Home > Belajar Reksa Dana > Evaluasi Kinerja Reksa Dana Ketika Pasar Bergejolak

Evaluasi Kinerja Reksa Dana Ketika Pasar Bergejolak

Sebelumnya pada posting saya terdahulu telah dibahas beberapa cara untuk mengukur kinerja reksa dana seperti: Risk Adjusted Return, Sharpe Ratio, Treynor Ratio dan Jensen Alpha.

Metode itu sebetulnya juga bisa anda temukan pada berbagai buku literatur manajemen keuangan dan investasi baik pada level dasar maupun level advanced. Metode di atas merupakan metode yang telah diterima dan berlaku sebagai standar dalam pengukuran kinerja reksa dana. Beberapa dari cara di atas juga dijadikan sebagai acuan Infovesta dalam melakukan penilaian terhadap kinerja reksa dana. Namun tahukah anda, beberapa metode di atas ternyata bisa memberikan HASIL yang MENYESATKAN ketika digunakan dalam kondisi  return reksa dana negatif. Investor perlu menyadari hal ini karena kami melihat beberapa cara di atas juga digunakan dalam kegiatan pemasaran reksa dana.

Secara umum metode penilaian kinerja reksa dana (portofolio) bisa dibagi menjadi 2 yaitu:

  • Penilaian terhadap optimalitas return dan risiko dengan metode seperti Sharpe Ratio, Treynor Ratio, Risk Adjusted Return (RAR)
  • Penilaian terhadap kemampuan memenuhi atau melebihi ekspektasi dengan metode seperti Alpha dan Market Timing

Penilaian yang saya maksud bisa memberikan hasil menyesatkan itu lebih berkaitan penilaian terhadap optimalitas risk and return. Umumnya pengukuran di atas menggunakan cara membagi return dengan risiko. Return yang digunakan pada Sharpe Ratio dan Treynor menggunakan excess return, yaitu selisih antara return reksa dana dengan risk free (Return RD – RF) , sementara pada Risk Adjusted Return, digunakan hanya return saja. Pada sisi risiko, RAR dan Sharpe Ratio menggunakan Standar Deviasi sebagai risiko sementara Treynor ratio menggunakan Beta (sensitivitas reksa dana terhadap pergerakan pasar).

Dengan menggunakan contoh Risk Adjusted Return, misalnya RD A memberikan return 20% dan Risiko sebesar 20%. Reksa Dana B memiliki return 20% dan Risiko 40%.

  • RD A akan menghasilkan RAR sebesar 1 (20 / 20) dan RD B akan menghasilkan RAR sebesar 0.5 (20 / 40)
  • RAR sebesar 1 bisa diartikan bahwa atas setiap 1% risiko yang ditanggung, reksa dana A memberikan return 1%, sementara RAR RD B sebesar 0.5 berarti atas setiap 1% risiko yang ditanggung, reksa dana B memberikan return 0.5%. Oleh karena itu RD A disebut lebih baik dari RD B karena memiliki RAR yang lebih besar atau istilah akademisnya RD A lebih optimal dibandingkan RD B karena atas risiko yang ditanggung RD A memberikan return yang lebih tinggi
  • Atau logika saja, return kedua reksa dana saham, sementara si B risikonya lebih tinggi, tentu lebih baik memilih reksa dana A yang risikonya lebih kecil

Kenapa bisa menyesatkan? Mari kita lihat ilustrasi sebagai berikut:

  • Risiko kedua reksa dana tersebut sama, namun karena kondisi IHSG negatif maka return kedua reksa dana yang tadinya positif 20% menjadi negatif 20%
  • RAR reksa dana A akan menjadi -20% / 20% = -1, RAR reksa dana B menjadi -20% / 40% = -0.5
  • Secara Matematis RAR B dikatakan lebih bagus dari RAR A karena -0.5 lebih besar dibandingkan -1
  • Padahal secara logika, sama-sama rugi 20%, risiko reksa dana B jauh lebih besar tentu seharusnya reksa dana A yang dipilih

Jadinya jika evaluasi kinerja dilakukan pada saat pasar negatif, peringkat yang dihasilkan (dengan cara mengurutkan reksa dana dari RAR paling tinggi ke RAR paling rendah) bisa memberikan rekomendasi yang menyesatkan karena yang dipilih malahan reksa dana yang risikonya lebih besar. Kelemahan ini juga berlaku pada Sharpe dan Treynor Ratio yang menggunakan metode pembagian Return dengan Risiko.

Sebagai ilustrasi, return reksa dana saham selama 1 tahun terakhir (yang tidak memperhatikan pendapatan dividen (jika ada))  adalah sebagai berikut:

Kelemahan daripada metode ini dapat diatasi dengan melakukan penyesuaian. Beberapa metode yang mungkin bisa digunakan dalam kondisi seperti ini adalah:

  • Sortino Ratio
  • Roy Safety First Ratio

Jika mau realistis, pemilihan reksa dana dengan cara di atas memang sangat jarang terlihat di dunia nyata. Meski saya lihat ada di beberapa penawaran reksa dana yang dibawakan menggunakan analisis di atas sebagai salah satu pertimbangan investasi oleh Bank Agen Penjual, kemampuan penjual dalam menjelaskan metode di atas masih sangat kurang sehingga ujung2nya kembali ke reksa dana yang returnnya paling tinggi juga. Akan tetapi hal ini sangat penting bagi anda yang ingin menganalisis reksa dana khususnya para akademisi. Jangan sampai kita hanya memasukan suatu metode tanpa mengerti maksud dan kelemahan metode tersebut.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

Categories: Belajar Reksa Dana Tags:
  1. November 17th, 2011 at 08:46 | #1

    kesimpulannya apakah menghitung kinerja reksadana dalam hal pasar negatif lebih pas menggunakan sortino dan roy safety first ratio dibanding sharpe dan treynor ya pak.?

    *kebetulan saya sedang melakukan penelitian kinerja reksadana saat pasar negatif (ketika krisis keuangan global 2008)

    terima kasih

  2. November 17th, 2011 at 09:29 | #2

    @fajar
    Salam pak Fajar,

    Bisa saja, namun tetap perlu anda pelajari lagi. Perbedaan Sortino dan Sharpe adalah pada Standar deviasi yang digunakan. Tapi secara return sebetulnya masih belum tepat karena bisa timbul kontroversi seperti penggunaan metode sebelumnya.

  3. November 17th, 2011 at 09:49 | #3

    kontroversi nya dimana pak.?
    apakah karena dalam roy safety ratio, variabel nya menggunakan expected return yg tidak ada patokannya.?

    bisa kah expected return reksadana saham dinilai berpatokan dari nilai perubahan ihsg.? atau ada angka lain yg lebih tepat digunakan.?

    terima kasih :)

  4. November 17th, 2011 at 14:10 | #4

    @fajar
    Betul pak Fajar. Kontroversi ada di return. Mengenai pertanyaan kedua memang belum ada teorinya. jadi belum ada patokan yang pasti.

  5. Marta
    December 22nd, 2011 at 10:59 | #5

    maaf pak bagaimana dengan evaluasi kinerja dgn pendekatan Jensen? saya membaca dalm sutu tesis disebutkan bahwa jensen merupakan standar pengukuran kinerja internasional? benarkah? mengapa? :)

  6. December 22nd, 2011 at 14:41 | #6

    @Marta
    Salam Marta,

    Yang dimaksud dengan Alpha di atas adalah metode Jensen Alpha.
    Jensen Alpha bersama Sharpe dan Treynor Ratio memang adalah metode standar pengukuran kinerja portofolio. Mau internasional, standar atau tidak saya kurang tahu, tapi yang jelas memang hanya ketiga metode itu yang sering dibahas dalam buku literatur. Jadi secara tidak langsung dianggap standar. Sebetulnya metode alternatif masih ada.

  7. brili
    December 24th, 2011 at 22:12 | #7

    malam pak rudi..

    maaf kalo agak melenceng dari topik pertanyaannya..

    bagaimana saya bisa menghitung nilai weighted average price dari harga obligasi harian..saya menggunakan harga obligasi harian yang tertera di koran kontan harian..periode jan 2010 – jun 2011..
    ini akan saya gunakan untuk menghitung YTM nantinya..

    trims..

  8. December 25th, 2011 at 22:13 | #8

    @brili
    Malam Brili,

    Kalau boleh, bisakah anda cantumkan data seperti apa yang anda maksud. Karena data obligasi di kontan ada cukup banyak? Dan rencananya anda mau menghitung WAP untuk apa ya?

  9. brili
    December 27th, 2011 at 03:06 | #9

    @Rudiyanto

    WAP akan saya gunakan untuk menghitung nilai YTM nya pak. jadi saya mw melihat perubahan nilai YTM perbulan, selama periode yang saya sebutkan diatas..

    harga pasar obligasi nya saya dapatkan dari kolom “obligasi korporasi yang dilaporkan melalui BEI” di harian kontan pak..
    nah misal dalam sebulan terjadi 20 kali transaksi obligasi tersebut, bagaimana saya menghitung WAP nya

    trimakasih :)

  10. December 27th, 2011 at 08:30 | #10

    @brili
    Salam Brili,

    Mungkin beberapa link ini bisa menjadi salah satu referensi anda
    http://www.investopedia.com/terms/w/weightedaverage.asp#axzz1hh4c7c2W
    http://weightedaverage.net/

    Semoga bermanfaat dan sukses untuk thesisnya

  11. brili
    December 27th, 2011 at 23:24 | #11

    @Rudiyanto

    wah trimakasih buat link nya pak..sangat memberikan pencerahan :)
    bukan thesis pak,ini buat skripsi saya :)

    sukses juga buat bapak

  12. Fina
    December 29th, 2011 at 08:21 | #12

    Dear Pak Rudiyanto,

    Saya mau menanyakan mengenai evaluasi kinerja reksadana saham dengan memeringkatkan produk reksadana saham menggunakan metode Sharpe dan Treynor.
    Pertanyaan saya apakah dalam rentang 5 tahun (2006-2010) dengan pengukuran menggunakan metode Sharpe dan Treynor peringkat untuk produk reksadana saham tsb peringkatnya bisa sama persis?

    mohon pencerahannya.. Terima Kasih.

  13. December 29th, 2011 at 11:24 | #13

    @Fina
    Salam Fina,

    Apakah anda sudah melakukan perhitungannya?

  14. Fina
    December 29th, 2011 at 14:43 | #14

    Sudah saya hitung pak menggunakan excel biasa. Saya coba hitung kembali dan hasilnya masih tetap sama. Apakah ada alat penghitungan lain selain excel pak?

  15. December 29th, 2011 at 17:15 | #15

    @Fina
    Salam Fina,

    Pakai kalkulator atau sempoa juga bisa he he..
    Kalau peringkatnya sama persis dan metode perhitungan risiko anda sudah benar, kemungkinan untuk menghasilkan peringkat yang sama tetap ada. Soalnya peringkat reksa dana berdasarkan risiko beta dan standar deviasi umumnya sama. Kadang ada yang beda, tapi paling dari 20 reksa dana urutan 9 dan 10nya kebalik. Tapi selebihnya sama. Dan juga memang seharusnya urutan dari kedua metode tersebut mirip atau sama, sebab jika sangat berbeda, saya yakin cara hitung anda salah.

  16. Fina
    December 29th, 2011 at 21:34 | #16

    Lalu bagaimana cara investor memilih produk reksadana saham yang baik apabila hasil akhir dari analisis kinerja produk reksadana saham memiliki peringkat yang sama? Pada saat kondisi pasar seperti apakah bisa terjadi hal tersebut?

    Apakah pak Rudiyanto pernah menulis blog mengenai pemeringkatan analisis kinerja reksadana saham?

  17. December 30th, 2011 at 08:35 | #17

    @Fina
    Salam Fina,

    Saya kurang memahami maksud pertanyaan anda? apakah maksud anda pemilihan baru bisa dilakukan kalau peringkat dengan menggunakan kedua cara menghasilkan peringkat yang berbeda? Selain itu, anda perlu memahami hasil akhir yang dihasilkan dari metode yang anda gunakan. Apa sebetulnya kegunaan dan interprestasi dari Sharpe dan Treynor Ratio?

    Untuk pertanyaan kedua anda, bukankah anda sudah menghitung sendiri hasilnya?

    Kalau artikel mengenai pemeringkatan biasanya ditulis oleh rekan saya, Edbert Suryajaya di majalah investor pada edisi khusus pemeringkatan reksa dana. Setahu saya memang belum ada versi e-papernya, tapi kalau memang thesis/ skripsi anda membutuhkan tulisan tersebut, anda bisa coba datang ke redaksi Majalah Investor (dekat Manggarai).

    Semoga bermanfaat.

  18. Derajad
    February 28th, 2012 at 18:08 | #18

    Selamat Sore
    Saya sedang melakukan Penelitian tentang perbandingan resiko pada reksadana, tapi kendalanya data yang ada hanya return setahun. Bagaimana pak menghitung resiko pada reksadana dan di situs mana yang bisa saya temukan resiko masing-masing reksadana.
    Terima kasih

  19. February 28th, 2012 at 22:23 | #19

    @Derajad
    Salam Derajad,

    Ada beberapa cara untuk menghitung risiko reksa dana tergantung risiko apa yang mau anda hitung. Risiko yang bisa dihitung secara kuantitatif antara lain seperti Risiko Total (Standar Deviasi), Risiko Sistematis, Value At Risk, Downside Risk, Maximum Drawdown dan lainnya. Cara perhitungan bisa anda pelajari sesuai dengan buku literatur yang anda punya atau coba searching di internet. Dan kalau memang anda seorang peneliti, maka fokuslah sama cara menghitung risiko daripada mencari situs yang memang sudah ada jawabannya. Mencari sumber data dan mengaplikasikan teori di buku dengan data, merupakan kegiatan yang bisa meningkatkan kualitas penelitian anda. Selamat mencoba, terima kasih.

  20. riza
    March 27th, 2012 at 07:03 | #20

    selamat pagi pa rudi..
    saya sangat tertarik dengan artikel bpk yang ini karena biasanya para peneliti hanya memakai metode treynor, jensen dan sharpe ketika pa rudi menulis artikel ini saya tertarik untuk menghitungnya akan tetapi terdapat kendala sedikit kendala dalam mencari rumus tersebut, yang ingin saya tanyakan bisa saya dapatkan dibuku atau di website mana cara pernghitungan secara lengkapnya? terima kasih kepada pa rudi sebelumnya..

  21. Rudiyanto
    March 27th, 2012 at 17:28 | #21

    @riza
    Salam Riza,

    Anda bisa coba cari menggunakan google. Referensi buku investasi berbahasa atau karangan Indonesia saat ini masih sangat dasar. Memang ada beberapa buku yang cukup advance, tapi sulit untuk diperoleh. Buku dari luar mahal, jadi yang paling murah adalah coba cari paper research yang banyak dipublikasikan di website.

    Kalau informasi yang didapatkan sudah lengkap dari hitungan A-Z, maka saya rasa sebagai peneliti kita akan sulit untuk memahami topik tersebut. Yang pentingkan coba dapatkan konsep dan rumusnya kemudian kembangkan. Lebih baik lagi, hasil peneliti tersebut dapat dipraktekkan dalam dunia nyata.

    Semoga bermanfaat.

  22. riza
    April 16th, 2012 at 19:38 | #22

    malem bpk rudi..

    menurut bapak topik apa yang hangat untuk di teliti mengenai reksadana sekarang ini??
    terimakasih.

  23. Rudiyanto
    April 17th, 2012 at 18:44 | #23

    @riza
    Salam Riza,

    Anda bisa mencoba metode analisa return attribution (analisa return atribusi) karena belum terlalu banyak diangkat oleh penulis lokal. Atau bisa juga mencoba Error Correction Model (ECM) yang sempat ditanyakan oleh salah satu teman saya, tapi saya juga tidak tahu jawabannya.. Coba search di google aja pak, siapa tahu dikasih petunjuk he he..

  24. riza
    April 17th, 2012 at 22:24 | #24

    terimakasih atas sarannya bapak..
    kalau boleh saya mau bertanya apakah bisa mengevaluasi reksdaana pendapatan tetap dan reksadana campuran memakai metode rasio informasi, metode rasio risiko, metode rasio Sortino dan Metode Roy Safety First Ratio?
    terimakasih.

  25. riza
    April 17th, 2012 at 23:48 | #25

    terimakasih masukannya pak rudi..
    kalau boleh saya bertanya lagi, apakah bisa mengukur kinerja reksadana pendapatan tetap dan kinerja reksadana campuran dengan menggunakan metode metode rasio risiko, metode rasio Sortino dan Metode Roy Safety First Ratio? terimakasih..

  26. Rudiyanto
    April 19th, 2012 at 01:09 | #26

    @riza
    Salam Riza, seharusnya pertanyaan ini ditanyakan pada dosen pembimbing skripsi anda. Kalau dia bilang tidak bisa sementara saya bilang sebaliknya, tetap ga bisa dikerjakan kan? he he..

  27. riza
    April 19th, 2012 at 16:27 | #27

    hehe..
    terimakasih pak rudi..
    berarti saya bisa meneruskan penelitian saya. :)

  28. sonia
    February 18th, 2013 at 15:08 | #28

    Pak, maksudnya penilaian terhadap optimalitas return dan risiko pada metode treynor apa ya?

  29. Rudiyanto
    February 18th, 2013 at 18:05 | #29

    @sonia
    Dear Sonia,

    Saya kurang begitu mengerti dengan maksud optimalitas return dan risiko pada metode treynor yang anda maksud. Yang saya tahu, metode Sharpe Ratio, Treynor Ratio dan Risk Adjusted Return (RAR) mengukur optimal tidaknya kinerja suatu reksa dana. Yang dimaksud dengan optimal itu, bagaimana kinerja return yang diberikan berdasarkan risiko yang ditanggunnya.

    Semoga bermanfaat.

  30. sonia
    February 19th, 2013 at 21:01 | #30

    Kalau metode Jensen kan dilihat dari nilai alpha yang positif atau negatif sedangkan kalau Treynor, optimal itu dinilai secara bagaimana pak? Misalnya hasil nilai Treynornya 0.05504, itu artinya optimal atau tidak?

  31. Rudiyanto
    February 20th, 2013 at 09:45 | #31

    @sonia
    Dear Sonia,

    Coba baca2 lagi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/16/mengenal-metode-evaluasi-kinerja-reksa-dana/ di bagian interprestasi angkanya.

    Semoga bermanfaat.

  32. tulus
    April 7th, 2013 at 10:20 | #32

    pak rudi, kalo untuk mengetahui market share suatu jenis reksa dana bagaimana?trm ksh..

  33. Rudiyanto
    April 9th, 2013 at 08:48 | #33

    @tulus
    Salam Tulus,

    Anda bisa bandingkan antara dana kelolaan reksa dana yang bersangkutan dengan total dana kelolaan industri reksa dana atau industri sejenis. Data tersebut bisa diperoleh di website BAPEPAM-LK. semoga bermanfaat.

  34. abdi
    July 28th, 2013 at 10:47 | #34

    Bapak,
    menurut bapak apa saja yg mempenaruhi kinerja dari reksa dana..?
    sy rencananya mau membuat judul skripsi..

  35. Rudiyanto
    July 29th, 2013 at 09:46 | #35

    @abdi
    Dear Abdi,

    Faktor yang pengaruh saya rasa cukup banyak. Kamu hanya harus melakukan riset terlebih dahulu dan kemudian membuat topik skripsi yang sesuai.

    Semoga sukses dengan skripsinya.

  36. abdi
    July 29th, 2013 at 17:26 | #36

    kalau topik tentang reksa dana yg trend sekarang ini apa aja pak.? agar penelitian ini dapat bermanfaat bg yg lainnya.

  37. Rudiyanto
    July 29th, 2013 at 17:58 | #37

    @abdi
    Coba buat survey tentang mengapa orang membeli reksa dana atau kenapa orang tidak membeli reksa dana saja. Itu sangat bermanfaat sekali, kalau memang bagus bisa kamu presentasikan di para Manajer Investasi.

  38. riyan
    December 1st, 2013 at 15:17 | #38

    bpak mau tanya, dimana saya bisa mendapatkan teori teori tentang rasio informasi untuk perhitungan kinerja reksa dana , apakah bapak mempunyai teori rasio informasi secara lengkap termasuk kelebihan dan kekurangan dari metode tersebut, terimakasih bnyk bapak..

  39. Rudiyanto
    December 2nd, 2013 at 00:01 | #39

    @riyan
    Salam Riyan,

    Teori tentang Rasio Informasi seharusnya beredar di internet. Karena rasio ini digunakan sebagai salah satu alternatif dalam mengukur kinerja reksa dana. Anda tinggal mengklik di google, sudah ada cukup banyak referensi.

    Sebenarnya perhitungan rasio ini tidak sulit, sepanjang ada data saja. Untuk kelebihan dan kekurangan, bisa coba kamu bandingkan hasil penilaian apabila rasio lain yang tersedia dan mana yang menurut anda lebih baik. Anda bisa coba melakukan studi kecil, siapa tahu dari proses tersebut anda bisa menemukan kelebihan dan kekurangannya.

    Demikian semoga bermanfaat.

  40. odie
    December 4th, 2013 at 22:49 | #40

    selamat malam bapak Rudiyanto,

    sy mau tnya kenapa metode sharpe ratio lebih banyak di gunakan di bandingkan dengan metode lainnya seperti metode jensen dan treynor? dan apa perbedaan yang mendasar sehingga sharpe ratio lebih unggul dari yang lain?

    terima kasih sebelumya. selamat malam

  41. Rudiyanto
    December 6th, 2013 at 15:58 | #41

    @odie
    Sore Odie,

    Untuk metode Sharpe Ratio, mengapa banyak digunakan terus terang saya tidak tahu. Mungkin karena metode tersebut banyak diajarkan di silabus dan perhitungannya juga relatif tidak sulit. Bisa juga karena preferensi orang dan ketersediaan materi referensi.

    Menurut saya, jika suatu metode sudah dipakai oleh satu institusi yang kredibel, maka ketika orang / institusi lain akan mengikuti.

    Kemudian untuk materi referensi, perhitungan beta memang tidak susah. Namun ketika menghitung beta reksa dana campuran atau pendapatan tetap, definisi pasar antara Manajer Investasi yang satu dengan yang lain bisa berbeda. Belum lagi definisi para akademisinya. Sudah begitu, meski sudah sepaham, menghitung dengan satu definisi yang sama belum tentu datanya tersedia untuk semua orang.

    Demikian semoga bermanfaat.

  42. riyan
    December 21st, 2013 at 12:54 | #42

    selamat siang bapak,

    bpak saya mau tanya, benarkah kriteria perhitungan rasio informasi adalah sebagai berikut :
    1. Hasil perhitungan dengan skor 1 adalah outstanding performance.
    untuk menghitung kinerja reksa dana campuran

    terima kasih bapak

  43. Rudiyanto
    December 22nd, 2013 at 00:31 | #43

    @riyan
    Malam Riyan,

    Boleh tahu, rumus yang kamu gunakan sehingga mendapatkan rasio informasi tersebut?

  44. riyan
    December 26th, 2013 at 09:18 | #44

    selamat siang bapak,
    berikut ini adalah rumus yg saya gunakan…

    Rasio informasi = aplha portofolio / standardeviasi ((ep))

    Keterangan :
    Alpha portofolio = alpha jensen model
    standardeviasi ((ep)) = Resiko unik portofolio

    Kriteria penilaian kinerja reksa dana campuran dengan metode rasio informasi adalah sebagai berikut :
    Hasil perhitungan dengan skor 1 adalah outstanding performance.

  45. riyan
    December 26th, 2013 at 09:19 | #45

    Kriteria penilaian kinerja reksa dana campuran dengan metode rasio informasi adalah sebagai berikut :
    1. Hasil perhitungan dengan skor 1 adalah outstanding performance.

  46. riyan
    December 26th, 2013 at 09:28 | #46

    Kriteria penilaian kinerja reksa dana campuran dengan metode rasio informasi adalah sebagai berikut :
    1. Hasil perhitungan dengan skor di bawah 0,50 adalah bad performance.
    2. Hasil perhitungan dengan skor di antara 0,51 dengan 0,74 adalah good performance.
    3. Hasil perhitungan dengan skor di antara 0,75 dengan 0,99 adalah very good performance.
    4. Hasil perhitungan dengan skor di atas 1 adalah outstanding performance.

  47. Rudiyanto
    December 26th, 2013 at 13:56 | #47

    @riyan
    Salam Riyan,

    Kamu yakin rumus yang kamu gunakan tidak salah?
    Dari sumber mana juga kamu memperoleh kategori tersebut?

  48. riyan
    December 26th, 2013 at 19:54 | #48

    malam bapak,

    saya menggunakan buku jogiyanto 2010 pak mengenai rumus, di buku tersebut tertulis demikiann..
    kalau kategori saya brosing brosing di internet,,,

    mohon masukkannya bapak, terima kasih

  49. Rudiyanto
    December 26th, 2013 at 21:18 | #49

    @riyan
    Kamu sudah yakin kalau menerjemahkan rumus tersebut dengan benar? Apakah terjemahan rumus tersebut juga disertai contoh perhitungannya? Apakah kamu juga sudah cross check ke sumber lain seperti yang tersedia di internet? Apakah di tempat kamu menemukan tingkat kategori tersebut juga menjelaskan hal yang sama?

  50. riyan
    December 26th, 2013 at 22:08 | #50

    @Rudiyanto
    malam bpak ..

    iya pak, di buku tersebut sudah cukup lengkap dan jelas mengenai rumus dan contoh perhitungannyaaaa.
    tetapi saya juga menemukan di beberapa buku lain bahwa rasio informasi = appraisal ratio, padahal terdapat perbedaan, mnurut jogiyanto 2010 rasio informasi tersebut menggunakan standar deviasi , mnurut buku lain appraisal ratio ( rasio informasi ) menggunakan variance,
    di sini letak perbedaannya ..
    jdi saya harus menggunakan yang mana ?

    sedangkan mengenai tingkat kategori saya blum menemukan di sumber lainnya pak, yang saya temukan menyebutkan demikan..

    mohon pencerahan nya baapak .. terima kasih

  51. Rudiyanto
    December 26th, 2013 at 22:59 | #51

    @riyan
    Kalau baca investopedia, sudah jelas bahwa Pembilangnya adalah Selisih antara Return Reksa dana dengan Return benchmark dan Penyebutnya adalah standar deviasi dari selisih tersebut.

    Standar deviasi atau varians yang kamu maksud itu juga tidak jelas, standar deviasi dari apa?

    Dan kalau kamu baca dengan teliti definisi rasio informasi dengan jelas dan teliti, maka kamu bisa menjawab sendiri apakah kategori itu masuk akal atau tidak.

    Semoga beruntung.

  52. helmi
    January 7th, 2014 at 17:34 | #52

    Selamat sore pak, saya sedang melakukan penelitian menggunakan sharpe dan sortino. Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan.

    bagaimana syarat suatu pasar dikatakan bergejolak?
    Apakah periode 2010-2012 termasuk bergejolak?
    Apabila suatu reksa dana mempunyai return yg negatif, bila dihitung menggunakan sharpe hasilnya akan “menyesatkan”?

    Maaf kalau banyak nanya pak.

  53. Rudiyanto
    January 8th, 2014 at 00:20 | #53

    @helmi
    Pagi Helmi,

    Definisi “Bergejolak” memang sangat subjektif. Kalau dari artikel saya di atas, bergejolak, saya artikan sebagai return negatif (Rugi). Namun hal tersebut bukan definisi absolut. Jadi karena yang anda lakukan adalah penelitian, maka definisi bergejolak itu bisa anda definisikan sendiri asalkan jelas dan sebisa mungkin bisa dikuantifikasi.

    Demikian hal di atas menjawab pertanyaan nomor 2 anda tentang 2010 – 2012.

    Terkait pengukuran menggunakan Sharpe Ratio dalam kondisi pasar negatif, apakah kamu sepaham dengan logika dan penjelasan saya di atas? Jika sepaham, berarti hasilnya akan menyesatkan, akan tetapi jika anda tidak sependapat dan memiliki logika dan penjelasan yang lebih baik, anda juga bisa menyebut penjelasan saya tersebut “sesat” he he..

    Sebagai contoh, pada tahun 1492 ketika Colombus percaya bahwa bumi itu bulat dia juga dianggap sesat, sampai akhirnya bisa dia buktikan.

    Demikian semoga sukses dengan penelitiannya.

  54. helmi
    January 8th, 2014 at 08:13 | #54

    @Rudiyanto
    pagi juga pak,

    sepertinya saya juga mengartikan seperti bapak, “return negatif”. hehehe

    saya mengerti pak, perbedaan sortino dan sharpe ada di “downside deviation” dengan “standar deviation”. beberapa literatur menyatakan downside deviation menghitung return yang negatif.

    untuk perhitungan sharpe, saya ngikut bapak aja.
    mohon ijinnya pak untuk menggunakan artikel bapak sebagai contoh pembuktian perhitungan.

    terimakasih pak

  55. Rudiyanto
    January 8th, 2014 at 09:08 | #55

    @helmi
    Silakan, semoga sukses dengan hasil penelitiannya.

  56. helmi
    January 10th, 2014 at 16:18 | #56

    @Rudiyanto

    Selamat sore pak,
    tentang rasio sortino, saya kesulitan “membuat pembuktian” perbedaan perhitungan antara sharpe dan sortino, apakah bapak bisa menjelaskan secara sederhana seperti tulisan disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/29/mengenal-roy-safety-first-ratio/

  57. January 10th, 2014 at 23:59 | #57

    Dear Pak @Rudiyanto

    Sungguh artikel yang bagus sekali.

    Bolehkah saya bertanya apakah dalam suatu reksadana ada batasan maksimum persentase kepemilikan suatu saham dalam portofolio tersebut, let say, 10% dari total aset?

    Thanks,
    Doddy
    http://www.dnacapitalgroup.blogspot.com

  58. Rudiyanto
    January 13th, 2014 at 09:39 | #58

    @Doddy Prayogo
    Salam Doddy,

    Batasan dalam reksa dana ada cukup banyak, untuk lebih detailnya anda bisa baca prospektus reksa dana, karena ada batasan yang dihitung dari dana kelolaan, dari modal disetor perusahaan publik, dari group yang menjadi tujuan investasi, dari jenis instrumen investasi, dll.

    Semoga bermanfaat.

  59. Rudiyanto
    January 13th, 2014 at 09:40 | #59

    @helmi
    Salam Helmi,

    Kalau memang rumus yang digunakan untuk menghitung kedua rumus ini sudah beda, apalagi yang dibuktikan perbedaannya ya?

  60. helmi
    January 13th, 2014 at 15:04 | #60

    @Rudiyanto

    selamat sore pak,
    mungkin maksudnya begini pak,
    misal, ada perbedaan hasil kinerja yang tertinggi antara perhitungan dengan sharpe dan sortino.
    nah kinerja tertingginya kan berbeda pak,
    seandainya calon investor bertanya kepada saya, reksa dana dengan kinerja tertinggi mana yang dapat disarankan? yang sharpe atau sortino?
    apa yang harus saya jawab?

    mungkin begitu penjelasan dari pertanyaan saya, maaf kalau kata-katanya “hancur”. hehehe

  61. Rudiyanto
    January 13th, 2014 at 15:18 | #61

    @helmi
    Kalau begitu, saya tanya balik, sebagai peneliti kamu lebih suka cara Sharpe atau Sortino? dan kenapa? Apa keunggulan dan kelemahannya masing2? Jawaban itu akan bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan calon investor tersebut.

  62. helmi
    January 14th, 2014 at 07:25 | #62

    @Rudiyanto

    selamat pagi pak,
    karena perbedaan kedua metode itu adalah di pemakaian risiko yg digunakan maka menurut saya jawabannya seperti ini.
    tergantung dari calon investornya.
    - jika calon investor menganggap volatilitas return reksa dana sebagai risiko, maka gunakan metode sharpe.
    - jika calon investor menganggap hanya volatilitas return reksa dana yang dibawah MAR atau RF atau bisa dikatakan yang negatif sebagai risiko, maka gunakan metode sortino.

    apa seperti itu pak? mohon koreksinya.
    terima kasih.

    • Rudiyanto
      January 14th, 2014 at 10:11 | #63

      Benar atau salah itu relatif, silakan berargumentasi di ruang ujian nanti, tentunya dengan menyiapkan data pendukung yg kuat.

  63. helmi
    January 14th, 2014 at 11:13 | #64

    @Rudiyanto

    baik pak, semoga nanti saya bisa menjelaskan dengan baik.
    terimakasih untuk jawaban atas pertanyaan saya yg banyak. hehehe

  64. rina
    February 8th, 2014 at 11:03 | #65

    Selamat siang pak, saya mau bertanya. Metode snail trail kan digunakan untuk menilai kinerja prtfolio dgn membandingkan risiko dan return dalam bentuk kuadran. Nah pd obligasi, yg menjadi nilai return/risiko pembanding/pembatasnya itu dari mana ya pak?
    Terima kasih

  65. Rudiyanto
    February 11th, 2014 at 14:28 | #66

    @rina
    Siang Rina,

    Kalau pertanyaan anda terkait reksa dana yang berinvestasi pada obligasi, Silakan dibaca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/03/07/mengenal-benchmark-reksa-dana-yang-apple-to-apple/

    Namun jika menerapkan metode tersebut di obligasi, maka kurang tepat karena metode itu, dalam pengertian saya yang merupakan pengukuran atas konsistensi, hanya bisa digunakan pada instrumen yang tidak punya waktu jatuh tempo seperti saham / reksa dana.

    Semoga bermanfaat.

  1. No trackbacks yet.