Home > Obligasi, Obligasi Intermedit > Memahami Cara Kerja Obligasi (4) : Yield Curve Obligasi

Memahami Cara Kerja Obligasi (4) : Yield Curve Obligasi

Mungkin ada sebagian dari pembaca blog ini bertanya-tanya, mengapa sekarang banyak dibahas tentang obligasi? Bukankah obligasi itu relatif tidak likuid, sulit untuk diperoleh dan nilai nominal investasinya relatif amat besar? Bukankah blog ini memang sejak awal membahas tentang reksa dana saja? Dari data statistik yang masuk, memang jumlah pembaca lebih sedikit ketika topik obligasi dibahas ketimbang jika saya mengangkat topik tentang reksa dana. Jumlah komentar juga sangat terbatas, terkadang tidak ada sama sekali :mrgreen:

Ok, saya tidak menyalahkan anda jika memang anda tidak tertarik untuk membaca topik berkaitan dengan obligasi, namun setidaknya ada 3 alasan kenapa saya membahas topik obligasi:

  1. Dalam dunia investasi, perubahan kondisi umumnya tercermin dahulu pada pasar obligasi baru kemudian pasar saham. Menurut saya, investor yang bisa membaca perubahan pada obligasi akan bisa mendapatkan gambaran dan bereaksi lebih cepat dibandingkan investor yang hanya melihat perubahan saham saja. Masih ingat ketika Eropa sedang bermasalah apa yang menjadi sumber pemberitaan di koran ? Besaran Yield Obligasi dari Negara tersebut. Amat jarang dibahas perkembangan harga saham untuk menunjukkan apakah negara tersebut sudah selamat dari krisis. Lagipula dalam artikel terdahulu, sudah ada fakta bahwa hubungan antara makro ekonomi dan saham amat lemah.
  2. Pada umumnya, portofolio investasi pada korporasi di Indonesia didominasi oleh obligasi. Baik itu investasi dalam bentuk obligasi langsung, ataupun dalam bentuk reksa dana pendapatan tetap atau terproteksi. Bagian portofolio inilah yang membantu perusahaan mencapai sebagaian besar dari kinerja dalam 1 tahun, reksa dana saham dan saham hanya dipakai sebagai faktor untuk mendongkrak return saja, namun obligasi tetap menjadi portofolio yang utama. Anda akan mulai berpikiran seperti itu jika jumlah uang anda sudah relatif besar.
  3. Model bisnis di Indonesia umumnya meniru apa yang sudah sukses di luar meski tidak semuanya. Jika anda meyakini hal tersebut, anda perlu tahu bahwa Reksa Dana Terbesar di dunia saat ini adalah Reksa Dana berbasis Obligasi yaitu PIMCO Total Return Fund INSTL (PTTRX). Berdasarkan informasi dari situs perusahaan, dana kelolaan reksa dana ini mencapai lebih dari USD 251 milliar atau sekitar 2.5 kali cadangan devisa Indonesia (jika dihibahkan ke Indonesia, pemerintah mungkin malah bisa menurunkan harga BBM selama beberapa tahun ke depan). Saat ini reksa dana terbesar di Indonesia adalah reksa dana saham namun dulunya memang reksa dana pendapatan tetap yang merupakan reksa dana terbesar.

Nah, jika anda sependapat saya bahwa memahami obligasi itu penting, anda bisa terus membaca artikel lanjutan. Jika tidak, saya juga tidak memaksakan, karena bacaan kali ini levelnya agak menengah. Tanpa ada dasar tentang obligasi dan investasi, anda butuh waktu sedikit lebih banyak untuk mencerna bacaan ini. Bacaan tentang obligasi dasar bisa dibaca di link ini.

Yield adalah imbal hasil. Curve adalah Kurva. Jadi Yield Curve adalah Kurva Imbal hasil. Kurva Imbal hasil adalah suatu kurva (grafik) yang menunjukkan imbal hasil obligasi pada berbagai tahun jatuh tempo. Grafik Yield Curve dibentuk dari Tahun sebagai sumbu X (mendatar) dan Imbal Hasil sebagai sumbu Y (Tegak Lurus). Berikut ini contoh Yield Curve yang bisa anda akses di website bursa efek indonesia:

Dengan menggunakan grafik di atas, kita bisa mengetahui bahwa Yield untuk obligasi yang jatuh temponya 15 tahun (misalnya) adalah sekitar 6.5%. Bagi anda yang kesulitan bisa juga membaca tabel yang biasanya selalu disertakan bersama grafik Yield Curve. Misalnya jika dilihat pada tabel di bawah, angka yang pasti untuk 15 tahun adalah 6.4933%. Benchmark SUN adalah beberapa seri Surat Utang Negara yang ditunjuk sebagai acuan. Definisi acuan adalah adanya Primary Dealer yang secara konsisten memberikan kuotasi bid offer untuk seri obligasi tersebut. Dalam bahasa yang sederhana, obligasi benchmark adalah obligasi yang bisa diperjual belikan setiap saat karena ada bandar (primary dealer) yang bersedia membeli dan menjual pada harga tertentu. Obligasi Benchmark merupakan komponen penting dalam membentuk gambar Yield Curve.

Sumber : www.idx.co.id

Pembentukan Yield Curve

Secara Proses, tahapan pembuatan Yield Curve terdiri dari 2 langkah yaitu

  1. Membuat titik X dan Y pada grafik dimana X adalah tenor dari SUN Benchmark dan Y adalah Yield dari Obligasi
  2. Setelah itu ditarik suatu grafik yang melewati titik titik dengan error sekecil mungkin. Perlu diingat bahwa grafik ini tidak ditulis tangan, akan tetapi melalui suatu persamaan matematika . Beberapa metode yang digunakan antara lain:
    • Metode Interpolasi dan Bootstrap
    • Metode Tenson Spline dan Smoothed Spline
    • Metode Polinomial dengan Penghalusan
    • Metode Nelson-Siegel

Artikel terkait bisa di baca pada Paper Jonathan Kinlay & Xu Bai dan Wikipedia. Seluruh cara di atas sebetulnya bisa digunakan tergantung ketersediaan data. Meski tidak ada acuan, umumnya cara yang digunakan adalah metode yang bisa menghasilkan error sekecil mungkin. Secara matematis, grafik yang dihasilkan haruslah bisa melengkung (arti dari curve) dan melewati titik-titik dengan jarak yang sekecil mungkin.

Dimana bisa menemukan Yield Curve?

Pada koran-koran utama, seperti Kompas (dulu ada sekarang sudah tidak ada, malahan saya tahu Yield Curve pertama kali dari sini), Kontan, Sindo, Investor Daily, Bisnis Indonesia, grafik ini bisa anda baca pada bagian angka-angka. Pada koran biasanya disebut IGSYC yang kepanjangan dari Indonesian Government Securities Yield Curve, yang artinya Kurva Imbal Hasil dari Instrumen Surat Utang Negara Indonesia. Jika dahulu grafik ini dihasilkan oleh Bursa Efek Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir mulai dikomersialkan dan diserahkan kepada Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA). Untuk kepentingan analisis dan valuasi terhadap harga wajar suatu obligasi, Yield Curve juga dihasilkan oleh pihak selain IBPA. Sebagai contoh Bloomberg, Infovesta bahkan beberapa perusahaan sekuritas memiliki Yield Curve versi tersendiri.

Nah, sekian untuk pembahasan kali ini. Dalam kesempatan lain saya akan membahas bagaimana cara para Ekonom, Riset, dan Ahli lainnya menggunakan informasi Yield Curve di atas dalam memprediksikan perubahan suku bunga, memprediksikan capital outflow inflow, dan melihat suatu negara masuk dalam krisis hutang. Semoga informasi ini bermanfaat bagi anda. Selamat berakhir pekan.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Obligasi, Obligasi Intermedit Tags:
  1. Sofia
    April 5th, 2012 at 16:43 | #1

    Pak, meskipun saya belum paham benar tentang obligasi, saya nekat saja beli ORI. Lebih bagus invest di ORI/SUKUK atau reksanada ya?terima kasih jawabannya

  2. Rudiyanto
    April 5th, 2012 at 21:52 | #2

    @Sofia
    Salam Ibu Sofia,

    Apakah anda merasa “bagus” setelah berinvestasi di ORI? Apa definisi bagus bagi anda?

    Bagaimana kalau anda kembali “nekat” dengan berinvestasi di reksa dana, kemudian menceritakan pengalaman anda tentang bagus atau tidaknya dari kedua jenis investasi ini? Saya rasa pengalaman nekat tersebut akan sangat membantu anda dalam memahami kedua investasi ini. Semoga bermanfaat, terima kasih.

  3. yosef alex
    April 6th, 2012 at 05:24 | #3

    Terima kasih atas setiap bahasan topik yang Bapak Rudiyanto jabarkan,memberikan insipirasi dan motivasi dalam berinvestasi sedini mungkin bagi generasi muda untuk melek finasial semenjak dini.Terus berkarya ya Pak,saya tunggu ilmu dan pengetahuan selanjutnya yang akan dibagikan.

  4. Rudiyanto
    April 6th, 2012 at 22:10 | #4

    @yosef alex
    Sama-sama Pak Asep,

    kalau tidak salah ingat, investasi reksa dana pertama kali saya lakukan ketika usia 21 atau 22 tahun. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat akhir di Universitas Tarumanagara. Investasi pertama kali adalah sebesar Rp 500.000. Motivasi utama saya pada waktu itu sangat sederhana, saya ingin memahami reksa dana sebab (waktu itu) saya sedang magang di perusahaan riset reksa dana.

    Semakin ke depan, saya merasakan manfaatnya dan sekarang saya menggunakan reksa dana sebagai alat untuk mengembangkan kekayaan.

    Saya yakin dengan kondisi sekarang, usia calon investor bisa semakin muda dan nilai investasi bisa semakin besar pula.

    Sukses untuk anda dan semua.

  5. Hendri
    April 10th, 2012 at 20:19 | #5

    Dear Pak Rudy,

    Mohon pencerahan Pak Rudy, langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan perusahaan yang ingin melakukan buy-back obligasi yang diterbitkan. Dan bagaimana melakukan analisa cost dan benefit dari buy back tersebut, dan membandingkan dengan refinancing dengan bank loan, untuk menentukan apakah layak secara ekonomis dilakukan? apa saja costs yang perlu dikeluarkan jika dilakukan buy back?

    Terima kasih Pak.

  6. Chrispinus
    April 11th, 2012 at 02:02 | #6

    Terima kasih atas tulisannya yang sangat menarik Pak Rudiyanto. Memang banyak yang masih berpandangan berat sebelah terhadap obligasi, padahal kalau di maintain dengan baik, hasil dari obligasi bisa mendekati saham dan cenderung lebih stabil. Saya sendiri sudah beberapa tahun ini porfolio lebih berat ke obligasi baik reksadana pendapatan tetap, reksadana terproteksi maupun SUN, ORI dan Sukuk.

    Ada satu pertanyaan, apakah sebaiknya kita melepaskan portfolio kita jika harga obligasi sudah mencapai nilai YTM nya? Misalkan harga 106.7 dan YTM nya adalah 6.7%.

  7. Rudiyanto
    April 11th, 2012 at 10:01 | #7

    @Chrispinus
    Salam Pak Chrispinus,

    Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman disini karena Harga dan YTM itu perubahannya mungkin tidak seperti yang anda perkirakan.

    Sebagai contoh pada data infovesta 10 April 2012
    Sukuk Negara Ritel Seri SR-004, kupon 6.25%, jatuh tempo 21 September 2015, ditransaksikan pada harga 102.15 memiliki Yield to Maturity 5.5544%.

    Ketika harga 102.15 bukan berarti YTMnya 2.15%. Dan semakin tinggi harga obligasi maka YTMnya malah akan semakin kecil. Perlu diingat juga, betapapun tingginya harga obligasi, pada saat jatuh tempo, umumnya harganya akan kembali ke 100.

    Pada harga 102.15 dan YTM 5.55%, berarti jika anda membeli Sukuk SR004 tersebut, maka anda akan untung 6.25% per tahun sampai 21 September 2015. Namun karena anda membeli pada harga 102.15 dan dikembalikan sebesar 100, maka anda rugi 2.15%. Keuntungan 6.25% dan kerugian 2.15% selama 3.5 tahun tersebut (dari sekarang sampai 21 September 2015), jika disetahunkan sama dengan untung 5.55% per tahun. Perhitungan ini berlaku jika anda memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo dan menggunakan metode Hold to Maturity dalam pembukuan anda serta tidak dikenakan pajak obligasi sama sekali (besarnya 15%).

    Namun jika anda menganggap obligasi ini seperti selayaknya saham yang bisa di jual sebelum jatuh tempo, maka hitungan YTM tidak diperlukan. Cukup pakai matematika sederhana, misalnya anda beli di harga 100, mau untung 5%, berarti dijual ketika harganya 105. Selama masa tunggu tersebut anda juga mendapat bonus berupa kupon. Metode pencatatan akuntansi untuk ini adalah trading atau available for sale.

    Demikian semoga menjawab pertanyaan anda.

  8. Rudiyanto
    April 11th, 2012 at 13:15 | #8

    @Hendri
    Yth Pak Hendri,

    Pertimbangan untuk melakukan buyback obligasi sebetulnya cukup mudah. Cukup bandingkan antara suku bunga yang dibayarkan obligasi tersebut dengan bunga pinjaman yang diberikan oleh bank. Apabila suku bunga obligasi > Bunga Pinjaman bank maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisa kelayakan.

    Analisa tersebut setidaknya mencakup antara lain: berapa biaya tambahan untuk mendapatkan dana tersebut. Biayanya bisa beragam, dari biaya notaris dan akuntan, biaya gathering untuk pemegang obligasi, namun jika jumlah obligasi yang diterbitkan besar biaya di atas harusnya tidak seberapa. Biaya yang paling besar datang dari premium yang anda bayarkan kepada pemegang obligasi lama.

    Sebagai contoh, obligasi anda bayar bunga 10% dan baru jatuh tempo 5 tahun lagi. Tentunya si pemegang obligasi keberatan kalau utang kamu dilunasi lebih cepat, karena dia kehilangan potensi pendapatan sebesar 10% x utang x 5 tahun. Oleh karena itu, anda harus membayar lebih besar daripada nilai utang anda. Sebagai contoh perusahaan anda berutang 100 millar, untuk menarik kembali pinjaman tersebut berarti mungkin anda harus membayar 110 milliar sebagai kompensasi tersebut. Kompensasi ini disebut premium dan biasanya sudah ditetapkan dalam prospektus atau jika tidak ada melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi.

    Untuk melakukan ini anda harus berkoordinasi dengan bank yang menjadi wali amanat obligasi ini. Anda juga bisa membaca ketentuan dalam prospektus obligasi atau jika perlu meminta bantuan kepada penjamin emisi obligasi tersebut. Untuk bisa melakukan pinjaman ke bank, ketentuan jaminan umumnya lebih ketat dibandingkan obligasi. Oleh karena itu, dimungkinkan juga adanya RUPS untuk proses tersebut. Jadi untuk refinancing ini, tidak hanya kerjaan di bagian finance, tapi juga harus dikoordinasikan dengan divisi investor relation dan pemegang saham agar prosesnya bisa berjalan dengan baik.

    Semoga bermanfaat pak.

  9. Rudiyanto
    April 11th, 2012 at 13:18 | #9

    Sehubungan dengan Migrasi data center yang dilakukan oleh Kontan, mungkin para pembaca sekalian pernah menjumpai beberapa masalah dalam melihat blog ini seperti halaman tidak bisa diakses, komentar tidak masuk, atau komentar masuk tapi tidak ditampilkan. Bagi pembaca yang merasa menulis comment tapi belum ditampilkan bisa dituliskan kembali.

    Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, semoga proses migrasi ini bisa cepat selesai dan membuat tampilan semakin baik.

    Demikian atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih

  10. Hendri
    April 13th, 2012 at 18:36 | #10

    Terima kasih banyak Pak Rudy atas pencerahannya.

    Salam.

  11. prayudi
    April 18th, 2012 at 09:16 | #11

    pak rudi,.
    senang sekali bapak sudah membahas obligasi dari basic,..
    ini yang sudah lama saya cari,..
    saya jadi mengerti hub yield, harga, suku bunga dll,.

    namun saya kok susah sekali menghilangkan pemahaman awam saya :
    1. fakta : kalo yield obligasi naik, harga turun,..
    pemahaman saya : kalo yield naik, semestinya orang jadi lebih tertarik beli (soalnya return lebih tinggi), yah kira-kira beginilah kalo di pasar saham.
    2. saya jadi pengen tanya lebih lanjut, tahun kemarin beberapa RDPT (obligasi negara), bisa kasih return diatas 20%, akibat kenaikan harga obligasi (karena yield turun), sebegitu besarnya kah fluktuasi harga tsb? atau MI yang lihai dalam trading (padahal imbal hasil dari yield yg turun?)

    itu yang masih saya belum bisa mengerti pak,..

    terima kasih sebelumnya atas pencerahannya,..

  12. Rudiyanto
    April 19th, 2012 at 00:49 | #12

    @prayudi
    Salam Prayudi,

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Sebetulnya logikanya begini, yield itu terjadi dari hasil suatu transaksi. Yield naik, berarti ada orang yang menjual dan membeli di yield tersebut. Ketika Yield turun, berarti ada pula seseorang yang menjual dan membeli di level yield tersebut. Pertanyaannya kenapa yield sudah turun, orang masih aja terus membeli, itu kurang lebih sama kaya saham pak. Misalnya, Ada orang yang berpendapat harga wajar saham itu 10000. Ketika harganya sudah mendekati 10.000, dia langsung menjualnya. Di satu sisi, ada orang yang merasa harga wajar suatu saham itu 20.000, ketika orang sibuk menjual saham tersebut di harga < 10.000, dia malah sibuk membeli. Jadi disini ada perbedaan persepsi mengenai harga yang wajar untuk suatu saham.
    Sama juga dengan obligasi, pemain obligasi terdiri dari beberapa background, ada yang buy and hold dan ada pula yang beli untuk ditransaksikan. Investor yang buy and hold, sepanjang yield bisa sesuai dengan target returnnya, akan diambil. Buat investor yang beli obligasi untuk ditransaksikan, yield tidak terlalu penting, yang penting adalah apakah harga obligasi akan naik di masa datang. Ada pula kelompok investor yang memang harus membeli obligasi negara dalam portofolio investasinya karena tuntutan kebijakan, seperti reksa dana pendapatan tetap dan institusi. Jika ada dana masuk, kan mau tidak mau mereka harus membeli obligasi, mahal atau tidak. Sebab jika tidak, mereka akan melanggar kebijakan investasi. Belum lagi investor asing yang bisa melakukan transaksi leverage dengan bunga pinjaman yang sangat rendah. Jadi yield yang rendah menurut kita, belum tentu rendah menurut mereka.
    Bercampur aduknya berbagai orang dengan berbagai latar belakang dan kepentingan inilah yang membentuk harga dan yield suatu obligasi. Terkadang mereka kompak satu arah, tapi sering kali tidak.
    2. Campur aduk pak. Bisa karena kehebatan dalam melakukan trading atau pengaturan portofolio yang pas.
    Kehebatan dalam melakukan trading bisa diketahui dengan2 cara. Cara pertama, secara statistik yaitu dengan melihat R-Squarednya. R-Square reksa dana dengan indeks obligasi adalah angka korelasi yang dikuadratkan. Hasilnya berupa nol koma sekian (misalnya 0.8). Kalikan angka tersebut dengan 100%, misalnya =80%. Angka itu menunjukkan bahwa 80% dari kinerja suatu reksa dana dipengaruhi oleh kinerja indeks obligasi, sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Faktor "lainnya" ini bisa karena kehebatan dalam melakukan trading, bisa pula memang karena hoki. Tapi, jika semakin besar, suatu reksa dana pendapatan tetap mengalahkan return indeks obligasi sementara R-Squarenya kecil, investor bisa berasumsi bahwa reksa dana tersebut jago trading.
    Cara kedua adalah dengan melihat alokasi investasi dan portofolio dari bulan ke bulan. Jika portofolio investasi dan atau alokasi antara kas dan obligasi berubah2, bisa dikatakan MI jago trading. Tapi faktor ini bisa pula karena ada investor yang keluar masuk dalam jumlah besar, jadi alokasi portofolio suatu reksa dana berubah dengan cepat dan signifikan.
    Sementara itu, hasil yang tinggi bisa juga merupakan hasil pengaturan portofolio yang sesuai dengan kondisi secara umum. Sama seperti saham, obligasi juga ada yang high risk dan ada yang low risk. Definisi high risk dan low risk dicerminkan dalam durasi. Referensi bisa dibaca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/03/11/mengenal-cara-kerja-obligasi-2-analisa-risiko-obligasi/

    Jika harga obligasi diperkirakan akan naik, maka reksa dana pendapatan tetap dengan durasi tinggi akan mendapatkan capital gain yang tinggi. Tahun lalu, reksa dana pendapatan tetap yang mendapatkan return yang cukup besar karena memiliki durasi yang besar. Namun jika arah harga obligasi berbalik, potensi kejatuhan harga juga akan cukup besar kecuali mereka mengubah portofolio investasi.

    Semoga penjelasan yang panjang bisa menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  13. prayudi
    April 19th, 2012 at 09:48 | #13

    terima kasih sekali atas penjelasannya pak,.. sangat gamblang sekali,..

    cuman saya sedikit rancu dengan yield :

    “yield itu terjadi dari hasil suatu transaksi. Yield naik, berarti ada orang yang menjual dan membeli di yield tersebut. Ketika Yield turun, berarti ada pula seseorang yang menjual dan membeli di level yield tersebut.”

    pemahaman saya yield itu bunga/kupon obligasi, artinya ditetapkan diawal kan?
    tadi saya crosschek di artikel bapak yg lama :

    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/02/17/memahami-cara-kerja-obligasi-1-2/

    ternyata yield ada 3 jenis :
    Obligasi Berkupon Tetap (Sukuk Ijarah dalam istilah Syariah)
    Obligasi Berkupon Variabel (Sukuk Mudharabah)
    Obligasi Berkupon Nol atau Zero Coupon Bond (Belum ada istilah Syariah sepengetahuan saya)

    dan diartikel tsb baru dijelaskan yg kupon tetap saja, he he he ^^

  14. Rudiyanto
    April 19th, 2012 at 11:54 | #14

    @prayudi
    Yield itu BUKAN bunga / Kupon obligasi. Secara lengkap, Yield itu adalah keuntungan per tahun yang diterima oleh pemegang obligasi, yang diperoleh dari :
    Keuntungan Kupon + Keuntungan / Kerugian dari selisih harga + Reinvestasi pada tingkat bunga YTM + Memegang hingga jatuh tempo.

    Saya menyederhanakan Yield menjadi Kupon + Selisih Harga + Pegang Hingga jatuh tempo karena definisi reinvestasi itu teoritis tapi dimungkinkan secara akuntansi. Jadi yield itu baru didapat jika anda memegang hingga jatuh tempo, masalahnya banyak orang membeli obligasi, tapi tidak memegang hingga jatuh tempo. Bagi investor kategori tersebut Yield tidak bisa dianggap sebagai keuntungan, namun hanya sebagai acuan apakah mahal atau tidak.

    Seluruh teori obligasi memang dikembangkan berdasarkan prinsip obligasi dengan kupon tetap. Sebab umumnya obligasi negara dengan kupon variabel memiliki kupon setara BI rate, sementara obligasi korporasi dengan imbal hasil variabel masih sangat sedikit dan jarang ditransaksikan.

  15. shenna
    October 12th, 2012 at 11:43 | #15

    selamat siang,pak.. sy adalah seorang mahasiswi yang sedang melakukan penelitian prooposal tentang pengaruh suku bunga dan rasio keuangan terhadap yield obligasi.
    sy mau menanyakan bagaimana cara saya agar bisa mendapatkan data ttg yield obligasi ya? khususnya ttg YTM.. jadi data yang tepat saya butuhkan adalah tentang kupon, harga awal, dan brp tahun obligasi itu berlaku. karena saya sudah berusaha membuka dan mencari data lwt idx, tetapi saya tetap tidak bisa menemukan..
    termakasih atas bantuan bapak

  16. Rudiyanto
    October 12th, 2012 at 13:31 | #16

    @shenna
    Yth Shenna,

    Kamu sudah mencoba koran kontan?

  17. eddy
    November 5th, 2012 at 15:23 | #17

    Siang Pak Rudi…saya punya obligasi INDF06 senilai 1M beli mellui BNI sec….saya sudah ajukan order penjualan di harga 100,25….di OTC trade report saya lihat harga INDF06 100,415 Vol 20M..apakah INDF saya sudah laku terjual atau bagaimana…koq tidak ada laporannya dari brokernya?….TY

  18. Rudiyanto
    November 5th, 2012 at 16:40 | #18

    @eddy
    Wah, kalau soal ini sebetulnya lebih tepat jika ditanyakan sama broker yang bersangkutan pak. Sebab, belum tentu yang di OTC itu transaksi anda.

  19. syamsir alam
    January 15th, 2013 at 15:46 | #19

    Pak Rudi yth, saya mempunyai FR 040 jatuh tempo 25 Sept 2025 coupon 11% harga 144,5%, ytm 5,946%, mana yg lebih bagus sekarang (dengan mengabaikan risiko gagal bayar), saya tetap memegang FR ini atau menjualnya/menggantinya dgn obligasi corporate dgn ytm yg lebih besar, dan apa pertimbangannya? mohon bantuannya, sebelumnya diucapkan terima kasih

    • Rudiyanto
      January 15th, 2013 at 16:29 | #20

      Salam Pak Syamsir Alam,

      Boleh tahu anda beli di harga berapa dan kapan? Apakah harga di atas adalah harga saat ini atau harga beli anda? Berapa target return dari pembelian obligasi ini? Dengan obligasi mana anda mau menggantikan? Berapa harga beli, YTM, kupon dan tanggal jatuh temponya? Apakah obligasi tersebut tersedia saat ini juga jika anda mau beli? Apakah anda mendapat fasilitas bebas pajak (khusus dana pensiun) ?

  20. syamsir alam
    January 17th, 2013 at 14:52 | #21

    saya beli diharga 99,25 tgl 27-8-2009, harga diatas adalah harga saat ini, target returnnya ndak ada, akan diganti dengan obligasi Bank Nagari harga saat ini 106,25, kupon 9,875 ytm 7,52 jatuh tempo 13-1-2016, tersedia di pasar, dapat fasilitas bebas pajak, terima kasih atas pertimbangannya

  21. syamsir alam
    January 17th, 2013 at 16:28 | #22

    Pak Rudi yth, diatas sudah saya sampaikan informasi yg dibutuhkan untuk pertimbangannya, terima kasih

  22. Rudiyanto
    January 18th, 2013 at 14:59 | #23

    @syamsir alam
    Salam Pak Syamsir Alam,

    Saya punya 2 versi penjelasan untuk pertanyaan anda. Versi yang pendek kira2 seperti ini:
    Jika anda ganti obligasi anda akan mendapat:
    Capital gain 45% + Obligasi baru dengan YTM 7.49% sampai 2016

    Sementara jika tetap dipegang hingga jatuh tempo, anda akan tetap punya obligasi:
    YTM 11.10% hingga 2025.

    Jika saya adalah dana pensiun yang berorientasi jangka panjang, maka saya akan lebih memilih opsi untuk memegang obligasi hingga jatuh tempo karena YTM 11.10% termasuk cukup tinggi dan sulit diperoleh saat ini, kedua, saya memiliki kepastian hingga 2025. Dibandingkan dengan untung besar di atas buku 2013 namun setelah 2016 saya bingung uang tersebut mau dikemanakan karena obligasi pengganti sudah jatuh tempo.

    Versi panjangnya anda bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/01/18/studi-kasus-keputusan-jual-beli-obligasi/

    Semoga bermanfaat pak.

  23. syamsir alam
    January 18th, 2013 at 19:57 | #24

    Terima kasih Pak Rudi, informasi tsb.sangat bermanfaat sekali bagi kami di Dana Pensiun, kapan2 saya akan minta bantuan lagi dari Pak Rudi.

    • Rudiyanto
      January 18th, 2013 at 23:03 | #25

      Ha ha ha.. Kalau sering2 begini, bisa2 waktu saya untuk kerja kurang pak. Saran saya, bapak bisa lembaga profesional yang khusus bergerak di bidang tersebut. Rekan2 saya di tim riset http://www.infovesta.com seharusnya bisa memberikan solusi kepada anda. Bahkan bisa saja solusinya lebih baik karena data yang dimiliki lebih lengkap.

      Demikian pak, semoga bisa bermanfaat bagi dana pensiun dan semoga lembaga anda makin sukses selalu. Terima kasih.

  24. rina
    March 30th, 2013 at 09:42 | #26

    pak, bagaimana cara mendapatkan data harga obligasi dalam bentuk persentase. terima kasih.

    • Rudiyanto
      March 30th, 2013 at 12:05 | #27

      Salam rina, solusinya mudah, ambil koran kontan dan baca bagian obligasinya. Semoga bermanfaat

  25. Putri
    April 24th, 2013 at 16:07 | #28

    Selamat siang Pak Rudi,

    Saya di sini masih terbilang baru dalam mempelajari obligasi, terutama obligasi korporasi. Saya ingin bertanya Pak, sebenarnya dalam menyusun portofolio obligasi korporasi, kira-kira hal apa saja yang dipertimbangkan dalam pemilihan obligasinya? Terima kasih atas perhatiannya Pak

  26. Rudiyanto
    April 26th, 2013 at 08:50 | #29

    @Putri
    Selamat pagi Putri,

    Boleh tahu, apakah anda ingin menyusun portofolio obligasi ini sebagai investor apa? apakah investor perorangan, institusi (dana pensiun, yayasan) atau Manajer Investasi?