Home > Obligasi > Memahami Cara Kerja Obligasi…..(1)

Memahami Cara Kerja Obligasi…..(1)

Pada artikel posting yang terakhir, saya sudah berjanji bahwa akan membuat artikel yang berkaitan dengan obligasi. Namun terlepas dari hal tersebut, saya berpikir bahwa ada baiknya sebagai investor, kita mengetahui lebih banyak tentang cara kerja instrumen ini karena:

  1. Tahun lalu kinerja reksa dana pendapatan tetap jauh lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Demikian juga untuk awal tahun ini. Namanya juga penjual, biasanya barang yang dijual selalu yang returnnya lebih bagus. Jadi besar kemungkinan tahun ini anda akan lebih sering ditawari reksa dana pendapatan tetap dibandingkan reksa dana saham. Nah, bagaimana anda mau membeli produk ini jika cara kerja obligasi yang menjadi instrumen utama reksa dana pendapatan tetap saja anda tidak tahu?
  2. Selain return historis yang bagus, instrumen ini juga memiliki fungsi penting dalam menjalankan fungsi diversifikasi. Sudah beberapa kali dalam sejarah dimana ketika kondisi saham sedang terpuruk, kerugian di obligasi lebih kecil bahkan tidak jarang memberikan keuntungan seperti yang terjadi tahun lalu. Jadi, memiliki reksa dana pendapatan tetap adalah suatu keharusan terutama bagi investor besar atau investor institusi yang ingin mengelola investasinya dengan hasil yang lebih optimal.

Obligasi dapat dibagi menjadi berbagai jenis menurut fitur-fitur yang ada. Namun secara praktis, kategori obligasi yang paling penting untuk diketahui oleh investor adalah berdasarkan kuponnya. Pembagian obligasi berdasarkan kupon dapat dibagi menjadi:

  • Obligasi Berkupon Tetap (Sukuk Ijarah dalam istilah Syariah)
  • Obligasi Berkupon Variabel (Sukuk Mudharabah)
  • Obligasi Berkupon Nol atau Zero Coupon Bond (Belum ada istilah Syariah sepengetahuan saya)

 

 

Obligasi Berkupon Tetap

Yang paling penting untuk diketahui oleh investor dan juga paling banyak dijabarkan dalam seluruh literatur investasi adalah tentang obligasi berkupon tetap atau fixed rate bond. Jenis obligasi ini juga merupakan yang terbesar dan paling banyak dimiliki dalam reksa dana, baik itu reksa dana pendapatan tetap, campuran, terproteksi bahkan terdapat pula dalam reksa dana saham meski dalam komposisi yang kecil.

Obligasi Berkupon Tetap atau sering disingkat Obligasi FR ini adalah jenis obligasi yang membayarkan sejumlah bunga yang sifatnya tetap selama jangka waktu tertentu dan pokoknya pada saat jatuh tempo. Kupon adalah sebutan untuk bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi, biasanya dinyatakan dalam persentase tertentu dan dikalikan dengan nominal obligasi. Salah satu fitur membedakan antara obligasi dengan saham adalah instrumen ini memiliki waktu jatuh tempo. Bagi anda yang masih awam, bayangkan saja obligasi ini sama seperti deposito, hanya jatuh temponya lebih panjang. Jatuh tempo untuk obligasi bisa berkisar antara 1 – 30 tahun untuk pemerintah dan 1 – 10 tahun untuk swasta.

Jatuh tempo yang lebih panjang ini menjadikan obligasi lebih berisiko daripada deposito. Logikanya, jika deposito yang jatuh temponya (katakan) 1 bulan memberikan bunga 5.75% per tahun, maka obligasi yang jatuh temponya (katakan juga) 10 tahun tentu harus memberikan kompensasi yang lebih tinggi agar dipilih oleh investor. Sehingga umumnya, kupon obligasi lebih tinggi dibandingkan bunga deposito. Semakin lama waktu jatuh tempo, semakin besar pula kupon obligasi.

Faktor kedua yang membuat kupon obligasi lebih tinggi dibandingkan dengan deposito adalah risiko gagal bayar. Karena obligasi diterbitkan oleh perusahaan, maka tentu ada kemungkinan suatu perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. Hal ini bisa disebabkan seperti terjadi kerugian dalam operasi yang terlalu besar, kondisi bisnis yang lesu, beban hutang yang terlalu besar, force majeure, penggelapan dan atau faktor lainnya. Banyak sekali contoh kasus yang bisa anda lihat baik dari dalam maupun luar negeri jika anda mengikuti pemberitaan di koran selama beberapa tahun terakhir ini. Bank juga memiliki risiko gagal bayar, namun dalam jumlah tertentu, masih dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Dalam prakteknya tentu risiko-risiko yang saya sebutkan dalam faktor kedua di atas berbeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Ada perusahaan yang sangat solid, ada pula perusahaan yang biasa-biasa atau bahkan cenderung menunjukkan ketidakmampuan dalam membayar. Sebagai investor yang awam tentu akan susah sekali bagi kita untuk tahu dan mengkuantifikasikan risiko gagal bayar suatu perusahaan. Untuk itulah dikembangkan Rating. Perusahaan dengan rating yang lebih baik cenderung membayar kupon lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan dengan rating yang kurang baik.

Dalam investasi obligasi, kupon yang nilainya tetap sampai obligasi jatuh tempo tersebut merupakan cerminan dan kompensasi atas risiko lamanya jatuh tempo (semakin lama uang kita kembali) dan risiko gagal bayar yang akan dihadapi oleh investor. Tabungan memiliki risiko waktu dan gagal bayar yang paling kecil karena bisa diambil sewaktu-waktu, oleh karena itu bunganya juga yang paling kecil bahkan tidak ada. Jadi besar kecilnya kupon dalam obligasi adalah indikator yang menunjukkan BESARNYA RISIKO. Semakin besar, berarti semakin tinggi pula risiko instrumen tersebut. Hal ini juga berlaku bagi tawaran-tawaran investasi yang too good to be true yang belakangan ini sangat marak di masyarakat.Berhati-hatilah.

Gambar di atas, yang saya ambil dari investopedia, merupakan gambar yang paling baik menurut saya dalam menggambarkan suatu obligasi berkupon tetap.

  • Timeline menunjukkan berapa tahun suatu obligasi akan jatuh tempo
  • Maturity Date menunjukkan tanggal jatuh tempo obligasi
  • Cashflows menunjukkan sejumlah bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Last Cashflow menunjukkan jumlah antara bunga dan pokok pinjaman yang dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Duration menunjukkan satuan risiko obligasi (akan saya jelaskan dalam kesempatan yang lain)

Obligasi Memiliki Harga

Harga obligasi dinyatakan dalam persentase. 100% berarti harga obligasi sama dengan nilai pokok obligasi atau disebut at par. Di bawah 100% disebut at discount dan di atas 100% disebut at premium. Pertanyaan kenapa obligasi memiliki harga? Kenapa pula orang mau membeli obligasi ketika harganya di atas 100% dan mau menjual obligasi ketika harganya di bawah 100%? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengetahui tentang konsep YTM (Yield to Maturity).

Obligasi memiliki harga karena bisa diperdagangkan. Artinya seorang investor yang memegang obligasi (katakan) yang jatuh temponya 10 tahun, karena butuh dana, maka obligasi tersebut yang baru dibelinya tersebut bisa dijual kepada pihak lain untuk mendapatkan dana. Mau diperdagangkan di pasar perdana (ketika  obligasi diterbitkan pertama kali) maupun ditransaksikan di pasar sekunder, acuan untuk berinvestasi di obligasi selalu sama, yaitu berapa besarnya keuntungan obligasi dibandingkan dengan keuntungan instrumen yang menjadi acuan (misalnya deposito) pada saat transaksi dilakukan.

Kata “pada saat transaksi” dilakukan menjadi gambaran yang penting, sebagai ilustrasi, misalnya ketika suatu obligasi baru terbit, tingkat deposito yang berlaku adalah 10%. Sehingga pada saat itu, investor baru berminat membeli obligasi tersebut ketika menawarkan kupon di atasnya misalnya 12%. Pada saat mau dijual, setelah dipegang beberapa tahun, kondisi ekonomi membaik, rating kita naik dan suku bunga deposito menjadi semakin rendah. Katakan sama seperti sekarang yaitu sekitar 6%, maka investor yang tadinya baru puas kalau dapat 12%, sekarang dikasih 8% mungkin sudah bahagia. Karena opsi deposito yang tersedia pada saat keputusan mau diambil hanya memberikan keuntungan 6%.

Katakanlah kedua investor sepakat bahwa jika 8% merupakan tingkat return yang wajar sehingga transaksi bisa dilakukan. Di sini masalah terjadi, bagaimana membuat obligasi tersebut memberikan keuntungan 8% sementara kuponnya yang sudah tetap dan tidak akan berubah sampai jatuh temponya adalah 10%? Dari pemikiran inilah konsep dan formula tentang harga wajar dan perhitungan obligasi lainnya ditemukan.

Harga wajar obligasi =

  • YTM = Yield To Maturity adalah tingkat keuntungan per tahun yang diperoleh investor obligasi yang diperoleh dengan memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo. Tingkat keuntungan diperoleh dari keuntungan kupon + keuntungan / kerugian dari selisih harga.
  • N = waktu jatuh tempo (dalam tahun)

Sebagai contoh obligasi dengan nominal 100 juta dan memberikan kupon 10% (10 juta per tahun) ingin dijual pada harga yang mencerminkan keuntungan 8% per tahun, maka perhitungannya menjadi :

Hasil dari perhitungan di atas adalah 105,15 juta. Jadi harga yang mencerminkan keuntungan 8% per tahun dari obligasi tersebut adalah dengan menjualnya saat ini di harga 105,15 juta. Si pembeli obligasi yang mendapat keuntungan 10 juta per tahun dari kupon selama 3 tahun dan kerugian 5.15 karena pada saat jatuh tempo Cuma dikembalikan 100 juta, mendapatkan keuntungan yang ekuivalen dengan 8% per tahun.

Sebaliknya apabila investor menginginkan keuntungan 12%, maka harga yang mencerminkan keuntungan tersebut adalah Rp 95,2 juta. Harga tersebut biasanya dinyatakan dalam persentase sehingga jika anda lihat di koran atau media tercatat 105.15 atau 95.2. Sebagai contoh:

Semakin besar tingkat keuntungan yang diinginkan investor (YTM) maka semakin rendah harga obligasi, sebaliknya jika tingkat keuntungan yang diinginkan juga kecil, maka semakin tinggi pula harga obligasi.

Jadi ketika anda mendengar atau membaca informasi bahwa Yield (sebutan untuk YTM) naik atau turun, itu berarti tingkat keuntungan yang diharapkan untuk obligasi naik atau turun. Semakin aman suatu negara (yang ditunjukkan dengan rating), biasanya Yield yang diminta juga akan semakin rendah seperti di Indonesia. Sebaliknya Yunani yang diperkirakan akan bangkrut, maka Yield Obligasi yang diminta juga sangat tinggi. Sebagai perbandingan, jika obligasi yang jatuh temponya 10 tahun memiliki yield 5.3%, obligasi serupa terbitan Yunani memiliki Yield 33% atau hampir 6 kali lipatnya. Berani beli?

Demikian artikel ini, pada kesempatan yang lain saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai risk and return obligasi. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Terima kasih.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

Categories: Obligasi Tags:
  1. Robert
    February 28th, 2012 at 12:34 | #1

    Dear Pak Rudiyanto,

    Saya sangat menikmati setiap tulisan dari Bapak yang mengalir & mudah dipahami. Saya sangat tertarik dengan bagian ke-2 dari tulisan ini.

    Sejujurnya saya masih belum terlalu paham dengan konsep kenaikan atau penurunan dari NAB reksadana pendapatan tetap. Belakangan ini NAB nya turun terus. Apakah karena ekspektasi inflasi yang dipandang akan meningkat? Bukankah kalau BBM naik dan subsidi BBM turun, Indonesia akan lebih kuat dipandang dari APBN. Atau meningkatnya kemampuan ekonomi Indonesia tidak dilihat oleh investor obligasi, sebagai underlying asset reksadana pendapatan tetap?

    Maaf bila saya menanyakan yang Pak Rudiyanto telah bahas sebelumnya.

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Salam,
    Robert.

  2. February 28th, 2012 at 14:18 | #2

    @Robert
    Salam Pak Robert,

    Terima kasih atas apresiasinya.

    Saya sepenuhnya setuju dengan anda bahwa kenaikan BBM akan membuat perekonomian Indonesia terlihat lebih baik karena subsidi yang diberikan lebih kecil. Namun sayangnya kinerja makro ekonomi terkadang sangat tidak sejalan dengan kinerja instrumen investasi. Artikel terkait bisa dibaca di:
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/01/11/ironi-dibalik-peringkat-return-bursa-saham-dunia/

    Terkait ekspektasi inflasi, dengan meningkatnya inflasi, maka kemungkinan BI Rate akan meningkat. Peningkatan BI Rate akan menyebabkan suku bunga deposito di bank juga ikut meningkat. Sesuai dengan konsep yang saya jelaskan di atas, kalau suku bunga acuannya naik, maka ekspektasi investor terhadap return instrumen ini juga menjadi lebih tinggi. Meningkatnya ekspektasi return akan menyebabkan penurunan harga. Artikel terkait bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/2011/02/26/benang-merah-antara-makro-ekonomi-dan-investasi/

    Harapan dan cara pikir anda bahwa BBM akan membuat perekonomian negara secara APBN akan menguat memang tidak salah, namun sekali lagi investasi menurut saya lebih banyak didasarkan pada valuasi. Terlalu mahal akan turun, terlalu murah akan naik. Definisi mahal murah itu sendiri, berubah dari waktu ke waktu tergantung situasi dan kondisi. Inflasi dan suku bunga merupakan salah satu indikator penting yang harus anda perhatikan.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  3. Melinda
    March 6th, 2012 at 11:27 | #3

    Pak Rudiyanto,

    bagaimana dengan obligasi indon42?, coupon 5,25%.
    apakah boleh investasi di obligasi indon42?

    Terimakasih

  4. Rudiyanto
    March 6th, 2012 at 13:09 | #4

    @Melinda
    Salam Ibu Melinda,

    Tidak ada larangan dalam melakukan investasi obligasi. Sepanjang dana mencukupi dan obligasi yang ada memberikan yield sesuai dengan tingkat return yang anda inginkan maka saya pikir boleh-boleh saja.

    Akan tetapi umumnya obligasi indon42 yang anda sebutkan tadi mungkin harganya sudah premium (>100), sehingga kemungkinan besar juga persentase yield yang anda peroleh di bawah tingkat kupon yang anda sebutkan. Belum lagi fee yang anda bayar jika membelinya melalui bank.

    Artikel di atas juga menyarankan bahwa dalam investasi obligasi, yang dilihat adalah Yield bukan kupon, karena yield adalah total dari seluruh keuntungan yang akan anda terima dengan asumsi anda memegangnya hingga jatuh tempo. Demikian, semoga bermanfaat

  5. julia
    March 18th, 2012 at 11:04 | #5

    maaf Pak Rudianto sy ingin bertanya
    apa resiko yg harus dihadapi investor dalam obligasi luar negeri selain gagal bayar?
    Terimakasih

  6. Rudiyanto
    March 18th, 2012 at 20:31 | #6

    @julia
    Salam Ibu Julia,

    Selain risiko gagal bayar, risiko yang dihadapi investor obligasi adalah risiko pasar (perubahan harga).

  7. March 21st, 2012 at 11:12 | #7

    Pak Rudiyanto Yth,

    Terima kasih atas pencerahannya.., adapun yg ingin saya sampaikan pak pada awal Pebruari 2012 sy terlanjur beli salah satu produk RDPT . Pada 1-2 minggu pertama kenerja lumayan baik, minggu2 selanjutnya seiring isyu kenaikan harga bbm, bisa kita ketahui bersama hampir rata2 RDPT NAB nya mengalami penurunan yg cukup dalam terutama 1 bulan terakhir ini.

    Memang dengan belum diputuskannya rencana kenaikan harga BBM seakan membuat was2 saya secara pribadi, tapi sy berusaha untuk tegar dengan paparan yg Bapak sampaikan supaya tidak gegabah mengambil sikap dan tetap berpegang pada prinsip dasar RDPT “low ruturn low risk” dan konsisten pada jangka waktu investasi produk RDPT 1-3 tahun.

    Yang saya tanyakan pak…, apakah keputusan sikap sy ini bisa dikatakan sudah tepat pak..?

    Terima kasih sebelumnya…Pak,

    Wassalam…

  8. Rudiyanto
    March 21st, 2012 at 11:54 | #8

    @Ketang
    Salam Ketang,

    Kalau benar atau salah rasanya agak sulit untuk diputuskan mengingat saya bukan Hakim yang bisa menjatuhkan hukuman he he.

    Menurut saya, keputusan yang benar adalah keputusan yang pada saat kita ambil, sudah didahului dengan pertimbangan yang matang dan kita bisa tidur dengan tenang setelah keputusan tersebut.

    Agar tidak was-was dan khawatir, ada 2 cara. Pertama jangan investasi apapun. Dengan demikian anda bisa tidur tenang karena tidak ada risiko yang dihadapi.

    Cara kedua, kalau mau tambah pintar atau kaya (kalau bisa kedua2nya), adalah ambil keputusan itu. Kalaupun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan harapan, kita belajar tentang cara apa yang salah. Dan kalau hasilnya sesuai harapan, kita tambah kaya dan menemukan satu lagi cara untuk meningkatkan kekayaan. Syukur2 kalau sudah belajar, kita juga tambah kaya.

    Semoga bermanfaat.

  9. maya
    March 23rd, 2012 at 09:30 | #9

    maaf pak .. saya mau tanya !!
    jika BBM naik per 1 April nanti, apakah BI akan menjual obligasi milik pemerintah ataukah membeli nya ? tolong jelskan alasan bapak !!
    trimakasih sblm’a ..

  10. Rudiyanto
    March 23rd, 2012 at 09:43 | #10

    @maya
    Salam Maya,

    Wah, pertanyaan tersebut sebaiknya ditanyakan langsung ke Bank Indonesia. Salah satu alat pengendalian kebijakan moneter yang dimiliki oleh Bank Indonesia adalah Operasi Pasar Terbuka. Dalam bahasa inggris, disebut juga Open Market Operation (OMO). Mengenai dia mau beli atau jual, anda bisa coba pelajari alasan, definisi dan keterangannya di website BI atau bertanya langsung ke Bank Indonesia.

    Semoga bermanfaat.

  11. maya
    March 23rd, 2012 at 10:19 | #11

    tapi kalau menurut bapak sendri gmn ??

  12. Rudiyanto
    March 23rd, 2012 at 14:37 | #12

    @maya
    kalau apa yang akan dilakukan oleh BI, saya tidak tahu.

  13. wakuku
    May 14th, 2012 at 15:14 | #13

    Slamat Siang Pak Rudy, artikel bapak sangat menarik perhatian saya untuk bertransaksi obligasi, tapi sebelumnya di manakah saya dapat menemukan broker obligasi yg di jual di pasar sekunder?
    Dan apakah pasar obligasi sekarang juga sdh bs bertransaksi online seperti saham? Jika sudah bisa broker mana yg menyediakan Online Tradingnya Pak?
    Yg terakhir berapakah fee jual dan beli obligasi Pak? Apakah pada saat menjualnya juga ada potongan buat pajak 0,1% seperti saham Pak?

  14. Rudiyanto
    May 14th, 2012 at 19:14 | #14

    @wakuku
    Selamat Malam,

    Pada dasarnya kebanyakan broker saham juga dapat melayani transaksi obligasi. Hanya saja, ada baiknya kamu bertanya langsung ke broker yang bersangkutan. Sebisa mungkin hubungi broker yang di kantor pusat atau cabang besar. Sebab kalau cabang kecil mungkin hanya melayani transaksi saham. Anda bisa juga mencoba ke Danareksa, informasi mengenai nomor kontak, fee dan lain-lain bisa menghubungi Danareksa langsung (searching di gmail).

    Semoga bermanfaat

  15. Pipin
    May 15th, 2012 at 21:41 | #15

    Selamat Malam Pak Rudy,

    Kenapa 1 bulan belakangan ini harga RDPT turun terus ? RDPT yang saya miliki underlying assetnya Obligasi Pemerintah. Apakah karena Indonesia mendapat investment grade ? Terima kasih Pak

  16. Rudiyanto
    May 16th, 2012 at 16:45 | #16

    @Pipin
    Sore Pipin,

    Harga Obligasi turun karena Yield Obligasi naik, bukan karena investment grade. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/02/04/investment-grade-obligasi-dan-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat.

  17. macatan
    June 21st, 2012 at 14:36 | #17

    Halo pak, ulasan bapak sangat baik dan lancar, hanya ingin menambahkan mudah-mudahan menjadi nilai tambah, kalau saya pribadi mencoba untuk melogika-kan kenapa pada saat suku bunga naik maka harga obligasi turun dan sebaliknya, adalah begini:

    misal obligasi A dengan kupon 10% yg saat ini diperdagangkan, maka pada saat katakanlah BI mengumumkan kenaikan BI rate yg kemudian diikuti kenaikan suku bunga di pasar termasuk suku bunga kredit dan deposito yang kemudian pada akhirnya membuat penurunan harga obligasi. Logikanya adalah pada saat terjadinya pengumuman tersebut, pasar sudah mengharapkan adanya obligasi baru yang akan diterbitkan dengan suku bunga yang lebih tinggi dengan asumsi tingkat risiko tetap. Sehingga pada saat itu, pasar sudah melakukan “price in” atas obligasi yang saat itu diperdagangkan di pasar modal. Hal yang sama pun akan terjadi apabil suku bunga turun yang kemudian akan menaikkan harga obligasi di pasar sekunder. Demikian, semoga turut mencerahkan.

  18. Hyung
    June 28th, 2012 at 06:22 | #18

    Salam Pak Rudiyanto.
    ada yang ingin saya tanyakan. mengenai perhitungan bunga obligasi.
    di prospektus reksa dana tertulis :
    Contoh :
    Nama : obligasi A
    Bunga : 10 %
    niai nominal : 10 jt
    nilai beli atau jual (nilai wajar) : 11 jt

    yang ingin saya tanyakan. dalam perhitungan bunga obligasi nilai mana yang digunakan.

    terimakasih atas info bapak rudi

    salam.

  19. Rudiyanto
    June 28th, 2012 at 08:40 | #19

    @Hyung
    Salam Hyung, Untuk perhitungan bunga selalu menggunakan nilai nominal.

  20. Hyung
    June 28th, 2012 at 10:49 | #20

    @Rudiyanto
    Salam Pak Rudiyanto

    terimakasih atas info bapak sebelumnya sangat membantu saya.
    kalau mengenai keuntungan (capital gain) obligasi perhitungannya dari mana.
    dari harga jual – harga beli
    atau dari harga jual – nilai nominal

    terimakasih banyak atas info dari bapak rudi

    salam.

    • Rudiyanto
      June 28th, 2012 at 11:31 | #21

      Untuk Capital Gain dihitung dari Harga Jual dikurangi Harga Beli.
      Namun jika investor memegang obligasi hingga jatuh tempo, harga jual = harga nominal.

      Semoga bermanfaat.

  21. Hyung
    June 28th, 2012 at 13:21 | #22

    @Rudiyanto
    Salam Pak Rudiyanto.

    Terimakasih pak atas infonya. sangat bermanfaat pak. semoga bapak sukses selalu.

    Salam.

  22. aan
    July 17th, 2012 at 09:07 | #23

    pagi…….
    pak mau tanya klo ngitung YTM gmn? dan analisisnya gmn?

  23. Rudiyanto
    July 17th, 2012 at 18:45 | #24

    @aan
    Kalau untuk perhitungan YTM bisa coba searching di google. Untuk analisisnya bisa dibaca bagian 2, 3 dan materi obligasi disini. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/obligasi/

  24. Bayu Anggara
    October 30th, 2012 at 17:44 | #25

    Mohon info, apa sertifikat pindjaman obligasi BNI tahun 1962 dapat dicairkan, terima kasih atas infonya.

  25. Rudiyanto
    November 1st, 2012 at 14:28 | #26

    @Bayu Anggara
    Salam Bayu,

    Apakah anda sudah mencoba datang langsung ke Bank BNI?

  26. sukardin
    December 1st, 2012 at 10:57 | #27

    pagi pak Rudi
    saham memiliki PER = 20 apakah harga saham ini terlalu mahal, terlalu murah ataukah wajar?

  27. sukardin
    December 1st, 2012 at 10:59 | #28

    pak minta tolong di jelaskan!

    Jika suatu saham memiliki PER = 20 apakah harga saham ini terlalu mahal, terlalu murah ataukah wajar.

  28. Rudiyanto
    December 3rd, 2012 at 11:50 | #29

    @sukardin
    Salam Sukardin,

    PER itu adalah ilmu perbandingan pak. Bukan ilmu eksak. Karena ilmu perbandingan, maka mahal atau murah, bagus atau tidak bagus selalu harus dibandingkan dengan sesuatu. Ada beberapa konsep perbandingan yang dipergunakan:
    1. Perbandingan dengan rata-rata historis. Misalnya suatu saham, berdasarkan data tahun2 sebelumnya hanya punya PER di 10-15 kali, maka otomatis 20 kali itu terbilang mahal.
    2. Perbandingan dengan saham sejenis. Misalnya di sektor dan model bisnis yang sama, saham2 sejenis memiliki PER 40x, tentu 20x itu murah. Ada juga yang membandingkan PER dengan Indeks (IHSG).
    3. Perbandingan PER dengan Growth, dengan konsep PER, secara umum semakin tinggi semakin mahal. Namun ada juga yang beranggapan saham yang mahal bisa dikompensasi jika rasio pertumbuhan laba bersihnya tinggi. Oleh dikenal juga dengan rasio PEG (PE to Growth Ratio). Investasi yang mengutamakan pada rasio pertumbuhan laba bersih dikenal juga gaya Growth Investing.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  29. vivi
    June 4th, 2013 at 16:40 | #30

    pak saya mau tanya bagaimana caranya mengetahui harga pasar obligasi setiap perusahaan? . terima kasih

  30. Rudiyanto
    June 9th, 2013 at 21:56 | #31

    @vivi
    Dear Vivi,

    Harga Pasar terjadi dari transaksi. Apabila tidak ada transaksi, maka tidak ada harga pasar. Untuk transaksi yang terjadi, anda bisa cari datanya di infovesta.com, ibpa.co.id, idx.co.id, koran investasi dan bisnis. Beberapa harus berlangganan, beberapa kamu bisa kamu beli koran dan lihat kliping lama saja.

    Semoga bermanfaat.

  31. @iben
    July 21st, 2013 at 22:00 | #32

    Malam Pak,
    Saya mau tanya, bbrp wkt lalu ada rekan saya ingin meminjam sejumlah dana dengan jaminan obligasi yang dimiliki (di Bank BDN?tahun 88?) yang jumlahnya lumayan besar. Dan obligasi tsb sdh di sahkan oleh notaris yang artinya sdh (mungkin) di cek oleh pihak notaris ke absahannya ke Bank Penerbit (skrg Mandiri). Apakah obligasi ini benar?kalau memang benar, ke bagian apa saya hrs melakukan cross cek?
    Atas infonya sy ucapkan trm ksh.

    Salam…

  32. Rudiyanto
    July 22nd, 2013 at 11:54 | #33

    @@iben
    Salam Iben,

    Boleh tahu, nama perusahaan penerbit Seri, tanggal jatuh tempo, kupon, dan nominal obligasinya?

    Kalau mau cek, semua obligasi korporasi Indonesia, harusnya ada di sini http://www.ibpa.co.id/BondMarketData/BondMaster/IDRCorpBondsSukuks/tabid/80/language/en-US/Default.aspx Semoga bermanfaat.

  33. July 22nd, 2013 at 23:11 | #34

    dear pak rudi

    saya agis mahasiswa tingkat akhir di matematika unpad. dan kebetulan TA saya tentang perbandingan risiko obligasi syariah dngan obligasi biasa dan obligasi pemerintah..
    yang ingin saya tanyakan pak apakah dalam perhitungan matematisnya untuk obligasi syariah yang digunakan pengganti kupon itu nilai profit sharingnya?

    terima kasih pak

  34. Rudiyanto
    July 24th, 2013 at 08:48 | #35

    @agis muhsin
    Dear Agis,

    Sukuk ada 2 macam, yang profit sharing (Mudharabah) dan sewa (Ijarah). Secara matematis, memang angka tersebut dapat dianggap sebagai kupon, namun untuk yang sistemnya profit sharing, angkanya bisa berubah.

    Semoga bermanfaat.

  35. July 24th, 2013 at 21:08 | #36

    terima kasih banyak infonya pak. sangat membantu

    oya pak kalau berkenan, pertanyaan saya yang kedua apakah dalam pasar obligasi di indonesia faktor2 yang memengaruhi harga pada obligais konvensional dan obligasi pemerintah itu juga sama dengan yang memengaruhi pada oblgasi syariah? biasanya faktor itu apa saja?

    terima kasih

  36. Rudiyanto
    July 25th, 2013 at 09:18 | #37

    @agis muhsin
    Dear Agis, faktor yang berpengaruh harusnya sama, namun dampaknya secara jelas juga tergantung pada likuiditas transaksi obligasi yang bersangkutan. Jika obligasinya kurang likuid (jarang ditransaksikan), maka perubahan harganya agak sulit diprediksi.

    Semoga bermanfaat.

  37. hody
    September 6th, 2013 at 13:46 | #38

    halo pak rudi, awal tahun 2013 saya sempat membeli obligasi fr65 di kisaran 105 sekian, per bulan agustus nilainya terakhir saya liat 86 sekian, berarti turun sekitar 20 persen,, kira2 penjelasannya bagaimana harusnya, kata orang yg optimis saatnya tambah lagi mumpung lagi murah… tapi saya terus terang sendiri bingun karena ndak terlalu ngerti tapi sebelum membeli tuh kan ada agent yg tawarin di kasih lihat track recordnya memang bagus rata2 naik, waduh pas saya beli kok ancur banget, memang wajar ya penurunannya sekali? sampai 20 persen gitu blom cukup setahun lagi? trus saran nya kira2 apa yang bagus ya, di tambah lagi dananya ato gimana kira2 baeknya< trims

  38. Rudiyanto
    September 9th, 2013 at 09:26 | #39

    @hody
    Salam Hody,

    Prinsip berinvestasi itu memang Pahami Nikmati.
    Artinya Pahami Risikonya, dan Nikmati Hasilnya.

    Harga obligasi turun karena inflasi naik dan sebaliknya. Membeli obligasi juga harus jelas, apakah dipegang hingga jatuh tempo atau diperjual belikan. Anda termasuk kategori yang mana?

  39. December 24th, 2013 at 15:22 | #40

    Pak Rudiyanto, bikin buku tentang Obligasi retail juga Pak, banyak yang minat macam ORI, saya juga, lebih enak dibaca kalau bentuk buku, dibanding online begini, agak pusing kalo panjang, hehe

  40. Rudiyanto
    December 26th, 2013 at 13:58 | #41

    @Ahmad Arib
    Well.. nanti kita lihat saja.

  41. beni
    January 2nd, 2014 at 10:24 | #42

    pak kenapa saat kupon obligasi naik justru perubahan harga obligasi/harga obligasi turun? terimakasih

  42. Rudiyanto
    January 2nd, 2014 at 11:07 | #43
  43. beni
    January 3rd, 2014 at 13:49 | #44

    pak saya udah baca artikelnya, apakah kupon obligasi berhubungan dengan yield? jika yield naik maka harga obligasi turun.
    yang saya pahami harga obligasi akan turun jika BI rate naik, karena investor lebih memilih deposito sebagaai ladang investasinya. tetapi kenapa coupon obligasi naik justru menyebabkan harga obligasi turun? apakah naiknya coupon obligasi tidak menarik bagi investor sehingga menyebabkan harga obligasi turun.
    terimakasih pak mohon bantuannya.

  44. Rudiyanto
    January 3rd, 2014 at 14:17 | #45

    @beni
    Kupon obligasi itu kan tetap? mana bisa naik atau turun?

  45. beni
    January 6th, 2014 at 14:34 | #46

    selamat siang pak Rudy .
    maaf pak saya mau tanya, saya sudah buka website Infovesta tapi saya kesulitan mencari data harga obligasi pertaun pak? mohon bantuannya pak, terimakasih.

    • Rudiyanto
      January 6th, 2014 at 14:46 | #47

      Siang juga.
      Data tersebut bisa didapatkan melalui berlangganan. Utk detailnya silakan hubungi infovesta langsung, terima kasih

  46. Agustian
    January 8th, 2014 at 20:22 | #48

    Pak Rudiyanto yth,
    Saya sedang melakukan penelitian mengenai YTM (Yield To Maturity).
    YTM yang seperti apakah yang baik bagi investor? Yang naik atau turun?
    terimakasih sebelumnya.

    • Rudiyanto
      January 8th, 2014 at 20:24 | #49

      Salam Agustian,

      Kalau menurut kamu bagusan naik atau turun sebagai investor?

  47. Agustian
    January 8th, 2014 at 21:12 | #50

    @Rudiyanto
    mungkin sebagai investor lebih bagus yang naik, karena akan mendapatkan yield yang lebih tinggi. Betul tidak pak?

    • Rudiyanto
      January 8th, 2014 at 21:18 | #51

      Jangan pakai kata mungkin, kamu harus bisa memposisikan dirimu sebagai investor. Kalau tidak hasil penelitian kamu tidak ada artinya krn kamu sendiri juga tidak paham isinya apa.

      Sebagai investor, ini posisinya sudah beli obligasi atau lagi mau beli?

  48. Agustian
    January 8th, 2014 at 21:56 | #52

    @Rudiyanto
    oh iya maaf pak. Apakah terdapat perbedaan apabila posisi investor yang sudah beli dengan yang akan beli?

    • Rudiyanto
      January 8th, 2014 at 21:58 | #53

      Coba bayangkan kalau kamu sudah beli obligasi, kemudian yield naik apakah kamu senang? Atau kamu baru mau beli dan yield naik? Mana yg lebih senang?

  49. Agustian
    January 8th, 2014 at 22:14 | #54

    @Rudiyanto
    Lebih senang apabila sudah beli obligasi.

    • Rudiyanto
      January 8th, 2014 at 22:21 | #55

      Kenapa lebih senang? Apakah kamu mendapat keuntungan dari kenaikan yield tersebut?

  50. beni
    January 9th, 2014 at 10:15 | #56

    selamat pagi pak.
    maaf pak saya mau nanya, pak kenapa inflasi tidak berpengaruh terhadap harga obligasi?
    di beberapa penelitian menyatakan hal tersebut, namun tidak ada teori yang mendukung inflasi tidak berpengaruh terhadap harga obligasi.
    mohon bantuannya pak, terimakasih

  51. Rudiyanto
    January 9th, 2014 at 11:57 | #57

    @beni
    Kalau mengenai hal tersebut, silakan cek di penelitian yang anda baca. Tentu ada disebutkan mengapa statement tersebut dikatakan.

    Semoga berhasil

  52. beni
    January 9th, 2014 at 14:46 | #58

    maaf pak, kalo menurut pendapat bapak pribadi kenapa inflasi tidak berpengaruh terhadap harga obligasi?
    terimakasih

  53. Rudiyanto
    January 9th, 2014 at 15:04 | #59

    @beni
    Kalau itu saya tidak tahu, karena kalau di artikel saya malah inflasi berpengaruh terhadap harga obligasi bukan?

  54. beni
    January 9th, 2014 at 15:42 | #60

    iya pak, kalo saya baca di artikel bapak inflasi mempengaruhi perubahan harga obligasi.
    tetapi hasil penelitian saya inflasi tidak berpengaruh terhadap harga obligasi. sedangkan penelitian sebelumnya tidak ada penjelasan mengenai hal tersebut. jadi saya harus mencari teori yang mendukung mengenai kenpa inflasi tidak berpengaruh terhadap harga obligasi. dari tadi saya coba cari tapai belum ketemu.

  55. Rudiyanto
    January 13th, 2014 at 09:31 | #61

    @beni
    Salam Beni,

    Perlu kamu pahami bahwa harga obligasi bisa berubah setiap hari, sementara inflasi berubah setiap bulan. Kemudian, harga obligasi juga tergantung pada waktu jatuh temponya dimana semakin mendekati jatuh tempo, harga obligasi akan semakin mendekati 100, mau inflasi naik ataupun turun. Belum lagi, transaksi obligasi tidak likuid, bisa saja harganya seharusnya naik atau turun, namun karena tidak ada transaksi, harganya dicatat sama dengan harga periode sebelumnya.

    Semoga bermanfaat.

  56. beni
    January 21st, 2014 at 09:01 | #62

    maaf pak mau tanya, pemegang obligasi boleh lebih dari satu investor atau tidak?
    terimakasih

  57. Rudiyanto
    January 21st, 2014 at 13:07 | #63

    @beni
    Salam Beni,

    Kalau obligasi itu, sama seperti saham dan reksa dana. Ditawarkan ke publik, jadi pasti lebih dari 1 investor.

  58. Queen
    February 5th, 2014 at 15:54 | #64

    Saya mau bertanya. Lebih baik membeli obligasi discount atau premium?

  59. Rudiyanto
  60. chrisna
    February 20th, 2014 at 14:53 | #66

    kalau mau jual obligasi kemana ya pak??? dulu obligasi di terbitkan dari bank Dagang Negara dan sekarang sudah jadi mandiri….. bisa ndak di jual ke per orangan???

  61. Rudiyanto
    February 20th, 2014 at 18:54 | #67

    @chrisna
    Salam Chrisna,

    Coba bawa sertifikat yang kamu punya dan datang ke perusahaan sekuritas terdekat.

    Semoga berhasil.

  62. April 2nd, 2014 at 19:19 | #68

    pak saya mau tanya, web yang menyediakan pergerakan harga obligasi secara gratis dan tanpa daftar ada gak ya?

    • Rudiyanto
      April 3rd, 2014 at 18:40 | #69

      Salam Richard, tingkat kesulitan pertanyaan itu sama dengan pertanyaaan seperti dimana tempat di Jakarta kita bisa makan siang gratis utk selamanya tanpa syarat apapun, dan kebetulan saya masih belum punya jawabannya. Thanks

  63. tika
    April 5th, 2014 at 16:37 | #70

    Selamat sore,saya agak paham tentang at discount dan at premiun tapi apa alasan investor menjual dengan harga di atas pasar ?untungnya bagi pembeli apa?.Kemudian yang inin saya tanyakan apa ada pembeli yang mau membeli obligasi tersebut jika muncul obligasi seri baru yang kuponnya lebih tinggi?Harus dijual berapa agar laku?

  64. Rudiyanto
    April 7th, 2014 at 12:39 | #71

    @tika
    Selamat Siang Tika,

    Mengenai alasan mengapa orang beli di harga discount atau premium, itu alasannya banyak. Mulai dari alasan klasik seperti “Butuh Duit”, tapi sebenarnya lebih banyak karena alasan komersial. Misalkan beberapa tahun yang lalu, ketika bunga deposito masih tinggi, obligasi supaya laku harus membayarkan bunga di atas deposito. Katakanlah Deposito 8 obligasi mesti 10%.

    Jatuh tempo obligasi tersebut katakanlah 10 tahun. Baru jalan 2 tahun, suku bunga deposito turun menjadi 6%. Dengan logika yang sama, obligasi supaya laku cukup memberikan bunga 8% saja. Tapi masih ada seri obligasi lama yang memberikan bunga 10%.

    Karena memberikan kupon di atas rata-rata obligasi saat ini, maka ketika obligasi tersebut dijual pada harga premium, orang masih mau beli karena kupon yang didapat lebih besar dibandingkan pasaran saat ini.

    Mengenai pertanyaan anda yang lain, kamu perlu memahami konsep tentang Yield to Maturity (YTM) http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/04/05/memahami-cara-kerja-obligasi-4-yield-curve-obligasi/ dan tujuan investor dalam berinvestasi di obligasi, apakah hold to maturity atau trading http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/03/18/memahami-cara-kerja-obligasi-3-mengenal-metode-akuntansi-obligasi/

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  65. Refa
    May 7th, 2014 at 09:45 | #72

    Saya mau bertanya, apakah ada hubungannya antara jumlah pengangguran dengan harga obligasi? Terima kasih pak

    • Rudiyanto
      May 7th, 2014 at 15:51 | #73

      Salam Refa,
      Itu pertanyaan yg bagus, menurut saya bisa coba kamu teliti utk melihat apakh ada hubungan atau tidak.

      Thanks

  66. May 27th, 2014 at 17:16 | #74

    Pak Rudiyanto, saya sudah membeli buku anda mengenai Reksadana, dan sekarang terkait tesis, saya membaca kembali website anda untuk mendapatkan ilmu tentang Obligasi. Saya yg dari buta buta banget tentang obligasi (karena latar belakang engineering) selalu ‘tercerahkan’ ketika membaca tulisan tulisan anda yg easy to read dengan bahasa yang mudah dicerna orang awam seperti saya. Terima kasih ya Pak, dan ijinkan saya mengutip berbagai ilmu yg anda share disini ke dalam tesis saya (tentu saja nama anda saya tuliskan di dalamnya). Sekali lagi terima kasih Pak Rudiyanto. Semoga Bapak selalu sukses. :)

    • Rudiyanto
      May 28th, 2014 at 14:03 | #75

      Siang Nina,

      Terima kasih telah membeli buku saya. Silakan gunakan blog ini sebagai referensi thesis anda semoga sukses dengan thesisnya.

  67. Fredy Hermawan
    August 7th, 2014 at 10:24 | #76

    salam pak Rudi,
    Saya ingin bertanya masalah obligasi, sertificat dikeluarkan oleh bank dagang negara cabang jakarta thamrin tertanggal 17 Maret 1987
    no : 27058/BDN/THM/87
    no seri 880083
    sejumlah 100 milyard
    dan tertulis mengikat diri untuk membayar 1 tahun kemudian
    17 maret 1988
    Untuk mengecheck ke absahan nya bagaimana?
    Juga masalah pencairannya bagaimana?
    Terima kasih sebelumnya.
    Salam, Fredy

  68. Rudiyanto
    August 7th, 2014 at 18:17 | #77

    @Fredy Hermawan
    Yth Pak Fredy,

    Untuk obligasi tersebut, berarti sudah jatuh tempo hampir 26 tahun yang lalu. Saya tidak tahu apakah masih valid atau tidak. Dan banknya bukankah sudah tidak ada? Kalau ada yang menawarkan obligasi tersebut sebaiknya jangan dibeli takutnya itu bohongan. Persis seperti dulu sempat ada yang menawarkan uang USD 10.000 yang terbit puluhan tahun yang lalu.

    Semoga bermanfaat.

  69. August 15th, 2014 at 14:49 | #78

    Yth Pak Rudy, mohon bantuannya

    saya membutuhkan data mengenai harga sukuk korporasi per tahun untuk tesis saya, apakah saya bisa mendapatkannya dari infovesta?

    kalau bisa hubungi kemana? saya sudah kirim email tapi belum ada balasan :(

    Terima kasih bantuannya ya Pak

  70. Rudiyanto
    August 18th, 2014 at 13:41 | #79

    @Nina
    Salam Nina,

    Mungkin bisa dicoba dengan menelepon langsung. Di website seharusnya ada informasi nomor telepon.

    Terima kasih

  71. Judjo
    September 11th, 2014 at 16:20 | #80

    pak Rudi,, saya mau nanya.. pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap yield obligasi, proksi apa yang bisa saya gunakan? harga pasar obligasi kah?

    dimana saya bisa mendapatkan harga pasar obligasi tiap tahunnya?

  72. Rudiyanto
    September 11th, 2014 at 17:31 | #81

    @Judjo
    Salam Judjo,

    Apa yang dimaksud dengan Proksi?

    Untuk harga pasar obligasi, tersedianya memang yang harus berlangganan. Tersedia di Infovesta, Bloomberg dan IBPA. Anda bisa menghubungi mereka langsung untuk informasi harga langganannya.

    Terima kasih.

  73. yudi
    September 29th, 2014 at 12:36 | #82

    selamat siang pak rudi.. saya mengalami kendala untuk mendapatkan data emisi obligasi korporasi untuk tahun 2011-2012. mohon pencerahannya pak, dimana saya bisa mendapatkan data tersebut. terima kasih.

    salam

    Yudi

  74. Rudiyanto
    October 2nd, 2014 at 12:37 | #83

    @yudi
    Salam Yudi.

    Anda bisa mencari di situs bursa efek Indonesia.

    Semoga berhasil.

  75. ika
    November 9th, 2014 at 21:07 | #84

    Rudiyanto :
    @Fredy Hermawan
    Yth Pak Fredy,
    Untuk obligasi tersebut, berarti sudah jatuh tempo hampir 26 tahun yang lalu. Saya tidak tahu apakah masih valid atau tidak. Dan banknya bukankah sudah tidak ada? Kalau ada yang menawarkan obligasi tersebut sebaiknya jangan dibeli takutnya itu bohongan. Persis seperti dulu sempat ada yang menawarkan uang USD 10.000 yang terbit puluhan tahun yang lalu.
    Semoga bermanfaat.

    Pak fredy kemarin ayahku bisa mengurusi obligasi bank dagang negara, kalau mau sharing bisa lewat email saya

  1. No trackbacks yet.