Home > Lain-lain, Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Ironi Dibalik Peringkat Return Bursa Saham Dunia

Ironi Dibalik Peringkat Return Bursa Saham Dunia

Dari sisi kinerja pasar modal (pertumbuhan IHSG), Indonesia bisa dikatakan mengakhiri 2011 dengan sangat gemilang apabila dibandingkan negara lain. IHSG menjadi bursa terbaik kedua se-Asia setelah Philipina. Untuk dunia, saya tidak memperoleh data secara komplit, berdasarkan informasi, sepertinya kita berada di kisaran peringkat 9 dunia. Namun jika dibandingkan dengan indeks yang menjadi acuan dunia, kita cukup bangga untuk bisa berada di peringkat tiga.

Dibalik peringkat yang bagus tersebut, saya menemukan suatu hal yang kurang masuk akal jika dinalar menggunakan akal sehat saya.

Peringkat bursa Indonesia dibandingkan dengan negara lain adalah sebagai berikut:

Masih ingatkah dengan apa peristiwa dan kepercayaan orang maupun investor di tahun 2011 yang lalu. Jika lupa mari saya ingatkan.

  • China. Jangankan 2011, sejak beberapa tahun yang lalu hingga beberapa tahun yang akan datang, banyak orang dari seluruh dunia meyakini bahwa ekonomi China akan merajai dunia. Hal ini didukung fakta China memiliki penduduk yang besar, cadangan devisa yang sanggup membeli apapun selama ada harganya, memproduksi barang dengan harga relatif murah dan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Macau sendiri bahkan sudah memiliki pusat perjudian yang secara omset mengalahkan Las Vegas yang dulunya dikenal sebagai pusat perjudian dunia karena memiliki banyak “penjudi” dari China. Seluruh kenyataan di atas, yang di atas kertas dari sudut pandang seorang analis, menyatakan bahwa China memiliki prospek yang besar, dan logikanya saham-saham di sana juga seharusnya layak untuk dikoleksi. Namun apa yang terjadi? China dan negara administrasi khusus (Hong Kong) yang dianggap paling dapat memanfaatkan pertumbuhan ekonomi tersebut secara langsung malah menjadi negara dengan kinerja bursa terburuk. Investor secara rata-rata kehilangan 20% jika berinvestasi pada saham negara tersebut.
  • Amerika Serikat. Diwakili dengan indeks Dow Jones (DJIA) menjadi bursa saham dengan kinerja terbaik dunia. Masih ingat betapa besarnya ketakutan dan kepanikan yang terjadi ketika AS dilanda krisis hutang? Rasio hutang mencapai / melebihi batasan tertinggi yang boleh disetujui undang-undang, proses diskusi batasan hutang yang berbelit-belit dan sarat dengan kepentingan politis, jumlah utang terus bertambah dan dibayar dengan mencetak uang. Perusahaan bangkrut atau meminta pertolongan bail out satu per satu-satu, harga properti anjlok, tingkat pengangguran mencapai level tertinggi, rating diturunkan dan masih banyak lagi masalah-masalah lain. Banyak orang memiliki prediksi yang amat suram mengenai masa depan Amerika Serikat. Namun sekali lagi, seluruh fakta yang di atas kertas membuat kita menjauhi negara tersebut malah kinerja bursa menunjukkan hasil yang sebaliknya.

Dari analisis di atas, saya melihat sebuah ironisme di dunia pasar modal. Saya pernah mendengar beberapa investor atau ekonom senior yang mengeluhkan bahwa perkembangan di pasar modal di Indonesia hampir tidak memiliki dampak positif secara langsung kepada sektor riil Indonesia. Kenyataan pahit tersebut ternyata juga terjadi pada negara maju seperti Amerika atau negara dengan pertumbuhan pesat seperti China.

Oleh karena kinerja sektor riil tidak selalu sejalan dengan kinerja pasar modal, investor jangan hanya menggunakan faktor fundamental sektor riil yang baik (dimana saat ini menjadi salah satu nilai jual utama ketika agen penjual mempresentasikan prospek investasi di pasar modal baik melalui saham ataupun reksa dana) sebagai satu-satunya pertimbangan dalam melakukan investasi. Investor juga memperhatikan faktor valuasi, apabila valuasi sudah terlalu tinggi, maka investor perlu melakukan penyesuaian terhadap portofolio investasinya.

Pendapat saya di atas tentu bisa diperdebatkan. Anda juga boleh setuju atau tidak, namun semoga perbedaan yang ada dapat membuat kita menjadi lebih baik.

Demikian sharing ini, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

  1. pratolo
    January 12th, 2012 at 16:07 | #1

    saya kira teori random walk di pasar modal sudah dikemukakan sejak 80-an, meski memicu perdebatan khususnya setelah terbit buku black swan, teori tsb masih cukup relevan pd beberapa kasus. karena index pasar modal bergerak random,maka tentu tidak berkaitan dg sektor riil. kalaupun ada,itu hanya kebetulan.

  2. Chrispinus
    January 16th, 2012 at 12:48 | #2

    Menurut saya pribadi, IHSG memang sudah kemahalan pak, kalau melihat PER nya di aplikasi bloomberg mobile, sudah mahal sekali. Bahkan jika menggunakan perhitungan pertumbuhan wajar 20% per tahun, menggunakan base normal angka 2500 di tahun 2009, maka tahun 2012 ini harga maksimalnya hanya di kisaran 4320, kalau naik di atas itu sangat rawan koreksi, jadi ramalan para analisis tahun kemarin bahwa 2011 bisa 4400 itu terlalu berlebihan, karena harga normalnya utk 2011 adalah 3600, terbukti mentok hanya di sekitar 4000an itupun langsung dihajar profit taking jatuh sampai 3217. Saya lebih percaya statistik dengan deviasi normal, ketimbang ramalan para analisis dan terbukti statistik selalu benar, setidaknya mendekati kenyataan. Saya bersyukur profit taking di angka 4000an tahun kemarin :)

  3. January 16th, 2012 at 13:38 | #3

    @Chrispinus
    Salam Pak Chrispinus,

    Menurut saya definisi antara “Mahal” atau “Mahal Sekali” itu relatif pak. Kalau dalam pandangan saya, saat ini memang mahal karena di atas rata-rata, tapi belum mahal sekali. Lagipula selama 2011, rata-rata pertumbuhan laba emiten dalam perhitungan saya kemarin mendekati 28%. Tahun ini memang perkiraannya berada di kisaran 20% – 25%.

    Sebagai referensi, pembahasan tentang PE ratio juga pernah saya bahas di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/01/24/strategi-investasi-di-tengah-kemelut-pasar/
    dan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/06/apa-yang-sebaiknya-dilakukan-investor-saat-ini-agustus-2011/
    Informasi mengenai PE ratio juga saat ini ditampilkan di homepage http://www.infovesta.com

    Terima kasih atas sharing bapak, semoga bermanfaat untuk semua.

  4. February 26th, 2012 at 13:21 | #4

    Benar-benar Indonesia banget, trims untuk sharingnya

    Salam broker saham

  5. WPPE
    February 26th, 2012 at 13:27 | #5

    Wish, mantap, sharingnya kuat dan menarik.

    Trims Pak
    Salam broker

  6. belajar forex
    March 28th, 2012 at 10:13 | #6

    Terimakasih untuk infonya pak.

  7. Purwanto
    December 22nd, 2013 at 19:15 | #7

    Pak Rudi,

    Prediksi tahun 2014 bgmn ya Pak. Perkiraan IHSG terdalam di brp ? apakah sdh tepat mulai membeli di awal tahun ini.

    tks atas pencerahannya

  8. Rudiyanto
    December 23rd, 2013 at 09:31 | #8

    @Purwanto
    Salam Purwanto,

    Untuk prediksi 2014 belum saya buat. Untuk IHSG terdalam saya juga tidak tahu di berapa. Kemudian untuk pertanyaan apakah sudah saatnya masuk atau tidak tergantung tujuan investasi anda apa. Kalau belum ada, bisa baca disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Semoga bermanfaat.

  9. masih belajar
    October 20th, 2017 at 11:18 | #9

    terima kasih pak, keren tulisannya

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: