Home > Obligasi, Pendapat Tentang Makro Ekonomi > Mengenal Rating Obligasi

Mengenal Rating Obligasi

Dalam kesempatan kali ini, topik yang ingin saya sharing adalah tentang rating. Dalam investasi, rating merupakan salah satu hal yang sangat penting karena menentukan suatu perusahaan / negara bisa mendapatkan pendanaan dari penerbitan obligasi atau tidak dan berapa besar kupon atau imbal hasil yang harus dibayarkan supaya mau diterima oleh investor. Dalam investasi, baik saham, reksa dana ataupun obligasi, perubahan rating terutama rating suatu negara bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi arah investasi. Untuk itu, sedikit banyak investor perlu mengetahuinya.

Apa itu Rating?

Rating adalah suatu penilaian yang TERSTANDARISASI terhadap kemampuan suatu negara atau perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya. Karena terstandarisasi artinya rating suatu perusahaan atau negara dapat dibandingkan dengan perusahaan atau negara yang lain sehingga dapat dibedakan siapa yang mempunyai kemampuan lebih baik, siapa yang kurang. Rating dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat, dan biasanya untuk menjadi perusahaan pemeringkat harus mendapat izin resmi dari pemerintah. Di Indonesia, perusahaan yang mendapat izin serta menjadi market leader dalam pemberian ratingĀ  adalah PT. PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia). Selain itu, belakangan ini juga terdapat perusahaan baru yang memiliki bidang usaha serupa yaitu Fitch Rating Indonesia dan ICRA (Indonesia Credit Rating Agency). InformasiĀ  perusahaan pemeringkat tersebut bisa anda baca di icraindonesia.com dan new.pefindo.com.

Umumnya perusahaan yang mendapat izin dari pemerintah Indonesia hanya memeringkat perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Sementara rating terhadap kemampuan membayar hutang suatu negara dilakukan oleh perusahaan pemeringkat yang mendapat pengakuan internasional. Dahulu perusahaan pemeringkat ini didominasi oleh 3 pemain besar seperti Standard & Poor, Moody’s Investor Service dan Fitch Rating. Namun belakangan ini juga semakin bermunculan perusahaan pemeringkat yang ratingnya juga diakui selain 3 pemain di atas. Sebagai contoh, jika anda melihat di website bank Indonesia, selain ketiga perusahaan di atas juga terdapat 2 perusahaan pemeringkat lain yaitu JCRA (Japan Credit Rating Agency) dan Rating & Information Service Inc.

Suatu rating terdiri dari 2 bagian Rating dan Outlook. Rating adalah kemampuan membayar hutang sedangkan Outlook adalah pandangan dari perusahaan pemeringkat apakah Rating akan naik, turun atau tetap pada periode penilaian berikutnya. Rating sendiri terdiri dari 2 yaitu 3 huruf yang disertai dengan tanda atau angka tergantung perusahaan pemeringkat. Sebagai contoh urutan dari yang paling tinggi hingga paling rendah secara umum adalah sebagai berikut

  • Investment Grade
    • AAA atau Aaa
    • AA+, AA dan AA- atau Aa1, Aa2 dan Aa3
    • A+, A, dan A- atau A1, A2 dan A3
    • BBB+, BBB dan BBB- atau Baa1, Baa2 dan Baa3
  • Non Investment Grade (junk Bond) dengan rating di bawah BBB atau Baa
    • BB+, BB dan BB- atau Ba1, Ba2, dan Ba3
    • B+, B dan B- atau B1, B2 dan B3
    • CCC+, CCC dan CCC- atau Caa1, Caa2, dan Caa3
    • CC+, CC dan CC- atau Ca11, Ca2 dan Ca3
    • C+, C dan C- atau C1, C2 dan C3
    • Default

Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi hutangnya. Sehingga bagi investor yang mencari investasi yang aman, umumnya mereka memilih rating Investment Grade. Praktek pada perusahaan lebih detail lagi. Sepengetahuan penulis, ada perusahaan yang menerapkan screening yang lebih mendalam seperti harus BUMN atau kalaupun investment Grade minimal A. Rating BBB dianggap masih belum aman.

Non Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang meragukan dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang masuk kategori ini biasanya cenderung sulit memperoleh pendanaan. Supaya bisa berhasil umumnya mereka memberikan kupon atau imbal hasil yang tinggi sehingga disebut juga dengan High Yield Bond. Investor yang memilih jenis obligasi ini biasanya cenderung memiliki sifat spekulatif. Sebab jika ternyata perusahaan berkomitmen melunasi seluruh kewajibannya, imbal hasil yang diterima bisa sangat tinggi.

Pada prinsipnya, semakin rendah rating, berarti semakin tinggi risiko gagal bayar dan berarti semakin besar pula imbal hasil (return) yang diharapkan oleh investor. Jadi ini menjadi alasan mengapa bunga deposito yang berbasis dollar seperti mata uang Singapura (AAA) bisa jauh lebih rendah dibandingkan bunga deposito Indonesia (BB) dan orang tetap mau menempatkan dana pada deposito tersebut.

Sebagai contoh rating Indonesia yang diringkas oleh Bank Indonesia adalah sebagai berikut

sumber: Bank Indonesia

Kesalahan umum dalam membaca rating

Dalam membaca rating umumnya salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan tanda + dengan Outlook. Sebetulnya tanda Plus, Minus atau 1,2, 3 dalam rating merupakan tingkatan. AA+ atau Aa1 lebih besar dari AA atau Aa2 dan AA atau Aa2 lebih besar dari AA- atau Aa3. Jadi ketika membaca BB+ orang berpikir ratingnya BB dengan peluang dinaikkan. Padahal dinaikkan atau tidak tergantung pada Outlook. Jika Outlooknya Positif artinya berpeluang dinaikkan pada periode rating mendatang, Stabil artinya akan tetap dan Negative artinya berpeluang diturunkan pada periode rating berikutnya. Perlu diingat Outlook bukan vonis, meskipun positif bisa saja rating tetap atau turun di masa mendatang karena kondisi bisa berubah dengan cepat.

Rating dan Implikasinya Terhadap Investasi

Rating dalam hal ini Rating terhadap Negara Indonesia memiliki implikasi yang signifikan terhadap investasi di Indonesia. Saat ini rating Indonesia berada pada BB+ atau 1 tingkat lagi supaya bisa mencapai BBB-. Jika Indonesia berhasilkan mendapatkan kenaikan rating tersebut pada tahun 2012 nanti, maka perkiraan saya akan ada beberapa dampak positif yang bisa dirasakan seperti:

  • Investor luar akan mengganggap negara Indonesia menjadi negara yang layak investasi (Investment Grade) dibandingkan negara yang hanya menjadi tujuan spekulasi saja
  • Dengan masuknya investasi, maka dana yang masuk tidak melulu hanya dana hot money yang bisa keluar setiap saat akan tetapi bisa jadi merupakan dana investasi yang sifatnya lebih jangka panjang.
  • Masuknya dana asing diharapkan dapat mendongkrak harga saham dan obligasi sehingga pada akhirnya juga meningkatkan tingkat pengembalian instrumen reksa dana.

Demikian artikel saya kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi anda.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

  1. March 26th, 2017 at 18:03 | #1

    Kalau saya harus menghitung dg menggunakan harga historis saham, Data yang harus saya cari berarti harga saham harian, atau tahunan pak? Atau harga saham sebelum dan sesudah peristiwa penerbitan?
    Soalnya skripsi saya tentang pengaruh nilai dan rating obligasi pada cumulative abnormal return saham pak.
    Saya kebingungan dalam menghitung cumulative abnormal return sahamnya itu pak. Jenis penelitian saya itu event study. Mohon dijelaskan pak rudy

  2. Rudiyanto
    March 29th, 2017 at 00:23 | #2

    @Rhany
    Bisa coba baca ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/10/19/potensi-rating-upgrade-apakah-positif-untuk-investasi-reksa-dana/

    Paling baik, karena ini skripsi, silakan berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

    Semoga bermanfaat

  3. Nuriya
    April 1st, 2017 at 19:28 | #3

    Selamat malam pak,
    Saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi ttg probability default menggunakan merton model pada sukuk pak,, kira2 apakah data bisa didapat di sini atau di IBPA ya pak?Karena saya kesulitan untuk mendapatkan data penelitiannya pak..
    Terima kasih

  4. Rudiyanto
    April 2nd, 2017 at 21:11 | #4

    @Nuriya
    Selamat malam Ibu Nuriya,

    Blog ini bukan pusat data, kalau mau mencari data silakan langsung ke website perusahaan atau website lembaga pemeringkat.

    Terima kasih

  5. Fatma
    May 24th, 2017 at 14:10 | #5

    maaf pak mau tanya cara melihat umur obligasi itu dimana ya ?

  6. Rudiyanto
    May 30th, 2017 at 01:05 | #6

    @Fatma
    Salam Fatma,

    Bisa dengan melihat tanggal jatuh temponya.

    Terima kasih

  7. anita febriani
    May 30th, 2017 at 10:57 | #7

    salam pak, saya ingin bertanya mengenai proses pemeringkatan obligasi pada sektor perbankan. apakah proses tersebut terjadi secara umum atau berbeda? mengingat bahwa sektor perbankan juga diawasi oleh BI dan OJK dan memiliki peraturan sendiri. terimakasih.

  8. Rudiyanto
    June 4th, 2017 at 14:31 | #8

    @anita febriani
    Salam Ibu Anita,

    Kalau format laporan keuangan pada sektor perbankan sudah jelas berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Untuk itu, beberapa rasio keuangan yang berlaku di sektor umum mungkin tidak begitu berlaku untuk perbankan.

    Untuk proses pemeringkatannya mesti tanya ke perusahaan pemeringkat obligasi yaitu PEFINDO. Semoga bermanfaat

Comment pages
1 2 3 4 1060
  1. February 4th, 2012 at 16:38 | #1
  2. February 11th, 2012 at 04:23 | #2
  3. February 28th, 2012 at 14:00 | #3
  4. March 24th, 2012 at 00:16 | #4

 


%d bloggers like this: