Home > Obligasi > Memahami Cara Kerja Obligasi…..(1)

Memahami Cara Kerja Obligasi…..(1)

Pada artikel posting yang terakhir, saya sudah berjanji bahwa akan membuat artikel yang berkaitan dengan obligasi. Namun terlepas dari hal tersebut, saya berpikir bahwa ada baiknya sebagai investor, kita mengetahui lebih banyak tentang cara kerja instrumen ini karena:

  1. Tahun lalu kinerja reksa dana pendapatan tetap jauh lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Demikian juga untuk awal tahun ini. Namanya juga penjual, biasanya barang yang dijual selalu yang returnnya lebih bagus. Jadi besar kemungkinan tahun ini anda akan lebih sering ditawari reksa dana pendapatan tetap dibandingkan reksa dana saham. Nah, bagaimana anda mau membeli produk ini jika cara kerja obligasi yang menjadi instrumen utama reksa dana pendapatan tetap saja anda tidak tahu?
  2. Selain return historis yang bagus, instrumen ini juga memiliki fungsi penting dalam menjalankan fungsi diversifikasi. Sudah beberapa kali dalam sejarah dimana ketika kondisi saham sedang terpuruk, kerugian di obligasi lebih kecil bahkan tidak jarang memberikan keuntungan seperti yang terjadi tahun lalu. Jadi, memiliki reksa dana pendapatan tetap adalah suatu keharusan terutama bagi investor besar atau investor institusi yang ingin mengelola investasinya dengan hasil yang lebih optimal.

Obligasi dapat dibagi menjadi berbagai jenis menurut fitur-fitur yang ada. Namun secara praktis, kategori obligasi yang paling penting untuk diketahui oleh investor adalah berdasarkan kuponnya. Pembagian obligasi berdasarkan kupon dapat dibagi menjadi:

  • Obligasi Berkupon Tetap (Sukuk Ijarah dalam istilah Syariah)
  • Obligasi Berkupon Variabel (Sukuk Mudharabah)
  • Obligasi Berkupon Nol atau Zero Coupon Bond (Belum ada istilah Syariah sepengetahuan saya)

 

 

Obligasi Berkupon Tetap

Yang paling penting untuk diketahui oleh investor dan juga paling banyak dijabarkan dalam seluruh literatur investasi adalah tentang obligasi berkupon tetap atau fixed rate bond. Jenis obligasi ini juga merupakan yang terbesar dan paling banyak dimiliki dalam reksa dana, baik itu reksa dana pendapatan tetap, campuran, terproteksi bahkan terdapat pula dalam reksa dana saham meski dalam komposisi yang kecil.

Obligasi Berkupon Tetap atau sering disingkat Obligasi FR ini adalah jenis obligasi yang membayarkan sejumlah bunga yang sifatnya tetap selama jangka waktu tertentu dan pokoknya pada saat jatuh tempo. Kupon adalah sebutan untuk bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi, biasanya dinyatakan dalam persentase tertentu dan dikalikan dengan nominal obligasi. Salah satu fitur membedakan antara obligasi dengan saham adalah instrumen ini memiliki waktu jatuh tempo. Bagi anda yang masih awam, bayangkan saja obligasi ini sama seperti deposito, hanya jatuh temponya lebih panjang. Jatuh tempo untuk obligasi bisa berkisar antara 1 – 30 tahun untuk pemerintah dan 1 – 10 tahun untuk swasta.

Jatuh tempo yang lebih panjang ini menjadikan obligasi lebih berisiko daripada deposito. Logikanya, jika deposito yang jatuh temponya (katakan) 1 bulan memberikan bunga 5.75% per tahun, maka obligasi yang jatuh temponya (katakan juga) 10 tahun tentu harus memberikan kompensasi yang lebih tinggi agar dipilih oleh investor. Sehingga umumnya, kupon obligasi lebih tinggi dibandingkan bunga deposito. Semakin lama waktu jatuh tempo, semakin besar pula kupon obligasi.

Faktor kedua yang membuat kupon obligasi lebih tinggi dibandingkan dengan deposito adalah risiko gagal bayar. Karena obligasi diterbitkan oleh perusahaan, maka tentu ada kemungkinan suatu perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. Hal ini bisa disebabkan seperti terjadi kerugian dalam operasi yang terlalu besar, kondisi bisnis yang lesu, beban hutang yang terlalu besar, force majeure, penggelapan dan atau faktor lainnya. Banyak sekali contoh kasus yang bisa anda lihat baik dari dalam maupun luar negeri jika anda mengikuti pemberitaan di koran selama beberapa tahun terakhir ini. Bank juga memiliki risiko gagal bayar, namun dalam jumlah tertentu, masih dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Dalam prakteknya tentu risiko-risiko yang saya sebutkan dalam faktor kedua di atas berbeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Ada perusahaan yang sangat solid, ada pula perusahaan yang biasa-biasa atau bahkan cenderung menunjukkan ketidakmampuan dalam membayar. Sebagai investor yang awam tentu akan susah sekali bagi kita untuk tahu dan mengkuantifikasikan risiko gagal bayar suatu perusahaan. Untuk itulah dikembangkan Rating. Perusahaan dengan rating yang lebih baik cenderung membayar kupon lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan dengan rating yang kurang baik.

Dalam investasi obligasi, kupon yang nilainya tetap sampai obligasi jatuh tempo tersebut merupakan cerminan dan kompensasi atas risiko lamanya jatuh tempo (semakin lama uang kita kembali) dan risiko gagal bayar yang akan dihadapi oleh investor. Tabungan memiliki risiko waktu dan gagal bayar yang paling kecil karena bisa diambil sewaktu-waktu, oleh karena itu bunganya juga yang paling kecil bahkan tidak ada. Jadi besar kecilnya kupon dalam obligasi adalah indikator yang menunjukkan BESARNYA RISIKO. Semakin besar, berarti semakin tinggi pula risiko instrumen tersebut. Hal ini juga berlaku bagi tawaran-tawaran investasi yang too good to be true yang belakangan ini sangat marak di masyarakat.Berhati-hatilah.

Gambar di atas, yang saya ambil dari investopedia, merupakan gambar yang paling baik menurut saya dalam menggambarkan suatu obligasi berkupon tetap.

  • Timeline menunjukkan berapa tahun suatu obligasi akan jatuh tempo
  • Maturity Date menunjukkan tanggal jatuh tempo obligasi
  • Cashflows menunjukkan sejumlah bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Last Cashflow menunjukkan jumlah antara bunga dan pokok pinjaman yang dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Duration menunjukkan satuan risiko obligasi (akan saya jelaskan dalam kesempatan yang lain)

Obligasi Memiliki Harga

Harga obligasi dinyatakan dalam persentase. 100% berarti harga obligasi sama dengan nilai pokok obligasi atau disebut at par. Di bawah 100% disebut at discount dan di atas 100% disebut at premium. Pertanyaan kenapa obligasi memiliki harga? Kenapa pula orang mau membeli obligasi ketika harganya di atas 100% dan mau menjual obligasi ketika harganya di bawah 100%? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengetahui tentang konsep YTM (Yield to Maturity).

Obligasi memiliki harga karena bisa diperdagangkan. Artinya seorang investor yang memegang obligasi (katakan) yang jatuh temponya 10 tahun, karena butuh dana, maka obligasi tersebut yang baru dibelinya tersebut bisa dijual kepada pihak lain untuk mendapatkan dana. Mau diperdagangkan di pasar perdana (ketika  obligasi diterbitkan pertama kali) maupun ditransaksikan di pasar sekunder, acuan untuk berinvestasi di obligasi selalu sama, yaitu berapa besarnya keuntungan obligasi dibandingkan dengan keuntungan instrumen yang menjadi acuan (misalnya deposito) pada saat transaksi dilakukan.

Kata “pada saat transaksi” dilakukan menjadi gambaran yang penting, sebagai ilustrasi, misalnya ketika suatu obligasi baru terbit, tingkat deposito yang berlaku adalah 10%. Sehingga pada saat itu, investor baru berminat membeli obligasi tersebut ketika menawarkan kupon di atasnya misalnya 12%. Pada saat mau dijual, setelah dipegang beberapa tahun, kondisi ekonomi membaik, rating kita naik dan suku bunga deposito menjadi semakin rendah. Katakan sama seperti sekarang yaitu sekitar 6%, maka investor yang tadinya baru puas kalau dapat 12%, sekarang dikasih 8% mungkin sudah bahagia. Karena opsi deposito yang tersedia pada saat keputusan mau diambil hanya memberikan keuntungan 6%.

Katakanlah kedua investor sepakat bahwa jika 8% merupakan tingkat return yang wajar sehingga transaksi bisa dilakukan. Di sini masalah terjadi, bagaimana membuat obligasi tersebut memberikan keuntungan 8% sementara kuponnya yang sudah tetap dan tidak akan berubah sampai jatuh temponya adalah 10%? Dari pemikiran inilah konsep dan formula tentang harga wajar dan perhitungan obligasi lainnya ditemukan.

Harga wajar obligasi =

  • YTM = Yield To Maturity adalah tingkat keuntungan per tahun yang diperoleh investor obligasi yang diperoleh dengan memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo. Tingkat keuntungan diperoleh dari keuntungan kupon + keuntungan / kerugian dari selisih harga.
  • N = waktu jatuh tempo (dalam tahun)

Sebagai contoh obligasi dengan nominal 100 juta dan memberikan kupon 10% (10 juta per tahun) ingin dijual pada harga yang mencerminkan keuntungan 8% per tahun, maka perhitungannya menjadi :

Hasil dari perhitungan di atas adalah 105,15 juta. Jadi harga yang mencerminkan keuntungan 8% per tahun dari obligasi tersebut adalah dengan menjualnya saat ini di harga 105,15 juta. Si pembeli obligasi yang mendapat keuntungan 10 juta per tahun dari kupon selama 3 tahun dan kerugian 5.15 karena pada saat jatuh tempo Cuma dikembalikan 100 juta, mendapatkan keuntungan yang ekuivalen dengan 8% per tahun.

Sebaliknya apabila investor menginginkan keuntungan 12%, maka harga yang mencerminkan keuntungan tersebut adalah Rp 95,2 juta. Harga tersebut biasanya dinyatakan dalam persentase sehingga jika anda lihat di koran atau media tercatat 105.15 atau 95.2. Sebagai contoh:

Semakin besar tingkat keuntungan yang diinginkan investor (YTM) maka semakin rendah harga obligasi, sebaliknya jika tingkat keuntungan yang diinginkan juga kecil, maka semakin tinggi pula harga obligasi.

Jadi ketika anda mendengar atau membaca informasi bahwa Yield (sebutan untuk YTM) naik atau turun, itu berarti tingkat keuntungan yang diharapkan untuk obligasi naik atau turun. Semakin aman suatu negara (yang ditunjukkan dengan rating), biasanya Yield yang diminta juga akan semakin rendah seperti di Indonesia. Sebaliknya Yunani yang diperkirakan akan bangkrut, maka Yield Obligasi yang diminta juga sangat tinggi. Sebagai perbandingan, jika obligasi yang jatuh temponya 10 tahun memiliki yield 5.3%, obligasi serupa terbitan Yunani memiliki Yield 33% atau hampir 6 kali lipatnya. Berani beli?

Demikian artikel ini, pada kesempatan yang lain saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai risk and return obligasi. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

Categories: Obligasi Tags:
  1. Rudiyanto
    May 23rd, 2015 at 13:13 | #1

    @rani
    Tergantung pengumuman peringkat obligasinya. Apakah itu yang pertama kali bersamaan dengan obligasi terbit atau perubahan peringkat di tengah jalan.
    Kalau pertama kali yang tidak ada, kalau perubahan rating ya ada.

    Terima kasih.

  2. diana
    June 6th, 2015 at 16:21 | #2

    halo pak saya mahasiswa tingkat akhir sedang meneliti ttg likuiditas obligasi korporasi.
    dalam perhitungan likuiditas ini saya menggunakan perhitungan yg dibuat oleh R. Roll.
    dalam perhitungan ini dibutuhkan nilai return per transaksi yang didapat dari harga obligasi intraday. yang ingin saya tanyakan, karena obligasi korporasi itu memang tidak diperdagangkan setiap hari, bagaimanakah saya menghitung return nya?

  3. Rudiyanto
    June 8th, 2015 at 10:10 | #3

    @diana
    Salam Ibu Diana,

    Kalau begitu carilah obligasi yang ditransaksikan setiap hari. Atau anda bisa baca paper tentang tulisan tersebut dan bagaimana pembuat paper menangani masalah kurangnya data transaksi obligasi. Sebab transaksi obligasi korporasi yang tidak likuid bukan hanya terjadi di Indonesia.

    Semoga bermanfaat.

  4. SEPTI
    June 30th, 2015 at 10:29 | #4

    Pak Rudiyanto saya mau menanyakan ….
    Obligasi yang paling baik nilainya & dalam bidang apa perusahaan tersebut memiliki kegiatan usahanya serta bagaimanasuatu perusahaan tersebut dapat mempertahankan nlai saham agar tetap stabil ?bagaimana pendapat bapak mengenai obligasi tersebut

  5. Rudiyanto
    July 6th, 2015 at 02:18 | #5

    @SEPTI
    Selamat malam Ibu Septi,

    Coba pertanyaannya disusun yang benar dulu baru ditanyakan.

    Terima kasih.

  6. sintia
    October 1st, 2015 at 21:35 | #6

    pak saya kebetulan sekarang sedang skripsi dan mengalami beberapa kendala mohon dijawab. bagaimana cara saya mendapatkan data mengenai harga obligasi di pada pasar perdana ? terima kasih

  7. Rudiyanto
    October 5th, 2015 at 11:35 | #7

    @sintia
    Selamat Siang Sintia,

    Sudah pernah menghubungi IBPA ?

  8. ayuna tiara s
    October 9th, 2015 at 06:11 | #8

    pak saya mau menyakan tentang hubungan antara yeild saat ini dan ytm untuk obligasi yang terjual dengan premium ? untuk obligasi yang terjual dengan diskon? untuk obligasi padanilai nominalnya >

    terimakasih

  9. dyah ayu
    October 10th, 2015 at 09:09 | #9

    selamat pagi pak rudiyanto,
    saya ingin bertanya mengapa terdapat seseorang yang membeli obligasi pemerintah apabila memiliki ytm yg bernilai negatif?
    mengapa hal ini dapat terjadi pak ? terimakasih

  10. Fani
    October 16th, 2015 at 15:31 | #10

    Mas rudiyanto,
    menggunakan case diatas, jika kupon 10% dibagikan per bulan (bukan per tahun) dan sudah berjalan selama (katakan) 17 bulan dari total tenornya yaitu 3 tahun. Bagaimana cara menghitung harga wajar obligasi jika saya menginginkan keuntungan (misalnya) 11%?
    Apakah tetap menggunakan rumus yang sama?

    NB: jika ya, artinya saya sudah tidak bisa menikmati kupon 17 bulan yang lalu?

  11. Rudiyanto
    October 16th, 2015 at 17:09 | #11

    @ayuna tiara s
    Selamat Sore Ibu Ayuna,

    Coba pertanyaannya disusun yang benar dulu baru ditanyakan kembali.
    Saya tidak mengerti maksud pertanyaan anda

    Terima kasih

  12. Rudiyanto
    October 16th, 2015 at 17:16 | #12

    @dyah ayu
    Selamat Sore Ibu Dyah Ayu,

    Ada contoh spesifiknya? Obligasi seri apa, di harga berapa, tanggal berapa, dan sebagainya ?

    Terima kasih

  13. Rudiyanto
    October 16th, 2015 at 17:53 | #13

    @Fani
    Salam Fani,

    Bisa pakai fungsi Price di Microsoft Excel. Pada fungsi tersebut, kamu bisa input tanggal beli dan tanggal jatuh tempo, jadi jika obligasi sudah berjalan tetap bisa kamu hitung berapa harga atau Yieldnya.

    Rumus di atas hanya bisa digunakan jika kamu membeli obligasi tepat pada saat pembayaran kuponnya, jika tidak, agak kurang valid.

    Semoga bermanfaat

  14. Fani
    October 24th, 2015 at 18:25 | #14

    Terima kasih pak Rudi buat responnya. Saya sudah berhasil menghitung menggunakan rumus yang bapak pakai. Terima kasih banyak.

    Oh btw, saya ingin tahu apa faktor yang harus dipertimbangkan / bagaimana menguji return mana yang paling besar ketika bonds saya ingin pegang hingga maturity atau ditrading-kan mengikutkan faktor tax dll (kalau ada).

    Misal ORI12, saya beli 5bio pada saat IPO. Apakah saya keep saja untuk 3 tahun atau saya tradingkan, untuk dapat return yang lebih besar?
    *katakanlah asumsi profil resiko saya agresif — walaupun konteks pertanyaan saya ini bukan reksadana.

    Sekali lagi saya sampaikan terima kasih pak. Senang belajar obligasi secara khusus.

  15. Rudiyanto
    October 26th, 2015 at 12:15 | #15

    @Fani
    Siang Ibu Fani,

    Besaran return yang diperoleh dengan cara trading sangat tergantung pada keahlian dan kondisi pasar. Sementara Hold to Maturity sudah seperti deposito. Jadi permasalahannya bukan bagaimana cara hitungnya, tapi apakah anda yakin harganya akan naik dan kalau naik jadi berapa. Trus kalau sudah dijual, beli lagi di harga berapa dan apakah pasti bisa dapatkan harga tersebut? Baru dari situ kamu kalkulasikan keuntungannya.
    Semoga bermanfaat.

  16. Raina Mahardika
    November 25th, 2015 at 02:22 | #16

    Selamat pagi pak Rudiyanto…
    Saya Raina pak, mau bertanya tentang materi kuliah. Saya bingung pak dengan cara menyelesaikan soal ini. Mohon bantuannya pak…
    Soalnya begini:
    Satu perusahaan memerlukan tambahan dana untuk pembiayaan ekspansi sebesar Rp 500jt. Perusahaan tersebut memilih untuk mengeluarkan zero coupon bond yang akan jatuh tempo lima tahun. Jika nominal obligasi per lembar adalah Rp 10rb dan diharapkan terjual dengan harga Rp 550 per lembar obligasi, tarif pajak 40%, maka:
    a. Berapa lembar obligasi yang harus dijual untuk memperoleh tambahan dana tersebut?
    b. Berapa YTM setelah pajak zero coupon bond semacam itu?
    c. Berapakah biaya utang setelah pajak jika perusahaan memilih untuk mengeluarkan zero coupon bond tersebut?
    Saya sangat berharap bapak Rudiyanto mau membantu saya dalam menyelesaikan tugas kuliah ini. Saya mohon pencerahannya pak. Terimakasih dan selamat pagi.

  17. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 11:00 | #17

    @Raina Mahardika
    Salam Ibu Raina,

    Menurut saya pertanyaan tersebut bisa terjawab jika anda membaca buku materi perkuliahan anda dengan detail atau berdiskusi dengan rekan2 anda. Saya bantu dengan doa, supaya tugas kuliah anda terjawab.

    Semoga berhasil

  18. Duta
    December 17th, 2015 at 14:53 | #18

    selamat siang bapak rudiyanto

    saudara saya memiliki “Goverment of free vietnam : gold reserves bearer bond”
    keluaran tgl 6-3-1997 apakah obligasi ini masih berlaku ? dapatkah dicairkan bapak ?

    termikasih sebelumnya

  19. Rudiyanto
    December 21st, 2015 at 20:40 | #19

    @Duta
    Selamat Malam Pak Duta,

    Kalau anda yakin saudara anda bukan korban penipuan, maka anda bisa coba menghubungi kedutaan besar Vietnam untuk prosedurnya. Jika sudah terlanjur menjadi korban penipuan, segera hubungi polisi agar tidak ada orang lain yang tertipu.

    Semoga bermanfaat.

  20. Melissa Handoko
    January 17th, 2016 at 18:03 | #20

    Selamat Sore pak Rudiyanto,

    blognya informatif sekali dan membantu saya memahami instrumen investasi. saya mempunyai portfolio RDPT dan beberapa obligasi ritel, untuk investasi saya. dan saya notice bapak bekerja di Panin AM sehingga saya ingin menanyakan tentang MI.

    saya ingin tahu pak, apakah manajer investasi Asset Management kesehariannya aktif melakukan trading untuk mendapatkan NAB setiap hari, terutama untuk RDPT? atau, mereka hanya menjual jika hanya ada redemption dan beli jika ada subs? dan apakah reksa dana saham juga diperlakukan demikian, pak?
    saya sangat penasaran sekali bagaimana MI mengelola dana kelolaan nasabahnya.

    Terima kasih pak Rudiyanto atas informatifnya blog ini.
    Salam sejahtera.

  21. Rudiyanto
    January 18th, 2016 at 00:32 | #21

    @Melissa Handoko
    Selamat Malam Ibu Melissa,

    Mengenai cara kerja MI, saya pernah menulsi artikel di Kompas dengan link sebagia berikut http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/12/23/060800626/Bagaimana.Cara.Manajer.Investasi.Mengelola.Reksa.Dana.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda.

    Terima kasih

  22. adi
    February 14th, 2016 at 14:57 | #22

    Selamat sore pak Rudi,
    saya mau menanyakan. apakah obligasi ini di pasar dapat dibeli secara langsung atau harus dengan perantara? apakah siapapun dapat membelinya tanpa?
    dan minimal transaksi obligasi paling sedikitnya di harga berapa rupiah ya pak?

    terima kasih sebelumnya

  23. adi
    February 14th, 2016 at 23:51 | #23

    *maaf ralat pak ada yang kurang ketik*

    Selamat sore pak Rudi,
    saya mau menanyakan. apakah obligasi di pasar dapat dibeli secara langsung atau harus dengan perantara? apakah siapapun dapat membelinya tanpa pengecualian?
    dan minimal transaksi obligasi paling sedikitnya di harga berapa rupiah ya pak?

    terima kasih sebelumnya

  24. Rudiyanto
    February 15th, 2016 at 00:15 | #24

    @adi
    Selamat malam Pak Adi,

    Pembelian obligasi bisa melalui broker, bank, ataupun langsung mengikuti lelang di BI.
    Tapi untuk umumnya untuk masyarakat biasa, pembelian bisa dilakukan via bank yang menawarkan ORI, biasanya bisa dari Rp 5 juta, tapi pada prakteknya paling tidak harus beberapa ratus juta karena yang melayani penjualan ORI adalah umumnya divisi prioritas perbankan. Jika ingin membeli obligasi korporasi, bisa melalui perusahaan sekuritas (broker) yang melakukan penjaminan emisi atas obligasi tersebut. Tapi siapkan minimal beberapa M.

    Semoga bermanfaat

  25. Arsyad
    March 1st, 2016 at 09:24 | #25

    Salam,
    Saya inging bertanya tentang hubungan harga oblgasi dengan permintaan obligasi pak. Apa bisa bapak jelaskan? Dan menggunakan dasar teori apa hal tersebut. Selanjutnya saya ingin menanyakan juga tentang hubungan inflasi dengan permintaan oblgasi apakah benar ketika inflasi naik permintaan obligasi juga akan naik kalau didasarkan dengan teori preferensi likuiditas trimksh

  26. Rudiyanto
    March 4th, 2016 at 00:10 | #26

    @Arsyad
    Salam Pak Arsyad,

    Kalau antara harga dengan hukum permintaan penawaran instrumen apapun pada dasarnya sama. Semakin banyak permintaan maka harga akan naik dan sebaliknya.

    Kalau antara inflasi dengan permintaan obligasi dalam kaitannya dengan teori preferensi likuiditas silakan anda baca teorinya atau diskusikan dengan dosen anda.

    Terima kasih

  27. ogi
    April 28th, 2016 at 16:15 | #27

    Selamat sore Pak Rudi

    Pak, situasi seperti apakah yang mendasari pemerintah untuk menerbitkan obligasi?

    Saya tidak bisa membeli ORI yang diterbitkan sebelumnya. Saya berpikir kapan lagi obligasi akan diterbitkan. Apakah tiap tahun pemerintah menerbitkan obligasi?

    Terimakasih
    salam

  28. Rudiyanto
    April 30th, 2016 at 19:55 | #28

    @ogi
    Selamat malam Pak Ogi,

    Biasanya obligasi diterbitkan karena pengeluaran pemerintah lebih banyak daripada pendapatan sehingga pemerintah berhutang untuk menutupi selisih tersebut.

    Kalau mengenai jadwal penerbitan ORI, biasanya tiap tahun sama dan dibulan yang sama pula. Anda bisa cek di http://www.infovesta.com untuk bulan penerbitannya. Itu biasanya sama dengan bulan jatuh temponya juga.

    Semoge bermanfaat

  29. Putri
    May 7th, 2016 at 16:52 | #29

    Selamat Sore Pak Rudi,,
    Saya ingin bertanya terkait obligasi FR, lebih khususnya sukuk negara ritel dengan obligasi ritel indonesia,
    Menurut Bapak dari kedua instrumen investasi tersebut yang mana sekiranya lebih menguntungkan ,?
    Lalu, hal-hal apa saja yang sebaiknya dipertimbangkan oleh investor dalam melakukan investasi diantara sukuk negara ritel dengan obligasi ritel indonesia,?

    Terima Kasih sebelumnya Pak Rudi,,

  30. Rudiyanto
    May 7th, 2016 at 19:21 | #30

    @Putri
    Selamat malam Ibu Putri,

    Boleh tahu untuk pertanyaan ini, konteksnya anda seorang investor atau peneliti dengan topik investasi surat berharga pemerintah ?

  31. Putri
    May 8th, 2016 at 06:17 | #31

    @Rudiyanto

    Saya sedang meneliti perbandingan antara sukuk negara ritel dan obligasi ritel indonesia Pak,,

  32. Putri
    May 8th, 2016 at 16:35 | #32

    @Rudiyanto

    Sebenarnya saya salah satu mahasiswi yang sedang melakukan penelitian terkait sukuk dan ori Pak,,
    Sngat sulit mendapatkan referensi trkait penelitian tersebut, bahkan saya belum menemukannnya,,
    Semoga Bapak berkenan untuk memberikan informasi terkait hal tersebut,

    Mhon maaf sebelumnya Pak,
    Terima kasih atas responnya yg sangat baik,,
    Sukses selalu Pak,,

  33. Rudiyanto
    May 9th, 2016 at 23:35 | #33

    @Putri
    Selamat malam Ibu Putri,

    Kalau saran saya, untuk menemukan referensi saja sudah begitu sulit maka sebaiknya bisa menggunakan topik yang lain yang bisa dicari referensinya.

    Dan seharusnya untuk mencari referensi menggunakan Google bukanlah sesuatu yang terlalu sulit. Mungkin usahanya masih kurang keras.

    Semoga bermanfaat.

  34. Intan
    May 13th, 2016 at 10:49 | #34

    Selamat pagi Pak Rudy, saya ingin mengetahui nilai par obligasi saat diterbitkan dengan harga pasarnya utk data skripsi saya. Dimana saya dapat menemukan informasi tersebut? Terimakasih

  35. Rudiyanto
    May 15th, 2016 at 14:08 | #35

    @Intan
    Selamat Siang Ibu Intan,

    Setahu saya data harga obligasi tidak ada yang gratis dan harga berlangganannya cukup mahal. Kecuali anda bekerja di perusahaan sekuritas atau manajer investasi yang memiliki akses data tersebut, sebaiknya bisa mencari topik penelitian yang baru.

    Semoga bermanfaat

  36. Bedjo
    May 24th, 2016 at 15:33 | #36

    Selamat siang pak Rudi, saya tertarik dan menempatkan dana saya di ori11 dan ori12.
    yang saya mau tanyakan, bagaimana menghitung uang yg saya hasilkan seandainya saya tradingin ori saya pak?

    mis: saya beli 1 januari 2015 di harga 100% (5 juta) dengan bunga 10%.
    pada 31 desember 2015, saya bisa jual katakan di harga 105% (menurut sales bank saya).
    total hasil saya berapa ya pak?
    apakah 105%-5%-pajak 15%+(12/12*10%*5juta). benar demikian pak?
    dan apakah pajak ori dengan sukri sama? yaitu 15%?

    terima kasih.

  37. Rudiyanto
    May 30th, 2016 at 00:38 | #37

    @Bedjo
    Selamat Sore Pak Bedjo,

    Untuk investasi ORI, yang kena pajak adalah keuntungan dan kupon dari ORI tersebut. Keduanya kena pajak 15%.

    Jika anda memang benar-benar berminat, saya yakin bank agen penjual di bank tersebut akan memberikan simulasi perhitungannya untuk anda. Yang anda buat di atas masih belum jelas, ada baiknya menggunakan semuanya dalam Rp supaya lebih mudah dimengerti.

    Terima kasih

  38. Imas M
    June 4th, 2016 at 22:42 | #38

    Selamat malam pak,
    Saya sedang melakukan penelitian terkait obligasi. Ada beberapa pertanyaan terkait data yang saya akan hitung, Saya mempunyai data obligasi A dengan informasi
    listed: 22-Jun-06 Mature: 21-Jun-16
    Nominal: 200 M Kupon: 13,60%
    harga pada saat trade date 13-Jan-11 sebesar 114,75 %

    dalam menghitung YTM, Jika dengan menggunakan perhitungan YTM approximation formula, apakah saya dapat menghitungnya dalam bentuk per transaksi harian dan dirata ratakan untuk mendapat YTM bulanan?

    bagaimana dengan kuponnya apakah dapat 13,60% dibagi 12 sehingga didapat kupon bulanan? atau 13,60% dibagi 360 hari sehingga didapat kupon perharinya?

    dan terkait term to maturity nya jika dalam satu bulan terdapat lima transaksi apakah dapat dibuat rata-rata term to maturity untuk satu bulan?

    Dan untuk harga nya apakah saya menghitungnya dalam bentuk persen atau dapat 114,75 % dikali dengan nilai nominalnya?

    Terimakasih atas kesempatan saya untuk bertanya dan semoga Bapak berkenan memberikan informasi atas pertanyaan saya.

  39. Imas m
    June 4th, 2016 at 22:47 | #39

    Selamat malam pak,
    Saya sedang melakukan penelitian terkait obligasi. Ada beberapa pertanyaan terkait data yang saya akan hitung.

    dalam menghitung YTM, Jika dengan menggunakan perhitungan YTM approximation formula, apakah saya dapat menghitungnya dalam bentuk per transaksi harian dan dirata ratakan untuk mendapat YTM bulanan?

    bagaimana dengan kuponnya apakah dapat 13,60% dibagi 12 sehingga didapat kupon bulanan? atau 13,60% dibagi 360 hari sehingga didapat kupon perharinya?

    dan terkait term to maturity nya jika dalam satu bulan terdapat lima transaksi apakah dapat dibuat rata-rata term to maturity untuk satu bulan?

    Dan untuk harga nya apakah saya menghitungnya dalam bentuk persen atau dapat 114,75 % dikali dengan nilai nominalnya?

    Terimakasih atas kesempatan saya untuk bertanya dan semoga Bapak berkenan memberikan informasi atas pertanyaan saya.

  40. Rudiyanto
    June 5th, 2016 at 00:54 | #40

    @Imas M
    Salam Pak Imas,

    Pertanyaan anda terlalu teknis dan menurut saya lebih cocok ditanyakan dengan dosen pembimbing atau dosen mata kuliah keuangan / investasi anda. Alternatifnya anda juga bisa membaca buku manajemen keuangan anda karena contoh perhitungan seperti ini juga sudah pasti ada.

    Menurut saya cara yang tepat untuk menghitung YTM adalah menggunakan fungsi YTM atau Yield pada Microsoft Excel.

    Semoga bermanfaat

  41. Imas m
    June 5th, 2016 at 11:25 | #41

    @Rudiyanto
    Baik pak terimakasih atas jawabannya…

  42. Rudiyanto
    June 5th, 2016 at 15:42 | #42

    @Imas m
    Sama-sama. Oh ya, perlu diingat juga bahwa metode untuk analisa saham dan obligasi itu tidak bisa disamakan. Hal ini karena saham adalah instrumen yang tidak memiliki jatuh tempo sementara saham ada.

    Untuk itu, kalau menggunakan metode analisa saham pada obligasi tanpa memahami hal tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang salah total meskipun secara perhitungan bisa dilakukan. Anda juga perlu membaca lebih banyak untuk memahami apa itu definisi YTM dan istilah terkait obligasi.

    Semoga bermanfaat

  43. Imas m
    June 8th, 2016 at 13:22 | #43

    baik Pak, terimakasih banyak sangat bermanfaat informasinya..

  44. Salvatores
    June 16th, 2016 at 14:46 | #44

    Pak Rudiyanto,

    Berkaitan dengan obligasi korporasi saya ingin menanyakan :
    1) Apakah kita bisa mengikuti aktifitas Perusahaan terbuka berkaitan dengan obligasi korporasi nya via website BEI ?
    2) Bagaimana cara mengetahui perusaan broker mana yang menjadi penjamin untuk obligasi korporasi tertentu ?
    3) Apakah pembelian obligasi korporasi ada minimum nilai nya ?

    Terima kasih,
    Salvatores

  45. Rudiyanto
    June 18th, 2016 at 23:28 | #45

    @Salvatores
    Selamat Malam Pak Salvatores,

    Untuk obligasi:
    1. Tergantung aktivitas apa. Kalau Laporan keuangan bisa kamu peroleh di website IDX
    2. Coba cari ke Google atau bertanya ke perusahaannya
    3. Ada biasanya minimum Rp 1 M.

    Semoga bermanfaat

  46. nita
    June 22nd, 2016 at 02:16 | #46

    Selamat pagi Pak Rudiyanto..

    Pak saya mau tanya, bagaimana cara mencari harga pasar obligasi,? tetapi nilai yield yang diharapkan tidak diketahui angkanya.. dan apakan tingkat diskonto sama artinya dengan rate of return atau nilai yield yang diharapkan.?

    Mohon bantuannya pak Rudiyanto, terimakasih yah pak.

  47. Rudiyanto
    June 26th, 2016 at 13:38 | #47

    @nita
    Selamat Siang Ibu Nita,

    Kalau harga pasar obligasi tidak diketahui ya di cari tahu di pasar. Mengenai besaran Yield, anda sudah sebut sendiri bahwa itu “yang diharapkan”, bukankah antar semua orang itu berbeda?

    Menurut saya pertanyaan anda tersebut bisa diselesaikan apabila anda lebih jeli membaca buku manejemen investasi atau manajemen keuangan anda.

    Semoga bermanfaat

  48. yudhi
    June 26th, 2016 at 19:10 | #48

    Dear pak Rudi

    yang dibahas baru obligasi berkupon tetap, bagaima dengan yang berkupon variable ?

    Terima Kasih

  49. Rudiyanto
    June 26th, 2016 at 20:36 | #49

    @yudhi
    Salam Pak Yudhi,

    Obligasi berkupon variabel umumnya sangat jarang ditransaksikan di pasaran. Dalam berbagai buku teori juga tidak banyak dibahas. Biasanya kupon obligasi berubah mengikuti suku bunga BI Rate setiap periodenya. Dengan demikian harganya selalu mendekati 100.

    Semoga bermanfaat

  50. Lia
    June 29th, 2016 at 05:20 | #50

    Salam pak rudy yang terhormat,
    Saya ingin bertanya terkait dengan penelitian saya tentang sukuk. Terkait dengan tulisan bapak di atas, bapak telah menyinggung sukuk mudharabah namun tidak dijelaskan serinci obligasi FR atau ijarah. Saya ingin bertanya pak, bagaimana cara menghitung ytm aproksimasi pada sukuk mudharabah padahal dalam sukuk mudharabah sendiri memiliki tipe kupon floating rate.
    Mohon bantuannya pak dan semoga bapak berkenan memberi informasi terkait pertanyaan saya.

  51. Rudiyanto
    July 5th, 2016 at 00:45 | #51

    @Lia
    Salam Ibu Lia,

    Memang di buku teori yang saya baca, tidak ada rumus untuk menghitung obligasi dengan bunga variabel karena besaran kupon di masa depan tidak diketahui. Yang paling mungkin adalah anda membuat perkiraan besaran kupon hingga jatuh tempo dan menghitung Yieldnya dengan rumus IRR berdasarkan arus kas yang terjadi.

    Semoga bermanfaat

  52. Lia
    July 11th, 2016 at 09:53 | #52

    Terima kasih banyak pak rudy informasi bapak sangat membantu

  53. diah
    July 22nd, 2016 at 01:03 | #53

    selamat pagi pak. saya mau tanya, mengapa harga obligasi dinyatakan dalam presentase? dan apa maksud dari harga presentase tersebut? terimakasih pak. jaawaban bapak akan sangat membantu.

  54. Rudiyanto
    July 25th, 2016 at 20:44 | #54

    @diah
    Selamat malam Ibu Diah,

    Kalau kenapanya saya tidak tahu, tapi dugaan saya untuk mempermudah krn nilai transaksi yang mencapai miliaran. Kalau misalkan 105%, artinya jika nominal obligasi Rp 100 M, maka transaksi terjadi di nilai Rp 100 M x 105% = Rp 105 M.

    Semoga bermanfaat

  55. Raka
    July 30th, 2016 at 12:35 | #55

    Dear pak rudi,

    saya ingin bertanya, pada hasil penelitian saya ditemukan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap ytm obligasi. kira-kira apa penyebab nya ?

    terima kasih, mohon bantuannya

  56. Rudiyanto
    July 31st, 2016 at 00:48 | #56

    @Raka
    Sudah saya jawab, silakan cek komen yang lain. Tidak perlu ditanyakan berulang2.

    Terima kasih

  57. raka
    July 31st, 2016 at 05:24 | #57

    Maaf pak, maksudnya komen atas pertanyaan yang saya posting atau komen atas pertanyaan orang lain? Terima kasih

  58. Rudiyanto
    July 31st, 2016 at 14:13 | #58

    @raka
    Selamat siang,

    Bukankah sudah kamu tanyakan juga di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/04/17/pelajarandariperubahanyieldobligasi/#comment-431217 dan di twitter juga ?

  59. Ananda
    February 13th, 2017 at 21:36 | #59

    Pak rudiyanto saya ingin bertanya .
    Saya memiliki obligasi bank bdn tahun 88 peninggalan kakek saya dan masa berlakunya 30 tahun (valid sampai 2018 )
    Saya sudah berkonsultasi dengan pengacara . Namun pihak bank mandiri mengelak dan mengatakan mungkin itu palsu dikarenakan uang dalam obligasi cukup besar .
    Karena ayahanda pak rudiyanto sudah pernah mengurusi obligasi bank bdn . saya ingin menanyakan , apakah ayahanda bapak mengalami kesulitan yang sama ?
    Terimakasih

  60. Rudiyanto
    February 16th, 2017 at 02:49 | #60

    @Ananda
    Salam Ibu Ananda,

    Perlu diklarifikasi, bahwa Ayah saya tidak memiliki atau mengurusi obligasi Bank BDN. Ada yang mengklaim di atas, tapi terus terang saya ragukan kebenarannya. Bisa saja ada oknum yang berniat mencari kesempatan.

    Kemudian karena pertanyaan seperti ini sudah ada dari beberapa orang, terus terang saya berpikir mungkin ada penipu yang mencoba membuat surat obligasi yang bisa saja palsu ini. Jika anda memang yakin asli silakan menghubungi Otoritas Jasa Keuangan untuk mengajukan keluhan anda.

    Semoga bermanfaat

  61. chandra
    February 25th, 2017 at 20:04 | #61

    pak rudi saya ingin bertanya, sebenarnya tingkat pengembalian itu apa si?saya msh belum paham tentang itu. mengapa kalau tingkat pengembalian>kupon maka disebut diskon dan kalau pengembalian<kupon disebut premium? untuk kita sebagai orang yang ingin jual obligasi lebih mengharapkan obligasi premium atau diskon? dan sebagai orang yang ingin beli lebih mengharapkan obligasi premium atau diskon?

  62. Rudiyanto
    March 3rd, 2017 at 13:54 | #62

    @chandra
    Salam Pak Chandra,

    Tingkat Pengembalian atau Yield adalah keuntungan dari investasi obligasi yang diperoleh dari kupon dan selisih harga antara nilai pembelian dengan nilai jatuh tempo.

    Kadang2 harga obligasi bisa lebih tinggi dibandingkan daripada harga jatuh tempo sehingga disebut premium, dan bisa juga lebih rendah dibandingkan harga jatuh tempo sehingga disebut diskon.

    Untuk investasi obligasi bukan harga premium atau diskon yang dilihat tapi apakah tingkat pengembalian dari obligasi tersebut sesuai dengan target yang kita inginkan atau tidak.

    Terima kasih

  63. Ike
    April 25th, 2017 at 21:52 | #63

    selamat malam pak Rudiyanto
    saya ingin bertanya,,
    saya masih bingung data di IBPA terkait harga pasar obligasi dan sukuk..saya masih belum paham bagaimna cara membacanya karena disana menunjukkan nilai desimal apakah maksudnya nilai desimal tersebut harus dikalikan dengan nilai nominal yang diterbitkan oleh emiten?
    mohon penceraannya

    terimakasih

    • Rudiyanto
      April 28th, 2017 at 12:50 | #64

      Selamat siang ibu Ike,

      Harga obligasi dinyatakan dalam persentase dan dikalikan dgn nominal transaksi. Kalau utk referensi saja, ya cukup itu, tidak usah dikalikan apa2

      Semoga bermanfaat

  64. May
    May 11th, 2017 at 07:54 | #65

    Selamat pagi pa, kalo macam-macam harga obligasi beserta penjelasannya itu apa saja ya pa? Terima kasih

  65. Rudiyanto
    May 12th, 2017 at 01:19 | #66

    @May
    Salam May,

    Kalau secara akademis harga obligasi itu bisa at premium, at discount dan at par. Saya yakin berbagai buku literatur universitas anda pasti membahasnya. Silakan cari tahu.

    Semoga bermanfaat

  66. anita
    May 28th, 2017 at 19:07 | #67

    salam pak. saya mau menanyakan berapa kali perusahaan menerbitkan obligasi? apakah ada batasannya? terimakasih.

  67. Rudiyanto
    May 30th, 2017 at 01:08 | #68

    @anita
    Salam Ibu Anita,

    Setahu saya sepanjang ada yang bersedia membeli obligasi tersebut dan memperoleh pernyataan efektif dari OJK seharusnya tidak ada batasan.

    Terima kasih

  68. Muhammad Rasil Fashhan
    May 31st, 2017 at 10:33 | #69

    pak tolong dijelaskan lebih lanjut tentang YTM soalnya saya baru pemula, bagaimana dan apa efeknya, terimakasih pak

  69. Rudiyanto
    June 4th, 2017 at 14:32 | #70

    @Muhammad Rasil Fashhan
    Salam pak Rasil,

    Apakah boleh lebih spesifik pertanyaannya? Apanya yang bagaimana dan apa dari YTM ?

  70. Dewi
    June 26th, 2017 at 22:45 | #71

    Selamat malam pak, saya ada beberapa pertanyaan :
    1. Jika penghasilan individu dibawah ptkp sehingga tdk memiliki npwp berarti tdk ada pelaporan spt tahunan apakah individu bisa menginvestasikan uang dr penghasilannya di obligasi dan apalah butuh pelaporan tahunan? (Let say simpanan individu tersebut > 50jt
    2. Jika IRT dimana tdk memiliki npwp dan merupakan tanggungan suami apkah bisa invest obligasi atas nama sendiri? Jika bisa apakah harus ada pelaporan ke pajak?

Comment pages
1 2 1469
  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: