Home > Riset Reksa Dana > Mengenal Reksa Dana Indeks & ETF….(3)

Mengenal Reksa Dana Indeks & ETF….(3)

Bagian ketiga dari artikel sekaligus juga menjadi artikel pembuka untuk 2012. Pada 2 artikel sebelumnya yaitu bagian 1 dan bagian 2, kita telah mengenal karakteristik dan cara kerja secara umum reksa dana indeks dan ETF di Indonesia. Pembahasan kali ini akan difokuskan apakah jenis reksa dana ini menarik untuk menjadi salah satu portofolio investasi para investor di luar jenis reksa dana konvensional seperti saham, pendapatan tetap, pasar uang dan campuran. Selamat membaca.

Jika dilihat dari tujuan awal pembentukan reksa dana indeks atau ETF, sangat jelas bahwa reksa dana ini dibuat sebagai bentuk ketidakpuasan karena ternyata manajer investasi yang diharapkan bisa memberikan return di atas rata-rata return pasar yang berlaku, berdasarkan studi historis dengan menggunakan data reksa dana yang dikelola oleh para Manajer Investasi di Amerika, ternyata sebagian besar tidak mampu memenuhi harapan tersebut. Meski selanjutnya jenis reksa dana ETF khususnya, berkembang sangat pesat di AS dan eropa. ETF di sana tidak hanya meniru pergerakan indeks tertentu, namun sudah mencakup ETF komoditas, ETF saham internasional, hingga ETF dengan opsi derivatif dan ETF yang dikelola secara aktif.

Berdasarkan peraturan yang berlaku tentang pengelolaan reksa dana indeks dan ETF yaitu peraturan IV.B.3 dan peraturan IV.C.4 , model reksa dana indeks dan ETF di Indonesia saat ini hanya dimungkinkan untuk reksa dana yang meniru pergerakan suatu indeks tertentu saja. Belum lagi jenis indeks yang bisa ditiru di Indonesia masih terbatas, sehingga kalaupun investor mempertimbangkan akan membeli reksa dana indeks / ETF, maka pertimbangan akan memilih reksa dana indeks / ETF sebaiknya  didasarkan pada apakah kinerja reksa dana saham (misalnya) lebih baik dibandingkan kinerja pasar secara umum di Indonesia (IHSG). Apabila peraturan ETF dan investasi di Indonesia sudah berkembang sehingga dimungkinkan ETF yang lebih canggih seperti ETF berbasis Komoditas, Kurs, atau Opsi derivatif tertentu, barulah pertimbangan ETF sebagai salah satu instrumen diversifikasi dapat dipertimbangkan.

Berdasarkan pertimbangan lebih baik atau tidak dibandingkan kinerja pasar itulah, kemudian, saya bersama tim riset di Infovesta, membuat suatu riset sederhana untuk mencari tahu apakah benar, bahwa reksa dana saham di Indonesia mampu memberikan tingkat return di atas pasar atau tidak. Jika ternyata hasilnya memang tidak banyak reksa dana saham yang mampu mengalahkan IHSG maka sebaiknya investor mempertimbangkan reksa dana indeks dan ETF sebagai portofolio investasi. Namun jika yang terjadi sebaliknya, dimana ternyata banyak Manajer Investasi mampu mengalahkan IHSG melalui reksa dana yang dikelolanya, maka teori dasar tentang perlu adanya ETF ini mungkin memang masih belum berlaku di Indonesia.

Riset ini dibuat dengan membandingkan kinerja reksa dana dari tahun 2001 – 2011. Hasil risetnya adalah sebagai berikut:

 

sumber : www.infovesta.com, diolah

Cara membaca grafik di atas adalah sebagai berikut:

  1. Grafik batang hijau menunjukkan jumlah reksa dana saham yang returnnya di atas IHSG pada tahun yang sama
  2. Grafik batang merah menunjukkan jumlah reksa dana saham yang returnnya di bawah IHSG pada tahun yang sama
  3. Grafik garis pink menunjukkan pembagian antara jumlah reksa dana saham yang mengalahkan IHSG dibagi dengan total reksa dana saham pada tahun yang sama

Dari grafik di atas, saya menyimpulkan bahwa teori Manajer Investasi “secara umum” akan kalah dengan IHSG tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Secara statistik rata-rata persentase jumlah reksa dana saham yang mampu mengalahkan IHSG adalah adalah 46%, mendekati 50% atau bisa saya sebut fifty-fifty. Artinya selama 11 tahun terakhir, secara rata-rata ada setengah dari reksa dana saham yang ada, kalah dengan IHSG dan setengahnya lagi, lebih baik dibandingkan IHSG. Selain itu, tren tersebut terkadang juga bisa berubah dengan drastis seperti lebih dari 3/4 (75%) pada tahun 2009 dan hanya 8% pada tahun 2010.

Kalau dalam konsep probabilitas, fifty-fifty artinya kalau anda menutup mata anda dan memilih 1 reksa dana secara acak, ada kemungkinan 50% anda akan mendapatkan reksa dana yang mampu mengalahkan kinerja IHSG, 50% lagi tidak. Jadi dengan menggunakan jumlah reksa dana saham yang saat ini ada yaitu 82 produk dan data rata-rata historis di atas, berarti tahun 2012 ini akan ada kemungkinan 41 reksa dana saham yang mampu mengalahkan IHSG dan 41 reksa dana saham lagi yang mungkin akan kalah dengan IHSG.

Apabila anda diharapkan pada pilihan sebagai berikut: pilih reksa dana saham yang punya kemungkinan 50% akan mengalahkan kinerja pasar atau reksa dana indeks yang kira-kira 99% akan sama dengan kinerja pasar, kira-kira manakah yang akan anda pilih? Saya rasa, masing-masing investor tentu memiliki jawaban yang paling cocok untuk dirinya sendiri.

Semoga artikel sederhana ini bisa bermanfaat bagi anda semua. Selamat Tahun Baru 2012

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. Elisse Bryna
    February 9th, 2013 at 02:30 | #1

    Selamat malam pak Rudi. saya Elisse salah satu mahasiswa Univ Negri Sby yang sedang menyusun skripsi. saya sudah membaca tulisan bapak ini karena saya jg mngambil topik tentang mutual funds di bandingkan dengan ETF di Indonesia. disini saya ingin mengukur kinerja dari mutual funds dan tentunya ETF. untuk pngukuran kinerja mutual funds sudah banyak tulisan2 atau penelitian2 yang dapat mendukung skripsi saya ini, tapi hal ini bertolak belakang dengan pengukuran kinerja ETF sendiri.
    nah disini saya mengharapkan bantuan dari bapak untuk dapat sharing mengenai pngukuran kinerja pada ETF karena saya hanya dapat menemukan satu penelitian saja, dalam penelitian tersebut pengukuran kinerja mengunakan DEA (Data Envelopment Analysis). sehingga saya ingin menanyakan, kira-kira ada berapa jenis pengukuran dan dari pengukuran tersebut manakah yang lebih baik untuk dapat menggambarkan kinerja ETF sendiri?
    Besar harapan saya bapak dapat merespon pertanyaan saya.
    Terima kasih.

  2. Rudiyanto
    February 13th, 2013 at 08:07 | #2

    @Elisse Bryna
    Salam Elisse, coba anda cari tahu tentang Tracking Error. Semoga bermanfaat.

  3. Elisse Bryna
    February 25th, 2013 at 14:30 | #3

    baik Pak. terima kasih atas infonya :)

  4. February 6th, 2016 at 06:50 | #4

    Pa rudi.. Dengan data yg fifty fifty tersebut membuat saya mulai ingin berpaling dr rd saham ke rd index/etf..
    Kalau boleh tahu rd index di indonesia bisa dibeli dimana ya pak?
    Kemarin saya mendapat info dr bapak bahwa rd index di panin sempat ada tapi kurang laku ya pak
    ;)

  5. Rudiyanto
    February 6th, 2016 at 21:59 | #5

    @Ire
    Selamat Sore Pak Ire,

    Untuk daftar reksa dana indeks dan ETF anda bisa cek ke http://www.infovesta.com
    Mau mengklarifikasi juga, di Panin AM sendiri sampai dengan komentar ini ditulis belum pernah menerbitkan reksa dana indeks.

    Demikian semoga bermanfaat.

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: