Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Reksa Dana Indeks dan ETF….(2)

Mengenal Reksa Dana Indeks dan ETF….(2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari sharing sebelumnya yang membahas tentang reksa dana indeks dan ETF. Jika pada tulisan sebelumnya, lebih banyak membahas tentang reksa dana indeks, maka pada tulisan ini saya akan sedikit lebih banyak membahas tentang ETF. Apa itu ETF? ETF kepanjangan dari Exchange Traded Fund adalah Reksa Dana yang diperdagangkan di bursa. Pada negara yang sudah maju dunia finansial dan investasinya, umumnya pamor ETF jauh mengalahkan reksa dana konvensional terutama reksa dana saham. Seperti apa reksa dana ETF tersebut?

Asal mula munculnya ETF dan reksa dana indeks adalah dipicu dari suatu studi historis yang menunjukkan kenyataan bahwa ternyata kebanyakan reksa dana saham yang dikelola oleh Manajer Investasi AS (pada waktu itu) ternyata memiliki kinerja di bawah pasar. Jika dianalogikan ke kondisi Indonesia, bisa dikatakan bahwa kinerja reksa dana saham di Indonesia kinerjanya lebih rendah dibandingkan IHSG.

Karena kenyataan bahwa kinerja reksa dana saham kebanyakan di bawah kinerja pasar, mengapa tidak membuat saja kinerja reksa dana yang sama dengan pasar? Sebab hampir semua reksa dana dikelola dengan pengelolaan aktif. Pengelolaan aktif akan menyebabkan Manajer Investasi mengenakan biaya Manajemen yang relatif lebih besar. Selain itu, pengelolaan aktif juga akan menyebabkan Portfolio Turnover yang tinggi sehingga biaya transaksi juga besar. Semua biaya-biaya tersebut akan berujung pada Expense Ratio yang tinggi.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka terbentuklah reksa dana indeks dan ETF yang memiliki ciri-ciri Portfolio Turnover rendah (istilah lain bahwa reksa dana dikelola secara pasif, hanya buy and hold saja) dan Expense Ratio yang rendah. Secara umum, ETF dan reksa dana indeks yang dijelaskan pada artikel sebelumnya hampir sama, hanya saja ada beberapa keunikan ETF yang tidak dimiliki oleh reksa dana indeks antara lain:

  1. ETF bisa diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia dan atau Manajer Investasi. Sementara Reksa Dana Indeks hanya bisa dibeli dan dijual melalui Manajer Investasi saja. Buat sebagian orang, hal ini merupakan keunggulan, namun bagi sebagian yang lain hal ini justru menjadi kelemahan. Pertimbangan faktor tersebut antara lain:
    • Pernahkah anda melihat bursa yang siangnya plus 1% – 2% sampai siang jam 12.00 dan kemudian menjadi kecil atau bahkan negatif pada sore harinya? Saya yakin kondisi ini sudah bolak-balik terjadi selama 3 bulan terakhir ini dan jika anda termasuk yang memutuskan profit taking reksa dana tentu pernah merasakan kekecewaan. Sudah berharap dapat profit 1-2% eh malah turun atau negatif. Dengan ETF, kecil kemungkinan kekecewaan (karena terjebak jual di harga siang) anda rasakan karena ETF bisa dijual siang harinya dengan kondisi ketika bursa +1% – 2% tersebut. Namun di sisi lain, jika siangnya Plus 1%-2% dan sorenya ternyata bisa sampai 3-4%, malah tambah bisa kecewa lagi. Untuk orang yang menyukai kepastian dan satu harga, pilihannya jatuh pada reksa dana indeks, sementara orang yang menyukai dinamika dan fleksibilitas, ETF bisa menjadi pertimbangan.
    • Karena bisa ditransaksikan di bursa, maka bursa ETF dituntut untuk cukup aktif dan likuid. Sebagai ilustrasi, ada kategori saham LQ-45 dan Kompas 100 yang sahamnya selalu ditransaksikan dengan cukup aktif setiap hari. Sehingga investor yang memiliki saham kategori tersebut tidak akan menemukan kesulitan yang cukup berarti ketika ingin menjual sahamnya. Sementara ada lagi golongan saham tidur, yang terkadang bisa tidak ada transaksi selama berbulan-bulan. Sehingga meskipun untung, tapi mau dijual tidak ada yang beli. Hal inilah yang menjadi salah satu kendala perkembangan ETF di Indonesia. Pasar sekunder untuk ETF di Indonesia termasuk kurang aktif, maka investor yang sudah memiliki ETF cukup kesulitan menjual ETF pada pasar sekunder di Bursa Efek Indonesia meskipun sudah ada dealer partisipan.
    • Kode untuk melihat harga ETF di bursa adalah R-LQ45X (ETF saham) dan R-ABFII (ETF Obligasi)
  2. Reksa Dana Konvensional dan Indeks hanya memiliki satu harga yang dihitung oleh Bank Kustodian. Sementara ETF memiliki 2 harga, yaitu harga yang dihitung oleh Bank Kustodian dan harga yang terbentuk dari transaksi pasar dimana harga tersebut bisa sedikit berbeda dengan harga yang dihitung oleh Bank Kustodian.
  3. Jika dalam reksa dana konvensional, pihak yang terlibat adalah Manajer Investasi dan Bank Kustodian, maka dalam ETF ada lagi satu pihak yang disebut dengan Dealer Partisipan. Fungsi dari dealer partisipan ini adalah mewujudkan likuiditas di pasar modal. Dalam bahasa yang lebih sederhana, mereka menjadi bandar, caranya mereka memasukkan bid dan offer untuk ETF dalam jumlah lot tertentu supaya investor bisa melakukan transaksi apabila tidak ada pembeli. Sepengetahuan saya untuk ETF LQ-45, terdapat 2 dealer partisipan yaitu PT. Indo Premier Sekuritas dan PT. Sinarmas Sekuritas. Sementara untuk ETF Obligasi hanya ada satu yaitu PT. Bahana Securities
  4. Jika pada reksa dana konvensional, pembelian unit penyertaan reksa dana dari Manajer Investasi dikenal dengan istilah Subscription, maka pada ETF disebut Unit Creation atau kreasi unit. Jika pada pembelian reksa dana, minimum pembelian cukup kecil, maka pada ETF cenderung lebih sulit karena Manajer Investasi wajib membentuk portofolio yang menyerupai indeks. Oleh karena itu, bagi investor yang ingin langsung membeli dari Manajer Investasi, minimum investasi yang dibutuhkan cukup besar. Sebagai contoh pada ETF LQ45, kreasi unit adalah minimum 1 juta unit, dengan indeks ETF sekitar 600 maka minimum pembelian adalah Rp 600 juta. Belakangan ini ada rencana untuk menurunkan kreasi unit menjadi 100.000 unit agar lebih bisa dijangkau pembeli perorangan. Sementara nominal untuk ETF obligasi bisa jauh lebih besar sebab untuk membeli 1 unit obligasi saja minimal diperlukan Rp 1 Milliar.
  5. Perbedaan terakhir adalah transparansi. Untuk hal ini, Reksa Dana Konvensional bisa dikatakan kalah jauh. Jika informasi seperti portofolio dan unit bisa diperoleh melalui fund fact sheet reksa dana yang diterbitkan 1-3 minggu setelah suatu bulan berakhir dan itupun hanya secara garis besar, isi portofolio ETF bisa diketahui secara jelas untuk seluruh instrumen investasi. Sebagai contoh bisa anda buka situs Bursa Efek Indonesia di ETF LQ-45 dan ETF-Obligasi.

Meski tidak membeli, tidak ada salahnya kita sedikit banyak mempelajari instrumen ini. Biasanya Indonesia mengikuti apa yang menjadi tren di dunia barat. Mulai dari tren HP (BlackBerry, Iphone, Samsung Galaxy), serial televisi (Master Chef, Indonesian Idol, dll), Franchaise (Seven Eleven, Circle K), dan banyak lagi tidak terlepas juga investasi. Jika ETF menjadi trend di sana, maka saya percaya suatu saat juga akan menjalar Indonesia, tinggal masalah cepat atau lambat. Hanya saja agar bisa demikian, pilihan dan regulasi ETF masih harus dikembangkan lagi. Pada artikel bagian 3 nanti, saya akan sedikit banyak membahas tentang pertimbangan untuk membeli ETF dibandingkan reksa dana konvensional.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

  1. Chrispinus
    December 19th, 2011 at 10:00 | #1

    Yth Bpk Rudiyanto, jika ingin membeli ETF Obligasi apakah bisa melalui bursa via sekuritas online atau harus ke penerbit nya langsung? Selama ini saya lebih sering membeli SUN/ORI di secondary market via Bank. Namun rasanya lelah juga harus trading seperti itu, lebih suka membeli indeks nya karena tidak perlu terlalu tegang. Kadang-kadang saya juga membeli RD Pendapatan Tetap, namun rasanya sering returnnya tidak mengikuti pergerakan indeks obligasi. Mungkin ada nyangkut di beberapa obligasi yang tidak likuid. Jadi saya pikir ETF Obligasi lebih bagus. Sayangnya kurang sosialisasi.

  2. December 19th, 2011 at 10:05 | #2

    @Chrispinus
    Salam Pak Chrispinus,

    Bapak bisa coba ketikkan R-ABFII di online trading yang bapak miliki. Kalau memang ada bid offernya, bisa bapak beli langsung kalau harganya pas. Tapi kalau bid dan offernya ga ada, atau kalau ada tapi nominalnya jauh di bawah nominal yang ingin anda beli, bisa coba hubungi Bahana TCW Investment Management langsung pak. Jika ada pembaca dari Bahana disini, dipersilakan juga menanggapi langsung pertanyaan bapak Chrispinus ini.

    Semoga bermanfaat pak.

  3. December 19th, 2011 at 10:32 | #3

    @Chrispinus
    Yth Pak Chrispinus,

    Barusan saya ke makindo-ct.com salah satu situs yang sering saya pakai untuk mengecek harga saham online, ketika R-ABFII saya ketikkan, bid dan offernya masih 0. Saya tidak tahu apakah memang 0 karena sekuritasnya bukan bahana atau memang belum ada bid dan offer yang masuk. Jadi ada baiknya bapak bisa menghubungi pihak Bahana TCW Investment Managementnya.

    Semoga bermanfaat pak.

  4. rukhama
    February 25th, 2012 at 13:29 | #4

    maaf Pak tanya,
    bagaimana cara jika mau membeli “1 lembar saja” suatu ETF?? apakah harus transaksi dari suatu perusahaan ataukah bisa langsung membeli di bank??
    terima kasih

  5. February 25th, 2012 at 23:22 | #5

    @rukhama
    Salam Rukhama,

    Mohon maaf juga, saya ingin bertanya kembali, untuk apa anda hanya ingin membeli 1 lembar saja?

  6. agung rusmana
    June 11th, 2013 at 11:46 | #6

    Selamat siang pak,

    Saya ingin bertanya apakah harus melalui broker jika ingin membeli ETF karena rata-rata broker mempunyai kebijakan ” jika tidak melakukan transasksi minimal dalam 3 bulan akun akan di tutup”? dengan kata lain ETF ini bukan investasi jangka panjang?

    Mohon Penjelasannya

    Terimakasih sebelumnya

  7. Rudiyanto
    June 11th, 2013 at 14:12 | #7

    @agung rusmana
    Yth Agung Rusmana,

    Memang model bisnis reksa dana dan sekuritas agak berbeda pak. Kalau reksa dana, Manajer Investasi akan untung kalau anda tempatkan dana selama2nya, sementara kalau di sekuritas, perusahaan baru akan untung kalau anda melakukan transaksi.

    Jadi kebijakan di atas, memang masuk akal. Namun ketika di campur jadi satu, dimana ETF itu diterbitkan oleh Manajer Investasi dan di transaksikan via broker, memang bisa jadi ada konsep yang baru. Karena kedua pihak butuh keuntungan.

    Yang dimaksud dengan transaksi itu bukan berarti jual dan beli. Tapi kalau anda beli dan beli terus selama 3 bulan berarti dianggap tetap aktif bukan?

    Kemudian, anda juga bisa membeli ETF dari Manajer Investasi, proses pembelian ini akan diterbitkan unit penyertaan ETF baru yang disebut Unit Creation. Hanya saja, setahu saya, untuk proses ini dibutuhkan minimum investasi yang cukup besar. Anda bisa tanyakan langsung ke perusahaan sekuritasnya langsung.

    Semoga bermanfaat

  8. James Handaja
    April 6th, 2015 at 16:25 | #8

    Selamat sore Pak Rudiyanto,

    Kalau saya boleh menyimpulkan, berarti untuk membeli ETF dapat dilakukan dengan 2 cara:

    1. Langsung melalui MI (pasar primer)
    2. Di pasar sekunder melalui sekuritas manapun, layaknya membeli saham (tidak harus dari Indo Premier Sekuritas atau Sinarmas Sekuritas).

    Mohon koreksinya jika saya salah. Terima kasih untuk responnya.

  9. Rudiyanto
    April 12th, 2015 at 23:59 | #9

    @James Handaja
    Selamat Malam Pak James,

    Kesimpulan anda benar.

    Selamat mencoba, terima kasih.

  10. ASEP
    June 25th, 2015 at 13:50 | #10

    Selamat siang Pak Rudi,

    Pak, apakah benar kalau reksada ETF itu kalau sudah beli tapi susah jualnya?
    Alias perdagangannya sepi.

    asep

  11. Rudiyanto
    July 5th, 2015 at 23:15 | #11

    @ASEP
    Selamat malam Pak Asep,

    Untuk membuktikannya anda bisa mencoba langsung. Caranya anda buka rekening di perusahaan sekuritas dan coba transaksikan. Saya belum pernah melakukannya sehingga tidak tahu.

    Sepengetahuan saya ada yang disebut dengan Dealer Partisipan dalam ETF yang bertugas sebagai pembeli / penjual siaga. Hanya saja saya tidak tahu pada harga berapa dia akan siaga. Tapi dengan adanya dealer partisipan, kemudahan transaksi bisa terjaga.

    Untuk detailnya anda juga bertanya langsung ke perusahaan manajer investasi yang menawarkan produk ETF tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  12. February 5th, 2016 at 23:20 | #12

    @Rudiyanto
    Hahaha,nice question pak rudi

  13. Leila
    March 6th, 2016 at 10:43 | #13

    Selamat siang pak Rudyanto,

    Kalo saya mau membeli ETF langsung tanpa melalui broker apakah bisa? Kalo bisa , kemana saya harus menghubungi?

    Terimakasih

    • Rudiyanto
      March 6th, 2016 at 14:31 | #14

      Selamat Siang Ibu Leila,
      Boleh tahu ETF apa yg ingin anda beli dan kira2 berapa ratus juta atau miliar nominal yg rencananya akan anda investasikan?

  14. Leila
    March 6th, 2016 at 18:36 | #15

    @Rudiyanto
    Terima kasih atas responsnya Pak Rudyanto,
    Rencana mau investasi idr 300jt utk ETF indeks saham gabungan.
    Mohon sarannya.

    • Rudiyanto
      March 6th, 2016 at 21:17 | #16

      Selamat malam Ibu Leila,

      Saat ini tidak tersedia ETF untuk IHSG, yg saya tahu adalah indeks yg lebih kecil seperti LQ-45.

      Utk ETF saham, untuk bisa membeli langsung ke MI syarat pembeliannya sudah terus dipermudah. Setahu saya minimum pembelian adalah 100.000 unit. Artinya jika LQ-45 nilainya 800, maka sekali pembelian adalah Rp 80 juta mininal. Ada juga indeks acuan ETF lain tapi biasanya angkanya berkisar di ratusan. Berbeda dgn IHSG yg seandainya ada, berarti minimum sekali beli ke MI adalah hampir setengah miliar. Dengan kata lain, seharusnya Rp 300 juta anda akan cukup.

      Saat ini hanya Indo Premier Investment Management yg merupakan market leader dan satu-satunya penerbit ETF saham. Kalau reksa dana indeks saham ada lagi beberapa MI yg lain. Utk lebih detailnya, bisa menghubungi ke MI langsung.

      Semoga berhasil

  15. Erwin
    August 16th, 2016 at 22:34 | #17

    Dear pak Rudiyanto,
    Ada yang mau saya tanyakan jika berkenan ” maka dalam ETF ada lagi satu pihak yang disebut dengan Dealer Partisipan. Fungsi dari dealer partisipan ini adalah mewujudkan likuiditas di pasar modal. Dalam bahasa yang lebih sederhana, mereka menjadi bandar, caranya mereka memasukkan bid dan offer untuk ETF dalam jumlah lot tertentu supaya investor bisa melakukan transaksi apabila tidak ada pembeli.”
    Secara prakteknya seperti apa ya pak? berapa lot dealer siaga ini akan selalu ada di kolom bid/offer book order nya? lalu bagaimana dengan penentuan harga nya?
    Terimakasih atas jawabannya

  16. Rudiyanto
    August 18th, 2016 at 17:48 | #18

    @Erwin
    Salam Pak Erwin,

    Untuk mengetahui hal tersebut, anda harus punya rekening di perusahaan sekuritas. Kemudian masukkan kode ETF dan lihat bid offer untuk ETF tsb. Ketika di ETF tidak ada transaksi, pasti akan ada bid dan offer pada harga tertentu. Bid dan offer inilah yang diinput oleh dealer partisipan. Yang menentukan harganya ya mereka sendiri.

    Semoga bermanfaat

  17. Henry
    September 17th, 2016 at 07:54 | #19

    Selamat pagi pak Rudy, untuk ETF yang kita beli dari MI, apakah bisa di jual lewat sekuritas?

  18. Rudiyanto
    September 17th, 2016 at 14:43 | #20

    @Henry
    Selamat Siang Pak Henry,

    Secara peraturan seharusnya boleh, tapi kalau secara teknis boleh ditanyakan kepada MI tempat anda membeli ETF tersebut.

    Semoga bermanfaat

  1. January 5th, 2012 at 15:54 | #1

 


%d bloggers like this: