Home > Belajar Reksa Dana, Riset Reksa Dana > Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Evaluasi terhadap kinerja merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih jenis reksa dana yang menjadi tujuan investasi. Oleh karena itu, sebelum memilih berinvestasi pada reksa dana sebaiknya investor melakukan penilaian terhadap kinerja yang ingin dimilikinya. Namun bagaimana cara melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana? apakah cukup hanya dengan return? Jika tidak, indikator apa yang harus digunakan oleh investor? Bagaimana pula cara untuk mengetahui baik buruknya kinerja tersebut?

Dalam buku dan literatur investasi, reksa dana adalah sekumpulan dari portofolio. Oleh karena itu, pengukuran kinerja reksa dana dikenal juga dengan istilah Evaluation of Portfolio Performance.

Metode evaluasi kinerja portofolio secara khusus hanya mengukur risk and return dari portofolio investasi (reksa dana) yang bersangkutan. Meski menurut kami cara ini belum komplit, namun memang bobot terbesar dalam penilaian kinerja reksa dana harus memperhatikan faktor ini.

Beberapa metode yang sering digunakan dalam evaluasi kinerja reksa dana antara lain:

  1. Risk Adjusted Return
  2. Sharpe Ratio (Reward to Variability Ratio [RVAR])
  3. Treynor Ratio (Reward to Volatility Ratio [RVOL])
  4. Capital Asset Pricing Model
    • Pendekatan Securities Market Line (SML)
    • Pendekatan Capital Market Line (CML)

Dimana formula untuk melakukan perhitungan di atas adalah sebagai berikut:

Untuk kepentingan pengukuran kinerja masa lalu, maka tingkat return yang dipergunakan adalah menggunakan rata-rata return geometrik. Dalam kasus pengukuran kinerja dengan pendekatan CAPM yang dimaksud dengan expected return bukanlah return pada masa mendatang, akan tetapi merupakan tingkat return yang seharusnya terjadi berdasarkan tingkat risiko di masa lalu.

Supaya lebih memudahkan contoh perhitungan dan hasil interprestasi dengan menggunakan Indeks Reksa Dana Saham, Campuran, Pendapatan Tetap dan IHSG sebagai indikator Pasar dengan menggunakan data 5 tahun terakhir (2005 – 2010). Sumber data indeks dapat anda download secara gratis pada bagian ini di www.infovesta.com dengan mengklik tombol grafik yang ada pada sebelah kanan.

Hasil perhitungan secara sederhana karena untuk kepentingan ilustratif berikut dengan interprestasinya adalah sebagai berikut:

  1. Rata-rata return tahunan geometrik adalah rata-rata return dari keempat indikator di atas selama 5 tahun terakhir setelah memperhitungkan faktor bunga berbunga. Pengukuran return dilakukan dengan menggunakan metode rata-rata return geometrik. Hasil diatas menunjukkan IHSG sebagai market merupakan instrumen dengan kinerja paling baik yang diikuti dengan rata-rata Reksa Dana Saham, Campuran dan kemudian reksa dana pendapatan tetap
  2. Standar Deviasi (Risiko), dalam definisi statistik adalah simpangan baku dari rata-rata. Dalam definisi keuangan, standar deviasi merupakan suatu angka yang merncerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi. Yang dimaksud dengan total risiko adalah risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Semakin besar angka tersebut semakin besar pula risiko yang berarti semakin besar fluktuasi harga suatu reksa dana.
  3. Beta dalam definisi keuangan, adalah menunjukkan “hanya” risiko sistematis dari suatu portofolio investasi. Meski hanya mewakili sebagian dari risiko reksa dana, indikator ini lebih investor friendly karena lebih mudah diterjemahkan. Misalnya Infovesta Equity Fund Index memiliki beta 1.0259. Maka ketika IHSG bergerak naik 1% maka diperkirakan indeks tersebut akan bergerak naik sebesar 1.0259% dan sebaliknya. Jika suatu reksa dana memiliki beta lebih kecil dari satu maka pengaruh fluktuasi harga IHSG terhadap harga reksa dana tersebut juga semakin kecil. Secara umum interprestasinya sama dengan total risiko.
  4. Risk Free Rate yang dipergunakan adalah SBI 9 bulan terakhir. Penggunaan ini bersifat opsional, ada pula yang menggunakan Yield Obligasi 5 atau 10 tahun sebagai indikator Risk Free.
  5. Risk Adjusted Return (RAR) sebesar 0.9601 pada IHSG dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka IHSG memberikan return 0,9601%. Semakin besar RAR, maka semakin baik pula kinerja suatu reksa dana karena memberikan return yang tinggi atas risiko yang ditanggungnya.
  6. Sharpe Ratio sebesar 2,6935 pada Infovesta Fixed Income Fund Index dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka rata-rata reksa dana pendapatan tetap memberikan excess return sebesar 2,6935%. Yang dimaksud dengan Excess return yaitu selisih return reksa dana dengan Risk Free. Dasar pemikirannya, selain return positif, return reksa dana juga seharusnya di atas tingkat return instrumen bebas risiko. Interprestasi baik buruknya sharpe ratio sama dengan RAR.
  7. Treynor ratio sebesar 0.1630 pada Infovesta Balanced Fund Index, dapat diinterprestasikan bahwa atas 1% risiko sistematis yang ditanggung, reksa dana memberikan excess return sebesar 0.1630%. Selanjutnya baik buruknya interprestasi sama dengan Sharpe Ratio dan RAR, perbedaan hanya pada risiko yang digunakan.
  8. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Securties Market Line (SML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko sistematisnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Equity Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko sistematis (beta) sebesar 1.0259, Risk Free 6,75% dan Return Market (IHSG) sebesar 26.08%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana saham harus membukukan return 26,58%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 21,61%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka -4,96% menunjukkan performa Infovesta Equity Fund Index 4,96% lebih rendah dari yang diharapkan (underperform)
  9. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Capital Market Line (CML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko Totalnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Fixed Income Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko total (standar deviasi) sebesar 4.07%, Risk Free 6,75%, Return Market (IHSG) sebesar 26.08% dan risiko totalnya sebesar 27,16%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana pendapatan tetap harus membukukan return 9,65%%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 10,97%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka 1,32% menunjukkan performa Infovesta Fixed Income Fund Index 1,32% lebih tinggi dari yang diharapkan (outperform)

Dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana, seluruh perhitungan dilakukan dengan cara membandingkan antara kinerja reksa dana yang satu dengan reksa dana yang lain. Jadi, investor harus memilih 1 rasio yang ingin dipergunakan sebagai dasar pemilihan kinerja, selanjutnya dihitung rasio tersebut untuk sekelompok reksa dana dengan menggunakan data yang sama panjang. Selanjutnya rasio tersebut diperingkat, reksa dana dengan rasio yang paling tinggi berarti reksa dana tersebut berdasarkan metode yang digunakan merupakan reksa dana yang paling baik kinerjanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan investor adalah bahwa pengukuran kinerja tersebut hanya melihat dari sisi risk and return. Kewajaran isi portofolio, faktor besar kecilnya jumlah dana kelolaan, layanan dan transparansi informasi merupakan indikator yang tidak kalah penting dan tidak tercermin secara langsung dari pergerakan harga reksa dana.

Demikian semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi referensi bagi anda yang ingin melakukan penelitian di reksa dana.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa lalu tidak akan selalu terulang pada masa mendatang.

Keterangan IHSG (Market) Infovesta Balanced Fund Index Infovesta Fixed Income Fund Index Infovesta Equity Fund Index
Rata-rata Return Tahunan Geometrik 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Standar Deviasi (Risiko) 27.16% 16.76% 4.07% 28.40%
Beta 1.0000 0.5821 0.0527 1.0259
Risk Free Rate (SBI 9 bulan) 6.75% 6.75% 6.75% 6.75%
Risk Adjusted Return (RAR) 0.9601 0.9688 2.6935 0.7609
Sharpe Ratio (RVAR) 0.7116 0.5661 1.0364 0.5232
Treynor Ratio (RVOL) 0.2013 0.0980 0.0157 0.1953
CAPM – Pendekatan SML
Expected Return 26.08% 18.00% 7.77% 26.58%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha SML 0.00% 1.76% -3.20% 4.96%
CAPM – Pendekatan CML
Expected Return 26.08% 18.68% 9.65% 26.96%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha CML 0.00% 2.44% -1.32% 5.35%
  1. Hermawan
    May 18th, 2011 at 06:19 | #1

    Dear Pak Rudi,

    Kalau boleh tahu, diantara semua teknik evaluasi di atas, Alpha, Risk Adjusted, Sharpe Ratio, Beta Korelasi, dsb, mana yang paling Bapak sukai / prioritaskan ketika mengevaluasi suatu RD?

    Terima kasih.

  2. May 18th, 2011 at 11:51 | #2

    @Hermawan
    Yth Pak Hermawan,

    Di antara seluruh metode di atas, yang dipergunakan Infovesta dalam melakukan rating adalah Sharpe Ratio dan Metode Capital Asset Pricing Model dengan metode CML karena lebih representatif dan mencerminkan risiko secara keseluruhan.

    Sebagai informasi tambahan, cara di atas bukan semua, ada pula cara-cara lain yang dipergunakan seperti Information Ratio, Sortino Ratio, Roy Safety First Ratio dan Value At Risk serta berbagai metode lainnya yang sudah pernah ditemukan oleh para ahli namun masih belum dikenal secara umum oleh masyarakat. Mudah2an bisa dibahas dalam kesempatan2 yang akan datang.

  3. Hermawan
    May 18th, 2011 at 12:14 | #3

    Terima kasih Pak Rudi. Saya jadi paham sekarang, memang terbaik adalah mengukur rasio resiko imbalan, yang mungkin digabung mencari tahu siapa saja staff ahli di dalam mi-nya.

    Sekali lagi, terima kasih sharing ilmunya.

  4. anna
    May 20th, 2011 at 04:23 | #4

    Yth Pak Rudi,

    Pak Rudi, saya baru saja menjual emas perhiasan yang saya beli tahun 1989 sebesar
    20.000/gram kemarin tahun 2011 seharga 300.000,-/gram.
    Bagaimanakah cara menghitung bunga majemuknya, apakah dengan deposito bunga majemuk return investasi emas masih lebih besar ?
    Mohon bantuan, dan petunjuknya. terima-kasih.

  5. May 20th, 2011 at 04:54 | #5

    @anna
    Yth Ibu Anna,

    Kalau saya bantu hitung, asumsinya sebagai berikut:
    Investasi Awal Rp 30.000
    Investasi Akhir Rp 300.000
    Masa Investasi 2010 – 1989 = 21 tahun (anggap belinya akhir 1989 jualnya akhir 2010)

    Itu sama dengan 13.76%. Nah itu bagus atau tidak bisa anda bandingkan dengan rata-rata return 15 tahun IHSG yang ada di sini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/files/2011/04/Return-IHSG-Jangka-Panjang-1984-2011.png
    atau artikel selengkapnya bisa anda baca disini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/02/apakah-investasi-saham-jangka-panjang-pasti-menguntungkan/

    Tapi ternyata kalau dari emas hiasan sama emas murni, “diskon”nya lumayan besar juga ya? Kan untuk emas murni itu buybacknya pricenya sepengetahuan saya sekitar 400rb. Terima kasih atas sharing dan informasinya

    Semoga dapat membantu

  6. Gita
    May 22nd, 2011 at 03:51 | #6

    Dear Pak Rudi,,

    Saya ingin bertanya..
    Apakah bapak tahu wesite,blog atau media dimana tersedia informasi/kasus evaluasi kinerja reksadana di indonesia?
    Mohon bantuannya,Pak Rudi..Saya membutuhkan informasi ini sebagai tugas kuliah saya..
    Terimakasih…

  7. May 22nd, 2011 at 07:33 | #7

    @Gita
    Yth Ibu Gita,

    Seingat saya, tulisan tentang evaluasi kinerja reksa dana selain dibahas dalam tabloid kontan, juga pernah dimuat dalam Majalah Investor yang ditulis oleh rekan saya pak Edbert. Cuma untuk edisi ke berapa dan yang diterbitkan bulan apa saya lupa.

    Untuk tabloid kontan, anda bisa cari dengan mentelusuri kontan e-paper dan coba cari edisi lama. Kalau untuk Majalah Investor, sepertinya masih belum ada versi e-papernya. Untuk website, informasi dan analisis tersebut tersedia di http://www.infovesta.com. Untuk situs lainnya, saya rasa di perpustakaan digital universitas juga ada karena topik tersebut cukup sering dipakai sebagai topik skripsi. Anda juga bisa mencoba peruntungan anda di website bapepam.go.id dimana di situ ada data artikel yang merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang yang bekerja di Manajer Investasi. Siapa tahu, ada tulisan yang membahas tentang topik tersebut.

    Sebetulnya perhitungan di atas bukan perhitungan yang terlalu rumit, sepanjang data yang ingin dicari ada, dan bisa dilihat di website kontan yang bagian pusat data yang gratis tapi anda meski sedikit repot untuk copypaste, hitung, dan kemudian melakukan analisa, atau di website infovesta yang sudah jadi namun berbayar (jika anda tidak ingin repot) sehingga fokus anda cukup pada analisisnya saja.

    Semoga bisa menjawab pertanyaan anda.

  8. sutrisno
    May 28th, 2011 at 04:53 | #8

    salam kenal pa rudy,
    sy pernah coba ikut RD mandiri syariah atraktif( nekat masuk pdhal belum ngerti :)..)
    saya nyimpan 1jt rupiah. setelah 3th saya jual ko cuma dpt 200rb..! tolong koreksi pa salah sy di mana karna sy ingin mencoba lagi ikut RD untuk nyiapin beli rumah 5th ke depan pa.
    klo bisa bahasannya di kirim ke e mail sy. terima kasih pa rudy

  9. Henvi
    June 9th, 2011 at 14:56 | #10

    Yth Pak Rudi,

    Karena saya tidak berpengalaman sama sekali tapi sangat berminat untuk mulai berinvestasi di reksadana, jadi saya ingin meminta pendapat Bapak bila seandainya ingin memilih reksadana, dimana yang satu adalah reksadana yg sudah berjalan 10tahun dengan NAB sekitar Rp10ribu dan yang kedua adalah reksadana baru tahun pertama dengan NAB Rp.1ribu. Yang ingin saya tanyakan apakah dengan membeli harga unit Rp.1ribu utk naik menjadi Rp.2ribu (mendapatkan keuntungan 100%) akan lebih mudah dicapai dibandingkan dengan membeli harga unit Rp.10ribu untuk mencapai Rp.20ribu bila kedua reksadana sama2 menjanjikan performanya.
    Mohon pencerahan dari Bapak. Terima kasih.

  10. June 9th, 2011 at 15:48 | #11

    @Henvi
    Yth Henvi,

    Jawaban untuk pertanyaan anda bisa anda baca di sini:
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/profile/2011/04/18/reksa-dana-mahal-reksa-dana-murah-2/
    dan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/profile/2010/10/10/reksa-dana-mahal-reksa-dana-murah-1/

    Jika anda ingin mencari arsip artikel lama bisa sini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/profile/arsip/

    Semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

  11. winda
    July 6th, 2011 at 09:34 | #12

    Dear Pak. Rudy

    saya ingin bertanya..
    bagaimana cara untuk menghitung kemampuan manajer investasi reksa dana saham mengenai kemampuannya dalam stock selection dan market timing dengan menggunakan metode henriksson-merton dan treynor-mazuy?apa kira-kira data yang dibutuhkan untuk menghitung metode tersebut?

  12. July 6th, 2011 at 23:41 | #13

    @winda
    Yth Winda,

    Untuk cara menghitung metode tersebut bisa coba anda searching di google dengan memasukkan kata kunci nama metode dan penemunya. Sebetulnya perhitungan dengan menggunakan kedua cara tersebut tidak terlalu sulit. Sebab tidak ada matematika non linear yang terlibat disini. Hanya regresi biasa dengan 2 variabel. Dari regresi tersebut anda akan menghasilkan 3 indikator yaitu Alpha yang menunjukkan kemampuan pemilihan saham (Stock Selection), Beta 1 (Sensitivitas reksa dana terhadap IHSG) dan Beta 2 (Kemampuan Manajer Investasi melakukan Market Timing).

    Perbedaan utama antara Henriksson Merton dengan Treynor Mazuy dalam menggunakan variabel dalam menghitung beta 2 tersebut. Seingat saya kalau tidak salah, Metode Treynor Mazuy menggunakan (Return Market – Risk Free)^2 sebagai varibel regresi untuk menentukan beta2. Sementara metode Henriksson Merton menggunakan angka 0 dan 1. Dimana 0 adalah ketika Return Market lebih rendah dari Risk Free dan Return Market lebih tinggi dari Risk Free.

    Data yang dibutuhkan saya kira bisa anda baca dalam buku panduan yang anda gunakan. Jika memang ini adalah tugas skrispsi, tesis atau desertasi anda, ada baiknya anda mencoba mencari sendiri seluruh panduan dan indikator yang ada, karena “mencari dan menemukan data” adalah bagian dari proses pembelajaran yang akan membuat hasil kerja anda semakin berharga nanti.

    Semoga bermanfaat.

  13. winda
    July 8th, 2011 at 14:51 | #14

    Dear Pak Rudy,

    Menyambung pertanyaan saya diatas..memang ini merupakan skripsi saya pak, saya sudah mencari2 namun saya kesulitan menemukan penelitian terdahulu yang sejenis dengan penelitian saya ini..mohon bantuannya pak?

    • July 8th, 2011 at 17:00 | #15

      Yth Winda,

      Mengapa tidak memulai dari buku panduan yang anda pergunakan dulu, jika tidak ada bisa ditanyakan ke dosen pembimbing anda. Tentu sudah pasti judul yang anda ajukan tersebut sudah anda (atau dosen anda) pikirkan dahulu bukan?

      Saran saya, skripsi bisa bagus meskipun tidak menggunakan referensi penelitian terdahulu. Sebab anda bisa memulainya dengan membaca dasar teori metode yang anda kemukakan di atas kemudian mencoba mengaplikasikan teori tersebut berdasarkan kondisi nyata yang ada. Jadi pertama, rumusnya apa. Kemudian variabel-variabel dalam rumus tersebut apa, baru kemudian setelah variabel tersebut ditemukan anda coba lakukan kalkulasi sesuai dengan rumus yang ada di buku. Nah, baru ketika hasilnya keluar anda baru cari referensi penelitian sejenis untuk mengecek apakah cara perhitungan anda sudah benar atau salah. Terkadang bisa kita sendiri yang salah, terkadang bisa saja referensi yang kamu lihat malah yang salah.

      Percayalah, proses seperti ini akan membuat anda menjadi lebih baik. Selamat mencoba…

  14. Razif
    July 20th, 2011 at 07:29 | #16

    selamat pagi, Bp. Rudy.
    sebelumny blog bapak bermanfaat sekali.

    saat ni sy sedang melakukan penilitian tentang tingkat pengembalian, resiko, dan kinerja sebuah reksa dana.
    disini sy ingin membandingkan RD yg besifat konv. dan syariah, ada bbrp metode penulisan yg telah sy dapatkan, diataranya; metode Risk Adjust Perfomance (sharpe, treynor, n jensen). kira2 metode apalagi yg bs sy gunakan untuk membandingkan tingkat pengembalian, resiko, dan kinerja sebuah reksa dana?

    terima kasih.

  15. July 20th, 2011 at 17:31 | #17

    @Razif
    Untuk pengukuran kinerja sebetulnya ada cukup banyak akan tetapi biasanya merupakan derivatif dari metode di atas seperti:
    Bentuk Lain Risk Adjusted Return:
    Sortino Ratio yang memperhitungkan Downside Risk
    Roy Safety First Ratio
    Bentuk lain Jensen:
    Market Timing and Asset Allocation

    Ada juga Value At Risk yang bisa diukur dengan 3 metode seperti cara manual, metode mean variance (mungkin ini, saya agak lupa namanya) dan metode monte carlo simulation

    Demikian pak, semoga bermanfaat.

  16. Razif
    July 22nd, 2011 at 10:56 | #18

    terima kasih bpk.
    evaluasi kinerja reksa dana da 4 model diantranya:
    treynor’s model
    sharpe’s model
    jensen’s model
    treynor n black’s model
    menurut bapak sendiri jika ditinjau dari tingkat validitasnya, yg manakah dari evaluasi kinerja reksa dana menurut bapak atau dari yang saya maksudkan di atas?
    krn saya tidak mengetahui persis apakah model yang bpk berikan memiliki hasil yang berbeda dengan kata lain rumus berbeda hasil yang didapat berbeda.

    oh iya, buku apa yang memuat rumus2 dalam model evaluasi kinerja menurut yg bapak tuliskan beberpa waktu lalu?

    terima kasih..

  17. July 22nd, 2011 at 11:04 | #19

    @Razif
    Yth Razif,

    Saya kurang begitu mengerti maksud pertanyaan anda tentang validitas, rumus dan hasil, bisakah coba anda lebih dijelaskan lagi?

    Mengenai buku bisa coba anda searching di google, rasanya kalau buku Indonesia jarang yang membahas metode tersebut. Beberapa teori di atas dibahas dalam materi CFA (Chartered Financial Analyst) tapi kebanyakan saya menemukannya dalam publikasi riset yang dimuat dalam situs universitas atau situs tentang penelitian keuangan. Jadi bentuknya bukan buku.

  18. gun
    August 7th, 2011 at 20:59 | #20

    Dear pak rudy.

    saya sangat awam tentang reksadana, tetapi saya tertarik untuk belajar mengenai reksadana. Berdasarkan artikel bapak diatas mengenai metode-metode evaluasi kinerja reksadana, dari mana saya harus memulai untuk bisa belajar mengenai metode-motede tersebut, sedangkan teori-teori tersebut belum ada pembahasannya dalam bentuk buku yang komplit sehingga menyulitkan buat saya yang sangat awam.

    terima kasih. saya harap sgera bisa dijawab oleh pak rudi.

  19. August 8th, 2011 at 15:50 | #21

    @gun
    Yth Gun,

    Anda bisa coba buku CFA tentang Investment Performance Evaluation, Buku Investment Karangan P. Jones, atau bisa di wikipedia. Kebanyakan buku manajemen keuangan dan investasi juga ada membahas tentang teori di atas.

  20. LQM
    October 23rd, 2011 at 16:57 | #22

    dear pak rudy,
    saya mahasiswa fakutas ekonomi sedang melakukan riset yang membutuhkan perhitungan dengan menggunakan WACC. saya mau tanya sekarang sysematic risk (beta) Indonesia untuk tahun 2011 berapa ya? saya tidak tau bisa dapat darimana data beta tersebut.

  21. October 24th, 2011 at 14:42 | #23

    @LQM
    Mungkin bisa dicoba dengan menghitung beta dari IHSG terhadap indeks rata-rata saham dunia. Ada beberapa lembaga yang mengembangkan indeks untuk portofolio investasi yang sifatnya mendunia seperti Morgan Stanley World Index, CNBC100 dan lain-lain. Dengan menghitung beta antara IHSG dengan indeks saham dunia tersebut mudah2an bisa diperoleh beta untuk negara

  22. lusi
    February 5th, 2012 at 20:54 | #24

    dear pak rudy,
    bisakah metode2 ini digunakan untuk menghitung satu instrumen investasi saja..
    misal saya ingin mengukur kinerja saham PT. A dan PT. B untuk kemudian dibandingkan antar keduanya mana yg berkinerja lebih baik..

    bisakah dalam pengukurannya saya menggunakan metode2 diatas

    trims

  23. February 5th, 2012 at 22:04 | #25

    @lusi
    Salam Lusi,

    Metode yang disebutkan di atas merupakan metode yang secara akademis digunakan untuk mengukur kinerja portofolio investasi yaitu reksa dana. Memang tidak disebutkan secara akademis bahwa bisa atau tidak bisa digunakan untuk saham.

    Menurut saya, pengukuran kinerja perusahaan sebaiknya dilakukan dari sisi fundamentalnya. Apabila pasar dan informasi sempurna, maka harga suatu saham akan merefleksikan kinerja fundamental suatu perusahaan.

    Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  24. AP
    February 21st, 2012 at 15:54 | #26

    Dear Pak Rudi,
    Saya ada rencana untuk menabung dengan menggunakan reksadana dengan pembelian setiap bulan untuk dana pensiun saya dengan asumsi nilainya mengikuti prosentase dari pendapatan saya.
    Pertanyaan saya, kalau dana udah terkumpul lumayan banyak…:), bagaimana cara untuk profit taking, apakah ada indikator yang dapat saya pelajari?

    thx

  25. April 20th, 2012 at 13:36 | #28

    Siang pak Rudi.

    Langsung saja. Untuk kinerja rd panin dana maksima…..apakah kinerja mereka yang fantastis itu benar-benar kredibel. Maksud saya, bukan sekedar “too good to be true”.
    (terus terang, kasus Madoff agak terngiang juga).

    Kalau terjadi case spt Madoff disini, apakah ada perlindungan untuk investor akan dananya, atau bisa “lenyap” begitu saja (spt investor Madoff yang kelimpungan itu). Tidak ada seperti LPS di bank itu ya, kalu invest di RD.

    Mohon pencerahannya. Anda many thanks for your view.

  26. Rudiyanto
    April 20th, 2012 at 14:48 | #29

    @Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen
    Salam Pak Yodhia,

    Senang bisa kembali mendapat kunjungan “ahli manajemen” di blog ini.

    Terkait pertanyaan bapak, definisi kredibel itu mesti jelas. Jika yang bapak maksud kredibel = realistis, dimana misalnya disebutkan return suatu reksa dana adalah 500% dalam sekian tahun. Saya bisa tegaskan bahwa angka tersebut adalah angka yang realistis. Sebab jika memang investor memegang reksa dana tersebut selama sekian tahun yang lalu, maka keuntungan yang diperoleh adalah benar 500%, bukan cuma angka di atas kertas yang tidak bisa direalisasikan.

    Perhitungan return reksa dana menggunakan harga pasar wajar, artinya harga reksa dana (saham) dihitung dari harga pasar saham-saham secara individual. Dimana definisi wajar adalah dimana saham yang bersangkutan tersebut bisa diperjual belikan. Karena yang menghitung adalah Bank Kustodian dan harga yang digunakan adalah harga pasar, maka untuk kemungkinan untuk memanipulasi return suatu reksa dana amat kecil.

    Jika definisi kredibel adalah akan terulang di masa mendatang, maka kita harus kembali ke pakem investasi dimana kinerja masa lalu tidak selalu berulang di masa yang datang. Hal ini berlaku juga untuk semua reksa dana saham lainnya. Yang tidak fantastis bisa saja jadi fantastis, yang sudah fantastis bisa terus fantastis atau menjadi biasa-biasa sama saja. Tidak ada yang pasti.

    Kasus Madoff itu adalah kredibel definisi pertama, artinya tingkat return yang diperoleh investor bukan return yang dihitung dari harga pasar wajar, akan tetapi return yang dihitung dari harga manipulasi. Sehingga di atas kertas kelihatan selalu untung, namun ketika skema piramid keuangan runtuh, yang di atas kertas menjadi tidak ada artinya.

    Dengan aturan yang sangat ketat dari BAPEPAM-LK soal perhitungan harga pasar wajar, perhitungan Nilai Aktiva Bersih yang menggunakan jasa bank kustodian, maka kemungkinan kasus Madoff terulang di reksa dana Indonesia sangat kecil. Kalaupun ada return yang tidak wajar, hal tersebut bukan karena manipulasi. Silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/08/20/reksa-dana-dengan-kinerja-ekstrem/

    Namun jika skenario terburuk terjadi, maka tidak ada lembaga perlindungan investor reksa dana disini. Informasi bahwa reksa dana tidak dijamin oleh lembaga manapun memang selalu dicantumkan dalam prospektus. Meski demikian memang ada pasal dalam peraturan http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/regulasi_pm/peraturan_pm/IV/IV.B.1.pdf (pasal 7) dan http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/regulasi_pm/uu_pm/bab_VI.htm (pasal 46) yang mengatakan apabila pelanggaran yang dimaksud (bisa dibuktikan melalui pengadilan) maka investor bisa mendapatkan ganti rugi.

    Untuk reksa dana yang merupakan bisnis kepercayaan, memang agak sulit kalau kita masih belum percaya. Namun sejauh produk reksa dana yang bersangkutan sudah memiliki harga yang dipublikasikan di media massa, maka besar maupun kecil, reksa dana tersebut sudah bisa dikatakan cukup kredibel karena bukan investasi bodong.

    Semoga penjelasan yang panjang ini bisa cukup jelas untuk anda. Ngomong2 selamat membangun bisnis E-Learningnya. Semoga sukses selalu..

  27. April 21st, 2012 at 14:17 | #30

    As usual, your answer is really insightful.
    Many thanks pak.

  28. meita
    June 1st, 2012 at 11:52 | #31

    pak, mau tanya kalau mau cari data-data (sumber data) reksadana dan IHSG & SBI nya dimana ya??
    apakah IHSG itu dihitung sndri atau bagaimana??
    maaf saya kurang tahu untuk masalah di atas krn mau saya jadikan bahan untuk skripsi.
    kalau boleh minta saran sebaiknya mengangkat judul apa ya pak, terima kasih.
    meita

  29. Rudiyanto
    June 1st, 2012 at 12:39 | #32

    @meita
    Salam Meita,

    Untuk data bisa coba cari di website BAPEPAM, Bank Indonesia, Yahoo Finance dan Infovesta. Bisa juga langsung ke website Manajer Investasi, meski tidak semua Manajer Investasi menyediakan data untuk bisa di download.

    Kalau kamu tanya ke saya, topik yang menurut saya menarik untuk diangkat misalnya mencari probabilitas return suatu reksa dana, bentuk kurva distribusinya apakah normal atau tidak, dan bagaimana probabilitas tersebut bisa diterapkan dalam dunia nyata. Kalau evaluasi kinerja itu, rasanya sudah umum dan banyak dibahas, tapi topik yang di atas mungkin masih belum. Atau bisa juga coba cari di google tentang konsep2 investasi portofolio dan reksa dana yang bisa diangkat.

    Kalau yang lebih bersifat marketing, misalnya apa pertimbangan orang dalam memilih reksa dana, selain unsur kinerja? seberapa jauh sosial media (Forum Kaskus, Blog, Facebook, dan Twitter atau lainnya) mempengaruhi keputusan seseorang dalam memutuskan jenis reksa dana apa yang akan dibeli.

    Kalau dari sisi pengelolaan investasi, yang membahas berbagai metode evaluasi kinerja rasanya sudah umum, tidak ada nilai tambah yang terlalu besar.

    Demikian semoga bermanfaat.

  30. almuh41
    June 6th, 2012 at 20:54 | #33

    Selamat malam pak Rudi….

    Saya mau bertanya apakah metode sharpe, treynor dan jensen bisa digunakan pada setiap jenis kondisi pasar ( bullish, bearish ,dan sideways)?….Saya sudah membaca tulisan bapak tentang “Evaluasi Kinerja Reksa Dana Ketika Pasar Bergejolak” tapi saya masih kurang paham….tlong pencerahanny pak…:)

    terima kasih..

  31. Rudiyanto
    June 9th, 2012 at 17:42 | #34

    @almuh41
    Salam Almuh,

    Kalau memang masih kurang paham, bisa coba anda baca beberapa kali lagi. Bagian apa yang kamu masih belum paham?

  32. Bogostu
    August 8th, 2012 at 16:08 | #35

    Dear Pak Rudi,

    Saya sangat tertarik dengan Artikel bapak, yang kemungkinan dapat saya gunakan untuk melihat pergerakan reksadana terhadap IHSG, sehingga dapat menentukan investasi saham yang tepat.

    Mohon diberi contoh penggunaan rumus yang bapak sampaikan agar dapat saya gunakan menganalisis kinerja ReksaDana Saham di Indonesia, menggunakan Sharpe Index, Treynor Measure, Jensen’s Measure. Atau ada artikel yang membahas lebih detail cara menganalisanya.

    Intermeso: “Masih newbie pak, semangat untuk mempelajarinya. :)

    Thanks ya Pak.

  33. Rudiyanto
    August 10th, 2012 at 03:37 | #36

    @Bogostu
    Yth Bogostu,

    Terkait pertanyaan anda, bukankah di atas sudah ada rumus dan perhitungan berikut hasilnya? Dan jika anda memang masih baru dan semangat untuk mempelajari, maka saran saya anda bisa baca di buka Investment karya P. Jones dan mencoba mempelajari metode tersebut secara lebih mendalam.

    Pembelajaran yang paling baik adalah dimulai dari bagaimana mencari data dan kemudian menganalisanya. Syukur2 hasil analisa dapat aplikabel dan mendatang keuntungan material juga bagi anda.

    Semoga sukses.

  34. Bogostu
    August 10th, 2012 at 10:13 | #37

    Terima kasih pak Rudi :)

  35. Ria
    September 27th, 2012 at 14:50 | #38

    Salam kenak Pak Rudy,

    Saya sedang mencoba menilai kinerja Reksadana dengan metode Sharpe, tapi saya bingung cara menggunakan rumusnya, boleh minta penjelasannya secara lebih detail ?

    Rumusnya kan Return reksadana- risk free dibagi dengan standar deviasinya.

    Seandainya saya ingin menilai kinerja reksadana dr thun 2008-saat ini,
    yg saya ambil cukup return per tahun atau return per tahun nya?

    dan risk free nya saya bisa dapat drmna ya?

    dan juga standar deviasi nya adalah standar deviasi atas return nya kan ya?

    Terima kasih banyak ya sebelumnyaa..

    Dan, btw, selain melalui web ini, saya bisa berkomunikasi dengan Pak Rudy dengan cara apa?

    Thanks before ya,
    Salam sukses selalu.. :)

  36. Rudiyanto
    September 29th, 2012 at 17:55 | #39

    @Ria
    Salam Ria,

    Bisa diperjelas soal pertanyaan return? Karena pertanyaan kamu berulang?
    Untuk Risk Free bisa coba dibaca di artikel di atas bukan? Selain itu bukankah ada google?
    Terkait standar deviasi, itu rumusnya apa?

    Untuk pertanyaan bisa dikomunikasikan via blog saja, terima kasih.

  37. Widi
    October 18th, 2012 at 10:48 | #40

    selamat siang pak rudy..
    saya ingin bertanya mengenai reksadana MNC Dana Ekuitas. dalam portofolio mereka, sebagian besar alokasi saham ditempatkan pada Bhakti investama group itu sendiri. mengingat berita yg berkembang akhir2 ini di mesia massa, ada kekhawatiran jika suatu saat saham tersebut berjatuhan akan mempengaruhi pihak afiliasinya.
    menurut bapak apakah pertimbangan yg pas utk membeli RD kelolaan MNC-AM?
    terima kasih

  38. Rudiyanto
    October 18th, 2012 at 14:14 | #41

    @Widi
    Selamat Siang juga Widi,

    Sebetulnya terlepas dari itu MNC Asset Management atau Asset Management yang lain, dalam berinvestasi reksa dana tentu beberapa faktor yang harus anda perhatikan adalah seperti:
    - Kinerja Historis
    - Konsistensi Kinerja dalam berbagai kondisi pasar
    - Kualitas Pelayanan dan Fasilitas yang diberikan
    - Kepercayaan dan keyakinan terhadap strategi investasi yang dijalankan oleh Manajer Investasi

    Khusus untuk point terakhir, merupakan point yang sangat subjektif. Ada yang nyaman dengan kondisi yang anda sebutkan di atas, ada pula yang tidak, bahkan ada juga yang tidak terlalu perduli. Karena tanpa harus berinvestasi pada portofolio yang disebutkan di atas sekalipun, harga saham tetap bisa berjatuhan. Oleh karena itu, saya kembalikan kepada anda soal yang terakhir tersebut.

    Semoga menjawab pertanyaan anda terima kasih.

  39. Widi
    October 18th, 2012 at 15:56 | #42

    oke pak rudi, terima kasih atas jawabannya… anyway kalo pak rudi sendiri beli RD kelolaan MNC apa tidak? hehe.. maap terlalu personal soalnya penasaran jangan2 AUM yg besar itu karena dibeli oleh afiliasi-nya juga… :D

  40. Rudiyanto
    October 18th, 2012 at 18:33 | #43

    @Widi
    Salam Widi,

    Sebenarnya selain reksa dana di Panin Asset Management, saya juga memiliki reksa dana di beberapa Manajer Investasi lain yang saya beli langsung ataupun melalui agen penjual. Reksa Dana MNC, saat ini belum saya miliki bukan karena tidak bagus atau saya tidak suka, namun lebih karena dana yang tersedia sudah teralokasi abis ke perencanaan investasi saya yang lain. Jadi saya belum fokus mempelajari reksa dana ini. Jika ada dana lebih, biasanya baru saya pelajari secara mendetail reksa dana yang bersangkutan. Jika masih belum, ya saya tidak lakukan apa2. Dan kalaupun seandainya saya beli, rasa2nya saya bukan pihak terafiliasi karena saya tidak memiliki saham / hubungan kerja dengan perusahaan tersebut.

  41. Widi
    October 19th, 2012 at 10:41 | #44

    @Rudiyanto

    thanks jawabannya pak.. iya saya hanya menanyakan ke pak rudi karena kapasitas pak rudi sebagai pengamat pasar modal dan sering membicarakan mengenai perencanaan keuangan dan investasi. bapak ikutkah di grup Facebook “Reksadana PT. Panin Asset Management”?

  42. Rudiyanto
    October 19th, 2012 at 12:04 | #45

    @Widi
    Pak Widi, kalau facebook saya jarang pak. Twitter juga sebenarnya cuma buat ngasih tahu kalau ada artikel baru. Kalau media sosial saya amat pasif pak. Jadi saya tidak ikut di grup yang bapak kemukakan tersebut.

  43. October 28th, 2012 at 15:26 | #46

    pak rudianto…

    bolehkh saya bertny ttg perhitungan beta??
    krn diatas yg saya dpt anda hanya lgsg membukukan nilai beta ini pak…

    dan juga ttg expected return yg saya pahami dr penjelasaan anda diatas ini adlh tingkat min return yg harus dilakukan reksadana…jika expected return saham, apakh pengertiannya sama dgn expected return reksadana pak??

    atau bpk bisa jelakan lbh detil lg??

    krn saya juga dpt pengertian bhwa expected rate of return ini adlh tingkat pengembalian shm atas investasi yg dilakukan investor…

    jd saya bingung pak,,expected return ini persentase penngembalian kpd investor atau expected return ini, persentase pengembaklian kpd reksadana atau saham??

    dan juga pak??return ini apakh return laba atau revenue pak????

    mohon infonya pak…trims

  44. Rudiyanto
    October 29th, 2012 at 13:58 | #47

    @arman wijaya
    Salam Arman,

    Perhitungan beta bisa diperoleh di banyak buku literatur investasi dan statistik. Anda tinggal meluangkan waktu anda untuk membaca dan mempelajari metode tersebut.

    Expected Return yang dikemukakan di atas adalah dalam konsep menjelaskan tentang CAPM (Capital Asset Pricing Model). Dimana berdasarkan risiko (baik itu Beta ataupun Standar Deviasi) dari pergerakan historis reksa dana, risk free rate dan return market dihitung berapakah tingkat return yang “wajar” untuk suatu reksa dana. Dalam hal ini, Expected berarti yang diharapkan, bukan yang akan terjadi.

    Konsep CAPM juga bisa digunakan untuk memprediksi tingkat return reksa dana di masa mendatang. Dalam hal ini Expected return berarti berdasarkan risiko historis, “prediksi” Risk Free Rate dan “Prediksi” return pasar, maka berapakah tingkat return reksa dana di masa yang akan datang.

    Jadi karena CAPM bisa digunakan untuk mengukur kinerja masa lalu dan memprediksi kinerja di masa mendatang, maka definisi expected return juga mengikuti untuk apa metode ini dipergunakan.

    Return dihitung dari Selisih Harga dibagi harga sebelumnya. Jadi bukan laba, juga bukan revenue.

    Semoga bermanfaat.

  45. October 29th, 2012 at 23:47 | #48

    pak rudianto,,

    saya telah membaca perhitungan beta,,, tetapi byk yg membingungkan..
    mungkin bpk pny info dr blog atau web yg lbh mudah dipelajari.

    dan juga pak,, metode expected return ini saya gunakan untuk menghitung persntase pengembalian saham…bgmn penilaian bpk soal ini??

    oh yaa pak,, saya peminat saham…tetapi saat saya pelajari lbh lnjut ternyata ada juga metode sharpe selain diatas, yaitu R/V= average return – risk free / standar deviasi..
    apakh bpk bisa menjelaskn lbh detil metode R/V ini dlm hal saham??

    mohon infonya pak…trims.

  46. Rudiyanto
    November 1st, 2012 at 14:15 | #49

    @arman wijaya
    Salam Pak Arman,

    Boleh tahu, dari web mana saja yang sudah anda baca?
    Untuk expected return, saya kurang mengerti, maksudnya apa ya? apakah cara tersebut benar atau tidak? Semua teori tentu selalu ada asumsi2 yang membuat cara tersebut berhasil atau tidak. Yang harus dipahami adalah asumsi2 yang digunakan ketika menggunakan teori tersebut. Apakah anda sudah paham asumsi dan dasar teorinya?

    Untuk saham bukankah rumus yang anda kemukakan di atas sama dengan Sharpe Ratio?

  47. ridwan
    November 2nd, 2012 at 14:12 | #50

    salam pak.
    mau tanya kalau tentang VaR dan RAROC ada g link yang bisa dijadikan referensi dan juga bukunya kalo ada yang dalam bahasa indonesia. terima kasih sebelumnya

  48. Rudiyanto
    November 2nd, 2012 at 14:23 | #51

    @ridwan
    Salam Ridwan,

    Anda sudah mencoba alat pamungkas 2 G? (Google dan Gramedia)

  49. sonia
    February 16th, 2013 at 10:47 | #52

    Pak Rudi, saya mau bertanya tentang metode penilaian kinerja reksa dana melalui metode treynor dan jensen. Saya meneliti reksa dana saham Panin Dana Prima periode 2008-2011 dengan menggunakan kedua metode tersebut. Menurut metode Treynor, hasil yang di dapat tahun 2008 kinerja reksa dana saham PAnin Dana PRima adalah yang terburuk sedangkan menurut metode Jensen, tahun 2008 menunjukkan kinerja yang terbaik. MEngapa hal tersebut bisa terjadi ya pak? Mohon bantuan bapak, terima kasih

  50. radityo
    September 6th, 2013 at 07:56 | #53

    selamat pagi pak rudi,
    saya mahasiswa matematika.dan skripsi saya tentang jensen.mau tanya, kalo rumus jensen itu di dapat dari asumsi2 apa ya pak?trus, apa bapak tau buku apa yang menjelaskan tentang analisisnya rumus jensen?
    trimakasih pak sebelumnya.

  51. Rudiyanto
    September 9th, 2013 at 09:22 | #54

    @radityo
    Salam Radityo,

    Coba cari2 di Buku2 Investment di bagian performance evaluation. Seharusnya di buku2 perpustakaan teori ini banyak dibahas, semoga bermanfaat.

  52. adam
    September 10th, 2013 at 14:59 | #55

    selamat siang pak,
    saya mau tanya tentang size reksadana.
    cara menghitungnya itu bagaimana dan pengaruhnya terhadap kinerja reksadana itu seperti apa?
    terimakasih pak sebelumnya

  53. Rudiyanto
    September 11th, 2013 at 12:36 | #56

    @adam
    Siang Adam,

    Size reksa dana itu Asset Under Management dan merupakan variabel yang sudah diketahui bukan dihitung.
    Mengenai penelitiannya bisa baca2 di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/09/apakah-besarnya-jumlah-dana-kelolaan-berpengaruh-terhadap-kinerja-reksa-dana-saham/

    Semoga bermanfaat.

  54. Nikko
    September 30th, 2013 at 20:18 | #57

    Malam pak Rudi.

    Saya ingin bertanya apabila ingin bermain reksadana secara swing trade dalam jangka waktu yang singkat (misal per 2 minggu atau per bulan), metode apa ya pak yang paling OK buat analisa pergerakan agar bisa melihat signal dan timing yang tepat untuk membeli dan menjual.

    Yang saya tahu ada beberapa analisa teknikal seperti fast stochastic, Williams %R, dan MACD.

    Mungkin Bpk ada saran dan masukan?

    Btw apakah di buku bapak ada membahas hal seperti itu?

    Thx

  55. Rudiyanto
    October 1st, 2013 at 11:09 | #58

    @Nikko
    Dear Nikko,

    Kalau tidak salah ada artikel yang judulnya analisa teknikal dan reksa dana. Anda juga bisa lihat dibagian arsip artikel.

    Saran saya, kalau mau swing trade dengan reksa dana, sebaiknya langsung di saham saja. Karena di reksa dana kamu tidak bisa memastikan harga yang anda dapat sementara di saham bisa. Lagipula biaya transaksi akan sangat mahal sekali jika kamu melakukannya di reksa dana. Semoga bermanfaat.

  56. risyad
    October 17th, 2013 at 07:47 | #59

    selamat pagi pak,
    saya mau bertanya tentang stock selection dengan metode treynor, mungkin bapak bisa menjelaskannya.
    terima kasih

  57. Rudiyanto
    October 20th, 2013 at 22:40 | #60

    @risyad
    Selamat malam Risyad,

    Kalau saya tidak salah itu adalah salah satu cara yang digunakan untuk menentukan bobot masing-masing saham dalam suatu portofolio yang optimal. Metode yang digunakan, seingat saya menggunakan metode Single Index Model. Keunggulan dari cara ini adalah bobot portofolio yang optimal bisa ditentukan dengan cara menghitung hingga ke detail ..% pada saham tertentu dan bukannya dengan cara simulasi dengan berbagai kombinasi sehingga lebih menghemat waktu dan lebih presisi.

    Metode ini juga setahu saya telah banyak digunakan dalam skripsi dan thesis. Harusnya tidak sulit mencari referensi di universitas atau website. Semoga bermanfaat.

  58. ateng
    October 30th, 2013 at 21:56 | #61

    selamat malam pak,
    mau nanya soal risk free. biasanya kalo risk free itu dibagi lagi dengan jumlah harinya gak pak? misalnya sbi 9bln/270.
    mohon penjelasannya pak.

    terima kasih

  59. Rudiyanto
    October 31st, 2013 at 11:54 | #62

    @ateng
    Siang Ateng,

    Boleh tahu untuk apa SBI dibagi jumlah hari?

  60. ateng
    November 1st, 2013 at 14:46 | #63

    @Rudiyanto
    iya pak, soalnya saya pernah liat di jurnal penelitian ttg reksadana. ada yang membaginya dengan dengan jumlah hari dalam 1 thn (365hr), ada jg yang membaginya dengan jumlah hari dalam 1 bln(30hr) tergantung jumlah tenor sbi nya. sedangkan contoh yg bapak berikan di atas itu tidak dibagi dengan jumlah hari/periode ya pak? mohon penjelasannya

    • Rudiyanto
      November 1st, 2013 at 15:01 | #64

      Dear Ateng,

      Misalkan kamu adalah orang yang membaca suatu laporan / penelitian, kamu lebih enak baca Risk Free 0.01643% per hari atau 6% per tahun?

  61. February 10th, 2014 at 23:33 | #65

    Selamat malam pak,
    saya ingin bertanya. kebetulan sekarang saya sedang melakukan skripsi tentang analisa pengukuran kinerja performa suatu reksadana. metode yang saya gunakan ada treynor dan sharpe. saya sedang mencari 1 metode lagi, tapi apakah ada metode selain Jensen, VAR, Roy’s Safety, dan Sortino? Karena saya tidak diperbolehkan menggunakan metode-metode yang barusan saya sebut itu. saya juga search di internet belum ditemukan, mungkin saya kurang dalam lagi mencarinya, tapi apakah bapak tahu metode lainnya itu?

    terima kasih

  62. Rudiyanto
    February 11th, 2014 at 15:41 | #66

    @Anangga
    Siang Anangga, betul sekali mencarinya belum teliti. Silakan cari dengan lebih teliti lagi. Semoga beruntung.

  63. ria
    April 8th, 2014 at 09:16 | #67

    Selamat pagi pak..
    Saya mau tanya, kalau untuk metode Sharpe, Risk Free Rate itu perlu dicari returnnya dulu atau tidak? Jadi dari suku bunga SBI dicari return nya dulu, lalu hasilnya dimasukkan ke dalam rumus Sharpe? Atau suku bunga SBI langsung dimasukkan ke dalam rumus Sharpe?

    Terima kasih…

  64. Rudiyanto
    April 9th, 2014 at 16:09 | #68

    @ria
    Salam Ria,

    Bagaimana cara mencari Return dari Risk Free Rate yang anda maksud?

  65. ria
    April 10th, 2014 at 10:02 | #69

    Misal, mencari Return RFR bln Maret : (suku bunga SBI bln Maret – suku bunga SBI bln Februari) / suku bunga SBI bln Februari

    Cara itu sama dengan perhitungan mencari Return pasar, Apakah bisa pak?

    Terima kasih…

  66. Rudiyanto
    April 10th, 2014 at 11:10 | #70

    @ria
    Make sense ga menurut kamu?

  67. ria
    April 17th, 2014 at 10:50 | #71

    Memang agak aneh pak…

    Kalau mau mencari rata-rata RFR itu kan jumlah suku bunga SBI dibagi periode. Periodenya itu sesuai dengan tenor suku bunga SBI yang diambil atau bukan pak? Misalnya digunakan suku bunga SBI 9 bln, maka untuk mencari rata-ratanya dibagi 273?
    Lalu ketika akan dicari rata-ratanya itu tetap dalam bentuk persentase atau tidak?

    Mohon penjelasannya pak…

    Terima Kasih…

  68. Rudiyanto
    April 17th, 2014 at 11:02 | #72

    @ria
    Apakah kamu tahu arti SBI 9 bulan itu apa?

  69. April 17th, 2014 at 11:47 | #73

    Dh. Pak Rudi

    bagaimana cara menghitung bunga efektif bila diketahui :
    kredit tanpa anggunan dengan bunga flat sebesar 1,5% per bulan selama 3 tahun setara dengan kredit bunga efektif berapa…??

  70. Rudiyanto
    April 17th, 2014 at 11:59 | #74

    @Edy Fatman
    Salam Pak Edy,

    Misalkan pinjam Rp 10 juta. Bunga flat 1.5% flat selama 3 tahun.
    Jadi perhitungannya
    Bunga = 1.5% x 36 x Rp 10 juta = Rp 5.400.000
    Pokok = Rp 10 juta
    Bunga + Pokok = Rp 15.400.000
    Cicilan = Rp 15.400.000 / 36 = Rp 427.778

    Kalau dimasukkan dalam rumus time value of money angka itu setara bunga efektif 2.55% per bulan atau 35.27% per tahun.

    Kalau mau gampang, bunga bulanan flat x 2 x 12 = kira2 bunga efektif tahunan

    Semoga bermanfaat

  71. April 17th, 2014 at 13:24 | #75

    Dh. Pak Rudi

    kemarin hari Rabu t.16.04.2014 ada staff dari bank menawar produk Reksadana equity, bagaimana mengukur kelayakan reksadana layak atau tidaknya kita masuk ke reksadana tersebut

    regards.
    edy fatman

  72. Rudiyanto
    April 17th, 2014 at 13:27 | #76

    @Edy Fatman
    Salam Pak Edy,

    Itu pertanyaan yang jawabannya cukup panjang pak. Kalau kebetulan anda berlokasi di Jakarta, anda bisa datang ke seminar http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/files/2014/04/Workshop-Reksa-Dana-Jakarta-April-2014.jpg tanggal 26 April nanti.

    Mudah2an dalam workshop ini, pertanyaan anda bisa lebih terjawab.

    Terima kasih.

  73. Amal
    June 23rd, 2014 at 11:18 | #77

    @Rudiyanto
    Ikut menyambung tentang model Henriksson Merton dan Treynor Mazuy. Dari kedua model ini bagaimana kita bisa menentukan indikator lebih baik/tidak? apakah semakin besar semakin bagus kemampuan manajer investasinya atau sebaliknya?

    thx.

  74. Rudiyanto
    June 24th, 2014 at 21:14 | #78

    @Amal
    Salam Amal,

    Apakah sudah membaca dasar teori dari kedua metode tersebut? Dan kalau sudah, apakah sudah membandingkan hasil penelitian menggunakan metode2 di atas. Manakah yang paling baik menurut anda?

  75. Chandra
    July 2nd, 2014 at 21:24 | #79

    Dear Pak Rudy,

    Mengenai Beta, saya lihat reksadana saham Millenium Equity in termasuk nyeleneh dengan beta 0.55. Kalau dilihat pergerakan NAB/UP nya memang kadang berkebalikan dengan IHSG, saat IHSG sedang turun dia malah naik. Kalau dilihat returnnya selama 1-3 tahun ini baik dan konsisten sekitar 20%.
    Pertanyaan saya, bagaimana strategi MI sehingga beta bisa tidak sejalan dengan IHSG? apakah dengan perputaran portofolia yang aktif.
    Adakah kekurangan reksadana saham yang betanya kecil?

    Terima kasih.

  76. Rudiyanto
    July 3rd, 2014 at 09:57 | #80

    @Chandra
    Salam Chandra,

    Pendapat saya tentang konsep Beta adalah sebagai berikut http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Pada dasarnya return reksa dana itu diperoleh dengan cara penyusunan portofolio dan market timing. Dan pada kebanyakan riset, penyusunan portofolio itulah yang menentukan sebagian besar dari kinerja suatu reksa dana. Kalau portofolio terdiri dari saham2 yang betanya kecil, otomatis beta reksa dana saham juga akan kecil dan sebaliknya.

    Perputaran portofolio itu kurang lebih sama dengan market timing yaitu jual beli dilakukan secara sering. Semakin aktif perputaran, maka secara teori beta juga akan semakin besar.

    Mengenai kekurangan dan kelebihan, itu relatif tergantung tingkat return yang diberikan. Kalau beta kecil tapi return besar mengapa tidak? Namun sesuai dengan referensi artikel yang saya berikan di atas, beta itu tidak konsisten.

    Mengenai kinerja konsisten yang anda maksud, saran saya coba kamu lihat dengan lebih teliti lagi return per tahun selama beberapa tahun terakhir termasuk kinerja YTD tahun ini.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

  77. July 10th, 2014 at 13:21 | #81

    Dear Pak Rudi,

    Saya sangat berterima kasih sebelumnya atas artikel yang bapak muat, kebetulan saya sedang menyusun tugas skripsi dengan tema besar evaluasi kinerja RD saham mnggunakan sharpe, treynor & jensen periode 2009-2013 (5 tahun). salah satu rumusan saya adalah melakukan analisis komparatif dari hasil RD yang saya peringkatkan setelah saya evaluasi menggunakan masing2 metode, saya komparasikan dengan peringkat RD terbaik versi majalah investor 2014…

    daftar RD terbaik versi investor yang saya gunakan sebagai pembanding adalah RD saham terbaik periode 5 tahunan. apakah penelitian ini memungkinkan dilakukan pak?

    tujuan akhirnya adalah saya ingin melihat signifikansi perbedaan antara peringkat RD versi Sharpe vs versi Investor, peringkat RD versi Treynor vs versi Investor dan peringkat RD versi Jensen vs versi Investor…

    saya sudah menjalani sidang proposal dan diterima, dalam pengolahan data, saya mendapati kesulitan pada saat menghitung BETA…. metode beta yg mana ya pak yang paling relevan yang saya gunakan? sementara ini saya mengunduh data Beta portfolio tiap RD dari web bloomberg… tapi pembimbing saya meminta saya untuk mencantumkan salah satu ilustrasi penghitungan Beta secara manual… mohon bantuannya pak Rudi…

  78. Rudiyanto
    July 14th, 2014 at 16:04 | #82

    @Andri
    Salam Andri,

    Kalau proposal tersebut sudah diterima, tentu dimungkinkan utk dilakukan.

    Kalau boleh tahu, memangnya ada berapa versi perhitungan beta yang kamu ketahui?

  79. July 15th, 2014 at 01:20 | #83

    Beragam Pak Rudi,

    beberapa yang saya baca meliputi: Beta Pasar, Beta Akuntansi, Beta Fundamental dan Beta Portofolio. Dari keempat model tersebut, menurut saya yang paling relevan untuk penelitian saya adalah beta portofolio. namun dalam operasi perhitungannya jujur saya sedikit mendapat kesulitan…

    mohon dibantu pak kiranya bapak memiliki ilustrasi perhitungan beta portofolio Reksa Dana tertentu.

    kesulitan saya:
    1. menentukan bobot proporsi sekuritas.
    2. menentukan data historis dalam menghitung beta sekuritas (apakah perhitungannya adalah menggunakan model beta pasar?) kemudian data return historis idealnya diambil berapa banyak pak? kemudian data bulanan/harian/mingguan?

    kemudian pak, terkait dengan analisis komparatif antara peringkat RD metode sharpe vs peringkat RD metode jensen apakah dinilai “apple to apple”??

    kemudian salah satu koreksi pada sidang proposal penelitian saya adalah mengenai kejelasan metode evaluasi yang digunakan Majalah Investor (dalam hal ini infovesta), saya cari2 dari berbagai sumber pak, tapi tidak mendapati metode perhitungan mereka secara utuh, ada yang menyatakan metode pengukurannya adalah Risk adjusted Return (Return dibagi Deviasi) dan pertumbuhan UP. tapi saya bingung bobot dari kedua item itu.

    terus juga ada yang memaparkan, perhitungannya menggunakan modified sharpe ratio… mohon dibantu pak kiranya Pak Rudi tahu metode yg digunakan infovesta dalam membuat rangking RD terbaik.

  80. Rudiyanto
    July 15th, 2014 at 09:33 | #84

    @Andri
    Salam Andri,

    Beta-beta yang kamu sebutkan tersebut apakah sudah kamu baca dengan detail definisi dan cara perhitungannya? Dan kalau kamu sudah memutuskan untuk menggunakan beta portofolio, bukankah sudah ada referensi yang bisa kamu gunakan?

    Perhitungan beta bisa dapat dengan mudah dicari di berbagai buku investasi, keuangan dan statistik. Baik itu beta yang dihitung dengan data historis ataupun beta yang dihitung dengan cara data portofolio. Anda hanya perlu usaha yang lebih keras untuk mencarinya.

    Artikel tentang beta sudah pernah saya ulas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Mengenai analisa komparatif, boleh tahu apa definisi apple to apple menurut skripsi anda?

    Mengenai perhitungan di Majalah Investor, dalam setiap edisi pemeringkatan biasanya selalu ada artikel yang menjelaskan tentang cara pemeringkatan tersebut. Coba dibaca dengan lebih teliti lagi semua artikel dalam edisi tersebut, termasuk penjelasan Modified Sharpe Ratio. Atau anda bisa langsung menanyakannya ke Infovesta.

    Silakan berusaha lebih keras lagi dan semoga skripsinya berhasil. Terima kasih.

  81. isur
    July 24th, 2014 at 12:04 | #85

    Pak Rudi, saya lagi melakukan penelitian Reksa dana Syariah dan Konvensional, mau tanya:

    1. Cari Risk Free baik Konvensional maupun Syariah thn 2009,2010,2011,2012,2013, gimana yah caranya?

    2. Cari Return Marketnya, Index LQ45 dan Index JII?
    3. kalau beli data, kemana yah?

    terimakasih ya pak

  82. Rudiyanto
    July 24th, 2014 at 13:02 | #86

    @isur
    Salam Isur,

    1. Instrumen yang kamu jadikan sebagai Risk Free itu apa?
    2. Sudah coba Yahoo Finance?
    3. Kedua data yang kamu butuhkan di atas bisa diperoleh dengan sedikit doa dan banyak usaha. Jadi coba dicari dulu.

    Terima kasih.

  83. isur
    July 24th, 2014 at 21:45 | #87

    @Rudiyanto
    saya sedang menghitung kinerja reksadana dengan metode Sharpe, treynor dan jensen, kan dirumus metode ini, ada Risk free, dan return marketnya

    kemudian saya sudah masuk dan mencoba ke Yahoo Finance, cuma yang keluar hanya tahun 2013 sd 2014

    • Rudiyanto
      July 24th, 2014 at 21:50 | #88

      Mencarinya masih kurang teliti kalau begitu. Coba dicari dengan lebih detail lagi

  84. isur
    July 24th, 2014 at 21:58 | #89

    @Rudiyanto
    nah itu dia, pak,,, saya sedang belajar menghitung kinerja, sambil melakukan penelitian sambil mempelajari reksa dana, jadi sepertinya bukan kurang teliti pak (he membela) tapi ketidak tahuan

    • Rudiyanto
      July 24th, 2014 at 22:01 | #90

      Kalau tidak mengerti perhitungan dan tidak menemukan data itu 2 hal yg berbeda. Kalau tidak bisa menemukan data historis di Yahoo Finance itu sudah pasti soal ketelitian.

  85. yolanda agatha
    September 2nd, 2014 at 19:54 | #91

    pak saya mengambil skripsi dengan judul perancangan model resiko investasi portofolio reksa dana dengan metode varians sbg alat pengambilan keputusan investor. menurut bapak jurnal yang berisi tentang hal itu biasanya didapat darimana ya pak? tolong pak penjelasannya.

  86. Rudiyanto
    September 3rd, 2014 at 10:32 | #92

    @yolanda agatha
    Kedengarannya canggih dan sulit.. Pada saat mengambil judul itu, tentu sudah anda lihat jurnalnya bukan?

  87. yolanda
    September 3rd, 2014 at 11:55 | #93

    maksud saya pengukuran metode value at risk dengan variance covariance. itu dimulai dari mana ya pak?

  88. Rudiyanto
    September 3rd, 2014 at 11:57 | #94

    @yolanda
    Dengan mengetikkan kata Value At Risk di Google, saya yakin ribuan jurnal tentang hal tersebut bisa anda dapatkan dengan mudah.

  89. Anangga
    November 10th, 2014 at 11:45 | #95

    Siang pak, saya mau tanya. Saya sedang mengerjakan penelitian analisa reksadana dengan 3 metode, Sharpe, Treynor, dan M2. Disini kan saya membandingkan benchmark (IHSG) dengan metode dan reksadana dengan metode. untuk sharpe dan treynor saya tidak masalah. Cuma di M2 saya agak bingung. Rumus M2 untuk reksadana kalau dijabarkan kurang lebih seperti ini:

    Average BI Rate + (Average Reksadana – Average BI Rate / Standev Reksadana) x Standev IHSG

    tapi bagaimana jika metode ini dimasukan untuk benchmark? apa rumusnya akan seperti ini?

    Average BI Rate + (Average IHSG – Average BI Rate / Standev IHSG) x Standev IHSG ?

    Beberapa rekan saya, M2 tidak dibandingkan dengan IHSG. tapi ini masih nyangkut di pikiran saya. Mohon sarannya pak. Terima kasih

  90. Rudiyanto
    November 10th, 2014 at 18:04 | #96

    @Anangga
    Sore Anangga,

    Kamu yakin letak kurung dalam rumus kamu sudah benar?
    Yang nyangkut itu apa?

  91. Anangga
    November 11th, 2014 at 09:25 | #97

    @Rudiyanto
    Pagi pak,

    maaf koreksi.

    maksud saya:

    Average BI Rate + ((Average Reksadana – Average BI Rate) / Standev Reksadana) x Standev IHSG

    maksud saya, jika metode itu dimasukan ke benchmark, apa betul rumusnya jadi

    Average BI Rate + ((Average IHSG – Average BI Rate) / Standev IHSG) x Standev IHSG ?

    • Rudiyanto
      November 11th, 2014 at 09:26 | #98

      Pagi Anangga,

      Rumus anda sudah benar.

  92. dananag
    December 3rd, 2014 at 07:18 | #99

    selamat pagi pak rudy
    dalam, pngerjaan TA sya, saya terkendala dalam mendapatkan standar deviasi. bisakah bpk jelaskan secara detail bagiamana cara mendapatkan standar deviasi untuk menganalisa kinerja reksadana. terimakasih pak

  93. Rudiyanto
    December 3rd, 2014 at 10:06 | #100

    @dananag
    Selamat Pagi juga,

    Kalau penjelasan saya adalah sebaiknya kamu membaca secara detail buku Manajemen Keuangan, Manajemen Investasi, Statistik dan atau Peramalan Bisnis anda karena dalam buku tersebut biasanya dijelaskan secara detail perhitungan standar deviasi.

    Semoga bermanfaat.

  94. Geraldi
    December 3rd, 2014 at 10:13 | #101

    @dananag

    saya mau coba bantu

    CMIIW
    saya juga sedang bikin TA ttg reksadana, di excel, saya bikin kolom tanggal, NAV, dan daily return

    NAV & Daily return biasanya ada di kontan. NAV dicatat jg kalo mau itung daily return secara manual. penghitungan standard deviation di excel adalah:

    =stedev(daily return paling awal : daily return di akhir periode)

  95. dananag
    December 3rd, 2014 at 11:46 | #102

    @rudiyanto
    terimakasih pak atas masukannya

    @Geraldi
    sangat membantu sekali mas, terimakasih.
    mas bisa disertai dengan contoh gak? untuk memastikan pencarian di excel benar. sya hanya terkendala di SD. kalau bisa mas, bisa dikirim via email saya danang_fahreza@yahoo.com
    mohon bantuannya mas

  96. dananag
    December 4th, 2014 at 17:19 | #103

    @Geraldi
    kalau bukanan sama saja mas?

  97. haren
    December 9th, 2014 at 23:44 | #104

    malam pak..
    saya mau tanya apakah value at risk pendekatan variance covariance bisa digunakan untuk saham individual, di google banyaknya untuk portofolio..
    mohon bantuannya pak rudy :)

  98. Rudiyanto
    December 10th, 2014 at 01:17 | #105

    @haren
    Malam Haren,

    Variance Covariance, Monte Carlo Simulation, dan berbagai hal lainnya adalah rumus. Sepanjang komponen2 yang tersedia dalam rumus tersebut ada, maka perhitungan bisa dilakukan. Yang penting adalah bagaimana kamu melakukan justifikasi atas indikator yang kamu gunakan (dalam hal ini harga saham secara individual) kepada dosen pembimbing dan dosen penguji kamu.

    Semoga berhasil dengan justifikasinya.

  99. haren
    December 11th, 2014 at 00:01 | #106

    terima kasih pak atas jawabannya…
    amiin2…

  100. bang udin
    December 23rd, 2014 at 06:01 | #107

    pak, saya mau tanya ni pak, saham yang sesuai untuk tipe investor moderat itu saham yang nilai betanya kisaran berapa ya pak kalau pendekatanya dengan melihat nilai beta? terimakasih

  101. Rudiyanto
    December 24th, 2014 at 09:52 | #108

    @bang udin
    Salam Bang Udin,

    Untuk beta anda bisa membaca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Semoga bermanfaat

  102. ivan
    January 14th, 2015 at 01:39 | #109

    Pak saya ingin bertanya, bagaimana cara menghitung daily return suatu reksadana? Saya sudah mencoba menghitung sesuai rumus akan tetapi hasil nya tetap decimal walaupun sudah memakai percentage.. trima kasih

  103. ivan
    January 14th, 2015 at 01:45 | #110

    Perhitungan daily return saya tidak sebesar bapak punya, mohon pencerahan pak.. sehabis itu bagaimana menentukan SBI rate pak? Saya sedang menghitung kinerja reksadana saham dr 1 nov 2011 – 31 oct 2014, karena hasil daily return saya cuma decimal mengakibatkan minus karena dikurangin RFR dan dibagi standard deviasi pa, mohon bantuan :)

  104. Rudiyanto
    January 14th, 2015 at 12:41 | #111

    @ivan
    Salam Ivan,

    Data di atas menggunakan data tahunan. Tentu beda kalau pakai harian.

    Mengenai SBI Rate ya cari di sumber SBI Rate ini diumumkan.

    Saran saya, anda bisa baca kembali buku referensi seperti buku manajemen investasi dan keuangan yang membahas topik tersebut.

    Semoga bermanfaat.

  105. Geraldi
    February 18th, 2015 at 12:53 | #112

    Selamat siang

    Saya mau tanya terkait dengan metode Sharpe dan Modigliani Risk-Adjusted Performance (M2). Menurut pengetahuan saya, karena Treynor berdasarkan Beta, maka seperti melihat seberapa sensitif terhadap pasar (beta = 1, atau lebih besar dari 1, atau lebih kecil dari 1)

    kalau Sharpe kurang lebih seperti melihat penyimpangan dari market berdasarkan standard deviation, nah kalau M2 itu kan rumus modifikasi dari Sharpe, yang diakhir rumus dikalikan dengan standard deviation market lagi. Tujuannya untuk apa ya?

    Terima kasih pak

  106. Rudiyanto
    February 24th, 2015 at 00:05 | #113

    @Geraldi
    Selamat Malam Geraldi,

    Pada berbagai literatur yang ada di internet, disebutkan bahwa tujuannya hanya supaya angka sharpe ratio bisa dinyatakan dalam persentase sehingga lebih mudah dipahami investor awam.

    Silakan baca2 buku teori yang jadi acuan anda.

    Semoga bermanfaat.

  107. kamidya
    February 24th, 2015 at 05:57 | #114

    Selamat pagi, Pak Rudi.
    Saya ingin menanyakan apakah penggunaan metode CAPM dalam menganalisis risk and return saham terbukti secara empiris?
    Jika terbukti secara empiris alasannya apa?
    Jika tidak, metode apa yang recommended untuk digunakan dalam menganalisis risk return saham?

  108. Rudiyanto
    March 2nd, 2015 at 00:09 | #115

    @kamidya
    Selamat Pagi juga Kamidya,

    Bisa dijelaskan secara spesifik apa yang dimaksud dengan “Terbukti Secara Empiris” ?

  109. kamidya
    March 4th, 2015 at 19:32 | #116

    Maksudnya seperti ini Pak Rudi, ketika kita akan melakukan investasi dengan menganalisis risk and return menggunakan metode CAPM, apakah hasil pengujian itu bisa kita jadikan pedoman sebagai keputusan investasi?
    Akurat atau tidak?
    Karena pada penelitian-penelitian sebelumnya banyak pro dan kontra.
    Mohon sarannya ya, Pak.
    Terima kasih.

  110. Dhea
    March 4th, 2015 at 22:58 | #117

    Selamat malam pak. Saya sedang mengerjakan pembentukan portofolio. kebetulan perlu menghitung excess return (return ekspektasi – Risk free rate). return ekspektasi penelitian saya dihitung secara bulanan. Kalo begitu untuk mengetahui risk free rate (BI rate) nya saya hanya perlu bagi 12 ya pak? apakah benar begitu pak? terimakasih banyak.

  111. Rudiyanto
    March 5th, 2015 at 10:11 | #118

    @kamidya
    Salam Kamidya,

    Berbagai metode analisis, Risk and Return, CAPM, dan berbagai metode lainnya adalah metode untuk menganalisis kinerja MASA LALU. Nah, apakah kinerja masa lalu akan terulang di masa depan?

    Itu bisa anda bayangkan begini, anda adalah seorang HRD suatu perusahaan yang sedang interview anak baru. Ada 2 kandidat, yang satu IPK 4.00 dan satu lagi IPK 2.00. Kira2 yang mana yang akan anda terima? Apakah yang IPKnya tinggi atau yang rendah? Apakah ada jaminan kalau IPK tinggi kinerja pasti bagus? Jika tidak, apakah kamu lebih memilih orang yang bekerja keras selama kuliah sehingga bisa mendapatkan IPK 4 atau orang yang leha-leha selama kuliah sehingga IPK 2.00 tapi tetap anda terima karena terinsipirasi Bill Gates dan Menteri Susi, yang Kuliahnya saja tidak tamat bahkan pendidikannya hanya SMA?

    Kamu sendiri yang pro atau kontra?

  112. Rudiyanto
    March 5th, 2015 at 10:14 | #119

    @Dhea
    Salam Dhea,

    Kalau misalkan anda datang ke bank mau deposito. Nilai uangnya Rp 10 juta. Sama petugasnya dibilang bunga deposito 6%. Nah setelah 1 bulan uang anda jadi berapa?

  113. kevin
    March 8th, 2015 at 15:01 | #120

    Bapak saya mau bertanya, saya melakukan penelitian dari tahun 2010 sampai dengan 2014. saya butuh sbi rate bulanan. untuk tahun 2011 sampai dengan 2014 saya pakai tenor 9 bulan (karena hanya itu yg tersedia). Nah, untuk tahun 2010, bagaimana ya pak? soalnya bulan januari sd Juli 2010, tenor 9 bulan belum ada? saya jadi bingung untuk menghitung rata-rata rate tahunnya.

    pertanyaan kedua, saya ingin memastikan saja. sbi rate itu sudah tahunan yah pak? baik untuk tenor 1 bulan maupun 9 bulan? begitu?
    terimakasih banyak atas bantuannya :)

  114. Rudiyanto
    March 9th, 2015 at 00:20 | #121

    @kevin
    Salam Kevin,

    Setahu saya tenor SBI memang sempat dipanjangkan dari 1, 3 dan 6 bulan menjadi 9 bulan beberapa tahun yang lalu. Tapi saya tidak begitu ingat lagi apa alasannya waktu itu.

    Untuk datanya kenapa tidak menggunakan BI Rate saja?

    Mengenai tenor 9 bulan itu, saran saya kamu coba datang ke counter bank. Trus kamu tanya, apa artinya tenor 1, 3, 6 dan 9 bulan yang dipasang di atas beserta persentase yang ada pada papan hitam bunga deposito bank tersebut.

    Semoga bermanfaat

  115. fitrining astutik
    March 12th, 2015 at 07:13 | #122

    assalamualaikum..slmt pgi pak.sy ingin brtanya..kan rumus untuk mngetahui kinerja manajer investasi >> Rerur pprtofolio-Return free risk = a + b1 (Return market-Return free risk) + b2 (return market-return free risk) Dummy + eror..
    nah itu variabel dummy kan bernilai 1 jika R porto > R free..dan 0 jika R porto<return free…
    yg sy tanyakan,berarti untuk mndapat B2 sy harua mengalikan dahulu dg variabel dummy..atau vriabel dummy trsebut bisa sy masukkan langsung ke Spss pak?

  116. fitrining astutik
    March 12th, 2015 at 07:17 | #123

    sy bingung pak hasil pembahasan skripsi,sy pakai cara langsung memasukkan variabel dummy ke spss.. bukan mengalikan variabel dummy dg (R.porto-R.free).. yg benar bgmna pak..mohon bantuannya pak..

  117. Rudiyanto
    March 16th, 2015 at 15:00 | #124

    @fitrining astutik
    Selamat Siang Ibu Astutik,

    Kalau feeling saya, rumus kamu masih belum 100% benar. Coba cari yang benar dulu rumusnya seperti apa. Silakan baca buku panduan atau cari referensi paper dengan baik.

    Terima kasih

  118. fitrining astutik
    March 17th, 2015 at 05:36 | #125

    oh iya pak..sy salah . seharusnya Variabel Dummy adalah bernilai 1 jika Rm>Rfr dan bernilai 0 jika Rm<Rfr..
    nah selanjutnya bgmna pak? apakah langsung memasukkan nilai 1 dan 0 dalam Spss atau nilai 1 dan 0 dikalikan lbh dlu dg selisih (Rm-Rf) ?

  119. Rudiyanto
    March 17th, 2015 at 16:26 | #126

    @fitrining astutik
    Silakan baca referensi paper atau bertanya ke dosen pembimbing anda.

    Semoga berhasil

  120. Asmawi
    April 29th, 2015 at 19:16 | #127

    malam pak

    saya mau naya pak
    keunggulan metode Shapre, Treynor, dan M2 dalam pengukuran kinrja reksa dana saham dibandingkan dengan metode ang lain itu apa ya pak
    soalnya saya lagi ngerjain skripsi dan belum dapat untuk menjawab alasan itu pak

    terima kasih pak, mohon bantuanya

  121. Rudiyanto
    May 1st, 2015 at 23:55 | #128

    @Asmawi
    Malam Asmawi,

    Coba kamu bandingkan hasil pengukuran antara metode yang kamu sebutkan di atas dengan “metode yang lain” kemudian lihat mana yang hasilnya lebih masuk akal. Dengan demikian, kamu bisa mengetahui keunggulannya. Alternatif lain, kamu bisa membaca dasar teori metode-metode tersebut dibuat.

    Semoga bermanfaat.

  122. adi
    May 6th, 2015 at 11:02 | #129

    pagi pagi rudiyanto

    saya mau tanya pak rudi. kalo rata-rata return reksa dana perbulannya 1,84% dan rata-rata rate bi sebagai risk free rate of return perbulannya sebesar 7%. hasil risk premium-nya menjadi -5,26%. apakah -5,26% itu baik atau buruk pak? dan kalo mengitung SML jadi alpha hasilnya minus karena risk free rate nya lebih besar dari pada rata-rata return reksa dana apkah berarti performanya jelek?

  123. adi
    May 6th, 2015 at 11:59 | #130

    eh sorry bukan SML tapi maksudnya perhitungan sharpe dan traynornya menjadi minus gimana pak?

  124. Rudiyanto
    May 7th, 2015 at 17:44 | #131

    @adi
    Malam Pak Adi,

    Pertanyaan saya, misalkan kamu punya uang Rp 1 juta.
    BI Rate 7%. Kamu simpan selama 1 bulan. Bulan berikutnya uang kamu jadi berapa?

  125. anisa
    May 9th, 2015 at 08:47 | #132

    hai pak adi

    sedikit membantu meluruskan
    BI rate sebesar 7% itu pertahun, bukan perbulan seperti pak adi sebutkan diatas, terimakasih

    jabat erat

  126. adi
    May 12th, 2015 at 15:50 | #133

    selamat sore

    jadi Rp 1.005.833 pak rudiyanto ?
    saya kira bi rate tersebut perbulan karena di keluarkan setiap bulannya.
    terima kasih

  127. Rudiyanto
    May 15th, 2015 at 13:06 | #134

    @adi
    Selamat Siang Adi,

    Betul. Silakan melakukan penyesuaian yang diperlukan.

    Semoga sukses dengan karya tulisnya.

  128. Nico
    May 16th, 2015 at 19:19 | #135

    Selamat malam pak Rudiyanto, saya ingin tanya tentang beta yang ada di reksa dana..
    Setahu saya, diversifikasi itu bukankah tujuannya untuk mengurangi risiko ya? Mengurangi risiko kan berarti seharusnya betanya di bawah 1..? Benar nggak ya pemahaman saya ini?

    Akan tetapi, tadi saya mencoba mencari tahu nilai beta untuk setiap reksa dana yang dana kelolanya besar (dengan regresi sederhana), kenapa kok semua nilai betanya di atas 1 ya?
    Saya sempat baca juga di internet, kalau beta di atas 1 berarti memiliki potensi untuk memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan pasar. Nah kok kebalikan sama pemahaman yang saya miliki saat ini..

    Berarti yang bagus itu betanya di atas 1 atau yang di bawah 1 ya pak?
    Dengan beta di atas 1, apakah berarti reksa dana tersebut tidak berhasil didiversifikasi (karena betanya meningkat) dan juga menambah risiko?

    Salam.. Terima kasih bapak, semoga bapak berkenan menjawab pertanyaan saya..! :)

  129. Rudiyanto
    May 17th, 2015 at 01:26 | #136

    @Nico
    Selamat Malam Nico,

    Diversifikasi memang bertujuan mengurangi risiko. Mengurangi berarti dulunya A sekarang lebih kecil dari A. Akan tetapi tidak disebutkan kalau diversifikasi itu berarti beta di bawah 1. Sebab jika memang anda mencari beta di bawah 1 langsung saja beli reksa dana yang betanya di bawah 1, mengapa harus melakukan diversifikasi?

    Kalau cara menghitung kamu sudah benar, berarti dalam periode yang kamu ukur memang beta reksa dana saham lebih besar dari 1. Trus apa masalahnya?

    Beta sendiri adalah koefisien regresi, jika pasarnya positif dan beta lebih besar dari 1, maka secara statistik kenaikan harga reksa dana bisa lebih besar dari pasar. Tapi bagaimana jika pasarnya negatif? Silakan anda cari tahu di buku statistik.

    Melihat reksa dana hanya dari beta saja itu ibaratnya kamu hanya melihat risiko tapi mengabaikan return. Keduanya harus dilihat sekaligus, tidak bisa hanya satu sisi saja.

    Kalau beta di atas 1, ya artinya reksa dana tersebut risikonya lebih tinggi dibandingkan pasar. Tidak bisa disebut dia berhasil atau gagal karena kamu juga harus melihat returnnya juga.

    Mengenai beta, saya sendiri pernah membahasnya di bawah ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Mengenai diversifikasi juga pernah saya bahas di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/05/20/berapa-jumlah-kepemilikan-reksa-dana-saham-yang-ideal/

    Semoga bermanfaat.

  130. wulan
    June 11th, 2015 at 13:15 | #137

    Bapak saya mau bertanya .cara mencari bobot capm bagaimana ? Dan penjabarannya gimana ya pak .mohon bantuannya bapak .terimakasih .

  131. Rudiyanto
    June 12th, 2015 at 17:16 | #138

    @wulan
    Selamat Sore Ibu Wulan,

    Metode mengenai bobot CAPM bisa ditemukan dalam buku tentang investasi ataupun riset yang membahas metode tersebut. Silakan mencari lebih dalam dari sumber2 yang anda punya.

    Terima kasih

  132. Dewi
    June 18th, 2015 at 07:39 | #139

    Selamat pagi Bapak

    Perkenalkan saya dewi MHS disemster 6 Ingin bertanya diskripsi saya akan menganalisis kinerja reksa Dana saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (jakarta) periode 2013-2015 Indonesia menggunakan Metode-Metode yang Bapak sebutkan diatas.(treynor,Sharpe,Jensen,dan CML)

    Sblum saya melakukan analysis data-data APA saja yang Saya butuhkan dan ajukan ke BEI?
    Bagaimana cara perhitungan dengan Metode tersebut atau adakah software yang dapat membantu dalam perhitungan? Jika ada mohon rekomendasinya.

    Terimkasih .

  133. Rudiyanto
    June 21st, 2015 at 23:28 | #140

    @Dewi
    Selamat malam Ibu Dewi,

    Kalau data apa saja yang dibutuhkan masih belum tahu padahal metode yang mau digunakan sudah dipilih, saran saya anda mengganti judul skripsi anda dengan data dan metode yang kamu ketahui sumbernya.

    Mengenai cara perhitungan anda bisa membaca buku yang membahas tentang manajemen keuangan dan manajemen investasi. Tapi kembali lagi, kalau tidak ketemu juga, rekomendasi saya segera ganti judul.

    Semoga bermanfaat.

  134. Dewi
    June 22nd, 2015 at 06:55 | #141

    Terimakasih atas sarannya Bapak,

  135. July 9th, 2015 at 11:03 | #142

    @Ria
    perkenalkan mbak ria nama saya cana mahsiswi UB dan sedang mengerjakan skripsi yang persis dengan mbak. Masih bingung juga soal return dan risk free. karena jika saya menghitung rata2 return per bulan yang dikurangio dengan rata-rata return risk free perbulan juga semua sampel saya uaitu 41 reksadana saham pada 5 tahun (2010-2014) adlah negatif atau minus Yang berarti kinerja RDS dibawah investasi bebas risiko. Apakah perhitungan risk free saya salah… jika mbak sudah menemukan jawabannya, jika mbak berkenan…saya mohon untuk membagi infrmasinya agar penelitian saya tidak keliru mbak. Terimakasih banyak :)

  136. adi
    October 6th, 2015 at 21:03 | #143

    selamat malam bapak Rudiyanto,
    maaf kalau menggangu. Saya mau tanya pak kalo dari metode sharpe, treynor, jensen yang mana sih yang bisa jadi pegangan dalam dalam mengevaluasi kinerja reksadana ?

  137. Rudiyanto
    October 8th, 2015 at 21:50 | #144

    @adi
    Salam Pak Adi,

    Kalau anda adalah seorang mahasiswa, saran saya anda bisa mencoba ketiga cara tersebut dan membandingkannya. Dari hasil perbandingan tersebut, anda bisa menyimpulkan mana yang paling baik dan alasannya.

    Semoga bermanfaat.

  138. Riani
    November 11th, 2015 at 14:03 | #145

    Selamat sore pak.
    Pak, saya mau bertanya pak, jika kita ingin melihat pengaruh makro ekonomi terhadap kinerja reksa dana saham. maka metode apa yang paling baik kita gunakan untuk kinerja reksa dana saham pak ?
    terimakasih sebelumnya pak.

  139. Rudiyanto
    November 25th, 2015 at 09:53 | #146

    @Riani
    Selamat Pagi Ibu Riani,

    Metode hanya cara. Namanya cara, bisa saja jalan di suatu periode tapi tidak jalan atau butuh pengembangan di periode lainnya. Kalau memang ini skripsi kamu, ya tugas kamu untuk tahu metode apa yang paling baik dengan melakukan berbagai pengujian.

    Semoga bermanfaat.

  140. arif
    December 9th, 2015 at 09:20 | #147

    Pak kalo cari kovarian reksadana dg proxy ihsg di excel, formula apa ya?

  141. Rudiyanto
    December 10th, 2015 at 23:14 | #148

    @arif
    Salam Arif,

    Rumusnya sbb :
    1. Jalan kaki ke Perpustakaan Kampus
    2. Cari buku tentang Manajemen Keuangan, Investasi atau Statistik
    3. Buka halaman yang membahas tentang perhitungan Kovarian
    4. Coba aplikasikan di Excel sampai hasilnya sama dengan contoh
    5. Prosesnya diulang hingga berhasil

    Semoga berhasil

  142. tari
    January 5th, 2016 at 11:04 | #149

    pagi pak rudy,
    pak maaf, saya mau bertanya, apakah ada blog bapak yang membahas tentang capital asset allocation dan capital market line ?
    terimakasih pak…

  143. anggun
    February 4th, 2016 at 10:26 | #150

    selamat siang pak rudy.
    maaf pak saya mau bertanya pak. saya sudah menghitung return saham pak, dan saya juga sudah menghitung resiko saham menggunakan metode VaR mean dan VaR zero. pertanyaannya bagaimana menghitung kinerja sahamnya pak.

  144. Rudiyanto
    February 4th, 2016 at 12:40 | #151

    @tari
    Selamat Siang Ibu Tari,

    Mohon maaf terlewatkan. Pada dasarnya Capital Market Line itu sudah ada di atas.
    Sedangkan yang Capital Asset Allocation pernah saya bahas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2015/06/21/strategi-investasi-reksa-dana-asset-allocation/

    Semoga bermanfaat

  145. Rudiyanto
    February 4th, 2016 at 12:40 | #152

    @anggun
    Selamat Siang Ibu Anggun,

    Yang mau dihitung itu kinerja menggunakan metode apa?

  146. Melinda Dwijayanti
    February 10th, 2016 at 14:21 | #153

    selamat siang pak rudi.
    pak saya lagi menyelesaikan tugas akhir tentang reksadana. saya masih bingung pak bagaimana cara menghitung stadar deviasi pada reksadana? apakah NAB per perusahaan reksadana di hitung petahunnya kemudian di bagikan dengan jumlah tahun? atau di kuadratkan saja retrunnya?

  147. Rudiyanto
    February 10th, 2016 at 16:41 | #154

    @Melinda Dwijayanti
    Salam Ibu Melinda,

    Cara menghitung standar deviasi antara saham dan reksa dana saham. Anda bisa membacanya pada buku manajemen keuangan / investasi anda.

    Semoga bermanfaat

  148. Melinda Dwijayanti
    February 10th, 2016 at 22:18 | #155

    Terimaksih pak., informasinya sangat bermanfaat.

  149. andik
    February 21st, 2016 at 09:16 | #156

    Sharpe Ratio sebesar 2,6935 pada Infovesta Fixed Income Fund Index dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka rata-rata reksa dana pendapatan tetap memberikan excess return sebesar 2,6935%.
    apabila 2%risiko = 2×2,6935% master? untuk persamaan matematikanya gimana ya master? mohon pencerahannya

  150. Rudiyanto
    February 24th, 2016 at 10:48 | #157

    @andik
    Interprestasi sharpe ratio bukan 1% risiko atau 2% risiko, tapi perbandingan antara reksa dana yang satu dengan yang lain.

  151. Sam
    February 24th, 2016 at 13:45 | #158

    Dear Pak Rudyanto,

    saya pemula baru memulai reksadana ingin bertanya untuk reksadana sendiri adakah standar/ batas idealnya besar % margin yang diperoleh pada nilai yang kita investasikan? misalnya kita investasi 10 juta, kemudian pada 1 tahun kedepan atau bahkan 6 bulan saldo kita menjadi 12 juta, berarti sekitar 20% kita mendapat margin. apakah dalam keadaan seperti kita lakukan penarikan atau atau tetap disimpan? karena bisa jadi menggagalkan rencana saat ingin invest untuk jangka 2 tahun, ketika melihat keadaan tersebut ada rasa cemas takutnya akan turun dan tidak bisa mendapat margin 20% kembali. mohon advicenya.

    terimakasih atas perhatiannya

  152. Rudiyanto
    March 3rd, 2016 at 23:14 | #159

    @Sam
    Selamat Malam Pak Sam,

    Untuk % margin atau kalau dalam bahasa pemasaran disebut dengan ekspektasi imbal hasil yang wajar bisa dibaca di http://reksadanauntukpemula.com/2016/01/09/prinsip-smart-dalam-investasi-reksa-dana/ Angkanya berbeda sesuai dengan jenis reksa dana.

    Cara untuk berinvestasi yang benar menurut saya adalah memilih reksa dana yang sesuai dengan tujuan investasi. Cara ini memang tidak bisa menghindarkan anda 100% dari potensi kerugian yang mungkin terjadi, namun meminimumkan risiko yang anda sebutkan di atas. Namun di satu sisi, jika target anda sudah tercapai sebelum masa investasi, maka tidak ada salahnya direalisasikan. Namun yang penting adalah punya tujuan terlebih dahulu.

    Untuk detailnya anda bisa baca http://reksadanauntukpemula.com/2016/01/17/memilih-reksa-dana-sesuai-tujuan-investasi/

    Semoga informasi ini bermanfaat.

  153. siti nurbaeti inayah
    March 14th, 2016 at 02:09 | #160

    assalamu’alaikum pa…
    mohon maaf pa sebelumnya, saya masih awam dalam dalam mengetahui pengetahuan mengenai invetasi ini. tapi saya mempunyai sebuah penelitian mengenai penggunaan metode fifo dalam mengukur rentabilitas investasi reksa dana campuran…
    sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon bimbingan dari bapa. untuk penelitian ini, saya harus memulai dari mana dan cara perhitungannya bagaimana? mohon dijelaskan… terima kasih..

  154. Rudiyanto
    March 16th, 2016 at 16:46 | #161

    @siti nurbaeti inayah
    Selamat Sore Ibu Siti,

    Kalau boleh beri saran, jika anda punya penelitian yang bahkan anda tidak tahu sama sekali cara perhitungannya, maka saran saya adalah mencari topik lain yang cara perhitungannya anda ketahui.

    Semoga berhasil. Terima kasih

  155. Deborah
    April 18th, 2016 at 07:23 | #162

    Dear Pak Rudy, Pa saya sedang skripsi tentang analisis market timing dan stock selection thd kinerja reksa dana saham.. mau tanya Pak kalau data yang dipakai untk penghitungan henriksson merton dan mazuy treynor itu saya ingin pakai data bulanan.. nah sedangkan nab, risk free, beta nya dalam harian Pa.. untuk mencari data per bulannya, saya rata2in bulan itu, atau diambil hari terakhir per bulannya saja Pak? Mohon infonya Pak twrimakasih..

  156. Rudiyanto
    April 18th, 2016 at 17:37 | #163

    @Deborah
    Salam ibu Deborah,

    Kalau menurut saya gunakan data akhir bulan. Namanya juga bulanan.
    Tapi akan lebih baik dikonsultasikan dengan dosen pembimbing anda.

    Semoga bermanfaat

  157. Chory
    June 8th, 2016 at 21:21 | #164

    Selamat malam Pak Rudy, saya ingin bertanya. bagaimana cara menghitung stock selection? kita memperoleh 3 variabel lagi kah? a,b dan c?

    Terimakasih Pak..

  158. Rudiyanto
    June 13th, 2016 at 01:45 | #165

    @Chory
    Selamat malam Pak Chory,

    Caranya adalah coba baca buku referensi dimana tempat anda mendapatkan istilah stock selection tersebut.

    Semoga bermanfaat

  159. mega susilowati
    June 13th, 2016 at 17:09 | #166

    selamat sore pa Rudy, kalo boleh tau untuk formula dari Risk adjusted return bapak dapat dari referensi buku apa ya pak?
    dan saya ingin bertanya apabila dari indeks treynor, jensen , dan sharpe terdapat ketidaksamaan pengukuran kinerja misal nilai indeks jensen dan treynor mendapatkan hasil yang sama, tetapi tidak pada indeks sharpe. bagaimamna cara memutuskan portofolio yang optimal pak? terima kasih

  160. Rudiyanto
    June 18th, 2016 at 22:58 | #167

    @mega susilowati
    Salam Ibu Mega,

    Dalam buku tentang manajemen keuangan dan manajemen investasi yang digunakan dalam perkuliahan setahu saya baik rumus ataupun kondisi perbedaan hasil peringkat juga dijelaskan dalam teorinya.

    Saran saya anda bisa membaca terlebih dahulu buku tersebut untuk mendapatkan referensi yang lebih baik.

    Semoga bermanfaat

  161. tri jananto widodo
    August 8th, 2016 at 14:13 | #168

    pak rudi perkenalakan saya tri mahasiswa sedang menyusun skripsi dengan judul analisa kinerja reksadana pendapatan tetap syariah metode sharpe, treynor dan jensen,sudah berjalan di bab IV,data skripsi sudah saya olah dan menghasilkan peringkat sharpe dan treynor yang berbeda dan peringkat treynor dan jensen yang sama,,pertanyaan saya menurut bpk rudy sebagai seorang ahli analisis bagaimana untuk menganalisa peringkat yang sama dan berbeda itu,,tks

  162. Rudiyanto
    August 8th, 2016 at 19:40 | #169

    @tri jananto widodo
    Salam Pak Tri Jananto,

    Kalau menurut saya sebagai seorang mahasiswa yang ditugaskan untuk membuat penelitian, tentu yang harus dilakukan adalah membaca teori yang berkaitan dengan metode yang digunakan tersebut. Saya yakin jika kita cukup jeli dan membaca hingga detail, ada kemungkinan disebutkan perbedaan hasil pemeringkatan dengan masing-masing cara.

    Di kebanyakan kasus yang saya jumpai, biasanya orang salah data, salah hitung, atau salah rumus. Sebab jika semuanya benar, yang bersangkutan akan tahu mengapa hasilnya bisa tidak sama dengan memperhatikan tren perubahan data tersebut.

    Semoga bermanfaat

  163. Dila
    August 12th, 2016 at 21:04 | #170

    Selamat malam pak rudi, saya ingin bertanya
    Misal reksadana A dan B di sharpe reksadana A di pringkat 1 dan di treynor reksadana B di pringkat 1 kenapa berbeda? Lebih baik memilih RD dengan metode apa?

  164. Rudiyanto
    August 13th, 2016 at 00:37 | #171

    @Dila
    Selamat Malam Ibu Dila,

    Apakah anda yakin itu perhitungannya benar ? Dan apakah sudah membaca dasar teorinya dengan bagus ?

    Untuk pemilihan reksa dana, daripada metode yang scientific, menurut saya cara ini lebih baik https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/04/39-bagaimana-cara-memilih-reksa-dana-yang-baik/

    Semoga bermanfaat

  165. Raynaldo
    September 9th, 2016 at 22:56 | #172

    selamat malam pak Rudiyanto, maaf pak, menurut bapak metode paling mudah dan simple untuk menghitung kinerja reksadana itu metode apa ya? saya sedang memlih metode yang paling mudah untuk tugas TA saya. terima kasih sebelumnya

  166. Rudiyanto
    September 12th, 2016 at 15:19 | #173

    @Raynaldo
    Selamat siang Pak Raynaldo,

    Kalau metode yang paling mudah adalah menyalin Tugas Akhir dari orang lain yang sudah ada kemudian mengganti namanya menjadi karya anda.

    Tentu cara di atas untuk mahasiswa pemalas yang sedang mencoba mempertaruhkan masa depannya dengan melakukan plagiarisme.

    Cara yang lebih sulit adalah membaca buku manajemen keuangan dan manajemen investasi yang sudah pernah ikut kuliah sebelumnya dan dari situ coba dicari apakah ada metode yang bisa diterapkan.

    Cara ini cocok untuk mahasiswa yang mau masa depannya lebih baik dan kelak sudah lulus nanti tidak plango plongo susah cari kerja karena memang gelar S-1nya diperjuangkan, bukan hasil nyontek.

    Semoga bermanfaat

  167. Raynaldo
    September 16th, 2016 at 23:31 | #174

    selamat malam pak, untuk penghitungan metode sharpe dan treynor, perihal return reksadana itu maksudnya apakah sama dengan harga(NAB) reksadana? kalau berbeda, dimanakah saya dapat menemukan data return reksadana dalam periode tertentu (2011-2015). terima kasih

  168. Rudiyanto
    September 17th, 2016 at 14:42 | #175
  169. Inaaa
    September 20th, 2016 at 10:48 | #176

    Selamat pagi pak, saya inaa mahasiswa sedang menyusun tugas TA, saya bisa mendapatkantiori tentang reward to variabiliti dan reward to voality , itu dimna ya pak biar pemahaman saya semakin dalam. Terimakasih

  170. Rudiyanto
    September 21st, 2016 at 17:11 | #177

    @Inaaa
    Selamat Siang Ibu Ina,

    Kalau saran saya supaya lulus, tata bahasa dan cara mengetiknya bisa ditingkatkan, jangan sampai isi TA anda diisi dengan bahasa singkatan yang tidak jelas dan salah-salah sehingga tidak lulus walaupun isinya sudah benar.

    Untuk teorinya, bisa dengan membaca buku manajemen investasi yang tersedia di kampus anda.

    Semoga bermanfaat

  171. October 16th, 2016 at 13:31 | #178

    Dear Pak Rudi

    Mohon bantuan penjelasan dari Indeks Treynor, Indeks Sharpe, Indeks Jensen, Rasio Informasi, Ukuran M2, dan Snail Trail ?

    terima kasih

  172. Rudiyanto
    October 19th, 2016 at 01:09 | #179

    @fredie sofyan
    Salam Pak Fredie,

    Bisa baca buku investasi atau cari di Google.

    Terima kasih

  173. siti
    November 28th, 2016 at 11:34 | #180

    salam pa rudi.
    mohon bantuannya pa. saya sedang proses judul “perbandingan kinerja reksadana saham syariah menggunakan metode sharpe, treynor dan jensen”. saya mau tanya pak kalau rumusan masalahnya ada perbedaan kemampuan manajer investasi seperti market timing dan selection. menurut bapa nyambung atau tidak ya, kalau iya boleh share rumusnya tidak pa? terimakasih

  174. Rudiyanto
    December 10th, 2016 at 21:17 | #181

    @siti
    Salam ibu Siti,

    Bisa dikonsultasikan dengan dosen pembimbing anda.

    Terima kasih

  175. Ray
    March 27th, 2017 at 07:32 | #182

    Siang pak, kalo risk free untuk reksadana konven itu kan SBI, bagaimana dengan reksadana atau saham syariah? acuan risk freenya itu apa yang akan digunakan? lalu dasarnya apa… terima kasih

  176. Rudiyanto
    March 29th, 2017 at 00:24 | #183

    @Ray
    Malam Pak Ray,

    Ada yang namanya SWBI (Sertifikat Wadiah Bank Indonesia). Silakan mengecek lebih lanjut ke website Bank Indonesia

    Semoga bermanfaat

  177. Gigih
    April 7th, 2017 at 20:19 | #184

    Selamat malam Bapak Rudi, apa gunanya dalam mengetahui rasio-rasio kinerja, contohnya sharpe, bagi investor? rasio-rasio tersebut bukan berfungsi “menggambarkan” masa depan tapi hanya mengevaluasi kinerja masa lalu. apakah dengan memilih reksa dana yang memiliki rasio bagus akan dipastikan reksa dana tersebut akan terus memiliki kinerja yang bagus? terimakasih atas waktunya.

  178. Rudiyanto
    April 25th, 2017 at 00:26 | #185

    @Gigih
    Selamat malam Pak Gigih,

    Semua metode pengukuran kinerja investasi memang dibuat untuk menggambarkan seberapa baik kinerja suatu reksa dana di masa lalunya. Tidak ada garansi sama sekali suatu reksa dana yang berkinerja baik di masa lalu akan kembali berkinerja baik di masa yang akan datang pula.

    Pembahasan lebih lengkap apakah reksa dana yang jawara kemarin akan menjadi jawara di masa mendatang sudah pernah saya bahas disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2016/02/10/yesterday-champion-tomorrow-winner/ walaupun indikator yang saya gunakan hanya return dan bukan Sharpe Ratio.

    Dalam memilih reksa dana, kinerja masa lalu hanya suatu pertimbangan, hal yang lain seperti layanan dan konsistensi juga perlu dipertimbangkan. Detailnya pernah saya tulis di https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/04/39-bagaimana-cara-memilih-reksa-dana-yang-baik/.

    Semoga bermanfaat

  1. May 29th, 2011 at 17:12 | #1
  2. October 4th, 2011 at 17:40 | #2

 


%d bloggers like this: