Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Evaluasi terhadap kinerja merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih jenis reksa dana yang menjadi tujuan investasi. Oleh karena itu, sebelum memilih berinvestasi pada reksa dana sebaiknya investor melakukan penilaian terhadap kinerja yang ingin dimilikinya. Namun bagaimana cara melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana? apakah cukup hanya dengan return? Jika tidak, indikator apa yang harus digunakan oleh investor? Bagaimana pula cara untuk mengetahui baik buruknya kinerja tersebut?

Dalam buku dan literatur investasi, reksa dana adalah sekumpulan dari portofolio. Oleh karena itu, pengukuran kinerja reksa dana dikenal juga dengan istilah Evaluation of Portfolio Performance.

Metode evaluasi kinerja portofolio secara khusus hanya mengukur risk and return dari portofolio investasi (reksa dana) yang bersangkutan. Meski menurut kami cara ini belum komplit, namun memang bobot terbesar dalam penilaian kinerja reksa dana harus memperhatikan faktor ini.

Beberapa metode yang sering digunakan dalam evaluasi kinerja reksa dana antara lain:

  1. Risk Adjusted Return
  2. Sharpe Ratio (Reward to Variability Ratio [RVAR])
  3. Treynor Ratio (Reward to Volatility Ratio [RVOL])
  4. Capital Asset Pricing Model
    • Pendekatan Securities Market Line (SML)
    • Pendekatan Capital Market Line (CML)

Dimana formula untuk melakukan perhitungan di atas adalah sebagai berikut:

Untuk kepentingan pengukuran kinerja masa lalu, maka tingkat return yang dipergunakan adalah menggunakan rata-rata return geometrik. Dalam kasus pengukuran kinerja dengan pendekatan CAPM yang dimaksud dengan expected return bukanlah return pada masa mendatang, akan tetapi merupakan tingkat return yang seharusnya terjadi berdasarkan tingkat risiko di masa lalu.

Supaya lebih memudahkan contoh perhitungan dan hasil interprestasi dengan menggunakan Indeks Reksa Dana Saham, Campuran, Pendapatan Tetap dan IHSG sebagai indikator Pasar dengan menggunakan data 5 tahun terakhir (2005 – 2010). Sumber data indeks dapat anda download secara gratis pada bagian ini di www.infovesta.com dengan mengklik tombol grafik yang ada pada sebelah kanan.

Hasil perhitungan secara sederhana karena untuk kepentingan ilustratif berikut dengan interprestasinya adalah sebagai berikut:

  1. Rata-rata return tahunan geometrik adalah rata-rata return dari keempat indikator di atas selama 5 tahun terakhir setelah memperhitungkan faktor bunga berbunga. Pengukuran return dilakukan dengan menggunakan metode rata-rata return geometrik. Hasil diatas menunjukkan IHSG sebagai market merupakan instrumen dengan kinerja paling baik yang diikuti dengan rata-rata Reksa Dana Saham, Campuran dan kemudian reksa dana pendapatan tetap
  2. Standar Deviasi (Risiko), dalam definisi statistik adalah simpangan baku dari rata-rata. Dalam definisi keuangan, standar deviasi merupakan suatu angka yang merncerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi. Yang dimaksud dengan total risiko adalah risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Semakin besar angka tersebut semakin besar pula risiko yang berarti semakin besar fluktuasi harga suatu reksa dana.
  3. Beta dalam definisi keuangan, adalah menunjukkan “hanya” risiko sistematis dari suatu portofolio investasi. Meski hanya mewakili sebagian dari risiko reksa dana, indikator ini lebih investor friendly karena lebih mudah diterjemahkan. Misalnya Infovesta Equity Fund Index memiliki beta 1.0259. Maka ketika IHSG bergerak naik 1% maka diperkirakan indeks tersebut akan bergerak naik sebesar 1.0259% dan sebaliknya. Jika suatu reksa dana memiliki beta lebih kecil dari satu maka pengaruh fluktuasi harga IHSG terhadap harga reksa dana tersebut juga semakin kecil. Secara umum interprestasinya sama dengan total risiko.
  4. Risk Free Rate yang dipergunakan adalah SBI 9 bulan terakhir. Penggunaan ini bersifat opsional, ada pula yang menggunakan Yield Obligasi 5 atau 10 tahun sebagai indikator Risk Free.
  5. Risk Adjusted Return (RAR) sebesar 0.9601 pada IHSG dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka IHSG memberikan return 0,9601%. Semakin besar RAR, maka semakin baik pula kinerja suatu reksa dana karena memberikan return yang tinggi atas risiko yang ditanggungnya.
  6. Sharpe Ratio sebesar 2,6935 pada Infovesta Fixed Income Fund Index dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka rata-rata reksa dana pendapatan tetap memberikan excess return sebesar 2,6935%. Yang dimaksud dengan Excess return yaitu selisih return reksa dana dengan Risk Free. Dasar pemikirannya, selain return positif, return reksa dana juga seharusnya di atas tingkat return instrumen bebas risiko. Interprestasi baik buruknya sharpe ratio sama dengan RAR.
  7. Treynor ratio sebesar 0.1630 pada Infovesta Balanced Fund Index, dapat diinterprestasikan bahwa atas 1% risiko sistematis yang ditanggung, reksa dana memberikan excess return sebesar 0.1630%. Selanjutnya baik buruknya interprestasi sama dengan Sharpe Ratio dan RAR, perbedaan hanya pada risiko yang digunakan.
  8. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Securties Market Line (SML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko sistematisnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Equity Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko sistematis (beta) sebesar 1.0259, Risk Free 6,75% dan Return Market (IHSG) sebesar 26.08%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana saham harus membukukan return 26,58%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 21,61%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka -4,96% menunjukkan performa Infovesta Equity Fund Index 4,96% lebih rendah dari yang diharapkan (underperform)
  9. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Capital Market Line (CML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko Totalnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Fixed Income Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko total (standar deviasi) sebesar 4.07%, Risk Free 6,75%, Return Market (IHSG) sebesar 26.08% dan risiko totalnya sebesar 27,16%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana pendapatan tetap harus membukukan return 9,65%%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 10,97%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka 1,32% menunjukkan performa Infovesta Fixed Income Fund Index 1,32% lebih tinggi dari yang diharapkan (outperform)

Dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana, seluruh perhitungan dilakukan dengan cara membandingkan antara kinerja reksa dana yang satu dengan reksa dana yang lain. Jadi, investor harus memilih 1 rasio yang ingin dipergunakan sebagai dasar pemilihan kinerja, selanjutnya dihitung rasio tersebut untuk sekelompok reksa dana dengan menggunakan data yang sama panjang. Selanjutnya rasio tersebut diperingkat, reksa dana dengan rasio yang paling tinggi berarti reksa dana tersebut berdasarkan metode yang digunakan merupakan reksa dana yang paling baik kinerjanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan investor adalah bahwa pengukuran kinerja tersebut hanya melihat dari sisi risk and return. Kewajaran isi portofolio, faktor besar kecilnya jumlah dana kelolaan, layanan dan transparansi informasi merupakan indikator yang tidak kalah penting dan tidak tercermin secara langsung dari pergerakan harga reksa dana.

Demikian semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi referensi bagi anda yang ingin melakukan penelitian di reksa dana.

Penyebutan produk investasiĀ  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa lalu tidak akan selalu terulang pada masa mendatang.

Keterangan IHSG (Market) Infovesta Balanced Fund Index Infovesta Fixed Income Fund Index Infovesta Equity Fund Index
Rata-rata Return Tahunan Geometrik 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Standar Deviasi (Risiko) 27.16% 16.76% 4.07% 28.40%
Beta 1.0000 0.5821 0.0527 1.0259
Risk Free Rate (SBI 9 bulan) 6.75% 6.75% 6.75% 6.75%
Risk Adjusted Return (RAR) 0.9601 0.9688 2.6935 0.7609
Sharpe Ratio (RVAR) 0.7116 0.5661 1.0364 0.5232
Treynor Ratio (RVOL) 0.2013 0.0980 0.0157 0.1953
CAPM – Pendekatan SML
Expected Return 26.08% 18.00% 7.77% 26.58%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha SML 0.00% 1.76% -3.20% 4.96%
CAPM – Pendekatan CML
Expected Return 26.08% 18.68% 9.65% 26.96%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha CML 0.00% 2.44% -1.32% 5.35%
  1. bang udin
    December 23rd, 2014 at 06:01 | #1

    pak, saya mau tanya ni pak, saham yang sesuai untuk tipe investor moderat itu saham yang nilai betanya kisaran berapa ya pak kalau pendekatanya dengan melihat nilai beta? terimakasih

  2. Rudiyanto
    December 24th, 2014 at 09:52 | #2

    @bang udin
    Salam Bang Udin,

    Untuk beta anda bisa membaca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Semoga bermanfaat

  3. ivan
    January 14th, 2015 at 01:39 | #3

    Pak saya ingin bertanya, bagaimana cara menghitung daily return suatu reksadana? Saya sudah mencoba menghitung sesuai rumus akan tetapi hasil nya tetap decimal walaupun sudah memakai percentage.. trima kasih

  4. ivan
    January 14th, 2015 at 01:45 | #4

    Perhitungan daily return saya tidak sebesar bapak punya, mohon pencerahan pak.. sehabis itu bagaimana menentukan SBI rate pak? Saya sedang menghitung kinerja reksadana saham dr 1 nov 2011 – 31 oct 2014, karena hasil daily return saya cuma decimal mengakibatkan minus karena dikurangin RFR dan dibagi standard deviasi pa, mohon bantuan :)

  5. Rudiyanto
    January 14th, 2015 at 12:41 | #5

    @ivan
    Salam Ivan,

    Data di atas menggunakan data tahunan. Tentu beda kalau pakai harian.

    Mengenai SBI Rate ya cari di sumber SBI Rate ini diumumkan.

    Saran saya, anda bisa baca kembali buku referensi seperti buku manajemen investasi dan keuangan yang membahas topik tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  6. Geraldi
    February 18th, 2015 at 12:53 | #6

    Selamat siang

    Saya mau tanya terkait dengan metode Sharpe dan Modigliani Risk-Adjusted Performance (M2). Menurut pengetahuan saya, karena Treynor berdasarkan Beta, maka seperti melihat seberapa sensitif terhadap pasar (beta = 1, atau lebih besar dari 1, atau lebih kecil dari 1)

    kalau Sharpe kurang lebih seperti melihat penyimpangan dari market berdasarkan standard deviation, nah kalau M2 itu kan rumus modifikasi dari Sharpe, yang diakhir rumus dikalikan dengan standard deviation market lagi. Tujuannya untuk apa ya?

    Terima kasih pak

  7. Rudiyanto
    February 24th, 2015 at 00:05 | #7

    @Geraldi
    Selamat Malam Geraldi,

    Pada berbagai literatur yang ada di internet, disebutkan bahwa tujuannya hanya supaya angka sharpe ratio bisa dinyatakan dalam persentase sehingga lebih mudah dipahami investor awam.

    Silakan baca2 buku teori yang jadi acuan anda.

    Semoga bermanfaat.

  8. kamidya
    February 24th, 2015 at 05:57 | #8

    Selamat pagi, Pak Rudi.
    Saya ingin menanyakan apakah penggunaan metode CAPM dalam menganalisis risk and return saham terbukti secara empiris?
    Jika terbukti secara empiris alasannya apa?
    Jika tidak, metode apa yang recommended untuk digunakan dalam menganalisis risk return saham?

  9. Rudiyanto
    March 2nd, 2015 at 00:09 | #9

    @kamidya
    Selamat Pagi juga Kamidya,

    Bisa dijelaskan secara spesifik apa yang dimaksud dengan “Terbukti Secara Empiris” ?

  10. kamidya
    March 4th, 2015 at 19:32 | #10

    Maksudnya seperti ini Pak Rudi, ketika kita akan melakukan investasi dengan menganalisis risk and return menggunakan metode CAPM, apakah hasil pengujian itu bisa kita jadikan pedoman sebagai keputusan investasi?
    Akurat atau tidak?
    Karena pada penelitian-penelitian sebelumnya banyak pro dan kontra.
    Mohon sarannya ya, Pak.
    Terima kasih.

  11. Dhea
    March 4th, 2015 at 22:58 | #11

    Selamat malam pak. Saya sedang mengerjakan pembentukan portofolio. kebetulan perlu menghitung excess return (return ekspektasi – Risk free rate). return ekspektasi penelitian saya dihitung secara bulanan. Kalo begitu untuk mengetahui risk free rate (BI rate) nya saya hanya perlu bagi 12 ya pak? apakah benar begitu pak? terimakasih banyak.

  12. Rudiyanto
    March 5th, 2015 at 10:11 | #12

    @kamidya
    Salam Kamidya,

    Berbagai metode analisis, Risk and Return, CAPM, dan berbagai metode lainnya adalah metode untuk menganalisis kinerja MASA LALU. Nah, apakah kinerja masa lalu akan terulang di masa depan?

    Itu bisa anda bayangkan begini, anda adalah seorang HRD suatu perusahaan yang sedang interview anak baru. Ada 2 kandidat, yang satu IPK 4.00 dan satu lagi IPK 2.00. Kira2 yang mana yang akan anda terima? Apakah yang IPKnya tinggi atau yang rendah? Apakah ada jaminan kalau IPK tinggi kinerja pasti bagus? Jika tidak, apakah kamu lebih memilih orang yang bekerja keras selama kuliah sehingga bisa mendapatkan IPK 4 atau orang yang leha-leha selama kuliah sehingga IPK 2.00 tapi tetap anda terima karena terinsipirasi Bill Gates dan Menteri Susi, yang Kuliahnya saja tidak tamat bahkan pendidikannya hanya SMA?

    Kamu sendiri yang pro atau kontra?

  13. Rudiyanto
    March 5th, 2015 at 10:14 | #13

    @Dhea
    Salam Dhea,

    Kalau misalkan anda datang ke bank mau deposito. Nilai uangnya Rp 10 juta. Sama petugasnya dibilang bunga deposito 6%. Nah setelah 1 bulan uang anda jadi berapa?

  14. kevin
    March 8th, 2015 at 15:01 | #14

    Bapak saya mau bertanya, saya melakukan penelitian dari tahun 2010 sampai dengan 2014. saya butuh sbi rate bulanan. untuk tahun 2011 sampai dengan 2014 saya pakai tenor 9 bulan (karena hanya itu yg tersedia). Nah, untuk tahun 2010, bagaimana ya pak? soalnya bulan januari sd Juli 2010, tenor 9 bulan belum ada? saya jadi bingung untuk menghitung rata-rata rate tahunnya.

    pertanyaan kedua, saya ingin memastikan saja. sbi rate itu sudah tahunan yah pak? baik untuk tenor 1 bulan maupun 9 bulan? begitu?
    terimakasih banyak atas bantuannya :)

  15. Rudiyanto
    March 9th, 2015 at 00:20 | #15

    @kevin
    Salam Kevin,

    Setahu saya tenor SBI memang sempat dipanjangkan dari 1, 3 dan 6 bulan menjadi 9 bulan beberapa tahun yang lalu. Tapi saya tidak begitu ingat lagi apa alasannya waktu itu.

    Untuk datanya kenapa tidak menggunakan BI Rate saja?

    Mengenai tenor 9 bulan itu, saran saya kamu coba datang ke counter bank. Trus kamu tanya, apa artinya tenor 1, 3, 6 dan 9 bulan yang dipasang di atas beserta persentase yang ada pada papan hitam bunga deposito bank tersebut.

    Semoga bermanfaat

  16. fitrining astutik
    March 12th, 2015 at 07:13 | #16

    assalamualaikum..slmt pgi pak.sy ingin brtanya..kan rumus untuk mngetahui kinerja manajer investasi >> Rerur pprtofolio-Return free risk = a + b1 (Return market-Return free risk) + b2 (return market-return free risk) Dummy + eror..
    nah itu variabel dummy kan bernilai 1 jika R porto > R free..dan 0 jika R porto<return free…
    yg sy tanyakan,berarti untuk mndapat B2 sy harua mengalikan dahulu dg variabel dummy..atau vriabel dummy trsebut bisa sy masukkan langsung ke Spss pak?

  17. fitrining astutik
    March 12th, 2015 at 07:17 | #17

    sy bingung pak hasil pembahasan skripsi,sy pakai cara langsung memasukkan variabel dummy ke spss.. bukan mengalikan variabel dummy dg (R.porto-R.free).. yg benar bgmna pak..mohon bantuannya pak..

  18. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 15:00 | #18

    @fitrining astutik
    Selamat Siang Ibu Astutik,

    Kalau feeling saya, rumus kamu masih belum 100% benar. Coba cari yang benar dulu rumusnya seperti apa. Silakan baca buku panduan atau cari referensi paper dengan baik.

    Terima kasih

  19. fitrining astutik
    March 17th, 2015 at 05:36 | #19

    oh iya pak..sy salah . seharusnya Variabel Dummy adalah bernilai 1 jika Rm>Rfr dan bernilai 0 jika Rm<Rfr..
    nah selanjutnya bgmna pak? apakah langsung memasukkan nilai 1 dan 0 dalam Spss atau nilai 1 dan 0 dikalikan lbh dlu dg selisih (Rm-Rf) ?

  20. Rudiyanto
    March 17th, 2015 at 16:26 | #20

    @fitrining astutik
    Silakan baca referensi paper atau bertanya ke dosen pembimbing anda.

    Semoga berhasil

  21. Asmawi
    April 29th, 2015 at 19:16 | #21

    malam pak

    saya mau naya pak
    keunggulan metode Shapre, Treynor, dan M2 dalam pengukuran kinrja reksa dana saham dibandingkan dengan metode ang lain itu apa ya pak
    soalnya saya lagi ngerjain skripsi dan belum dapat untuk menjawab alasan itu pak

    terima kasih pak, mohon bantuanya

  22. Rudiyanto
    May 1st, 2015 at 23:55 | #22

    @Asmawi
    Malam Asmawi,

    Coba kamu bandingkan hasil pengukuran antara metode yang kamu sebutkan di atas dengan “metode yang lain” kemudian lihat mana yang hasilnya lebih masuk akal. Dengan demikian, kamu bisa mengetahui keunggulannya. Alternatif lain, kamu bisa membaca dasar teori metode-metode tersebut dibuat.

    Semoga bermanfaat.

  23. adi
    May 6th, 2015 at 11:02 | #23

    pagi pagi rudiyanto

    saya mau tanya pak rudi. kalo rata-rata return reksa dana perbulannya 1,84% dan rata-rata rate bi sebagai risk free rate of return perbulannya sebesar 7%. hasil risk premium-nya menjadi -5,26%. apakah -5,26% itu baik atau buruk pak? dan kalo mengitung SML jadi alpha hasilnya minus karena risk free rate nya lebih besar dari pada rata-rata return reksa dana apkah berarti performanya jelek?

  24. adi
    May 6th, 2015 at 11:59 | #24

    eh sorry bukan SML tapi maksudnya perhitungan sharpe dan traynornya menjadi minus gimana pak?

  25. Rudiyanto
    May 7th, 2015 at 17:44 | #25

    @adi
    Malam Pak Adi,

    Pertanyaan saya, misalkan kamu punya uang Rp 1 juta.
    BI Rate 7%. Kamu simpan selama 1 bulan. Bulan berikutnya uang kamu jadi berapa?

  26. anisa
    May 9th, 2015 at 08:47 | #26

    hai pak adi

    sedikit membantu meluruskan
    BI rate sebesar 7% itu pertahun, bukan perbulan seperti pak adi sebutkan diatas, terimakasih

    jabat erat

  27. adi
    May 12th, 2015 at 15:50 | #27

    selamat sore

    jadi Rp 1.005.833 pak rudiyanto ?
    saya kira bi rate tersebut perbulan karena di keluarkan setiap bulannya.
    terima kasih

  28. Rudiyanto
    May 15th, 2015 at 13:06 | #28

    @adi
    Selamat Siang Adi,

    Betul. Silakan melakukan penyesuaian yang diperlukan.

    Semoga sukses dengan karya tulisnya.

  29. Nico
    May 16th, 2015 at 19:19 | #29

    Selamat malam pak Rudiyanto, saya ingin tanya tentang beta yang ada di reksa dana..
    Setahu saya, diversifikasi itu bukankah tujuannya untuk mengurangi risiko ya? Mengurangi risiko kan berarti seharusnya betanya di bawah 1..? Benar nggak ya pemahaman saya ini?

    Akan tetapi, tadi saya mencoba mencari tahu nilai beta untuk setiap reksa dana yang dana kelolanya besar (dengan regresi sederhana), kenapa kok semua nilai betanya di atas 1 ya?
    Saya sempat baca juga di internet, kalau beta di atas 1 berarti memiliki potensi untuk memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan pasar. Nah kok kebalikan sama pemahaman yang saya miliki saat ini..

    Berarti yang bagus itu betanya di atas 1 atau yang di bawah 1 ya pak?
    Dengan beta di atas 1, apakah berarti reksa dana tersebut tidak berhasil didiversifikasi (karena betanya meningkat) dan juga menambah risiko?

    Salam.. Terima kasih bapak, semoga bapak berkenan menjawab pertanyaan saya..! :)

  30. Rudiyanto
    May 17th, 2015 at 01:26 | #30

    @Nico
    Selamat Malam Nico,

    Diversifikasi memang bertujuan mengurangi risiko. Mengurangi berarti dulunya A sekarang lebih kecil dari A. Akan tetapi tidak disebutkan kalau diversifikasi itu berarti beta di bawah 1. Sebab jika memang anda mencari beta di bawah 1 langsung saja beli reksa dana yang betanya di bawah 1, mengapa harus melakukan diversifikasi?

    Kalau cara menghitung kamu sudah benar, berarti dalam periode yang kamu ukur memang beta reksa dana saham lebih besar dari 1. Trus apa masalahnya?

    Beta sendiri adalah koefisien regresi, jika pasarnya positif dan beta lebih besar dari 1, maka secara statistik kenaikan harga reksa dana bisa lebih besar dari pasar. Tapi bagaimana jika pasarnya negatif? Silakan anda cari tahu di buku statistik.

    Melihat reksa dana hanya dari beta saja itu ibaratnya kamu hanya melihat risiko tapi mengabaikan return. Keduanya harus dilihat sekaligus, tidak bisa hanya satu sisi saja.

    Kalau beta di atas 1, ya artinya reksa dana tersebut risikonya lebih tinggi dibandingkan pasar. Tidak bisa disebut dia berhasil atau gagal karena kamu juga harus melihat returnnya juga.

    Mengenai beta, saya sendiri pernah membahasnya di bawah ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Mengenai diversifikasi juga pernah saya bahas di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/05/20/berapa-jumlah-kepemilikan-reksa-dana-saham-yang-ideal/

    Semoga bermanfaat.

  31. wulan
    June 11th, 2015 at 13:15 | #31

    Bapak saya mau bertanya .cara mencari bobot capm bagaimana ? Dan penjabarannya gimana ya pak .mohon bantuannya bapak .terimakasih .

  32. Rudiyanto
    June 12th, 2015 at 17:16 | #32

    @wulan
    Selamat Sore Ibu Wulan,

    Metode mengenai bobot CAPM bisa ditemukan dalam buku tentang investasi ataupun riset yang membahas metode tersebut. Silakan mencari lebih dalam dari sumber2 yang anda punya.

    Terima kasih

  33. Dewi
    June 18th, 2015 at 07:39 | #33

    Selamat pagi Bapak

    Perkenalkan saya dewi MHS disemster 6 Ingin bertanya diskripsi saya akan menganalisis kinerja reksa Dana saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (jakarta) periode 2013-2015 Indonesia menggunakan Metode-Metode yang Bapak sebutkan diatas.(treynor,Sharpe,Jensen,dan CML)

    Sblum saya melakukan analysis data-data APA saja yang Saya butuhkan dan ajukan ke BEI?
    Bagaimana cara perhitungan dengan Metode tersebut atau adakah software yang dapat membantu dalam perhitungan? Jika ada mohon rekomendasinya.

    Terimkasih .

  34. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:28 | #34

    @Dewi
    Selamat malam Ibu Dewi,

    Kalau data apa saja yang dibutuhkan masih belum tahu padahal metode yang mau digunakan sudah dipilih, saran saya anda mengganti judul skripsi anda dengan data dan metode yang kamu ketahui sumbernya.

    Mengenai cara perhitungan anda bisa membaca buku yang membahas tentang manajemen keuangan dan manajemen investasi. Tapi kembali lagi, kalau tidak ketemu juga, rekomendasi saya segera ganti judul.

    Semoga bermanfaat.

  35. Dewi
    June 22nd, 2015 at 06:55 | #35

    Terimakasih atas sarannya Bapak,

  36. July 9th, 2015 at 11:03 | #36

    @Ria
    perkenalkan mbak ria nama saya cana mahsiswi UB dan sedang mengerjakan skripsi yang persis dengan mbak. Masih bingung juga soal return dan risk free. karena jika saya menghitung rata2 return per bulan yang dikurangio dengan rata-rata return risk free perbulan juga semua sampel saya uaitu 41 reksadana saham pada 5 tahun (2010-2014) adlah negatif atau minus Yang berarti kinerja RDS dibawah investasi bebas risiko. Apakah perhitungan risk free saya salah… jika mbak sudah menemukan jawabannya, jika mbak berkenan…saya mohon untuk membagi infrmasinya agar penelitian saya tidak keliru mbak. Terimakasih banyak :)

  37. adi
    October 6th, 2015 at 21:03 | #37

    selamat malam bapak Rudiyanto,
    maaf kalau menggangu. Saya mau tanya pak kalo dari metode sharpe, treynor, jensen yang mana sih yang bisa jadi pegangan dalam dalam mengevaluasi kinerja reksadana ?

  38. Rudiyanto
    October 8th, 2015 at 21:50 | #38

    @adi
    Salam Pak Adi,

    Kalau anda adalah seorang mahasiswa, saran saya anda bisa mencoba ketiga cara tersebut dan membandingkannya. Dari hasil perbandingan tersebut, anda bisa menyimpulkan mana yang paling baik dan alasannya.

    Semoga bermanfaat.

  39. Riani
    November 11th, 2015 at 14:03 | #39

    Selamat sore pak.
    Pak, saya mau bertanya pak, jika kita ingin melihat pengaruh makro ekonomi terhadap kinerja reksa dana saham. maka metode apa yang paling baik kita gunakan untuk kinerja reksa dana saham pak ?
    terimakasih sebelumnya pak.

  40. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 09:53 | #40

    @Riani
    Selamat Pagi Ibu Riani,

    Metode hanya cara. Namanya cara, bisa saja jalan di suatu periode tapi tidak jalan atau butuh pengembangan di periode lainnya. Kalau memang ini skripsi kamu, ya tugas kamu untuk tahu metode apa yang paling baik dengan melakukan berbagai pengujian.

    Semoga bermanfaat.

  41. arif
    December 9th, 2015 at 09:20 | #41

    Pak kalo cari kovarian reksadana dg proxy ihsg di excel, formula apa ya?

  42. Rudiyanto
    December 10th, 2015 at 23:14 | #42

    @arif
    Salam Arif,

    Rumusnya sbb :
    1. Jalan kaki ke Perpustakaan Kampus
    2. Cari buku tentang Manajemen Keuangan, Investasi atau Statistik
    3. Buka halaman yang membahas tentang perhitungan Kovarian
    4. Coba aplikasikan di Excel sampai hasilnya sama dengan contoh
    5. Prosesnya diulang hingga berhasil

    Semoga berhasil

  43. tari
    January 5th, 2016 at 11:04 | #43

    pagi pak rudy,
    pak maaf, saya mau bertanya, apakah ada blog bapak yang membahas tentang capital asset allocation dan capital market line ?
    terimakasih pak…

  44. anggun
    February 4th, 2016 at 10:26 | #44

    selamat siang pak rudy.
    maaf pak saya mau bertanya pak. saya sudah menghitung return saham pak, dan saya juga sudah menghitung resiko saham menggunakan metode VaR mean dan VaR zero. pertanyaannya bagaimana menghitung kinerja sahamnya pak.

  45. Rudiyanto
    February 4th, 2016 at 12:40 | #45

    @tari
    Selamat Siang Ibu Tari,

    Mohon maaf terlewatkan. Pada dasarnya Capital Market Line itu sudah ada di atas.
    Sedangkan yang Capital Asset Allocation pernah saya bahas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/21/strategi-investasi-reksa-dana-asset-allocation/

    Semoga bermanfaat

  46. Rudiyanto
    February 4th, 2016 at 12:40 | #46

    @anggun
    Selamat Siang Ibu Anggun,

    Yang mau dihitung itu kinerja menggunakan metode apa?

  47. Melinda Dwijayanti
    February 10th, 2016 at 14:21 | #47

    selamat siang pak rudi.
    pak saya lagi menyelesaikan tugas akhir tentang reksadana. saya masih bingung pak bagaimana cara menghitung stadar deviasi pada reksadana? apakah NAB per perusahaan reksadana di hitung petahunnya kemudian di bagikan dengan jumlah tahun? atau di kuadratkan saja retrunnya?

  48. Rudiyanto
    February 10th, 2016 at 16:41 | #48

    @Melinda Dwijayanti
    Salam Ibu Melinda,

    Cara menghitung standar deviasi antara saham dan reksa dana saham. Anda bisa membacanya pada buku manajemen keuangan / investasi anda.

    Semoga bermanfaat

  49. Melinda Dwijayanti
    February 10th, 2016 at 22:18 | #49

    Terimaksih pak., informasinya sangat bermanfaat.

  50. andik
    February 21st, 2016 at 09:16 | #50

    Sharpe Ratio sebesar 2,6935 pada Infovesta Fixed Income Fund Index dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka rata-rata reksa dana pendapatan tetap memberikan excess return sebesar 2,6935%.
    apabila 2%risiko = 2×2,6935% master? untuk persamaan matematikanya gimana ya master? mohon pencerahannya

  51. Rudiyanto
    February 24th, 2016 at 10:48 | #51

    @andik
    Interprestasi sharpe ratio bukan 1% risiko atau 2% risiko, tapi perbandingan antara reksa dana yang satu dengan yang lain.

  52. Sam
    February 24th, 2016 at 13:45 | #52

    Dear Pak Rudyanto,

    saya pemula baru memulai reksadana ingin bertanya untuk reksadana sendiri adakah standar/ batas idealnya besar % margin yang diperoleh pada nilai yang kita investasikan? misalnya kita investasi 10 juta, kemudian pada 1 tahun kedepan atau bahkan 6 bulan saldo kita menjadi 12 juta, berarti sekitar 20% kita mendapat margin. apakah dalam keadaan seperti kita lakukan penarikan atau atau tetap disimpan? karena bisa jadi menggagalkan rencana saat ingin invest untuk jangka 2 tahun, ketika melihat keadaan tersebut ada rasa cemas takutnya akan turun dan tidak bisa mendapat margin 20% kembali. mohon advicenya.

    terimakasih atas perhatiannya

  53. Rudiyanto
    March 3rd, 2016 at 23:14 | #53

    @Sam
    Selamat Malam Pak Sam,

    Untuk % margin atau kalau dalam bahasa pemasaran disebut dengan ekspektasi imbal hasil yang wajar bisa dibaca di http://reksadanauntukpemula.com/2016/01/09/prinsip-smart-dalam-investasi-reksa-dana/ Angkanya berbeda sesuai dengan jenis reksa dana.

    Cara untuk berinvestasi yang benar menurut saya adalah memilih reksa dana yang sesuai dengan tujuan investasi. Cara ini memang tidak bisa menghindarkan anda 100% dari potensi kerugian yang mungkin terjadi, namun meminimumkan risiko yang anda sebutkan di atas. Namun di satu sisi, jika target anda sudah tercapai sebelum masa investasi, maka tidak ada salahnya direalisasikan. Namun yang penting adalah punya tujuan terlebih dahulu.

    Untuk detailnya anda bisa baca http://reksadanauntukpemula.com/2016/01/17/memilih-reksa-dana-sesuai-tujuan-investasi/

    Semoga informasi ini bermanfaat.

  54. siti nurbaeti inayah
    March 14th, 2016 at 02:09 | #54

    assalamu’alaikum pa…
    mohon maaf pa sebelumnya, saya masih awam dalam dalam mengetahui pengetahuan mengenai invetasi ini. tapi saya mempunyai sebuah penelitian mengenai penggunaan metode fifo dalam mengukur rentabilitas investasi reksa dana campuran…
    sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon bimbingan dari bapa. untuk penelitian ini, saya harus memulai dari mana dan cara perhitungannya bagaimana? mohon dijelaskan… terima kasih..

  55. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 16:46 | #55

    @siti nurbaeti inayah
    Selamat Sore Ibu Siti,

    Kalau boleh beri saran, jika anda punya penelitian yang bahkan anda tidak tahu sama sekali cara perhitungannya, maka saran saya adalah mencari topik lain yang cara perhitungannya anda ketahui.

    Semoga berhasil. Terima kasih

  56. Deborah
    April 18th, 2016 at 07:23 | #56

    Dear Pak Rudy, Pa saya sedang skripsi tentang analisis market timing dan stock selection thd kinerja reksa dana saham.. mau tanya Pak kalau data yang dipakai untk penghitungan henriksson merton dan mazuy treynor itu saya ingin pakai data bulanan.. nah sedangkan nab, risk free, beta nya dalam harian Pa.. untuk mencari data per bulannya, saya rata2in bulan itu, atau diambil hari terakhir per bulannya saja Pak? Mohon infonya Pak twrimakasih..

  57. Rudiyanto
    April 18th, 2016 at 17:37 | #57

    @Deborah
    Salam ibu Deborah,

    Kalau menurut saya gunakan data akhir bulan. Namanya juga bulanan.
    Tapi akan lebih baik dikonsultasikan dengan dosen pembimbing anda.

    Semoga bermanfaat

  58. Chory
    June 8th, 2016 at 21:21 | #58

    Selamat malam Pak Rudy, saya ingin bertanya. bagaimana cara menghitung stock selection? kita memperoleh 3 variabel lagi kah? a,b dan c?

    Terimakasih Pak..

  59. Rudiyanto
    June 13th, 2016 at 01:45 | #59

    @Chory
    Selamat malam Pak Chory,

    Caranya adalah coba baca buku referensi dimana tempat anda mendapatkan istilah stock selection tersebut.

    Semoga bermanfaat

  60. mega susilowati
    June 13th, 2016 at 17:09 | #60

    selamat sore pa Rudy, kalo boleh tau untuk formula dari Risk adjusted return bapak dapat dari referensi buku apa ya pak?
    dan saya ingin bertanya apabila dari indeks treynor, jensen , dan sharpe terdapat ketidaksamaan pengukuran kinerja misal nilai indeks jensen dan treynor mendapatkan hasil yang sama, tetapi tidak pada indeks sharpe. bagaimamna cara memutuskan portofolio yang optimal pak? terima kasih

  61. Rudiyanto
    June 18th, 2016 at 22:58 | #61

    @mega susilowati
    Salam Ibu Mega,

    Dalam buku tentang manajemen keuangan dan manajemen investasi yang digunakan dalam perkuliahan setahu saya baik rumus ataupun kondisi perbedaan hasil peringkat juga dijelaskan dalam teorinya.

    Saran saya anda bisa membaca terlebih dahulu buku tersebut untuk mendapatkan referensi yang lebih baik.

    Semoga bermanfaat

  62. tri jananto widodo
    August 8th, 2016 at 14:13 | #62

    pak rudi perkenalakan saya tri mahasiswa sedang menyusun skripsi dengan judul analisa kinerja reksadana pendapatan tetap syariah metode sharpe, treynor dan jensen,sudah berjalan di bab IV,data skripsi sudah saya olah dan menghasilkan peringkat sharpe dan treynor yang berbeda dan peringkat treynor dan jensen yang sama,,pertanyaan saya menurut bpk rudy sebagai seorang ahli analisis bagaimana untuk menganalisa peringkat yang sama dan berbeda itu,,tks

  63. Rudiyanto
    August 8th, 2016 at 19:40 | #63

    @tri jananto widodo
    Salam Pak Tri Jananto,

    Kalau menurut saya sebagai seorang mahasiswa yang ditugaskan untuk membuat penelitian, tentu yang harus dilakukan adalah membaca teori yang berkaitan dengan metode yang digunakan tersebut. Saya yakin jika kita cukup jeli dan membaca hingga detail, ada kemungkinan disebutkan perbedaan hasil pemeringkatan dengan masing-masing cara.

    Di kebanyakan kasus yang saya jumpai, biasanya orang salah data, salah hitung, atau salah rumus. Sebab jika semuanya benar, yang bersangkutan akan tahu mengapa hasilnya bisa tidak sama dengan memperhatikan tren perubahan data tersebut.

    Semoga bermanfaat

  64. Dila
    August 12th, 2016 at 21:04 | #64

    Selamat malam pak rudi, saya ingin bertanya
    Misal reksadana A dan B di sharpe reksadana A di pringkat 1 dan di treynor reksadana B di pringkat 1 kenapa berbeda? Lebih baik memilih RD dengan metode apa?

  65. Rudiyanto
    August 13th, 2016 at 00:37 | #65

    @Dila
    Selamat Malam Ibu Dila,

    Apakah anda yakin itu perhitungannya benar ? Dan apakah sudah membaca dasar teorinya dengan bagus ?

    Untuk pemilihan reksa dana, daripada metode yang scientific, menurut saya cara ini lebih baik https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/04/39-bagaimana-cara-memilih-reksa-dana-yang-baik/

    Semoga bermanfaat

  66. Raynaldo
    September 9th, 2016 at 22:56 | #66

    selamat malam pak Rudiyanto, maaf pak, menurut bapak metode paling mudah dan simple untuk menghitung kinerja reksadana itu metode apa ya? saya sedang memlih metode yang paling mudah untuk tugas TA saya. terima kasih sebelumnya

  67. Rudiyanto
    September 12th, 2016 at 15:19 | #67

    @Raynaldo
    Selamat siang Pak Raynaldo,

    Kalau metode yang paling mudah adalah menyalin Tugas Akhir dari orang lain yang sudah ada kemudian mengganti namanya menjadi karya anda.

    Tentu cara di atas untuk mahasiswa pemalas yang sedang mencoba mempertaruhkan masa depannya dengan melakukan plagiarisme.

    Cara yang lebih sulit adalah membaca buku manajemen keuangan dan manajemen investasi yang sudah pernah ikut kuliah sebelumnya dan dari situ coba dicari apakah ada metode yang bisa diterapkan.

    Cara ini cocok untuk mahasiswa yang mau masa depannya lebih baik dan kelak sudah lulus nanti tidak plango plongo susah cari kerja karena memang gelar S-1nya diperjuangkan, bukan hasil nyontek.

    Semoga bermanfaat

  68. Raynaldo
    September 16th, 2016 at 23:31 | #68

    selamat malam pak, untuk penghitungan metode sharpe dan treynor, perihal return reksadana itu maksudnya apakah sama dengan harga(NAB) reksadana? kalau berbeda, dimanakah saya dapat menemukan data return reksadana dalam periode tertentu (2011-2015). terima kasih

  69. Rudiyanto
    September 17th, 2016 at 14:42 | #69
  70. Inaaa
    September 20th, 2016 at 10:48 | #70

    Selamat pagi pak, saya inaa mahasiswa sedang menyusun tugas TA, saya bisa mendapatkantiori tentang reward to variabiliti dan reward to voality , itu dimna ya pak biar pemahaman saya semakin dalam. Terimakasih

  71. Rudiyanto
    September 21st, 2016 at 17:11 | #71

    @Inaaa
    Selamat Siang Ibu Ina,

    Kalau saran saya supaya lulus, tata bahasa dan cara mengetiknya bisa ditingkatkan, jangan sampai isi TA anda diisi dengan bahasa singkatan yang tidak jelas dan salah-salah sehingga tidak lulus walaupun isinya sudah benar.

    Untuk teorinya, bisa dengan membaca buku manajemen investasi yang tersedia di kampus anda.

    Semoga bermanfaat

  72. October 16th, 2016 at 13:31 | #72

    Dear Pak Rudi

    Mohon bantuan penjelasan dari Indeks Treynor, Indeks Sharpe, Indeks Jensen, Rasio Informasi, Ukuran M2, dan Snail Trail ?

    terima kasih

  73. Rudiyanto
    October 19th, 2016 at 01:09 | #73

    @fredie sofyan
    Salam Pak Fredie,

    Bisa baca buku investasi atau cari di Google.

    Terima kasih

  74. siti
    November 28th, 2016 at 11:34 | #74

    salam pa rudi.
    mohon bantuannya pa. saya sedang proses judul “perbandingan kinerja reksadana saham syariah menggunakan metode sharpe, treynor dan jensen”. saya mau tanya pak kalau rumusan masalahnya ada perbedaan kemampuan manajer investasi seperti market timing dan selection. menurut bapa nyambung atau tidak ya, kalau iya boleh share rumusnya tidak pa? terimakasih

  75. Rudiyanto
    December 10th, 2016 at 21:17 | #75

    @siti
    Salam ibu Siti,

    Bisa dikonsultasikan dengan dosen pembimbing anda.

    Terima kasih

  76. Ray
    March 27th, 2017 at 07:32 | #76

    Siang pak, kalo risk free untuk reksadana konven itu kan SBI, bagaimana dengan reksadana atau saham syariah? acuan risk freenya itu apa yang akan digunakan? lalu dasarnya apa… terima kasih

  77. Rudiyanto
    March 29th, 2017 at 00:24 | #77

    @Ray
    Malam Pak Ray,

    Ada yang namanya SWBI (Sertifikat Wadiah Bank Indonesia). Silakan mengecek lebih lanjut ke website Bank Indonesia

    Semoga bermanfaat

  78. Gigih
    April 7th, 2017 at 20:19 | #78

    Selamat malam Bapak Rudi, apa gunanya dalam mengetahui rasio-rasio kinerja, contohnya sharpe, bagi investor? rasio-rasio tersebut bukan berfungsi “menggambarkan” masa depan tapi hanya mengevaluasi kinerja masa lalu. apakah dengan memilih reksa dana yang memiliki rasio bagus akan dipastikan reksa dana tersebut akan terus memiliki kinerja yang bagus? terimakasih atas waktunya.

  79. Rudiyanto
    April 25th, 2017 at 00:26 | #79

    @Gigih
    Selamat malam Pak Gigih,

    Semua metode pengukuran kinerja investasi memang dibuat untuk menggambarkan seberapa baik kinerja suatu reksa dana di masa lalunya. Tidak ada garansi sama sekali suatu reksa dana yang berkinerja baik di masa lalu akan kembali berkinerja baik di masa yang akan datang pula.

    Pembahasan lebih lengkap apakah reksa dana yang jawara kemarin akan menjadi jawara di masa mendatang sudah pernah saya bahas disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/02/10/yesterday-champion-tomorrow-winner/ walaupun indikator yang saya gunakan hanya return dan bukan Sharpe Ratio.

    Dalam memilih reksa dana, kinerja masa lalu hanya suatu pertimbangan, hal yang lain seperti layanan dan konsistensi juga perlu dipertimbangkan. Detailnya pernah saya tulis di https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/04/39-bagaimana-cara-memilih-reksa-dana-yang-baik/.

    Semoga bermanfaat

  80. Jody
    May 23rd, 2017 at 13:51 | #80

    Salam, Pak Rudi

    Saya ingin bertanya, adakah teori yang bisa menggambarkan hubungan antara fund characteristic (timing, stock selection, turnover, dsb) dengan kinerja reksa dana itu sendiri? Selama ini saya hanya menemui teori portofolio (menurut saya teori ini bersifat general). Misalnya, tidak seperti pada rasio keuangan, seperti DER, Profitabilitas, dll mempunyai pakem teori Pecking order.

    Apakah pada reksa dana memang belum ada teori yg membahas hal tsb? Saya hanya menemukan berpedaan2 pendapat dari para ahli, misalnya Grinblatt & Titman yang sejalan dgn “conventional wisdom” bahwa seiring dengan bertambahnnya size maka turnover dan kinerja akan turun, disisi lain ada yg berpendapat sebaliknya bahwa size yg besar dpt mengurangi biaya dan mampu mencapai skala ekonomis. Ada juga yg berpendapat size meningkat maka turnover juga akan meningkat.

    Oiya pak, saya juga masih belum paham mengapa size yg besar dapat mengurangi biaya transaksi, biaya riset, pialang, dll? Apakah karena RD dengan size besar cenderung pasif / memiliki turnover yg rendah?

    Mohon maaf kalau pertanyaan saya merepotkan pak
    Terima kasih.

  81. Rudiyanto
    May 30th, 2017 at 01:03 | #81

    @Jody
    Salam Pak Jody,

    Kalau soal teori saya kurang tahu, silakan anda googling artikel / jurnal akademis yang ada.

    Mengenai size, skala ekonomis dan turn over, benar atau salah hanya bisa dibuktikan dengan melakukan penelitian berdasarkan data dalam jangka panjang. Namun setahu saya, data seperti itu sangat sulit untuk diperoleh. Jika memang datanya ada, silakan dibuktikan.

    Definisi besar dan kecil sendiri masih sangat relatif karena tergantung pada kapitalisasi dan likuiditas saham di bursa yang menjadi transaksinya. Ukuran reksa dana Rp 10 Triliun mungkin dianggap besar untuk Indonesia karena belum banyak yang bisa mencapainya, namun jika Rp 10 Triliun di pasar Amerika Serikat atau China, mungkin dikategorikan sedang atau bahkan kecil karena besarnya kapitalisasi pasar di negara tersebut. Bahkan untuk ukuran Indonesia, kalau semakin banyak perusahaan besar yang IPO, maka Rp 10 Triliun mungkin sudah bukan besar lagi karena pilihan saham semakin tersedia.

    Kemudian soal biaya riset, pialang dan turn over itu relatif. Tergantung preferensi manajer investasi. Belum tentu kalau sudah besar menjadi pasif, definisi besar itu juga masih relatif. Sekali lagi hal ini perlu dibuktikan dengan penelitian yang didukung dengan data. Jadi sebelum benar2 terbukti, tidak bisa disimpulkan.

    Terima kasih

  82. Fiha
    June 1st, 2017 at 22:55 | #82

    Salam Pak Rudi,

    Saya ingin bertanya mengenai market timing dan stock selection. Berdasarkan penelitian yg saya lakukan, market timing berpengaruh positif tdk signifikan & stock selection berpengaruh positif sig thdp kinerja RD syariah 13-15.
    Saya sudah membaca beberapa jurnal serta literatur tentang variabel tsb tetapi belum dpt menemukan alasan konkrit yg dpt mendukung hasil temuan saya. Berdasarkan logika dan kesoktauan saya, mungkin timing positif tdk signifikan thdp kinerja disebabkan perubahan indeks pasar yg cukup berfluktuasi sehingga profil risiko masih lumayan tinggi serta sulitnya melakukan timing. Positif karena logikanya kemampuan melakukan peramalan meningkat maka potensi mendapat capital gain akan bertambah pula. (saya msh bingung alasan lainnya)

    Sedangkan untuk stock selection, positif sig karena saham yg tepat mampu mendatangkan retunr yg akhirnya berdampak pd naiknya kinerja. Stock selection berkaitan dgn strategi buy&hold atau konservatif, dmn biaya transaksi cenderung rendah. Saham yg tepat berpotensi berkembang dgn relatif stabil.

    Mungkin Bapak bisa bantu menambahkan alasan lainnya? atau mengoreksi alasan yg saya gunakan.
    Terima kasih

  83. Rudiyanto
    June 4th, 2017 at 14:39 | #83

    @Fiha
    Salam Pak Fiha,

    Pemahaman orang awam tentang market timing itu manajer investasi bisa tahu kapan waktunya untuk keluar masuk pasar. Sehingga sebelum turun dalam, manajer investasi sudah pegang cash dan ketika akan naik tinggi, manajer investasi sudah beli banyak.

    Pada prakteknya, hal ini sangat tidak mungkin untuk dilakukan, atau kalaupun bisa, rasanya tidak akan bisa konsisten bertahun-tahun. Saya sependapat juga dengan anda bahwa melakukan market timing itu tidak mudah, sekalipun untuk yang sudah ahli di pasar modal. Dan karena kebijakan yang berlaku untuk reksa dana saham adalah minimal 80% di saham, maka apapun kondisinya, minimal 80% alokasi harus diletakkan di saham.

    Dan karena kebijakan itu pula, biasanya manajer investasi memang memiliki sekelompok saham pilihan yang di buy and hold sampai harganya sudah cukup menarik untuk dijual.

    Faktor lain, untuk reksa dana saham yang dana kelolaannya sudah relatif besar, kalau mau melakukan market timing secara aktif, pilihan sahamnya akan semakin sedikit karena jika jumlah yang ditransaksikan sedikit belum tentu berefek ke kinerja reksa dana, semakain jika yang ditransaksikan besar, belum tentu pasar bisa menyerap transaksi tersebut (alasan likuiditas).

    Semoga bisa membantu.

  84. Jimmy
    June 4th, 2017 at 20:09 | #84

    Dear Pak Rudiyanto,

    Saya sudah mencoba menerapkan perencanaan keuangan dengan reksadana saham.
    Ini sudah berjalan di tahun ke-3.

    Asumsi saat perencanaan awal, saya menghitung return rate 20%/tahun.

    Namun dalam prakteknya, hasil reksadana yang dikelola hanya menghasilkan rate 2% dari awal saya invest sd hari ini.

    Pertanyaan saya:
    1. Apakah sebaiknya saya switch ke reksadana lain yg kinerja lebih bagus, dengan pertimbangan tidak tercapainya asumsi return rate?
    Padahal secara teori disampaikan evaluasi Reksadana Saham harus di atas tahun ke-5.
    Jadi apa saya harus menunggu sd > dari tahun ke 5 tsb?

    2. Pemilihan reksadana sebenarnya acuan yg benar bgmn? Karena saya pernah baca artikel Bapak Rudi, semata2 melihat kinerja tahunan dan dana kelolaan tidak serta merta menjamin juga. Bagaimana Pak?

    Terima kasih

  85. Rudiyanto
    June 9th, 2017 at 18:05 | #85

    @Jimmy
    Selamat sore pak Jimmy,

    Sebelum menjawab pertanyaan anda, menurut saya angka asumsi return 20% yang kamu pergunakan terlalu tinggi meskipun secara historis pernah tercapai atau bahkan lebih. Namun perlu diperhatikan juga bahwa ada risiko tingkat return tersebut tidak tercapai. Untuk itu, 15-17% rasanya lebih wajar.

    Sebagai referensi anda bisa membaca disini http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/05/22/133235126/berapa.ekspektasi.return.yang.wajar.di.reksa.dana.saham.

    Dari sisi risiko, perlu dipahami bahwa investasi saham bisa naik turun. Walaupun jangka investasinya sudah 3 – 5 tahun sekalipun tetap memiliki risiko penurunan. Statistik secara lengkap yang pernah saya buat di artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/26/berapa-lama-periode-investasi-berkala-yang-ideal/

    Menunjukkan jika anda autodebet Rp 1 juta per bulan selama 5 tahun (60 bulan), maka hasil investasi (termasuk pokok) anda pada akhir tahun ke 5 berdasarkan data aktual bisa berkisar antara Rp 49 juta hingga Rp 186 juta. Artinya setelah 5 tahun pun, investor reksa dana saham masih bisa berpotensi rugi.

    Hal ini memang tidak menyenangkan, namun itulah risiko investasi. Berdasarkan, yang tidak rugi adalah investasi berkala selama 6 tahun.

    Sehubungan dengan pertanyaan anda:
    1. Dalam pertimbangan untuk memindahkan ke reksa dana lain, perlu memperhatikan sebagai berikut : Apakah tidak tercapainya asumsi return karena memang kinerja saham secara umum yang sedang kurang baik atau karena kinerja saham sudah baik, tapi memang reksa dana pilihan anda yang kurang baik.

    Jika memang karena kinerja pasar saham secara umum yang kurang baik, maka hal ini tidak terhindarkan. Mau pindah kemanapun rasanya tidak akan begitu jauh berbeda.

    Namun jika penyebab utamanya adalah kinerja reksa dana yang kurang baik maka investor bisa punya 2 pilihan. Jika masih mau memberikan kesempatan kepada manajer investasi untuk memperbaiki kinerja, tentu manajer investasi akan sangat berterima kasih, namun jika ada pilihan lain yang lebih baik, menurut saya perpindahan ke produk lain juga tidak masalah.

    Yang penting adalah memberikan waktu yang cukup. 3 – 5 tahun untuk suatu reksa dana saham rasanya sudah cukup. Tapi jangan 3-5 bulan karena terlalu cepat juga.

    2. Yang penting menurut saya adalah konsistensi kinerja dan kualitas layanan yang diberikan perusahaan. Yang dimaksud dengan konsistensi adalah belum tentu harus selalu nomor 1, tapi setidaknya sama atau di atas rata-rata pasar. Sementara untuk kualitas pelayanan sifatnya kualitatif. Setiap orang bisa punya pengalaman berbeda tergantung interaksinya dengan manajer investasi dan atau agen penjual.

    Penting juga untuk memahami bahwa setiap investasi tentu ada risiko. Kadang semuanya sudah tepat, tapi pas ketemu kondisi pasar yang sedang kurang baik, sebagus apapun kemampuan Manajer Investasi, tentu kinerja yang bisa dihasilkan juga terbatas.

    Untuk itu, bisa juga mempertimbangkan melakukan diversifikasi pada selain reksa dana saham karena walaupun asumsi returnnya tidak sebesar saham, terkadang ketika kondisi pasar sedang kurang bagus, kinerjanya masih bisa tetap positif.

    Semoga bermanfaat dan semoga tujuan keuangannya bisa tercapai.

Comment pages
1 2 535
  1. May 29th, 2011 at 17:12 | #1
  2. October 4th, 2011 at 17:40 | #2

 


%d bloggers like this: