Home > Riset Reksa Dana > Reksa Dana Dengan Kinerja Ekstrem

Reksa Dana Dengan Kinerja Ekstrem

Artikel ini saya buat berdasarkan pertanyaan dari beberapa pembaca yang menanyakan tentang reksa dana dengan kinerja Ekstrem. Yang saya maksud dengan kinerja disini adalah return yang dihasilkan reksa dana tersebut, sebagai contoh ada reksa dana yang dalam 1 harinya bisa berubah dari 40% hingga ribuan persen sementara reksa dana yang lain hanya berfluktuasi 1-2% per hari. Kalaupun market sedang bergejolak, paling hanya 4 – 6%. Seperti apa ciri-ciri reksa dana Ekstrem tersebut dan kira-kira mengapa bisa menghasilkan kinerja demikian? Apa yang sebaiknya dilakukan investor ketika melihat reksa dana tersebut dengan ciri-ciri demikian?

Bagi anda yang melihat data update harga reksa dana setiap hari di Infovesta, tentu pernah melihat reksa dana yang memperlihatkan pergerakan yang abnormal. Sebagai contoh:


Jika anda lihat return 3 tahun terakhir yang ada di CIMB Principal Bond yang mencapai 1364%. Luar biasa bukan? mana ada lagi reksa dana yang mampu membukukan kinerja luar biasa seperti hal tersebut. Reksa Dana dengan kinerja demikian bukan hanya satu namun juga ada beberapa reksa dana lain seperti reksa dana PAPI. Jika digrafikkan, maka grafik pergerakan harga NAB/Upnya kira-kira sebagai berikut:

CIMB Principal Bond dan PAPI adalah contoh 2 reksa dana dengan kinerja yang ekstrim. Apakah hanya ada 2 reksa dana tersebut, tidak. Masih ada beberapa reksa dana pendapatan tetap yang lain yang memiliki fenomena serupa. Umumnya kebanyakan reksa dana dengan kinerja ekstrim tersebut bisa dijumpai pada reksa dana pendapatan tetap. Akan tetapi, meski jarang, fenomena ini juga ditemui di jenis reksa dana saham. Sebagai contoh:

Reliance Equity Fund sudah tidak aktif per 16 Agustus 2011 yang lalu. Baru-baru ini juga ada berita tentang Reliance Asset Management yang bisa di baca disini http://investasi.kontan.co.id/v2/read/investasi/74967/Dana-kelolaan-minim-Reliance-bubarkan-reksadana.

Mengapa?

Pertanyaan selanjutnya tentu adalah mengapa bisa demikian? Apakah Manajer Investasi berhasil menemukan jurus jitu yang bisa mendongkrak return sedemikian tinggi? Terus terang jawaban pastinya saya tidak tahu. Saya hanya bisa menduga. Dan dugaan saya adalah Efek Bunga Mengendap dari Redemption Reksa Dana, Khususnya untuk reksa dana yang diredempt dalam jumlah besar yang mencapai lebih dari 99% atau seluruh jumlah dana kelolaannya alias sudah mau dibubarkan namun Tidak Jadi karena diisi kembali.. Hipotesis saya seperti ini:

  1. Diasumsikan suatu reksa dana, memiliki NAB/Up Rp 5000 dan pada saat perintah redemption dilakukan, memiliki unit penyertaan sebanyak 20 Juta unit sehingga dana yang harus dicairkan oleh Manajer Investasi adalah Rp 5.000 x 20 juta = Rp 100 milliar
  2. Selanjutnya tentu Manajer Investasi memiliki waktu hingga H+7 untuk menyerahkan dana tersebut kepada investor dengan cara menjual portofolio investasi. Meski umumnya dana bisa cair dalam 2 atau 3 hari, namun jika yang terjadi adalah redemption dalam jumlah besar maka bisa saja waktu mencapai hingga 7 hari karena Manajer Investasi harus cuci gudang.
  3. Nah, disinilah potensi dana mengendap tersebut bisa terjadi. Misalnya Manajer Investasi baru melakukan transfer H+7 tapi ternyata cuci gudangnya dan hasil penjualan sudah diterima H+3 tentu sebelum ditransfer ke investor dananya harus disimpan disuatu tempat. Umumnya di rekening reksa dana di Bank Kustodian
  4. Jika dana tersebut disimpan selama 4 hari, biasanya atas dana yang ditaroh di rekening bank (even itu Tabungan) biasanya mendapat bunga. Anggap tabungan biasa dengan bunga hanya 2% per tahun. Maka bunga dari dana Rp 100 milliar tersebut adalah Rp 100 milliar x 2% /365 x 4 hari = Rp 21.917.808 (angka ini bisa lebih besar jika bunga yang diperoleh tinggi)
  5. Pertanyaannya uang senilai Rp 21,9 juta itu milik siapa? Dana tersebut seharusnya menjadi milik investor dengan sistem pro rata sesuai investasinya dengan catatan jika reksa dana tersebut DIBUBARKAN. Jika tidak dibubarkan maka uang tersebut kembali milik reksa dana.
  6. Keesokan harinya dengan NAB/Up Rp 5000 tersebut kemudian seorang investor melakukan subscription katakanlah Rp 10 juta atau sebanyak 2000 unit. Maka otomatis jumlah dana kelolaan reksa dana menjadi Rp 10 juta  + Rp 21,9 juta = Rp 31,9 juta. Berapa persen keuntungan investor? Investasi dari Rp 10 juta menjadi Rp 31,9 juta berarti untung 21,9 juta atau 219% hanya dalam waktu 1 hari. Keuntungan 219% berarti dari harga Rp 5000 akan langsung naik menjadi Rp 15.990. Nah hal inilah yang jika anda lihat di return 1 hari, reksa dana tersebut menunjukkan kenaikan dari puluhan hingga ratusan persen sementara reksa dana lain hanya berubah beberapa % saja.
  7. Karena proses cuci gudang obligasi lebih sulit karena lebih kurang likuid dibandingkan saham, maka umumnya fenomena ini banyak terjadi di reksa dana pendapatant tetap atau campuran yang berbasis Obligasi.

Hipotesis saya timbul karena saya melihat beberapa tren pergerakan Jumlah Dana Kelolaan reksa dana sebagai berikut:

Masih Hipotesis Bukan Fakta

Berdasarkan Hipotesis saya di atas yang MASIH HARUS DIBUKTIKAN KEBENARANNYA, lonjakan NAB/Up itu tidak disebabkan karena suatu tindakan tidak jujur atau manipulasi. Artinya Manajer Investasi dan Bank Kustodian tidak bermaksud secara sengaja untuk memanipulasi harga reksa dana dengan tujuan untuk memperdaya Investor. Untuk jawaban yang secara pasti, tentu harus ditanyakan kepada Manajer Investasi dan Bank Kustodian langsung. Sebab saya yakin merekalah yang paling tahu seperti apa dan mengapa lonjakan tersebut bisa terjadi.

Oleh karena itu, ketika melihat reksa dana dengan kinerja Ekstrem:

  1. Jangan memberi cap baik atau buruk sebab berdasarkan hipotesis saya, memang tidak ada niatan buruk dari Manajer Investasi dan Bank Kustodian
  2. Nilailah kinerja dari titik setelah kenaikan ekstrem tersebut terjadi, bukan dari titik diterbitkan reksa dana tersebut
  3. Perhatikan pula perubahan jumlah dana kelolaannya.
  4. Untuk lebih baiknya gunakanlah Benchmark. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/03/07/mengenal-benchmark-reksa-dana-yang-apple-to-apple/
  5. Jika reksa dana sudah terlalu jauh dari kinerja Benchmark, kalau bukan Manajer Investasi sangat hebat kemungkinan reksa dana tersebut masuk kategori Ekstrem yang dibahas dalam artikel ini

Demikian artikel ini semoga bisa bermanfaat dan menjawab pertanyaan anda. Selamat menjalankan Ibadah Puasa juga kepada anda yang menjalankannya.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/investasi/74967/Dana-kelolaan-minim-Reliance-bubarkan-reksadana
Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. Budi
    August 21st, 2011 at 14:24 | #1

    Terima kasih banyak Pak Rudi. Artikel ini sangat edukatif dan bermanfaat bagi para investor reksadana.

    Sukses trus buat Bapak!

  2. Ani
    August 21st, 2011 at 23:36 | #2

    Yth Pak Rudiyanto,

    Terimakasih banyak untuk artikelnya, memang sudah saya tunggu. Informatif dan jujur.

    Ada pertanyaan susulan dari saya, mohon kesediaan Pak Rudi untuk tetap sabar menjawab, mengingat saya rasa pertanyaan ini mungkin juga menjadi pertanyaan banyak orang.

    Melihat kondisi ekonomi global yang volatile akhir-akhir ini, saya seringkali bingung harus ke mana melangkah dalam berinvestasi? Walaupun banyak pejabat/analis/praktisi ekonomi Indonesia yang menyatakan bahwa ekonomi Indonesia cukup stabil dan akan tumbuh 6,5% dan bahkan investasi asing akan masuk ke Indonesia, tetapi pada kenyataannya bursa Indonesia tidak kebal dari imbas bursa asing, sehingga jatuh bangun dalam beberapa minggu ini.

    Pertanyaan saya adalah:
    1. Apakah masih aman untuk investasi dalam reksadana/saham hingga akhir tahun ini?
    2. Apa indikasinya bahwa belum/sudah aman bagi kita untuk kembali masuk bursa/reksadana?
    2. Apakah prediksi bahwa indeks bursa kita masih akan naik hingga di atas 4000 di akhir tahun bisa dipercaya?

    Terimakasih sebelumnya untuk penjelasannya.

    Salam,
    Ani Suswantoro

  3. August 22nd, 2011 at 12:12 | #3

    @Ani
    Yth Ibu Ani,

    Memang angka pertumbuhan ekonomi selalu dikaitkan dengan bursa, namun angka pertumbuhan ekonomi sendiri tidak bisa dijadikan sebagai dasar acuan karena korelasinya yang lemah dengan IHSG. Sebagai contoh pada tahun 2008 ketika bursa crash, angka pertumbuhan ekonomi kita masih di positif 5.2%, memang turun dari angka 6% tapi tetap tumbuh sementara berbagai negara sudah membukukan angka pertumbuhan ekonomi yang negatif.

    Untuk pertanyaan 1 – 3 anda, kalau menurut saya kira-kira seperti ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/06/apa-yang-sebaiknya-dilakukan-investor-saat-ini-agustus-2011/

    Pertanyaan anda juga banyak dibahas oleh berbagai ahli dalam Kontan Harian hari ini (22 Agustus). Mungkin disitu ada jawaban yang memuaskan bagi anda.

    Terima kasih

  4. Ani
    August 22nd, 2011 at 22:37 | #4

    Yth Pak Rudi,

    Trims untuk keterangannya. Selamat bekerja dan sukses selalu!

    salam,
    Ani

  5. Chrispinus
    August 25th, 2011 at 12:54 | #5

    Yth Bapak Rudiyanto,
    Saya sependapat dengan hipothesis anda, terlepas benar atau salah, sebaiknya memang positif thinking saja. Ada memang beberapa MI yang kurang etis, tapi biarlah itu urusan Bappepam LK saja. Tapi saya pribadi merasa Bappepam dan otoritas bursa harus membuat rule yang jelas mengenai tata cara pelaporan dan perhitungan kinerja reksadana, agar tidak menimbulkan kebingungan publik.

  6. ufal
    August 26th, 2011 at 11:27 | #6

    Terima kasih analisanya pak, mudah dimengerti bagi yang awam seperti saya.
    Yang menjadi pertanyaan saya, apakah setelah mengalami lonjakan drastis kinerja reksadana tersebut bisa stabil dalam jangka panjang? Mungkinkah kinerjanya bisa seperti reksadana Sem*s*a D*** M*ksima yang hebat itu?

  7. August 26th, 2011 at 13:09 | #7

    @ufal
    Yth Ufal,

    Menjadi stabil atau tidak saya tidak tahu, tapi yang pasti adalah kembali “normal”. Yang dimaksud dengan normal adalah dibandingkan dengan benchmark, selisihnya tidak sangat jomplang lagi. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/03/07/mengenal-benchmark-reksa-dana-yang-apple-to-apple/

    Dan untuk kinerja itu saya pikir tergantung kepada keahlian si pengelola.

  8. musdamang
    December 30th, 2012 at 00:16 | #8

    Satu Frase untuk hipotesis Anda “Luar Biasa”
    Saya jadi ada pencerahan untuk judul Skripsi Saya…
    Kira-kira ada saran ga Pak untuk skripsi saya?

  9. Rudiyanto
    January 1st, 2013 at 04:03 | #9

    @musdamang
    Salam Musdamang, coba gunakan lebih dalam hasil pencerahan anda tersebut. Siapa tahu bsia menghasilkan skripsi berkualitas.

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: