Home > Riset Reksa Dana > Apakah Besarnya Jumlah Dana Kelolaan Berpengaruh Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham?

Apakah Besarnya Jumlah Dana Kelolaan Berpengaruh Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham?

Setelah mengecek arsip artikel yang pernah dibuat, ternyata saya menemukan ada satu artikel yang menarik untuk disharing bersama rekan2 disini. Sebagai informasi, riset ini dibuat oleh saya dan anggota riset yang lain yaitu bapak Wawan Hendrayana dan data yang dipergunakan adalah berdasarkan data reksa dana saham dari Januari 2004  hingga Juni 2010. Semoga bermanfaat..

Selama ini, Investor dan Manajer Investasi beranggapan bahwa semakin besar jumlah dana kelolaan reksa dana, maka kinerja reksa dana juga akan cenderung semakin “kurang lincah”. Alasannya, karena dengan jumlah dana kelolaan semakin besar, kegiatan pengelolaan menjadi semakin pasif sehingga sulit untuk membukukan kinerja return yang tinggi. Apakah benar demikian?

Dalam mengelola dana, umumnya Manajer Investasi menggunakan 2 strategi, yaitu Strategi Investasi Aktif dan Strategi Investasi Pasif. Strategi investasi pasif adalah strategi buy and hold dimana pengelola berinvestasi pada sekelompok saham dengan bobot tertentu yang dianggap paling optimal dan berusaha mempertahankan komposisi tersebut dengan transaksi jual beli yang tidak terlalu aktif.

Strategi investasi aktif adalah strategi dimana pengelola secara aktif melakukan transaksi jual beli saham atau dikenal juga dengan istilah Market Timing. Market Timing bagaikan pisau bermata dua. Jika diterapkan dengan benar, akan menghasilkan return yang tinggi, namun jika salah bisa membuat pengelola dana gigit jari.

Pengelolaan reksa dana merupakan gabungan dari strategi Buy and Hold dan Market Timing. Bobot penggunaan strategi di atas sangat tergantung kepada besarnya jumlah dana kelolaan. Umumnya semakin besar jumlah dana kelolaan, Manajer Investasi akan lebih menyukai strategi Buy and Hold dibandingkan Market Timing. Meski demikian, tidak jarang pula Manajer Investasi menggabungkan kedua konsep tersebut dengan komposisi menurut pertimbangan keahlian masing-masing.

Hal ini disebabkan karena jika AUMnya besar, saham yang bisa ditransaksikan juga semakin terbatas. Umumnya saham yang dipilih adalah saham perusahaan besar (blue chip) dan likuid (ditransaksikan dalam volume yang besar). Saham yang tidak likuid, meskipun bagus, harganya bisa anjlok tajam jika terjadi penjualan dalam jumlah besar, oleh karena itu dihindari oleh Manajer Investasi yang memiliki jumlah dana kelolaan yang besar.

Sampai disini, pernyataan bahwa reksa dana yang dana kelolaannya besar akan “kurang lincah” masih masuk akal. Bagaimana dengan prakteknya? Apakah reksa dana yang dana kelolaanya besar pasti akan kalah dengan reksa dana yang dana kelolaannya tidak terlalu besar? berapa dana kelolaan suatu reksa dana baru dikatakan besar? Bagaimana pula mendefinisikan “Lincah” atau “Tidak Lincah” itu sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami melakukan riset pada reksa dana saham di Indonesia. Data yang kami kumpulkan adalah data return bulanan reksa dana saham, return bulanan IHSG, dan data Jumlah Dana Kelolaan reksa dana per akhir bulan dari periode Januari 2004 – Juni 2010 yang diperoleh melalui www.infovesta.com.

Selanjutnya riset dilakukan dengan proses data sebagai berikut:

  1. Selisih return bulanan antara reksa dana saham dengan IHSG selama periode Januari 2004 – Juni 2010. Jika selisih returnnya positif, berarti pada bulan tersebut kinerja reksa dana saham lebih baik dibandingkan IHSG, sebaliknya juga ketika terjadi selisih return negatif, maka berarti kinerja reksa dana saham lebih jelek dibandingkan IHSG. Angka positif bukan berarti reksa dana untung, bisa saja terjadi skenario dimana return reksa dana -10% sementara return IHSG -15% sehingga selisih return bulanan adalah positif 5%.
  2. Mengumpulkan data jumlah dana kelolaan reksa dana per akhir bulan dan meletakkannya pada sumbu X (Horizontal) serta Selisih return bulanan sebagai sumbu Y (Vertikal)
  3. Dari data tersebut kemudian diproses lebih lanjut dengan menghitung range (selisih return maksimum dengan selisih return minimum) berdasarkan kelompok jumlah dana kelolaannya.

Hasil penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel Perbandingan Jumlah Dana Kelolaan dan Selisih Return Bulanan Reksa Dana Saham

Periode Januari 2004 – Juni 2010

Berdasarkan grafik dan tabel di atas, diperoleh 2 penemuan sebagai berikut :

  1. Semakin besar jumlah dana kelolaan, selisih return baik yang positif ataupun negatif semakin kecil. Artinya jika jumlah dana kelolaan semakin besar, berarti kinerjanya akan semakin mendekati IHSG. Sementara jika jumlah dana kelolaannya kecil, kinerja reksa dana saham bisa jauh lebih baik atau jauh lebih buruk dibandingkan IHSG
  2. Besarnya range (Selisih Return Positif – Selisih Return Negatif) semakin mengecil ketika jumlah dana kelolaan bertambah besar dan menjadi bawah 10% ketika jumlah dana kelolaan sudah berada di atas Rp 2 triliun.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, jika angka range (selisih antara return maksimum dengan minimum) adalah 10% dianggap sebagai cut off point yang membedakan antara reksa dana yang lincah dengan tidak lincah, maka bisa disimpulkan bahwa reksa dana yang memiliki dana kelolaan besar sehingga bisa didefinisikan sebagai reksa dana saham yang kurang lincah adalah reksa dana yang memiliki jumlah dana kelolaan di atas Rp 2 triliun. Di bawah angka tersebut, maka reksa dana saham masih dapat dikategorikan sebagai reksa dana yang lincah dengan memberikan kejutan return tinggi kepada investor strategi market timingnya. Meski demikian, dalam 1 – 2 kali kesempatan bisa dilihat pula setelah jumlah dana kelolaan reksa dana berada di atas Rp 2 triliun, masih bisa memberikan tingkat return yang signifikan meskipun jarang.

Jika hasil ini dipergunakan sebagai referensi bagi investor, maka bisa disimpulkan bahwa bagi investor yang menginginkan reksa dana saham yang stabil dalam arti memberikan kinerja yang kurang lebih sama atau sedikit lebih baik dibandingkan IHSG, dapat memilih reksa dana saham yang jumlah dana kelolaannya di atas Rp 2 triliun. Sementara bagi investor agresif yang menginginkan reksa dana saham yang mampu memberikan return jauh di atas IHSG maka disarankan untuk memilih reksa dana saham yang jumlah dana kelolaannya di bawah Rp 2 triliun. Perlu diingat, semakin tinggi potensi return, maka semakin besar pula potensi risikonya.

Angka di atas masih dapat berubah sesuai dengan perkembangan bursa saham. Dengan semakin banyaknya saham-saham perusahaan besar dan BUMN yang IPO, angka Rp 2 triliun tentu dapat meningkat lagi karena instrumen yang tersedia bagi Manajer Investasi juga semakin banyak. Dibandingkan dengan reksa dana di luar negeri yang dana kelolaannya mencapai miliaran dollar, angka Rp 2 triliun atau 200 juta dalam mata uang dollar masih dianggap sebagai reksa dana kelas menengah. Selamat berinvestasi.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang.

Categories: Riset Reksa Dana Tags:
  1. Andy Chan
    May 10th, 2011 at 03:13 | #1

    Artikel yang bagus pak Rudi. Memang selalu ada + dan – dalam fund besar / kecil. Jadi inti dari artikel tersebut sebenarnya menyarankan agar kita lebih diversifikasi dalam berinvestasi di RD ya pak. Thx

  2. May 10th, 2011 at 03:24 | #2

    @Andy Chan
    Pagi Pak Andy,

    Bisa dilihat dari beberapa sudut pandang pak. Memang tidak salah kalau dari sisi diversifikasi. Di sisi yang lain, jika anda menginginkan reksa dana yang bisa outperform dibandingkan IHSG, maka peluangnya lebih besar pada reksa dana dengan dana kelolaan < Rp 2 triliun, namun dengan risiko kalah yang besar pula. Sementara jika anda menginginkan reksa dana yang kinerjanya tidak selisih terlalu jauh dari IHSG, maka pilihannya bisa di reksa dana besar. Bukan berarti risikonya kecil, namun umumnya kinerja reksa dana tidak terlalu jauh dibandingkan kinerja IHSG.

  3. Arian S
    May 10th, 2011 at 10:33 | #3

    Sangat membantu sekali, terima kasih sebelumnya. Semoga niat saya untuk menjadi Investor sukses muda bisa tercapai! Thanks pak!!

  4. Chrispinus
    May 10th, 2011 at 14:09 | #4

    Yth Bpk Rudiyanto, informasi yang sangat informatif. Dulu semasa saya belajar fund management di salah satu lembaga bentukan para manajer sekuritas, beberapa pengajar juga mengatakan hal yang sama, dan waktu itu (tahun 1998) membandingkan antara RD kelolaan Danareksa (waktu itu dia yang terbesar) dengan RD kelolaan swasta, beliau mengatakan yg besar itu susah kalau mau lepas saham atau merubah alokasi dan strategi portfolio secara cepat mengingat kalau terjadi penjualan masif yang membuat bursa bergejolak bisa kena tegur otoritas juga (selain susah mencari calon pembeli saham yang dilepasnya juga).

    Minggu lalu saat saya berdiskusi dengan salah satu Business Manager Priority Banking, dia juga mengatakan hal tersebut dan mengambil sample SDPP. SDPP memang kurang cuan untuk saat sekarang apalagi banyak mengempit bluechips, tapi relatif lebih stabil.

    Namun berkaca terhadap kinerja Panin Dana Maksima, sepertinya rule of thumbs itu agak kurang kena ya Pak, mereka sepertinya relatif lebih kecil gejolaknya, dan lebih cepat naiknya. Tapi belum tahu nih kalau mendadak ekonomi kolaps seperti tahun 2008 kemarin, apakah mereka juga cepat mengeleminir kejatuhan seperti tahun-tahun sebelumnya.

  5. May 11th, 2011 at 02:04 | #5

    @Chrispinus
    Yth Pak Chrispinus,

    Untuk kinerja Panin Dana Maksima, setelah saya cek kinerja return bulanannya dan dibandingkan dengan IHSG, sepertinya rule of thumbs tersebut (untuk kategori di atas Rp 2 triliun )masih sesuai pak. Namun memang tidak tertutup kemungkinan bahwa ada reksa dana saham yang mampu mengalahkan rule of thumbs tersebut di masa yang akan datang.

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

  6. well
    May 13th, 2011 at 07:56 | #6

    dear pak Rudi,

    saya ingin bertanya sedikit tentang RDPU pak,

    kalau RDPU itu returnnya bisa minus(-) tidak pak?thanks

    maaf melenceng dari konteks artikel.

  7. welly
    May 13th, 2011 at 07:58 | #7

    Dear pak Rudi,

    saya ingin tanya pak, kalau reksadana pasar uang itu bs menghasilkan return minus tidak pak?terima kasih pak

    maaf pertanyaan saya melenceng dari konteks

  8. May 13th, 2011 at 08:35 | #8

    @welly
    Yth Pak Welly,

    Bisa pak, jika obligasi atau deposito yang menjadi underlying assetnya (portofolio investasi) gagal bayar.

  9. anna
    May 23rd, 2011 at 05:38 | #9

    Dear Pak Rudy,

    Saya ingin tanya pak, mana lebih baik antara reksadana Panin dana maksima dan
    Panin dana bersama jika untuk investasi jangka panjang, Terima – kasih pak.
    Maaf pertanyaan saya melenceng dari konteks

    • May 23rd, 2011 at 10:14 | #10

      Yth Ibu Anna,

      Untuk reksa dana yang baik untuk jangka panjang rasanya agak sulit karena ada ketidakpastian . 5 tahun yang lalu, panin bukanlah reksa dana seterkenal seperti sekarang. Saya juga tidak yakin apakah akan tetap demikian untuk 5 tahun yang akan datang. Jadi prinsipnya adalah dalam investasi reksa dana, ketika kinerja reksa dana sudah mulai tidak perform lagi (atau kinerja di bawah ekspektasi) kita bisa pindah ke reksa dana yang perform. Salah satunya adalah faktor rating, apabila rating di atas bintang 3, berarti reksa dana tersebut termasuk yang lebih baik dibandingkan reksa dana lainnya.

      Semoga menjawab pertanyaan anda, terima kasih.

  10. anna
    May 25th, 2011 at 03:53 | #11

    Dear Pak Rudy,

    Di website apa saya bisa melihat rating reksadana ?

    Terima- kasih.

    • May 26th, 2011 at 01:29 | #12

      Yth Ibu Anna,

      Untuk melihat rating reksa dana yang sesuai dengan karakteristik risiko bisa melalui Myplan.infovesta.com atau melalui http://www.infovesta.com reguler untuk seluruh jenis reksa dana kecuali terproteksi dan penyertaan terbatas.

  11. addy
    May 9th, 2014 at 18:07 | #13

    Halo, Pak Rudiyanto!
    Sebelumnya mohon maaf bila OOT.
    Ada yg ingin saya tanyakan mengenai reksadana saham Panin, khususnya Panin Dana Maksima & Panin Dana Prima.
    Saya mendengar dari teman2 yg pernah berinvestasi di kedua reksadana saham tsb, bahwa sampai dgn Maret 2014 lalu kinerja kedua reksadana tsb sangat cemerlang (melampaui IHSG). Namun sekarang malah turun drastis. Banyak yg kaget, kecewa dan bertanya2, sebenarnya apa yg terjadi dengan manajer investasi kedua reksadana tsb?
    Apakah Pak Rudiyanto mempunyai analisis mengenai hal ini?
    TIA.

    • Rudiyanto
      May 9th, 2014 at 18:35 | #14

      Salam Addy,

      Terima kasih sudah bertanya mengenai kinerja reksa dana Panin AM. Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, apakah boleh anda perjelas definisi dari turun drastis tersebut?

      Terima kasih

  12. addy
    May 12th, 2014 at 16:33 | #15

    Hi, Pak Rudiyanto!
    Terima kasih atas responnya.
    Informasi tsb saya dapatkan dari suatu forum yg fokusnya membahas soal reksadana (apakah saya boleh menyebutkan namanya?).
    Pada forum tsb terdapat fitur yg mengklasifikasikan berbagai produk reksadana berdasarkan 4 dimensi: weighted return, tingkat risiko, besarnya NAB, dan bonafiditas dari manajer investasi. Dari fitur itu terlihat bahwa produk reksadana saham Panin Dana Maksima & Panin Dana Prima berada dlm kelompok yg paling buruk (kalau tidak salah per April 2014), di mana sebelumnya berada dlm kelompok yg paling baik (jadi berbalik 180°).
    Mohon maaf bila ternyata informasi yg saya sampaikan terkait kinerja kedua reksadana saham Panin tsb tidak tepat, karena saya juga masih newbie dalam hal investasi reksadana dan tidak memahami pula cara evaluasi produk reksadana yg digunakan oleh forum tsb. Fitur tsb biasanya digunakan sebagai acuan dlm memilih maupun menyusun ulang portfolio investasi oleh anggota forum.
    TIA, Pak Rudiyanto.

    • Rudiyanto
      May 12th, 2014 at 16:59 | #16

      Halo Pak Addy,

      Terima kasih atas informasinya. Boleh juga saya diinformasikan mengenai forum tersebut. Saya juga penasaran bagaimana bonafitas suatu Manajer Investasi bisa diperingkat mengingat itu adalah sesuatu yang sifatnya abstrak. Dan dari pengalaman saya selama 5 tahun bekerja di http://www.infovesta.com, untuk membuat suatu website yang datanya bisa dipertanggungjawabkan bukan hal yang mudah.

      Terima kasih.

  13. addy
    May 12th, 2014 at 17:12 | #17

    Halo, Pak Rudiyanto!
    Nama forum tsb: portalreksadana.
    Adapun fitur yg saya sebutkan sebelumnya dapat dilihat di alamat berikut:
    http://www.portalreksadana.com/rdmatrix.
    Saya tunggu tanggapannya, Pak. :)
    Terima kasih.

  14. Rudiyanto
    May 14th, 2014 at 19:22 | #18

    @addy
    Selamat Malam Pak Addy,

    Terima kasih atas informasi yang anda berikan. Terkait pertanyaan tersebut, saya sempat baca2 tentang portal tersebut. Tentang metode yang digunakan, saya tidak bisa berkomentar karena perhitungannya tidak dijelaskan secara detail. Jadi saya akan berfokus pada validitas datanya.

    Sebab sesuai komentar saya sebelumnya, untuk bisa membuat suatu website yang bisa dipertanggungjawabkan karena datanya valid itu sangat-sangat sulit. Butuh proses quality control data yang sangat kuat. Apalagi dahulu, saya bekerja di tempat dimana orang bayar untuk melihat data tersebut, jadi risiko jika datanya salah, bisa memberikan informasi yang menyesatkan.

    Pada link http://www.portalreksadana.com/rdproduk3/list/3?sort=desc&order=Outperform
    Saya melihat kinerja reksa dana Panin Dana Maksima berturut-turut adalah
    6 bulan 13.68%
    1 tahun -9.74%
    3 tahun 7.83%
    5 tahun 33.88%
    ytd 16.08%
    Outperform 7/9
    dan 2014-05-12 (saya berasumsi ini data terakhir diupdate)

    Saya mencoba melakukan quality checking singkat dengan membandingkan data ytd dan 6 bulan.

    Data harga NAB/Up Panin Dana Maksima adalah sbb:
    12 Desember 2013 — 58.291,26
    31 Desember 2013 — 58.283,44
    12 Mei 2014 — 68.486,94

    Return ytd = harga 12 Mei 14 – harga 31 des 13 dibagi harga 31 des 13
    Return ytd = (68.486,94 – 58.283,44) / 58.283,44 = 17.50%
    Hasil di atas berbeda dengan perhitungan portal tersebut yang sebesar 16.08%

    Return 6 bulan = harga 12 Mei 14- harga 12 des 13) dibagi harga 12 des 13
    Return 6 bulan = ( 68.486,94 – 58.291,26 ) / 58.291,26 = 17.49%
    Hasil di atas lagi-lagi berbeda dengan perhitungan portal yang sebesar 13.68%

    Karena berbeda, terus terang saya meragukan validitas data dan perhitungan portal tersebut maka saya tidak bisa memberikan banyak komentar mengenai matriks yang dia buat maupun kuadran2 yang disebutkan.

    Kalau saran saya, sebaiknya kamu bisa menanyakan kepada pengelola portal yang bersangkutan mengenai detail perhitungannya dan kepastian apakah validitas datanya bisa dipertanggung jawabkan. Bisa jadi juga, perhitungan saya yang salah, tapi sejauh ini saya cukup yakin dengan perhitungan yang saya lakukan tersebut.

    Meski demikian, saya juga memahami arah pertanyaan anda, tentang kinerja reksa dana saham Panin AM yang dianggap kurang ok 1 bulan terakhir ini. Untuk itu saya ingin memberikan informasi sbb

    Bulan Panin Dana Maksima IHSG Keterangan
    Jan-14 + 5.24% + 3.38% Outperform
    Feb-14 + 7.78% + 4.56% Outperform
    Mar-14 + 2.82% + 3.20% Underperform
    Apr-14 +0.39% + 1.51% Underperform
    YTD Apr 14 +17.07% + 13.24% Outperform

    Jadi memang benar bahwa pada bulan Jan – Feb 14, kinerja Panin Dana Maksima outperform bahkan cukup jauh dibandingkan IHSG. Pada bulan Maret dan April kalah dengan IHSG. Namun secara akumulasi secara total dari bulan Jan – April atau secara year to date masih outperform dibandingkan IHSG kurang lebih 3.83%. (target Panin AM adalah minimal 5%)

    Jika anda bertanya mengapa pada bulan Maret dan terutama April bisa underperform, alasannya adalah pada strategi investasi. Panin AM meyakini bahwa tahun 2014 adalah tahun yang bagus, selain pada historis kinerja PEMILU yang selalu baik, tapi juga pada adanya kepastian politik dengan selesainya PEMILU ini.

    Kami meyakini, bahwa dengan hasil yang baik, maka dana asing yang masuk ke Indonesia akan masuk ke perusahaan yang fundamentalnya baik seperti sektor perbankan, consumer dan properti yang selama ini menjadi fokus investasi kita. Meski demikian, perlu dipahami bahwa kondisi pasar sangat tidak bisa diduga. Pada bulan April lalu, ada kejadian yang tidak diduga. Yaitu PDIP yang difavoritkan bisa menjadi pemenang PEMILU dengan perolehan 20 – 30% ternyata mendapatkan di bawah 20%.

    Hal ini berbeda dengan asumsi dan prediksi yang dibuat selama ini. Sehingga tingkat ketidakpastian yang tadinya menurun kembali meningkat. Selama periode April ini, karena ketidakpastian meningkat, kami melihat dana yang tadinya digunakan untuk investasi jangka panjang beralih ke investasi yang bersifat spekulatif.

    Sebagai contoh, selama bulan April, saya memperhatikan bahwa saham sektor konstruksi dan komoditas naik cukup tinggi.Pasar secara umum memprediksi kandidat dari PDIP yaitu Joko Widodo yang akan menang dan dari track recordnya investor memperkirakan pembangunan akan berlangsung besar-besaran sehingga menguntungkan sektor konstruksi. Kemudian kenaikan untuk sektor komoditi terjadi karena kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit.

    Dari sudut pandang value investing, sektor konstruksi valuasinya sudah terlalu mahal. Selain itu, sektor konstruksi berbasis kontrak sehingga untuk memperkirakan tingkat keuntungan jangka panjangnya agak sulit. Untuk sektor komoditas, kami melihat dalam jangka panjang, harga komoditas masih sulit untuk naik sehingga penguatannya mungkin hanya bersifat sementara saja karena tahun lalu sudah turun terlalu dalam. Oleh sebab itu, kami tidak memindahkan fokus ke pada sektor tersebut.

    Hal ini, mungkin saja yang menyebabkan kinerja kami tidak lebih baik dibandingkan IHSG pada 2 bulan tersebut. Sebab kami percaya, ketika politik sudah semakin pasti dengan terbentuknya koalisi dan pasangan capres dan cawapres, investasi yang tadinya bersifat spekulatif akan kembali ke jangka panjang yang merupakan pilihan kami sejak awal.

    Tentu, tidak bisa disimpulkan bahwa strategi investasi ini yang pasti akan memberikan hasil paling tinggi tahun ini. Namun kami selalu berupaya memberikan hasil di atas IHSG, sebab semua reksa dana saham ditargetkan bisa mengalahkan IHSG minimal 5% dalam 1 tahun. Dan dengan melakukan itu secara konsisten, maka dalam jangka panjang akan memberikan hasil yang baik.

    Terus terang saja, semua strategi ada plus minusnya. Tidak ada strategi yang akan menang terus menerus. Sebagai contoh dari riset selama 10 tahun terakhir, tidak ada satupun, saya bold dan capital (SATUPUN!!) reksa dana saham yang bisa konsisten mengalahkan IHSG di Indonesia selama 10 tahun. Paling hebatpun itu baru hanya 7 tahun. Jadi kalau anda dengan mudah memindahkan reksa dana hanya karena kinerja yang buruk selama beberapa bulan, saya pastikan anda tidak akan langgeng investasi pada reksa dana manapun karena anda akan lebih sibuk memindahkan reksa dana satu ke reksa dana lain dibandingkan fokus pada pencapaian investasi. Untuk lebih jelasnya anda bisa membaca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/16/apakah-ada-reksa-dana-saham-yang-konsisten-mengalahkan-ihsg/

    Jika anda tetap merasa tidak nyaman dengan kinerja yang menurut sumber anda kurang bagus, saran saya adalah anda tidak usah berinvestasi pada produk tersebut atau bisa memilih beberapa produk sekaligus untuk diversifikasi. Tapi kalau mengejar produk dengan return terbaik, bukan strategi yang saya sarankan.

    Semoga penjelasan yang panjang dan lebar ini bisa menjawab pertanyaan anda. Terima kasih.

  15. addy
    May 21st, 2014 at 11:55 | #19

    Selamat siang, Pak Rudiyanto!

    Terima kasih banyak atas penjelasan & effort Bapak dalam analisis terhadap isu yg saya kemukakan.
    Saya sendiri belum menanyakan prihal detil perhitungan dalam fitur tersebut. Mungkin nanti bila saya mendapatkan informasinya akan saya share ke Bapak.
    Di lain pihak saya sangat setuju dgn Pak Rudiyanto bahwa jika data yg disajikan salah (tidak valid), dapat menyesatkan orang2 yg mengonsumsinya.
    Terkait strategi diversifikasi dalam investasi reksadana, bagaimana strategi terbaik menurut Bapak? Apakah dengan memilih produk dari MI yg berbeda-beda, ataukah MI yg sama tapi sektor emitennya berbeda-beda?
    Terima kasih.

  16. Fauzan
    June 11th, 2015 at 15:48 | #21

    selamat sore Pak Rudiyanto,

    sebelumnya saya menanyakan melalui twitter bapak mengenai book to market ratio pada reksa dana..

    saya sedang melakukan penelitian mengenai pengukuran kinerja reksa dana saham menggunakan metode fama french, didalam metode ini terdapat 3 variabel yaitu risk, size dan book to market .dalam beberapa bahasan sebelumnya, bapak sudah menjelaskan mengenai size reksadana yang dapat diketahui melalui dana kelolaan atau AUM merujuk pada jawaban bapak pada pertanyaan yang diajukan oleh adam pada pembahasan ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/05/16/mengenal-metode-evaluasi-kinerja-reksa-dana/

    pertanyaan saya , bagaimanakah saya mendapatkan dan mengetahui nilai book to market dalam reksa dana sebagai salah satu variabel dalam penelitian saya ?
    terima kasih pak

  17. Rudiyanto
    June 12th, 2015 at 17:27 | #22

    @Fauzan
    Selamat Sore Pak Fauzan,

    Kalau menurut saya, reksa dana meskipun merupakan kumpulan saham, tapi sebetulnya lebih tepat disebut sebagai wujud dari keahlian Manajer Investasi.

    Karena sifatnya keahlian, maka belum tentu kumpulan saham yang kamu lihat hari ini sama dengan kumpulan saham yang kamu lihat di kemudian hari. Dengan demikian, analisa yang kamu lakukan di atas akan menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan kecuali kamu bisa memantau informasi tersebut setiap hari.

    Apakah dalam praktek hal ini dimungkinkan? Jawabannya tidak, sebab tidak mungkin data tersebut dipublikasikan oleh Manajer Investasi karena merupakan rahasia dapur miliknya.

    Jenis reksa dana yang transparan isi portofolionya adalah ETF karena dia berkewajiban meniru persis indeks yang menjadi acuannya. Informasi saham komposisi indeks acuan juga bisa dilihat di sumber di luar reksa dana meskipun tidak jaminan akan sama persis dengan isi portofolio reksa dana.

    Di satu sisi, menurut saya mengukur ETF itu dari rasio tersebut tidak ada gunanya karena ETF tidak bertujuan mengalahkan pasar, tapi menirunya. Oleh karena itu, tidak ada kepentingan bagi Manajer Investasi untuk membeli saham yang valuasinya murah. Pokoknya mereka cuma meniru. Untuk itu, kesimpulan yang dihasilkan dari rasio tersebut tidak ada artinya.

    Jadi menurut saya lebih baik fokus pada kinerja (risk dan return) saja.

    Semoga bermanfaat.

  1. No trackbacks yet.

 


%d bloggers like this: