Home > Obligasi > Memahami Cara Kerja Obligasi…..(1)

Memahami Cara Kerja Obligasi…..(1)

Pada artikel posting yang terakhir, saya sudah berjanji bahwa akan membuat artikel yang berkaitan dengan obligasi. Namun terlepas dari hal tersebut, saya berpikir bahwa ada baiknya sebagai investor, kita mengetahui lebih banyak tentang cara kerja instrumen ini karena:

  1. Tahun lalu kinerja reksa dana pendapatan tetap jauh lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Demikian juga untuk awal tahun ini. Namanya juga penjual, biasanya barang yang dijual selalu yang returnnya lebih bagus. Jadi besar kemungkinan tahun ini anda akan lebih sering ditawari reksa dana pendapatan tetap dibandingkan reksa dana saham. Nah, bagaimana anda mau membeli produk ini jika cara kerja obligasi yang menjadi instrumen utama reksa dana pendapatan tetap saja anda tidak tahu?
  2. Selain return historis yang bagus, instrumen ini juga memiliki fungsi penting dalam menjalankan fungsi diversifikasi. Sudah beberapa kali dalam sejarah dimana ketika kondisi saham sedang terpuruk, kerugian di obligasi lebih kecil bahkan tidak jarang memberikan keuntungan seperti yang terjadi tahun lalu. Jadi, memiliki reksa dana pendapatan tetap adalah suatu keharusan terutama bagi investor besar atau investor institusi yang ingin mengelola investasinya dengan hasil yang lebih optimal.

Obligasi dapat dibagi menjadi berbagai jenis menurut fitur-fitur yang ada. Namun secara praktis, kategori obligasi yang paling penting untuk diketahui oleh investor adalah berdasarkan kuponnya. Pembagian obligasi berdasarkan kupon dapat dibagi menjadi:

  • Obligasi Berkupon Tetap (Sukuk Ijarah dalam istilah Syariah)
  • Obligasi Berkupon Variabel (Sukuk Mudharabah)
  • Obligasi Berkupon Nol atau Zero Coupon Bond (Belum ada istilah Syariah sepengetahuan saya)

 

 

Obligasi Berkupon Tetap

Yang paling penting untuk diketahui oleh investor dan juga paling banyak dijabarkan dalam seluruh literatur investasi adalah tentang obligasi berkupon tetap atau fixed rate bond. Jenis obligasi ini juga merupakan yang terbesar dan paling banyak dimiliki dalam reksa dana, baik itu reksa dana pendapatan tetap, campuran, terproteksi bahkan terdapat pula dalam reksa dana saham meski dalam komposisi yang kecil.

Obligasi Berkupon Tetap atau sering disingkat Obligasi FR ini adalah jenis obligasi yang membayarkan sejumlah bunga yang sifatnya tetap selama jangka waktu tertentu dan pokoknya pada saat jatuh tempo. Kupon adalah sebutan untuk bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi, biasanya dinyatakan dalam persentase tertentu dan dikalikan dengan nominal obligasi. Salah satu fitur membedakan antara obligasi dengan saham adalah instrumen ini memiliki waktu jatuh tempo. Bagi anda yang masih awam, bayangkan saja obligasi ini sama seperti deposito, hanya jatuh temponya lebih panjang. Jatuh tempo untuk obligasi bisa berkisar antara 1 – 30 tahun untuk pemerintah dan 1 – 10 tahun untuk swasta.

Jatuh tempo yang lebih panjang ini menjadikan obligasi lebih berisiko daripada deposito. Logikanya, jika deposito yang jatuh temponya (katakan) 1 bulan memberikan bunga 5.75% per tahun, maka obligasi yang jatuh temponya (katakan juga) 10 tahun tentu harus memberikan kompensasi yang lebih tinggi agar dipilih oleh investor. Sehingga umumnya, kupon obligasi lebih tinggi dibandingkan bunga deposito. Semakin lama waktu jatuh tempo, semakin besar pula kupon obligasi.

Faktor kedua yang membuat kupon obligasi lebih tinggi dibandingkan dengan deposito adalah risiko gagal bayar. Karena obligasi diterbitkan oleh perusahaan, maka tentu ada kemungkinan suatu perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. Hal ini bisa disebabkan seperti terjadi kerugian dalam operasi yang terlalu besar, kondisi bisnis yang lesu, beban hutang yang terlalu besar, force majeure, penggelapan dan atau faktor lainnya. Banyak sekali contoh kasus yang bisa anda lihat baik dari dalam maupun luar negeri jika anda mengikuti pemberitaan di koran selama beberapa tahun terakhir ini. Bank juga memiliki risiko gagal bayar, namun dalam jumlah tertentu, masih dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Dalam prakteknya tentu risiko-risiko yang saya sebutkan dalam faktor kedua di atas berbeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Ada perusahaan yang sangat solid, ada pula perusahaan yang biasa-biasa atau bahkan cenderung menunjukkan ketidakmampuan dalam membayar. Sebagai investor yang awam tentu akan susah sekali bagi kita untuk tahu dan mengkuantifikasikan risiko gagal bayar suatu perusahaan. Untuk itulah dikembangkan Rating. Perusahaan dengan rating yang lebih baik cenderung membayar kupon lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan dengan rating yang kurang baik.

Dalam investasi obligasi, kupon yang nilainya tetap sampai obligasi jatuh tempo tersebut merupakan cerminan dan kompensasi atas risiko lamanya jatuh tempo (semakin lama uang kita kembali) dan risiko gagal bayar yang akan dihadapi oleh investor. Tabungan memiliki risiko waktu dan gagal bayar yang paling kecil karena bisa diambil sewaktu-waktu, oleh karena itu bunganya juga yang paling kecil bahkan tidak ada. Jadi besar kecilnya kupon dalam obligasi adalah indikator yang menunjukkan BESARNYA RISIKO. Semakin besar, berarti semakin tinggi pula risiko instrumen tersebut. Hal ini juga berlaku bagi tawaran-tawaran investasi yang too good to be true yang belakangan ini sangat marak di masyarakat.Berhati-hatilah.

Gambar di atas, yang saya ambil dari investopedia, merupakan gambar yang paling baik menurut saya dalam menggambarkan suatu obligasi berkupon tetap.

  • Timeline menunjukkan berapa tahun suatu obligasi akan jatuh tempo
  • Maturity Date menunjukkan tanggal jatuh tempo obligasi
  • Cashflows menunjukkan sejumlah bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Last Cashflow menunjukkan jumlah antara bunga dan pokok pinjaman yang dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Duration menunjukkan satuan risiko obligasi (akan saya jelaskan dalam kesempatan yang lain)

Obligasi Memiliki Harga

Harga obligasi dinyatakan dalam persentase. 100% berarti harga obligasi sama dengan nilai pokok obligasi atau disebut at par. Di bawah 100% disebut at discount dan di atas 100% disebut at premium. Pertanyaan kenapa obligasi memiliki harga? Kenapa pula orang mau membeli obligasi ketika harganya di atas 100% dan mau menjual obligasi ketika harganya di bawah 100%? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengetahui tentang konsep YTM (Yield to Maturity).

Obligasi memiliki harga karena bisa diperdagangkan. Artinya seorang investor yang memegang obligasi (katakan) yang jatuh temponya 10 tahun, karena butuh dana, maka obligasi tersebut yang baru dibelinya tersebut bisa dijual kepada pihak lain untuk mendapatkan dana. Mau diperdagangkan di pasar perdana (ketika  obligasi diterbitkan pertama kali) maupun ditransaksikan di pasar sekunder, acuan untuk berinvestasi di obligasi selalu sama, yaitu berapa besarnya keuntungan obligasi dibandingkan dengan keuntungan instrumen yang menjadi acuan (misalnya deposito) pada saat transaksi dilakukan.

Kata “pada saat transaksi” dilakukan menjadi gambaran yang penting, sebagai ilustrasi, misalnya ketika suatu obligasi baru terbit, tingkat deposito yang berlaku adalah 10%. Sehingga pada saat itu, investor baru berminat membeli obligasi tersebut ketika menawarkan kupon di atasnya misalnya 12%. Pada saat mau dijual, setelah dipegang beberapa tahun, kondisi ekonomi membaik, rating kita naik dan suku bunga deposito menjadi semakin rendah. Katakan sama seperti sekarang yaitu sekitar 6%, maka investor yang tadinya baru puas kalau dapat 12%, sekarang dikasih 8% mungkin sudah bahagia. Karena opsi deposito yang tersedia pada saat keputusan mau diambil hanya memberikan keuntungan 6%.

Katakanlah kedua investor sepakat bahwa jika 8% merupakan tingkat return yang wajar sehingga transaksi bisa dilakukan. Di sini masalah terjadi, bagaimana membuat obligasi tersebut memberikan keuntungan 8% sementara kuponnya yang sudah tetap dan tidak akan berubah sampai jatuh temponya adalah 10%? Dari pemikiran inilah konsep dan formula tentang harga wajar dan perhitungan obligasi lainnya ditemukan.

Harga wajar obligasi =

  • YTM = Yield To Maturity adalah tingkat keuntungan per tahun yang diperoleh investor obligasi yang diperoleh dengan memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo. Tingkat keuntungan diperoleh dari keuntungan kupon + keuntungan / kerugian dari selisih harga.
  • N = waktu jatuh tempo (dalam tahun)

Sebagai contoh obligasi dengan nominal 100 juta dan memberikan kupon 10% (10 juta per tahun) ingin dijual pada harga yang mencerminkan keuntungan 8% per tahun, maka perhitungannya menjadi :

Hasil dari perhitungan di atas adalah 105,15 juta. Jadi harga yang mencerminkan keuntungan 8% per tahun dari obligasi tersebut adalah dengan menjualnya saat ini di harga 105,15 juta. Si pembeli obligasi yang mendapat keuntungan 10 juta per tahun dari kupon selama 3 tahun dan kerugian 5.15 karena pada saat jatuh tempo Cuma dikembalikan 100 juta, mendapatkan keuntungan yang ekuivalen dengan 8% per tahun.

Sebaliknya apabila investor menginginkan keuntungan 12%, maka harga yang mencerminkan keuntungan tersebut adalah Rp 95,2 juta. Harga tersebut biasanya dinyatakan dalam persentase sehingga jika anda lihat di koran atau media tercatat 105.15 atau 95.2. Sebagai contoh:

Semakin besar tingkat keuntungan yang diinginkan investor (YTM) maka semakin rendah harga obligasi, sebaliknya jika tingkat keuntungan yang diinginkan juga kecil, maka semakin tinggi pula harga obligasi.

Jadi ketika anda mendengar atau membaca informasi bahwa Yield (sebutan untuk YTM) naik atau turun, itu berarti tingkat keuntungan yang diharapkan untuk obligasi naik atau turun. Semakin aman suatu negara (yang ditunjukkan dengan rating), biasanya Yield yang diminta juga akan semakin rendah seperti di Indonesia. Sebaliknya Yunani yang diperkirakan akan bangkrut, maka Yield Obligasi yang diminta juga sangat tinggi. Sebagai perbandingan, jika obligasi yang jatuh temponya 10 tahun memiliki yield 5.3%, obligasi serupa terbitan Yunani memiliki Yield 33% atau hampir 6 kali lipatnya. Berani beli?

Demikian artikel ini, pada kesempatan yang lain saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai risk and return obligasi. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

Categories: Obligasi Tags:
  1. teni
    February 15th, 2019 at 13:08 | #1

    Maaf Pa boleh ya bertanya lagi, yield curve yg ada apakah benar berasal dari historis yield2 tiap2 transaksi dari beberapa FR/obligasi pemerintah, sehingga setiap waktu yield ini akan berubah sesuai dengan dinamisme dari txn di market ?
    Dan apakah ada yang menerbitkan yield curve selain dari IBPA, yg memang saat ini menjadi LPHE di Indonesia?
    Tks alot Pa :)

  2. Rudiyanto
    February 15th, 2019 at 13:11 | #2

    @teni
    Siang bu,

    Yield Curve itu bisa diterbitkan oleh siapa saja. Ibu Teni kalau punya data dan metode bisa menerbitkan sendiri. Hanya saja Yield Curve yang menjadi acuan untuk perhitungan harga pasar wajar, sejauh ini yang diakui dalam peraturan reksa dana itu keluarannya IBPA.

    Harga dan periode transaksi yang digunakan itu terserah kepada masing-masing penerbit. Setahu saya, di IBPA itu cuma ada 2 kali yaitu versi harga pada saat siang dan sore. Namun yang biasanya digunakan itu harga pada sore harinya.

    Semoga bermanfaat

  3. purwanto raden
    February 22nd, 2019 at 08:26 | #3

    maaf pak, apakah bp pernah menulis ttg bgmn mempersiapkan untuk menerbitkan obligasi/ sukuk. beberapa artikel terkait obliogasi dalam penulisan bp sangat baik namun bertindak sbg investor.

  4. Rudiyanto
    February 22nd, 2019 at 08:40 | #4

    @purwanto raden
    Pagi Pak Purwanto,

    Untuk penerbitan obligasi ada persiapan dokumen secara teknis seperti audit laporan keuangan dan dokumen perusahaan. Setelah itu, minta di rating oleh perusahaan pemeringkat, baru selanjutnya mencari perusahaan sekuritas yang mau membantu penerbitan.

    Teknis-teknis detailnya itu akan dibantu oleh perusahaan sekuritas, dalam hal ini saya juga tidak begitu ahli karena belum pernah bekerja di sekuritas.

    Semoga bermanfaat

  5. @Anita
    May 22nd, 2019 at 15:22 | #5

    Hallo pak, saya mw tnaya. Cara hitung return obligasi bulanan untuk metode tyenor gmna ya?

  6. Rudiyanto
    May 31st, 2019 at 10:08 | #6

    @@Anita
    Selamat pagi Anita,

    Metode treynor tidak cocok untuk mengukur kinerja obligasi yang ada jatuh temponya.

    Terima kasih

  7. Evin Rivana
    October 30th, 2019 at 08:40 | #7

    Selamat pagi pak
    Saya mau bertanya kenapa pembeli obligasi mau membayar bunga berjalan kepada penjual atau penerbit obligasi?

  8. Rudiyanto
    November 5th, 2019 at 12:45 | #8

    @Evin Rivana
    Selamat siang Ibu Evin,

    Tentang bunga berjalan atau dikenal dengan istilah Accrued Interest adalah kewajiban bagi pembeli obligasi kepada pemilik obligasi sebelumnya apabila pembelian tidak dilakukan pada saat pertama kali atau tanggal pembagian kupon.

    Sebagai contoh, suatu obligasi senilai Rp 1 M membagikan kupon Rp 120 juta per tahun atau Rp 30 juta setiap 3 bulan. Katakanlah pembayaran kupon tersebut dilakukan pada Maret, Juni, September dan Desember.

    Kemudian ada pada bulan akhir Januari, obligasi tersebut dijual dari pemilik lama A, kepada pemilik baru B. Si B akan membayar kepada si A sebesar harga beli obligasi katakan Rp 1 M ditambah Accrued Interest bulan Januari (1 bulan) sebesar Rp 10 juta. Total dibayarkan Rp 1.010.000.000

    Mengapa harus dibayarkan? Karena pada saat bulan Maret dimana kupon dibagikan, penerbit obligasi akan membayar Rp 30 juta kepada si B. Dia tidak mau tahu obligasi tersebut sempat dimiliki selama 1 bulan di Januari oleh si A.

    Dari Rp 30 juta tersebut, sebanyak Rp 10 juta merupakan hak milik daripada A, sehingga pada saat si B beli, senilai Rp 10 juta tersebut wajib dibayarkan.

    Secara operasional, pembayaran Accrued Interest tersebut akan difasilitasi oleh sekuritas dan KSEI, sehingga angka yang diterima adalah yang sudah dipotong pajak final 15%.

    Jika anda sebagai pembeli obligasi tidak mau bayar Accrued Interest, maka solusinya hanya beli obligasi di tanggal terbit, atau tanggal pembayaran kupon. Ingat, bukan tanggal transaksi, tapi tanggal pembayaran karena perhitungan accrued interest berdasarkan tanggal obligasi berpindah tangan.

    Semoga bermanfaat

  9. Dyana
    February 18th, 2020 at 19:33 | #9

    Selamat malam pak,
    Artikel bapak sangat menarik cara penyampaiannya. Membuat saya lebih tertarik lagi dengan obligasi.
    Saya ingin bertanya, bagaimana cara membeli obligasi negara di pasar sekunder. Semiga pertanyaan saya bisa dijawab . Terimakasih banyak pak.

    • Rudiyanto
      February 18th, 2020 at 19:40 | #10

      Malam bu Dyana,

      Utk obligasi pemerintah bisa dibeli apabila anda menjadi nasabah perbankan yg menyediakan fasilitas tersebut. Tapi umumnya baru tersedia utk nasabah prioritas dgn investasi di atas Rp 1 M

      Kalau yg di bawah itu mungkin ORI.

      Semoga bermanfaat

  10. tika
    February 29th, 2020 at 18:56 | #11

    Selamat malam pak,
    Saya ingin bertanya, manfaat dari yield obligasi dari sisi perusahan itu apa ya pak?terimakasih banyak pak.

    • Rudiyanto
      February 29th, 2020 at 18:57 | #12

      Selamat malam,

      Sudah hampir tidak ada kecuali perusahaan tersebut ingin menerbitkan obligasi yang baru. Yield bisa menjadi salah satu referensi bunga yang harus dibayarkan walaupun masih banyak faktor lainnya lagi

      Terima kasih

  11. April 6th, 2020 at 13:48 | #13

    1. What do ratings agencies do? Why is it important for an investor to take a bond rating into account before determining the value of a fixed-income asset?

    • Rudiyanto
      April 6th, 2020 at 19:50 | #14

      You can check in rating agencies website to find out what they do.

      With rating, investor can compare company credit worthiness in apple to apple basis. The more risky, the more investor will ask about the rate of return.

      Rate of return is used in any investment valuation, stock and bond.

      Thanks

  12. febri
    April 17th, 2020 at 18:08 | #15

    Malam pak rudi,

    @Rudiyanto

    ijin bertanya, katakan saya membeli obligasi di pasar sekunder, pembayaran kupon setiap tgl 10, saya membeli pd tgl 22 April, artinya akan ada accrued interest yg saya harus bayarkan sebanyak 12 hari 10 april – 22 april + pajak 15%, lalu pd tgl 10 Mei saya akan dapat kupon full 30 hari dipotong pajak 15%, pertanyaannya apakah saya pada tgl 10 Mei akan mendapatkan kompensasi atas pajak yg telah bayarkan pd saat accrue interst yg 12 hari di depan, klo tidak apakah berarti saya double membayar pajaknya utk yg 12 hari??

    mohon komentarnya

  13. Septi
    April 18th, 2020 at 13:39 | #16

    Siang Pak Rudy,

    Saya mahasiswa semester akhir yg sedang menyusun skipsi tentang faktor” yg mempengaruhi yield obligasi korporasi, namun ada kendala dalam mendapatkan data yield obligasi pertahun pada setiap obligasinya pak.

    Mohon bantuannya pak bagaimana saya mendapatkan data tersebut…

    Terimakasih

  14. Rudiyanto
    April 22nd, 2020 at 17:02 | #17

    @febri
    Selamat sore Pak Febri,

    Untuk mencari tahu tentang Accrued Interest, harus tahu tanggal pembagian kupon SEBELUMNYA.

    Misalkan Pembayaran Kupon 10 Januari, 10 April, 10 Juli dan 10 Oktober, dan anda beli tanggal 22 April, maka seperti penjelasan anda di atas pada saat beli anda harus bayar :
    Nilai Pokok Transaksi + Accrued Interest dari 10 – 22 April

    Yang anda bayar full, yang diterima sama pihak penjual adalah
    Nilai Pokok Transaksi – Pajak 15% atas Capital Gain (apabila nilai jual lebih tinggi dibandingkan nilai belinya) + Accrued Interest 10 – 22 April – Pajak 15% atas Accrued Interest

    Waktu pembayaran kupon tanggal 10 Juli, anda akan mendapat kupon full 3 bulan dikurangi pajak 15%.

    Semoga bisa menjawab.

    Terima kasih

  15. Rudiyanto
    April 22nd, 2020 at 17:03 | #18

    @Septi
    Selamat sore bu Septi,

    Bisa berlangganan IBPA.

    Semoga bermanfaat

  16. Srianti Tobing
    June 18th, 2020 at 20:21 | #19

    Apa nama umum obligasi perseroa dan seberapa sering bunga obligasi dibayar?
    Terimakasih

    • Rudiyanto
      June 19th, 2020 at 14:53 | #20

      Selamat siang,

      Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan sering disebut obligasi korporasi. Mengenai periode pembayaran bunga adalah bulanan untuk ORI dan sukuk ritel, 3 bulanan untuk obligasi korporasi dan 6 bulanan untuk Surat Utang Negara

      Semoga menjawab.

  17. Jujianto
    July 22nd, 2020 at 14:07 | #21

    Sore pak, saya tertarik utk membeli FR75 dr citibank. Pertanyaannya, FR75 ini apakah dijamin oleh pemerintah? Lalu misalkan bank nya bangkrut, bagaimana cara pencairannya.
    Terima kasih sebelumnya

    • Rudiyanto
      July 22nd, 2020 at 14:11 | #22

      Sore pak Jujianto,

      Obligasi yang anda beli di bank biasanya disimpan pada kustodian bank tersebut / semacam Safe Deposit Box tapi untuk asset berbentuk surat berharga elektronik.

      Krn simpannya di SDB maka bukan merupakan harta perbankan. Jika ada sesuatu dengan bank tersebut, tidak berdampak ke aset yg disimpan dalam SDB.

      Mengenai tata cara pencairan bisa ditanyakan dengan bank yang bersangkutan. Kasus bank bangkrut amat jarang terjadi, kemungkinan sebelum tutup anda sudah diminta utk memindahkan obligasi ke kustodian di bank lain.

      Semoga bermanfaat

  18. Ina Tanaya
    July 26th, 2020 at 21:49 | #23

    Selamat Malam Pak , saya ingin tanya bagaimana memilih FR untuk dibeli (apa pertimbangan dasarnya)? Apakah jika saya beli FR 80 bulan April 2020 dan dijual tanggal 24 July, lalu saya membeli lagi pada tanggal 27 July, masih menguntungkan?

    • Rudiyanto
      July 26th, 2020 at 22:15 | #24

      Selamat malam bu Ina,

      Pertimbangan dalam membeli aset investasi pada dasarnya sama. Kalau anda berniat utk trading, anda yakin harganya akan naik. Kalau niat anda utk pegang sampai jatuh tempo, maka tingkat imbal hasil yg diberikan dengan mempertimbangkan selisih harga dan pajak sesuai dengan target return anda.

      Kalau tidak punya tujuan, ya coba beli saja dan rasakan sendiri seperti rasanya punya obligasi.

      Perihal untung atau rugi mesti cek harga beli dan harga pasar

      Semoga bermanfaat

  19. sumantri
    August 1st, 2020 at 10:34 | #25

    Pak Rudi, berapa standard mark up / mark down (dlm basis points) waktu kita beli / jual obligasi seri FR di pasar sekunder yg biasa berlaku di Indonesia? Berapa standard biaya komisi yg berlaku waktu kita beli SUN FR via lelang (auction) ? Sebagai retail investor, apakah kita bebas utk pilih jalur competitive bidding atau jalur non-competitive bidding waktu ikut lelang (auction) ? Sebagai retail investor utk obligasi, apakah lebih untung invest via ETF / Mutual Funds atau directly invest on specific individual bond? Apakah the hidden transaction cost for retail bond trader terlalu besar sehingga susah cuan di obligasi sehingga lebih cocok di hold to maturity ? Terima kasih.

    • Rudiyanto
      August 1st, 2020 at 11:28 | #26

      Selamat siang pak Sumantri,

      1. Pada dasarnya kalau beli obligasi dengan tujuan trading, yang pentingnya selisihnya sesuai target keuntungan yang ditetapkan. Tidak ada standar. Kalau beli utk hold to maturity, yg penting target return dan YTM sama

      2. Setahu saya kalau di bank tidak ada komisi. Lelang utk bond saya belum pernah ikut, jadi tidak tahu

      3. Setahu saya jalur lelang tidak tersedia utk investor retail kecuali jika anda memiliki modal di atas 50 M anda bisa coba tanya ke sekuritas / bank. Jika kurang dari itu saran saya beli via bank saja. Atau beli via reksa dana krn ada risiko likuiditas lebih kecil dibandingkan beli langsung

      4. Coba saja dulu pak. Setahu saya biaya2 utk transakasi obligasi itu hanya biaya penyimpanan, biaya admin waktu tranfer kupon dan pajak.

      Semoga bermanfaat

Comment pages
1 9 10 11 1469
  1. No trackbacks yet.


%d bloggers like this: