Home > Perencanaan Investasi, Strategi Investasi > Strategi Investasi : Dynamic Averaging and Cost Rebalancing

Strategi Investasi : Dynamic Averaging and Cost Rebalancing

Mungkin anda sudah sering mendengar, membaca atau bahkan mengaplikasikan strategi investasi seperti DCA (Dollar Cost Averaging), dimana secara disiplin dana di rekening tabungan di potong sekian Rupiah per bulan untuk diinvestasikan di reksa dana. Ada lagi Rebalancing, dimana investor menyusun portofolio dengan komposisi tertentu. Misalnya 50% RD Saham dan 50% RD Pendapatan Tetap. Ketika komposisi tersebut menjadi 60% : 40%, maka investor akan menjual 10% RD saham untuk dimasukkan lagi ke RD Pendapatan Tetap supaya portofolio investasi yang dimiliki tetap pada komposisi yang ditentukan di awal.

Keunggulan dan kelemahan dari cara di atas paling bisa anda rasakan sendiri ketika anda benar2 mengaplikasikannya. Pembahasan mengenai strategi di atas juga sudah pernah dibahas dalam kumpulan artikel sebelumnya seperti di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/category/perencanaan-investasi/ atau secara spesifik bisa di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/02/01/rencana-ibu-dessy/

Nah, dalam kesempatan kali ini saya ingin memperkenalkan strategi investasi yang merupakan sedikit modifikasi dari kedua cara yang telah dilakukan di atas. Tujuan modifikasi di atas adalah untuk membantu mencapai tujuan investasi yang dicanangkan sejak awal dalam kondisi pasar yang baik maupun yang kurang baik seperti sekarang ini. Seperti apa kedua strategi tersebut?

Strategi investasi ini hanya cocok dijalankan oleh orang yang memiliki tujuan investasi dengan jangka waktu “relatif” panjang. Minimal 5 tahun,  sedang dalam masa produktif, memiliki penghasilan namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang dan besar seperti pensiun, pengumpulan dana untuk DP Rumah atau Mobil.. Strategi ini mungkin kurang cocok bagi anda yang memiliki jangka waktu investasi relatif pendek dan lebih banyak berharap bisa masuk pada saat harga murah dan keluar pada harga tinggi.

Kata Dynamic atau Dinamis dalam bahasa Indonesia menunjukkan bahwa pelaksanaan strategi investasi, baik itu Cost Averaging ataupun Rebalancing sebaiknya fleksibel dan disesuaikan dengan situasi. Namun situasi yang saya maksud disini bukanlah market timing. Sebab saya rasa tidak ada seorangpun yang secara konsisten bisa menebak kapan saat yang tepat untuk keluar atau masuk. Jadi dinamis yang saya maksud disini adalah bagaimana strategi averaging dan rebalancing tersebut disesuaikan dengan tujuan yang ingin kita capai, terutama ketika menghadapi gejolak harga.

Untuk menjelaskan strategi di atas, maka digunakan contoh dengan ilustrasi sebagai berikut

Seorang eksekutif muda memiliki profil:

  • Usia saat ini 30 usia pensiun 55 dan memiliki ekspektasi harapan hidup hingga usia 80
  • Persiapan pensiun dengan gaya hidup setara Rp 10 juta / bulan
  • Tipe investor agresif sehingga cocok untuk reksa dana saham
  • Berdasarkan perhitungan pensiun, dibutuhkan kira-kira 27 Milliar agar bisa pensiun dengan gaya hidup yang dibutuhkan
  • Dengan asumsi return 16% per tahun, dibutuhkan cicilan sebesar Rp 7 juta per bulan.

Tentu jika anda membaca kumpulan artikel pada perencanaan investasi, yang namanya tujuan jangka panjang tentu bisa dibagi menjadi tujuan jangka pendek dan menengah. Kita hanya bisa mencapai tujuan jangka panjang apabila secara bertahap kita bisa mencapai tujuan jangka pendek dan jangka menengah. Tujuan jangka panjang untuk pensiun di atas kemudian bisa di breakdown lagi menjadi tujuan jangka menengah sebagai berikut:

Artinya investor dikatakan masih on track, apabila memiliki uang sejumlah Rp 82 juta pada akhir 2011, Rp 186 juta pada akhir 2012 dan Rp 308 juta pada akhir 2013. Target jangka menengah tersebut kemudian dapat dibreak down lagi menjadi target bulanan jangka pendek. Nah, untuk rencana tersebut, katakanlah si investor melakukan investasi pada salah satu reksa dana jagoan dengan nilai yang tepat seperti perencanaan dari awal tahun 2011.

Seperti yang kita ketahui, pergerakan IHSG dari awal tahun bak roller coaster. Hingga semester I, IHSG 5000 rasanya bisa dicapai tahun ini, memasuki semester II, saking khawatirnya ada investor yang percaya IHSG bisa di bawah 3000. Memang sampai sekarang masih belum tahu siapa yang benar dan siapa tidak. Namun, bagi investor yang melakukan investasi dari awal tahun tentu sangat terasa fluktuasinya. Sebagai contoh, hasil investasi dengan cicilan bulanan sebesar Rp 7 juta yang dilakukan dari awal tahun hingga Oktober 2011 pada salah satu reksa dana jagoan yang  sesuai perencanaan pensiun dan dibandingkan dengan target jangka pendek adalah sebagai berikut:

Dari grafik dan angka tabel di atas, hingga September 2011, investor sebetulnya masih sesuai dengan tujuan investasi karena dari target yang harus dicapai yaitu Rp 58 juta, investor telah memiliki nilai hingga Rp 64 juta atau hampir Rp 6 juta di atas target. Namun ketika pasar jatuh, dari surplus sekitar Rp 6 juta menjadi negatif hampir Rp 4 juta. Jika melihat fluktuasi dari bulan September ke Oktober, bahkan setelah cicilan Rp 7 juta sekalipun, ternyata totalnya turun dari Rp 64 juta ke Rp 62 juta. Bisa dirasakan besarnya fluktuasi bursa yang terjadi.

Selisih antara Target dan Aktual inilah yang menjadi acuan kapan strategi Dynamic Cost Averaging dan Dynamic Rebalancing ini dilakukan.

  • Dynamic Averaging dilakukan dengan cara Menambah atau Mengurangi nilai Cicilan apabila terdapat selisih antara Target dengan Aktual. Misalnya ketika selisih negatif pada bulan September. Maka nilai cicilan yang semula Rp 7 juta, setelah melalui perhitungan program Myplan, perlu ditingkatkan menjadi Rp 7,85 juta per bulan. Sebab ketika nilai aktual investasi di bawah target, maka bisa berarti kinerja reksa dana yang kita miliki dibawah ekspektasi atau bisa saja memang kondisi pasarnya sedang kurang baik. Dalam kondisi ini investor memiliki 2 pilihan, mengganti reksa dana dengan instrumen investasi yang lebih baik atau berusaha lebih keras dengan menambah nilai investasi bulanannya. Sebaliknya ketika kondisi sedang bagus, dimana nilai aktual lebih besar dibandingkan nilai target, maka ada baiknya kita bisa sedikit menikmati hidup. Dengan Dynamic Averaging caranya adalah mengurangi nilai cicilan, nilai sisanya bisa di foya-foyakan atau bisa disimpan di rekening tabungan dan baru digunakan untuk menambah nilai cicilan ketika harga sedang turun.
  • Dynamic Rebalancing dilakukan dengan cara Memastikan agar Nilai Investasi Aktual = Target. Caranya adalah ketika investasi sudah dilakukan, dalam perjalanannya terdapat selisih negatif (misalnya) pada bulan Oktober sebesar Rp 4 juta, maka agar nilai aktual = target pada bulan November, maka investor harus melakukan investasi sebesar Rp 12 juta (Rp 74 juta target November dikurangi Rp 62 juta nilai Aktual pada akhir Oktober). Cara ini sedikit lebih ekstrim, karena ketika kondisi pasar sedang kurang bagus, investor bisa menombok dalam jumlah besar yang bahkan diluar kemampuannya. Namun pada saat kondisi pasar sedang bagus, surplus tersebut dapat ditarik atau investor bisa menunda melakukan investasi. Uang yang tidak terpakai bisa disimpan dalam rekening tabungan dan baru digunakan lagi ketika nilai Aktual di bawah target.

Strategi investasi di atas hanya cocok digunakan apabila anda adalah investor yang memiliki tujuan investasi yang jelas dan benar-benar berniat mencapai tujuan keuangan yang anda canangkan bersama keluarga anda. Tanpa tujuan dan niat tersebut, maka sebagus apapun program perencanaan keuangan dan reksa dana yang anda investasikan, niscaya tidak akan berhasil. Jadi bagi investor yang berinvestasi dengan niat setengah-setengah dan tidak memiliki tujuan yang jelas, hanya ikut-ikutan, strategi ini dipastikan akan kurang cocok.

Strategi di atas juga mungkin tidak cocok bagi investor yang masuk kategori High Net Worth Individual (HNWI) atau investor korporasi yang ingin mengembangkan dana agar bisa memperoleh hasil di atas tingkat bunga deposito. Sebab buat investor dalam kategori ini, pilihan investasi bisa sangat luas selain reksa dana mulai dari Reksa Dana, Saham, Obligasi atau MTN yang bisa menawarkan tingkat imbal hasil yang tinggi. Untuk kategori saham dan reksa dana, timing dan valuasi pembelian menjadi juga menjadi salah satu pertimbangan penting.

Demikian sharing saya kali ini, semoga bisa menambah wawasan anda tentang pilihan strategi investasi diluar cara-cara yang pernah anda ketahui selama ini.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/01/04/429/
  1. Mira
    December 2nd, 2011 at 14:31 | #1

    Dear Pak Rudy,

    Perhitungan diatas rumusnya bagaimana ya Pak,
    Terima – kasih.

  2. December 4th, 2011 at 00:59 | #2

    @Mira
    Salam Mira,

    Untuk perhitungan target menggunakan kombinasi future value dan present value. Sementara untuk selisih menggunakan pengurangan biasa.

  3. teguh Permana
    December 15th, 2011 at 15:13 | #3

    inspiratif.. strategi saya mirip2 seperti ini. namun tidak pernah di hitung targetnya. kalo ihsg lagi naik sisa gaji bulanan saya taruh di reksadana pasar uang MNC DLancar. kalo lagi turun saya taruh di Reksa saham Panin DMaksima, Schroders DIstimewa, Paribas ekuitas, namun tidak terpikir menggunakan target bulanan…. kebingungan saya adalah seberapa banyak saya harus beli reksadana sahamnya untuk mencapai titik optimal…. saya coba hitung nanti di rumah. terima kasih pak

  4. December 19th, 2011 at 02:25 | #4

    @teguh Permana
    Salam Pak Teguh,

    Semoga sukses dengan percobaannya. Jika anda mengalami kesulitan bisa mencoba menghubungi financial planner atau menggunakan jasa myplan.infovesta.com. Salam.

  5. Trinof
    December 27th, 2011 at 15:49 | #5

    Dear Pak Rudy

    Mohon info, saya masih baru investasi reksadana, sudah beli reksadana Paribas star, waktu saya lihat di infovesta perkembangan 1 bulannya 0.86% tapi di web Paribas kinerja reksadana tersebut 1 bulan -7.16%. kenapa bisa begitu pak, mohon infonya.

    Terimakasih
    Trinof

  6. December 27th, 2011 at 16:09 | #6

    @Trinof
    Salam Pak Trinof,

    Terima kasih atas pemberitahuan bapak kepada kami. Mata anda jeli sekali dalam membaca angka2 tersebut. Berdasarkan informasi yang dimiliki infovesta,NAB/Up untuk tanggal:
    23 November 2011 = 1054,77
    23 Desember 2011 = 1105,71

    Jika dihitung dari 1054,77 ke 1105,71 adalah kenaikan sekitar 4,83%. angka 0,86% yang bapak lihat adalah return 1 minggu bukan 1 bulan.

    Informasi yang bapak baca juga tidak salah, namun mungkin kurang update, karena kalau bapak baca sampai bawah, tulisannya adalah data per September.

    Demikian pak, atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

  7. Trinof
    December 27th, 2011 at 17:00 | #7

    Makasih pak atas informasinya, wah ternyata bapak lebih jeli dari saya, dan ternyata juga infovesta datanya lebih update dari Paribas.

    Trinof

  8. adi yanto
    January 3rd, 2012 at 23:36 | #8

    pak rudi saya mo nanya ni…saya mo ikutan reksadana commbank ni reksadananya schroder dana mantap plus 2 n schroder dana terpadu 2…kira2 return masing2 rd ni berapa ya n berapa yang saya harus invest per bulan supaya saya punya dana 60jt di masing2 reksadana tersebut 3 tahun lagi…thanx buat jawaban n sarannya ya pak…

  9. January 5th, 2012 at 08:39 | #9

    @adi yanto
    Salam Pak Adi Yanto,

    Untuk return historis bisa anda lihat di tabel http://www.infovesta.com/isd/

    Untuk jumlah investasi, sebetulnya bisa dilakukan dengan 2 cara. Cara pertama, anda investasi masing-masing reksa dana sebesar 20 juta per tahun atau sekitar 1,7 juta per bulan. Secara teori, kalau anda tidak mendapatkan keuntungan maka baru terkumpul 60 juta per masing-masing reksa dana setelah 3 tahun. Tapi karena ada potensi reksa dana yang anda investasikan mendapatkan gain, maka kemungkinan uang tersebut bisa terkumpul kurang dari 3 tahun, siapa tahun baru 2 tahun lewat beberapa bulan sudah terkumpul.

    Cara kedua adalah menghitung besarnya cicilan dengan metode present value 60 juta tersebut. Untuk ini anda bisa menggunakan berbagai kalkulator yang tersedia secara online. Atau jika ingin melakukan perencanaan yang komprehensif, anda bisa menggunakan jasa perencanaan keuangan profesional atau menggunakan fitur myplan yang ada di infovesta.com.

    Semoga bermanfaat.

  10. Mira
    January 15th, 2012 at 17:53 | #10

    Dear Pak Rudy,

    Pak, saya boleh minta link kalkulator untuk mengitung present dan future value ?

  11. January 15th, 2012 at 22:51 | #11

    @Mira
    Ibu bisa coba cari menggunakan google dan yahoo..
    Selamat mencoba..

  12. Mira
    January 17th, 2012 at 11:44 | #12

    Pak Rudy,
    Apakah Present Value itu sama dengan jumlah unit x NAB ?

  13. January 17th, 2012 at 13:05 | #13

    @Mira
    Oh bukan. Present value itu nilai sekarang. Sementara Unit x NAB itu nilai investasi aktual. Present value itu lebih terkait seperti, kalau anda pingin punya 1 M di 5 tahun yang akan datang, dengan asumsi pertumbuhan 15% per tahun, berapa jumlah yang anda harus investasikan sekaligus di muka atau setiap bulannya.

  14. Mira
    January 17th, 2012 at 17:24 | #14

    Pak Rudy,

    Investasi diatas adalah setiap bulan 7jt, angka target di bulan Feb sbsr 6.965.731 itu darimana ?
    Dynamic rebalancing ini apakah sama dengan Value Avareging ?

  15. Vina
    January 17th, 2012 at 18:00 | #15

    Pak saya juga tertarik untuk melakukan investasi dengan perhitungan dynamic rebalancing, namun apabila ada selisih dengan nilai minus maka jumlah investasi saya berikutnya akan menjadi bertambah tp di tabel yang Bapak munculkan kok tidak terlihat jumlah nilai investasi yang bertambah,melainkan masih tetap sama dengan nilai awal investasi.
    Saya mohon penjelasannya.
    Terima Kasih

  16. January 17th, 2012 at 19:38 | #16

    @Mira
    Salam Ibu Mira,
    Angka 7 juta saya pakai karena saya bulatkan. Angka sebenarnya yang sebesar 6,9 juta itu merupakan hasil perhitungan, dimana dengan investasi tersebut dan asumsi return 16%, maka orang yang bersangkutan bisa pensiun dengan gaya hidup setara 10 juta sekarang dari usia 55 – 80. Perhitungannya menggunakan program karena menggunakan kombinasi dari beberapa metode future dan present value sekaligus.

    Terkait dengan value averaging, setelah saya baca di http://en.wikipedia.org/wiki/Value_averaging, sepertinya memang mirip2. Orientasinya adalah bagaimana mencapai tujuan. Jadi sebetulnya mau namanya value averaging atau dynamic averaging atau rebalancing atau nama2 lainnya, perlu kita ingat bahwa tujuan utama dari berinvestasi adalah mencapai Tujuan. Jadi daripada memikirkan apakah itu sama atau berbeda, lebih baik fokus kita pada membuat tujuan dan disiplin untuk mencapainya.

    Semoga sukses dengan investasinya

  17. January 17th, 2012 at 19:49 | #17

    @Vina
    Salam Vina,

    Tabel di atas mengasumsikan investor melakukan investasi secara berkala dari Februari ke Oktober. Tabel target menunjukkan nilai yang harus dia dapatkan, aktual merupakan hasil dari realisasi investasi. Selisih diperoleh dari realisasi dikurangi dengan target.

    Ceritanya setelah melakukan cost averaging selama 9 bulan, dilakukan perubahan cara dimana besarnya cicilan yang tadinya tetap menjadi berubah sesuai dengan pencapaian tujuan. Jadi selama bulan februari sampai oktober memang nilai investasi per bulannya selalu sama yaitu sebesar 7 juta. Karena nilai cicilan yang tetap itulah, selalu ada selisih antara target dan aktual.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda dan semoga sukses dengan investasinya.

  18. Vina
    January 18th, 2012 at 12:00 | #18

    Pak untuk mendapatkan nilai actual tersebut diatas kan diperoleh dari harga NAB dikali dengan unit. Misal selisih diatas sebesar 3,915,935 harus kita masukkan lagi,kan saya belum bisa mengetahui NAB hari itu juga,lalu bagaimana menghitungnya agar bisa tepat sebesar 3,915,935 padahal kan dibutuhkan ketepatan agar bisa mencapai target
    Mohon petunjuknya
    Makasih

  19. January 18th, 2012 at 16:29 | #19

    @Vina
    Salam Vina,

    Menurut saya manajemen investasi itu adalah seni. Seni bagaimana mencapai tujuan dengan sumber daya yang terbatas. Dan karena itu seni, sebetulnya perhitungan tidak perlu ketepatan yang amat tinggi. Kalau misalnya selisihnya 3,9 juta, dan kebetulan anda punya uang lebih masukkan aja sekalian 4 juta. Bulan depan kan selisih (harusnya) menjadi lebih kecil.

    Selisih 3,9 juta itu dilihat dari hasil investasi aktual pada akhir bulan tertentu, jadi kalau sudah dilihat pada tanggal yang berbeda bisa saja berbeda lagi, misalnya jadi 3,8 atau malah jadi 4 juta.

    Dan bila pertanyaan anda adalah tidak tahu NAB/up hari ini karena baru diketahui besok, maka pakai aja NAB/Up terbaru yang anda punya. Bisa lihat di koran atau website.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  20. adi yanto
    January 25th, 2012 at 23:38 | #20

    pak rudi thanx buat jawabannya tempo hari…
    pak saya mo nanya lagi nih…bila saya ikut reksadana saham dan rdpt di satu MI yang sama dan menyediakan fasilitas switching dengan switching fee …% apakah saya masih dibebankan biaya fee in juga pak?
    misal switching dari rds ke rdpt = fee in + switching fee?
    ataukah hanya switching fee saja pak
    terima kasih sebelumnya atas jawaban yang bapak sampaikan

  21. February 8th, 2012 at 12:04 | #21

    @adi yanto
    Salam Pak Adi Yanto,

    Kalau tidak salah, sepertinya anda hanya dikenakan Switching Fee saja.

  22. anik
    September 19th, 2012 at 15:40 | #22

    saya ingin menanyakan tentang bagai mana cara berinvestasi di mnc tv
    tolomg hubungi saya dinomor 08988584854
    hubungi segera yah

  23. anik
    September 19th, 2012 at 15:46 | #23

    anik :
    saya ingin menanyakan tentang bagai mana cara berinvestasi di mnc tv
    tolomg hubungi saya dinomor 08988584854
    hubungi segera yah

    Rudiyanto :
    @adi yanto
    Salam Pak Adi Yanto,
    Kalau tidak salah, sepertinya anda hanya dikenakan Switching Fee saja.

    Vina :
    Pak untuk mendapatkan nilai actual tersebut diatas kan diperoleh dari harga NAB dikali dengan unit. Misal selisih diatas sebesar 3,915,935 harus kita masukkan lagi,kan saya belum bisa mengetahui NAB hari itu juga,lalu bagaimana menghitungnya agar bisa tepat sebesar 3,915,935 padahal kan dibutuhkan ketepatan agar bisa mencapai target
    Mohon petunjuknya
    Makasih

    anik :
    saya ingin menanyakan tentang bagai mana cara berinvestasi di mnc tv
    tolomg hubungi saya dinomor 08988584854
    hubungi segera yah

    untuk pak rudy
    saya tunggu jawabannya via telefon ataupun email sya

  24. Rudiyanto
    September 20th, 2012 at 08:05 | #24

    @anik
    Salam Anik,

    Apakah yang anda maksud itu MNC asset management? Bukankah anda bisa mencari di google atau melihat nomor telepon saat ada iklannya ditayangkan di TV?

    Kebetulan ada teman saya yang bekerja disana anda bisa menghubungi email adine@mncassetmanagement.com

    Semoga bermanfaat.

    Semoga

  25. april
    March 1st, 2013 at 13:42 | #25

    Pak Rudi, saya bingung menentukan nilai targetnya pak.
    misalnya saya harus setor 1.000.000 setiap bulan direksadana yang returnnya 24%.
    jika di bulan pertama nilai target saya 1000.000, maka di bulan ke dua target saya (2.000.000+(2%x2jt) = 2.040.000
    begitu ya pak ya? *maaf, tidak terlalu pintar menghitung* :D

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: