yang memang terbaik di bidangnya. Tindakan penjiplakan secara tidak langsung tentu menurunkan value kita di mata klien atau potensial klien kita.

    Namun tentu saja, di dunia serba online seperti sekarang, amat sulit ditemukan ide yang benar2 orisinil. Saya mengakui bahwa beberapa tulisan saya juga sebetulnya terinspirasi dari sumber-sumber lain yang saya baca di website, buku atau obrolan dengan pelaku pasar modal.

    Hanya saja, saya tidak menjiplak total. Namun membahas kembali hal tersebut dari sudut pandang saya sendiri sehingga bagi pembaca yang membaca langsung dari sumber yang saya gunakan sekalipun tetap bisa merasakan ini adalah 2 tulisan yang ditulis dengan style yang berbeda. Saya sendiri sangat suka membaca dan mengagumi tulisan orang-orang yang saya anggap ahli seperti Eileen Rahman di Kompas Karier setiap sabtu, Bung Yodia di Strategimanajemen.net, Komaruddin Hidayat di Kompas / Sindo, Cyrillus Harinowo di Sindo dan ahli-ahli lainnya. Kalaupun ada tulisan yang membahas topik yang sama, kadang-kadang, tanpa membaca siapa nama pengarangnya saya kurang lebih bisa menebak tulisan tersebut ditulis oleh siapa.

    Jika anda merasa tulisan tersebut tidak orisinal dan banyak bagian yang menjiplaknya, berarti si penjiplak tersebut gagal membuat tulisan yang orisinil yang mampu memberikan nilai tambah bagi dirinya sendiri dihadapan publik. Pada akhirnya publik sendirilah yang akan menilai akan kembali ke website tersebut ataupun tidak. Namun jika anda berpendapat sebaliknya, maka sebetulnya hal ini merupakan hal yang baik karena ternyata tulisan saya bisa menginspirasi orang dalam melakukan riset. Tinggal seberapa besar nilai tambah yang bisa diberikan.

    Demikian tanggapan saya.

  8. Hermawan
    November 6th, 2012 at 12:02 | #8

    Selamat Siang Pak Rudi,
    Pak, saya ada pertanyaan mengenai Manajemen Investasi (MI) Reksadana.

    1. Layaknya seperti perusahaan pada umumnya (ada Komisaris, Direktur, Manajer, staf, dll), Apa MI juga ada susunan pengurus / struktur organisasi? Susunan/strukturnya seperti apa?
    2. Dalam menjalankan fungsinya, apakah seorang Manajer MI juga selalu memantau (memelototi :) ) pegerakan saham dan melakukan shell/buy saham-saham yang ada di portofolionya setiap hari/waktu layaknya seperti seorang pemain saham yang melakukan trading?
    3. Jika, ya, apakah setiap keputusan untuk shell/buy saham itu dilakukan secara langsung oleh manager investasi pribadi ataukah harus melalui keputusan bersama (rapat) terlebih dulu?

    Sebelumnya, terimakasih atas wawasan/sharingnya, ya Pak.

  9. Rudiyanto
    November 6th, 2012 at 16:53 | #9

    @Hermawan
    Salam Hermawan,

    Menyangkut pertanyaan anda:
    1. Benar pak. Manajer Investasi sama dengan perusahaan pada umumnya. Struktur organisasi yang anda sebutkan di atas juga seharusnya umum di Manajer Investasi.
    2. Untuk itu harus ditanyakan langsung dengan Manajer Investasi yang bersangkutan. Kalau dari pengalaman saya berhubungan dengan para Manajer Investasi dari dulu sampai sekarang, seharusnya tidak sampai demikian. Dan Manajer Investasi bukan trader.
    3. Tergantung SOP di masing-masing manajer investasi pak. Saya juga agak kurang paham soal ini karena tidak pernah masuk sampai demikian jauhnya. Namun saya percaya kalau harus meeting untuk setiap kali keputusan jual beli agak kurang efisien. Namun kalau tidak dirapatkan sama sekali juga kurang tepat. Karena MI harus memiliki dasar pengambilan keputusan yang bisa dipertanggung jawabkan.

    Semoga bermanfaat.

  10. November 21st, 2012 at 11:57 | #10

    Dear Pak Rudiyanto,
    hampir semua artikel bapak saya baca, terutama bagian simulasi dari orang yang akan berinvestasi terutama hingga pensiun, sangat menarik…

    saya ingin mendapatkan rekomendasi dari Bapak,
    saat ini status saya karyawan tetap usia 22 tahun dg salary 3,7juta
    saya tidak ada tanggungan apapun kecuali biaya akomodasi yang menghabiskan sekitar 1,5juta-1,8 juta maksimum perbulan.
    Biasanya saya menyimpan sisa sekitar minimum 1juta untuk tabungan, tapi saya rasa itu tidak efektif mengingat bunga tabungan yang tidak kompeten

    Saya berencana berinvestasi reksadana dan kedepannya akan membeli rumah senilai 2M dengan harga sekarang (belum tau persentase inflasinya). Rumah tersebut akan saya ambil di usia 30 tahun.

    Sebelumnya saya cukup tertarik dengan reksadana pendapatan tetap di Panin Dana Utama Plus 2. Apakah Pak Rudi punya rekomendasi untuk jenis reksadana apa yang bisa saya investkan ataukah ada tipe instrumen lainnya?

    Kebetulan saya juga dikirimkan prospektus dari marketing Panin AM di pondok indah, tapi saya belum bisa memastikan jenis yang saya ambil. Ohya, apakah saya bisa memanfaatkan window dressing untuk reksadana yg akan saya ambil ini dengan berinvestasi diawal desember tahun ini?

    Trims Pak Rudiyanto

  11. November 21st, 2012 at 11:58 | #11

    Dear Pak Rudiyanto,
    hampir semua artikel bapak saya baca, terutama bagian simulasi dari orang yang akan berinvestasi terutama hingga pensiun, sangat menarik…
    saya ingin mendapatkan rekomendasi dari Bapak,
    saat ini status saya karyawan tetap usia 22 tahun dg salary 3,7juta
    saya tidak ada tanggungan apapun kecuali biaya akomodasi yang menghabiskan sekitar 1,5juta-1,8 juta maksimum perbulan.
    Biasanya saya menyimpan sisa sekitar minimum 1,5jutaan untuk tabungan, tapi saya rasa itu tidak efektif mengingat bunga tabungan yang tidak kompeten
    Saya berencana berinvestasi reksadana dan kedepannya akan membeli rumah senilai 2M dengan harga sekarang (belum tau persentase inflasinya). Rumah tersebut akan saya ambil di usia 30 tahun.
    Sebelumnya saya cukup tertarik dengan reksadana pendapatan tetap di Panin Dana Utama Plus 2. Apakah Pak Rudi punya rekomendasi untuk jenis reksadana apa yang bisa saya investkan ataukah ada tipe instrumen lainnya?
    Kebetulan saya juga dikirimkan prospektus dari marketing Panin AM di pondok indah, tapi saya belum bisa memastikan jenis yang saya ambil. Ohya, apakah saya bisa memanfaatkan window dressing untuk reksadana yg akan saya ambil ini dengan berinvestasi diawal desember tahun ini?
    Trims Pak Rudiyanto

  12. Rudiyanto
    November 23rd, 2012 at 14:38 | #12

    @Jefriyanto
    Salam Jefriyanto,

    Selamat, anda merupakan salah satu dari sedikit kelas menengah yang sadar investasi sejak dini. Untuk pertanyaan anda, bisa mencoba versi kalkulator finansial yang baru2 ini dikembangkan oleh Panin Asset Management. http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx pada link di atas, pilih kebutuhan investasi berkala. Selanjutnya diisi kebutuhan Rp 2 M, jangka waktu 8 tahun (22 ke 30), inflasi asumsikan aja sekitar 6-10%. Ekspektasi imbal hasil untuk pendapatan tetap umumnya berkisar antara 8 – 12, sementara untuk saham 16-25.

    Dengan hasil perhitungan tersebut anda bisa coba mensimulasikan apakah dengan besaran investasi yang mau anda lakukan cukup untuk kebutuhan anda. Silakan dicoba dulu, nanti bisa ditanyakan kembali. Terima kasih

  13. Budi
    June 27th, 2013 at 17:59 | #13

    Salam kenal Pak Rudiyanto,

    Kadang saya jumpai beberapa reksa dana yang sangat mirip alokasi dananya yang dikeluarkan oleh satu MI, misalnya di Panin-AM, reksa dana Panin Dana Bersama dan Bersama Plus. Bedanya sangat kecil pada persentase alokasi pada pasar uang, dan ada beda pada maks. biaya subscription. Bisa tolong dijelaskan alasan keluarnya 2 produk yang mirip ini? terima kasih.

  14. Rudiyanto
    June 30th, 2013 at 12:46 | #14

    @Budi
    Salam Budi,

    Unit penyertaan Panin Dana Bersama memang tidak ditawarkan lagi, oleh karena itu bagi yang tertarik Panin Asset Management menerbitkan Panin Dana Bersama Plus yang strategi investasinya sama. Karena tidak ditawarkan biaya pembeliannya tidak bisa dijadikan acuan. Semoga bermanfaat.

  15. yush4
    March 26th, 2014 at 22:56 | #15

    Malam pak Rudi,

    Tadi saya menghadiri acara di resto Rempah Surabaya.
    Ternyata pak Rudi orangnya ramah dan rendah hati. Salut buat Pak Rudi.

    Yg ingin saya tanyakan, apakah sesuai jika kita menyimpan dana darurat (sesuai artikel pak Rudi: Sehat dulu, investasi kemudian….) dengan menggunakan reksadana pasar uang?
    Apakah benar reksadana pasar uang tdk dikenakan biaya apapun? (terutama panin dana liquid)?
    Yg kedua, apakah perbedaan yang mendasar antara panin maksima dan panin prima?
    Terima kasih.

  16. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 01:34 | #16

    @yush4
    Selamat Malam Yusha,

    Terima kasih sudah menghadiri acara Panin Asset Management di Surabaya. Semoga acara seminar tersebut berkenan bagi anda.

    Untuk dana darurat, idealnya adalah berbentuk kas atau tabungan yang bisa ditarik sewaktu2. Namun jika jumlahnya cukup banyak, katakanlah 3 setara 3 bulan pengeluaran, maka mungkin sekitar 1 bulan pengeluaran berbentuk kas, dan 2 bulan pengeluaran berbentuk reksa dana pasar uang atau deposito.

    Untuk reksa dana pasar uang, tidak dikenakan biaya masuk (Subscription) dan biaya keluar (Redemption). Sehingga untuk transaksi yang dilakukan nasabah tidak ada biaya lagi. Hal ini tidak hanya berlaku di Panin Dana Likuid tapi juga reksa dana pasar uang lainnya.

    Namun perlu diingat yang namanya reksa dana pasar uang itu juga bisa untung atau rugi tergantung naik turun harganya.

    Mengenai perbedaan Panin Dana Maksima dan Panin Dana Prima akan dijelaskan dalam kesempatan yang lain, terima kasih.

  17. cahyo
    May 9th, 2015 at 20:49 | #17

    Selamat malam Pak Rudiyanto.
    Saya baru saja baca prospektus sebuah reksadana yang menyatakan bahwa “Unit Penyertaan Reksa Dana masing-masing ditawarkan pada harga sama dengan Nilai Aktiva Bersih awal sebesar Rp. 1000,- per Unit Penyertaan pada hari pertama penawaran. Untuk selanjutnya, harga masing-masing Unit Penyertaan ditetapkan berdasarkan Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan pada Hari Bursa yang bersangkutan”.
    Yang ingin saya tanyakan :
    Saya juga baru melihat di Infovesta, NAB/UP reksa dana yang saya baca prospektusnya tadi 28,274.96. Seandainya saya ikut investasi ke reksa dana tersebut dengan pembelian awal sebesar Rp. 2000,000,-.
    Berapakah Unit penyertaan yang saya peroleh?
    Saya ucapkan terima kasih sebelumnya.

  18. Rudiyanto
    May 11th, 2015 at 18:09 | #18

    @cahyo
    Selamat Malam pak Cahyo,

    Jumlah unit penyertaan yang anda dapatkan adalah nilai investasi setelah dikurangi biaya dibagi dengan harga atau NAB/Up reksa dana.

    Harga reksa dana yang ada di infovesta adalah harga kemarin. Harga hari ini baru bisa diketahui besok paginya. Kalau mau memprediksi besok harganya berapa, bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/04/04/bagaimana-cara-memprediksi-harga-reksa-dana/

    Saran saya anda bisa tanyakan langsung ke agen penjual reksa dana tersebut untuk informasi yang lebih detail

    Terima kasih

 


%d bloggers like this: