Home > Obligasi, Obligasi Intermedit > Memahami Cara Kerja Obligasi (4) : Yield Curve Obligasi

Memahami Cara Kerja Obligasi (4) : Yield Curve Obligasi

Mungkin ada sebagian dari pembaca blog ini bertanya-tanya, mengapa sekarang banyak dibahas tentang obligasi? Bukankah obligasi itu relatif tidak likuid, sulit untuk diperoleh dan nilai nominal investasinya relatif amat besar? Bukankah blog ini memang sejak awal membahas tentang reksa dana saja? Dari data statistik yang masuk, memang jumlah pembaca lebih sedikit ketika topik obligasi dibahas ketimbang jika saya mengangkat topik tentang reksa dana. Jumlah komentar juga sangat terbatas, terkadang tidak ada sama sekali :mrgreen:

Ok, saya tidak menyalahkan anda jika memang anda tidak tertarik untuk membaca topik berkaitan dengan obligasi, namun setidaknya ada 3 alasan kenapa saya membahas topik obligasi:

  1. Dalam dunia investasi, perubahan kondisi umumnya tercermin dahulu pada pasar obligasi baru kemudian pasar saham. Menurut saya, investor yang bisa membaca perubahan pada obligasi akan bisa mendapatkan gambaran dan bereaksi lebih cepat dibandingkan investor yang hanya melihat perubahan saham saja. Masih ingat ketika Eropa sedang bermasalah apa yang menjadi sumber pemberitaan di koran ? Besaran Yield Obligasi dari Negara tersebut. Amat jarang dibahas perkembangan harga saham untuk menunjukkan apakah negara tersebut sudah selamat dari krisis. Lagipula dalam artikel terdahulu, sudah ada fakta bahwa hubungan antara makro ekonomi dan saham amat lemah.
  2. Pada umumnya, portofolio investasi pada korporasi di Indonesia didominasi oleh obligasi. Baik itu investasi dalam bentuk obligasi langsung, ataupun dalam bentuk reksa dana pendapatan tetap atau terproteksi. Bagian portofolio inilah yang membantu perusahaan mencapai sebagaian besar dari kinerja dalam 1 tahun, reksa dana saham dan saham hanya dipakai sebagai faktor untuk mendongkrak return saja, namun obligasi tetap menjadi portofolio yang utama. Anda akan mulai berpikiran seperti itu jika jumlah uang anda sudah relatif besar.
  3. Model bisnis di Indonesia umumnya meniru apa yang sudah sukses di luar meski tidak semuanya. Jika anda meyakini hal tersebut, anda perlu tahu bahwa Reksa Dana Terbesar di dunia saat ini adalah Reksa Dana berbasis Obligasi yaitu PIMCO Total Return Fund INSTL (PTTRX). Berdasarkan informasi dari situs perusahaan, dana kelolaan reksa dana ini mencapai lebih dari USD 251 milliar atau sekitar 2.5 kali cadangan devisa Indonesia (jika dihibahkan ke Indonesia, pemerintah mungkin malah bisa menurunkan harga BBM selama beberapa tahun ke depan). Saat ini reksa dana terbesar di Indonesia adalah reksa dana saham namun dulunya memang reksa dana pendapatan tetap yang merupakan reksa dana terbesar.

Nah, jika anda sependapat saya bahwa memahami obligasi itu penting, anda bisa terus membaca artikel lanjutan. Jika tidak, saya juga tidak memaksakan, karena bacaan kali ini levelnya agak menengah. Tanpa ada dasar tentang obligasi dan investasi, anda butuh waktu sedikit lebih banyak untuk mencerna bacaan ini. Bacaan tentang obligasi dasar bisa dibaca di link ini.

Yield adalah imbal hasil. Curve adalah Kurva. Jadi Yield Curve adalah Kurva Imbal hasil. Kurva Imbal hasil adalah suatu kurva (grafik) yang menunjukkan imbal hasil obligasi pada berbagai tahun jatuh tempo. Grafik Yield Curve dibentuk dari Tahun sebagai sumbu X (mendatar) dan Imbal Hasil sebagai sumbu Y (Tegak Lurus). Berikut ini contoh Yield Curve yang bisa anda akses di website bursa efek indonesia:

Dengan menggunakan grafik di atas, kita bisa mengetahui bahwa Yield untuk obligasi yang jatuh temponya 15 tahun (misalnya) adalah sekitar 6.5%. Bagi anda yang kesulitan bisa juga membaca tabel yang biasanya selalu disertakan bersama grafik Yield Curve. Misalnya jika dilihat pada tabel di bawah, angka yang pasti untuk 15 tahun adalah 6.4933%. Benchmark SUN adalah beberapa seri Surat Utang Negara yang ditunjuk sebagai acuan. Definisi acuan adalah adanya Primary Dealer yang secara konsisten memberikan kuotasi bid offer untuk seri obligasi tersebut. Dalam bahasa yang sederhana, obligasi benchmark adalah obligasi yang bisa diperjual belikan setiap saat karena ada bandar (primary dealer) yang bersedia membeli dan menjual pada harga tertentu. Obligasi Benchmark merupakan komponen penting dalam membentuk gambar Yield Curve.

Sumber : www.idx.co.id

Pembentukan Yield Curve

Secara Proses, tahapan pembuatan Yield Curve terdiri dari 2 langkah yaitu

  1. Membuat titik X dan Y pada grafik dimana X adalah tenor dari SUN Benchmark dan Y adalah Yield dari Obligasi
  2. Setelah itu ditarik suatu grafik yang melewati titik titik dengan error sekecil mungkin. Perlu diingat bahwa grafik ini tidak ditulis tangan, akan tetapi melalui suatu persamaan matematika . Beberapa metode yang digunakan antara lain:
    • Metode Interpolasi dan Bootstrap
    • Metode Tenson Spline dan Smoothed Spline
    • Metode Polinomial dengan Penghalusan
    • Metode Nelson-Siegel

Artikel terkait bisa di baca pada Paper Jonathan Kinlay & Xu Bai dan Wikipedia. Seluruh cara di atas sebetulnya bisa digunakan tergantung ketersediaan data. Meski tidak ada acuan, umumnya cara yang digunakan adalah metode yang bisa menghasilkan error sekecil mungkin. Secara matematis, grafik yang dihasilkan haruslah bisa melengkung (arti dari curve) dan melewati titik-titik dengan jarak yang sekecil mungkin.

Dimana bisa menemukan Yield Curve?

Pada koran-koran utama, seperti Kompas (dulu ada sekarang sudah tidak ada, malahan saya tahu Yield Curve pertama kali dari sini), Kontan, Sindo, Investor Daily, Bisnis Indonesia, grafik ini bisa anda baca pada bagian angka-angka. Pada koran biasanya disebut IGSYC yang kepanjangan dari Indonesian Government Securities Yield Curve, yang artinya Kurva Imbal Hasil dari Instrumen Surat Utang Negara Indonesia. Jika dahulu grafik ini dihasilkan oleh Bursa Efek Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir mulai dikomersialkan dan diserahkan kepada Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA). Untuk kepentingan analisis dan valuasi terhadap harga wajar suatu obligasi, Yield Curve juga dihasilkan oleh pihak selain IBPA. Sebagai contoh Bloomberg, Infovesta bahkan beberapa perusahaan sekuritas memiliki Yield Curve versi tersendiri.

Nah, sekian untuk pembahasan kali ini. Dalam kesempatan lain saya akan membahas bagaimana cara para Ekonom, Riset, dan Ahli lainnya menggunakan informasi Yield Curve di atas dalam memprediksikan perubahan suku bunga, memprediksikan capital outflow inflow, dan melihat suatu negara masuk dalam krisis hutang. Semoga informasi ini bermanfaat bagi anda. Selamat berakhir pekan.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Obligasi, Obligasi Intermedit Tags:
  1. Rudiyanto
    January 27th, 2016 at 14:00 | #1

    @adi
    Selamat Siang Pak Adi,

    Mengenai hal tersebut, anda bisa coba baca artikel ini pak http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/02/17/memahami-cara-kerja-obligasi-1-2/

    Silakan ditanyakan jika ada yang masih kurang dimengerti.

    Semoga bermanfaat

  2. winphann
    February 3rd, 2016 at 11:21 | #2

    Selamat siang pak Adi,

    saya ingin menanyakan… apabila kita membeli obligasi di pasar sekunder atau out of counter… apakah kupon nya menjadi milik kita (dipindah/dibagi kepada pembeli di pasar sekunder)? atau tetap dibagikan kepada pembeli perdana??

    terima kasih

  3. Rudiyanto
    February 3rd, 2016 at 12:01 | #3

    @winphann
    Selamat Siang Pak Win,

    Sedikit koreksi, kalau transaksi obligasi itu Over The Counter (OTC). Mengenai kupon, namanya juga sudah anda beli, tentu dibayarkan langsung kepada pemegang obligasinya.

    Semoga bermanfaat

  4. Ramdani
    March 30th, 2016 at 17:45 | #4

    Selamat sore pak Adi
    boleh minta referensi buku teks mengenai cara kuantifikasi yield curve beberapa metode diatas?
    Terima kasih

  5. Fauziah
    April 4th, 2016 at 15:15 | #5

    Selamat siang pak, pak saya punya pertanyaan begini. Misalnya obligasi Sony memiliki imbal hasil saat ini 9% dan imbal hasil jatuh tempo 10%. Apakah obligasi terjual diatas/dibawah nilai nominalnya? Mohon penjelasannya ya pak,terimakasih

  6. Rudiyanto
    April 4th, 2016 at 17:06 | #6

    @Ramdani
    Selamat sore Ibu Ramdani,

    Kalau link paper sudah ada di atas, tapi kalau buku terus terang saya tidak ada.

    Semoga bermanfaat

  7. Rudiyanto
    April 4th, 2016 at 17:14 | #7

    @Fauziah
    Selamat Sore Ibu Fauziah,

    Bisa coba baca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/02/17/memahami-cara-kerja-obligasi-1-2/

    Atau baca buku manajemen keuangan / investasi di universitas anda dengan topik obligasi. Saya yakin penjelasannya bisa anda temukan.

    Semoga bermanfaat

  8. Imasm
    April 4th, 2016 at 22:44 | #8

    Selamat malam Bapak yth.

    Dalam perdagangan obligasi apakah terdapat data bid dan ask seperti saham atau forex, dan dimana sekiranya saya dapat memperoleh data bid ask obligasi?

    terimakasih..

  9. Rudiyanto
    April 5th, 2016 at 17:14 | #9

    @Imasm
    Selamat Sore Pak Imasm,

    Cara transaksi obligasi itu persis kayak kamu beli hp bekas di roxy. Ada yang butuh barangnya, ada juga yang nawarin. Jadi dalam proses tersebut ada bid dan ask seperti saham.

    Tapi karena transaksi tidak dilakukan via bursa saham atau over the counter, maka bid dan ask tersebut tidak ditampilkan. Hanya saja untuk kepentingan pembuatan yield curve, diperlukan harga bid dan ask dari obligasi benchmark.

    Anda bisa mencoba mencarinya di website Bursa Efek Indonesia. Semoga bermanfaat

  10. Imasm
    April 6th, 2016 at 13:08 | #10

    @Rudiyanto
    Baik terimakasih banyak atas informasinya, sangat membantu

  11. Surya
    October 23rd, 2016 at 21:36 | #11

    kita harus ambil obligasi tersebut jika harga sekarang obligasi dibawah atau diatas harga pasar ?

  12. Rudiyanto
    November 2nd, 2016 at 15:53 | #12

    @Surya
    Seharusnya investor memilih obligasi jika memang profil risikonya sesuai dan yield yang ditawarkan sesuai dengan ekspektasi investor tersebut.

    Semoga bermanfaat

  13. atika
    November 5th, 2017 at 00:04 | #13

    Selamat malam Pak Rudy,

    Terima kasih atas penjelasan lengkap bapak perihal obligasi yang sudah saya baca di beberapa artikel bapak. Hal yang ingin saya tanyakan adalah apakah perbedaan indonesia Government bond 10 Y misal yang tertera contohnya pada situs https://tradingeconomics.com/indonesia/government-bond-yield dengan government yield yang tertera pada situs http://ibpa.co.id/DataPasarSuratUtang/HargadanYieldHarian/tabid/84/Default.aspx . Kedua situs sama-sama memberikan nilai yield harian, hanya saja pada ibpa.co.id untuk yield government menggunakan TTM sebagai variabel lain. Apakah ini berarti penggunaan yield di situs ibpa dgn TTM tsb berarti lebih valid ? Pada kondisi seperti apa saya perlu menggunakan data yield seperti yang tersedia di situs tradingeconomics.com tsb (data gov bond 10 Y) ? Karena dengan adanya dua pendekatan tsb, nilai yield masing-masing jadi berbeda. Dan saya bingung menginterpretasikan penggunaan data gov bond 10 Y tsb di dunia nyata. Mohon arahannya Pak. Terima kasih atas bantuannya.

  14. Rudiyanto
    November 8th, 2017 at 13:18 | #14

    @atika
    Selamat siang ibu Atika,

    Untuk Yield 10 tahun, ada yang mengambil SUN seri Benchmark FR0059 sebagai acuan, ada pula yang menggunakan angka Yield 10 tahun berdasarkan perhitungan Yield Curve sebagai acuan.

    10 tahun itu jatuh tempo obligasi atau bahasa pasar modalnya Time To Maturity (TTM). Di IBPA, kedua data tersebut ada.

    Biasanya sumber yang umum mengutip FR0059 sebagai acuan namun menurut saya pribadi itu kurang tepat karena seiring dengan berjalannya waktu TTM tidak lagi tepat 10 tahun tapi berkurang seiring dengan semakin mendekatnya waktu jatuh tempo.

    Biasanya pemerintah akan melakukan penerbitan ulang lagi sehingga jangka waktu menjadi 10 tahun kembali.

    Yang benar-benar tepat 10 tahun itu adalah Yield berdasarkan Yield Curve. Namun Yield Curve itu ada juga yang bilang kurang tepat karena merupakan smoothing dari beberapa SUN Seri Benchmark. Maksudnya Smoothing, bayangkan saja ada data X = Tahun jatuh tempo dan Y adalah Yield. Kemudian dari titik tersebut dibuat kurve Y = a + b X. Hanya saja yang digunakan bukan regresi sederhana tapi pendekatan yang lebih kompleks untuk menghasilkan suatu yield curve.

    Angka Yield 10 tahun itu dimasukkan X = 10 tahun untuk dihitung Yieldnya berapa.

    Mau menggunakan Yield 10 tahun berdasarkan seri atau berdasarkan Yield Curve itu pilihan, yang penting konsisten dari cara dan ketersediaan data.

    Kalau dalam praktek, ibaratnya Yield 10 tahun = 6.8%, berarti kalau hari ini pemerintah Indonesia mau pinjam uang dengan menerbitkan obligasi, maka bunga / kupon yang dibayarkan harus sekitar 6.8%.

    Angka ini berpengaruh juga ke perhitungan Nilai Pasar Wajar obligasi dan NAB reksa dana. Dimana semakin tinggi Yield harga pasar wajar obligasi dan reksa dana akan turun dan sebaliknya semakin rendah Yield, harga pasar wajar obligasi dan reksa dana akan naik.

    Semoga bermanfaat

    YieldCurveIBPA

  15. Atika
    November 8th, 2017 at 13:55 | #15

    @Rudiyanto
    Terima kasih pak. Jawabannya sangat jelas dan bermanfaat.

Comment pages
1 2 3 1570

 


%d bloggers like this: