Home > Obligasi, Obligasi Intermedit, Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Pelajaran dari Perubahan Yield Obligasi

Pelajaran dari Perubahan Yield Obligasi

Dalam 1-2 minggu terakhir, ada beberapa berita terkait dengan Yield Obligasi yang saya perhatikan semakin sering mendapat perhatian media. Sebagai contoh 2 berita terbaru :

Bagaimana efek perubahan yield ini terhadap investasi khususnya investasi reksa dana? Kedua berita di atas merupakan salah satu contoh yang sangat praktis dalam mengaplikasikan pengetahuan tentang obligasi yang sudah kita pelajari sebelumnya.

Sumber : Kontan.co.id

Pada berita Kontan yang pertama disebutkan “seri FR0061 bertenor 10 tahun, harganya juga turun sebanyak 96 bps menjadi 106,25 dengan yield 6,15“. Untuk mengetahui mengapa digunakan obligasi dengan tenor 10 tahun, bisa anda baca di artikel ini.

Dalam obligasi dikenal teori hubungan antara harga dan suku bunga sebagai berikut “apabila suku bunga naik maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya apabila suku bunga turun, maka harga obligasi akan naik.” Seiring dengan dinamika pasar, adanya aksi intervensi, dan pengaruh dari asing yang tidak hanya melihat faktor domestik akan tetapi juga global, teori di atas sudah mulai agak ketinggalan. Untuk menyikapi dinamika pasar seperti yang terjadi saat ini, seharusnya teori obligasi diubah menjadi sebagai berikut:

“Apabila YIELD Obligasi DIEKSPEKTASIKAN akan NAIK, maka HARGA obligasi akan TURUN, sebaliknya apabila YIELD obligasi DIEKSPEKTASIKAN akan TURUN, maka HARGA obligasi akan NAIK”

Dalam zaman dimana perubahan sangat dinamis dan nyaris terjadi setiap hari ini, perubahan suku bunga terkadang sudah dicerminkan jauh-jauh hari dari perubahan yield obligasi. Selain itu, sudah beberapa kali dalam sejarah pasar modal Indonesia, harga obligasi mengalami perubahan yang signifikan meskipun suku bunga cenderung flat. Ekspektasi akan suku bungalah yang menjadi penggerak utama di pasar.

Apabila pasar meyakini suku bunga akan naik, maka obligasi akan ditransaksikan pada yield yang lebih tinggi sehingga harga obligasi menjadi turun. Perubahan suku bunga itu sendiri mungkin baru terjadi beberapa bulan kemudian, bisa saja ternyata berbeda dengan ekspektasi pasar. JADI, dalam melihat / memprediksikan kinerja reksa dana berbasis obligasi, sangat penting bagi investor / Manajer Investasi untuk bisa memprediksi perubahan Yield Obligasi.

Kembali ke Kenaikan Yield obligasi Indonesia dimana disebutkan Yield 10 tahun mencapai 6.15% (sebelumnya di bawah 6%), hal ini menandakan bahwa pasar mengekspektasikan bahwa yield akan naik. Sesuai dengan teori yang saya kemukakan, kenaikan Yield akan menyebabkan Penurunan harga Obligasi dan Penurunan harga obligasi akan menyebabkan penurunan pada harga reksa dana pendapatan tetap dan campuran yang basisnya obligasi.

Salah satu penyebab naiknya ekspektasi Yield dari sisi domestik antara lain adalah kebijakan pembatasan BBM yang rencananya akan dijalankan pada bulan Mei secara terbatas ini. Dengan adanya pembatasan BBM, maka diperkirakan akan menyebabkan kenaikan tingkat inflasi meskipun efeknya tidak sebesar kenaikan harga BBM secara langsung. Ekspektasi kenaikan inflasi ini, oleh pasar direspon dengan kenaikan Yield. Belum lagi, ancaman kenaikan inflasi juga datang dari faktor kenaikan harga bahan makanan dan pokok yang sudah dinaikkan sebelum kenaikan harga BBM.

Dari sisi luar negeri, naiknya ekspektasi yield Indonesia juga disebabkan karena kembali memanasnya krisis utang di Eropa. Spanyol kini diprediksikan sebagai salah satu negara yang akan menjadi sumber krisis berikutnya karena stabilitas fiskal dan tingginya tingkat pengangguran. Namun, umumnya efek krisis yang terjadi di luar negeri terutama di Eropa memiliki efek yang tidak konsisten terhadap pasar obligasi Indonesia. Buktinya ketika krisis terjadi di Portugal, harga obligasi kita tetap naik. Sama halnya juga ketika krisis menimpa Yunani, pasar saham Indonesia memang sempat terpengaruh, namun pasar obligasi tetap melesat tinggi mengalahkan kinerja reksa dana saham pada tahun 2011. Jadi, kita memang tidak bisa mengesampingkan faktor krisis yang terjadi di Spanyol dan Eropa, namun dalam menyikapi pasar obligasi Indonesia, investor perlu lebih menitikberatkan pada faktor yang lebih fundamental dan berasal dari faktor domestik seperti inflasi dan kebijakan suku bunga.

Dari fakta di atas, bisa dilihat bahwa suatu negara dikatakan sedang atau akan krisis ternyata diketahui dari besaran Yield Obligasinya. Sebagai referensi, angka yang benar2 darurat untuk negara di Eropa adalah ketika Yield 10 tahun melewati 7%. Sebab ketika Yield melewati angka tersebut, artinya biaya yang dibutuhkan bagi suatu negara untuk memperoleh pinjaman baru adalah sebesar 7%. Angka ini dianggap sudah terlalu tinggi oleh sebagian negara dimana Irlandia dan Portugal langsung meminta bantuan kepada IMF kala mencapai angka tersebut.

Dari 2 berita tentang obligasi di atas, saya berharap kita dapat mempelajari bahwa:

  1. Perubahan Yield bisa meramalkan perubahan suku bunga yang akan terjadi di masa mendatang
  2. Perubahan Yield bisa menyebabkan kenaikan atau penurunan harga pada reksa dana berbasis obligasi
  3. Perubahan Yield bisa mengetahui apakah suatu negara sedang dalam kondisi krisis atau tidak

Demikian sharing artikel kali ini, semoga bisa memberikan manfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

  1. Juherianto
    December 11th, 2016 at 09:08 | #1

    Selamat pagi Pak Rudiyanto,

    Terima kasih untuk penjelasannya jelas sekali untuk pemaparannya, saya jadi paham konsep perhitungan kenaikan yield obligasi beserta korelasi ke pasar sahamnya, saya jadi terbesit dengan pertanyaan lain berdasarkan jawaban Bapak:

    1. Apa yang mempengaruhi harga obligasi naik dan turun? kalau saham naik dan turun karena adanya aksi jual dan beli
    2. Apa perbedaan tujuan perusahaan mengeluarkan obligasi dengan right issue? bukankah dua2nya sama2 ingin mengumpulkan dana.

    Sekian pertanyaan dari saya, mohon penjelasannya Pak Rudy, terima kasih.

    Salam,
    Juherianto

  2. Rudiyanto
    December 11th, 2016 at 15:19 | #2

    @Juherianto
    Salam Pak Juherianto,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda :
    1. Sama seperti saham, obligasi juga ada jual dan beli
    2. Yang satu hutang dan yang satu lagi modal. Tergantung yang punya perusahaan dan yang mau meminjamkan uang, mereka lebih nyaman dengan bentuk yang mana.

    Terima kasih dan semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 1591

 


%d bloggers like this: