Home > Akuntansi Investasi, Obligasi > Memahami Cara Kerja Obligasi (3) : Mengenal Metode Akuntansi Obligasi

Memahami Cara Kerja Obligasi (3) : Mengenal Metode Akuntansi Obligasi

Dibandingkan metode akuntansi pembukuan untuk saham dan reksa dana, metode akuntansi untuk obligasi memiliki keunggulan yaitu mampu membentuk mindset investor. Kita sering berbicara bahwa investasi reksa dana saham dan saham untuk jangka panjang, namun pada kenyataannya masih terdapat banyak investor yang horison investasinya sangat pendek. Salah satu penyebabnya menurut saya adalah adalah pembukuan akuntansi yang dicatat mengikuti harga pasar. Ketika harga pasar berubah (baik itu naik tinggi ataupun turun tajam), investor bisa segera melihat perubahan nilai kekayaannya, akibatnya ketika melihat nilai kekayaan yang berubah dengan cepat, otomatis akan mempengaruhi investor untuk melakukan cutloss atau profit taking.

Sebaliknya, obligasi yang menjadi underlying asset reksa dana pendapatan tetap dimana diperuntukkan untuk investor dengan horison investasi jangka pendek, malah memiliki metode akuntansi yang membuat investor lebih fokus pada pencapaian tujuan jangka panjang daripada fluktuasi harga dalam jangka pendek. Seperti apa metode akuntansi untuk obligasi dan bagaimana metode ini membentuk mindset investor?

Metode pencatatan untuk obligasi dapat dibagi menjadi 3 yaitu

1. Metode Hold to Maturity (HTM)

HTM adalah metode akuntansi yang digunakan oleh investor yang sejak membeli obligasi sudah memutuskan untuk memegangnya hingga jatuh tempo. Karena obligasi umumnya memiliki jangka waktu jatuh tempo yang panjang (di atas 1 tahun), maka investor sudah memiliki mindset untuk investasi jangka panjang.

Mindset investasi jangka panjang menjadikan investor tidak lagi memperhatikan fluktuasi harga yang terjadi di pasar. Oleh karena itu, dalam pembukuan, obligasi tidak dicatat pada harga pasar melainkan menggunakan Harga Amortisasi. Secara sederhana, konsep harga amortisasi mirip dengan konsep penyusutan. Ketika suatu obligasi dibeli pada harga 110, maka setiap tahun akan disusutkan sejumlah nilai tertentu hingga menjadi 100 pada saat jatuh temponya. Sebaliknya ketika obligasi dibeli pada harga 90, maka setiap tahun akan dinaikkan sejumlah nilai tertentu hingga menjadi 100 pada saat jatuh temponya. Sebagai ilustrasi, silakan lihat gambar berikut:

Sebelum berlakunya standar akuntansi IFRS, perhitungan amortisasi untuk obligasi yang diperjualbelikan pada harga premium atau diskon menggunakan metode garis lurus. Dengan berlakunya metode bunga efektif. Selengkapnya mengenai perbedaan kedua metode tersebut dapat dibaca dengan mengklik link amortisasi premium dan diskonto dengan bunga efektif ini.

2. Metode Trading

Metode Trading mencatat obligasi pada harga pasar. Dengan mencatat obligasi pada harga pasar, maka nilai kekayaan investor bisa naik atau turun mengikuti perubahan harga yang berlaku. Keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi (misalnya beli di harga 110 sekarang harganya 105), selisih harga tersebut langsung dibukukan pada laporan rugi laba karena diasumsikan obligasi akan dijual dalam jangka waktu dekat. Jadi sejak awal mindset investor ketika membeli obligasi adalah untuk trading jangka pendek.

3. Metode Available For Sale (AFS)

Metode AFS dan trading pada dasarnya sama yaitu mencatat obligasi pada harga pasar. Sehingga fluktuasi harga pasar langsung mempengaruhi nilai kekayaan investor. Perbedaan dengan trading adalah metode AFS ini dibuat untuk investor yang mindset-nya masih bingung, apakah obligasi ingin dipegang hingga jatuh tempo atau ditradingkan. Karena belum ada keputusan itulah, ketika ada keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi, maka selisihnya tidak dicatat pada laporan rugi laba, melainkan pada modal (equity). Selanjutnya mengikuti perkembangan harga, investor bisa memutuskan apakah nantinya obligasi yang bersangkutan mau ditransaksikan atau dipegang hingga jatuh tempo.

Pada umumnya, institusi yang menggunakan ketiga metode di atas adalah Asuransi dan Perusahaan umum. Sementara Dana Pensiun hanya bisa menggunakan Trading dan HTM karena tidak memiliki Equity dalam struktur laporan keuangannya. Satu hal yang menarik dari sistem pembukuan untuk akuntnasi obligasi adalah sejak membeli obligasi pertama kali, investor sudah “dipaksa” untuk menentukan sikapnya. Apakah obligasi tersebut mau dipegang hingga jatuh tempo (HTM), ditransaksi jangka pendek (trading), atau mengambang dan baru diputuskan sesuai situasi pasar (AFS).

Cara di atas sangat efektif dalam membentuk mindset investor. Sebab ketika diputuskan untuk mengikuti harga pasar, berarti investor dianggap sudah menyiapkan diri terhadap risiko flukutasi harga yang terjadi. Ketika diputuskan untuk dicatatkan pada harga amortisasi, berarti investor sudah bertekad untuk berinvestasi jangka panjang dan tidak perlu khawatir lagi dengan fluktuasi harga yang terjadi di pasar.

Karena perbedaan karakteristik, metode akuntansi ini tidak dapat diterapkan sepenuhnya pada saham dan reksa dana. Namun MINDSET, apakah mau berinvestasi jangka panjang atau pendek, sangat dibutuhkan investor reksa dana agar tidak terjebak pada pertanyaan market timing dan fluktuasi jangka pendek. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Categories: Akuntansi Investasi, Obligasi Tags:
  1. thomazs
    November 8th, 2012 at 09:23 | #1

    obligasi mempunyai nilai kenaikan jika coupon rate diatas book value atau jika coupon rate dibawah book value maka akan penurunan..
    jika kenaikan dicatat sebagai pendapatan, dan jika penurunan dicatat sebagai biaya,
    bagaimana dari sisi perpajakan, apakah diakui pendapatan dan biaya tersebut.
    mohon bantuannya..
    trims

  2. Rudiyanto
    November 11th, 2012 at 23:30 | #2

    @thomazs
    Salam Thomazs,

    Saya tidak begitu mengerti dengan Book Value anda. Dalam praktek normal, kenaikan / penurunan harga obligasi dipengaruhi oleh perbandingan kupon dan suku bunga yang berlaku di pasar serta rating / kualitas kredit daripada obligasi tersebut.

    Mengenai perpajakan, sebetulnya kenaikan atau penurunan harga ini juga belum tentu dicatat sebagai pendapatan atau biaya. Namun lebih tepatnya sebagai keuntungan atau kerugian. Sistem perpajakan atas keuntungan maupun kerugian itu sendiripun sebenarnya merupakan suatu pokok studi lagi diluar metode pencatatan akuntansi yang digunakan karena perpajakan atas obligasi di Indonesia dibedakan antara pemiliknya. Jika bank, maka akan berlaku pajak penghasilan progresif, jika investor umum berlaku pajak final, dan jika reksa dana atau institusi khusus seperti dana pensiun diberikan diskon atau pembebasan pajak sama sekali atas pajak final tersebut.

    Anda bisa membaca lebih lengkap lagi di perpajakan obligasi di peraturan perpajakan. Semoga bermanfaat.

  3. wilson
    February 19th, 2013 at 20:39 | #3

    Salam Pak Rudi,

    Saya ingin bertanya tentang harga wajar obligasi. Secara teori, ada berapa metode penghitungan harga wajar obligasi? Apa saja itu pak? Mohon dijelaskan secara singkat pak.

    Mohon bantuan jawabannya pak. Terima kasih Pak Rudi.

  4. Rudiyanto
    February 20th, 2013 at 09:44 | #4

    @wilson
    Dear Wilson,
    Untuk tepatnya secara teori ada berapa saya kurang tahu. Selain itu, teori dan produk obligasi juga berkembang dari waktu ke waktu. Kebanyakan teori yang ada membahas harga wajar obligasi tanpa ada opsi. Ketika dihadapkan pada obligasi dengan opsi, rumus yang digunakan juga sudah berkembang lagi.

    Beberapa pendekatan yang saya tahu antara lain:
    1. Menggunakan tingkat imbal hasil yang diinginkan oleh investor
    2. Menggunakan tingkat return yang wajar ditambah dengan tingkat bunga risk free dalam negeri
    3. Menggunakan tingkat return yang wajar ditambah dengan tingkat bunga risk free internasional
    4. Menggunakan tingkat imbal hasil obligasi sejenis (negara, korporasi)

    Kamu juga bisa baca2 tentang aturan Nilai Pasar Wajar di peraturan reksa dana di website BAPEPAM-LK. Ada ketentuan2 yang mesti diikuti oleh Manajer Investasi ketika menentukan harga pasar wajar instrumen investasi, salah satunya investasi obligasi.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih

  5. Nurwahidah
    April 22nd, 2013 at 10:29 | #5

    asalamua’laikum tolong dibantu uhty cara penyelesaiannya

    1 oktober 2012 PT.Gembira membeli obligasi dengan nilai nominal per lembar Rp.25.000 pada kurs 110 biaya profisi & matrai pada saat pembelian obligasi sebesar Rp.40.000 pembayaran bunga obligasi di lakukan 2x dalam 1 tahun yaitu pada 1april & 1 oktober semua obligasi ini dijual kembali pada tanggal 1 DESEMBER pada kurs 108 dengan membutuhkan biaya penjualan sebesar Rp.25.000 obligasi ini berbunga 12% pertanyaannya:
    *hitunglah harga kurs pembelian *hitunglah harga perolehannya *hitunglah bunga berjala *hitunglah pendapatan bunga obligasi *hitunglah harga kurs penjualan *hitunglah harga penjualan *hitunglah bunga berjalan pada saat penjualan obligasi *hitunglah laba/rugi *hitunglah lakukan pencatatan seperlunya

  6. April 22nd, 2013 at 15:50 | #6

    @Nurwahidah

    Ini soal/tugas kuliah ya mbak :)

    • Rudiyanto
      April 23rd, 2013 at 09:24 | #7

      Ha ha, saya baru saja mau tanya begitu.
      Ngomong2 blog anda yang berisi pengalaman bersepeda jarak jauh sungguh luar biasa pak. Yang lebih luar biasa lagi kamu orang yang menjalankan hal tersebut.

      Terus berkarya pak..

  7. April 24th, 2013 at 11:05 | #8

    @Rudiyanto
    Makasih pak Rudi. Blog gowes saya baru mulai, sayang kurang terbarui karena kesibukan.

    Salam kenal juga. Saya sudah mengikuti tulisan2 pak Rudi sejak bapak belum pindah. Saya sebenarnya sudah 2x ketemu bapak di gathering di Bumi Surabaya, lain kali saya akan mengenalkan diri.

    Terus menulis dan sharing ilmu ya Pak. :)

  8. surya
    June 3rd, 2013 at 14:26 | #9

    pak jika ada istilah notes program dalam suatu perjanjian kredit, apakah itu termasuk obligasi? krn didalam perjanjian itu ada istilah penerbit & penerima, dan bunga tetap hingga jatuh tempo masa waktu 5 tahun.

    saya bingung klasifikasi pos tersebut, apakah masuk hutang lain lain atau hutang bank mengingat pihak penerima ( adalah pihak bank dari luar negeri).

    mohon bantuannya.

  9. Rudiyanto
    June 3rd, 2013 at 14:46 | #10

    @surya
    Salam Surya, apakah kredit tersebut sifatnya ramai2, dimana pihak yang meminjamkan dana kepada penerima tersebut lebih dari 50 pihak?

  10. dede dirhamzah
    March 23rd, 2014 at 23:55 | #11

    salam pak pak rudi saya mahasiswa akuntansi yang kurang paham tentang obligasi.

    kenaikan suku bunga acuan BI rate memicu fulktuasi surat harga seperti obligasi, bahkan ada beberapa emiten yang membatalkan penerbitan obligasi karena kenaikan BI rate. kenapa hal tersebut bisa terjadi?? mohon penjelasannya juga pak dari sisi akuntansinya??

  11. Rudiyanto
    March 28th, 2014 at 01:08 | #12

    @dede dirhamzah
    Salam Dede,

    Coba bayangkan kamu adalah perusahaan yang menerbitkan obligasi. Menerbitkan obligasi berarti kamu membayar bunga. Pertanyaannya apakah bunga yang kamu bayarkan harus lebih tinggi daripada bunga bank atau tidak? Dan kemudian jika bunga bank dinaikkan karena BI rate naik, apakah perusahaan harus menerbitkan obligasi dengan bunga yang lebih tinggi atau lebih rendah?

    Saya tidak begitu mengerti maksud pertanyaan anda dari sisi akuntan dan penerbitan obligasi. Bisa lebih diperjelas seperti apa?